Peringatan Ketiga Belas

Apa asyiknya mengikuti orang yang ke mana-mana selalu berbuat jahat dan menyakiti orang lain? Nggak ada asyiknya, man. Kamu bahkan bisa ikut dosa—yah, aku pernah mendengar beberapa ustaz dan kyai bilang begitu. Hanya dengan melihat saja, kamu ikut menanggung dosa. Ada yang bilang, hanya melihat berarti membiarkan. Dengan kata lain, kamu ikut dosa karena kamu nggak ngapa-ngapain saat perbuatan dosa itu dilakukan. Nggak berusaha mencegah dan segalanya itulah. Man, kalau itu berlaku untukku, dosaku pasti sudah melebihi besar Planet Mars. Hanya karena aku sering sekali melihat orang berbuat jahat! Tapi, aku bilang kalau itu berlaku untukku. Kok bisa begitu? Begini.

            Perkenalkan, namaku—well, kamu bisa memilih mau memanggilku apa. Azrael, Yanluo, Shinigami. Semua nama itu merujuk pada satu makna: malaikat kematian. Wow, jadi aku seorang malaikat kematian? Seperti di film-film dan novel-novel supernatural fantasy itu? Yang pakai jubah hitam dan bawa celurit ke mana-mana? Yang mencabuti nyawa orang dan mengejar-ngejar manusia dengan teror? Yah, aku harap aku memiliki kemampuan sekeren itu. Tetapi, kenyataannya tidak begitu. Untuk masalah penampilan, aku tidak pakai jubah dan tidak bawa-bawa celurit. Aku ini sekeren Edward Cullen, tahu. Malah, lebih keren lagi. Terserah mau membayangkan bagaimana rupa dan wujudku. Kalau punya sayap, sayapku harus lebar dan seperti sayap Pegasus. Jangan seperti sayap kupu-kupu, nanti terlalu indah. Apalagi seperti sayap ayam. Itu sama sekali tidak keren! Oh, jangan beri aku tanduk dan ekor melancip. Aku tidak seburuk setan.

            Sebenarnya, aku bukan malaikat kematian seperti yang kamu pikirkan. Maksudku, tugasku bukan mencabut nyawa. Tugasku adalah memperingatkan manusia akan kematian mereka. Hanya memperingatkan, bukan memberi penerawangan. Biasanya, aku datang sebagai pertanda. Firasat. Bahasa alam yang sering diabaikan manusia zaman sekarang. Iya, manusia zaman sekarang memang seperti itu, sering mengabaikan bahasa-bahasa yang hanya bisa dimengerti dengan hati. Padahal, sering kali Tuhan menyampaikan pesan dengan cara itu. Ironisnya, manusia-manusia modern malah menganggap bahasa-bahasa itu tahayul atau mitos, dan jika ada yang memercayainya, dia diolok-olok. Syirik, katanya. Musyrik. Ndeso. Konvensional. Konservatif. Primitif. Ah, apalah. Pokoknya istilah-istilah seperti itu.

            Jadi, bisa dibilang, aku adalah pembantu malaikat kematian. Jika manusia yang kuperingatkan terus-terusan abai, ya, matilah dia. Sesederhana itu. Salah siapa ngeyel terus.

            Seperti manusia yang harus kuikuti ke mana-mana ini. Sebut saja dia Dodi. Masih muda sebenarnya. Masih SMA. Tapi dosanya sudah... yah, luar biasa. Dia memang anak nakal, berandalan, badung, bebal, kurang ajar, pembikin onar, biangnya kekacauan. Dia pernah mengutil, selalu merokok—membunuh dirinya sendiri, sering menipu, mencuri, mencopet, merampok, mencampakkan gadis-gadis, menonton video porno, menyakiti orang-orang tua, memanipulasi teman-temannya sendiri, mengorupsi yang bukan jatahnya, mengisap ganja, pokoknya sangat parah. Sangat jahat, tetapi tidak cukup jahat untuk mendapat cap teroris. Kadang aku bertanya-tanya, kenapa dia tidak sekalian melakukan genosida saja. Genosida bagi orang-orang jahat seperti dia, tentunya. Agar dia mati dan setidaknya orang-orang yang menyayangi dia tidak akan tersakiti lagi.

            Ah, benar. Kenapa, sih, orang seperti dia tidak mati saja? Dia itu manusia busuk, tidak ada untungnya negara memelihara dia. Kalau ustaz dan kyai pasti bilangnya dia calon penghuni neraka. Untuk yang satu ini, aku sendiri tidak tahu. Aku bisa melihat seberapa bertumpuknya dosa seseorang, tetapi menentukan dia masuk neraka atau tidak bukanlah wewenangku. Untuk sekadar mengusulkan saja, aku tidak boleh. Walaupun, yah, kalau hanya untuk berkata “manusia seberengsek dia ini lebih baik ke neraka saja!” aku tetap diizinkan, sih. Mungkin, kamu juga pantas masuk neraka.

            Si Dodi ini, manusia yang ketampanannya pas-pasan ini, sudah kuberi peringatan hingga sepuluh kali. Dan, hebatnya, dia tidak menghiraukan semuanya. Aku pernah mendengarnya berkata kepada seseorang yang sering menemaninya mengisap ganja. Katanya, masa muda itu hanya sekali, jadi nikmati seliar mungkin. Kalau sudah tua, baru jadi orang baik. Nikmat mengalahkan dosa.

            Jadi dia memang sangat cuek terhadap dosa.

            Coba dia ngomong begitu di akhirat nanti. Di akhirat itu hanya sekali, jadi nikmati seliar mungkin. Kalau sudah masuk neraka, baru jadi orang baik. Aku yakin dia akan sangat menyesal. Parahnya, jika baru menyesal di akhirat nanti, dia tidak akan bisa memperbaiki apa pun. Sebab, dia akan—tentu saja—disiksa. Siksa mengalahkan dosa. Dosa yang, parahnya, dia perbuat dengan sengaja.

            Aku masih punya tiga peringatan terakhir untuk dia. Jika dia tidak mau berubah, dia akan mati. Kawanku yang bawa-bawa celurit itu akan masuk lewat cerobong asap rumahnya—kalau dia punya—dan memberinya hadiah Natal istimewa berupa sabetan sadis di leher. Atau mungkin, tubuhnya dicincang-cincang sehalus daging bacon. Sampai darahnya muncrat-muncrat sekalian. Jadi, saat rohnya melayang pergi, dia akan merasa sangat kesakitan. Cukup pantas untuk ukuran manusia seperti dia. Apa kamu mau mati dengan cara seperti itu juga?

            Ngomong-ngomong, peringatanku memang hanya ada tiga belas. Tiga belas, angka keramat yang identik dengan kesialan dan pemujaan setan. Tapi ada juga manusia yang menganggapnya angka keberuntungan. Sebagiannya lagi masa bodoh. Apatis. Itu terserah mereka sih. Yang jelas, sebanyak itulah jatah yang dimiliki setiap manusia. Aku bisa mengukur separah apa kejahatan seseorang hanya dari angka peringatannya saja. Satu sampai lima termasuk ringan. Enam sampai sepuluh sudah cukup parah. Sebelas sampai tiga belas berarti orang itu seharusnya mati saja. Si Dodi kampret ini, sebentar lagi mendapatkan peringatan yang kesebelas.

            Kita lihat apakah dia masih mau bebal dan mendamba siksa neraka.

 

* * *

 

Aku sedang nongkrong di warung tenda di trotoar depan sebuah masjid, memandangi manusia-manusia yang tak luput dari dosa tetapi tetap menjalankan ibadah dan berusaha menghindari siksaan dari Tuhan—oh, indahnya sembahyang mereka. Bercahaya!—ketika Dodi datang bersama dua orang temannya. Ugh, penampilan mereka menggelikan sekali. Celana ketat, kaus kekecilan, anting-anting di telinga, hidung, alis, dan leher, kalung rantai (mereka pikir mereka ini anjing? Bahkan anjing masih lebih baik daripada mereka!), gelang-gelang yang mereka pikir metal abis, dan rambut yang diwarna-warni tanpa sedikit pun sentuhan estetis. Kalau bisa menyambit mereka dengan gelas, akan kulakukan sekarang juga. Sayangnya aku bukan makhluk solid. Lagipula, bukan begitu caraku memperingatkan Dodi.

            Mereka duduk berimpitan di kursi panjang, memesan mi ayam yang ujung-ujungnya disertai, “Bayarnya kapan-kapan! Ntar gua lunasin semua!” Padahal uang mereka terus-terusan habis untuk membayar barang-barang yang tidak penting. Ya rokok ganjalah, majalah dewasalah, video-video pornolah, pokoknya hal-hal yang merusak moral dan mental seperti itu. Memandangi mereka yang makan sambil tertawa-tawa keras dan menggodai perempuan yang sesekali lewat, aku terpekur sendiri. Kenapa, sih, manusia selalu menyukai hal-hal yang mereka sendiri tahu itu buruk, tidak berguna, menjijikkan, merusak moral dan mental, dan tidak penting? Ingin sekali rasanya, ingiiiin sekali bertanya kepada Setan. Tetapi aku tidak memiliki wewenang—yang berarti tidak memiliki kemampuan—untuk berbicara dengan mereka. Huh. Keterbatasanku sebagai pemberi tiga belas peringatan ini, pembantu malaikat kematian, memang terkadang menggemaskan.

            Ketika keadaan sedang agak tenang (Dodi dan teman-temannya sedang sibuk dengan ponsel sendiri-sendiri, jadi tidak mengobrol dan tertawa-tawa lagi), itulah saatnya aku beraksi. Dalam sekejap, pandanganku yang semula mencakup seluruh penjuru mata angin menyusut ke satu titik. Tubuhku yang semula sebesar manusia kini mengempis dan mengecil, kehilangan sebagian beratnya sehingga dapat melayang seperti balon. Mulutku yang ceplas-ceplos memanjang ke depan, menyatu membentuk pipa yang diameternya luar biasa kecil, panjang melengkung dan sedikit melingkar di ujung. Kakiku jadi banyak. Bokongku pun memanjang. Jika tadi kamu membayangkan diriku memiliki sayap seindah sayap Pegasus, mohon sekarang diubah sedikit. Di saat-saat tertentu—seperti saat ini—sayapku itu berubah menjadi sayap kupu-kupu. Kini seluruh tubuhku berwarna hitam legam. Aku menjadi kecil, rapuh, namun tetap membawa peringatan maut. Dengan gemulai aku terbang mendekati Dodi, lalu hinggap di tepi mangkuknya.

            Dodi terkejut, keningnya segera saja membentuk kerutan. Dia menatapku heran, lantas berkata kepada temannya, “Hoi, lihat, nih. Tumben amat kupu-kupu menclok di mangkok orang.”

            Teman-temannya yang berjumlah dua orang itu pun ikut-ikutan memandangiku. Ah, sumpah, dilihat dari dekat begini, rupa mereka makin menyakitkan mata. Terlebih, aku bisa melihat seberapa busuk hati mereka hanya dari sinar matanya saja.

            “Gua baru lihat kupu-kupu seitem ini,” kata salah seorang teman Dodi. “Keren, kayak Rukia-nya Bleach.”

            Ah, aku tahu Rukia yang dimaksud. Shinigami yang juga dapat berubah menjadi kupu-kupu hitam.

            “Kalo kata orang jadul, nih, ya,” teman Dodi yang lain berbicara dengan mulut setengah mengunyah. Salivanya muncrat ke mana-mana. “Kedatengan kupu-kupu item berarti orang dekatnya ada yang mau mati.”

            “Emak gua maksud lo?”

            Mereka tertawa.

            Kurang ajar betul mulut si Dodi ini.

            “Tapi gua sih nggak percaya. Ngapain? Mati ya mati aja, nggak usah dikasih tahu kupu-kupu segala.”

            “Bener lu. Kupu-kupu sekecil ini ngasih tahu berita sebesar itu, nggak pantes banget.” Dodi meletakkan ponselnya di bangku dan mengangkat tangannya yang tidak memegang mangkuk, menggerakkannya hati-hati ke arahku. Tatapannya fokus, seakan-akan mengantisipasi mengepaknya sayapku. Aku tahu apa yang akan dia lakukan. Jika tangannya itu berhasil menangkapku, aku akan diremas dan dibunuh.

            Sayangnya, tidak seperti dia, aku tidak bisa mati.

            Maka, ketika tangannya datang menyergap dan meremas, yang dia dapat hanyalah abu.

            Dia kaget, tetapi tidak sedikit pun waspada. Malah, bapak-bapak penjual mi ayam di dekatnya, yang mendengar dan melihat sejak tadilah yang ketakutan. Dia tahu kupu-kupu hitam tadi bukan kupu-kupu biasa.

            Hm. Berarti, peringatan kesebelas pun diabaikan.

 

* * *

 

Iya, itulah yang kumaksud dengan peringatan, pertanda, bahasa alam. Aku berubah menjadi sesuatu yang aneh bagi manusia. Mereka yang percaya bahasa alam dan memahaminya akan tahu apa maksudku. Jika hati mereka cukup peka dan bersih, dia akan berhati-hati karena tahu aku tidak pernah membawa kabar baik. Tetapi orang-orang seperti Dodi dan dua temannya itu... Cih. Pada Tuhan saja mereka tidak mau percaya, apalagi kepadaku.

            Aku sedang mempersiapkan peringatanku berikutnya saat tiba-tiba Tuhan berkehendak. Dia mencelakakan dua teman Dodi dalam kecelakaan lalu lintas yang sangat parah di depan mata Dodi sendiri, membuat pemuda itu syok dan ketakutan. Peringatan yang tentunya jauh lebih berefek. Sayang aku tidak punya kemampuan sebesar Dia Yang Maha Besar.

            Ganja, alkohol, video porno, tidak ada yang bisa menenangkan jiwa Dodi. Tetapi, film masih berputar rupanya. Tuhan memberi pemuda itu rentetan “siksaan dunia” lain: tongkrongan berlimpah ganjanya kena grebek polisi, sebagian besar kawannya tertangkap, video-video pornonya ketahuan pihak sekolah dan dimusnahkan, dia pun dikeluarkan untuk kali kesekian dan tidak diterima di sekolah mana pun lagi. Keluarganya berduka cita. Teman-temannya menjauh semua. Gadis-gadis gentian mencampakkannya. Semua orang yang peduli padanya—teman-temannya yang sama-sama liar itu—tidak ada di saat ia membutuhkan. Dua orang mati, sisanya yang berjumlah puluhan ditahan polisi atau kabur ke kota lain.

            Dia sendirian sekarang. Ha-ha-ha, kasihan. Rasakan. Resapi. Sakit kan? Masih mau lagi? Tunggu kedatangan sahabatku yang bercelurit itu—atau bertrisula, atau golok, atau pisau jagal, atau kapak, silakan dipilih.

            Sekarang dia terkapar di dalam sebuah rumah kosong. Botol-botol bening bergeletakan di sekitar tubuhnya. Dia mabuk berat dan rasanya seperti vertigo. Pasti menyiksa sekali. Masih ada dua peringatan yang harus kuberikan. Lebih baik, aku straight to the point saja.

            “Dodi.”

            Dia merasa namanya dipanggil, tetapi tidak berani membuka mata. Tidak sanggup melihat dunia berputar begitu hebat. Akhirnya, dia hanya bergumam serak dengan suaranya yang tidak stabil. “Siapaaaa....”

            “Kamu sudah diperingatkan berkali-kali, kenapa tidak mengerti juga?”

            Suara itu bagai gema bagi telinganya yang sesekali berdenging. Keningnya berkerut-kerut. “Lu siapa, sih?!”

            “Kupu-kupu hitam yang kamu hancurkan waktu itu.”

            “Gua lagi nggak mau denger orang bercanda, asal lu tahu ya... Pergi sana! Nggak usah ganggu orang! Gua lagi pusing, ngerti nggak?!”

            Dan kamu pikir aku peduli?

            “Ini peringatan kesekian kamu, Dodi. Kalau masih kamu abaikan juga, kamu akan merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan dari yang kamu rasakan sekarang.”

            “BODO AMAT!!!! PERGI!!!!”

            Sebuah botol setengah isi dilempar ke sembarang arah, menabrak dinding dan pecah berserakan. Bodoh jika dia pikir bisa melukaiku.

            Yah, terserahlah. Itu tadi peringatan kedua belas dariku.

 

* * *

Di peringatan ketiga belas, biasanya aku menampakkan diri. Untuk ukuran Dodi, tentu bukan sebagai Edward Cullen. Bukan juga Megan Fox. Dia tidak berhak melihat penampakan seindah itu.

            Di peringatan ketiga belas ini, aku menjadi bayangannya. Selalu gelap di mana saja, mengikutinya ke mana saja. Dan, dia tidak akan bisa melarikan diri.

            “Dodi.”

            Dia sedang berjalan gontai menuju rumahnya setelah seharian hangover di rumah kosong itu. Dodi tampak tak peduli. Dia terus berjalan, sedikit terseok, dengan penampilan yang sangat kacau dan bau.

            “Mau ke mana kamu?” tanyaku.

            “Ada suara aneh di kepala gua,” gumam pemuda itu.

            Rasanya aku ingin mengoreksi, bukan suara aneh, melainkan suara gaib. Yah, sama aja, sih. Diikuti mengolok-olok, makanya jadi orang tuh yang imannya kuat, biar ngerti sama yang gaib-gaib, kalo ada pertanda bisa lekas percaya, bukannya malah ngatain kepercayaan itu primitif. Tentu ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dikompromi rasionalitas dan sains. Contohnya, ya, aku ini.

            “Dodi... Kamu masih mau menyakiti dirimu sendiri, lebih dari ini?”

            Pinjam istilah para Muslim, Dodi ini sedang mezalimi dirinya sendiri. Sayang seribu sayang, dia tidak menyadari perbuatan jahat itu.

            “Apa, sih....”

            “Ingat teman-teman kamu yang mati? Yang tertangkap dan diburon polisi?”

            “Diem bisa nggak, sih....”

            “Kalau kamu pulang, apa yang akan ibumu katakan? Hanya dengan hadir saja kamu telah menyakiti hatinya, Dodi. Jangan pulang... Jaga perasaan ibumu....”

            Setiap manusia, sekalipun dosanya sudah luar biasa banyak, tetap memiliki kesempatan bertaubat dan memperbaiki diri. Kecuali jika memang takdirnya hanya sampai di peringatan ketiga belas ini.

            “Atau kamu mau mati?

            “Bagaimana kalau kamu mati saja?

            “Mati bisa mengakhiri penderitaanmu ini....”

            Tidak juga, sebenarnya. Penderitaan setelah mati nanti akan jauh lebih dahsyat lagi. Parahnya, di saat itu, manusia tidak akan bisa melarikan diri lagi. Tampaknya, Dodi mengerti yang satu itu.

            “Nggak....” Dia menggeleng-geleng, gerak-geriknya sudah seperti orang nggak waras. “Nggak... Gua nggak mau mati! Gua masih cinta dunia! Semenderita apa pun, gua nggak mau pergi dari dunia ini!!”

            Ck. Motivasi yang salah.

            “Tapi dengan keadaan seperti ini, apa kamu bisa bertahan?

            “Kamu merasa sangat menderita dan tidak memiliki harapan lagi... Semua orang yang memedulikanmu telah pergi...

            “Diem....” Dodi berhenti berjalan, menutup kedua telinganya dengan tangan.

            “Keluargamu pun tidak mau menerimamu lagi... Lalu untuk apa kamu hidup?

            “Bukankah di saat-saat seperti ini, mati adalah pilihan terbaik?”

            “DIEM, BANGSAT!!!!” Dia berteriak keras sekali sampai menakuti orang-orang di sekitarnya. Mereka menatapnya aneh, takut, lalu cepat-cepat menghindar seolah-olah Dodi akan melukai mereka. Aku terus bicara, memotivasinya untuk mati, karena aku tahu itu akan menyiksa Dodi. Tahu sendiri, kan, dia terlalu mencintai dunia ini. Mati berarti derita baginya, dan motivasi-motivasi yang kuberikan adalah bisikan memuakkan yang ingin sekali dibungkamnya namun tak bisa.

            Aku tetap bicara sekalipun dia berteriak-teriak histeris menyuruhku diam. Sampai kukatakan padanya tentang kematiannya yang telah dekat, membuatnya lebih histeris lagi, kali ini disertai ketakutan. Dia berputar-putar di tengah jalan, berlutut, menungging dengan tangan menekan telinga, berusaha keras meredam suara yang terus muncul dalam kepalanya. Aku tak peduli. Aku terus memberinya peringatan. Ya, peringatan. Dia pun frustrasi. Dibentur-benturkannya kepala ke aspal sampai berdarah. Mungkin sampai pecah kalau saja dia tidak kelelahan.

            Aku diam. Melihatnya menangis dengan air mata bercampur darah segar. Matahari sedang menonton kami tanpa condong ke mana pun. Tepat di atas kami, sehingga semua bayangan berada tepat di bawah objek. Wajah Dodi berhadapan dengan wajah bayangannya. Aku.

            “Dodi....” Aku bicara lagi.

            “Berhenti, tolong, berhenti....” Dodi memohon-mohon. Ketakutan sekali rupanya. Tubuhnya gemetar hebat.

            “Kalau kamu tidak mau mati, maka temui ibumu sekarang.”

            Tampaknya, Dodi tertegun.

            “Minta maaf padanya, mintakan ampun Tuhan atas namanya. Lalu mintakan ampun Tuhan atas namamu. Sesali segala perbuatan buruk yang telah kaulakukan, berjanjilah untuk tidak akan mengulanginya lagi. Pasrahkan dirimu kepada Tuhan setelah itu, lepas dunia untuk sesaat.”

            Kali ini, dia benar-benar mendengarkan aku.

            “Oke, oke... Gua lakuin, gua lakuin... Asal lu diem....” Suaranya bergetar.

            Ketika dia bangkit berdiri, dia terlalu sibuk menggosok mata dengan lengan dan kaus sampai tidak sadar ada sepasang mata merah menyala yang mengawasinya dari bawah. Melekat dalam bayangannya. Ah, sayang sekali, dia tidak melihatku. Yah, lebih baik tidak melihat daripada melihat tapi berujung semaput.

            Dodi berlari ke rumahnya, menemui sang ibu yang kaget melihat anaknya berdarah-darah sambil menangis. Tanpa tahu malu, Dodi memeluk ibunya erat-erat, menangis di pundaknya, lalu meluruh jatuh dan bersujud di depan kakinya. Ibunya kebingungan sekali, tetapi dia menangis. Tetangga-tetangga yang tadi melihat Dodi masuk ke rumah dalam kondisi yang tidak wajar pun berdatangan, kepengin menonton, ingin tahu apa yang tengah terjadi. Kakak-kakak Dodi yang tinggal tidak jauh dari rumah juga ikut datang. Dari jendela, mereka berdesakan menonton Dodi dan ibunya.

            Dodi melakukan persis seperti yang tadi kukatakan.

            Dia meminta maaf pada ibunya. Memintakan ibunya ampun Tuhan.

            Lalu dia meminta ampun Tuhan atas namanya sendiri dan berjanji kepada-Nya, juga kepada ibunya, untuk berhenti berbuat dosa. Dia mengaku telah menyesali semuanya.

            (Kabut hitam muncul di sudut ruangan. Oh, heck. Aku bahkan tidak tahu dia akan datang.)

            Dengan segenap kesadaran dan penyesalan, Dodi memasrahkan dirinya kepada Tuhan, persis seperti yang tadi kukatakan, dan melepas kecintaannya pada dunia untuk sesaat. Dalam sesaat itu, sahabatku yang datang tanpa kutahu, yang muncul bersama kabut hitam di sudut ruangan beberapa menit lalu, menjalankan tugasnya tanpa cela sedikit pun.

            Tubuh Dodi ambruk ke samping. Tak bernapas lagi.

 

* * *

 

Orang bilang, segala hal di dunia ini telah diatur oleh Yang Maha Kuasa, Yang Maha Mengatur. Termasuk takdir manusia; lahirnya, rezekinya, jodohnya, matinya. Ketiga belas peringatanku memang tidak dapat sedikit pun mengubah salah satunya—terutama, yeah, kematian. Tetapi setidaknya, setelah orang mendapat peringatan tentang sesuatu itu, dia bisa berubah menjadi lebih baik untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. Iya, kan?

            Aku hanya menjalankan tugas. Aku tidak berhak mencampuri hidup manusia. Aku hanya memberi mereka peringatan tentang kematian yang pasti akan menjemput mereka. Aku juga tidak berhak mengubah tanggal penjemputan itu—tidak ada yang bisa. Bahkan, sahabatku yang bersabit itu juga tidak bisa (setelah kupikir-pikir lagi, lebih keren sabit, euy, daripada celurit. Jangkauan sabetannya lebih luas, dan sobekannya lebih tajam. Ah, kawanku itu pasti keren sekali).

            Anehnya, manusia pun tahu pasti mereka akan mati, tidak tahu kapan, bisa saja besok pagi, atau siang, atau malam, tetapi mereka tetap saja berbuat yang tidak-tidak. Ya zinalah, maksiatlah, umat Kristiani memiliki seven deadly sins yang terkenal itu, Buddha juga punya five deadly sins. Yang lebih aneh lagi, manusia tidak berusaha menghindari dosa-dosa yang luar biasa besar dampaknya terhadap kedamaian after life mereka. Aneh. Manusia itu aneh dan membingungkan.

            Dodi bukan akhir bagiku, ngomong-ngomong. Sudah merupakan siklus bagiku untuk mengikuti orang lain setelah orang yang telah kuikuti mati. Semoga untuk kali ini, tidak ada peringatan ketiga belas.

            Kamu, iya, kamu, jangan membutakan mata dan menulikan telinga dari bahasa alam, ya. Siapa tahu itu pertanda.

            Siapa tahu itu aku.**

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Miyaa
Miyaa at Peringatan Ketiga Belas (7 years 22 weeks ago)

KEREN! :D

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Peringatan Ketiga Belas (7 years 22 weeks ago)

thank you udah baca :D

mampir juga ke wattpad.com/user/rifkaazzahra ya hehe

Writer citapraaa
citapraaa at Peringatan Ketiga Belas (7 years 38 weeks ago)
100

keren!

Writer pandaku
pandaku at Peringatan Ketiga Belas (7 years 39 weeks ago)
100

keren n bagus
salam kenal y

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Peringatan Ketiga Belas (7 years 39 weeks ago)

thank you. salam kenal juga

Writer dreamchaser97
dreamchaser97 at Peringatan Ketiga Belas (7 years 39 weeks ago)
100

like it!!!! suka genrenya!

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Peringatan Ketiga Belas (7 years 39 weeks ago)

thank you!

Writer Siska.cheascha
Siska.cheascha at Peringatan Ketiga Belas (7 years 39 weeks ago)
50

keren..
peran si "aku" nya dapet bgt. imajinasinya ok bgt.
cukup buat merinding juga waktu bacanya.. :)

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Peringatan Ketiga Belas (7 years 39 weeks ago)

thank you :)

Writer jasmine_lukhy
jasmine_lukhy at Peringatan Ketiga Belas (7 years 39 weeks ago)
80

suka.
:)
lam kenal.

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Peringatan Ketiga Belas (7 years 39 weeks ago)

thank you :)
salam kenal juga

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Peringatan Ketiga Belas (7 years 39 weeks ago)
60

Seandainya "aku" ga cuma menghampiri Dodi, mungkin banyak manusia yang bakal menggila seperti itu. Dari penampilannya yang digambarkan serampangan, Dodi mungkin terkesan manusia banyak dosa. Padahal mungkin aja ada yang penampilannya baik2, tapi dosanya ga kalah bejat. Kerasa banget cerita ini ingin mencengkeram benak supaya takut berbuat dosa.
Betewe ini latarnya di mana ya? Indonesia? Kalau betul, ada "cerobong asap" dan "bacon" itu rasanya wagu. Referensi lainnyapun terasa campuraduk. Anime, Hollywood, agama. Tapi maklum sih, globalisasi.
Salut sama kontribusimu :) Mari semangat menulis!

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Peringatan Ketiga Belas (7 years 39 weeks ago)

lagi suka yg spiritual2 gitu jadi nulisnya juga ttg dosa2 :D
itu emang sengaja dicampur2 acak adut soalnya kalo mau nulis dengan tokoh yg sama (baca: si "aku") biar latarnya bisa luas :D
thank you sudah baca dan komentar :)