Pembunuhan Shin Elqi (bagian akhir)

Bandung, 1 Januari 2014 10:09

Gadis itu menggeliat nikmat seraya meregangkan otot-ototnya yang baru saja mengalami relaksasi mimpi, tidur pagi. Tepatnya tidur malam, karena gadis itu selalu berjaga semalaman, menatap layar laptopnya yang selalu menampilkan deretan kata-kata, baik yang sudah tertatap rapi, atau pun yang masih dibuatnya sendiri, lalu tidur saat mentari terbit untuk mengganti tidur malamnya.

Gadis itu ingin kembali tidur setelah kesadaran menyambanginya, namun instingnya mengatakan dia harus menyantap sesuatu. Dia bangun dengan malas, mencari sesuatu yang dapat dimakannya. Matanya masih belum terbuka benar saat menemukan sebungkus biskuit di samping laptopnya yang berada di atas meja belajar, sisa dari makanan yang menemani malam tadi, saat dirinya bercengkerama dengan kata-kata yang berada di kepalanya.

Gadis itu akhirnya turun dengan malas dari tempat tidur dan melangkah ke meja belajar , namun entah kenapa dia duduk dan membuka laptopnya terlebih dahulu. Seraya mengambil satu potong biskuit dengan tangan kanan dan menggigitnya, tangan kirinya membuka akun imelnya. Ada tiga imel masuk, dua imel sampah dan yang terakhir dari teman kosnya, yang malam kemarin membuatnya merasa dikhianati.

Gadis itu benar-benar tidak percaya, teman satu kosnya, yang hampir satu tahun ini berbagi kamar, perasaan, pakaian, keluh-kesah, bahkan rahasia-rahasia yang terdalam, tega mengkhianati dirinya.

Gadis itu menggeleng pelan, matanya mulai absah. Dia teringat kembali malam itu, ketika dirinya sudah benar-benar lelah bekerja dan ingin menikmati liburannya, saat pulang dan masuk kamar, dirinya disuguhkan sebuah adegan fornikasi yang dilakukan oleh temannya.

Gadis itu menutup laptopnya dan ingin kembali ke tempat tidur, namun dia masih duduk, merasakan impuls untuk membuka imel itu. Setelah beberapa menit menimbang, akhirnya dia memutuskan untuk membuka imel itu. Setidaknya, dirinya harus membaca meski tanpa ada niatan untuk membalas.

Namun sebelum gadis itu membuka imel di laptopnya, ada suara ketukan di pintu kamarnya. Tak beberapa lama, seorang gadis lain berambut panjang muncul dari pintu itu, dengan senyuman meminta maaf sekaligus rindu.

Gadis di depan laptop itu terkejut, lalu tersenyum sebelum kembali ke imelnya, membukanya dan membacanya.

***

Jakarta, 1 Januari 2014 14:44

"Ada apa ini Inspektur, kenapa anda menodongkan senjata padaku?" tanya Shinichi, heran.

"Bukankah kau sudah tahu alasannya?" Edario mengarahkan pistolnya tepat di kepala Shinichi. "Menyerahlah! Jika kau berusaha kabur, aku tidak segan untuk melubangi kepalamu seperti yang kau lakukan pada korbanmu."

Sementara itu, Dayeuh hanya bisa terpaku di tempatnya setelah keterkejutannya memudar. Dia melihat ke arah Shinichi yang perlahan mengangkat tangan, lalu ke arah Edario yang terlihat tidak ragu untuk membunuh pelaku di depannya.

"Inspektur," ujar Shinichi dengan nada santai. "Sebaiknya kau punya alasan yang logis kenapa menuduhku sebagai pelaku."

"Tentu saja aku punya alasan yang logis, sangat logis. Kau adalah orang yang membunuh Shin Elqi," Edario menggeleng pelan seraya tersenyum kecil. "Ah, tidak, Shin Elqi lah pelakunya, bukan korban.."

Wajah Shinichi yang tenang, langsung berubah kaku. "Shin Elqi?"

"Shin Elqi membeli unit ini lalu memperlihatkan dirinya naik ke lantai sembilan pada tanggal dua puluh delapan desember tanpa memperlihatkan wajahnya. Setelah itu dia pergi tanpa diketahui penghuni lain. Pada tanggal tiga puluh satu, dia membawa seseorang-kemungkinan besar gelandangan yang jarang menarik perhatian jika menghilang-tanpa diketahui ke unit empat lantai sembilan. Lalu membunuhnya dengan mengatur TKP sedemikian rupa sehingga terlihat seperti bunuh diri, dan menjadikannya sebagai dirinya, menyematkan nama Shin Elqi pada korbannya."

"Tunggu Inspektur," sela Shinichi, perlahan dia menurunkan tangannya saat bicara lagi. "Aku bukan Shin Elqi, aku Shinichi. Jikalau pun aku adalah Shin Elqi, aku punya alibi saat kejadian."

"Benar, tetapi yang mempunyai alibi itu Shinichi, bukan Shin Elqi."

Shinichi tertawa. "Aku rasa, anda telah menjadi gila karena kasus ini."

"Tidak, biar aku lanjutkan penjelasanku," Edario menelan ludah sebelum berbicara lagi. "Shin Elqi menunggu satu jam setelah kematian korban, lalu membakar kedua telapak tangan dan wajahnya. Pada pukul empat lewat empat puluh empat sore, dia menelepon kantor polisi mengatakan dirinya akan bunuh diri agar korbannya ditemukan. Dengan keadaan korban serta reputasi unit ini, polisi cenderung akan menganggapnya sebagai bunuh diri, tetapi dengan luka bakar serta telepon itu, polisi akan mempertimbangkannya sebagai pembunuhan. Dengan fakta telepon yang bisa di set, serta luka bakar yang masih belum diketahui terjadi satu jam setelah pembunuhan. Polisi akan menganggap kedua bukti yang menentang kasus itu sebagai bunuh diri adalah usaha untuk menjadikan kasus itu tak terpecahkan."

Wajah Shinichi masih datar, sementara Dayeuh berusaha memahami kata-kata Edario dengan baik.

"Lalu, saat kasus itu telah ditetapkan sebagai bunuh diri, fakta luka bakar terjadi setelah satu jam kematian dan jurnal dalam botol ditemukan di lambung kembali mengarahkan kasus itu sebagai pembunuhan. Saat menelusuri dua nama dalam jurnal, polisi akan menemui jalan buntu, karena keduanya mempunyai alibi dan belum pernah sekali pun bertemu dengan korban, mau pun pelaku dalam hal ini adalah Shin Elqi. Polisi akan kembali kebingungan untuk memutuskan apakah kasus ini bunuh diri atau pembunuhan."

"Jadi, pelakunya adalah Shin Elqi dan korbannya adalah gelandangan yang dikondisikan sebagai Shin Elqi?" Shinichi menganggukkan kepala. "Dengan begitu saat polisi kebingungan, mereka terpaksa akan memutuskan kasus itu sebagai bunuh diri, karena hasil penyelidikan terakhir lebih mengarah ke arah itu. Namun polisi masih menaruh kepercayaan pada pembunuhan, mempercayai pelaku masih berada di luar sana dan menertawai ketidakbecusan polisi. Dengan ini Shin Elqi berhasil menciptakan kasus pembunuhan yang tak terpecahkan dan menggoncang psikologi lembaga kepolisian, terutama bagian penyelidikan," Shinichi merubah pandangannya, dari santai ke tajam menghujam. "Tapi, Inspektur, kenapa kau masih menodongkan senjata padaku."

"Melihat usaha yang dilakukan Shin Elqi sampai sejauh itu, aku pikir dia tidak akan membiarkannya begitu saja."

"Apa maksudmu?"

"Shin Elqi menciptakan kasus yang terombang-ambing di antara bunuh diri dan pembunuhan. Mereka yang menyelidiki kasusnya akan memilih bunuh diri atau pembunuhan sebagai pijakan untuk melihat kasus itu, dan Shin Elqi telah menyiapkan beberapa bukti untuk membuat mereka berpindah-pindah di antara bunuh diri dan pembunuhan, sehingga mereka tidak fokus pada kasus yang sebenarnya berada di tengah. Saat mereka sudah berhenti berpindah, baik berada di bunuh diri atau pembunuhan, mereka akan sadar bahwa kasus itu masih berada di tengah. Saat itu mereka secara perlahan akan mengetahui kebenaran kasus itu. Sebelum itu terjadi, Shin Elqi akan datang dan menghilangkan kemungkinan kasus bunuh diri, dan semakin menguatkan kasus pembunuhan, serta memotong rantai petunjuk dari kebenaran kasus itu."

"Bagaimana dia melakukannya?"

"Dengan menjadi seseorang."

Shinichi terdiam, wajah kakunya menjadi menakutkan saat ujung bibir sebelah kirinya ditarik ke atas.

"Setelah menelepon kepolisian untuk datang ke TKP, Shin Elqi membunuh Shinichi yang selesai mengikuti seminar, lalu dia menyamar menjadi korban keduanya, yaitu Shinichi. Tujuannya, seperti yang telah aku katakan, yaitu menghilangkan kemungkinan kasus bunuh diri, dan semakin menguatkan kasus pembunuhan, serta memotong rantai petunjuk dari kebenaran kasus itu. Seperti yang terjadi saat ini, kau datang dan mengungkapkan fakta yang tidak disadari polisi."

"Lalu, bagaimana caranya memotong rantai petunjuk itu?"

"Setelah kau, Shin Elqi yang menyamar menjadi Shinichi mengatakan bahwa kasus itu adalah kasus pembunuhan. Polisi akan menyelidiki lebih jauh tentang Shinichi, dan akhirnya menemukan bahwa Shinichi adalah orang baik dan pernah beberapa kali membantu kepolisian. Akhirnya polisi percaya pada Shinichi dan dengan bantuannya akan menangkap pelaku pembunuhan itu. Lalu kau, Shin Elqi yang menyamar menjadi Shinichi, akan mengeluarkan jasad Shinichi yang telah kau bunuh. Ketika itu..."

"Ketika itu," sela Shinichi. " Polisi akan benar-benar memutuskan itu adalah kasus pembunuhan, namun tidak ada petunjuk sama sekali. Dayeuh, tidak bersalah, karena dia punya alibi. Shinichi, tidak bersalah karena dia juga punya alibi dan telah membantu kepolisian dalam kasus ini serta menjadi korban ke dua. Lalu Shin Elqi, korban pertama. Tidak ada petunjuk sama sekali, juga tersangka, karena pelakunya dianggap sebagai korban pertama."

"Kau mengakuinya, Shin Elqi?"

Senyum licik itu kembali terlihat di bibir Shinichi atau Shin Elqi. Lalu dengan gerakan cepat dia berusaha menghindar dari jangkauan senjata Edario.

Doorrr!

Edario menembak, satu peluru melesat dengan cepat. Ada darah merah yang terlihat.

Edario masih mengarahkan pistolnya pada Shin Elqi berwajah Shinichi, tetapi dia tidak bisa menembak lagi meski dirinya ingin, karena tangan kiri Shin Elqi melilit leher Dayeuh dan tangan kanannya memegang pistol yang mengarah tepat ke kepala gadis itu.

"Shin Elqi, jangan lakukan hal yang memalukan. Akui kekalahanmu dengan jantan," kata Edario, berusaha membujuk Shin Elqi agar melepas sanderanya.

"Aku masih belum kalah!"

Edario masih mencoba mencari celah untuk menembak Shin Elqi tanpa melukai sandera. Saat musuhnya itu menarik Dayeuh ke luar dari kamar, dia mengikutinya dengan hati-hati. Dia berencana akan melumpuhkan Shin Elqi saat penjahat itu mencoba kabur dari pintu depan, tetapi perkiraannya salah. Shin Elqi membawa Dayeuh ke kamar mandi dan menutup pintunya.

Edario menurunkan senjatanya dan menatap pintu kamar mandi itu, berusaha menerka apa yang terjadi di dalam sana. Tidak mungkin Shin Elqi berusaha kabur dari situ, ini lantai sembilan dan jendela kamar mandi itu sangat kecil. Dia juga tidak bisa membunuh Dayeuh, seseorang yang dapat membantunya kabur dan juga sebagai tameng dari peluru Edario.

Saat pikiran lain muncul di kepala Edario, dia segera menggedor pintu kamar mandi itu. "Nona, jika dia mencoba bunuh diri tolong buka pintunya!"

Terdengar bunyi dentuman di pintu, membuat Edario segera mundur dan mengarahkan senjatanya ke depan. Lalu terdengar bunyi kunci di buka, sesaat kemudian pintu itu pelan-pelan terbuka. Edario mundur selangkah, siaga.

Dari pintu itu muncul rambut panjang, lalu bahu yang telanjang, hingga akhirnya payudara tanpa pakaian dan langsung menubruk Edario hingga terlentang.

Butuh waktu lebih dari lima detik bagi Edario untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Dia segera menyingkirkan tubuh telanjang di atasnya, lalu bangkit dan secepat mungkin mengambil selimut di atas ranjang, kemudian menutupi tubuh telanjang itu. Setelahnya, dia segera mengejar Shin Elqi.

Pintu kamar mandi itu terbuka lebar, membuat Edario segera pergi ke pintu depan. Dia membuka pintu itu dan segera berlari ke tangga setelah melihat tidak ada orang di lorong lantai sembilan itu. Dia berlari seraya melihat ke tangga bawah, tidak ada orang yang terlihat berlari. Dia berhenti di lantai delapan, melihat ke lorong di lantai itu yang kosong. Lalu dia kembali turun tangga, masih tidak ada orang yang terlihat. Dia berhenti di lantai tujuh, lorong di lantai itu pun kosong.

Tiba-tiba ponselnya berdering, dari Mayor Senn.

"Inspektur, apa yang telah terjadi?"

"Apa maksudmu?"

"Aku berada di depan apartemen Melati Putih, dan melihat seseorang melonjat dari atas gedung. Sepertinya dia mati seketika."

Edario menurutkan ponselnya, lalu menyelipkannya ke saku. Lalu berlari ke tempat semula. Dia melihat Dayeuh masih menutupi tubuh telanjang dengan selimut, tubuhnya bergetar karena menangis tertahan. Edario mendekat dan jongkok lalu memeluk gadis yang ketakutan itu.

"Ini pasti berat bagimu, tetapi semua sudah berakhir. Semua..aaakh!"

Rasa rakit segera menjalar di perut Edario, dia mundur beberapa langkah dan akhirnya terjatuh bersada ke tembok. Di perutnya, sudah tertancap pisau.

"Terkejut Inspektur," ujar Dayeuh dengan tersenyum licik. Lalu berdiri tanpa selimut hingga tubuh telangkainya terlihat. Lalu suara Shinichi terdengar, dari mulutnya. "Sudah aku bilang, aku belum kalah."

Tangan Dayeuh mencengkeram lehernya, lalu menariknya hingga kulit di leher itu tertarik sampai ke wajah. Rambut panjangnya pun ikut lepas bersama kulit itu. Kemudian wajah baru terlihat, wajah dengan rambut berantakan yang belum pernah dilihat Edario.

"Kau beruntung, bisa melihat wajah Shin Elqi sebelum kematianmu," kata wajah asing itu dengan suara yang asing pula.

Shin Elqi itu kemudian menarik kulit di dadarnya, hingga payudara yang menggelembung itu tertarik dan berubah menjadi payudara bidang laki-laki. Dia juga melakukan hal yang sama pada kulit di bawah perutnya, merubah setiap ciri betina menjadi jantan.

Sambil memakai celana jeansnya yang diambil dari dalam kamar mandi, Shin Elqi berbicara lagi. Sekarang dengan suara Shinichi. "Kau tahu inspektur, aku bisa meniru suara siapa pun dan menyamar menjadi siapa pun. Analisismu tadi memang benar. Aku telah membunuh seseorang yang aku jadikan diriku sendiri, lalu kemudian membunuh Shinichi sepulang dia dari seminar dan menjadi dirinya,selanjutnya seperti yang kau katakan," Shin Elqi menarik ujung bibir kirinya ke atas. "Tetapi kau pikir aku tidak menyiapkan apa pun ketika ketahuan. Ketika mengetahui bahwa Inspektur Edario Dayrie yang menangani kasusku dan ada keadaan yang tak terduga telah terjadi, aku mengubah sedikit rencanaku, serta menambahkan rencana baru."

Shin Elqi menoleh ke arah pintu kamar, ke jendela yang terbuka. "Aku sempat ragu gadis itu tidak akan mengikuti rencana, tetapi nyatanya dia datang tepat di saat kau menyadari kebenaran kasusku," Shin Elqi kembali menoleh ke arah Edario yang kesakitan. "Aku menyanderanya, membawanya ke kamar mandi dan membuatnya tak sadarkan diri, lalu menyamar menjadi dirinya. Setelah aku menabrakmu dan kau berlari keluar sesuai dugaanku, aku melempar gadis itu dari jendela kamar."

"Kenapa...kau lakukan itu?"

Shin Elqi mengangkat alisnya, lalu mendekati Edario dan berjongkok untuk menyetarakan pandangan matanya. "Aku pikir dia cukup potensial untuk jadi kambing hitam, pelaku dari kasus ini, pembunuh Shin Elqi serta menyerang Inspektur yang menyelidiki kasusnya ketika ketahuan. Meski itu tidak sesuai dengan rencana pertama, tetapi ketika aku munculkan mayat Shinichi dan memberi beberapa bukti seperti yang telah aku lakukan pada korban pertama, status kasus ini akan kembali menjadi kasus yang tak akan terpecahkan."

Edario tersenyum, dengan menahan sakit dia mengeluarkan ponselnya dari saku dan memperlihatkannya pada Shin Elqi. "Ka-kau lihat... Ada yang men-mendengar pengakuanmu, kau telah kalah Shin Elqi."

Shin Elqi menatap layar ponsel itu, yang memperlihatkan masih ada sambungan telepon dengan Mayor Senn Sebastian. Dia kemudian melihat Edario yang tersenyum puas, dengan darah di perutnya yang semakin banyak. Ekspresi Shin Elqi tiba-tiba berubah, dan suara tawa terdengar dari mulutnya. Seketika, dia seperti berada dalam keadaan eksaltasi.

"Me-meski kau bi-bisa kabur, kau te-telah kalah Shin Elqi...."

"Sudah hentikan! Kau benar-benar lucu Inspektur Edario Dayrie," Shin Elqi berusaha menahan tawanya, setelah berhasil dia mengambil ponselnya dari saku celana dan menunjukkan layarnya pada Edario.

Edario awalnya tak mengerti, tetapi setelah melihat layar ponsel yang dipegang Shin Elqi, wajah keterkejutan terlihat jelas di wajahnya. Matanya yang melebar menatap Shin Elqi dengan senyum liciknya, lalu kembali ke layar ponsel itu, memastikan apakah itu sebuah rekayasa teknologi.

"Kalah katamu?" Shin Elqi menempelkan telepon di tangannya ke telinga dan berbicara dengan suara Mayor Senn Sebastian. "Inspektur Edario, aku telah mendengar semuanya dari sini. Pelakunya adalah Shin Elqi, dia membunuh Senn Sebastian yang sedang terguncang jiwanya karena gadis yang dipacarinya selama enam tahun meninggalkan di apartemen Mekati Putih lantai sembilan unit empat. Lalu dia juga membunuh Shinichi...."

Shin Elqi berhenti, kepalanya ditelengkan ke kiri. Dengan tangan kanannya dia memeriksa leher serta nafas Edario. "Apa ini? Kau telah meninggalkan ku, Inspektur?" sekarang suaranya telah kembali normal.

Shin Elqi kemudian berdiri, senyuman licik kembali terbayang di bibirnya. Perlahan, bibir itu terbuka dan suara tawa menyertainya.

"Hehehe, hahaha, khakhaka! WUAHAHAHKHAHKA! WUAHAHAHAKHKHA!"

DOORRR!

Satu peluru telah meluncur.

DOORRR!

Dua pelupa meluncur mengikuti yang pertama, menyobek daging.

DOORRR!

Shin Elqi mulai tak bisa berdiri tegap, keseimbangannya goyah.

DOORRR!

Peluru ke empat membuat punggungnya menabrak tembok dan jatuh merosot.

Terlihat dua gadis berambut panjang berdiri di dekat pintu masuk, salah satunya-yang berdiri di depan-memegang pistol.

"Dyra..." ujar gadis yang berdiri di belakang. "Kenapa kau menembaknya?"

"Dayeuh, kau harus tahu penjahat seperti dia harus dilumpuhkan dengan segera, karena sangat berbahaya. Tetapi tenang, aku tidak menembak titik vitalnya. Paling tidak, dia akan bertahan selama sepuluh menit sebelum meninggal," gadis bernama Dyra itu berjalan mendekat, saat berada di samping Edario dia berhenti dan memeriksa inspektur itu. Tidak ada harapan.

Kemudian, terdengar suara sirene ambulan beradu dengan sirine polisi di luar. Dyra kembali menatap Shin Elqi. Penjahat itu tampak tersenyum dan matanya mengarah ke belakang, ke arah Dayeuh.

"Kenapa kau tersenyum?" tanya Dyra.

"Variabel asing yang cantik."

"Apa?" Dyra tak mengerti dengan jawaban yang diberikan Shin Elqi. Kemudian dia menoleh ke arah sahabatnya yang berdiri di pintu masuk dengan tangan menutup mulut, masih terkejut.

Tak beberapa lama, petugas medis dan polisi datang. Dyra hanya mengatakan beberapa hal lalu membawa Dayeuh ke bawah. Tepat di samping mobilnya, Dyra berhenti dan menatap Dayeuh.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya pada sahabatnya itu.

Dayeuh mengangguk dan matanya menatap ke bawah, ke arah rerumputan yang diinjak Dyra. Lalu mata sayu itu berpaling ke arah samping, ke tandu yang dibawa dua orang. Matanya menangis sekarang.

"Dayeuh," ujar Dyra pelan seraya mengusap bahu Dayeuh. Matanya pun kemudian melihat ke tandu yang sudah masuk ke ambulan itu.

"Jika saat itu aku tidak pulang," ujar Dayeuh dengan air mata yang mengalir setelah melihat mayat teman satu kosnya dibawa pergi. "Jika saat itu dia tidak berpura-pura menjadi diriku, apakah dia masih hidup sekarang?"

Dyra diam, tidak tahu jawabannya. Dia kemudian memeluk sahabatnya, mencoba menghentikan tangisan sedih itu.

Beberapa saat kemudian, Shin Elqi yang masih sadar, dibawa dengan tandu dan masuk ke salah satu ambulan. Dyra melihat itu, begitu pun Dayeuh. Kedua gadis itu melihat ambulan yang membawa Shin Elqi berjalan secara perlahan. Ketika sudah berada di jalan, mobil warna putih merah itu melaju cepat. Tepat di perempat, ketika mobil itu sudah setengah berbelok, mobil itu meledak dengan hanya menyisakan puing dan kobaran api setelahnya.

Dyra terperanjat, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia ingin berlari ke sana, namun dicegah oleh Dayeuh.

"Dyra..." ujar Dayeuh pelan seraya memperlihatkan layar ponselnya yang menampilkan pesan masuk.

[Teteh, terima kasih telah datang dan membawa satu variabel yang dapat menghentikanku. Dan aku minta maaf, pertemuan pertama kita terjadi di halaman berdarah.

NB : Katakan pada sahabatmu, aku tidak akan kalah. Jika harus kalah, aku akan kalah di akhirat]

Read previous post:  
44
points
(2245 words) posted by Shin Elqi 7 years 24 weeks ago
73.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | detektif | d.a.y.e.u.h. | kasus | misteri | shin elqi | shinichi
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

yah, sama seperti banyak orang yang komen sebelumnya, saya juga lumayan bingung dengan endingnya
belum lagi ada banyak typo yang agak mengganggu, seperti tulisan 'Shin Elqi kemudian menarik kulit di DADARNYA', wakakak, itu lucu sih
idemu mungkin bagus, tapi masih harus banyak belajar tentang penyampaian cerita, jadi gak bikin bingung
lanjutkan usahamu!

Writer L. Filan
L. Filan at Pembunuhan Shin Elqi (bagian akhir) (7 years 24 weeks ago)
70

Sepertinya bagian 3 ini terburu-buru atau terlalu banyak informasi dijejalkan.
-
Dyra itu siapa ya? dan apa kaitannya? Dan apa pekerjaannya pakai pistol segala. Dia yang tidak ada di awal, menyelesaikan masalah di akhir hahaha...
Dayeuh kenapa harus diganti teman kostnya?
-
Pokoknya ada banyak kebingungan buat saya.
-
Tapi kalau bikin penasaran iya. Dan saya harus baca lambat-lambat, ada yg diulang krn ga ngerti :p

terima kasih telah berbagi pendapat dan bertanya...

Dyra adalah detektif polisi, dia sahabat Dayeuh...teman kos Dayeuh merasa bersalah dan ketika tahu Dayeuh dicari polisi, dia secara spontan mengaku sebagai Dayeuh...

Saya memang harus banyak belajar lagi untuk membuat pembaca mengerti apa yang aku tulis...

70

Saya pecinta cerita detektif..
2 cerita sebelumnya menarik mampu buat penasaran bagaimana endingnya.. Tapi sayang banget di bagian akhir ini saya tidak menemukan ending yang memuaskan.

Menurut saya motifnya terlalu kabur dan sedikit membingungkan. Cerita berfokus pada pengungkapan identitas-identitas korban dan pelaku, yang akhirnya membuat motif pembunuhan itu bisa terjadi kurang jelas. Sehingga butuh pemahaman lebih untuk menyimpulkan maksud dari cerita ini. Alangkah baiknya endingnya lebih diperjelas lagi.

Ada beberapa juga kesalahan penulisan kata yang sedikit mengganggu juga saat saya membacanya, seperti "absah" yang mungkin maksudnya basah ya kak. Tapi secara keseluruhan ide ceritanya keren kak. :-)

Mohon maaf jika kurang berkenan.

terima kasih telah berbagi pendapat...

tapi kalau motif, sepertinya saya sudah mengabarkannya dengan cukup jelas

Writer Shinichi
Shinichi at Pembunuhan Shin Elqi (bagian akhir) (7 years 24 weeks ago)
100

ada yang bingung di komentar pertama yak? ahak hak hak. sama. saya jugak cenderung begitu ketika membaca bagian akhir ini. seperti koment mbaknya yang mengenai beberapa hal dalam cerita yang ia merasa bisa lebih diaktualisasi, saya pikir itu lebih kepada penulisnya saja. kamu perlu update berita-berita kriminal dan penyelidikan yang sesungguhnya. maksud saya, kamu pasti tahu kok bahwa penulis cerita misteri, detektif itu, menggunakan data valid mengenai kejahatan dan penyelidikan tentangnya. sumber utama mereka ya itu. sedangkan karya tulisan (berupa fiksi) mengenainya adalah bahan untuk mengemas saja. pembungkus. saya dengar sebuah cerita tentang penulis novel Indonesia, kebetulan beliau adalah salah satu member Kemudian.com, yang menulis novel detektifnya beberapa tahun yang lalu. saya nggak yakin itu novel detektif seperti yang kamu bayangkan. tapi beliau, mbak itu, sampai mendatangi secara rutin kantor polisi untuk menggunakan data-data penyelidikan mereka sebagai bahan dalam novelnya. artinya, ia berinteraksi dengan sumber aktual mengenai tema bukunya. itu sesuatu.

kembali ke cerpen ini. seperti yang sempat saya sampaikan di bagian awal agar kamu nggak terburu-buru menyelesaikannya, saya akhirnya menangkap kesan itu di bagian akhir ini. ada banyak mengapa yang ingin saya komentarin siy. tapi saya ragu itu penting :D

saya omongin teks saja. beberapa paragraf pertamamu dimulai dengan "gadis itu". bacalah. itu sengaja atau nggak? kalo sengaja, itu bentuk yang nggak asyik. kalo nggak sengaja, dirimu terburu-buru banget. ahak hak hak. pilih mana? :p saya pikir malah, narasi pembuka bagian ini terlalu panjang atau bahkan terlalu melebar dari yang secukupnya. termasuk soal kembar-kembaran, meski dalam anggapan kamu itu adalah bagian pendukung vital motif peristiwa dalam cerita. pembaca seperti saya nggak memahaminya, nggak melihat pentingnya di mana, karena itu nggak ada dalam penyelidikan tokoh utama. saya nggak mendapat keseruan dari proses penyelidikannya. pendek kata, saya nggak penasaran.

berikutnya, karakterisasi tokoh-tokoh kamu kurang berkesan. rasanya seragam. mbok ya kamu tanamkan masing-masing sifat umum ke dalam mereka. misal Edario itu orang yang punya harga diri tinggi, kasar, arogan, dan sok paling pintar. atau Mayor itu punya sifat kurang teliti, masa bodoh, tapi di suatu waktu ia bisa diandalkan. lalu Shinichi itu karakternya over pede, narsis, ramah dan disukai cewek-cewek (ahak hak hak), dan terkadang sukak ikut campur urusan orang lain. lalu Dayeuh (susah banget ini ngucapin nama. ahak hak hak) kamu buat punya karakter sensitif, pendendam, penyimpan sesuatu, ngomongnya terbata-bata. Shin Elqi, apa ya? kepribadian ganda? perfeksionis, OCD, dsb. ahak hak hak. itu hanya contoh. di mana itu dimaksudkan? ya di cerita, makanya kamu saya bilang di bagian awal untuk jangan terburu-buru menuju ending. karaktermu ini setidaknya menarik minat gitu. pembaca, saya nggak bisa memberikan kesan apa-apa terhadap karaktermu. dan itu keadaan yang buruk. gimana mereka bisa lekat di ingatan? ehehehehe.

secara keseluruhan, saya salut dengan tiga bagian ini. cerita pembunuhan dengan motif luar biasa ini, berhasil dalam tiga bagian hanya dalam hitungan hari. sebagai penulis, kamu punya semangat menyala. itu patut diancungi jempol. kip nulis saja dari saya. mohon maaf jika kurang berkenan dan nggak bisa membantu lebih banyak melalui komentar. maklum, saya kan masiy nubie #plak. maksudnya, saya bahkan nggak berhasil menuliskan satu pun cerita detektif kan? sepanjang yang kamu bisa lihat? :)

salam

ahak hak hak

mendatangi kantor polisi?
pergi ke sana saja saya takut (tampangku kan tampang penjahat...hehehe). Lagi pula saya tidak ada koneksi, dan alasan saya (ingin mencari data untuk novel) tak terlalu kuat karena saya belum pernah menamatkan satu novel pun...

Dalam hal terburu-buru, ya saya akui, saya sedikit terburu-buru..
ide ini muncul saat tanggal 28 desember, tapi baru ditulis tanggal 29, revisi tanggal 30..dan saya targetkan tangga 31 desember pos bagian pertama, 1 januari pos bagian kedua, dan 4 januari bagian ketiga...(kalau saya tidak menetapkan target, bisa-bisa seperti Clianta, terabaikan selama hampir 1 tahun)

dalam hal karakterisasi, saya aku saya memang lemah (maklum, saya orangnya sangat introver, hampir tidak pernah bergaul, sekarang saja saya tidak punya teman sama sekali, tapi alasanku ini sepertinya tak pantas disebut alasan)

terima kasih shinichi-senpai atas bantuannya memperbaiki diriku..

tapi, orang yang bekerja di laut pasti selalu bisa memperkirakan badai, orang yang bekerja di sawah pasti bisa mengetahui mana tanah yang subur dan tidak...begitu pun dalam hal penulisan. Penulis yang suka membaca cerita detektif, pasti bisa menulis cerita detektif (sok dewasa banget diriku, padahal belum)

salam juga
he..he..he..

80

Hmmm.... Kalau di cerita detektif biasanya semuanya akan menjadi jelas di akhir, ini malah bikin saya bingung dan membacanya untuk kedua kali dg teliti.
.
Agak gimana gitu membaca cerita dg tokoh bernama sama. Saya sempat teriak pas baca adegan habis kejadian di kamar mandi itu. Lalu saya pikir, ah penulisnya cuman pinjam nama :P Wahaha...
.
Walaupun saya bukan pembaca ahli utk cerita detektif (duh berapa kali udah saya bilang ini hehe), tapi agak berkerut juga saat korban yang disangka Shin Elqi itu ternyata bukan Shin Elqi. Dari hasil otopsi (DNA, gigi, ya kayak yang di film2 investigasi Amerika itulah), mestinya bakal ketahuan itu bukan Shin Elqi yang asli. Dan mengenai pembunuhan Shinichi itu saya rasa kok ujug2 (atau mungkin memang sengaja disembunyikan dan baru diungkapkan di akhir demi memberi kejutan, terus mayat Shinichi asli--"Shinichi asli" dl cerita ini tentunya--ditaruh di mana ya?). Juga soal teman kos Dayeuh yang menyamar itu. Gimana ya (wahaa bingung sendiri nih yang mau sok ngomentarin cerita detektif :P). Ada novel judulnya XX (AR Arisandi). Itu sebetulnya metropop, tapi juga detektif2an. Dl novel itu petunjuk2nya jelas diuraikan sepanjang cerita, lalu pengungkapannya singkat saja di akhir. Sementara dalam cerita ini, tampaknya petunjuk yang diberikan di awal dan tengah itu minim. Cenderung difokuskan pada pembunuhan Shin Elqi saja. Tapi begitu di akhir lha kok bret-bret-bret ada pembunuhan Shinichi, teman kos Dayeuh. Mungkin ada baiknya kalau cerita ini dimelarkan lagi, tapi petunjuk2nya disebarkan secara lebih halus, gitu. (Atau mungkin ada baiknya juga saya baca ulang cerita ini dg teliti dari awal hehehe.)
.
Maaf kalau komentar saya belibet haha. Ini upaya saya untuk memahami cerita itu sendiri. Kalau ga ada masukan yang dianggap membantu, mohon diabaikan saja hehehe.
.
Mengenai tokoh Shin Elqi yang jago menyamar ini, saya jadi inget novel thriller yang judulnya The Winner (David Baldacci). Di situ antagonisnya juga jago menyamar sampai persis banget, dari mulai wig, kulit artifisial, pakaian, gestur, dsb.

terima kasih telah berbagi pikiran yang bermanfaat, Teteh...
saya harus banyak belajar lagi nih, kalau ingin cerita berunsur detektif bisa dimengerti oleh berbagai macam pembaca...