Amelia (5)

5

La mort lui murmure, "vous êtes si belle" (death whispers, "you're so beautiful") - Émilie Simon; Dernier Lit

 

Aku selalu berpikir pertemuan kita di tempat ini adalah takdir. Bagaimana tidak? Kau dan aku berasal dari tempat yang sangat jauh. Kita seperti bumi dan langit yang tidak akan bisa bersatu. Seperti siang dan malam yang tidak akan pernah bertemu. Namun semua hal yang pernah kita lakukan seakan menjadi petunjuk bahwa kita seperti ditakdirkan untuk bersama.

            Ketika ia terbangun gadis itu mendapati dirinya tidak bisa bergerak. Seperti ada tali yang tidak terlihat mengekang sekujur tubuhnya. Kedua kaki dan tangannya terasa lumpuh dan mati rasa. Ia bahkan tidak bisa menggerakkan kepalanya untuk mencari tahu dimana ia berada. Dia merasa seperti boneka yang harus digerakkan oleh orang lain.

            Dia menyadari dirinya duduk di sebuah kursi roda. Dia melihat gaun gotik lolitanya kini tergantikan oleh sebuah gaun biru yang terbuat dari chiffon. Dia berada di sebuah ruangan yang sangat luas, lengang, dan remang-remang. Satu-satunya perabotan yang bisa dilihatnya adalah sebuah piano besar tidak jauh di depannya. Piano itu melantunkan sebuah lagu yang tidak ia kenal, dimainkan oleh pemuda yang ia ingat telah mencelakainya.

            Seakan tidak menyadari dirinya telah terjaga, pemuda berwajah sendu itu terus memainkan lagunya. Lagunyamenyiratkan rasa kesepian dan kerinduan. Siapa pun yang mendengarnya pasti akan ikut menangis dalam diam bersamanya. Samar-samar ia mendengar pemuda tampan itu menyanyikan liriknya.

And I shall hear, though soft you tread above me
And all my grave will warm and sweeter be
And then you'll kneel and whisper that you love me
And I shall sleep in peace until you come to me

Lagu itu yang selalu kunyanyikan untukmu. Lagu yang mengingatkan kita akan diri kita yang sebenarnya. Kau dulu sering menari saat aku memainkan lagu ini, memintaku terus memainkan lagu ini. Kau menari seolah kau berada di padang rumput yang luas dimana tidak ada dinding yang bisa membatasimu.

Ketika bait terakhir selesai dimainkan, sang gadis tersadar dia masih berada dalam bahaya. Si pemuda kini beralih padanya, ia bangkit dan mendekatinya. Dengan wajah tersenyum dan berharap ia membelai lembut rambut sang gadis dan bertanya padanya yang sudah jelas tidak bisa bersuara, “Bagaimana, Amelia? Kau ingat lagu itu, bukan?”

Sang gadis memberanikan diri membalas tatapan mata pemuda itu. Tatapannya kosong, seolah dia berada di dunia lain. Air mata yang mengalir dari mata sang gadis menjadi jawabannya.

“Dulu kau sering sekali menarikan lagu itu saat aku memainkannya.” Si pemuda beranjak dan mendorong kursi rodanya, membawanya ke ruangan lain. Ke sebuah kamar yang sangat rapi, namun terlalu rapi seperti tidak pernah dihuni. Dari situ, ia menuju sebuah kloset di sudut ruangan yang mengarah ke ruang rahasia di bawah tanah.

Berhenti di depan tangga yang menuju ruang bawah tanah itu, si pemuda memutuskan untuk menggendongnya. Penuh kelembutan, ia menaruh lengan si gadis di bahunya dan membawanya turun ke bawah dengan kedua tangannya. Meskipun ia tidak bisa bergerak, si gadis tetap bisa merasakan hawa ruangan aneh tempat ia berada sekarang. Dingin, mencekam, suram, adalah beberapa kata yang bisa diungkapkan. Ia juga mencium bau obat-obatan aneh seperti ia berada di dalam rumah sakit. Serta bau amis yang tidak bisa dijelaskan.

Akan kau apakan diriku? Gadis itu berkali-kali mempertanyakan itu di dalam dirinya. Berharap jeritan hatinya bisa terdengar di telinga pemuda asing yang mengendalikan dirinya sekarang.

Namun sekarang aku tidak pernah lagi melihatmu menari. Mengapa? Apa karena kau terlalu sibuk oleh dunia yang berusaha membuatmu terlihat sama seperti mereka? Kini kau telah berpaling sangat jauh untuk menyadari bahwa aku ada. Maka dari itu, akan kubuat kau sadar bahwa aku disini menjerit akan perhatianmu.

Si pemuda menaruh gadis itu ke atas ranjang besi yang sangat dingin. Sebuah lampu putih yang besar menyorot wajah sang gadis sampai ia merasa silau. Lalu ia mendengar suara alat-alat yang terbuat dari besi lainnya saling berdenting. Merasa ngeri dengan apa yang akan dihadapinya, si gadis menangis semakin pilu di dalam hatinya, berharap semua ini hanyalah mimpi terburuk yang pernah dimimpikannya.

Setelah membaringkan tubuhnya, si pemuda mengamati sekali lagi wajah gadis itu dengan terpesona, seolah ia sudah lama mengenal gadis itu. Ia menyusuri rambut cokelatnya yang halus dengan jemarinya, menyentuh kulitnya yang pucat dengan sangat hati-hati, lalu kembali menatap matanya lekat-lekat dan kemudian berbisik di telinganya dengan suara terlembut yang pernah dirasakan sang gadis.

“Kau cantik sekali...”

Sang gadis semakin takut bila yang berbisik di telinganya barusan adalah suara kematian yang hendak menjemput ajalnya.

Menyadari ketakutannya, pemuda itu menghibur sang gadis yang terbujur kaku. “Janganlah takut, sayangku... kau tidak akan merasakan sakitnya.” Kemudian dia memperlihatkan sebuah jarum suntik di tangannya. Tanpa belas kasihan dan tetap dengan tatapan kosongnya, ia menuntun jarum itu menembus kulitnya. Menyuntikkan cairan yang entah akan membuatnya menjadi seperti apa.

Setelah jarum itu menembus dirinya, obat apa pun yang masuk ke dalamnya mulai bereaksi. Gadis itu merasa dirinya seperti melayang. Si pemuda benar, sama sekali tidak ada rasa sakit yang dirasakannya sekarang, melainkan ketenangan dan kedamaian yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Namun yang ia tidak tahu, kedamaian itu perlahan menarik jiwanya dari raganya, seperti daun menguning di atas pohon yang rontok terenggut oleh bisikan angin.

Dan dari situlah sang gadis tahu makna surga yang sesungguhnya.

Read previous post:  
24
points
(3814 words) posted by Mhysa 7 years 47 weeks ago
60
Tags: Cerita | Novel | thriller | #cinta | jepang | misteri | pembunuhan
Read next post:  
Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Amelia (5) (7 years 46 weeks ago)
60

entah kenapa saya merasa cerita pada bagian ini datar...tidak seperti sebelumnya...
dan juga sampai saat ini, unsur thriller belum muncul ya?

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Amelia (5) (7 years 46 weeks ago)
70

hm... apa ya isi cairan yang disuntikkan itu? anestesi? 0_o lah dipotong kakinya bukannya pas sadar? amelia itu bukan nama jepang kan ya? ini adegannya rasa2nya kayak balik lagi ke prolog tapi dg tambahan... memancing teka-teki tapi sayang sekali bacanya sepotong2 begini, waha.
bdw, "kloset" itu dari "closet" dl bahasa inggris kan ya? pengertian "kloset" dl bahasa indonesia di kbbi setahu saya cuman satu dan saya kira bukan pengertian itu yang mbak Mhysa maksudkan, melainkan "closet" dl pengertian bahasa inggris (alias dl bahasa indonesia padanannya "lemari" atau semacam itu). maaf kalo ga penting hehe :P

Writer Mhysa
Mhysa at Amelia (5) (7 years 46 weeks ago)

nanti bakalan diungkapin cairan itu apa ^^

ya, kloset dalam arti semacam lemari yang ruangnya lebih luas daripada lemari biasa.. ^^

Writer Mhysa
Mhysa at Amelia (5) (7 years 46 weeks ago)

nanti bakalan diungkapin cairan itu apa ^^

ya, kloset dalam arti semacam lemari yang ruangnya lebih luas daripada lemari biasa.. ^^