Pembunuhan Shin Elqi (bagian awal)

Jakarta, 31 Desember 2013 17:13




Sore semakin terasa saat sinar matahari sudah menyentuh ufuk barat. Edario baru saja turun dari sebuah taksi dan menatap gedung di depannya. Sebuah apartemen tua yang berada di pinggiran ibu kota. Di depan pintu masuk apartemen itu terparkir beberapa mobil polisi serta satu mobil tim forensik.

"Inspektur Edario!" seorang mendekatinya dan kemudian menjabat tangannya. "Mayor Senn Sebastian," lanjut orang yang potongannya lebih muda dari Edario itu, juga lebih pendek.

"Apa yang terjadi?" tanya Edario. Dia dari tadi bertanya-tanya, kasus seperti apa sehingga membuat izin cutinya ditunda.

"Silahkan, ikuti saya." Edario kemudian mengikuti Mayor Senn. "Kasus ini benar-benar membingungkan saya. Menurut pemilik apartemen, seorang pemuda bernama Shin Elqi membeli unit nomor empat di lantai sembilan."

Edario berhenti, Mayor Senn yang menyadarinya pun ikut berhenti. "Apa nama apartemen ini Melati Putih?"

"Iya, benar Inspektur, dan unit yang menjadi TKP adalah Kamar Eksekusi Diri."

"Oh," ujar Edario, lalu berjalan mendahului Mayor Senn. "Apartemen berlantai sembilan ini, tidak punya lift, bukan?"

"Ya, Inspektur."

Edario tahu betul apa yang menyebabkan kamar di lantai sembilan unit empat itu di sebut Kamar Eksekusi Diri. Dulu ada seorang gadis yatim piatu tinggal di situ, kemudian dia mengetahui bahwa pacarnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Karena merasa dikhianati, gadis itu mengundang pacarnya juga sahabatnya ke unitnya, dan membunuh mereka sebelum bunuh diri. Setelahnya, setiap orang yang menghuni kamar itu ditemukan bunuh diri. Jika kasus kali ini adalah kasus bunuh diri, berarti ini kasus keempat setelah tragedi yang terjadi di unit empat lantai sembilan itu. Dan ini untuk pertama kalinya Edario menangi langsung kasus di unit itu, di mana sebelumnya dia hanya membaca dalam kertas berformat laporan hasil penyelidikan.

"Mayor Senn," ujarnya ketika baru menaiki tangga menuju lantai sembilan. "Informasi seperti apa yang telah masuk?"

"Pemuda yang bernama Shin Elqi membeli apartemen nomor 0904, empat hari yang lalu melalui telepon dan pembayarannya lewat bank. Pemilik terakhir-keluarga dari orang ketiga yang bunuh diri-tidak pernah tahu wajahnya, suaranya pun terkesan di samarkan," Mayor Senn berhenti beberapa detik sebelum berbicara lagi. "Ada informasi-yang dihimpun dari beberapa saksi-mengatakan ada seseorang yang naik ke lantai sembilan pada tanggal 28 desember sekitar jam sembilan malam, lalu orang itu tak pernah terlihat lagi. Ciri-cirinya, tingginya sekitar 160cm, memakai sepatu kets dan celana jeans hitam, serta jaket olahraga bertudung warna hitam. Saat saksi melihatnya, dia memakai tudung itu hingga wajahnya tak terlihat."

"Apa saksi melihat orang itu masuk ke unit empat lantai sembilan?"

"Tidak, dan tak ada satu pun yang tinggal di lantai sembilan sekarang ini."

"Siapa yang pertama kali menemukannya?"

"Saya Inspektur."

Edario berhenti tepat ketika kakinya memijak lantai 9, lantai paling atas di gedung itu.

"Pukul empat lewat empat puluh empat menit sore ini, ada seseorang yang menelepon ke markas dan berkata akan bunuh diri di apartemen Melati Putih unit empat lantai sembilan. Pada saat itu hanya ada saya dan rekan perempuan saya di markas, sehingga saya yang datang ke tempat kejadian perkara. Saat itu tak ada seorang pun di sini, sehingga saya sendiri yang mendobrak pintu itu dan menemukan korban."

Edario bernafas berat. Selama karirnya di kepolisian bagian penyelidikan kasus kriminal, yang hampir genap 24 tahun. Dia tidak pernah merasa gelisah jika menyelidiki sebuah kasus, tetapi sekarang dia merasakannya.

"Ada apa Inspektur?" tanya Mayor Senn yang bergerak ke depannya.

Edario menggeleng lalu melangkah lagi. Di depan sana dia melihat seorang petugas kepolisian berjaga di pintu salah satu unit. Dirinya langsung berpikir, di situlah unit yang disebut sebagai Kamar Eksekusi Diri.

Edario mengangguk pada petugas yang berjaga itu sebelum masuk. Di dalam dia melihat beberapa petugas lain yang sedang memeriksa setiap sudut ruang tamu, ada pula yang berada di dapur tepat di samping pintu masuk, mereka sedang memeriksa bungkus makanan yang terletak di meja. Lalu Mayor Senn membawa Edario ke lorong pendek dekat pintu masuk yang di ujungnya ada dua pintu saling berhadapan. Pintu sebelah kiri terbuka sementara sebelah kanan tertutup. Mayor Senn masuk ke pintu yang terbuka itu, sementara Edario memeriksa pintu sebelah kanan terlebih dahulu yang ternyata kamar mandi sebelum akhirnya mengikutinya.

Dalam ruangan yang hanya diterangi lampu itu, Edario melihat tubuh seorang pria yang terduduk di lantai dan punggungnya bersandar ke dinding, tepat di depan ranjang. Kedua tangannya tergeletak ke samping dan pada bagian telapak tangan kondisinya hangus sampai ke pergelangan. Ada senjata revolver di atas telapak tangan sebelah kiri dan sebelah kanannya ada sebuah ponsel, kedua barang terlihat terbakar beberapa waktu lalu.

Pada bagian lain, mulai dari leher hingga ke ujung kepala juga terlihat hangus. Di beberapa titik bahkan terlihat tulang yang menonjol, memperlihatkan bahwa daging yang menempel di bagian kepala sudah hampir hangus terbakar.

Edario berjongkok untuk melihat lebih dekat mayat itu dan menemukan ada bekas lubang di tulang tengkorak sebelah kiri. Matanya kemudian melihat ke revolver itu.

"Kami sudah memeriksanya," ujar Mayor Senn. "Kemungkinan besar lubang itu disebabkan oleh satu peluru yang hilang dalam revolver itu."

"Tampaknya kau sudah memeriksa semuanya, Mayor Senn?"

"Ya, dan saya tempatkan kembali seperti semula agar anda melihatnya, Inspektur."

Edario berdiri lagi, lalu berbalik untuk melihat Mayor Senn. "Berapa umurmu?"

Mayor Senn terlihat kaget, lalu menjawab ragu. "Dua puluh empat Inspektur."

"Seharusnya kau tidak perlu melakukan hal itu, cukup kau beritahu saja apa yang kau dapat dari TKP padaku."

"Tapi, Inspektur...."

"Kau tahu Mayor, matamu lebih tajam dari mataku yang sudah tua ini," Edario kemudian menepuk baht bawahan yang baru pertama kali dilihatnya itu. "Percayalah, meskipun tanpa bantuanku, kau akan menyelesaikan kasus ini jika kau percaya diri."

"Ya... Inspektur."

"Baiklah, cepat bawa mayat ini untuk segera diautopsi dan temui aku di luar."

Edario segera keluar dari tempat itu dan memeriksa pintu masuk. Ada bekas didobrak paska, lalu dirinya meneliti kunci pintu itu. Dilihat dari mana pun, kunci itu model lama dan bentuknya bulat. Siapa pun bisa menguncinya dari luar mau pun dalam jika punya anak kunci, jika tidak, dengan menekan bulatan di tengah itu maka pintu bisa terkunci, namun hal itu hanya bisa dilakukan dari dalam. Lalu dirinya melangkah ke luar ketika petugas yang lain masuk untuk membawa korban. Dia berdiri di luar, di lorong yang lantainya berdebu. Tak beberapa lama, Mayor Senn menemuinya setelah melihat korban dibawa ke rumah sakit untuk autopsi.

"Aku ingin dengar hasil laporanmu, Mayor."

Mayor Senn Sebastian membuka buku catatan kecilnya, lalu melaporkan hasil penyelidikannya. "Korban adalah Shin Elqi. Waktu kematiannya diperkirakan pada pukul satu siang dengan melubangi kepalanya sendiri. Ada bekas residu di baju juga lengan korban yang membuktikan hal itu. Lalu ditambah pintu yang terkunci dan kuncinya berada di atas ranjang, keadaan itu menegaskan bahwa ini bunuh diri."

"Tetapi," ujar Edario yang mendengar ada nada ragu dari suara Mayor Senn.

"Telepon yang masuk ke markas serta bekas luka bakar yang dialami korban, itu kondisi dan bukti pembunuh," Mayor Senn membuka halaman catatannya sebelum berbicara lagi. "Telepon yang masuk dan tak sesuai dengan waktu kematian, dilakukan oleh pelaku untuk menantang kepolisian. Lalu dengan membakar wajah dan telapak tangan yang dimaksudkan untuk menyulitkan identifikasi, menegaskan tujuan itu."

Edario mengangguk. "Lalu, siapa Shin Elqi yang menjadi korban ini?"

Mayor Senn menutup catatannya dan bersuara lemah. "Kami belum tahu siapa dia. Menurut apa yang saya selidik hingga kini, nama itu hanya muncul dua kali, yaitu sebagai pembeli unit empat ini dan orang yang menelepon ke markas."

Edario menggangguk seraya memejamkan mata, berpikir. Beberapa saat kemudian dia tersenyum, lalu melangkah ke tangga.

"Anda dapat sesuatu Inspektur?" tanya Mayor Senn yang mengikutinya.

"Kita akan membuat laporan dan kau bisa segera kencan dengan pacarmu di malam terakhir tahun ini."

"Ah, saya tidak punya pacar Inspektur," suara Mayor Senn kembali melemah. "Saat makan siang tadi, dia berkata akan menikah dengan pria pilihan orangtuanya yang kaya raya dan mengakhiri hubungan kami yang sudah terjalin selama hampir enam tahun."

Edario berhenti, dirinya merasa bersalah.

"Tidak usah simpati, Inspektur. Aku sudah tidak apa-apa."

Edario melihat wajah tegar pemuda itu saat melewatinya, lalu mengikutinya. Dia kemudian tersenyum, dia melihat lagi dampak positif dari pekerjaan sebagai penyelidik kasus kriminal.

"Inspektur, apakah anda sudah tahu siapa pelakunya?"

"Ya, ini bukan pembunuh tetapi bunuh diri," Edario ingin melihat ekspresi wajah pemuda di depannya, tetapi sulit karena pemuda itu tidak menoleh. "Entah siapa Shin Elqi itu, tetapi dia berusaha untuk mempermainkan polisi. Dia ingin bunuh dirinya dianggap sebagai kasus pembunuhan dengan membakar wajah serta telapak tangannya sendiri sebelum mengakhir hidupnya dengan satu peluru."

"Lalu bagaimana dengan telepon itu?"

"Dengan teknologi sekarang, sangat mungkin membuat panggilan palsu dengan timer dan memutar rekaman yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu."

"Benar juga, panggilan tadi pun terasa sangat aneh. Dia berkata bahwa dia Shin Elqi, berada di apartemen Melati Putih unit empat lantai sembilan dan akan bunuh diri, setelah itu sambungan terputus."

Edario tersenyum sedih. "Dia anak yang tersesat, yang ingin diakui masyarakat, namun jalan yang dipilihnya salah."




***


Jakarta, 31 Desember 2013 19:09

Malam tahun baru.

Edario sebenarnya ingin menikmati malam tahun baru itu dengan mengunjungi anak tunggalnya yang sudah berkeluarga, namun sepertinya hal itu harus ditunda, karena kasusnya semakin rumit.

Edario dan Mayor Senn sedang berada di kantor polisi, menunggu hasil autopsi untuk melengkapi lamporannya. Beberapa saat yang lalu, laporan lain datang. Laporan itu hanya berisi tentang sidik jari yang berada di TKP, namun terasa cukup aneh. Hanya ada sidik jari kaki yang tersebar di setiap lantai, sementara sidik jari tangan tidak ada sama sekali. Hal itu membuat Mayor Senn resah, namun Edario menenangkan.

"Ini sudah diprediksi. Dengan tindakan Shin Elqi yang cukup ekstrem untuk mengakhir hidupnya, dia akan meninggalkan hal-hal yang mengejutkan di belakangnya."

Namun prediksi Edario itu meleset. Saat hasil autopsi sudah keluar, kejutkan yang dahsyat meruntuhkan asumsi tentang bunuh diri itu dan langsung membelokkannya ke kasus pembunuhan.

"Inspektur," ujar Mayor Senn yang berdiri tegang setelah membaca hasil autopsi. "Mereka bilang, luka bakar itu didapat setelah korban meninggal kira-kira satu jam."

Edario tidak merespon perkataan Mayor Senn. Dia tahu hal itu tanpa dikatakan lagi. Laporan autopsi itu juga mengatakan bahwa ada obat tidur dosis tinggi di tubuh korban, serta sebuah sobekan kertas di lambungnya yang dimasukan ke dalam botol kecil.

Edario mendesah lalu mengambil plastik yang berisi kertas itu, membaca lagi apa yang tertulis di sana.

[Hari pertama tahun baru, aku akan sarapan pagi dengan Teteh Dayeuh, lalu makan siang dengan Paman Shinichi. Semoga saja aku belum terbunuh saat itu]

Catatan itu ditulis tangan dan terkesan sebagai bagian dari halaman jurnal.

"Ini tantangan langsung Inspektur," ujar Mayor Senn dengan nada tegas. "Pelaku membunuh orang tak berdosa untuk menantang kita. Hal ini tidak bisa dimaafkan."

"Tenang Mayor Senn," Edario mencoba menenangkan anak muda yang sedang berapi-api itu. "Jika benar pelaku melakukan itu untuk menantang kita, maka kita harus menyelidikinya dengan hati-hati."




Bersambung...

Read previous post:  
Read next post:  
80

wah telat banget baru baca tulisan ini
detailnya udah bagus, tapi emang bener kalau kesannya detektifnya kurang kerja, kebanyakan mikir :p hahaha
wah ada dayeuh dan kak shinichi segala
lanjut baca dulu deh

Wah Anda bunuh diri ya… duh saya kagak nonton momen-momennya :D hehe mental sadis nih… bagus kok agak… kurang enak dikiiiiiit aja rasanya… *kabur dan tidak pernah muncul lagi pas amat ada banyak user terkenal di sini, hehe, tapi kesian ama yg mati *kabur untuk slamnya

80

saya syok dengan judulnya karena baru kali ini baca cerita tentang penulis yg membunuh dirinya sendiri. kamu baik-baik saja kan, nak? #kemudianditempeleng

dan detektif begini bikin saya makin kepengin baca The Cuckoo's Calling. #okecurhat

lanjutkan. pengin tahu peran kakak Shinichi dan kakak Dayeuh.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Pembunuhan Shin Elqi (bagian awal) (7 years 30 weeks ago)

sabar saja menunggu, tetapi jangan kecewa ya...hehehe

Writer hamdan15
hamdan15 at Pembunuhan Shin Elqi (bagian awal) (7 years 30 weeks ago)
80

hmm, informasi yg diberikan terlalu blek ngasih mentahnya bgt.
jadi, kerasa bosan bacanya.
.
klo novel detektif biasa kan, informasinya diperoleh dengan cara analisis, trus olah tkp, jd pembaca nggak langsung juga nerima apa adanya kyk gitu.
.
trus si edios juga gak ada argumen sama skali yg masuk akal kenapa si shin bunuh diri.

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Pembunuhan Shin Elqi (bagian awal) (7 years 30 weeks ago)

terima kasih telah berbagi pemikiran...

Aku akan berusaha memperbaikinya, agar lebih bisa dinikmati...

Edios, maksudnya Edario? Aku juga merasa sedikit kesulitan menggambarkan wataknya, jadi seperti itu lah jadinya...

Writer L. Filan
L. Filan at Pembunuhan Shin Elqi (bagian awal) (7 years 30 weeks ago)
80

Jagoannya Edario kan? Kenapa dia tidak sedikitpun merasakan firasat atau keganjilan ttg kasus kematian itu ya? Malah bawahannya yang merasa begitu.
-
Ditunggu episode berikutnya, mendatangi dayeuh dan shinichi :D

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Pembunuhan Shin Elqi (bagian awal) (7 years 30 weeks ago)

skenarionya begini, bawahannya sudah menyelidiki semuanya, namun tidak bisa memecahkan kasusnya...maka dari itu dia melapor ke markas besar dan dikirimlah Inspektur untuk membantu mayor itu....

Sepertinya aku harus menambahkan narasi agar hal di atas bisa diketahui pembaca...
Terima kasih telah menyumbangkan pemikiran...

Writer Shinichi
Shinichi at Pembunuhan Shin Elqi (bagian awal) (7 years 30 weeks ago)
90

wah!
sejujurnya, saya membaca ini karena tertarik dengan tagnya. cerita detektif di Kemudian.com sangat langka. kalaupun ada, terlalu datar hingga saya sulit meski untuk sekadar penasaran. alasan kedua adalah saya pengen lihat tulisanmu yang lebih panjang ketimbang 100 kata. akhir2 ini dirimu suka dengan itu yang membuat saya justru jenuh. pengen lihat jugak karena aktivitasmu yg sering koment di mana-mana, dan ingin melihat seperti apa progresmu dalam menulis.

saya menerawang ke tulisan-panjangmu-selain-1ookata yang pernah saya komentari. bergerak dari sana, saya bisa lihat peningkatan yang cukup pesat. sebelumnya kamu jugak pernah bikin cerita detektif. itu dan ini terlihat beda kelas dari segi narasi. gayanya masih sama. jika dulu itu kamu terlalu fokus dengan misterinya, di sini kamu lebih "dewasa" dengan mengembangkan situasi dalam cerita. intrik itu penting kalau situasilah yg ingin kamu fokuskan. dan sebagai cerita pembuka, kamu berhasil menurut saya dengan "misi" seperti itu.

saran saya yg utama: selesaikan cerita ini dengan tidak terburu-buru. berikutnya adalah perbanyak lagi buat berkonsentrasi dan mencari-cari reaksi senormal apa yang bisa dilakukan para tokohnya dalam menghadapi situasi dalam cerita. reaksi normal ini maksudnya reaksinya sebagai manusia dan tentu juga dalam profesi yang tokoh-tokohnya perankan. baca ulang dan pikirkan apakah itu reaksi yang paling pas. menurut saya, alasan tokoh adalah poin penting bagi pembaca-kelas-tinggi untuk membuat mereka tetap "tertarik". sebab jika bicara soal kehebatan trik, dunia cerita detektif sudah sangat monoton dan mainstream. kembangkan itu menuju endingnya.

saran saya yang lain adalah: jangan sampai dirimu membuat keterlibatan saya (Shinichi) di sana sebagai sesuatu yang negatif. ya, itu ancaman! :p ahak hak hak.
kip nulis.
saya tunggu lanjutannya tahun depan

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Pembunuhan Shin Elqi (bagian awal) (7 years 30 weeks ago)

Shinichi-senpai memuji ya? Apakah ini sebuah sogokkan?
Tenang saja, dalam cerita selanjutnya Shinichi-senpai baik (aku kan selalu gitu, membuat satu hal menjadi sangat baik, terbang tinggi melayang-layang, saat merasa berada di surga, aku jatuhkan kembali dengan kekuatan yang dahsyat, hingga kepedihan melebihi kewarasan, lalu mengemis untuk di bunuh....hehehe)

Maaf Senpai, jika nanti akhirnya tidak sesuai dengan harapan....

100

Terlongong-longong membaca ini. NGAPAIN KAMU PAKE BUNUH SENDIRI SEGALA, ELQIIIII....?! Kalau ikutan mampir ke TKP udah kugoncang2 jasadmu Qi kali masih ada nyawanya... O_O Duh, tahun baru malah siap2 nunggu kedatangan polisi ini (secara nama udah tertulis gitu, jangan2 bakal dimintai keterangan :P)...
NB. Sejujurnya agak ga mudah buatku mengikuti kasus pembunuhan macam cerita detektif. (Tapi aku penasaran kamu beneran bunuh diri, atau adakah yang membunuhmu, dan seperti apa keterlibatanku--dan Shinichi(?)--di sini, dan apa maksudnya cerita ini sebenernya =_=a, atau jangan2 Shin Elqi yang tewas itu palsu, yang asli masih idup!) Mongomong aku menemukan kata "paska" yang kukira "paksa" dan "lamporan" yang kukira "laporan". Sepele sih :P tapi sementara itu saja yang bisa kukritisi, waha. Karena ini cerita bersambung tentu kuharap penulis bisa menuliskannya sampai selesai, atau, pinjem istilahnya Teh Filan, "mencapai kesimpulan" :)

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Pembunuhan Shin Elqi (bagian awal) (7 years 30 weeks ago)

maksud serta tujuan cerita ini untuk balas dendam pada Shinichi-senpai... -_-

kalau 2 kata itu sudah diprediksi (secara hanya dengan 2 jempol dan 9 tuts)
terima kasih telah memberitahu kesalahan ini, aku sangat menghargainya Teh ^_^

cerita ini tidak terlalu panjang, aku pasti akan segera "mencapai kesimpulan"
tetapi aku minta maaf pada Teteh, mungkin (sangat mungkin) akhirnya tidak sesuai dengan bayangan Teteh... ^_^