The Golden Apple: Kelab di Regent Street

Tyrell Howard menaiki keretanya dari rumahnya di Mayfair menuju Regent Street, tempat kelab langganannya—Golden Apple—berada. Tampilan kelab itu tidak tampah ramah dan mengundang sedikit pun, hanya bangunan bertingkat biasa, bahkan tanpa papan nama.

Golden Apple adalah gentlemen’s club yang eksklusif—tidak, eksklusif bukan kata yang tepat. Ada belasan kelab ‘eksklusif’ di London, dengan tampilan luar dan interior yang mewah dan congkak, di mana hanya mereka yang memiliki gelar paling tinggi atau harta paling melimpah yang diizinkan masuk dan menjadi anggota. Di Golden Apple, bahkan seorang duke sekalipun tidak diperbolehkan masuk jika tidak memenuhi kriteria.

Tyrell memenuhi kriteria itu—suatu ‘kenyataan’ yang masih terasa ajaib bahkan setelah tiga tahun ia menjadi anggota Golden Apple.

Tyrell menyuruh kusirnya pulang, menunggu hingga ia ditinggal sendiri di pintu masuk Golden Apple dan membuka sarung tangan kanannya. Lalu ia menjentikkan jemarinya yang telanjang.

Muncul percikan cahaya yang berdesis sinis. Percikan yang hilang secepat kemunculannya.

Dulu percikan yang muncul lebih hebat dari itu. Munculnya tiba-tiba, kuat dan menyambar seperti badai petir di siang bolong. Orang-orang jadi menghindarinya. Ia bahkan hampir dikeluarkan dari Eton. Itu, ditambah dengan suara-suara yang terkadang muncul dari dalam dirinya. Suara yang seolah merupakan sosok yang berbeda namun bersembunyi dalam tubuhnya. Suara yang terkadang membuatnya melakukan hal-hal yang tak pernah terpikirkan olehnya sebelumnya.  Kalau bukan karena pengaruh keluarganya dan seorang lain—sponsor sekaligus pendiri Golden Apple sekarang—ia bukan hanya akan dikeluarkan dari sekolah. Ia mungkin tidak akan bisa menampakkan diri di masyarakat sama sekali.

Lalu, lama-kelamaan percikan itu melemah hingga tinggal kilatan cahaya yang sedikit menyengat dan padam seketika. Seperti sekarang.

Ketika ia pertama kali diundang ke Golden Apple lima tahun yang lalu, saat itu jugalah ia tahu dari mana datangnya ‘kekuatan’ anehnya dan suara-suara yang ia dengar, sesuatu yang serupa dengan apa yang dimiliki anggota kelab lainnya.

“Kau terlambat, Thor!”

Seorang pemuda menyambut Tyrell begitu ia memasuki ruang duduk kelab.

Di sini, di Golden Apple, orang-orang memanggilnya Thor, dewa kuno yang konon bersemayam dalam dirinya. Sementara pria yang barusan menyapanya adalah William Russell, titisan Odin. Sama seperti anggota kelab lainnya yang juga terhubung dengan dewa-dewa lain.

Itulah keistimewaan Golden Apple, sebuah kelab tempat berkumpulnya titisan para dewa.

Tyrell kesulitan memercayai ini semua ketika ia pertama kali dibawa ke kelab ini oleh Lord Igdrasil, bangsawan dari negeri asing yang mensponsori kelab ini dan menyelamatkannya dari ancaman terusir dari Eton lima tahun yang lalu. Ia tidak bisa menerima bahwa ternyata dewa-dewa yang seharusnya hanya ada di syair legenda sungguh pernah ada, bahwa setelah zaman kejayaan mereka berakhir, mereka tinggal di antara manusia biasa sebagai sosok yang abadi, dan seiring makin terlupakannya mereka, mereka tinggal sepotong kecil kesadaran yang tersembunyi dalam manusia biasa yang lahir, memberi mereka kekuatan maupun potongan ingatan dewa yang bersangkutan, memastikan jejak mereka di bumi ini masih memiliki sisa.

Sekarang Tyrell sudah menyerah mencari penjelasan logis untuk semua itu. Akal sehatnya masih mencoba memberontak, tapi dia sudah hidup dengan kegilaan ini selama lima tahun. Ia memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi. Toh itu tidak memengaruhi kehidupannya, dan kisah dewa sialan ini memang bisa menjelaskan kemampuannya menciptakan percikan petir.

Golden Apple menjaga manusia-manusia seperti ini, yang dibuat gila akibat ingatan dan kekuatan para dewa yang mengacaukan hidup mereka seenaknya, agar mereka tetap memiliki kewarasan yang tersisa.

“Sepi sekali,” komentar Tyrell sambil menggantung mantel dan topinya. Pada jam segini, kelab me mang biasanya tidak terlalu ramai, tapi hari ini lebih sepi dari biasanya. Hanya ada Russell yang duduk di sofa di depan perapian. Bahkan kepala staf dan anak buahnya tidak terlihat satu pun.

“Sudah kubilang, kau terlambat. Tadi Lord Patron mengirim pesan.”

“Pesan apa?”

“Coba tebak.”

“Ya sudah.”

“Kau ini benar-benar membosankan,” keluh Russell, “Tadi Lord Igdrasil mengabarkan bahwa Idun sudah tiba di London.”

“Lalu?” gumam Tyrell acuh tak acuh.

“Ayolah, Thor. Kau tidak punya reaksi yang sedikit lebih menarik?” Russell memprotes lagi. Tyrell memang hampir tidak peduli sama sekali dengan kemunculan dewa atau dewi baru dibanding anggota kelab lainnya. Tampaknya dua bulan menjadi anggota belum cukup untuk membuat Russell terbiasa dengan hal itu.

“Aku tidak perlu meminta maaf untuk itu kan?” sahut Tyrell sinis, “Memangnya apa yang bisa kita lakukan dengan keberadaannya di London?”

Russell mengangkat bahu, tapi jelas sekali ia sedang merencanakan sesuatu.

“Tidak bisakah kita mengundangnya ke sini? Aku butuh teman perempuan,” terdengar suara wanita yang berkomentar dari tangga bagian atas. Tyrell menoleh ke arah sumber suara, hanya untuk cepat-cepat memalingkan muka.

“Setidaknya kau bisa memakai pakaian sungguhan di siang hari.”

Wanita itu tertawa.

“Seolah kau tidak pernah melihatku telanjang saja, Lord Howard!”

Para anggota kelab memanggil wanita itu Freyja. Dia memang inkarnasi dari sang dewi cinta dan kecantikan sendiri. Dan dia memang cantik, tidak ada yang bisa menyangkal hal itu. Di malam hari, Freyja menari di Golden Apple dan beberapa kelab lainnya. Sebagai gantinya, Lord Patron mengizinkannya tinggal bersama adik lelakinya di kelab, menjadikannya satu-satunya wanita yang bebas keluar-masuk sebuah gentlemen’s club.

Dan tampaknya karena pekerjaannya itu, ia tidak merasa ada yang salah melenggak-lenggok di depan Russell dan Tyrell hanya berbalut gaun tidur yang nyaris tembus pandang. Dengan santai gadis itu menghampiri mereka dan merangkul Russell dari belakang.

“Jadi bagaimana? Tidak bisakah kau mengundangnya ke sini… Your Grace?” ucapnya di telinga Russell, cukup keras hingga Tyrell bisa mendengarnya dengan jelas.

“Kakekku masih hidup, sayang, belum waktunya kau memanggilku seperti itu,” Russell mengelak, tapi jelas wajahnya terlihat senang. Pemuda itu masih terlalu hijau, ekspresinya selalu bisa terbaca dengan mudah, “Soal mengundang Idun kemari… Well…

“Tidak,” Tyrell menolak dengan tegas.

“Thor?” Russell menelengkan kepalanya ke satu sisi, seolah meragukan ucapan Tyrell. Freyja sendiri langsung menghela nafas panjang, kesal.

“Dia perempuan.”

“Aku perempuan!” Freyja tidak mau kalah.

“Dia wanita terhormat.

Freyja tidak bisa menjawab yang satu itu.

Tyrell menghindari tatapan Freyja. Dia agak merasa bersalah, tidak seharusnya ia bicara seperti itu barusan. Apapun yang ia lakukan untuk menghidupi dirinya sendiri, Freyja tetap seorang wanita, dan Tyrell baru saja menghina gadis itu. Jelas bukan kelakuan yang pantas untuk seorang pria terhormat.

“Maaf.”

“Tidak perlu,” Freyja tak acuh, tidak ingin Tyrell mengira ucapannya tadi bisa melukai gadis itu, “Aku tidak gila hormat seperti kalian.”

“H-hei, kalian…” Russell mencoba mencairkan suasana, “Thor, apa salahnya jika Idun kita undang ke sini? Bahkan Lord Igdrasil sendiri yang mengundangnya ke London, bukan? Kurasa dia tidak akan keberatan, dan dia adalah pemilik kelab ini!”

“Tapi orang-orang akan keberatan. Meski setengah rahasia, orang-orang tahu tempat ini adalah gentleman’s club,” Thor mencoba menjelaskan, “Menurutmu apa yang akan terjadi jika mereka melihatnya, seorang gadis muda yang baru datang ke London, masuk ke dalam kelab ini?”

Gadis titisan Idun itu sudah cukup lama menjadi pembicaraan di Golden Apple. Semua obrolan tentangnya cukup memberi informasi tentang gadis itu. Usianya masih muda, seumur hidupnya dihabiskan di perkebunan apel milik ayahnya di Herefordshire, dan ia baru pertama kali datang ke London—dengan kata lain, seorang debutan. Kalau dia bisa menumbuhkan pohon apel emas dengan satu jentikan jari, Tyrell pasti sudah mendengarnya.

Gadis itu tidak memiliki kekuatan aneh seperti itu. Gadis itu tidak memiliki kekuatan aneh yang bisa meledak kapan saja seperti dirinya. Gadis itu bisa hidup dengan normal di masyarakat seperti manusia biasa lainnya. Dia tidak membutuhkan tempat pelarian seperti Golden Apple. Jika ia sampai terlihat di sekitar sini, itu hanya akan menghancurkan reputasinya.

“Apa kau selalu sekaku itu? Pasti ada cara. Pintu belakang, samaran…”

“Memangnya kenapa ia harus ada di sini, Russell?” sergah Tyrell.

“Huh? Gadis itu juga seorang dewi. Bukankah tempatnya memang bersama kita di sini?”

Ada sesuatu dalam nada bicara Russell yang terasa mengganjal, “Kau merencanakan sesuatu.”

“Rencana? Kau terlalu serius—“

“Aku tidak paham dengan kalian semua,” Tyrell memotong, “Bukan hanya kau. Lord Igdrasil dan yang lain juga. Kalian benar-benar mengira gadis itu bisa membuat kita menjadi dewa sungguhan dan hidup abadi?”

“Apa yang salah dengan itu? Dalam legenda, keabadian para dewa memang berasal dari apel emas milik Idun bukan? Dan kita tahu gadis itu memiliki bijinya! Kau bisa memanggil petir. Aku bisa melihat masa depan. Mengapa gadis itu tidak bisa membuat kita hidup abadi?”

“Petirku—“ Tyrell menghampiri Russell dan menjetikkan jari tepat di depannya, “—tidak lebih dari sekedar trik sulap konyol.”

Percikan cahaya muncul dan langsung padam begitu saja di depan wajah Odin, persis seperti ketika ia melakukannya di depan pintu kelab tadi.

“Kemampuanmu sendiri hanya kau pakai untuk mengintip kartu lawan saat berjudi, itu juga tidak selalu berhasil.”

Senyum yang sebelumnya seolah terukir permanen di wajah Odin lenyap, digantikan tatapan yang muram dan mengancam.

“Aku tidak ragu kalau apel Idun kita ini bisa menyembuhkan sakit kepala atau semacamnya, tapi hanya sampai di situ. Keabadian itu konyol.”

Di luar dugaan, Freyja beranjak dari sisi Odin dan berdiri di antara kedua pria itu. Kedua lengannya dilipat di bawah dada, matanya menatap Tyrell lurus-lurus seolah menantang, “Kurasa kita akan segera tahu kebenarannya, Lord Howard.”

“Apa maksudmu?”

“Saat ini adikku sedang mengikuti gadis itu. Kurasa ia akan kembali dengan biji apel emas yang tersohor itu.”

Read previous post:  
25
points
(1683 words) posted by Riesling 7 years 51 weeks ago
62.5
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | historical romance | mitologi nordik
Read next post: