Amelia (7)

7

The past cannot be cured - Queen Elizabeth I

 

            Seperti anak lainnya di hari pertama masuk sekolah, Hoshi melenggang memasuki gerbang sekolah barunya bersama Chi dengan senyum lebar terlukis di wajahnya.

            “Senang rasanya diterima di SMP idaman!” kata Chi begitu antusias. “Bagaimana menurutmu, Hoshi?”

            Hoshi juga tidak kalah antusiasnya. “Bagian yang paling menyenangkan adalah kita sekelas! Bagaimana kalau kita juga duduk bersebelahan?”

            Chi menyambut baik usulan itu. “Tentu saja!”

            Mereka menyebrangi lapangan sekolah untuk memasuki gedung sekolah yang sudah menanti. Sebelumnya mereka diharapkan untuk hadir di gedung auditorium untuk upacara penyambutan.

            Sebagian siswa siswi baru telah datang. Mereka juga terlihat antusiasnya seperti Hoshi dan Chi. Penasaran bagaimana nantinya kehidupan baru mereka saat SMP, berjanji untuk belajar lebih giat demi mendapatkan SMA favorit, dan cepat-cepat ingin merasakan suka duka bersama teman-teman baru.

            Saat mereka hendak menuju gedung auditorium, mereka melihat ada kerumunan di samping gedung auditorium. Di sana merupakan sisi pekarangan sekolah yang ditanami pepohonan sakura yang rindang. Namun pemandangan yang ada di bawah pepohonan itu sama sekali tidak menyenangkan.

            Kerumunan itu terdiri dari beberapa senior laki-laki yang sepertinya suka menindas orang yang lebih lemah dari mereka. Hoshi melihat di antara mereka ada seorang siswa baru yang terlihat kepayahan menghadapi mereka. Ada lebam dan ekspresi kesakitan terlihat di wajah anak lelaki itu.

            “Mereka sedang apa?” tanya Hoshi. “Jangan-jangan mereka mengganggu siswa baru?”

            “Mungkin senior-senior itu sedang memberi dia ‘pelajaran’?” kata Chi tidak ingin ikut campur.

            “Tapi ini kan hari pertama masuk sekolah. Masa sudah babak belur? Itu kan tidak adil. Lagipula dia juga teman baru kita, siapa tahu kita sekelas dengannya nanti.” Ujar Hoshi.

           “Lalu apa yang bisa kita lakukan? Menyeruak masuk dan melawan mereka begitu saja?” tanya Chi sarkastik.

            Namun Hoshi serius menanggapi ucapan Chi. Dengan sigap ia mendekati kerumunan senior itu tanpa menghiraukan panggilan Chi yang menyuruhnya kembali.

            “Hei, jangan ganggu dia! Dia temanku!” Hoshi menghardik para senior yang masih tetap mengganggu anak itu.

            Perhatian mereka jadi teralihkan pada Hoshi yang menghardik mereka. Salah satu dari mereka yang berwajah culas merespon Hoshi dengan nada mengejek, “Lalu? Apa itu urusan kami?”

            Hoshi mendadak ciut ketika lima senior di depannya ini menatapnya sinis dan menantang, seolah mereka tidak peduli Hoshi adalah seorang gadis. Tetapi ia tidak mau memperlihatkan kelemahannya. “Ma... maksudku, dia mempunyai kesalahan apa pada kalian? Ini baru hari pertama masuk sekolah.”

            “Itu bukan urusanmu, bule aneh!” mereka mulai menarik rambut Hoshi yang dikuncir dua. “Kau ingin sok pahlawan disini, ya? Berani sekali kau...”

            “Kau jangan macam-macam denganku!” Hoshi dengan paksa menarik tangan senior dari rambutnya dan memuntirnya hingga ia menjerit kesakitan. “Kalau kau sekali lagi berani mengganggunya lagi...”

            “Sa.. sakit!” jerit si senior seakan ia lupa kalau ialah yang memimpin gengnya. “Lepaskan aku!”

            Begitu diminta, Hoshi langsung melepaskannya. Namun mereka tidak begitu saja menyerah. Mereka mengepung Hoshi untuk memberinya pelajaran. Namun sebelum mereka bisa mengeroyok Hoshi, untungnya ada seorang guru yang memergoki perbuatan buruk mereka.

            “Hei, kalian! Jangan ganggu adik kelas kalian atau kalian kuhukum!”

            Mendengar ancaman itu, para senior langsung lari terbirit-birit. Hoshi menghela napas lega karena ia tidak harus menghadapi senior-senior pengecut itu lebih jauh lagi.

            Ia pun beralih ke anak lelaki yang kini duduk tertunduk malu di bawah pohon. Hoshi mengambil tas milik anak itu yang terlempar tidak jauh dari mereka dan memberikannya, “Ini. Kau tidak usah takut lagi.”

            Anak itu masih terdiam dan bergetar ketakutan. Sedikit pun ia tidak mau mengangkat kepalanya untuk melihat Hoshi. Hoshi memahami rasa takut yang masih dirasakan anak itu dan mencoba menenangkannya. “Aku teman barumu. Kurasa kita seangkatan. Benarkah itu?”

            Berkat sapaan Hoshi yang ramah, anak itu mulai memberanikan diri memperlihatkan wajahnya. Melihat wajah anak itu, Hoshi terperangah. Ia langsung merasa tidak heran jika para senior itu mengganggunya.

            Anak lelaki di depannya ini terlihat tidak jauh berbeda darinya. Ia memiliki rambut berwarna cokelat, sama sepertinya. Wajahnya juga tidak terlalu oriental seperti orang Jepang kebanyakan. Ditambah lagi, saat Hoshi menyadari anak itu memiliki mata berwarna biru yang sangat indah.

            “Kau bukan orang Jepang, ya?” tanya Hoshi. Anak itu tidak menjawab. Entah karena dia tidak mengerti bahasa Jepang atau tidak berani untuk menjawab. Namun ternyata hanya membutuhkan waktu beberapa lama sebelum anak itu menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Hoshi.

            “Kau berasal dari mana?” tanya Hoshi lagi. Sepertinya anak ini mungkin mengerti bahasa Jepang, tetapi ia belum memiliki kepercayaan diri untuk menggunakannya.

            “Ir... Irlandia...” jawab anak itu gagap dan nyaris tidak terdengar.

            Memastikan dia tidak salah dengar, Hoshi langsung duduk di samping anak itu dan bertanya lagi, “Kau dari Irlandia?”

            Anak itu mengangguk. Dia khawatir gadis di sampingnya akan menganggap dirinya aneh karena jawabannya. Namun sebaliknya, gadis itu malah tampak berseri-seri dan menjawab. “Aku juga berasal dari sana!”

            Dia tentu saja kaget mendengar jawaban Hoshi. Dia sama sekali tidak menyangka akan bertemu teman baru yang sebangsa dengannya.

            “Dia dhuit! Hoshi is ainm dom!” Hoshi mengulurkan tangannya dan mengajaknya berkenalan dengan bahasa Irlandia.

            Gadis bernama Hoshi ini pasti mengajaknya berkenalan dengan bahasa Irlandia untuk bisa mengakrabkan diri dengannya. Dan tidak ada seorang pun dalam seumur hidupnya mengajaknya berkenalan seperti itu. Terkesan olehnya, anak itu mulai tersenyum dan menyebutkan namanya. “Shou...”

            “Senang bertemu denganmu, Shou!” kata Hoshi. “Aku kaget sekali bertemu dengan teman baru yang berasal dari Irlandia juga!”

            “Kau orang Irlandia?” tanya Shou gugup.

            “Ngg... tidak juga. Ibuku yang orang Irlandia. Ayahku orang Jepang. Dia membawaku kesini saat aku berumur 8 tahun.” Hoshi bercerita singkat tentang dirinya. “Lalu, bagaimana denganmu, Shou?”

           “Aku baru pindah kesini seminggu yang lalu...” jawab Shou dengan bahasa Jepang yang masih belum lancar. “Te... terima kasih atas pertolonganmu.”

            “Tidak masalah. Terkadang anak-anak seperti mereka harus diberi pelajaran!” kata Hoshi berapi-api. Shou pun tergelak dibuatnya.

            “Kau berani sekali tadi...” kata Shou.

            “Yah, ayah mengajariku untuk melawan jika kita sedang ditindas. Dia seorang polisi dan mengajariku sedikit tentang bela diri.” Jawab Hoshi.

            “Ayahku seorang dokter.” Jawab Shou.

            “Itu bagus. Kau tidak perlu repot-repot ke rumah sakit jika sedang sakit.” Kata Hoshi.

            Sekali lagi Shou tertawa. Gadis di depannya adalah orang pertama yang mau mengajaknya berbicara setelah sekian lama.

            “Kau kelas berapa?” tanya Hoshi. “Aku dari kelas 1-3.”

            “Aku juga dari kelas 1-3.” Jawab Shou.

            “Kita sekelas juga!” Hoshi berseru senang. “Baiklah, mulai sekarang, kita berteman, ya!” Hoshi mengulurkan tangannya lagi, mengajak Shou berjabat tangan sebagai awal pertemanan mereka.

            Walaupun masih malu-malu, Shou tetap membalas uluran tangan yang bersahabat itu. “Ya, tentu saja...”

            “Hoshi! Ayo cepat! Sebentar lagi kita sudah harus masuk!” Chi yang mengkhawatirkannya memanggil Hoshi dari jauh.

            “Oh, temanku memanggil. Kita ke auditorium bersama-sama, yuk!” Hoshi mengajak Shou.

            “Eh... tapi...” Shou tidak yakin. Baju seragamnya berantakan dan wajahnya lebam karena dipukuli oleh senior-senior jahat tadi.

            “Tenang saja.” Hoshi menarik Shou untuk berdiri dan membantunya merapikan seragamnya. “Ini hari pertamamu. Hadapilah dengan semangat!”

            “Tapi, wajahku...” Shou masih tetap minder. “Bagaimana kalau ada guru yang melihatnya?”

            “Kau tetap terlihat tampan!” Hoshi tidak peduli dan malah memujinya. “Bilang saja pada mereka kau terlalu bersemangat datang ke sekolah sampai tersandung dan jatuh di jalan. Hihihi...”

            Shou tersenyum lagi karena saran dari Hoshi yang cukup konyol namun dapat dipercaya.

            “Ayo!” Hoshi menarik tangan Shou. “Jangan sampai kita terlambat.”

            Shou tidak melawan saat Hoshi menarik dirinya dan mengajaknya berkenalan dengan temannya yang bernama Chi sebelum mereka memasuki auditorium. Mulanya Shou sempat ketakutan dan minder saat ia datang ke sekolah ini. Firasatnya benar ketika para senior tadi menghadangnya di depan pintu gerbang dan menyeretnya ke samping sekolah tadi. Saat mereka mengganggunya, Shou berpikir hidupnya akan berakhir disitu karena ia tidak sanggup untuk melawan.

            Namun setelah kemunculan Hoshi dan sikapnya yang sangat ramah kepadanya, sebuah harapan baru turut muncul di dalam dirinya. Terlebih lagi gadis itu tidak hanya ramah, namun juga menerima dirinya apa adanya.

Read previous post:  
23
points
(899 words) posted by Mhysa 7 years 13 weeks ago
57.5
Tags: Cerita | Novel | thriller | Cinta | jepang | misteri | pembunuhan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer azraelsalvatore
azraelsalvatore at Amelia (7) (7 years 11 weeks ago)
90

asikk!! keluar juga lanjutannya..
hemm sejauh ini cerita masih mengalir sebagai mana mestinya,
Oke keep up!

Writer Mhysa
Mhysa at Amelia (7) (7 years 11 weeks ago)

oke!! ^^d
terima kasih banyak udah dibaca!! :D