Chris - Cerita dari Seorang Komedian

: untuk Christina Tjandrawira :)

Cerita dari Seorang Komedian

- Oleh Chris -


uatu hari di akhir Februari, Chris pulang dengan wajah lesu. Aku ragu ia terlalu letih karena pelajaran di sekolah atau di bimbingan belajar. Menjelang sore waktuku menikmati kopi, ia muncul di halaman depan dengan langkah gontai seperti seorang pencari kerja yang sudah puluhan kali ditolak perusahaan. Bahkan tidak menoleh ke arahku yang mengamatinya dari kursi di teras. Tidak seperti biasanya.

Aku tidak terlalu memikirkan hal itu sampai waktu makan malam. Di depanku dan isteriku, Chris "bermain-main" dengan kepiting saus tiram kesukaannya. Ia tampak tak tertarik sama sekali. Aku mendehem. Isteriku menoleh. Lalu kugerak-gerakkan alis ke arah Chris. Kenapa dia? Sebagai perempuan, tentu ibunya lebih mengerti. Namun ternyata kami berdua berada dalam kebingungan yang sama.

“Nggak laper. Makannya nanti aja ya, Ma,” katanya. Tanpa menunggu balasan, ia meninggalkan ruang makan—menaiki tangga dengan langkah gontai.

Kuteguk air putih, “Tuan Putri kenapa?” dan bertanya pada ibunya.

“Sudah kenyang mungkin? Jajan di luar,” jawabnya acuh tak acuh.

“Bukannya dia nggak suka jajan?” Putriku memang tidak suka jajan. Berbeda dengan ibunya, dulu.

“Barangkali kecapean atau kurang tidur. Hari ini dia ada les tambahan di sekolah. Jadi nggak tidur siang,” jawab isteriku menjelaskan.

Namun itu tidak memuaskanku. “Tanyain, gih. Jangan-jangan lagi sakit atau kenapa-kenapa.”

“Mungkin lagi nggak selera makan.”

“Ini kepiting lho, Maaa...”

Isteriku meletakkan sendok dan menatapku. “Papa aja yang tanyain sana! Masa Mama terus?”

Aku menarik selembar tisu. “Kalian kan sama-sama perempuan. Lebih mudah saling memahami,” aku berdalih.

Kau kan Papanya. Masa sama anak sendiri jarang ngobrol? Udah sana. Mama mau beresin ini dulu.”

Isteriku ada benarnya. Kupikir aku harus meluangkan waktu untuk berbincang dengan Chris.

Menimbang anjuran ibunya, maka kuberanikan mendatangi kamar putriku setelah sebatang rokok kuhabiskan di ruang tamu. Aku menaiki tangga lalu mematung beberapa saat di depan pintu kamarnya. Antara ragu dan menyusun kalimat-kalimat sebagai kata pembuka. Selang beberapa menit, kuketuk perlahan. Menunggu. Tidak ada gerakan di kenop pintu. Tidak ada suara derit ranjang tidur atau langkah kaki. Kupanggil, “Chris? Udah tidur?” dengan suara pelan tapi kuperhitungkan bisa didengarnya dari dalam.

“Papa masuk ya?” sambil mendorong pintu. Memang telah kuterapkan aturan kalau pintu kamarnya tidak boleh ia kunci dari dalam.

Kulihat Tuan Putri sedang berbaring di ranjangnya. Ia menatapku dengan wajah tak bersahabat, seolah berkata: keluar. Aku mencoba tersenyum. “Boleh Papa masuk?” Ia menjawab dengan menutup wajahnya dengan selimut. Dilarang Masuk. Masih berdiri di depan pintu, aku menimbang-nimbang. Kamarnya adalah ruang pribadi untuknya sendiri—aku ingat pernah mengatakannya. Sejak ia menempatinya, baru dua kali aku menjejak lantainya: untuk mendekorasi saat pertama kalinya dan memperbaiki jendela saat musim buruk tahun lalu.

Tiba-tiba tubuhku terdorong dari belakang. “Sana tanyain...” isteriku menyuruh dengan berbisik.

“Iya,” balasku dengan berbisik pula. Kulihat senyuman tipis terbit di sudut bibirnya. Mungkin pemandangan ini membuatnya sedikit geli. Isteriku pasti melihat kecanggunganku. Tapi sudah kepalang tanggung. Jadi, berjalan menuju tempat tidur, kuupayakan langkahku bisa didengar Chris. Lalu aku duduk di pinggir tempat tidurnya. Kutarik napasku pelan-pelan. Dalam-dalam. Di depan pintu kulihat isteriku menyemangati. Aku meminta petunjuk dengan gerakan isyarat. Ia membalasnya dengan gerakan tangan agar aku terus saja. Kubalas senyumnya—mungkin dengan hambar. Lalu isteriku pergi membiarkanku punya waktu berdua dengan anak kami.

“Chris...” aku memanggil. Ia tak bergerak. Kupanggil lagi.

“Aku nggak apa-apa,” sahutnya dari dalam selimut.

“Beneran?” Hening. Rasa-rasanya aku bisa mendengar suara jarum jam dinding. “Ada masalah ya, di sekolah?”

“Nggak ada.”

“Oh, tapi kalau...”

“Nggak!”

Oke. Aku butuh bantuan sekarang.

Mungkin ini terjadi karena kami jarang terlibat diskusi. Sejak kecil, Chris lebih sering bersama ibunya. Toh, Chris adalah perempuan yang, menurutku akan membuatnya lebih dekat dengan ibunya sebagai sesama perempuan. Itulah yang terjadi. Namun, sedikit menyesal, aku menyadari kealpaanku.

Lalu aku menerka-nerka kira-kira apa yang membuat Chris jadi murung—dan tak selera makan. Pasti ada sesuatu yang besar, yang mengganggunya, sampai-sampai bisa menolak makanan kesukaannya itu. Pikiranku menerawang ke hal-hal yang umum dihadapi remaja putri berumur belum-genap-empat-belas-tahun. Kira-kira apa ya? Mungkin di sekolah, Chris tiba-tiba dimusuhi oleh teman-temannya? Ia dijauhi karena jarang meluangkan waktu buat nongkrong bersama mereka. Remaja masa kini bukankah hobi nongkrong? Atau jangan-jangan ia jadi korban bullying? Gawat! Atau mungkin Chris mendapat nilai yang buruk? Kalau itu seharusnya ibunya sudah memberitahukannya padaku.

Kugaruk kepalaku yang tak gatal.

“Papa keluar aja. Aku mau tidur,” katanya. Kepalaku jadi gatal sungguhan.

“Makan dulu ya?” bujukku.

“Aku nggak laper, Pa.”

“Tadi sore kamu jajan? Makan di luar gitu?”

“Aaahh... udahlah! Nanti kalau aku laper, aku pasti makan. Lagi nggak selera.”

“Oke oke. Papa cuma mau tahu keadaanmu. Cuma mau mastiin kalau Tuan Putri—” Tiba-tiba ia keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung menatapku tajam. Sepertinya aku telah melakukan kesalahan fatal. “—baik-baik saja...” Kuselesaikan kalimatku pelan-pelan.

“Aku bukan anak kecil lagi!”

Oh! Aku tak sadar. Empat belas tahun jelas bukan lagi usia yang bisa dikatakan anak kecil. Chris sudah remaja. Mungkin karena tinggal bersamanya aku jadi kurang jeli menangkap perubahan ini. Aku masih saja melihatnya seperti dulu saat ia belajar berjalan dengan sepatu-berbunyi-lucu. Atau saat aku menggendongnya karena isteriku sedang kewalahan dengan urusan di dapur. Aku lihat bola matanya yang bersinar yang saat mengedip akan semakin membuatnya indah. Ia meniru mata ibunya.

“Iya. Chris bukan anak kecil lagi,” kataku dengan nada sudah paham.

“Stop manggil aku Tuan Putri,” balasnya cepat.

Stop? Oke.

Aku tersenyum sambil mengangguk pelan. Lalu mengalihkan pandanganku ke sekeliling kamar, aku bisa melihat beberapa foto dalam frame yang menempel di dinding. Ada satu dua poster vokalis—aku tak tahu siapa itu—yang memegang stand mic. Di bawahnya ada foto seekor panda ukuran kabinet (dan katanya dia bukan anak kecil lagi?). Dinding yang lain diisi poster boyband—1D?—dan sisanya beberapa foto Chris bersama teman-temannya, seukuran kartu pos yang disusun sedemikian rupa. Kulirik ia yang ternyata sedang memperhatikanku memperhatikan dinding kamarnya. Menggeser sedikit posisi duduk aku tanya, “Jadi Chris sudah dewasa ya? Papa harus panggil apa kalau begitu?”

“Panggil namaku saja,” sahutnya cepat.

“Baiklah, Christie Tjandrawira Barus. Sedewasa apa engkau sekarang?” tanyaku sambil tetap tersenyum.

Chris menghela napas berat. Sepertinya kesal aku ledek begitu. Tapi kali ini aku sudah lebih tenang. Kuminta ia bergeser ke sebelah dinding agar aku bisa bersandar. Ia menurut, memberikanku sedikit ruang, lalu melipat tangan. “Ini urusan cewek!” timpalnya tanpa melihatku.

Kuluruskan kaki sambil memintanya bercerita.

“Malulah, Pa! Sama Mama aja aku malu. Apalagi sama Papa!” katanya agak sewot.

Aku jadi tertawa. Ah, putri kecilku. Jangan-jangan ia, “Naksir cowok?” Dan... ternyata benar! Chris langsung menarik selimutnya lagi: menutupi wajahnya. Ia dewasa sekarang—sudah bisa merasakan perasaan suka, pikirku. Tapi bukankah seharusnya ia bahagia dengan perasaan itu? “Cowok mana? Cakep nggak?” Aku memberondonginya pertanyaan.

“Udah aaah... nggak usah kepo begituuuu,” sahutnya dari balik selimut.

Kepo? “Papa cuma mau tahu aja sih siapa yang bikin putri—maksud Papa, anak Papa—jadi nggak selera makan begini,” kataku meniru-niru gaya bicaranya.

Ia tak membalas.

“Sampai-sampai bikin jalannya gontai. Bikin dia ngurung diri dalam kamar. Bikin dia nutupin—”

“Udah! Papa jangan ngeledek teruuus!” Ia keluar lagi dari persembunyiannya. Tapi wajahnya kini sudah berbeda. Tak lagi murung, tapi tersenyum malu-malu.

“Cerita dong. Mungkin bisa jadi ide buat Papa nulis lagi.”

“Nggak mau ah! Ini urusan cewek.”

“Papa kenal beberapa cewek.”

“Terus?”

“Cowoknya cakep nggaaak?” godaku lagi.

Chris diam beberapa saat. Lalu katanya, “Papa nggak bakal ngerti,” dengan raut wajah berubah sedih lagi.

Chris menghela napas lalu menunduk. Ia mencubit-cubit gambar pensil yang punya mata dan mulut yang tercetak di selimutnya. Kupikir aku harus mencari cara lain agar ia mau membuka diri. Tapi dengan cara apa? Apakah saat ini penting menyelesaikan masalahnya jika ia bercerita? Jelas bahwa apa yang ia hadapi telah mengganggu perasaannya. Tidak salah lagi kalau ia sedang patah hati, kecewa, atau rasa semacam itu. Namun ia masih diam—pun aku belum menemukan ide melanjutkan pembicaraan.

“Sini,” kataku sambil memeluknya. Ia luluh. Dibukanya kedua tangannya dan memeluk pinggangku.

“Dia suka cewek lain...” kudengar suaranya yang hampir teredam di dekapanku. Ah, putriku. Tahap dewasanya adalah sudah merasakan patah hati rupanya. Aku jadi teringat bagaimana patah-hati pertamaku.

“Papa juga pernah ngalamin,” kenangku.

Chris mendongak melihatku tapi masih memeluk. Mungkin ia merasa lebih tenang dengan merebahkan kepalanya di dadaku. Tapi katanya, “Masa? Mama bilang Papa itu playboy dulu. Mana ada playboy yang patah hati?”

Isteriku pendongeng yang buruk sepertinya. Tapi, “Itu keliru. Maksud Papa, setiap orang pasti bisa patah hati,” aku membela diri.

“Tapi tetap aja orang menilainya begitu, Pa. Mereka yang bikin cewek-cewek patah hati.”

Kalimat yang tak asing. “Mama cerita apa aja?”

“Kata Mama, dulu Papa playboy.”

“Pasti Mamamu belum pernah cerita yang satu ini.” Aku membetulkan letak punggungku. Sambil membelai rambut dan bahu Chris, aku mengenang sebuah cerita.

***

“Waktu SMA, Papa jarang pulang ke kampung halaman. Kalaupun pulang, itu pasti cuma buat ambil uang bulanan. Seringkali Kakek dan Nenekmu yang datang berkunjung ke kos Papa. Sekali sebulan. Tapi lain cerita kalau ada libur panjang. Libur puasa, misalnya. Nah, waktu Papa di kelas satu, ada libur puasa. Papa pulang dan menghabiskan sebulan lebih di kampung. Di sana—sudah nggak ada lagi sekarang—ada sumur bor. Itu tempat mengambil air bersih sekaligus kamar mandi umum yang dibuat pemerintah. Tiap sore, kira-kira jam enam, Papa mandi di sana. Pulang pulang sambil bawa air untuk persediaan di rumah. Dua jirigen masing-masing 20 liter. Papa mengangkutnya dengan kereta dorong merek Artco—yang dulu iklannya ada di TV.

“Sumur bor itu letaknya di hilir desa. Belakangan, Papa suka berlama-lama di sana. Ada warung di sebelahnya. Di sana Papa akan jajan, duduk-duduk nonton TV, atau ngobrol sama teman-teman. Jadi, ada seorang perempuan yang lebih muda dari Papa. Adik kelas sewaktu waktu SD dan SMP yang namanya Sri.”

“Papa naksir sama dia?” tanya Chris mendelik.

“Dia seumuran adiknya Papa—Bibimu. Nggak mungkin ah, Papa naksir.”

“Papa lebih tua delapan tahun dari Mama,” protesnya.

“Itu beda, sayaaanng.” Kucubit pipinya karena gemas. “Biar Papa lanjutin dulu ceritanya. Nah! Sri berteman dekat dengan Ana. Kalau Ana, iya Papa ngaku. Anaknya cantik, kurus memang, kulitnya putih cerah, dan rambutnya hitam legam terurai sampai tengah punggung—tapi jangan bilang-bilang Mama, ya? Oke? Papa suka dia sejak kelas 1 SMP. Tapi kami jarang ngobrol sejak Papa menyukainya. Paling juga hal-hal biasa. Kami beda kelas. Setelah lulus, kami beda sekolah meski sama-sama di Kota. Rasanya ya, suka pada seseorang sewaktu remaja itu beda dengan di waktu usia dewasa. Lebih jenaka dan lebih lucu waktu remaja. Yang paling kontras adalah rasa malu-malu. Kalau umur sudah dewasa—di atas 20-an—mungkin lebih bisa mengendalikannya. Pokoknya beda-lah.

“Jadi, Sri ini—karena ia teman dekat atau satu geng dengan Ana—“ Aku melirik ke arah Chris yang tersenyum meledek. “—Kenapa?” aku jadi bertanya.

“Itu tahun berapa sih? Nggak kebayang jaman segitu anak remaja sudah ada geng-geng segala.” Ia tertawa kecil.

“Yeee... Memangnya cuma di jamanmu saja yang begitu? Tapi iya, benar mereka ada geng. Berlima kalo nggak salah. Karena itu, Papa sengaja mendekati Sri untuk tahu segala tentang Ana.”

Lalu meledaklah tawa Chris. Ia terpingkal. Aku sampai harus mencubit bahunya. “Diem dulu. Papa belum selesai cerita.”

“Habisnya, aku lucu ngebayangin. Kalau jaman sekarang, itu namanya stalking, Pa. Biasanya di twitter atau di facebook. Lihat-lihat aktivitas gebetan. Hahahaha.”

“Oh ya? Dulu belum ada handphone, apalagi internet. Kirim-kirim kabar ya, lewat surat. Tapi, jaman Papa masih kecil bukan jaman Kartini lho.” Chris tertawa keras jadinya. Aku teruskan cerita. “Dan namanya usaha. Memang lucu sih kalau diingat-ingat sekarang. Hahaha. Jadinya, kami banyak ngobrol tiap sore di sumur bor. Sesekali Sri datang bersama Ana, mengambil air juga. Saat itu, Papa nggak mau menyapa. Diem-diem saja di warung. Pura-pura serius menonton TV. Malu.”

Untuk sesaat aku terdiam sambil mengingat-ingat potongan kenangan remajaku sementara Chris masih terpingkal. Ia tampak bahagia sekali.

“Lanjutin dong! Malah senyum-senyum,” katanya setelah tawanya reda.

“Iya. Memang, Papa terlalu malu dan kikuk kalau bertemu atau hanya sebatas berpapasan dengan Ana. Sampai tak terasa liburan sudah hampir usai. Papa harus kembali ke Kota. Namun, suatu malam—Papa lagi asyik main gitar di rumah seorang teman—Sri menemui Papa. Ia memberikan sebuah surat sambil tertawa cekikikan. Papa yang penasaran langsung pamit pulang dan membaca surat itu di rumah." Kulihat raut wajah Chris yang menandakan ia bisa menebak arah ceritaku.

“Tulisannya jelek, keriting-keriting seperti rambut Sri. Tapi kertasnya berwarna-warni dan harum. Dan betapa berbunga-bunga hati Papa ketika tahu pengirimnya adalah Ana! Ia menyapa Papa melalui surat! Papa bahagia banget. Dulu ponsel belum ada, jadi kirim-kirim surat, gitu. Tidak seperti sekarang yang bisa SMS, whatsapp, chatting. Ana menulis: ‘kok sombong sih nggak pernah nyapa?” Tak pelak aku tertawa lepas begitu mendengar Chris tertawa. Berdua, kami menertawakan kenangan sepicisan ini.

“Sinetron banget deh!” kata Chris di sela-sela tawanya.

“Masa? Padahal Papa nggak nonton sinetron lho. Hahahaha. Di surat itu juga, Ana bilang kalau ia merasa Papa sombong sementang sekolah di SMA favorit di Kota. Katanya Papa sinis begitu tiap kali kami berpapasan. Padahal aslinya Papa kikuk dan malu. Intinya, dia menganggap Papa sombong. Begitu deh. Jadi, Papa balas surat itu. Papa ambil buku, merobek selembar kertasnya, menulis bahwa Papa nggak sombong dan mengatakan yang sebenarnya. Surat itu Papa tulis dengan kalimat-kalimat seperti puisi.” Chris tergelak lagi. “Papa suka puisi, apalagi sejak Papa merasa tak mampu menyampaikan isi hati Papa pada Ana. Ada satu buku tulis seratus halaman, selama SMP, yang Papa tulisi puisi. Lalu keesokan harinya, Papa datangi Sri dan menitipkan surat itu.”

Lalu aku terdiam sejenak, mengambil beberapa detik untuk menarik napas. “Karena adanya surat itu, Papa jadi merasa bahagia. Jadinya, senang begitu. Papa membaca surat itu berulang-ulang, berkali-kali setiap hari, lalu menyimpannya lagi. Pada saat berpapasan dengan Ana, Papa memang semakin malu tapi jadi bisa tersenyum padanya. Ia juga membalas. Ah, rasanya bahagia. Tapi, hanya sebatas itu memang.

“Dua hari lagi liburan tersisa. Papa mendengar desas-desus—semacam gosip—di kalangan teman sebaya Papa soal surat itu. Beberapa teman perempuan ngerumpi dan tertawa-tawa. Belakangan Papa tahu bahwa mereka menertawakan surat itu. Mungkin mereka lebih menertawakan si pengirimnya. Mungkin juga karena isinya yang berkesan sok puitis. Atau semacam nggak habis pikir: kenapa Papa bisa sampai segitunya. Seorang teman bernama Lena, lebih muda setahun dari Papa, melapor sama Papa. Dia bilang kalau surat Papa ada sama dia. Papa minta dengan wajah malu dan marah karena merasa telah dipermainkan. Rasanya jadi konyol mengingat betapa senangnya Papa sejak menerima surat Ana. Surat itu Papa simpan baik-baik di dalam buku. Semacam bukti perasaan Papa bersambut. Tapi kenyataannya apa? Di depan Lena, surat itu Papa robek-robek. Lena bilang Papa jangan marah. Dia nggak sengaja nemu surat itu di jalan—mungkin dibuang. Dia juga bilang kalau Sri sengaja menuliskan surat itu atas nama Ana. Jahat banget isengnya. Lalu Papa tanya apa Ana tahu dengan ide Sri itu. Lena mengiyakan. Sri, dan juga Ana, nggak menyangka seserius itu cara Papa membalas suratnya. Ya, Papa memang serius. Papa menyukainya sejak kelas 1 SMP. Tapi, begitulah akhirnya. Sakit hati dan malu.”

Tawa Chris sudah tak terdengar lagi. Ia jadi tampak antusias. “Papa nggak nyamperin mereka biar mereka minta maaf?” ia bertanya.

“Nggak ada gunanya kan? Papa pura-pura nggak tahu kalau Papa tahu keisengan mereka. Papa pura-pura nggak tahu kalau mereka tahu Papa menyukai Ana. Mereka juga pura-pura nggak pernah melakukan hal itu terhadap Papa. Kami semua berpura-pura. Tapi itu membuat Papa kecewa dan sakit hati. Terlebih pada Ana. Papa menyayangkan mengapa ia—meski sudah tahu—nggak melarang Sri melaksanakan ide surat itu. Mengapa ia tega? Butuh beberapa waktu lamanya buat Papa untuk lupa. Tapi satu hari liburan yang tersisa serasa sebulan. Papa ingin cepat-cepat kembali ke kos. Surat Sri yang ditulis atas nama Ana itu, Papa bakar. Papa sakit hati. Namun, setelah libur usai, kegiatan di sekolah, dan kehidupan Kota yang menyenangkan membuat Papa cepat melupakan kejadian itu.”

Aku menghela napas lega dan memandang wajah Chris. Ia masih memelukku dan mendongakkan kepalanya—menatapku dengan bola matanya yang cantik. Untuk sesaat kupikir ia akan mengatakan sesuatu. Aku menunggu. Tapi, sepertinya apa yang ia ingin ia sampaikan berhenti di pangkal tenggorokan. Ia hanya mendekap pinggangku. Lebih erat dari sebelumnya.

“Baik Ana, Sri, maupun Lena, sudah menikah lebih dulu dari Papa. Papa sendiri butuh beberapa tahun setelahnya, baru bertemu dengan Mamamu. Itu pun Papa harus menunggu Mama selesai kuliah baru melamarnya.”

“Tapi, Papa bahagia kan sekarang?” tanya Chris.

“Tentu saja Papa bahagia. Mama adalah cinta sesungguhnya Papa, meskipun Papa pernah kenal beberapa perempuan sebelum dirinya.”

Chris agak ragu-ragu mengatakan ini: “Mungkin semua playboy patah hati dulu baru jadi playboy?”

Aku tersenyum menanggapi. “Mungkin saja, meski patah hati bukan jadi alasan. Tapi, Chris... tak mengapa kau suka atau jatuh cinta, lalu terluka atau patah hati beberapa kali dalam hidupmu, sampai nanti kau menemukan yang benar-benar cinta sejati. Gimana menurutmu?”

“Aaahh... itu rumit banget, Pa! Aku kan masih keciiil!” timpal Chris sambil tertawa.

“Jadi sekarang kau kembali jadi Tuan Puteri?” tanyaku mencubit kecil hidungnya. Ia mengangguk sambil memejamkan matanya sejenak.

“Oke. Tuan Putri harus makan dulu. Kau kurus sekali seperti Mamamu sewaktu kuliah.” Aku bangkit dari tempat tidur. Chris berdiri dan meminta aku menggendongnya di punggung. Aku turuti. Memalinnya keluar kamar, rupanya isteriku sudah berdiri di samping pintu.

“Siapa Ana?” tanyanya menggoda. “Kok Mama belum pernah dengar nama yang itu.”

Aku dan Chris-ku tertawa. “Cewek yang disukai Papa waktu SMP, Ma!” katanya melapor.

Aku menggeleng-gelengkan kepala. Lalu mencium kening isteriku. “Sebuah cerita,” kataku dengan lagak penuh rahasia. Menuruni tangga sambil memalin Chris, isteriku turut berjalan di sampingku. Mungkin aku tak berbakat jadi pelupa cinta. Tapi setidaknya, aku bisa mengarang sebuah cerita untuk menyenangkan putriku.

Sekarang, ia harus makan.




Yogyakarta
06.180114.22.32

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

Kira2 begini kesan saya pas baca tulisan ini.

“Papa masuk ya?” aduh papanya lembek amat. Seorang papa sejati gak perlu takut anaknya ngambek, gak terpengaruh sama kejengkelan anaknya. Bagaimanapun dia cuma seorang anak.

Ya ampun, kalo saya dapat 1000 rupiah tiap nemuin kalimat "Kugaruk kepalaku yang tak gatal" disebuah tulisan, sekarang saya sudah kaya!

Saya suka dengan kepolosan dalam kalimat ini. "Aku masih saja melihatnya seperti dulu saat ia belajar berjalan dengan sepatu-berbunyi-lucu."
Rasanya, kelembekan Papa bisa terampuni.

80

ternyata nggak cuma genre fantasi dan cinta yang menarik ya..
keren banget!!

80

Cerita ini bagus.
Cerita dari seorang ayah yang harus putar otak untuk berkomunikasi dengan anak perempuannya yang lagi 'ngambek' karena patah hati.
Bisa bekal juga ini buat jadi seorang ayah kelak :p hehe.

keep writing :)

wah! udah mau jadi ayah yaa?
selamat. ahak hak hak :D

80

Cerita yang bagus, rapi dan nyaman dibaca. :) salam kenal Kak. Kalo boleh tahu, gimana caranya bikin setting first line & justify di postingan? (2 kali mindahin tulisan dari word ke post jadinya malah rata kiri). Makasih, Kak Sinichi. :)

70

Cerita yang menghibur :D

2550

bagus ceritanya, meski lucu aja seorang papa tahu istilah kepo hahaha, salam kenal :D

papanya nggak tau kok, makanya pake tanda tanya di situ. ehehehe. salam kenal jugak. ahak hak hak.

BRAVOOOOO... gila, bener2 bagus banget shinici. ga' terasa sudah habis saja....

aku kira si chris itu anak durhaka, dan papanya seorang ayah yang tidak bijak, sibuk kerja dan lalai memberi perhatian sama si buah hati.

tapi aku terjebak, hubungan emosional ayah dan anak ahhh..membuat aku cemburu... jadi kangen ayahhhh...

ayahu juga seperti itu, kalau aku sedih dia bakalan bisa menenangkanku dalam sekejap lewat cerita-cerita garingnya, tapi dia tetap ayahku...

markotop shinici....

cuma untuk bagian ini yang kurang enak dibaca:

“Papa masuk ya?” sambil mendorong pintu. Memang telah kuterapkan aturan kalau pintu kamarnya tidak boleh ia dikunci dari dalam.

temukan saja dimana kekurangannya, hehehe

saya udah edit.
btw, saya tertarik bales komentar ini karena ada kata bravo itu. rasa-rasanya, bikin saya kangen punya TV dan bisa nonton pertandingan sepakbola lagi. ahak hak hak.

Writer ginting
ginting at Chris - Cerita dari Seorang Komedian (7 years 21 weeks ago)
70

suka cerita nya.. keep writing ^_^

90

saya merasa sangat-sangat terhibur...jadi curiga, jangan-jangan anda memang sudah punya anak yang berumur 14 tahun....hehehe

80

Jadi nanti kalau kalian punya anak mau dinamain nama istri, Om? Haha. Pengen punya papa kaya gitu deh :3 Btw, Salam kenal momod :p

80

saya merasa judulnya kurang tepat. lebih seperti "Nasihat Seorang Papa pada Putrinya" atau semacam itu. tapi ah saya dapet nilai 4 skala 10 untuk pemilihan judul dari Shin Elqi hahaha jadi lupakan :P
sependapat sama H. Lind, saya merasa bagian Papa membujuk putrinya agar bercerita itu bertele2. sampai separuh halaman saya menanti2, karena ada kata "komedian", sesuatu yang bakal bikin saya tergelitik. kalau dialami langsung cerita si ayah itu sebetulnya menggelikan, namanya juga kenangan akan kepolosan. mungkin karena cara penyampaiannya yang enggak langsung (diceritakan lagi oleh si ayah yang diceritakan lagi oleh penulis) jadi kenanya juga enggak langsung...
semangat menulis terus masnya :D

Writer H.Lind
H.Lind at Chris - Cerita dari Seorang Komedian (7 years 21 weeks ago)
80

Ide judulnya bagus! Tapi kukira akan lebih menarik dan mengundang penasaran apabila hanya ditulis "Seorang Komedian" saja, atau "Cerita Komedi".
.
Menurut seleraku, bagian awal ketika si ayah menjabarkan hubungannya dengan Chris dan kondisi Chris yang aneh sepulang dari sekolah terlalu bertele-tele. Ada paragraf yang mengulang informasi mengenai kesenjangan hubungan antara sang ayah dengan anak, dan menurut saya hal ini sepatutnya bisa dihindari. Juga deskripsi gadis akil balig yang berusaha dihadirkan penulis lewat poster-poster penyanyi dan grup band pop menurutku tidak diperlukan, karena lewat percakapannya pembaca telah tahu bahwa si gadis ini labil.
Bagian kedua, sebenarnya, saya mengharap akan dituliskan narasi penuh dari si bapak. Jadi cerita itu bukan dibuat dalam bentuk percakapan. Kurasa itu lebih menarik, tapi membaca hingga akhir cerita ini, kurasa kamu punya cara untuk menarik para pembaca melupakan sejenak setting yang telah ada di awal dan memusatkan perhatian pada pemuda tanggung yang kembali ke desa, Sri, dan Ana.
.
Kurasa tujuanmu menulis cerita ini, seperti yang kau tulis di note, telah tercapai. Karena cerita ini menghibur sekali! Selamat. :):)