CHEESECAKE, TEAPOT, AND CEREAL~CHEESECAKE 1

“Lagi?” tanya Naila shock sembari meletakkan canggkir teh yang dia pegang ke atas meja.

Gadis berkerudung yang ditanya hanya mengangguk, sedang mulutnya sibuk mengunyah cheesecake favorit. Tidak tampak kesedihan sama sekali. Bahkan terlihat wajah puas pemenang sebuah pertandingan.

You always do, Vea!” Naila frustasi menghadapi sahabatnya yang satu ini.

Gadis yang dipanggil Vea ini menggedikkan bahu, tak acuh. Sekarang malah sibuk menyedot habis lemon tea dari gelasnya.

Naila menghela napas gerah meskipun mereka berada di dalam sebuah cafe dengan pendingin ruangan, “Jadi sebenarnya kamu mau menikah atau tidak?”

“Tentu saja mau!” jawab Vea cepat kali ini.

“Lalu mengapa setiap lelaki yang mendekati selalu kamu tendang jauh-jauh?” geram Naila.

Vea tampak berpikir sebentar sebelum menjawab, “Karena itu yang sepantasnya.”

Naila melotot, mendengar jawaban tak acuh sahabatnya ini. Mulutnya sudah terbuka ingin mengatakan sesuatu ketika Vea lanjut berkata, “Baru chatting sekali sudah berani menggunakan emot cium atau mengetik ‘kiss’. Belum apa-apa sudah bertanya hal-hal pribadi seperti orang yang tidak tahu etika berkenalan. Semuanya menyebalkan!”

Kembali Naila akan mengeluarkan pendapat saat Vea menyambung ucapan, “Tidak ada satupun yang serius kejenjang pernikahan. Cara pendekatan mereka persis ABG yang ingin berpacaran.”

Vea  menyuap sesendok cheesecake lagi setelah mengucapkan itu. Sedangkan Naila memandangi sahabatnya ini, memastikan kalau Vea tidak akan menyerobot kesempatannya bicara.

Merasa yakin, Naila membuka mulut untuk berucap tatkala Vea berkata, “Paling menyebalkan itu waktu salah satu dari mereka menanyakan usiaku. Setelah kujawab, lelaki itu malah berkomentar usiaku terlalu muda untuk memikirkan pernikahan. Terus, dia memberi saran bagaimana kalau berpacaran terlebih dahulu untuk saling mengenal.

Ya Tuhan! Umur berapa dia? Pasti dia berpikir kalau perempuan itu sama seperti laki-laki yang umumnya mulai berkeinginan berumah tangga ketika usia 27 ke atas. Jelas dia tidak tahu wanita kebanyakan sudah butuh pendamping ketika memasuki usia 20.”

Ekspresi Vea menunjukkan kegemasannya pada lelaki yang entah siapa itu. Sekali lihat saja Naila tahu lelaki itu masuk dalam daftar hitam calon suami gadis di depannya ini.

“Sudah?” Naila memastikan.

What?” Vea bingung seraya menyeruput lemon tea kesukaannya.

“Masih ingin bicara?” perjelas Naila.

Vea menggeleng, masih menyedot lemon tea.

“Dengar,” Vea memperbaiki duduknya mendengar nada perintah itu, “lelaki sekarang ini mana berani mengajak kejenjang serius tanpa adanya pendekatan siknifikan.”

Vea tersenyum sinis, “Bukti bahwa lelaki sekarang bermental tahu, ‘kan?”

Ck, bukan itu Vea!” Naila kesal Vea masih sempat membajak gilirannya bicara. “Mereka butuh waktu untuk menentukan bahwa kamu yang terbaik sebelum mengajukan ajakan berumah tangga.”

“Dengan pacaran?” sinis Vea bertanya.

Naila mengangguk meski tahu jawabannya bisa membuat Vea dongkol, “Sejauh ini cara itu yang selalu digunakan.”

Benar saja, Vea mendengus. Gadis ini menyuap cheesecake-nya lagi dengan geram.

Dia bukan berlagak suci. Tidak juga berlaku sok menjaga diri. Dia gadis biasa dengan pengetahuan agama yang seadanya. Hanya saja, sampai saat ini dia belum menemukan alasan positif menjalin sebuah hubungan di luar pernikahan.

Terlalu banyak hal kurang menyenangkan yang dia temukan disekitar akibat pacaran. Salah satu teman SMP-nya meninggal bunuh diri karena dikhianati. Salah satu teman SMA-nya tidak serius sekolah hingga gagal Ujian Nasional akibat baru berpacaran. Seorang teman kuliah hamil di luar nikah juga disebabkan berpacaran. Kemudian Naila, hampir setiap hari pusing—kadang sampai menangis—sebab bertengkar dengan pacarnya.

“Lagipula...,” Naila diam sejenak, terlihat ragu, “kedekatanmu dan Vita menjadi gossip belakangan ini.”

Pupil Vea melebar. “Hah!” seruan kaget itu lolos dari mulunya. “Maksudmu beredar gossip kalau aku juga...,”

Naila mengangguk.

“Ya Tuhan!” Vea geleng-geleng kepala. “Kita bertiga bersahabat sudah lama Nai. Kita juga megontrak rumah bersama sejak kuliah di kota ini. Bagaimana mungkin bisa ada gossip seperti itu? Selain itu, kita selalu betiga kemana-mana. Mengapa harus aku dan Vita yang tertimpa gossip?”

Naila menggedikkan bahu, “Mungkin karena bertahun-tahun kita mengontrak rumah di lingkungan itu hanya kalian berdua yang tidak pernah terlihat dikunjungi lelaki.”

Vea menyeruput lemon tea-nya cepat sebelum bicara, “Apa sudah banyak yang tahu kalau ...”

“Sepertinya masih praduga. Hanya kita berdua dan ... pasangan Vita yang tahu kalau dia ... penyuka sesama,” Naila sedikit berbisik di frasa terakhir. “Karena itu, untuk menepis gossip dan melindungi Vita dari pandangan buruk kamu harus segera menikah. Minimal memiliki pacar, Ve.”

Vea mengurut kening, gusar. Menggerutu atas perubahan orientasi Vita yang kini berimbas padanya. “Mengapa Vita harus belok, sih?”

“Karena dia belum tersentuh makeup dan perawatan,” jawab Naila asal sebelum menyesap blossom tea yang tadi sempat terlupakan.

Wajah itu mengernyit mendapati minumannya mendingin. Berdecak pelan dia menambahkan blossom tea hangat dari dalam teapot.

Vea memutar bola mata, “Teori apa itu?”

Naila menyeringai disela meresapi hangat teh dari balik cangkir yang dia genggam, “Aku masih punya satu kandidat. Kamu mau?”

“Berapa usianya?”

Naila mengernyit, “Dia tidak setampan yang sebelumnya, tapi sudah sangat mapan.”

“Berapa usianya?”

“Tuhan! Ada apa dengan usia?” Naila jengkel mendapati Vea lebih tertarik mengetahui usia daripada deskripsi fisik kandidat terakhir pilihannya.

“Berapa usianya, Nai?” Vea ikut jengkel pertanyaannya belum dijawab.

“Tiga puluh satu tahun,” jawab Naila akhirnya.

Mata Vea berbinar, “Pertemukan kami berdua!”

Naila memutar bola mata, “Aku rasa kamu harus lebih menghargai usiamu sendiri Vea. Dua puluh tiga tahun, tapi bertingkah seperti tante-tante yang butuh pasangan sesuai. Ada apa dengan om-om di dunia?”

Vea mencibir, “Kamu hanya belum tahu kharismatik lelaki yang usianya jauh di atas kita.”

“Aku rasa kamu butuh seorang psikiater Vea. Ini sudah tidak wajar. Sejak SMP kamu terobsesi dengan om-om. Ingat waktu kamu tertarik dengan pamanmu sendiri?” ucap Naila dengan tatapan prihatin. “Kamu juga pernah tertarik pada guru Kimia kita di SMA yang masih sendiri di usia 35. Kamu bahkan malas makan selama seminggu ketika si tua itu menikah.”

Vea berpura-pura sibuk dengan cheesecake yang tersisa. Pikirannya kacau diingatkan tentang kenangan—sedikit—pahit masa SMA.

Sejak dulu dia tidak tertarik dengan permainan berpacaran yang biasa dilakukan anak muda seusianya. Saat melihat Pak Dian, guru Kimia mereka itu, dia langsung tertarik. Bukan hanya karena Pak Dian masih terlihat segar di usia 35, tapi juga karena kecerdasan dan wibawa yang ditunjukkan dalam kegiatan belajar mengajar.

Dia sudah berencana akan mengajak Pak Dian menikah setelah lulus SMA. Sayang sekali, gurunya itu lebih dulu menikah sebelum dia lulus. Hal ini sempat membuatnya terpukul.

Well, kapan kamu ingin bertemu?” tanya Naila mengalihkan fokus, merasa bersalah membuat Vea mengingat masa lalu.

“Aku siap kapanpun,” vea kembali bersemangat. “Asal jangan malam hari.”

“Oke! Aku harap kali ini...,” suara dering panggilan menginterupsi kalimat Naila.

Naila meraih handphone di dalam tasnya kasar, merasa terganggu. Namun, wajahnya melembut melihat nama yang tertera di layar. “Iya Yang?”

Pertanyaan pertama itu diikuti anggukan-anggukan pelan sampai pembicaraan hampir berakhir, “Iya, aku sedang menuju ke sana sekarang. Miss you!”

Vea memutar bola mata melihat Naila segera berkemas, “Panggilan darurat lagi?”

Naila memasang wajah menyesal dibuat-buat, “Maafkan aku.”

“Ya, ya, ya, pergilah! Aku tidak akan tega melihatmu menangis karena dibentak akibat terlambat datang. Hati-hati di jalan!”

“Kamu memang sahabat terbaikku!” seru Naila sumringah, kemudian bergerak cipika-cipiki sebelum benar-benar pergi meninggalkan Vea.

“Kamu tahu Nai?” ucap Vea tatkala Naila berbalik membelakanginya membuat gadis itu berhenti dan menoleh. “Aku rasa, kamu yang lebih memerlukan kandidat baru.”

Naila mengibaskan tangannya tanda ‘tidak perlu’, menganggap ucapan Vea hanya sebuah candaan belaka. Kemudian kembali melangkah pergi.

***

Sepeninggal Naila, Vea tetap bertahan di cafe. Dia memesan sepotong cheesecake lagi, memuaskan diri sebelum pulang. Dia butuh sedikit penyegaran.

Sebuah senyum manis terukir kala pelayan datang membawakan pesanannya. Membuat pelayan itu sedikit tersipu sebelum membalas senyumnya bijak, kemudian pergi. Ini lucu!

Sayangnya, dia melupakan kenikmatan cheesecake saat matanya menjelajah keluar dinding kaca. Terlihat lalu-lalang pengendara bermotor. Terkadang tampak para pejalan kaki di trotoar atau yang ingin menyebrang, membawanya terhanyut dalam lamunan tentang Naila, Vita, dan dirinya sendiri.

Bersahabat hampir 10 tahun dengan Naila dan 7 tahun bersama Vita memberikan kenangan yang banyak. Susah senang kehidupan remaja mereka hadapi bersama.

Naila dan dia pernah tak bertegur sapa karena dirinya tidak menyukai Delon, pacar Naila ketika SMP. Lalu, pernah juga membiarkan t-shirt favorit-nya kotor akibat ingus Naila yang menangis sesegukan karena Sofian—pacar Naila saat SMA—menderita kanker otak dan meninggal. Sekarang, t-shirt-nya masih sering menjadi tissue dadakan. Namun, dia tidak pernah mengeluh.

Hal yang paling membekas ketika Naila dan dia mendengar pengakuan Vita tentang penyimpangan orientasinya di tahun ketiga mereka kuliah. Awalnya, mereka takut berdekatan dengan gadis itu. Namun pada akhirnya mereka sadar—meski membutuhkan waktu berbulan-bulan—seperti apapun Vita adalah bagian dari hidup mereka. Sahabat mereka sejak SMA.

Vea begitu terhanyut dengan nostalgia dalam kepala sehingga tidak menyadari seseorang duduk di depannya. Mungkin dia tidak akan peduli kalau tidak merasa diawasi.

Dahinya berkerut tatkala matanya menangkap sesosok asing memandanginya, “Siapa kamu?”

Orang yang ditanya tersenyum ramah. Menunjukkan gigi putih terawat di balik bibir pucat perokok. Membuat kerutan di dahi Vea bertambah memikirkan kombinasi aneh gigi terawat dan perokok—mengabaikan sebutir gigi yang hilang dari tempatnya.

“Abdiel,” suara maskulin menelusup ke dalam telinga Vea ketika orang itu berbicara.

“Abdil?” ulang Vea berusaha tak kehilangan kewarasan.

“Abdiel. Namaku Abdiel,” jelas orang itu.

“Oke Abdiel! Ada perlu apa?” kata Vea, setelahnya mengernyit menyadari kalimat itu seperti kalimat hafalan seorang informer di balik meja informasi.

“Ayo menikah!” ajak Abdiel sukses membuka lebar mulut dan pupil Vea.

“Apa kamu peserta reality show?” tanya Vea setelah kembali menguasai diri.

Abdiel kembali tersenyum membuat dagu yang ditumbuhi bulu kasar sampai dekat telinga itu terlihat manis menggoda. Bibir bawah yang lebih tebal dari bibir bagian atas seperti memanggil untuk disentuh. Vea langsung menggelengkan kepala agar terbebas dari ikatan pikiran liarnya.

“Usiaku 35 tahun dan sedang butuh istri,” ujarnya mengacuhkan pertanyaan Vea.

Mata Vea mengerjap berulang kali. Hilang sudah ketenangan yang sejak tadi dipertahankan. Ini gila!

“Maaf, tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian dari sana,” Abdiel menunjuk satu meja tepat di belakang Vea.

Vea mengikuti arah telunjuk Abdiel, lalu merutuk setelahnya. Ini bodoh!

“Bukankah aku cukup layak menjadi pendampingmu?”

Ya, tentu saja! Setelah beberapa hal yang merusak konsentrasi Vea tadi ditambah hidung mencuat proposional sebagai pelenglap—kembali mengabaikan sebutir gigi yang hilang dari tempatnya—secara fisik Abdiel sangat layak. Tapi ini aneh untuk dianggap serius.

“Pikirkanlah lebih dulu,” lanjut Abdiel melihat Vea yang tak kunjung merespon. “Jika kamu setuju, kita bisa bertemu beberapa kali agar saling mengenal sebelum lamaran. Kamu bisa menghubungiku di sini,” Abdiel memberikan kartu namanya. “Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa lagi!”

Sekali lagi Abdiel memberikan senyuman manis sebelum pergi meninggalkan Vea yang masih terbengong-bengong.

***

Bersambung....

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

Saya rasa yang ini tidak kaku seperti yg Terlihat Sederhana. Ini juga lebih menarik :)
=
Sebenarnya yg mana yg mau diteruskan?

80

Saya rasa yang ini tidak kaku seperti yg Terlihat Sederhana. Ini juga lebih menarik :)
=
Sebenarnya yg mana yg mau diteruskan?

Insha Allah dua-duanya ... xixixi

70

coba periksa lagi arti kata "acuh".
semoga bisa ditulis sampai tuntas :D

ah iyaaa! seharusnya tak acuh ya ... hehehe ... makasih koreksiannua :D....

Semoga, aamiin!

aamin.

mongomong, baru2 ini saya nulis cerita yang usia tokohnya 23 juga. kali aja berkenan kemari hehe.

70

Nice... tapi sepertinya ada yg ganjil.
"Gadis yang dipanggil Vea ini menggedikkan bahu, acuh. Sekarang malah sibuk menyedot habis lemon tea dari gelasnya."
lanjut ke
“What?” Vea bingung seraya menyeruput lemon tea kesukaannya.
“Masih ingin bicara?” perjelas Naila.
Vea menggeleng, masih menyedot thai tea.

Jadi... setelah diseruput habis, Vea masih lanjut minum lemon tea. Lalu lanjut ke Thai tea?? =w=" ada berapa gelas teh yg diminum Vea? itu aja sih yg aku mw tanya... ahahaha
Penasaran sm lanjutannya, keep writing ^^

Oalahhh itu awalnya memang thai tea lalu pas pengwditan diganti lemon tea ... berarti masih ada yg tercecer .. xixixi