Chris - Bagai Semut di Seberang Lautan


cerpen ini merupakan bentuk lain dari cerpen saya yang sudah pernah dipublikasikan di situs ini juga.



udi mengangguk-anggukkan kepala sambil memejamkan mata. Sementara kedua tangannya terlipat di depan dada dan salah satu kakinya bertumpu pada kaki yang lain. Sesekali ia berdehem pelan. Satu menit.

Membuka mata, Budi melihat raut wajah tiga temannya sedang menunggu ia mengucapkan sesuatu. Ia tahu. Satu kali helaan napas, setelah meneguk sedikit minuman dari botol di hadapannya, Budi lalu berkata: “Dia palsu.”

Plak! “Apa kubilang!” Heru menampar meja. “Budi setuju. Yo, kau sudah ditipu!” katanya hampir berteriak.

“Tapi alasannya apa?” Tyo berkernyit tak rela. Tidak mungkin aku tertipu dengan puisi! “Apa buktinya?”

“Kau punya, Bud?” Jonas ikut bersuara.

Budi menggeleng: “Nggak ada. Cuma dugaan. Lagian, aku belum sampai ke sana. Butuh waktu, cuy!”

“Jadi kau nggak bisa bilang palsu begitu, dong!” protes Tyo.

“Kau gimana sih, Bud?” Heru ikut-ikutan protes. “Hipotesis tanpa bukti mengacaukan ilmu detektif. Dengan mengemukakan hipotesis lebih dahulu ketimbang buk—”

“Aku tahu… aku tahu…”

“Lha terus?” Heru mengangkat kedua bahunya sambil mendelik.

Budi menarik kursi hingga ia bisa menumpukan sikunya di atas meja. Satu per satu ia memandang wajah temannya itu. Jonas di sebelah kiri. Heru di sebelah kanan. Kemudian ia berhenti pada Tyo yang duduk di hadapannya: si pemohon kasus. “Begini. Hipotesisku sederhana: bila orang yang mengaku bernama Nanda ini orang sungguhan, berarti dia robot. Artinya, sungguhan atau bukan, dia sudah pasti palsu.”

Kerut di kening Tyo semakin jelas terlihat. Sementara Heru melongo mendengar kata-kata Budi, sama bingungnya dengan Tyo. Jonas tersenyum menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelus-elus janggut tipisnya. Budi menunggu reaksi mereka. Hening.

“Jadi, Nanda bukan manusia?” Heru mencoba memahami.

“Goblok,” tukas Jonas remeh. “Mana mungkin Nanda bukan manusia, Ru. Ia sedang berpura-pura jadi orang lain. Dan kita nggak tahu apa Nanda itu nama asli atau nama yang sengaja ia pilih sebagai identitasnya. Aku sendiri ragu itu nama asli.”

“Jadi siapa dia yang sebenarnya?” tanya Tyo. Tampaknya mereka memandang kecil kegundahanku.

Budi menyisir ke belakang rambutnya yang gondrong dengan jari tangan. Lalu bersandar pada sandaran kursi, katanya: “Aku nggak tahu, Tyo.”

Klien mereka kecewa.

“Yang bisa aku beritahu adalah sosok Nanda ini begitu terorganisir, baik tulisan-tulisan yang ia posting juga komentar-komentarnya pada tulisan lain.” Budi melepaskan pandangannya ke jalan masuk menuju kantin tempat ia dan temannya berkumpul. Ada beberapa mahasiswa berjalan tergesa-gesa. Beberapa yang lain, mahasiswi, terlihat berjalan pelan sambil mengobrol. Langkah kaki mereka hampir bersamaan. Budi menoleh pada Tyo. “Ia kaku tapi nggak tampak seperti orang sunguh-sungguh kaku. Kaku yang dibuat-buat. Ada beberapa contoh.” Budi mengambil beberapa lembar kertas dari tasnya.

Jonas mempersiapkan meja. “Mbak, tolong dong!” Ia berseru. Sesaat kemudian pelayan kantin datang dan membawa pergi gelas-gelas minuman dan piring-piring makanan yang sudah kosong dari meja. "Yang ini jangan," kata Jonas menunjuk botol minumannya sendiri.

Di tangannya semacam makalah, diklip. Beberapa lembarannya terlipat berantakan. Budi meletakkan hasil investigasinya di atas meja dan mencabut tutup pulpen. “Komentarnya hampir sama. Lihat ini!” tunjuknya dan melingkari. “Bagus, nice, bait yang indah, keren, menohok banget, rimanya enak dibaca, simple and sweet, dan komentar lainnya yang kurang lebih hanya memuji singkat begitu.”

“Memang begitu! “ Tyo berseru. “Bukan cuma Nanda, kebanyakan member yang aktif menulis puisi ya berkomentar seperti itu, Bud.”

Heru mengangguk-angguk tanda mengerti kesimpulan Budi dan penjelasan Tyo.

“Tapi kau nggak berkomentar begitu,” kata Budi lagi.

“Ya, nggak semua juga. Beberapa kali aku juga begitu kok. Kaku apanya?”

“Aneh saja ada yang hanya berkomentar begitu sementara ia bilang ‘mohon kritik dan sarannya’ di setiap tulisannya,” balas Budi ketus. Heru berkernyit.

“Kau nggak fokus, Bud. Tyo datang minta kauselidiki siapa Nanda, bukan bagaimana anehnya member situs itu dalam mengomentari puisi,” Jonas menukas.

“Jadi, Nanda ini kaku karena mengomentari seperti kebanyakan member lain?” tanya Heru.

Budi dan Jonas sama-sama menghela napas. Lalu Budi kembali berkata, “Lagian ia kaku karena hanya menulis puisi dengan tema cinta.”

Itu membuat Jonas menggaruk-garuk rambut di atas telinganya. “Ayolah, Bud. Itu wajar kan? Ceritanya, dia sedang mendekati Tyo. Ya, terang aja dia posting puisi cinta untuknya. Masa iya, Nanda itu, malah ngasih puisi tentang kemiskinan?”

Heru tertawa kecil.

“Tapi puisi kan bukan cuma tentang cinta,” Budi membela diri, lagi.

“Kupikir ini buang-buang waktu, deh. Alih-alih dapat jawaban, kami malah kaukuliahi cara mengomentari dan apa itu puisi. Sementara itu Tyo akan terus galau sama siapa sebenarnya Nanda itu.”

Perkataan Jonas membuat Budi dan Heru serentak melirik ke arah Tyo. Hening. “Aku nggak apa-apa kok,” kata Tyo tersenyum.

Heru nyengir: “Ngomong-ngomong, dia udah bilang apa aja samamu?” Ia menggerak-gerakkan alisnya.

Tyo memukul bahunya. Heru tak apa-apa dan malah melanjutkan, “Kaulah bulanku. Kaulah bintangku. Gara-gara kau banyak hutangku. Hahahaha.” Serentak mereka bertiga tertawa sementara Tyo berusaha menutupi rasa malu. Beberapa baris puisi Nanda untuknya terbayang seketika.



Matamu cermin, memerangkap aku dalam bingkai
Terpukau, kulihat ada banyak bekas jahitan
: di sekujur tubuhku

“Jadi, gimana? Kesimpulan?” tanya Jonas setelah derai tawa mereka surut.

“Untuk Tyo, aku nggak bisa bantu lebih dari ini. Kau pasti kecewa. Detektif apa yang katanya bisa memecahkan kasus pembunuhan rumit tapi kasus identitas begini malah gagal fokus?” Budi melirik Jonas yang sedang mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. “Tapi jika boleh menyarankan, jangan terlalu jatuh dalam hubungan dunia maya. Sedikit renungan; mengapa kau yang cantik begini nggak bisa melihat satu saja dari tiga laki-laki kesepian di hadapanmu sekarang, yang mana kau malah galau karena entah siapapun itu—nggak jelas—yang memberikanmu beberapa puisi jelek di dunia maya, yang seenaknya saja minta kritik dan saran sementara dia sendiri nggak memberikan itu ketika mengomentari tulisan member lain?” Kata-kata itu membuat Tyo membutuhkan beberapa saat untuk tak berkedip. Ia tampak bingung untuk menanggapi.

Budi melanjutkan. “Nanda, aku nggak tahu siapa dia sebenarnya. Pendapatku: dia nggak adil. Ketika dia bilang minta kritik dan saran begitu, sewajarnya ia juga memberikan hal yang sama. Sejauh yang aku selidiki, dia nggak pernah memulainya selain itu tadi: nice, bagus, sweet, keren, dan lain-lain, dan lain-lain. Namun ini cuma pendapatku, ya. Hehehe. Kalau saran, daripada dengannya mending kau samaku. Hahahaha. Atau ajakin ia ketemuan, meski itu sudah pernah kau coba juga. Kalau katanya dia mencintaimu, kupikir nggak apa-apa dong kalo dia beli tiket pesawat dan terbang menemuimu. Tapi nyatanya dia selalu menolak kan? Jadi kupikir dia itu palsu atau nggak pernah serius dengan puisi-puisinya buatmu. Lagipula, buat apa susah-susah mencari semut di seberang lautan, jika ada...”

"Gajah di pelupuk mata?" potong Jonas dengan nada meledek.

Budi terkekeh. "Ya sudahlah. Aku cuma bisa menyampaikan hal itu, Yo. Sisanya terserah padamu," lanjutnya menutup laporan.

“Oke. Makasih banyak, Bud. Buat kalian juga. Aku mau pamit dulu. Setengah jam lagi ada kuliah. Aku harus nge-print makalah dulu.” Tyo langsung pamit. Tiga sekawan hanya memperhatikannya berjalan keluar kantin. Perempuan itu bergegas, menyusuri jalan menuju lapangan parkir yang tak jauh dari situ. Berlatarkan genteng merah tua gedung fakultas, langit mulai menghitam.

Jonas sedang berusaha dengan laptopnya. “Kau nggak kasihan?” tanya Budi padanya. Heru berbalik memandang mereka saat Jonas menggeleng pelan. “Parah!” komentar Budi.

Jonas menghela napas. “Kau tenang sajalah.” Ia berhasil mendapatkan akses ke jaringan wi-fi.

“Ada apa rupanya?” celetuk Heru penasaran. Menyeruak di antara dua temannya, ia melihat Jonas mengetikkan sesuatu di laman sebuah situs.




==000==

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
90

aku datang ke cerita ini karna saran dayeuh di cerpenku yang bertema sama
masalah ini ada aja sampe satu tahun kemudian berarti
huhu
btw, aku suka cara kak shinichi mengkritik masalah spam ini, karena bikin kita tetep menikmati ceritanya :D
cocok deh jadi peri Kemudian
*referensi dari cerpen sendiri
http://www.kemudian.com/node/277348

70

Tyo itu cewek ya? Aku yg gagal fokus apa gimana -___-

iya, cewek.
kamunya gagal fokus sepertinya
ahak hak hak :p

40

bagus ceritanya..

90

.

100

kak shinichi aku jadi tersinggung deh yang kaya robot selalu komen singkat hi hi hi hi sumpah pedes banget kak kaya cabe rawit nih cerpen kakak yg satu ini...ampuuuuuuun!!!

jangan tersinggung ah
kan bukan sinetron itu #gagalfokus :p
lagian, ini cerita. pesan atau apapun itu nomor dua.
ahak hak hak
kip nulis

gk trsinggung kak cuma merasa diriku sperti itu hahahahaaa

oh, syukurlah kalo nggak tersinggung. tapi merasa seperti itu yang mana dulu niy? yang koment seperti "itu" atau yang member yang seperti "itu"? ahak hak hak :p

yang komen sprti "itu" aku gk ikut member kok... sadiiis huhuhu

hwoo... yg bener niy? ahak hak hak. kayak saya nggak tau aja deh. btw, nggak ikut member apaan kamu?

gak ikut member nnton piala dunia kak hahaha orang ngmong blum slsai...

lain kali komennya dipersingkat aja jadi "sundul gan" :D

ahak hak hak.
itu sangat membantu, tapi di thread tips menulis di forum aja :D lumayan biar bisa kliatan gitu.

70

oh ini cerita tentang menyelidiki member lain di web ini ya? halah.. kirain apa. baiklah :D

jgn lupa.. ahak.. ahak..

pinter :p
ahak hak hak
kip nulis

100

XD
keketawaan baca ini.
nyelekit, aw aw aw...
kalau ketemu kucubit kau bang.
*jangan2 aku juga robot karena cuman bisa komen gini waahaha :P

ahak hak hak :p
nggak boleh nyubit kalo ketemu.
traktir, iya. hihihihi.
tentu aja ada bedanya koment yg tertarik betul dengan cerita, ketimbang koment apa adanya. eh, btw, bukan itu poin cerpen ini. ahak hak hak. malah saya tanggapin pulak. koplak dah :D

hahaha iya deh entar malah melenceng jadi situs pencari gebetan lagi kayak di cerita ini #ehehapasih
oya masnya, apa gara2 tadi saya bilang di sini kalau jangan2 saya robot makanya pas mau komen di tempatnya mas reborn malah disangka spam? huhu. udah ke mollom2 itu sih, tapi habis itu dicoba komen lagi berkali2 tetep aja nih. (sori oot)

eh? mbaknya disangka spam? mollom2 maksudnya apa? #binun. gpp oot, asal berkualitas. ahak hak hak :p

lha di bawah kotak kalau kita mau komen itu bukannya ada tulisan: "By submitting this form, you accept the Mollom privacy policy."
awalnya saya mau masukin link ke cerita lain pakai HTML Editor. sekalian deh pakai format miringin kata karena saya juga teringat judul film. tapi begitu disimpan malah muncul begini: "Your submission has triggered the spam filter and will not be accepted. If you feel this is in error, please report that you are blocked."
link di situ saya klik dan sampailah saya di situsnya Mollom buat konfirmasi e-mail atau apa gitu. tapi setelahnya saya coba komen lagi berkali2 tetep ga bisa, bahkan ketika HTML Editor-nya ga jadi saya pakai.
padahal biasanya kalau saya coba masukin link di komen maupun tambah format lain ga ada masalah. (apa karena belakangan ini saya banyak komen? hehe.)
begitulah ceritanya, pak, moga termasuk oot yang berkualitas :D (mongomong harusnya saya menyampaikan ini ke mana ya?)

wah! saya baru nemu ini kejadian. biasanya nggak ada masalah kok insert link, apalagi kalo melalui kolom komentar. tapi saya emang pake standar Filtered HTML gitu siy, bukan HTML Editor. pada dasarnya mode itu masih PR besar siy buat Kekom. ehehehe. tapi rasanya itu butuh waktu deh, mbaknya. makanya mbaknya belum bisa coba. atau linknya itu yg bermasalah dianggap Kekom -__-"
mungkin benar adanya karena mbaknya kebanyakan koment. ahak hak hak. becanda :D kita tunggu aja dulu 24 jam. setelahnya baru deh mbaknya nyoba insert link lagi. tapi coba pake Filtered HTML dulu. dan saya pikir ini udah OOT berkualitas deh. hihihi. soal sampaikan itu, boleh dibikinin thread di forum. ada kan roomnya. biar sekalian bisa dilihat yang lain gitu kalo semisal mengalami hal yang sama.

kalo saya singkirin link-nya ternyata bisa... o_o

masama. saya udah nyoba barusan. dan berhasil. dasar Kekom kumat. soalnya tadi sempat maintenance siy saya liat. mungkin gegara itu. ahak hak hak. apes deh mbaknya :p
nyalin huruf? oh, semacam chapca gitu ya? waduh! cuman dua kemungkinannya, mbak: mbaknya dianggap belum verifikasi (keanggotaannya) satu lagi ya, link itu dari situs yang dideteksi sebagai "masalah" buat Kekom. yg pertama, rasanya nggak mungkin. 3 tahun lebih gitu jugak. ahak hak hak. yg kedua? uummm... kayaknya saya nggak pernah dikasiy tau kalo ada daftar situs yang dianggap begitu oleh Kekom ._.

disuruh chapca(y?)-nya ga selalu sih (tapi pas mau bales ini komen diminta deng :P). link yang mau saya masukin itu link dari kekom juga kok (cerita di halaman 8 tab 35-50 pts). waktu saya coba lagi masukin link-nya aja, tetep ga bisa. ya sudah deh kapan2 lagi dicoba, hehe. maaf ya om sudah mengganggu. berasa habis gedor2 rumah tetangga tengah malam cuman gara2 salah liat penampakan hehehe.

hmmm... coba mbaknya sertakan di mana mbaknya nyoba koment masukin link begitu. biar saya uji coba jugak pake akun saya dan beberapa akun lain. saya jadi penasaran soalnya. mumpung belum ngantuk :D btw, saya juga akan testing insert link dengan akun lain. takutnya, ada pengecualian pulak dengan akun yg saya gunakan sekarang. pasalnya saya nggak pernah ngalamin yg begitu. btw, soal ini nggak mengganggu kok. udah tugas saya. ehehehehe. sabar ya, mbaknya :D orang sabar, katanya nggak tambah cantik lho. ahak hak hak

di cerpennya mas reborn itu (masih nongol di halaman depan stories). eh tapi saya iseng masukin link ke komentar ini tetep ke-blocked juga, jadi saya hapus lagi link-nya.
iya sabar kok, kan udah cantik jadi ga tambah juga ga apa2, daripada entar masnya mbayangin yang enggak2 :P

ahak hak hak. like this. okelah. ntar saya coba yak :D dimohonkan tetap cantik (walau nggak nambah) saat menunggu. ahak hak hak :p

mau dicoba pake akunnya "nanda" itu ya? wahahahaha.... #kabuuuuuuur

ahak hak hak.
nggak ada ya akun itu.
koplak dah =))