The Golden Apple: Pesan

“London?!" Anastasia terlonjak kaget,

“Lord Igdrasil mengundang kita untuk tinggal di townhouse-nya di London sepanjang season ini, sekalian untuk memperkenalkanmu di antara kalangan atas lainnya,” Mrs. Appelbaum menjelaskan.

“Demikianlah, Anastasia. Pekerjaanku membuatku harus banyak menginap di kelabku sepanjang season ini. Adik bungsuku juga berencana untuk pulang ke estat kami untuk sementara waktu. Adikku yang satu lagi akan sendirian di rumah, aku akan sangat lega jika ada yang menemaninya.

“Lagipula kupikir ini waktu yang bagus untuk debutmu, Anastasia. Tapi tampaknya ayahmu tidak begitu sependapat.”

“Papa!”

Mr. Appelbaum belum mengatakan sepatah kata pun sejak tadi. Bacon dan telur di piringnya bahkan sudah dingin, padahal ia belum menyentuhnya sedikit pun.

“Jangan salah paham. Aku tersanjung kau begitu memperhatikan putriku, Igdrasil,” akhirnya ayah Anastasia mengatakan pendapatnya, “Aku hanya tidak ingin putriku dijadikan barang tontonan oleh orang elite London.”

“Kau terlalu sinis, sayang,” Mrs. Appelbaum menyandarkan tangannya di lengan suaminya, “Lagipula kita sudah sepakat untuk membiarkan Anastasia memutuskan, bukan?”

“Tentu saja aku mau! Ah—“ Anastasia cepat-cepat menahan sergahannya sebelum ibunya sempat menegurnya, “Saya sangat tersanjung Anda berkenan mengundang saya. Tentu saja saya akan datang.”

“Ahaha… Kau tidak perlu formal seperti itu padaku, Anastasia,” Lord Igdrasil tertawa, “Tapi aku jadi semakin yakin, Mr. dan Mrs. Appelbaum, nona muda kita ini pasti akan bersinar di seluruh London.”

“Jangan terlalu memujinya, Urd, nanti dia besar kepala,” tukas Mrs. Appelbaum sambil tertawa kecil. Anastasia hanya bisa merengut.

Meski begitu, gadis itu masih tidak bisa memercayai keberuntungannya. Baru saja ia menyesali nasibnya yang ia kira akan selamanya terikat pada Blakemere dan perkebunan Appelbaum. Tapi sekarang… London! Ia akan pergi ke London! Menghadiri pesta dansa dan pesta topeng, berkuda mengelilingi Hyde Park, berjalan-jalan dan berbelanja di Bond Street… Oh, sekarang Anastasia tidak sabar untuk membalas surat Alyssa. Dan ayahnya… Andai saja ia bisa memeluk ayahnya saat itu juga!

“Aku yakin kalian butuh waktu untuk membicarakan persiapan-persiapannya,” kata Lord Igdrasil, “Sekarang aku memohon diri, ada kunjungan lain yang harus kulakukan.”

Anastasia yang tadi sedang menyeruput teh untuk menenangkan emosinya yang meluap langsung meletakkan cangkirnya kembali ke meja. Nada bicaranya terdengar kecewa, “Paman sudah mau pergi?”

“Maafkan aku, Anastasia,. Sebenarnya aku ke sini hanya untuk menyampaikan undangan tadi. Tapi kita akan lebih sering bertemu di London nanti, bukan?” jawab Igdrasil, “Kirimkan pesan ke rumahku di London begitu kau siap berangkat. Aku akan mengatur perjalanan kalian kemudian.”

“Sayang sekali kau tidak bisa tinggal lebih lama,” kata Mrs. Appelbaum, “Tapi teirma kasih banyak atas kebaikanmu, sampai datang sejauh ini hanya untuk mengundang Anastasia.”

“Itu bukan masalah. Terima kasih juga atas makanannya,” Lord Igdrasil tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya. Yang lain juga ikut berdiri.

“Aku menunggumu di London, Anastasia.”

“Ya! Terima kasih banyak, Paman!”

“Aku tidak melakukan apa-apa, sungguh,” sang Count tersenyum, “Aku permisi dulu.”

“Biar kuantar ke depan.”

Anastasia dan Lord Igdrasil berjalan menuju pintu depan diikuti Bridges yang berada di sana entah sejak kapan, meninggalkan Mrs. Appelbaum yang terus menjaga senyum sopan bersama suaminya yang masih diam seribu bahasa.

Di depan pintu rumah keluarga Appelbaum, Igdrasil tidak langsung keluar. Ia justru berbalik menghadap Anastasia.

“Anastasia, kalungmu…”

“Di sini, Paman. Tenang saja, aku masih memakainya!” ujar Anastasia sambil menarik keluar sesuatu dari balik kerah gaun paginya, sebuah liontin kecil bundar yang ia kalungkan di lehernya. Liontin itu terbuat dari tembaga, tapi bagian tengahnya memiliki lubang yang ditutupi kaca bening berisi sebutir biji berwarna emas.

Katanya ia lahir dengan menggenggam biji emas itu. Ayahnya tidak mengizinkannya meninggalkan biji itu. Lord Igdrasil juga selalu menanyakannya setiap kali ia berkunjung. Anastasia sudah memakai liontin berisi biji itu seumur hidupnya tanpa tahu benda apa biji itu sesungguhnya, tapi ia sudah terbiasa. Biji itu seolah menjadi bagian dari dirinya.

“Sepertinya lebih hangat dari biasanya,” komentar Lord Igdrasil ketika memegang liontin itu, “Di London nanti kau harus lebih berhati-hati. Kau akan bertemu lebih banyak orang dibanding yang biasa kau temui, dan mereka belum tentu sebaik dan setulus yang kau kira. Berhati-hatilah, jaga biji emas ini baik-baik.”

“M-maksud Paman?”

Anastasia tidak mengerti. Apa  yang diinginkan orang-orang dengan biji emas itu? Bahkan setelah memiliki biji itu seumur hidup, gadis itu hanya bisa menjadikannya hiasan liontin.

“Kau akan paham nanti. Aku harus pergi. Ingat pesanku baik-baik.”

“Baik, Paman… Sampai jumpa.”

“Sampai jumpa di London.”

***

Ketika malam tiba, Anastasia berencana tidur lebih awal. Lilin-lilin di kamarnya sudah dimatikan kecuali satu di sisi tempat tidurnya, tapi ia tak kunjung terlelap. Pasti ia terlalu bersemangat sampai tidak bisa tidur. Liontin biji emasnya masih terasa agak panas seperti tadi pagi—biji itu memang bisa memanas sewaktu-waktu, biasanya ketika emosi Ana sedang meledak-ledak atau terlalu bersemangat.

Bagaimana ia bias tidak bersemangat? Akhirnya ia akan memulai debut di London! Setelah selama ini mati-matian menganggap hal itu sebagai mimpi yang tak akan terkabul, akhirnya ia memiliki kesempatan untuk membuatnya menjadi kenyataan.

Ia menghabiskan sepanjang sore dengan ibunya dan para pelayan wanita membahas persiapan keberangkatannya. Ia akan pergi hari Senin minggu depan, ditemani Mabel dan seorang footman. Ayahnya tidak bisa meninggalkan perkebunan mereka dan ibunya harus tinggal untuk menemani.

Ia akan merindukan mereka. Tapi tanpa ibunya, tidak akan ada yang menegur dan mengomentari setiap gerak-geriknya.

Tapi jika ibunya tidak ikut, siapa yang bias memastikan ia bertindak pantas dan tidak dipermalukan di depan seluruh kalangan atas London?

Anastasia mendesah. Sekarang ia hanya ingin cepat-cepat terlelap. Dengan begitu, esok akan tiba lebih cepat. Hari Senin juga akan tiba lebih cepat. Itu berarti London akan menyambutnya lebih cepat.

Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.

“Ana? Apa aku boleh masuk?”

“Mama?”

Anastasia bangkit dari tempat tidur dan memakai selendang untuk melapisi gaun tidurnya yang tipis. Kemudian, ia mengambil lilin di samping tempat tidurnya—satu-satunya yang masih menyala—dan membuka pintu kamar.

“Ada apa, Mama?”

“Aku ingin bicara sebentar, sayang,” Mrs. Appelbaum melangkah masuk, “Ya ampun, gelap sekali di sini”

“Tadinya aku ingin tidur lebih awal, tapi ternyata tidak bisa,” jawab Anastasia sambil meletakkan tempat lilin tadi di meja rias di dekatnya, “Apa aku perlu menyalakan lilin lagi?”

“Tidak perlu,” jawab sang ibu. Mrs. Appelbaum duduk di depan meja rias itu. Di usianya yang sudah mendekati paruh baya, ia masih tampak cukup cantik. Rambutnya berwarna gelap dengan hanya sedikit helai kelabu—Anastasia mewarisi rambut pirang ayahnya—dan kerutan samar di wajahya memberi kesan bijaksana.

Mrs. Appelbaum menarik kedua tangan Anastasia hingga gadis itu berdiri tepat di hadapannya. Lalu, ia memandangi putrinya dengan seksama.

Selain rambutnya yang bergelombang dan keemasan, Anastasia tidak memilki apapun yang termasuk dalam standar kecantikan konvensional kalangan atas London. Gadis itu tidak gemuk, tapi juga tidak sekurus dan semungil yang disukai orang-orang. Mrs. Appelbaum juga tahu, bahkan dalam gelap sekalipun, bola mata putrinya yang kecokelatan menyala penuh semangat dan keingintahuan, sifat-sifat yang tidak seharusnya dimiliki gadis muda yang ingin mengesankan orang tua yang sedang mencarikan istri untuk putra mereka.

“Ana, kau tahu ayahmu tidak ingin kau pergi ke London.”

Anastasia tidak menjawab.

“Kau tahu, season pertamaku di London bisa dibilang gagal total.”

“Eh?”

“Aku bukan pewaris dan orang tuaku tidak memiliki gelar apapun. Aku juga tidak mencolok dan tidak suka menjadi pusat perhatian. London mencari hiburan dari orang-orang seperti itu. Untungnya di season keduaku, ayahmu datang, melihat itu semua dan cepat-cepat membawaku ke sini. Sejak saat itu kami tidak pernah kembali ke London.”

Anastasia tidak tahu harus berkata apa. Ibunya selama ini tidak pernah banyak bercerita tentang London. Ia hanya mengenal kota itu dari surat-surat, lembar berita dan buku-buku. Ana sendiri sulit percaya, bagaimana mungkin ibunya bisa ‘gagal? Dan apa maksudnya mencari hiburan?

“Di London, orang-orang yang berbeda dari yang lain akan tepinggirkan dan menjadi bahan gunjingan. Karena itu semua orang berpura-pura, awalnya untuk melindungi diri mereka, tapi lama-kelamaan mereka lupa  akan diri mereka yang sesungguhnya karena berusaha terlalu keras memenuhi harapan orang-orang.

“Selama ini mungkin kau pikir aku cerewet, tapi itu semua demi kebaikanmu. Di London, etika dan tata krama adalah pelindungmu. Hanya saja, ada satu hal yang harus kau ingat.”

“Apa… Mama?”

“Di luar itu semua, kau harus tetap menjadi dirimu sendiri.”

Anastasia mengerutkan alisnya, bingung dengan semua hal yang dikatakan ibunya. Selama ini Mrs. Appelbaum selalu berkata ‘jangan lakukan ini’, ‘jangan lakukan itu’, mengomelinya setiap ada kesempatan soal tata krama dan keanggunan. Tapi tiba-tiba malam ini perkataan sang ibu seolah bertentangan dengan semua itu.

Anastasia tidak mengerti.

“Mungkin di London nanti, mereka juga menuntut agar kau berlaku seperti orang lain, mengatakan apa yang ingin mereka dengar dan melakukan apa yang mereka ingin kau lakukan. Tapi kalau itu semua bertentangan dengan isi hatimu kau tidak perlu menurutinya. Kau mengerti?”

Anastasia mengangguk. Entah mengapa ia merasa meskipun ia meminta penjelasan, itu tetap tidak akan membantu. Berdiri dan memberi kecupan selamat tidur pada putrinya, lalu beranjak ke arah pin

“Baguslah kalau begitu.”

Mrs. Appelbaum berdiri dan memberi kecupan selamat tidur pada putrinya, lalu beranjak ke arah pintu. Namun, tepat ketika ia akan meraih gagang pintu, ia menoleh ke belakang.

“Satu lagi. Bermanis-manislah pada ayahmu seminggu terakhir ini. Sepertinya dia agak paranoid, takut kau tidak akan pulang ke sini lagi begitu kau pergi ke London.”

“Papa? Paranoid?”

Jika diingat-ingat, ia belum bicara dengan ayahnya sejak tadi pagi. Tapi Anastasia tetap saja harus menahan tawa. Membayangkan ayahnya bermuram durja karena hal semacam ini membuatnya merasa geli.

“Tadi dia mengatakan hal ini. Selamanya kau adalah Anastasia Appelbaum, putri kami satu-satunya, dan rumahmu ada di sini,” Mrs. Appelbaum melanjutkan.

“Yah, mungkin dia tidak bermaksud apa-apa, tapi yang penting aku sudah menyampaikannya. Selamat tidur, sayang!”

“Selamat tidur, Mama.”

Setelah Mrs. Appelbaum keluar, Anastasia bisa tergelak dengan bebas. Bisa-bisanya ayahnya mengira ia tidak akan pulang! Mana mungkin ia tidak kembali ke rumah?

Tunggu dulu. Ia mungkin tidak akan kembali ke rumah  Siapa tahu seseorang melamarnya? Mungkin seorang viscount muda akan menghampirinya di suatu pesta, lalu mereka akan jatuh cinta pada dansa pertama!

Jika itu terjadi, mungkin ia hanya bisa singgah di rumah untuk mempertemukan pujaan hatinya dengan kedua orang tuanya, lalu mereka akan menikah dan tinggal di estat yang akan mereka kelola berdua.

Ketika matanya terpejam, Anastasia bertekad untuk bersikap sangat manis pada ayahnya selama seminggu ini.

Read previous post:  
61
points
(903 words) posted by Riesling 8 years 1 week ago
76.25
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | historical romance | mitologi | norse
Read next post:  
Writer xenosapien
xenosapien at The Golden Apple: Pesan (7 years 48 weeks ago)
70

Hmm, aku penasaran kenapa kata season gak kau tulis musim. Aku yakin ada maksud tertentu, tapi belum tampak jelas sampai di sini. ^^a
.
Ah, sedikit komen. Ada perpindahan penyebutan nama dan gelar yang agak kaku, jadi rasanya seperti gak konsisten. Sejak awal kau memberi Igdrasil gelar lord, tapi sempat satu kali menyebutnya count sebelum kembali ke sebutan gelar semula. Kurasa gak semua tahu fungsi gelar lord dan count pada diri seseorang. Lalu, ada satu saat Anastasia pun kau sebut Ana di narasi setelah ibunya memanggilnya seperti itu. Menurutku sih lebih bagus jika nama Anastasia tetap digunakan di narasi, sementara nama kecil/panggilan ditaruh di dalam dialog/kutipan, kecuali jika ada kondisi yang memaksa.
.
Sisanya, ada typo "bias" yang maksudnya mungkin "bisa". :)
.
Dan.... Err, tega nian Anastasia berpikir mau tertawa di atas penderitaan kecemasan ayahnya. -_____-"
.
Anw, sepertinya ceritanya mulai menarik, terutama soal biji emasnya. Oke siip. Aku lanjut ke bagian berikutnya kalau begitu. ^^/

Writer Riesling
Riesling at The Golden Apple: Pesan (7 years 48 weeks ago)

Saya gak pake 'musim' buat ngebedain artinya. Season di London itu sebenernya satu musim setiap tahun waktu bangsawan2 berkumpul di London buat ngejalanin tugas di parlemen. Karena para bangsawan ini pada ngumpul di London, season ini juga dijadiin ajang bersosialisasi. Banyak pesta-pesta yang diadakan. Jadi ajang cari pasangan juga.
.
Lord sama Count juga gak sama. Lord itu buat panggilan, sementara Count itu gelar, kayak marquess atau earl. Gelar mereka itu, tapi kalo dipanggil, tetep pake Lord. Tapi ntar saya coba cek lagi, mungkin ada yang ketuker.
.
*catat soal nama Ana*catat typo*
.
Makasih udah mampir m( _ _ )m

Writer xenosapien
xenosapien at The Golden Apple: Pesan (7 years 48 weeks ago)

Ah, sudah kukira kalau arti season di sini semacam acara tahunan gitu. Siip. :)
.
Aku tahu bedanya sebutan lord dengan count. Masalahnya penyebutan gelar count pada Igdrasil terasa mendadak, Ries. Kaku. Karena itu, menurutku, kalau sebelumnya ada situasi yang menegaskan status/posisi Igdrasil sebagai count pada hirarki kebangsawanan Inggris (atau dari negara dimana ia berasal), kurasa penyebutan gelar count pada Igdrasil--yang aku yakin pasti bakal jarang dipakai di cerita ini :P--bisa lebih mulus di bab-bab berikutnya.
.
Hehehe... Sama-sama, Ries. Aku juga senang bacanya koq. :)

Writer Riesling
Riesling at The Golden Apple: Pesan (7 years 48 weeks ago)

oh, posisinya ya... Saya ga kepikiran soal itu. Di bayangan saya dia tipe orang asing yang tiba-tiba muncul dan gak ada yang tahu latar belakangnya. Tapi tiba-tiba munculnya itu kejadiannya udah lama, jauh sebelum cerita dimulai @@.
Ntar coba saya pikirin lagi deh~
.
Makasiiih >w<

Writer addang13
addang13 at The Golden Apple: Pesan (7 years 50 weeks ago)
80

(ini komen dari pembaca awam, just take it with a grain of salt)

baca dari atas kebawah (belum baca chapter sebelumnya, dan setelahnya) rasanya seperti nda terjadi apa-apa di sini. mungkin chapter ini buat build up y? sepertinya sa perlu baca chapter sebelumnya dulu ._.

my guess:
> dia anak pungut (hell, namanya anastasia tapi tinggal sama penghuni asgard)
> itu kalung emas (itu kalung kan?) penanda kalau dia anak orang penting (damn,.,., sepertinya kebanyakan nonton sinetron ini saya)

oh iya, terlanjur pake mr, mrs, townhouse, dan kata serapan lainnya (itu kata serapan kan?) tapi kenapa Kelab nda sekalian pake Club juga? (eh... sa nda salah tangkap kan? kelab = club?)

overall: sa mau baca chapter sebelumnya dulu

Writer Riesling
Riesling at The Golden Apple: Pesan (7 years 50 weeks ago)

soal tebakannya bisa dijawab di bagian sebelumnya xDD
mr, mrs lalala kan masih kata asli bahasa inggris, ga ada kata serapannya. Kalo panggilan gak saya terjemahin karena awkward, lalu townhouse itu karena saya gak tau padanan indonesianya apa :p (di perumahan juga bilangnya tipe townhouse sih). Tapi kelab itu kan kata serapan dari club, makanya saya pake~
makasih udah mampir~

Writer Illyasviel_Emiya
Illyasviel_Emiya at The Golden Apple: Pesan (7 years 51 weeks ago)
100

Illya hadir di sini!
.
Annoying adv aside, Saya seneng sama chapter ini. Berasa diperkenalkan sama kebudayaan london abat 19 kebelakang.
.
Lanjutkan!

Writer Riesling
Riesling at The Golden Apple: Pesan (7 years 51 weeks ago)

aye~

Writer kueportugal
kueportugal at The Golden Apple: Pesan (7 years 51 weeks ago)

Hello! Ketika Anda melihat prospek mendapatkan uang ekstra ? Jika Anda siap untuk mendapatkan uang di samping , pendapatan utama mereka dan jika Anda tidak takut kesulitan , maka saya sarankan Anda kemitraan . Sekarang saya mengumpulkan tim yang terdiri dari orang-orang dari seluruh dunia , karena itu akan membuat uang bersama-sama! Kita perlu setiap !Jangan khawatir , Anda tidak perlu dari masyarakat bahwa keterampilan tertentu . Aku akan menjelaskan semuanya kepada Anda , dan Anda membuat keputusan sendiri .
Apa yang akan Anda ingin lebih memahami apa yang sedang terjadi , ikuti link tersebut dan membaca semuanya . Saya yakin Anda akan mengerti !Lebih lanjut hubungi saya di kontak dan saya akan menjawab semua pertanyaan Anda dan memberi Anda langkah demi langkah prosedur yang akan memungkinkan Anda untuk mencapai hasil yang bagus dalam beberapa minggu !
http://ojooo.2bj.ru/

Writer kueportugal
kueportugal at The Golden Apple: Pesan (7 years 51 weeks ago)

Hello! Ketika Anda melihat prospek mendapatkan uang ekstra ? Jika Anda siap untuk mendapatkan uang di samping , pendapatan utama mereka dan jika Anda tidak takut kesulitan , maka saya sarankan Anda kemitraan . Sekarang saya mengumpulkan tim yang terdiri dari orang-orang dari seluruh dunia , karena itu akan membuat uang bersama-sama! Kita perlu setiap !Jangan khawatir , Anda tidak perlu dari masyarakat bahwa keterampilan tertentu . Aku akan menjelaskan semuanya kepada Anda , dan Anda membuat keputusan sendiri .
Apa yang akan Anda ingin lebih memahami apa yang sedang terjadi , ikuti link tersebut dan membaca semuanya . Saya yakin Anda akan mengerti !Lebih lanjut hubungi saya di kontak dan saya akan menjawab semua pertanyaan Anda dan memberi Anda langkah demi langkah prosedur yang akan memungkinkan Anda untuk mencapai hasil yang bagus dalam beberapa minggu !
http://ojooo.2bj.ru/