Pembunuhan Shin Elqi (bagian tengah)

Jakarta, 1 Januari 2014 08:09

Edario sudah mendapatkan informasi tentang dua nama dari jurnal yang berada di lambung Shin Elqi. Mereka semua bukan penduduk asli ibu kota, hal itu tidak menutup kemungkinan Shin Elqi juga bukan warga ibu kota. Tetapi bukan hal itu yang penting, sekarang Edario dan Mayor Senn pergi menemui kedua orang itu.

Pertama, mereka menemui Dayeuh. Karena kontrakan gadis itu tidak memperbolehkan ada orang asing-terutama laki-laki-masuk, mereka menemuinya di sebuah kafe. Mereka memesan tempat yang agak tertutup dan mulai bicara.

"Nona Dayeuh, apa anda pernah mengenal seseorang yang bernama Shin Elqi?" tanya Mayor Senn, sementara Edario mengawasi tingkah gadis yang terlihat takut itu.

"Sepertinya tidak."

"Tetapi anda punya janji makan dengannya pagi ini."

"Oh, orang itu," nada gadis itu terdengar seperti baru teringat akan sesuatu. "Ya, aku mengenalnya, tetapi hanya sebatas teman saja di sebuah komunitas online dan ingin bertemu untuk pertama kalinya dengan ku pagi ini."

"Kepribadian seperti apa?" sekarang Edario yang bertanya, membuat gadis itu sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang.

"Dia sepertinya pemuda yang baik, tetapi sedikit aneh. Dalam surat-suratnya yang aku baca, sepertinya dia mempunyai kepribadian ganda, bahkan aku sempat mengira dia gila. Namun akhirnya aku menyadari, dia orang yang tidak tahu bagaimana menyampaikan perasaannya, dan sepertinya dia orang yang sangat tertutup," gadis itu menyesap jus di depannya, lalu bicara lagi dengan nada rendah. "Dia cukup menyenangkan."

"Apa kebetulan anda tahu kesukaannya?" masih Edario yang bertanya.

"Dia sangat menyukai Girls' Generation dan T-Ara, tetapi akhir-akhir ini dia bilang tak menyukainya lagi. Lagu-lagunya mulai tak rasional lagi katanya," gadis itu kembali menyesap jus di depannya, seakan jika dia tidak melakukan hal itu, dia tidak akan bisa berbicara lancar. "Dia juga sangat suka lagu bertema kritik sosial, kesedihan, semangat dan harapan, seperti Linkin Park, Egoist, Supercell dan Yui."

"Adakah hal lain selain musik yang disukainya?"

"Dia sangat suka membaca novel, terutama yang bertema...," gadis itu berhenti, lalu melihat ke arah Edario. Ada kegelisahan yang terpancar di mata gadis itu. "Detektif Misteri."

"Pembunuhan?" tanya Edario dan dijawab dengan anggukan. "Nona Dayeuh, orang yang bernama Shin Elqi yang kita bicarakan, ditemukan tewas di apartemennya, kemungkinan besar dibunuh oleh seseorang pada jam satu kemarin."

Gadis itu terlihat sangat kaget. "Dibunuh?" bahkan suaranya pun hampir tak terdengar.

Mayor Senn yang berada di samping Edario berbisik. "Bukankah ini terlalu frontal, Inspektur?"

Edario mengangguk, namun tetap melakukannya. "Apa yang anda lakukan pada jam satu kemarin?"

Gadis itu terlihat gelagapan, matanya tidak bisa fokus pada satu titik, tetapi belum lima detik kemudian dia sudah bisa menguasai dirinya, lalu berkata dengan mantap. "Aku waktu itu bekerja di hari terakhir sebelum liburan. Jika anda tidak percaya, anda bisa memeriksanya sendiri."

"Baiklah," kata Edario, tampak tidak ingin menyerang lagi. Lalu dia meminta alamat tempat kerja gadis itu, setelahnya dia mengucapkan terima kasih dan pergi.

"Inspektur," ujar Mayor Senn setelah berada di luar kafe. "Apakah dia pelakunya?"

"Bukan. Jika dia pelakunya, dia akan tampak tenang dan menjawab dengan menatap matamu langsung. Sikapnya tadi hanya mengindikasikan bahwa dia menutupi sesuatu, tetapi hal itu tidak terlalu penting dalam kasus ini."

Edario membuka pintu mobilnya, lalu masuk. Sedangkan Mayor Senn masih tetap berdiri di luar.

"Ada apa?"

"Inspektur, sebaiknya saya memastikan alibi gadis itu, agar kasus ini lebih cepat terungkap."

"Baiklah, itu ide yang bagus," Edario tersenyum sambil menggelengkan kepala, lalu melajukan mobilnya. "Anak muda memang penuh semangat."

Edario menyetir mobilnya lebih dari satu jam sebelum akhirnya sampai di tempat Shinichi. Namun dia harus menunggu, karena orang yang akan ditemuinya sedang pergi. Satu jam kemudian Shinichi datang, lalu menemui di ruang tamu yang disediakan bagi penghuni kos.

"Inspektur?" ujar Shinichi, wajahnya hanya terkejut sedikit. "Ada apa mencari saya?"

Edario memutuskan memberitahu kedatangannya, karena dirinya merasa laki-laki di depannya itu cukup cerdas. Basa-basi dan menutup-nutupi hanya akan mengaburkan informasi.

"Jadi," ujar Shinichi seraya memperbaiki letak duduknya. "Status saya sebagai saksi atau tersangka?"

Edario tersenyum, laki-laki itu memang cerdas. "Untuk sekarang, tersangka."

"Oh," Shinichi juga ikut tersenyum, lalu menyesap kopinya. "Namun sepertinya status itu tidak akan bertahan lama."

"Mungkin, jika anda mempunyai faktor untuk mengubahnya."

"Inspektur. Pada pukul satu siang kemarin, saya mengikuti seminar kepenulisan mulai dari jam satu siang hingga jam empat sore. Anda bisa mengkonfirmasinya."

Tidak ada informasi yang bisa didapat lagi. Shinichi memang mengaku mengenal Shin Elqi, namun hanya dalam komunitas online dan tidak terlalu dekat dengan dirinya. Dia juga berencana bertemu Shin Elqi untuk pertama kalinya siang ini, tetapi hal itu tidak akan pernah terjadi.

Edario kemudian kembali ke markas polisi. Dalam perjalanannya dia menelepon Mayor Senn untuk memeriksa alibi dari Shinichi dan dirinya sendiri akan memeriksa komunitas online itu. Namun tidak ada yang bisa didapatkannya, hanya beberapa poin yang menegaskan bahwa Shin Elqi sangat menyukai sesuatu yang bertemakan detektif, misteri, teka-teki dan pembunuhan.

Edario menghembuskan nafas seraya menyandarkan punggungnya ke kursi. Satu-satunya petunjuk untuk kasus itu adalah kedua orang yang ditemuinya tadi. Jika petunjuk itu juga terputus, maka kasus ini akan buntu.

Satu jam kemudian, Mayor Senn datang.

"Bagaimana?" tanya Edario seraya berdiri, ingin segera mengetahui hasil yang didapat anak buahnya itu.

"Mereka berdua mempunyai alibi."

Edario terduduk, kasus ini benar-benar buntu.

"Dayeuh, bekerja sebagai kepala editor sebuah penerbitan swasta. Dia masuk kerja dari pukul tujuh dan saat pukul dua belas siang, bersama beberapa bawahannya mengadakan rapat untuk visi tahun depan hingga pukul empat sore. Aku sudah mengkonfirmasinya dengan dua puluh orang, termasuk satpam dan office boy."

"Apa ada bukti fisik?" tanya Edario yang masih ingin menyambungkan petunjuk itu.

"Sayangnya tidak ada, namun dari kesaksian dua puluh orang yang sangat mengenalnya, itu sudah lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa Dayeuh mempunyai alibi."

Edario mendesah pasrah dan tidak ingin bertanya tentang Shinichi. Biar Mayor Senn saja yang mengatakannya terlebih dahulu.

"Sementara untuk Shinichi, aku membawa bukti fisiknya," Mayor Senn mengeluarkan flashdics dari sakunya dan menyambungkannya pada komputer. "Dia masuk ke gedung seminar pada pukul dua belas lewat empat puluh lima menit dan keluar lagi pada pukul empat sore."

Edario melihat video yang diputar Mayor Senn. Dia melihat Shinichi dan beberapa orang lain masuk ke gedung seminar, di dalam video itu juga menampilkan waktunya. Lalu dia keluar lagi pada pukul empat lewat sembilan menit.

"Aku juga bertanya pada lima orang yang baru bertemu Shinichi pada seminar itu dan menjadi akrab. Mereka bilang Shinichi tidak pernah meninggalkan kursinya dan sangat antusias mendengarkan nara sumber," suara Mayor Senn yang tadinya normal mulai melemah. "Mereka mempunyai alibi saat pembunuhan, tetapi tidak dengan panggilan telepon itu."

"Aku rasa, kita telah terjebak oleh trik psikologi yang dilakukan oleh Shin Elqi. Aku tidak tahu bagaimana dia membakar telapak tangan dan wajahnya setelah satu jam meninggal, tetapi hal itu membuat kita berpikir dia dibunuh, lalu ditegaskan lagi dengan jurnal yang berada di lambungnya. Ketika dipikirkan lagi, jurnal di lambung itu sungguh konyol dan tak perlu."

"Apa maksud anda, Inspektur?"

"Coba kau pikirkan. Shin Elqi berada di Kamar Eksekusi Diri, dengan pintu terkunci dan ada revolver di tangan kirinya, di bagian kiri tengkoraknya ada lubang, lalu ada bukti bahwa peluru yang bersarang di dalam otaknya adalah dari revolver di tangan kirinya. Itu semua adalah bukti bunuh diri," Edario menegakkan duduknya, merasa kesal dengan apa yang akan dikatakannya sekarang. "Kemudian ada bukti lain, yaitu luka bakar di telapak tangan dan kepala satu jam setelah kematiannya, juga ada telepon darinya pada polisi dan jurnal yang berada di lambung itu. Ketiganya adalah bukti bahwa Shin Elqi dibunuh, tetapi ketiganya berbeda jenis."

"Berbeda jenis?" Mayor Senn mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan arah pembicaraan Edario.

"Coba kau jawab. Apa alasan pelaku membakar telapak tangan dan kepala korban?"

"Untuk mengacaukan dan memperlambat identifikasi."

"Juga untuk menjauhkan jarak pelaku dari seorang detektif. Tetapi bukti kedua, panggilan telepon itu malah memperpendek jaraknya."

"Lalu," Mayor Senn mulai bisa mengikuti pikiran Edario. "Jurnal dalam lambung itu semakin memperpendek jarak itu."

"Awalnya begitu, tetapi sebenarnya malah menjauhkan jaraknya, karena jurnal itu berisi petunjuk palsu. Ini membuktikan bahwa memang ada seseorang yang menantang kita."



***

13:13
Tempat Kejadian Perkara

Edario kembali ke tempat kejadian. Kamar itu sudah bersih, meskipun masih ada bekas-bekas mayat yang bersandar pada dinding. Dengan berdiri sambil melihat bekas itu, Edario mengulangi semua informasi di dalam pikirannya, mencoba mencari fakta atau bukti yang luput darinya.

Seorang pemuda tak dikenal yang mengklaim dirinya bernama Shin Elqi ditemukan terbunuh di dalam kamarnya, unit 4 lantai 9 apartemen Melati Putih. Penemuan itu terjadi sekitar jam 4 lewat, saat ada panggilan masuk yang mengatakan dirinya akan bunuh diri.

Edario kemudian duduk di tepi ranjang, matanya tidak lepas dari dinding tempat mayat itu bersandar. Ada dua keadaan dan bukti yang bertentangan sehingga kematiannya sulit ditentukan apakah bunuh diri atau dibunuh.

Kemudian Edario memikirkan hal lainnya, yaitu persamaannya. Orang yang meninggal itu bernama Shin Elqi, tidak diketahui siapa dia sebenarnya. Mengenal Dayeuh serta Shinichi di komunitas online dan akan bertemu untuk pertama kalinya dengan mereka hari ini. Baik ini akan menuju ke kasus bunuh diri atau pun pembunuhan, kasus ini akan sama-sama sulit untuk dipecahkan.

Tiba-tiba Edario berdiri, menyadari sesuatu. "Tujuan pelaku hanya ingin menciptakan sebuah kasus yang sulit untuk dipecahkan, atau bahkan tidak mungkin dipecahkan."

Edario segera mengambil ponselnya dan menghubungi Mayor Senn. Dia tahu meski hal yang diketahuinya ini tidak akan mengubahkan keadaan, tetapi setidaknya dia tahu letak kasus ini, yaitu berada di tengah samudera ketidakpastian, tinggal menunggu waktu saja kemana kasus ini akan berlabuh, dan saat itu kebenaran akan terungkap.

Namun sepertinya Mayor Senn tidak bisa menjawab telepon itu, sehingga Edario mengirim pesan suara. "Mayor Senn, kita telah salah. Kita seharusnya tidak fokus di antara bunuh diri atau pembunuhan, tetapi fokus pada kasus yang berada di tengah. Kita hanya harus menunggu ke mana kasus ini akan bergerak, ke arah bunuh diri atau pembunuhan dan saat itu terjadi, kebenaran akan datang sendiri pada kita. Jika kau mendengar pesan ini, cepat hubungi diriku."

Edario menutup telepon itu dan tersenyum. Tidak ada petunjuk bukan berarti tidak ada sama sekali, justru ketiadaan itu sendiri adalah petunjuk. Tidak ada jalan bukan berarti tidak bisa jalan, justru stagnasi itu sendiri adalah sebuah jalan.

"Inspektur Edario."

Edario mendengar namanya dipanggil dari ruang tamu. Dirinya merasa pernah mendengar suara itu, namun dia tidak terlalu ingat.

"Inspektur Edario, anda ada di dalam?"

Edario ingat suara itu. Suara yang terdengar cerdas itu milik Shinichi, dan benar saja dia muncul di pintu kamar.

"Ah, anda benar berada di sini. Saya ke kantor anda tetapi anda tidak berada di sana, lalu seseorang mengatakan anda berada di sini."

"Ada apa mencari saya hingga ke sini?"

"Saya merasa simpati pada Shin Elqi. Meski kami tidak saling mengenal di dunia nyata, tetapi dia cukup disegani di komunitas. Aku ingin membantu mencari tahu siapa pelaku yang membunuhnya."

"Oh," Edario meneliti wajah Shinichi, mencari kebenaran dari kata-katanya. "Kalau begitu, anda harus tahu keseluruhan kasusnya. Aku lihat anda cukup cerdas."

"Saya pernah membantu memecahkan beberapa kasus pembunuhan yang ditangani polisi," kata Shinichi dengan tersenyum bangga.

Lalu Edario memberitahu semua informasi tentang kasus itu, kecuali yang baru didapatnya tadi.

"Sangat menarik," kata Shinichi dengan meletakkan jarinya di dagu, berpikir.

Sementara itu, Edario berjalan ke dekat jendela dan menyandarkan tubuhnya hingga beberapa sinar matahari terhalang oleh punggungnya.

"Menurut Inspektur, ini bunuh diri atau pembunuhan?"

"Saya masih tidak bisa memutuskannya."

"Oh, begitu. Menurutku ini jelas-jelas pembunuhan."

"Bagaimana anda menyimpulkannya?"

"Kita rasionalkan alasan dari bukti dan keadaan korban. Jika ini pembunuhan, sangat rasional membuatnya seperti bunuh diri, tetapi jika ini bunuh diri, sangat irasional membuatnya seperti pembunuhan."

"Bagaimana jika Shin Elqi bunuh diri dan menampakkannya sebagai kasus pembunuhan, dengan tujuan menciptakan kasus yang tak akan pernah bisa terpecahkan?"

"Oh, seperti tujuan Beyond Birthday dalam novel Death Note, Another Note?" Shinichi tersenyum lebar. "Tetapi Shin Elqi tidak sepintar Beyond Birthday, dan pelaku sebenarnya melakukan beberapa kesalahan."

Edario tersenyum lebar. "Coba terangkan?"

"Beberapa bukti bunuh diri sebenarnya bisa menjadi bukti pembunuhan. Seperti yang aku bilang tadi, merasionalkan bukti. Pertama pintu yang terkunci, siapa pun bisa melakukannya dengan kunci duplikat, apalagi kunci unit ini model lama. Maka, keadaan pintu terkunci yang awalnya sebagai bukti bunuh diri, bisa menjadi bukti pembunuhan."

"Itu benar."

"Lalu bukti kedua, Shin Elqi menembak kepalanya sendiri. Bukti ini pun bisa jadi bukti pembunuhan, karena pelaku bisa saja membuat Shin Elqi tak berdaya dan membuatnya memegang pistol dan menembaknya. Residu dari tembakan itu akan menempel di tubuh Shin Elqi dan membuatnya tampak bunuh diri, tetapi sebenarnya pelakulah yang melakukannya," Shinichi melihat ke arah Edario, ingin melihat reaksi inspektur itu. "Sementara tiga bukti lain, yaitu luka bakar, panggilan telepon ke kepolisian serta jurnal dalam lambung itu, tidak bisa menjadi bukti bunuh diri. Ini murni pembunuhan, dan tidak ada unsur bunuh diri sama sekali."

Edario terdiam, matanya menatap wajah Shinichi yang penuh kepercayaan diri. Lalu dia berdiri tegak bersamaan dengan suara perempuan yang datang dari ruang tamu.

"Inspektur, anda ada di dalam?"

Edario bernafas pelan seraya mendengar langkah kaki yang luwes dari ruang tamu itu mendekat. Jantungnya berpacu semakin cepat, nadi di kepalanya berdenyut-denyut tegang dan tangannya berkeringat. Sudah lama dirinya tidak merasa seperti itu saat menangani sebuah kasus.

"Inspektur," suara lembut itu kembali terdengar bersamaan dengan seorang gadis yang muncul dari pintu.

"Oh, Nona...," Edario bahkan tidak bisa melanjutkan kata-kata. "Apa yang membuat anda datang ke sini?"

Dayeuh melihat ke arah Shinichi, ekspresinya menunjukkan bahwa dia tidak kenal pria itu. Lalu kembali ke Edario. "Saya ingin mengatakan sesuatu. Ini mengenai yang kemarin, saya berbohong tentang sesuatu."

"Begitu," Edario mulai bisa mengendalikan dirinya lagi. "Tetapi sepertinya hal itu tak perlu lagi," katanya lalu dengan cepat mengambil senjata yang berada di pinggangnya dan mengarahkannya ke salah satu orang yang berada di depannya.

"Menyerahlah pembunuh, kau sudah kalah!"

Read previous post:  
51
points
(1753 words) posted by Shin Elqi 7 years 25 weeks ago
72.8571
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | misteri | d.a.y.e.u.h. | detektif | kasus | shin elqi | shinichi
Read next post:  
80

aku bukan ahlinya soal cerita misteri, jadi gak mau komentar banyak
aku suka pembawaan ceritamu yang ingin menjelaskan banyak hal-hal ganjil dulu sebelum memberitahu pelakunya di part berikutnya :D
oke, mau lanjut dulu, penasaran sama pelakunya
(btw, aku baru tau kalau dayeuh itu cewek, my whole life is lie)

100

nggak jauh berbeda dengan bagian pertama. tapi dari sini saya bisa simpulkan bahwa kamunya nggak bahas trik. di bagian awal dirimu memulai cerita ini dengan apik, runut yang enak diikuti. sebagai mantan pembaca dan pengumpul seri komik Detektif Conan, saya akan menganggap cerita ini gagal. namun ketika saya sebagai fans dan pembaca Sherlock Holmes, saya akan salut dengan cara kamu membangun misteri dalam cerita ini dengan mengandalkan narasi dan dialog.

Conan melulu bicara trik dan motif pelaku, yang lama-lama membuat saya bosan. Kalau Holmes beda. Doyle lebih mendasar lagi mengemas misteri, yang kadangkala cuma butuh nalar dan fakta kecil, unik (yang pembaca belum tahu) yang membongkar kasus-kasus yang dia hadapi. seperti itu halnya yang terjadi di sini--atau setidaknya yang ingin kamu capai.

Namun, bila saya berkompeten mengomentari tulisan ini, saya akan bilang bahwa kamu terkesan "memaksa" pembaca untuk ikut dengan pendapat kamu melalui tokoh cerita. Keterlibatan pembaca seakan mustahil. saya malah nggak ingin campur tangan di sini dan membiarkan dirimu berhipotesis sendirian dalam tokoh. menurut saya itu nggak selamanya bagus.

Berikutnya, perkembangan kasus ini terlalu cepat, yang membuat pembaca harus mengikuti. Di situlah maksud saya, kami (pembaca) seolah nggak usah ikut campur. saya nggak akan komentar mengenai motif pelaku, pendapat saya soal korban, dan bagaimana penyelidikan polisi. saya pikir kamu lebih tahu dan punya banyak bahan untuk itu. maklum, saya sudah lama nggak membaca cerita-cerita detektif.

Saya pikir itu saja untuk bagian ini. saya lanjut ke bagian akhir.

90

Saya suka cerita detektif, sherlock holmes, hercule poirot dan cerita-cerita agatha christy yang lainnya termasuk juga komik2 Conan dan kindaichi. Tapi tidak pernah bisa bikin cerita detektif.
-
Bagian pertama itu agak sulit diikuti tapi yang kedua ini udah bisa diikuti.
-
ada apa nih Dayeuh tiba-tiba nodong dan nodong siapa dia?
Penasaran untuk episode selanjutnya.
-
Haha... pas tentang pekerjaan Dayeuh... dia harus bilang aamiin biar jadi beneran :D
-
Btw, tidak ngeri membayangkan diri sendiri menjadi mayat? Yang terbakar pula :p

saya juga suka mereka dan mengoleksinya, kecuali Conan dan Kindaichi...kalau Conan baca online...
Apakah anda pernah nonton Anime Death Note? Yang logika berpikirnya tak akan pernah termaafkan?

Bagian pertama memang terasa kurang, maaf, saya akan memperbaikinya...

Nodong?

amin...

Ah, itu sudah sangat biasa, kehidupan saya saja lebih mengeringkan dari mayat yang terbakar...hehehe

Yaelah... maafkan saya salah. Kirain itu kalimat dan gerakannya Dayeuh yang baru datang :p
-
katanya lalu dengan cepat mengambil senjata yang berada di pinggangnya dan mengarahkannya ke salah satu orang yang berada di depannya.

kalimat itu setelah dialog Edario, kan?
atau mungkin kalimat terakhirnya yang ambigu?
Saya akan memperbaikinya...

Betul-betul. Setelah saya baca ulang memang kalimat Edario. Kayaknya saya aja yang miss membacanya.
-
Oh ya, sy blm pernah nonton death note. Logika berpikir yang tidak termaafkan yah... hm tidak terbayang...

memang tidak terbayangkan....pokoknya...rasakan sendirilah ketegangannya....

80

Saya masih syok karena menemukan cerita yg penulisnya sendiri menjadi tokoh yg dibunuh.

saya juga syok anda jadi buronan...hehehe

90

Uwah jadi siapa pembunuhnya? Cerita ini akan bersambung sampai berapa panjang? >_<
Oya Elqi, mongomong aku mau dong pekerjaan seperti yang kau berikan padaku dl cerita ini hehehe... *itu "flashdics" apa "flashdisk"
Kalau aja kamu ga keburu mati, aku ingin menambah referensi musikmu, barangkali kamu belum kenal Tame Impala dan Unknown Mortal Orchestra, mungkin kamu tertarik dg beberapa lagu mereka :(
Sekali lagi maaf aku angkat tangan untuk cerita detektif (dan banyak genre lain dg penalaran tinggi waha), tapi selama aku masih buka situs ini insya Allah aku bakal mengikuti.

pembunuhnya adalah pelaku, ceritanya direncanakan tiga bagian...
mau kerja seperti itu, kirim dong surat lamarannya....hehehe
oh iya, ada typo

akan aku coba dengerin, dari namanya sepertinya cukup menarik..
tapi jangan kecewa endingnya ya...