Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe


Kangen pacar :(


alaupun kisah yang akan saya ceritakan ini tentang sepasang kekasih, jangan berpikir ini tentang cinta. Kisah ini lebih membosankan dari hal itu (jika kita sepakat cinta adalah persoalan membosankan di muka bumi). Saya akan menceritakannya sesingkat mungkin, senormal-normalnya murid sekolah dasar yang disuruh gurunya membacakan kepada teman satu kelasnya pengantar suatu mata pelajaran. Semoga tidak sedatar pembaca berita di TV. Namun satu hal mengenai kisah ini, saya menginginkan keterlibatan pembaca, yakni Anda sekalian, untuk mengikuti dan mengizinkan saya menggunakan kata “kita”. Terima kasih. Kita mulai!

Kita akan memilih tokoh utama. Mungkin lebih dari satu—tergantung apakah Anda setuju. Akhir-akhir ini saya memikirkan sebuah nama. Jo, Jon, John. Tapi itu terkesan tidak penting dan kebarat-baratan untuk kisah ini. Baiklah. Kita sebut saja tokoh utama, bernama Joni. Anda boleh membayangkannya sebagai seorang laki-laki—saya sarankan demikian. Kumisnya tipis, meski berkumis tipis atau tidak, itu tidaklah penting bagi keseluruhan isi cerita. Dengan tinggi rata-rata, Joni memiliki hampir semua yang diidam-idamkan tokoh utama kita yang satunya lagi. Kita butuh perempuan. Sebuah nama. Bagaimana kalau namanya Dini? Saya suka nama itu.

Setelah tokoh (untuk sementara waktu adalah mereka berdua, plus saya sebagai pencerita), kita butuh latar atau lokasi cerita terjadi. Saya menawarkan pilihan, yakni sebuah kafe. Oh, Anda tidak perlu tahu kafe apa. Yang penting sebuah kafe. Detil soal tempat yang saya pilihkan ini tidak begitu vital bagi cerita. Tentunya, berbeda jika Anda ingin mengarang cerita lain. Lagipula saya sulit membayangkan vila atau apartemen. Kesulitan saya itu lumrah: saya tidak memiliki keduanya. Tapi kalau kafe, saya sering mengunjungi beberapa kafe. Jadi saya pakai yang itu.

Joni dan Dini adalah sepasang kekasih. Sudah bertunangan. Mereka sering mampir ke kafe tempat saya bekerja. Hampir tiap malam. Tapi beberapa waktu belakangan mulai berkurang intensitasnya. Apakah pembaca sebaiknya tahu alasan kenapa bisa seperti itu? Atau jangan-jangan Anda sudah tahu dengan menebaknya. Oh, cerita ini biasa sekali. Biasanya mereka akan menjadi pengunjung paling rajin, paling mesra, di antara pengunjung lain. Selalu duduk di meja yang sama, keduanya tak segan mempertontonkan kemesraan di depan orang banyak.

“Seperti biasa?” Sebagai seorang pelayan kafe, tentu saya harus berinteraksi dengan pelanggan, bukan? Maksud saya, sebagai salah satu tokoh dalam cerita ini, tentu saya juga harus berinteraksi dengan tokoh lainnya, bukan? Saya dengar begitulah sebuah tulisan dibuat. Interaksi antar tokoh.

Dini tersenyum pada saya. Apakah saya harus mengatakan kepada Anda senyuman tokoh kita ini seindah apa? Sebentar, jika itu perlu, saya kesulitan mencari perumpamaan. Sulit mengatakan bagaimana suatu senyum dikatakan indah. Yang pasti, Dini tersenyum setiap kali saya menyapanya—sebagai pelayan kafe, tentu saja.

“Akhir-akhir ini kau sibuk,” kata Dini.

“Aku selalu sibuk,” balas Joni. Betapa kakunya saya memilih dialog.

“Tapi lebih sibuk lagi dari biasanya,” sahut Dini lagi.

Joni memandangnya lekat-lekat sambil senyum terbit di sudut bibirnya. Menegakkan punggungnya pada sandaran kursi, Joni mengangkat tangannya membelai rambut Dini. Lalu katanya dengan nada penuh perhatian: “Kau kenapa?”

“Aku merasa perlakuanmu sedikit berbeda. Terlebih sejak kau berhenti dari pekerjaan lamamu dan diterima di kantormu yang baru.”

Pembaca yang budiman. Dialog Dini tersebut bisa saja saya sebutkan dalam narasi kepada Anda. Itu yang tadinya ingin saya lakukan saat memulai cerita ini. Tapi seperti kita ketahui tokoh semestinya berdialog. Katanya, itu menunjukkan bahwa mereka hidup di dalam cerita.

“Cuma perubahan kecil. Tidak berpengaruh apa-apa, kok. Lagipula pekerjaan baru membutuhkan penyesuaian. Lama-lama kau, maksudku kita, akan terbiasa.” Joni memberikan penjelasan.

“Aku berusaha mengerti, Jon. Kupikir kekanak-kanakan juga kalau aku membicarakan hal ini denganmu. Kita sudah sama-sama dewasa. Sama-sama bekerja. Mungkin aku juga butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Sebelumnya, Jon, kau begitu perhatian. Hampir tiap hari kau menelponku; menanyakan kabarku, pekerjaan, dan sebagainya. Sekarang? Kau dingin. Ketika aku coba membicarakan ini baru kautunjukkan perhatianmu.”

Sepertinya dialog pasangan ini tidak menunjukkan akar masalah yang sebenarnya. Apakah Anda berpendapat demikian? Atau saya saja yang kurang mengemas akar konflik cerita ini? Sepertinya saya penulis yang buruk—atau malah penguping yang buruk?

“Sayang, aku minta maaf kalau kau sempat merasa perhatianku padamu sedikit berkurang. Namanya juga pekerjaan baru. Aku harus menyesuaikan diri. Ada beberapa hal di kantor yang menguras perhatianku. Satu sampai tiga bulan ke depan, mungkin aku harus bekerja lebih keras. Itu artinya waktu untuk kita mungkin akan kena imbasnya.”

“Tidak masalah. Tapi bisakah kau jelaskan padaku tentang Sinta?”

Oh, tidak! Ternyata ada orang ketiga dalam hubungan mereka. Kita butuh konflik, bukan? Semua cerita butuh konflik. Saya pikir kehadiran Sinta, entah dia itu siapa, akan membuat cerita ini lebih menarik untuk diikuti. Siapakah Sinta? Apakah Joni selingkuh dengannya? Saya harap tidak. Sebab bagaimanapun, Joni dan Dini ini adalah pasangan yang serasi menurut saya. Mereka bahkan sudah bertunangan! Keduanya bagai—sebentar saya mencoba mencari penggambaran—Rama dan Sinta. Oh, Sinta. Kenapa saya malah memilih nama itu ya?

“Sinta? Siapa Sinta?” Joni menjawab dengan cepat. Mungkin terlalu cepat untuk sebuah penyanggahan.

“Kau tidak perlu pura-pura terkejut.”

“Aku tidak terkejut.”

Joni tidak terkejut. Lalu dia apa?

Pesanan mereka sudah siap. Saya sendiri yang harus mengantarkannya. Kenapa? Ya, agar cerita ini lebih hidup lagi dengan para tokoh di dalamnya bergerak seperti makhluk hidup. Seperti teman Anda, tetangga Anda, saudara-saudara Anda. Bukankah mereka juga bergerak? Maka, saya berjalan membawa baki. Di atasnya dua gelas minuman “biasa” yang Joni dan Dini pesan. Apakah jenis minumannya penting untuk saya katakan? Apakah itu berpengaruh pada inti cerita? Saya pikir tidak. Tapi bila saya berubah pikiran, akan saya sampaikan pada Anda.

“Silahkan,” kata saya dengan nada ramah seorang pelayan. Gelas-gelas itu sudah berpindah dari nampan saya ke atas meja. “Ada lagi yang bisa saya bantu?” saya menawarkan pelayanan. Joni tidak menoleh kepada saya. Hanya Dini. Ia tersenyum hambar sambil menggeleng pelan. “Kalau begitu selamat menikmati. Permisi.” Saya pun pamit dan kembali ke pos saya.

Sementara saya menajamkan telinga, sebaiknya Anda menajamkan mata. Maksud saya membuka mata dan terus mengikuti cerita yang mulai membosankan ini. Maklum, saya baru belajar menulis.

“Din, dengar. Sinta bukan siapa-siapa. Dia teman kantor.” Oh, Joni luluh dengan sikap diam tak bersahabat yang ditunjukkan Dini. Mungkin cara itu yang paling ampuh membuat Joni bicara jujur. Apakah ia sudah bicara jujur?

Dini masih diam saja.

“Sebagai teman kantor, beberapa kali kami makan bersama di kantin.”

“Di kantin?” Dini akhirnya bicara.

“Teman-teman yang lain pernah sesekali mengajak makan di luar.”

Dini kembali diam. Sulit juga punya pacar seperti perempuan satu ini. Syukurlah pacar saya tidak seperti dirinya. Apakah pacar Anda seperti Dini, Pembaca?

“Din. Tidak ada apa-apa antara aku dan Sinta. Cuma teman kerja.” Joni terus mengupayakan agar Dini tidak mencurigainya. Saya tidak akan membuatnya dalam dialog berhubung saya tidak tahu apa saja yang harus saya tuliskan. Terlebih karena saya juga ingin membuat dialog dan narasi cerita ini berimbang. Kita anggap saja, Joni terus mengatakan beberapa hal untuk meyakinkan pacarnya; bahwa Sinta itu teman kantor yang meja kerjanya bersebelahan dengan meja Joni. Keduanya pernah beberapa kali makan berdua di luar, setelah di kantin terlalu hiruk-pikuk untuk membicarakan pekerjaan. Sinta adalah perempuan mandiri, sudah putus dari pacarnya beberapa bulan yang lalu—karena dikhianati. Dan entah mengapa Sinta merasa Joni bisa jadi tempatnya mencurahkan perasaan.

Lalu Dini menyadari sikap mencurigakan ini. “Saat pertama kali aku tanyakan tentang ini, kau berusaha menyampaikan kau tidak mengenal perempuan bernama Sinta. Lalu kau berusaha mengatakan padaku bahwa ia hanya rekan kerja. Teman satu kantor yang meja kerjanya bersebelahan dengan meja kerjamu. Kau mengatakan sebagai teman kantor, makanya, wajar kau makan bersama dengannya di kantin, yang lalu kauperbaharui lagi pernyataanmu bahwa sesekali kalian makan di luar. Kantin terlalu berisik untuk membicarakan soal pekerjaan. Lalu, Joniku yang terkasih, kau mengatakan Sinta baru putus dengan pacarnya dan entah bagaimana mulai menganggapmu tempatnya mencurahkan isi hatinya. Biar kuingatkan kau, Jon, sebelumnya kau bilang ‘siapa Sinta?’. Apa arti semua ini?”

“Aku mencoba meyakinkanmu, Din,” kata Joni sedikit memelas.

“Maka jujurlah!” balas Dini dengan nada tinggi.

Kita butuh narasi genting! Saya mulai panik karena perbendaharaan kata saya tidak mencukupi dalam hal ini. Bagaimana menceritakan percakapan yang mulai menegangkan? Saya tidak tahu! Tapi akan saya coba.

Sontak beberapa pengunjung kafe melihat ke arah mereka. Saya juga, meski itu sudah saya lakukan sejak awal mereka datang. Joni mulai merasa tidak nyaman dengan pandangan orang-orang. Apalagi saat ia melihat sebagian dari mereka mulai berbisik-bisik dengan pasangannya masing-masing. Joni menarik napas, menegakkan punggungnya, menatap kekasihnya. Ia bisa melihat bibir Dini terkatup. Pandangannya tajam pada gelas minuman yang belum diteguknya sedikitpun.

“Oke! Pelankan suaramu, Din. Kau tahu, ini memalukan. Orang-orang akan menganggap kita konyol.”

Dini menoleh padanya setelah beberapa jeda. “Kau tak bisa menjawab kenapa kau bersikap menutup-nutupi seperti itu. Aku ambil kesimpulan bahwa ada sesuatu di antara kalian.”

“Aku tak ingin melukaimu.”

“Kau sudah melukaiku, Jon!”

“Dengar, aku bisa memperbaiki ini. Aku hanya—“

“Memperbaiki apa?”

Oh, tidak! Joni belum mengakui apa-apa tapi sudah menunjukkan sesal. Apakah ia tipe laki-laki yang baik buat Anda? Saya sarankan itu bukan poin penting dalam cerita ini. Jadi tidak usah kita bicarakan atau bahkan menyinggungnya sedikitpun, meski saya sudah melakukannya. Maaf.

“Maafkan aku, Din…”

Anda tahu, penerangan di dalam kafe-kafe itu bukan ditujukan menyembunyikan ekspresi para pengunjung saat berada di dalamnya. Lampu-lampu yang temaram merupakan upaya menciptakan suasana yang tenang dan nyaman. Keadaan seperti itu dengan mudahnya berubah mengikuti perasaan hati pengunjung. Seperti Dini, yang kini tertunduk hingga saya tidak lagi bisa melihat wajahnya.

Joni mencoba membelai Dini namun urung sebab Dini menepis tangannya. “Pergi. Tinggalkan aku,” katanya.

“Din, jangan begini. Aku bisa…”

“Tak perlu, Jon. Pergilah. Aku tak butuh kau di sini.”

“Dini, please…”

Tapi Dini diam dan tetap menyembunyikan wajahnya dari cahaya temaram lampu kafe. Beberapa detik kemudian tinggallah ia sendiri di meja itu. Joni telah pergi—setelah meneguk sedikit minumannya dan meninggalkan selembar uang di atas meja.

Saya sebagai salah satu tokoh dalam kisah ini hanya bisa menonton. Saya tidak tahu harus melakukan apa. Dini sendiri di sana, masih menunduk. Sesungguhnya saya prihatin terhadap apa yang menimpa tokoh kita ini. Mungkin saya harus mendatanginya, mencoba menghiburnya semampu yang saya bisa. Tapi apakah itu perlu? Apakah itu penting bagi kelanjutan cerita ini?

Dari tempat saya berdiri saya bisa melihat getaran kecil di bahunya. Samar-samar, berpadu dengan alunan musik lambat dari pengeras suara, saya bisa mendengar isak tangis perempuan itu. Hati saya terenyuh. Tak sepatutnya saya membiarkan tokoh utama cerita kita dalam keadaan sedih seperti itu. Maka saya putuskan mendatanginya. Berat atau cenderung takut-takut, saya melangkahkan kaki. Sesekali saya melihat ke sekeliling, kepada pengunjung lain, apakah ada yang memperhatikan saya sedang berusaha bertindak lugu seperti ini. Tidak ada. Saya harus tenang. Dan saya berhasil mencapai kursi tempat Joni tadi duduk. “Anda baik-baik saja?” tanya saya.

Dini menoleh pada saya. Air matanya berkilau ditimpa cahaya temaram lampu kafe. Wajahnya sendu. Ia menggigit bibir bagian bawahnya—lalu terisak. “Bukan urusanmu!”

Oh! Sialan. Saya jadi menyesal menghampirinya setelah mendengar itu. Bayangkan, Pembaca, sakitnya digituin? Saya kan ingin membantunya. Kalau bukan saya, tokoh mana lagi yang melakukan tugas itu di sini? Lagipula, saya harus mengambil peran juga. Tak adil jika saya hanya jadi penonton atau pencerita. Tapi mendapat sambutan yang tidak bersahabat begitu membuat saya serba salah. Kebingungan, saya masih berdiri di samping meja. Diam seribu bahasa.

“Pergi!” usirnya setelah beberapa detik.

Saya berontak: “Tidak! Saya tidak akan pergi.”

Dini melihat ke arah saya dengan tatapan marah. Untuk sesaat saya merasa telah melakukan kesalahan. “Ini bukan urusanmu!” katanya membentak.

“Memang, tapi saya ingin peran,” jawab saya. Dia mengernyit. Bingung. Tentu saja. Hahahaha. Lalu saya lanjutkan. “Saya tak mau hanya menjadi figuran dalam kisah Anda, meski semua kisah butuh peran itu. Saya mau lebih. Sejak kisah Anda dimulai, saya tidak ingat kapan persisnya, saya hanya menjadi penonton. Sebatas pencerita. Anda dan pacar Anda tidak pernah melihat ke arah saya. Berdua, kalian asyik sendiri berdialog. Pembaca hanya mengingat kalian, sedangkan saya tidak. Itu tidak adil.”

“Apa yang—“

“Saya mengenalkan Anda kepada pembaca sebagai tokoh perempuan dalam kisah ini, meski itu tidak saya lakukan dengan penjelasan lengkap. Saya mengaku kesulitan. Tapi kesulitan saya menggambarkan sosok Anda lebih karena saya menyukai Anda. Perasaan ini sudah saya simpan sejak pertama kali Anda datang. Sungguh. Saya tidak bermaksud merayu.

“Saya bahkan langsung memilih nama Dini pada Anda. Sebab saya suka nama itu. Ini memalukan, tapi saya jujur. Saya menyukai Anda. Keberadaan kekasih Anda membuat saya tersiksa dengan perasaan ini. Anda tahu bagaimana sakitnya melihat kalian berdua datang setiap kali, bermesraan di meja ini, dengan saya tak mampu berbuat apa-apa? Ah, pelayan kafe. Apa menariknya? Dan tiba-tiba saja Anda sudah bertunangan dengannya. Oh, Anda bisa bayangkan bagaimana sakit itu semakin bertambah ketika saya mencoba masuk ke dalam konflik kalian, karena saya peduli pada nasib Anda, lalu Anda bilang ‘bukan urusanmu’? Oh, saya malu, ketahuan berharap seperti ini. Sungguh. Maafkan saya. Tapi tokoh utama seperti Anda tidak pantas mendapatkan pasangan tokoh seperti Joni. Seharusnya Anda berpasangan dengan saya. Seharusnya saya bisa melakukannya tapi saya terlalu malu menjadikannnya begitu bahkan dalam cerita sekalipun!”

Pembaca yang saya hormati. Saya tidak bermaksud menjadikan cerita ini seperti telenovela. Atau menjadikannya membosankan karena sudah dua ribuan kata panjangnya. Tapi saya harus menyelesaikan hingga akhir. Semua cerita harus memiliki akhir, bukan?

Mungkin bagi Dini perkataan saya sudah terlalu lancang. Saya hanya mencoba jujur, satu hal yang tidak bisa dilakukan Joni kepadanya. Saya pikir dengan begitu, mungkin Dini bisa lebih melihat ke dalam saya, bukan hanya berhenti pada seragam pelayan ini. Bukankah tadi dia meminta itu pada Joni? Saya bisa memberikan itu padanya. Saya katakan hal itu terus terang.

“Saya tidak tahu harus berbuat apa. Namun melihat Anda bersedih, hati saya tersentuh. Tidak sepantasnya tokoh lain membuat Anda begini. Saya marah pada Joni. Saya bahkan ingin memberinya pelajaran. Tindakannya meninggalkan Anda adalah bukti ia tidak mampu, juga pengakuan penting. Apakah saya perlu mengarang cerita selanjutnya bahwa Joni tewas dalam sebuah kecelakaan? Saya bisa melakukan itu, sungguh. Perbuatannya pantas diganjar hukuman.

“Sekarang saya berdiri di sini menawarkan bantuan kecil. Saya bisa menjadi lebih baik dari Joni, jika Anda melihat kejujuran. Dan sesungguhnya saya sudah lama menyukai Anda.”

“Kau tahu, penjelasanmu membuatku sedikit pusing. Kenapa kau tidak memilih kata-kata yang lebih ringkas dan tidak membuat pembacamu pusing seperti halnya aku?” katanya.

Dini punya selera humor juga ternyata.

Saya terdiam sesaat, memikirkan kata-kata saya selanjutnya. “Saya bisa melakukan hal itu, jika Anda mau. Namun semua bergantung pada situasi dan kondisi. Tidak menarik membuat dialog ringkas ketika kita bicara hal seperti ini. Bagaimana kalau saya ajak Anda bertukar cerita, di meja lain, sambil saya membelikan Anda minuman?”

“Saya butuh suasana baru.” Dini menyeka air matanya dengan tisu.

“Saya tahu tempat yang seru.”

Tokoh kita sedang mempertimbangkannya. Saya harap Anda bersabar sedikit. Tentunya dalam situasi yang bergerak cepat seperti ini, ia butuh lebih dari sekadar jeda. Kalau saya bisa menunggu, saya harap Anda juga demikian.

“Baiklah,” katanya. “Kemana kau akan membawaku?”

Saya tersenyum penuh kemenangan. “Mari ikuti saya.” Lalu saya berjalan keluar kafe. Sambil melangkah saya lepaskan seragam dan meletakkannya di pos. Dini mengikuti saya dari belakang. Pada saat membuka pintu, rekan kerja saya mengangkat tangan, bertanya dengan bahasa tubuh. Saya tersenyum riang dan mengancungkan jempol tinggi-tinggi ke udara.

“Ada satu tempat yang cukup tinggi di dekat sini. Pemandangan kota pada malam hari cukup menarik. Saya akan mengajak Anda ke sana,” kata saya padanya sambil menghentikan taksi.

“Bagaimana dengan pembacamu?”

Oh, saya hampir lupa. Pembaca yang budiman. Saya pikir saya akan beristirahat sejenak dengan tokoh utama kisah ini. Apa? Oh, tidak. Saya tidak bermaksud melupakan Anda. Hanya saja kita butuh istirahat, bukan? Lagipula ini kesempatan langka. Saya tidak mau melewatkan satu pun—oh, taksinya sudah berhenti. Saya bukakan pintu dulu untuk tokoh kita. “Silahkan, Dini.” Sulit menghilangkan kebiasaan sebagai pelayan. Dini tertawa kecil. Oh, saya memberikan sedikit keceriaan untuknya.

Pembaca yang budiman. Saya sudah berdiri di pintu satunya lagi. Tangan saya sudah membukanya malahan. Ketika saya masuk, cerita kita akan usai sampai di sini. Mungkin saya akan melanjutkannya di lain kesempatan.

“Kau sedang menunggu apa?” Dini bertanya dari dalam taksi.

“Sebentar, saya sedang menyampaikan penutup.”

Begitulah. Kisah kita terpaksa berakhir tanpa kejelasan, meski itu pun bukan tak jelas-jelas amat. Setidaknya Anda sudah tahu bahwa saya bukan tokoh figuran belaka. Suatu saat nanti saya akan menceritakan kisah ini dengan jujur, bagaimana Dini telah membuat saya jatuh cinta, dan membuang jauh-jauh perasaan minder saya padanya. Untuk kisah itu akan saya awali dengan prolog: ini kisah tentang cinta.

Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Saya—apakah saya sudah menyebutkan nama saya pada Anda? Belum ya? Ah, terkadang penyebutan nama tidaklah penting, tetapi bagaimana suatu tokoh bisa Anda ingat selama membaca cerita, itulah pekerjaan sulit...




Yogyakarta, 06.040114.

Forum | Twitter Resmi Kemudian | Kontak Penulis | Karya Musik

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer AL48
AL48 at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 3 weeks ago)

good

90

menarik banget

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 3 weeks ago)

dirimu kapan post cerpen terbaru niy? :p

90

Kereeeeeeewn!!! Well, bukan pacarku yg seperti Dini. Tapi akulah Dini. Haha

Writer kemalbarca
kemalbarca at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 20 weeks ago)
100

wah, diriku telat banget baca cerita ini
jujur aku suka dengan gaya penulisan kak shinichi yang selalu berubah-ubah dan unik, tapi tetap teliti memperhatikan detail

padahal cerita ini sebenarnya simpel, tapi kata-kata kak shinichi yang bisa membuatku menikmatinya dibanding cerita cinta lain
thumbs up deh

Writer coolkiller
coolkiller at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 21 weeks ago)
90

keren, keren banget, unik

nice.. :)

Writer melanilily
melanilily at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)
90

bagus bangett.. (Y)

80

yeyy breaking the 4th wall ~~ :D

90

Mantap. Seperti tutorial menulis yang disampaikan dengan lembut... sekali. Disampaikan dengan sabar dan rapi. Walau mungkin pada akhirnya pembaca mengharapkan sesuatu yang lebih dari sekadar "mengantar Dini ke taksi".

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)

ahak hak hak
pembaca jadi berharap ceritanya nyampe gimana gitu. malah lupa apa yg sebenarnya saya bawain di mari, mbaknya. btw, udah bisa koment. ada chapca lagi gak?

hm... alangkah enggak bijak saya sekiranya bertanya apa yang sebenarnya masnya bawain di mari. hehe. kadang ada, kadang enggak. tapi enggak gitu masalah selama saya masih bisa komen di mari X)

Writer zizijj
zizijj at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)
100

tulisan ini nunjukkin cara enak bikin cerita buat penulis pemula kayak aku.
keren bangett!! :D

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)

hmm... masa siy? padalan bukan itu lho maksudnya. bukan cara enak. ahak hak hak. btw, thanks udah mampir :) kip nulis.

Writer pandaku
pandaku at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)
100

kak yang bisa aku petik dari cerita ini kakak bisa langsung menjelaskan kata-kata yang pas,tentang tokoh,jeda maupun diksi,jadi kan bisa menambah wawasan pendatang baru seperti diriku ini..heheheee kan jadi bisa senyum lagi deh kalo begini gak cmberut lg kaya kemaren.

tapi ini yang bikin BT ka kenapa nih kok masih mollom2 mulu ya,apa cuma punyaku doang yang di spam? ahak.ahak..ahak.

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)

nah lho? cemberut kayak kemarin kenapa? emang saya bikin kamu cemberut gitu? kemarin? ahak hak hak. koplak deh. saya nggak ngerti. ciyusan =))

btw, syukurlah kalo dirimu bisa ngambil sesuatu dari cerpen saya yang aduhai kerennya ini #plak. semoga beneran menambah wawasan aja deh. hohohoho.

Writer pandaku
pandaku at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)

iya habisnya yg kemarin menyindir diriku ahak..ahak..ahak..
ah lumayan nih ada yg nyantol ketawanya boleh di jiplak kan

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)

jangan salah paham dong ya.
saya nggak menyindir siapa-siapa di cerpen saya :p
kayak nggak ada kerjaan aja deh. ahak hak hak.
tapi mungkin kamunya aja yg merasa begitu.
lha, saya cerita soal identitas kok
ahak hak hak

Writer pandaku
pandaku at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)

iya kak becanda kalee aku gk gampang trsindir kok ahaak..hak..hak..

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)

masa? ahak hak hak.

Writer pandaku
pandaku at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)

Iya kak.. kak ketawanya dah bunyak yg ngopi ketawa kakak tuh kenapa gk ganti aj ketawanya ahak..hak..hak..hak..

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)

itu mah sejak sekian tahun yang lalu udah banyak yg niru kali. yang aslinya mah tetep nggak terganti. biasa, orang terkenal. ahak hak hak.

Writer pandaku
pandaku at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)

UHUK..UHUK..UHUK..ampe keselek kak.. percaya deh orang yg terkenal wkwkwkwkwk

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)

iya dong.
ahak hak hak

Writer pandaku
pandaku at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)

iyo waelah... biar cepet kelar ahak..hak..hak

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)

asyik
ahak hak hak

100

wkwkwkkwkwkw...... #ngakak sambil makan kacang
.
kak, kog bisa dapat ide bikin cerita gini sih??? ._.
gila keren bgt. ini hampir sama seperti cerita "dari bekasi menuju cikarang" tapi ini dikemas lebih humor.
salut kak.. ahak..ahak.. uppppssss.... ^_^

Writer Shinichi
Shinichi at Chris - Peta Harta di Sebuah Kafe (7 years 23 weeks ago)

iyakah? ahak hak hak. makanya saya bikin tag komedi, biar nggak salah sangka #halah :p
ide ya? ummm... dari mana ya? dari Kemudian.com kali. ahahahahaha. biar sekalian belajar menulis gitu :D
thanks udah mampir :p
kip nulis
ahak hak hak