Sempurna

Aku bercermin pada cermin, cermin yang juga bercermin kepadaku. Kulihat bayangan seorang perempuan di balik sana. Cantik. Usianya awal duapuluhan, berambut panjang sepundak, sedang tersenyum menatap kembali padaku di sisi satunya. Itu aku. Diriku sendiri yang sedang berdiri tanpa busana, memandangi diriku yang lain di sisi yang lain. Aku berkedip, dia pun berkedip. Hidungku kukembangkan, dia pun melakukan yang sama. Aku meletetkan lidahkan padanya, dan kurang ajar, dia juga meniruku. Huh. Ngomong-ngomong, kalau kau tak tahu. Aku ini sempurna.

Lihatlah bentuk wajahku. Oval imut, yang seolah Tuhan sendiri yang turun tangan membuatnya sehari-semalam, diukur dengan presisi tinggi agar menghasilkan sebuah fondasi paling indah untuk menempatkan bahan lain diatasnya. Tidak jarang ada orang yang meminta izin padaku untuk menyentuhnya, merasakan kesempurnaan kontur wajahku yang tanpa cacat. Hei. Sudahkah aku menyebutkan lesung pipiku yang dalam menggoda? Dalam mencekung, menambah kecantikanku limapuluh poin, tidak ada pria yang tidak terpana ketika lubang temporer itu menampakkan wujudnya. Iya, wajahku sempurna. Aku sempurna.

Lihatlah mataku. Begitu bulat besar, simetris sempurna tanpa cacat, melekuk indah di sudut dan melengkung cantik di sisinya. Kelopak mataku yang putih merona dihiasi bulu-bulu lentik mempesona, tanpa tambahan apapun, aku bisa pergi ke sebuah pesta dan banyak yang memuji tampilan mataku. Tanpa cela, tanpa cacat, bahkan tida segaris kantung matapun tampak menodai kesempurnaannya. Alisku tebal cantik, terpisah dalam jarak yang pas dengan presisi luar biasa. Praktiknya di lapangan? Jangan tanya. Tidak ada satupun lelaki yang bisa memalingkan wajahnya begitu aku melirik. Tidak jarang mereka sampai membuntutiku, hanya karena dilirik! Aneh kan? Tidak. Karena mataku sempurna. Aku ini sempurna.

Lihatlah hidungku. Tidak besar, tidak kecil. Menekuk indah bagaikan pahatan seniman patung legendaris. Kuping hidung yang mungil melengkapi pahatan itu, tentu saja tanpa cela, tanpa noda, tanpa efek-efek buruk rupa semacam komedo ataupun jerawat. Orang-orang yang berfokus pada hidungku saat melihat, pastilah menganggap sirkulasi yang dihasilkannya hanyalah menghisap oksigen, dan mengeluarkan oksigen. Ya, tentu saja. Karena hidungku sempurna. Aku ini sempurna.

Bibirku? Inilah yang dinamakan kesempurnaan. Merah merekah walau tanpa pewarna bibir. Orang-orang menyebutnya sensual, terbentuk indah dari dua daging pilihan yang menyatu ketika mulutku terkatup. Tidak tipis, tidak tebal, pas. Ditambah lagi dengan ketidaksempurnaan yang sempurna, gigiku gingsul menambah manis citraku sebagai wanita. Senyumku? Jangan ditanya. Kalau dijumlahkan dengan lesung pipit dan gingsul yang kumiliki, lelaki mana sih yang tidak bertekuk lutut dihadapanku? Lelaki mana yang tidak mengabulkan permintaanku ketika au tersenyum? Tidak ada, sayang, tidak ada. Tidak. Karena bibirku sempurna. Aku sempurna.

Ya. Sempurna.

Setiap mili dari wajahku adalah karya terbesar yang pernah Tuhan ciptakan, dengan segala detail dan kejelasan yang bahkan nalar manusia pun tidak mampu bayangkan. Aku tersenyum lagi, kepadaku di sisi lain sana, yang juga membalas senyumku dengan sama manisnya. Ah, cantik sekali kamu. Tidak akan ada satupun lelaki yang akan menolakku, tidak satupun. Tidak. Semua kalangan, semua orang, dari yang di atas sampai yang di bawah. Dari bukan siapa-siapa sampai publik figur. Dan yang paling miskin sampai yang paling kaya semua akan meletetkan lidahnya kepadaku seperti anjing kelaparan. Ya. Semuanya.

Semuanya.

Termasuk temanku sendiri, baru-baru ini. Ia mencoba menjamah tubuhku ketika kami sedang mengerjakan tugas kuliah di kamar kontrakanku, tentu saja aku menolak. Tapi? Dia menahan kedua tanganku, berontak? Percuma. Apa daya seorang perempuan dengan fisik terbatas melawan laki-laki? Mungkin bisa lebih buruk, tangannya bisa saja melayang ke wajahku, dan itu artinya kesempurnaanku berkurang, dan aku tak mau itu. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menangis, memejamkan mataku seerat mungkin, menunggu waktu-waktu ini terlewat dengan cepat sementara ia menikmati kesempurnaanku, tiap sentinya. Apa boleh buat. Ini karena aku sempurna.

Sahabatku? Sama saja. Lima tahun kami berteman baik, berbagi suka duka dan tawa tangis, menghabiskan waktu-waktu menyenangkan dan juga menyedihkan bersamanya. Tapi apa? Dia tetap laki-laki yang tak mampu menahan godaan dari sebuah kesempurnaan. Aku tak heran. Belum lagi teman-teman perempuanku yang satu persatu menjauhiku, katanya iri padaku. Itu masih mending, menjauh lebih baik, tak berbuat apa-apa, tapi bagaimana mereka yang terang-terangan memusuhiku? Kau tahu? Aku pernah hampir disiram air keras oleh salah seorang senior, waktu itu di Lab, kalau saja tidak ada dosen yang datang waktu itu, dijamin, sempurnaku hilang sudah.

Aku memang sempurna. Tidak ada laki-laki yang tidak tergoda olehku. Tidak ada satupun. Ya. Tidak satupun, termasuk paman-pamanku. Semuanya. Aku hafal gerakan mereka, yang seminggu sekali menginap di rumahku. Kedoknya tali silaturahmi, padahal ketika semua orang sudah tidur, mereka mengendap-endap ke kamarku, membisikanku iming-iming kadang mengancam dan mulai menggerayangi tubuhku. Aku takut? Tentu saja, aku takut ancaman mereka menjadi nyata dan kesempurnaanku hilang. Aku tak heran. Mereka tergoda itu wajar. Karena aku sempurna.

Ya. Aku sempurna. Dan kesempurnaan itu menggoda semua lelaki. Semua, kubilang, semua! Termasuk ayahku sendiri. Jangan tanyakan jumlah, aku tak mampu menghitungnya lagi. Jangan tanya seberapa hebat, badanku tak sanggup menjawab. Sekali lagi aku mengatakan, aku tak heran. Karena aku sempurna.

Apa yang kupikirkan hanya satu. Apakah aku rela berbagi kesempurnaanku ini dengan orang lain? Tidak adalah jawabannya. Mutlak. Tuhan menciptaku dengan kekhususan, sebuah mahakarya, spesial, tiada bandingan dan saingan. Apa aku rela, apa aku tega membiarkan sesuatu yang menjadi jerih payah Tuhan dinikmati atau bahkan suatu saat dirampas oleh orang lain? Tidak adalah jawabannya. Mutlak. Untuk itu aku berusaha mencegahnya, dengan jalan satu-satunya dimana mereka tak mungkin bisa menyentuhku lagi.

Aku masih bercermin pada cermin, cermin yang juga bercermin kepadaku. Kulihat bayangan seorang perempuan di balik sana. Cantik. Aku tersenyum, senyum bahagia. Kulihat pergelangan tanganku yang merah. Darah masih mengalir perlahan tapi pasti sejak tigapuluh menit lalu. Aku tak sadar, lantai kamar sudah banjir dengan darahku sendiri. Pandanganku mulai mengabur, lemas, kepalaku pening. Sakit. Tapi tak apa, sebentar lagi semua akan selesai. Semua akan berakhir dengan baik. Aku telah melakukan usaha terbaikku untuk menjaga karya Tuhan paling sempurna untuk tidak ternoda. Sebuah kehampaan. Tak ada lagi yang bisa merusaknya. Dan kamu, jangan heran. Ini karena aku sempurna.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer azraelsalvatore
azraelsalvatore at Sempurna (7 years 38 weeks ago)
80

deskripsinya bagus, ada beberapa yang typo tp ga masalah..
overall keren

Writer kucingungu
kucingungu at Sempurna (7 years 39 weeks ago)
90

kalau harus kritik tentang tulisan saya masih bingung, tetapi sebagai pembaca saya sebal endingnya bunuh diri hehe :D

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Sempurna (7 years 39 weeks ago)
80

Apik. Cuman sayang masih ada selip penulisan (yang sebetulnya ga mesti ditunjukkan karena bisa diperbaiki penulisnya sendiri apabila mau membaca pedoman EyD dan KBBI). Dan akhirannya itu.. kalau saya pribadi kurang sreg apabila apa2 mesti diakhiri dg bunuh diri. Kalau saya malah pinginnya dia nyayat mukanya aja ketimbang pergelangan tangannya hehe. Yah, ga begitu penting sih ini :9

Writer Shinichi
Shinichi at Sempurna (7 years 39 weeks ago)
70

ini keren!
hanya saja mungkin porsi tentang detil kesempurnaan itu terlalu banyak, bisa membikin pembaca kebosanan :D
kip nulis
ahak hak hak

Writer citapraaa
citapraaa at Sempurna (7 years 39 weeks ago)
80

bagus

tapi menurut saya, apa pengulangan kata "karena aku sempurna" gak terlalu banyak? hehe

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Sempurna (7 years 39 weeks ago)
90

Dalam tampilan di sini, cerita ini tidak mempunyai paragraf, kalau benar coba pisahkan jadi beberapa paragraf agar tampak sempurna

saya menemukan kata "Kuping Hidung" apa maksudnya "Cuping Hidung"?

Dan beberapa kata yang kekurangan huruf di berbagai tempat (saya hanya menemukan dua saja)

lalu tentang penceritaannya, mengalir lancar dan enak untuk diikuti dan pesannya sangat baik....

Terakhir, (ini lebih kepada pendapat egoiskku jadi jangan pedulikan) saya masih sedikit sangsi pada orang yang memotong pergelangan tangannya akan mati, soalnya darah perlahan akan membeku dan tidak akan langsung membunuhnya, kecuali dicelupkan ke air hangat...(sudahlah, lupakan)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Sempurna (7 years 39 weeks ago)

bagian yang nyayat pergelangan tangan itu, pengalaman ya mas? o_o

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Sempurna (7 years 37 weeks ago)

tidak dik, pergelangannya tangan saya terlalu cantik untuk diiris. Soalnya putih bening merona, tanpa noda gitu, dan urat-uratnya terlihat malu-malu muncul. Meski akan tampak seperti lukisan Masterpiece kalau ditambah warna merah darah, namun ada cara mati yang lebih elegan dan cantik dari itu. Yaitu ditolak oleh kamu..... #makin_malam_makin_labil hehehe