Amelia (6)

6

It has been said that time heals all wounds. I do not agree. The wounds remain. In time, the mind, protecting its sanity, covers them with scar tissue, and the pain lessens, but it is never gone – Rose Kennedy

 

            Aku mendadak terjaga dari mimpi yang sangat aneh. Aneh namun terasa sangat nyata. Tetapi aku masih tetap berada di atas tempat tidur Chi. Sahabatku tidur di bagian bawah tempat tidur bertingkat miliknya. Aku berharap karena mimpi barusan aku tidak bersuara sehingga bisa membangunkan Chi yang masih tertidur pulas.

            Namun sayangnya Chi sudah terjaga terlebih dulu. “Kau terbangun, Hoshi?”

            Aku yang tepat berada di atasnya bergumam sebagai jawaban. Aku melihat jam dinding dan cahaya bulan yang menembus dari jendela kamar. Masih pukul dua pagi namun aku sama sekali tidak mengantuk lagi.

            “Kau bermimpi buruk?” tanya Chi lirih. Walau aku tidak bisa melihatnya, tetapi aku tahu dia siap mendengarkan ceritaku.

           “Tidak juga.” aku menceritakan mimpi anehku itu. Aku berada di sebuah ruangan gelap yang dingin sendirian. Ruangan itu sangat luas sampai suaraku menggema di sana. Lalu aku mendengar suara langkah kaki mendekatiku. Berkali-kali aku memanggil siapa pun yang ada di ujung sana, tidak ada jawaban. Langkah kaki itu semakin terdengar, sosok itu semakin jelas. Ketika aku mendapati orang itu berdiri di depanku, aku terperangah.

            Shou. Shou berdiri tepat di depanku. Ekspresi wajahnya terlihat sangat ketakutan dan seperti hendak memohon pertolongan dariku. Belum hilang kekagetanku, aku masih dikejutkan oleh tangannya yang berlumuran darah. Aku merasa darah itu bukan miliknya, melainkan milik orang lain.

            Baru saja aku memutuskan untuk meraih tanganku dan menolongnya, sebuah kekuatan yang tak terlihat menarikku lebih dulu menjauh darinya sampai aku membuka mataku.

            “Menurutmu mengapa aku bermimpi seperti itu?” aku meminta pendapat Chi.

            “Aku pernah membaca buku tentang arti mimpi dari sudut pandang psikologi. Kau sendirian, itu berarti kau merasa ditolak atau tidak diterima oleh seseorang. Alternatifnya, kau mungkin merasa tidak ada satu pun yang bisa memahamimu.” Jawab Chi. “Kau juga melihat darah di mimpimu. Darah mewakili kehidupan, cinta, gairah namun disaat yang sama, kekecewaan. Namun untuk Shou... aku kurang tahu...”

            Aku menghargai pendapat Chi, namun aku masih kurang puas dengan pendapat itu. “Apa karena tadi siang kita membicarakan Shou makanya kau memimpikannya?”

            “Mungkin.” Jawab Chi. Tetapi aku masih tidak yakin. “Tapi, kenapa dia terlihat seperti itu? Apakah dia baik-baik saja di luar sana?”

            “Kau tidak perlu cemas, Hoshi. Aku yakin dia pasti baik-baik saja.” Chi menenangkanku.

            Namun aku tetap khawatir. Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika Shou di luar sana sekarang sudah melupakanku? Bagaimana jadinya bila suatu hari nanti kita bertemu, bertatap muka dan dia sama sekali tidak mengenalku?

          “Chi...” aku memanggil sahabatku. “Bagaimana kalau arti mimpiku barusan bukanlah seperti yang kau bilang?”

            “Maksudmu?” Chi tidak paham.

          “Bagaimana jika Shou benar-benar membutuhkan pertolonganku dan aku tidak bisa berada di sana untuknya?”

            “Kalau begitu, Hoshi, yang bisa kau lakukan sekarang hanyalah berdoa. Semoga tidak terjadi apa pun pada Shou di sana.” Kata Chi lembut. “Aku ingat sekali dia orang yang jenius. Dia pasti memiliki banyak jalan untuk bertahan.”

            “Semoga saja.” aku tersenyum, membayangkan Shou sudah menjadi seperti apa di luar sana. Dia pernah berkata padaku dia ingin menjadi dokter agar bisa menyelamatkan nyawa orang lain supaya mereka tidak bernasib sama seperti ibunya. Kurasa dia bisa melakukannya. Seperti kata Chi, dia jenius. Dia bisa menjadi apa pun yang dia inginkan. Yang bisa kuharapkan dari sini adalah setelah menjadi apa pun yang ia mau, masih ada bagian dari dirinya yang tetap mengingatku, sekecil apa pun itu.

            “Kau merindukannya, bukan?” Chi menyela lamunanku. “Karena itulah kau memimpikannya.”

            Untuk itu aku menjawab ya. Sejak kami membuka buku tahunan itu, semua kenangan yang terlupakan kini terbangkitkan. Luka akan kerinduan dan kepedihan yang telah menutup kini kembali terbuka lebar.

            Aku pun menghabiskan sisa malamku dengan kegalauan. Memutar kembali kenangan lama di antara kami yang tak akan terulang lagi. Tanpa kusadari aku tertidur sambil menitikkan air mata. Berharap aku akan menemui sosok Shou lagi di dunia mimpi.

Read previous post:  
13
points
(891 words) posted by Mhysa 7 years 18 weeks ago
43.3333
Tags: Cerita | Novel | thriller | Cinta | jepang | misteri | pembunuhan
Read next post:  
Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Amelia (6) (7 years 17 weeks ago)
70

mimpi dan masa lalu...entah kenapa saya merasa temponya sangat lambat ya...berbeda dengan yang sudah-sudah

Writer azraelsalvatore
azraelsalvatore at Amelia (6) (7 years 17 weeks ago)
80

hemm curiga sama sosok Shou, hubungan apa yg terjalin antara hoshi ama shou ya? jadi makin penasaran..

Writer citapraaa
citapraaa at Amelia (6) (7 years 17 weeks ago)
80

shou baru muncul ya?

Untuk itu aku menjawab ya.
Sejak kami membuka buku
tahunan itu, semua kenangan
yang terlupakan kini
terbangkitkan. Luka akan
kerinduan dan kepedihan yang telah menutup kini kembali terbuka lebar.

emang kapan dia buka buku tahunan?

kurang panjang x____x