Datangnya Seorang Pengunjung

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Beberapa kali aku menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuh. Suara detak jarum jam terdengar memekik dengan lambat dalam kegelapan, dan rasanya suara napasku terdengar lebih keras dari biasanya. Tubuhku menggigil meski tidak kedinginan. Sambil sesekali melirik—namun tidak berani menoleh—aku memastikan jendela di belakang punggungku tidak disinggahi seseorang…. Atau sesuatu.

Kemudian terdengar suara-suara nyaring dari gelapnya malam di luar sana. Aku tidak mau memastikan suara apa itu—sama sekali tidak, kalau harus menghadapi makhluk-makhluk halus yang memang sejak awal menungguku di sana.

Ada yang mengawasiku dari balik jendela. Satu hal yang kutahu pasti, dia bukan manusia meski sosoknya menyerupai seorang pria berbadan tegap. Dua titik merah menyala—yang kuasumsikan sebagai mata makhluk hitam besar itu—perlahan membesar dan membeliak, lantas tubuhku semakin gemetar di bawah selimut. Dia memperhatikanku, dan tidak ada yang bisa kulakukan selain ketakutan. Bukan tak mungkin kalau tiba-tiba sosok itu menyelinap masuk ke kamar dan berdiam dalam sudut tergelap.

-o-o-o-

“Kau terlihat tidak sehat, Bel.”

Kepalaku yang sudah hampir terantuk meja, kembali tegap dan spontan menoleh ke arah sumber suara. Rieke, teman sekelasku dalam mata kuliah Estetika.

“Aku hanya kurang tidur,” sahutku lantas tersenyum kecil.

“Begadang lagi ya? Kurasa tugas minggu ini tidak sesulit minggu kemarin,” balas gadis berjepit pakis itu.

Aku hanya menggeleng pelan. Rieke membantuku terjaga dengan mengomentari busana necis yang dikenakan Pak Mahesa, dosen kami, namun tetap saja aku sulit untuk mengikuti apa yang dia katakan. Kepalaku pusing, rasanya membutuhkan tenaga ekstra untuk melupakan sepasang mata merah yang memperhatikanku semalam. Makhluk itu… sepertinya mengawasiku dari jendela semalaman, dan entah bagaimana aku bisa tertidur. Punggungku terasa nyeri, mungkin karena posisi tidur yang tidak kuperhatikan karena terlalu takut.

Selagi Pak Mahesa menjelaskan materi yang diproyeksikan pada layar putih, pandanganku teralihkan pada sesuatu yang lain. Sesuatu yang ada di balik layar… Ada tangan hitam berkuku panjang, jari-jemarinya kaku seperti kaki laba-laba. Tangan itu menari-nari di pinggiran layar proyeksi dengan gerakan anomali. Perlahan disibakkannya layar itu dan tampak wujudnya yang hitam sedang berjongkok memperhatikanku. Memperhatikan dengan sepasang mata merah yang berkobar seperti bara api. Keringat dingin mengalir melalui dahiku, dan mataku membelalak lebar. Kemudian aku menjerit.

Spontan seisi kelas menoleh ke arahku. Pak Mahesa bertanya apa yang terjadi, dan Rieke tampak terkejut. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku yang gemetar. Sebelah tanganku menutup wajah yang tertunduk, sebelahnya lagi menunjuk apa yang ada di balik layar.

Rieke menepuk pelan pundakku. Aku sedikit mendekatkan diri padanya meski tubuhku masih menggigil. Dengan takut-takut, kuputuskan untuk membuka mata dan melihat apa yang terjadi.

Yang pertama menghampiri layar itu adalah mahasiswi lugu bernama Hilya—meski Pak Mahesa berada lebih dekat dengan layar, tampaknya dia enggan mendekatinya. Hilya langsung menyibakkan layar itu dan tidak menemukan apa-apa selain tembok putih. Lantas semua orang menatapku.

“Apa yang kaulihat Bel?” tanya Albi sambil mengernyitkan sebelah alisnya.

Agak lama sebelum aku menjawab, beberapa kali kukerjapkan mata untuk memastikan kalau makhluk itu benar-benar hilang. Setelahnya, kuputuskan untuk menggeleng pelan. “Tidak, tidak apa-apa. Maaf telah mengganggu…”

Dan sejak itu, aku resmi dicap sebagai orang aneh.

-o-o-o-

Seusai kuliah, Nayala mengajakku dan Rieke untuk hang out bersama teman-temannya dari geng Herotic—perkumpulan yang cukup populer di kampus, banyak orang unik dan kreatif bergabung di sana; kalau tidak mau dibilang orang aneh. Rieke tampak bersemangat, dia menyarankan aku ikut untuk menyegarkan pikiran.

“Ayolah, Bel! Kapan lagi geng Herotic mengajak kita? This gonna be awesome!” seru Rieke ceria.

“Memangnya kaupikir mereka mau ke mana? Ke salon untuk menggunduli rambut?” balasku seadanya, kemudian melirik kepala Nayala yang pelontos di kejauhan.

“Uh, oke, Nayala memang aneh. Tapi, lihat cowok-cowok keren seperti Faren, Zein, dan Helmi! Juga Gabriel yang imut-imut itu, aduh… Nggak kebayang deh bisa semobil sama mereka!”

“Jangan lupakan pasangan mesum Limbo dan Fiani, jangan heran kalau mendengar suara-suara aneh dari belakang mobil selama perjalanan.”

“Bel, berhentilah berpikiran buruk! Sepertinya kau benar-benar butuh istirahat dan senang-senang!”

“Kira-kira apa yang dilakukan geng yang mungkin populer itu pada kita yang biasa dan membosankan ini? Di-bully? Apa itu menyenangkan? Aku bukan masokis, kau tahu.”

“Bel!”

“Heh, kalian membicarakan kami ya?”

Mendadak muncul dua orang gadis dari geng Herotic. Fivi yang selalu mengenakan kacamata hitam, dan Dee yang berdandan lolita. Keduanya berwajah sadis.

“Uh, hai Fivi dan Dee. Tidak kok, kalian salah dengar barang kali,” sahut Rieke cepat-cepat.

“Baguslah, kami tidak ingin cari ribut,” ujar Fivi dingin, lantas membetulkan posisi kacamatanya.

“Kalian jadi ikut kami tidak?” tanya Dee dengan suara yang lebih bersahabat.

“Jadi! Ya kan Bel?” Rieke mengedipkan sebelah matanya padaku, entah apa maksudnya.

“Maaf aku tidak ikut,” sahutku yang sepertinya membuat Rieke kecewa. Namun kemudian aku tersenyum, “Semoga senang-senang ya di sana.”

Tak lama kemudian mereka bertiga pergi. Setelah kupastikan Honda Freed berwarna merah terang khas Herotic itu meninggalkan lapangan parkir, aku mencari dudukan di sekitar taman kampus. Langit mulai berlatar kuning dan angin berhembus menyegarkan. Aku tidak ingin cepat-cepat pulang, warna mobil itu mengingatkanku pada sepasang mata terkutuk yang ingin kulupakan. Mungkin dia sudah menunggu di kamar kos. Sebenarnya makhluk apa itu?

Aku sendiri belum pernah melihat hal-hal gaib atau makhluk halus. Ini yang pertama dan sangat mengganggu. Terlebih aku sering sendirian, kenapa dia mengikutiku? Rasanya aku tidak pernah mengunjungi tempat-tempat angker yang memungkinkan diriku dikutuk.

Selagi berjalan sambil memikirkan hal-hal yang kulakukan, tiba-tiba seseorang menabrakku dari belakang.

“Perempuan! Minggir, kau ini menghalangi saja!” seru laki-laki berbadan besar yang menabrakku. Altem dari Manajemen, kudengar dia memang suka cari gara-gara. Karena tubuhnya yang besar dan tampangnya yang menakutkan, dia sering dijuluki gorila.

“Jangan lari kau, Gorila! Kau masih punya utang padaku!”

Ada seorang lagi yang berlari-lari. Untungnya aku berhasil menghindar sebelum tertabrak. Kali ini Edi dari Akuntansi, laki-laki itu cukup terkenal karena makannya yang banyak sementara tubuhnya masih kurus. Mungkin Altem mengambil makanannya dan jadilah mereka kejar-kejaran.

“Dasar cowok! Kalian lupa kalau kalian masih berurusan denganku? Atau pura-pura lupa?!”

Sialnya, kali ini aku didorong. Bukan ditabrak, gadis itu sengaja mendorongku! Uh, rasanya aku sudah berjalan di tempat yang benar. Tapi, gadis itu adalah Reksan dari TI. Sifatnya yang kasar dan mudah marah cenderung berbahaya, terlebih dia menguasai Taekwondo level tinggi. Sebisa mungkin tidak berurusan dengannya walau rasanya kepala ini ingin meledak.

“Ah, orang-orang barbar. Kau tidak apa-apa?”

Sepertinya rasa kesal terhadap mereka mengalihkan perhatian pada tangan yang menangkapku agar tidak terjatuh. Berdiri di belakangku sesosok laki-laki dengan jaket kelabu.

“Ferro? Sedang apa kau di sini?”

“Ehe.. menyelamatkan seseorang yang gampang jatuh dan terluka?” jawab laki-laki itu dengan senyuman khas. Wajahku lantas memerah dan aku langsung menarik diri darinya. Namun laki-laki itu menangkap tangan kiriku dan memperhatikannya dengan aneh.

“Bel, tanganmu terluka?” tanya Ferro lantas dia menggulung sedikit ujung lengan kardigan biruku. Aku tercengang ketika melihat sebuah luka memar yang memanjang di punggung lengan. Aku melepas kardigan dan terkejut melihat memar itu tampak makin panjang; masuk ke kaos tanpa lengan yang kukenakan dan sepertinya sampai ke punggung.

“Luka apa ini Bel?” tanya Ferro lagi sambil mengernyitkan alis.

Aku menggeleng, “Aku juga tidak tahu.”

“Apa ini sakit?” Tiba-tiba Ferro menekan memar-memar itu sampai membuatku meringis. Melihat reaksiku, Ferro memasang raut serius. “Sepertinya ini bukan luka biasa. Albi tadi cerita kalau tiba-tiba kau menjerit dalam kelas, apa yang sebenarnya terjadi?”

Aku terdiam agak lama. Gugup dan takut. Mendadak firasatku buruk. Mungkinkah luka-luka ini disebabkan makhluk yang mendatangiku semalam? Sejak bangun tadi pagi, punggungku memang terasa nyeri sekali.

“Aku ingin memeriksa luka-luka ini di kamar mandi,” ujarku tanpa mengacuhkan pertanyaan sebelumnya.

“Apa perlu kubantu?” tawar Ferro dengan bibir yang tersungging jahil. Aku pura-pura meninju perutnya dan dia hanya tertawa kecil. Akhirnya kami meninggalkan area taman yang dilatari sinar keemasan matahari. Tak jauh dari sana, aku melihat Altem, Edi, dan Reksan sedang beradu debat dan sesekali memukul. Beberapa mahasiswa menonton aksi mereka.

-o-o-o-

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Stroud
Stroud at Datangnya Seorang Pengunjung (6 years 13 weeks ago)
80

kesannya gothic banget.
saya setuju sama komen someonefromthesky (masyaallah namanya susah banget). tapi asik kok ceritanya :D

maap saya nubi, nggak jado kasih komen.
maap ya :(

Writer Rendi
Rendi at Datangnya Seorang Pengunjung (6 years 29 weeks ago)
80

wait, ini masih bersambung kan? O_O
gw ngerasa agak kentang gitu pas endingnya *_*
kalo ini ga bersambung, gw komplen soal rasa takut si Bel yang masih kurang keekspos. tambahin satu paragraf lagi biar makin apik~ seinget gw sih prinsip utama dari membuat rasa takut adalah: jangan sampai pembaca mengenali siapa pencipta takut (karena kebanyakan manusia lebih takut terhadap sesuatu yang ga bisa diidentifikasi ma dia) :)

dopost

80

Saya suka deskripsi di bagian-bagian awal. Adegan di belakang proyektor itu juga berpotensi bikin merinding. Di pertengahan cerita, mulai bermunculan karakter-karakter yang bergaya nyentrik. Mulai dari geng Herotic (yang namanya seperti pelesetan dari "heretic" dan membuat saya menebak-nebak apakah mereka ada hubungan dengan suatu aliran sesat)sampai tiga orang dari jurusan berbeda yang karena suatu hal tampak akrab dan komikal. Saya nggak tau akan dibuat serealistis apa cerita ini nantinya, tapi saya berharap kenyentrikan tokoh-tokoh itu memang punya kepentingan untuk mendukung plot, bukan sekadar tempelan untuk menarik perhatian. ;)

Writer citapraaa
citapraaa at Datangnya Seorang Pengunjung (6 years 35 weeks ago)
80

belom kerasa horor. mungkin karena masih awal.

akhir bagian kurang ....mencekam? maksudnya harus gimana gitu kalimat terakhirnya biar orang lebih penasaran apa lanjutannya

Writer Ann Raruine
Ann Raruine at Datangnya Seorang Pengunjung (6 years 35 weeks ago)

Orz kayaknya sy selalu fail klo bikin horor yg beneran horor aplg settingnya lokal... /=w=)/
.
Ia jg ya, seharusnya motongnya gk per-part O_O
Mkasi ud mampir n masukannya kak >w<