[Round 7] Mahesa Werdaya – Banteng Yang Perkasa

"Jangan biarkan dirimu diperalat orang,

Bangunkan kesadaranmu,

Perkaya dirimu dengan pengalaman,

Dan tentukan jalanmu sendiri."

–Atharva Veda–

 

IRSS CHEKOV

 

Clive dan Deus tampak tengah mengamati puluhan jendela antarmuka yang terpampang di layar yang ada di hadapan mereka. Deus tampak memijat-mijat dagunya yang sudah mulai ditumbuhi bulu-bulu halus, “Menarik, aku tak menyangka alam pikiran salinan Manusia Awatara bisa sekompleks itu.”

 

“Dapat sesuatu?” Tsuki tiba-tiba masuk ke dalam ruangan itu melalui sebuah teleporter berbentuk pilar hijau yang ada di dinding samping ruangan.

 

“Papa,” Clive melemparkan sebuah jendela antarmuka hologram ke arah Tsuki, Tsuki menangkap jendela hologram itu dengan satu tangannya lalu memperhatikan rentetan grafik serta uraian yang ada di sana.

 

“Jadi?” Tsuki kembali bertanya.

 

“Kompeksitas pikirannya menarik. Ketika kami menciptakan sosok Kali dalam dimensi pikirannya dia balas menciptakan sosok Hanoman,” ujar Deus.

 

“Benar-benar pilihan yang tepat untuk melawan anak buah si Blackz,” timpal Clive.

 

“Aku penasaran apa yang bisa pikirannya ciptakan di realitas emas ini. Apakah ia akan menciptakan dewa?” Deus bertanya-tanya.

 

“Aku rasa mustahil ia menciptakan dewa lagi,” balas Tsuki.

 

“Kenapa Papa?” tanya Clive.

 

“Karena ia sudah sadar bahwa dirinya adalah salinan.”

 

“Apa itu akan menurunkan daya juangnya?” Clive tampak khawatir. Jujur saja ia tidak rela jika sosok stick figure hitam bernama Blackz itu menjadi penguasa realitas emas.

 

“Entah, mari kita lihat saja nanti.”

 

“Kenapa Papa tidak tampak khawatir?” tanya Clive lagi.

 

“Karena aku percaya padanya.”

 

 

REALITAS EMAS

 

Realitas Emas masih berwujud butiran partikel emas yang bentuknya berubah-ubah dari waktu ke waktu. Terkadang ada sebagian yang berwujud cakram, ada sebagian yang berwujud seperti awan nebula kepala kuda (horsehead nebula), ada yang berwujud seperti kepala-kepala lukisan abstrak, ada yang berwujud seperti hewan-hewan namun semua itu tak berlangsung lama, sesaat kemudian wujud-wujud itu segera buyar menjadi partikel emas kembali.

 

Mahesa berdiri di antara sekian banyak gelombang partikel yang berlarian kesana-kemari. Tapi orientasinya kini kacau, karena atas-bawah, kanan-kiri, tinggi-rendah, dan semua konsep inderawi lainnya sudah tak berlaku di sini.

 

Dan dia mulai bosan.

 

Tsuki menyuruhnya menunggu sampai dia datang tapi di dunia yang isinya hanya partikel-partikel emas yang menari-nari, Mahesa merasa waktu berhenti di tempat. Tidak ada makhluk hidup di sini, tidak ada laut di sini, tidak ada hutan di sini, tidak ada bangunan di sini. Hanya ia sendiri.

 

Lalu muncullah dua sosok itu di hadapan Mahesa. Sosok Kali dan Hanoman.

 

“Tak bisakah kalian berhenti menggangguku?” hardik Mahesa sebal.

 

Raut wajah Hanoman tampak merengut kesal, “Hei Nak, jaga sikapmu!”

 

“Dia takkan jaga sikap di hadapan utusan dewa yang telah merenggut segalanya dari dirinya. Bagaimana Mahesa? Aku masih membuka tawaranku,” ujar Kali.

 

“Aku,” Mahesa menuding ke arah dua sosok itu, “Tidak mau dengar omongan kalian berdua!”

 

“Wow!” Kali menampilkan ekspresi pura-pura terluka, “Itu menyakitkan,” tapi matanya tampak meledek Hanoman.

 

“Aku membawa titah kahyangan Mahesa Werdaya! Jaga sikapmu!”

 

“Oh kahyangan? Aku baru-baru ini tersadar jika aku ini tercipta hanya sebagai salinan semata. Salinan dari sebuah kenyataan. Jadi... jika aku sendiri tercipta dari ketidaknyataan maka sebenarnya kalian lebih tidak nyata lagi. Kau – Kali – hanyalah produk dari rasa takutku dan anda – Rsi Hanoman – hanya produk dari rasa baktiku pada dharma. Jadi ... tak ada satupun dari antara kalian yang nyata dan karena itulah kalian tak berhak mengaturku!”

 

“Kau berani menentang kehendak dewata?” Hanoman menggeram.

 

“Dewata yang kau maksud tak ada!” balas Mahesa.

 

“Tapi aku ada, aku nyata, dan aku bisa memberimu apa yang selama ini kau dambakan Mahesa,” kali ini Kali yang bicara.

 

“Tutup mulutmu!”

 

“Ah, dasar anak tak tahu sopan santun. Tak tahukah kau bahwa aku bisa saja menyakitimu sepanjang masa Mahesa Werdaya?” balas Kali.

 

“Kalau begitu lakukan saja! Aku tantang kalian berdua, kalau kalian sanggup, bunuh aku di sini sekarang juga! Ayo!” tantang Mahesa.

 

Kali dan Hanoman langsung menerjang ke arah Mahesa dan masing-masing mengayunkan tangan mereka untuk menghantam Mahesa, namun ketika tangan mereka hendak bersentuhan dengan Mahesa, tiba-tiba saja keduanya lebur menjadi butiran emas yang akhirnya turut dalam aliran partikel dalam realitas ini.

 

“Seperti itulah,” ucap Tsuki yang tiba-tiba sudah kembali, “realitas  ini dibangun atas pikiran orang yang ada di dalamnya. Pikiranmu dan pikiran lawanmu. Di sini segala imaji menjadi kenyataan selama kau kuat dan fokus.”

 

“Akhirnya kau kembali juga. Aku sudah mulai bosan.”

 

“Maaf kalau kau menunggu lama. Jadi ... apa kau sudah siap?”

 

“Sedari tadi. Siapa lawanku sekarang?”

 

“Kau pernah bertemu dengannya di kereta pelintas padang pasir itu, dan dia punya urusan pribadi denganmu berkaitan dengan ‘balas dendam soal kejantanan’ atau apalah.”

 

“Edward?”

 

“Ya, si penyihir tuli. Ah, dia sudah tiba,” Tsuki menunjuk ke atas – kalau memang arah yang ia tunjuk memang atas.

 

Ada tirai-tirai emas yang terbentuk dari sekumpulan partikel tampak menutupi sebuah pusaran energi gelap dan dari dalam pusaran itu muncul sosok Edward yang berjalan turun dari angkasa dengan posisi ganjil. Mahesa jelas-jelas melihat bahwa jika ditarik garis lurus antara pijakannya dan pijakan Edward akan terbentuk sudut siku-siku 900.

 

Untunglah Edward tak berlama-lama dalam posisi ganjil itu. Segera saja ia berada di posisi pijakan yang sejajar dengan Mahesa. Di belakang Edward kini tampak sesosok stick-figure hitam seukuran manusia dan membawa jala. Sosok itu bertukar pandang dengan Tsuki selama beberapa saat sebelum akhirnya menghilang bersama-sama dengan Tsuki. Kini ada tulisan yang tersusun dari partikel emas terbentuk di antara Mahesa dan Edward yang berbunyi : SELAMAT BERTANDING!

 

Edward menatap Mahesa dengan ekspresi cemberut. Kedua tangannya ia silangkan di depan dada dan gestur tubuhnya jelas-jelas menunjukkan bahwa ia tidak sedang bersuka hati. Tampaknya Edward masih sakit hati atas insiden ‘pengebirian’ yang Mahesa lakukan beberapa waktu yang lalu.

 

“Sudah sembuh?” Mahesa berbasa-basi sembari meletakkan tangannya di belakang punggungnya, bersiap menarik pistolnya.

 

Edward tidak menjawab, antara ia tidak bisa membaca gerak bibir Mahesa atau dia kesal setengah mati telah dilukai harga dirinya. Celana kelabu Edward masih menyisakan noda hitam darah yang tadinya sempat mengalir deras dari selangkangannya.

 

Bahkan ia tidak ganti celana. Pikir Mahesa. Benar-benar tidak mengerti higienitas.

 

“Apa itu higienitas bocah sok tampan?” tanya Edward tiba-tiba.

 

“Kok?” Mahesa terperangah.

 

“Heran?”

 

Apa dia bisa membaca pikiranku?

 

“Aku bisa baca pikiranmu.”

 

Ya ampun!

 

“Dan barusan kau berkata ‘ya ampun’. Haha,” Edward tampak tertawa girang sesaat, “kekuatan realitas ini benar-benar menakjubkan.” Lalu kembali ia menatap Mahesa dengan tatapan benci dan dengki.

 

“Mari kita lihat apakah kau bisa selamat dari wilayahku?” Edward menjentikkan jemarinya.

 

Suasana di sekitar Mahesa tiba-tiba menjadi gelap. Pohon-pohon yang menjulang tinggi tiba-tiba mengelilinginya. Dan di sini ia bisa mendengar Edward tertawa-tawa keji bak seorang psikopat di film-film thriller. Hari di hutan ini sudah malam, namun karena tidak ada cahaya rembulan sedikit pun, Mahesa jadi terantuk batu dan batang kayu berkali-kali ketika berusaha mencari lawannya.

 

“Duh!” Mahesa tampak kebingungan mencari jalan. Suasananya berbeda jauh dengan tempat yang biasa ia tinggali : perkotaan. Tapi di saat seperti ini bayangan masa silam dari kehidupan yang lalu kembali terlihat.

 

Mahesa menyaksikan dirinya berjalan masuk ke dalam hutan dengan diiringi oleh seorang pria pendek di hadapannya yang membawa obor. Namun belum lama berselang angin kencang berhembus dan obor itu pun mati. Ada kepanikan terdengar di belakang Mahesa namun pria pendek pemegang obor itu hanya berucap, “Tak ada obor pun tak apa, masih ada kunang-kunang dan sinar bulan, Bendoro[1], kita masih bisa jalan.”

 

Sayangnya dua hal itu tidak Mahesa temui di sini. Bulan tak tampak – mungkin tertutup awan mendung – dan kunang-kunang juga tak tampak. Hanya ada beberapa jamur fosfor yang tampak bercahaya di tengah kegelapan ini. Mahesa mencoba mencabut jamur itu, berniat memanfaatkannya sebagai lentera darurat, namun ketika jamur itu tercabut dari tanah, sinarnya memudar dan akhirnya padam sama sekali.

 

Selagi Mahesa sibuk mencari-cari penerangan, sesosok pria bertudung – Edward – tampak bertengger di atas dahan sebuah pohon. Busur panahnya ia rentangkan dan ia lepaskan satu anak panah ke arah Mahesa.

 

“Uack!” Mahesa memekik tertahan ketika merasa ada busur panah yang menembus lengan kirinya. Segera saja ia berlari menjauh dari tempat itu menelusuri lantai hutan yang penuh daun-daun gugur dan ranting-ranting patah. Usaha yang secara teoritis agak sia-sia, karena penembak ahli bisa mengetahui posisimu dari suara yang kau timbulkan – untunglah Edward tuli (dan dia entah kenapa tidak berpikir untuk menyembuhkan ketuliannya dengan kekuatan realitas emas).

 

Darah merembes membasahi jaket yang Mahesa kenakan, kini warna merah di jaket itu menjadi semakin merah karena darah yang mengucur dari luka itu. Ada satu hal yang Mahesa syukuri, entah Edward bukan penembak yang handal atau nasibnya sedang baik, panah itu tidak mengenai bagian yang fatal.

 

Tapi kemudian pertentangan batinnya kembali muncul. Kepada siapa ia harus bersyukur jika kehidupannya ini tidak nyata? Untuk apa dia takut mati kalau pada akhirnya Tsuki bisa saja menghapusnya menjadi ketiadaan kembali pasca tugasnya usai?

 

“Kenapa kalau pada akhirnya kita harus mati, banyak manusia terlalu takut mengakhiri hidupnya?” begitu guru Filsafat Bahasa Indonesianya[2] pernah bertanya.

 

Seluruh kelas diam. Hanya seorang yang akhirnya berani angkat bicara, “Karena kita tidak tahu apa yang terjadi setelah kita mati, karena itu kita mempertahankan kehidupan kita mati-matian meski banyak yang tidak bahagia dengan kehidupannya.”

 

Yang menjawab pertanyaan itu adalah Ratih – gadis yang demi Bathara Kamajaya[3] sungguh memikat hatinya semenjak mereka bertemu di kelas sepuluh, jika saja ia bisa bertemu dengannya lagi ..., Ah, tidak. Aku tidak akan bertemu dengannya. Mungkin tidak akan pernah. Tapi ... aku akan terus bertahan hidup! Mahesa akhirnya mematerialisasikan Sarotama dan berusaha tidak menimbulkan satu suara pun. Ia diam, menunggu adanya suara asing yang mungkin saja merupakan suara yang ditimbulkan Edward.

 

Lama terdiam, ia akhirnya menyadari keanehan hutan ini. Di hutan ini tak ada satupun hewan yang berkeliaran. Dan di tengah keanehan ini semua, ia mendengar suara seekor gagak yang berkaok di antara dahan-dahan pohon. Gagak itu sendirian, tidak berada dalam kawanan sebagaimana umumnya perilaku gagak.

 

Edward! Mahesa mengarahkan busur panahnya ke arah suara gagak itu. Penyamaran yang buruk!

 

Mahesa melepaskan beruntun dua anak panah ke arah gagak itu. Gagak itu menghindari dua anak panah itu dengan gesit. Kemudian sebuah ledakan terdengar. Mahesa telah melepaskan panah Ayatana yang langsung meledak di tempat di mana Mahesa menduga Edward berada. Gagak itu langsung tampak terhuyung sebelum akhirnya jatuh ke lantai hutan. Sosok gagak itu kembali menjadi Edward yang tampak terluka di bagian perutnya. Badannya tampak gemetaran sementara tangannya memegang luka di perutnya. Pemuda itu bersandar di sebuah pohon besar sementara matanya tetap menatap benci ke arah Mahesa yang tampak menghampirinya dan perlahan-lahan suasana hutan itu menggelenyar kemudian kembali menjadi ombak-ombak partikel emas.

 

Mahesa sendiri kondisinya tak lebih baik. Luka akibat panah Edward itu semakin berdenyut-denyut, dan di saat seperti ini entah kenapa Mahesa kembali memikirkan markas Dakara yang ia datangi di ronde sebelumnya. Gelombang partikel itu tiba-tiba saja mewujudkan bayangannya atas Markas Dakara. Kali ini Mahesa muncul tepat di depan sebuah ruang klinik yang terbuka lebar dan tak terlihat seorang pun di dalamnya. Perlahan ia memasuki ruang klinik itu dengan perasaan waspada namun ia dapati ruangan itu benar-benar kosong, tak ada seorangpun di dalamnya.

 

Mahesa menghela nafas, sedikit kecewa karena tak ada satupun yang bisa ia mintai tolong untuk mencabut anak panah ini. Namun selagi ia kecewa itu, ada sesuatu menepuk punggungnya. Mahesa berbalik dan melihat sebuah drone – robot terbang – berbentuk bola pejal putih dengan diameter ±50 cm tengah melayang di belakangnya. Layar hitam di bagian tengah drone itu menyala, memunculkan dua titik merah seperti mata lalu memunculkan pesan teks  : BUTUH BANTUAN TUAN?

 

“Ya,” Mahesa mengangguk dan drone itu segera mengaktifkan lengan mekanis yang ujungnya berbentuk pisau bedah dan jarum suntik dan langsung menyuntik Mahesa hingga lengannya mati rasa. Drone itu kembali memunculkan pesan yang intinya meminta maaf jika ia merusak properti milik Mahesa sebelum merobek lengan jaket Mahesa dan membedah lengan Mahesa menggunakan pisaunya selama beberapa menit.

 

Beberapa menit kemudian drone itu menarik keluar panah Edward dan meletakkannya di sebuah baskom logam kemudian menjahit luka Mahesa. Sesudah itu semua beres, drone itu langsung terbang pergi – ngeloyor entah ke mana. Meninggalkan Mahesa sendirian di ruangan penuh obat itu.

 

Mahesa sudah hendak beranjak pergi untuk mencari Edward ketika matanya menangkap sesuatu yang tak lazim. Sebuah botol obat berlambang tengkorak dan simbol peringatan senjata biologis. Ada tombol di samping botol itu dan Mahesa menekannya. Sebuah layar hologram memunculkan pemandangan seorang pria berambut cepak berjas putih ala dokter yang tengah menghadap kamera.

 

“Dokter Nakula di sini,” ujarnya sambil tersenyum lebar seolah-olah ia tengah menjadi host sebuah acara televisi, “akan memandu anda untuk mengetahui manfaat dari peluru ini serta ...,” dan dokter itu mulai berceloteh tentang beberapa hal yang tidak penting – kebanyakan soal dirinya sendiri.

 

“Tahukah kalian bahwa Clostridium botulinum juga dimanfaatkan dalam operasi plastik?” dokter itu masih juga berceloteh.

 

Wis ora usah kakehan gaya! Ndang! Cepet! (Sudah tidak usah banyak gaya! Cepat!)!” ada suara seorang wanita yang tampak menegur dokter itu.

 

“Iya! Iya! Sabar dong!”

 

“Biar aku saja yang jelaskan, kamu lama!” seorang dokter lain yang wajahnya mirip dengan pria bernama Nakula itu langsung menyeret Nakula dari kursi tempat ia duduk dengan kasar lalu menggantikan posisinya, “Baik, jadi isi botol ini adalah ekstrak Clostridium botulinum. Para agen yang hendak menggunakan ini untuk sekedar melumpuhkan lawan mohon melarutkannya dalam tabung larutan saline di lab A, sementara yang hendak memakainya untuk membunuh cukup ambil dua miligram saja dan olah di lab B. Sekian!”

 

“Persediaan peluru botulinum di lab B masih ada sisa empat kotak,” suara wanita itu terdengar lagi kemudian layar itu tak menampilkan apa-apa lagi selain layar hitam.

 

Lab A dan B? Mahesa membatin lalu berjalan ke sebuah komputer terminal dan menekan menu ‘denah bangunan ’ dan dicari-carinya lokasi lab A dan B.

 

“Ah ketemu,” Mahesa menutup layar peta itu kemudian berjalan menuju lab yang ia cari.

 

*****

 

Di sisi lain Edward – yang jelas-jelas bukan berasal dari abad modern – tampak kebingungan dikelilingi tembok-tembok kokoh nan dingin ini. Di mana ini? Ia bertanya-tanya. Suasana tempat ini sunyi dan hening juga dingin.

 

Lorong yang ia temui tampak hanya disinari sinar lampu yang redup, ujung lorongnya pun tak tampak dan tak dapat ia amati dari sini karena di sana tampak gelap. Edward diam sejenak selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan mengubah dirinya menjadi seekor kucing jantan abu-abu.

 

Dalam kegelapan kucing jelmaan Edward melintasi deretan kendaraan panser serta jip yang terparkir rapi di sisi kanan dan kiri lorong. Kucing itu melongok ke atas dan dilihatnya di atas sana tampak deburan debu-debu emas yang tampak mengamuk di luar atap transparan yang menaungi gedung ini.

 

Edward mengubah dirinya kembali, kali ini menjadi seekor burung rajawali yang melayang ke arah atap transparan itu. Dicobanya untuk menabrakkan dirinya guna memecahkan atap yang ia pikir terbuat dari kaca itu namun usahanya gagal. Dicobanya mematuk dan mencakar atap itu namun sia-sia. Atap itu seolah terbuat dari baja namun transparan.

 

Kesal usahanya keluar dari kungkungan tempat ini tidak berhasil, Edward mengubah dirinya menjadi seekor burung hantu kecil dan memasuki sebuah saluran ventilasi yang tampak terbuka dan menelusuri bagian dalamnya yang berliku-liku. Setelah melalui saluran sempit itu selama beberapa saat Edward akhirnya berhasil keluar dan mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang di tengahnya terdapat kolam renang.

 

Edward – masih dalam wujud burung – turun ke pinggir kolam itu namun sesaat kemudian seluruh tempat itu kembali menjadi kumpulan partikel-partikel berwarna keemasan. Edward tersenyum, di arena terbuka ia akan lebih mudah tahu di mana posisi Mahesa dan benar saja, ia langsung melihat sosok Mahesa tengah berdiri di antara deburan ombak partikel emas itu. Edward langsung melemparkan satu bola api ke arah Mahesa.

 

*****

 

Baru saja Mahesa selesai berkonsentrasi untuk membuyarkan keberadaan markas Dakara dan kembali ke wujud realitas emas yang sesungguhnya ia sudah dibuat kaget dengan kedatangan satu bola api dari arah belakangnya.

 

Ia berhasil berkelit dari serangan bola api yang satu itu namun beberapa bola api kemudian datang beruntun ke arahnya. Dengan cepat ia mematerialisasikan Sarotama dan menyabet-nyabetkannya ke arah bola-bola api itu guna mementalkan serangan itu ke arah lain. Usahanya untuk menghalau bola-bola api itu berhasil namun yang tak ia duga, seekor serigala hitam tiba-tiba melompat dan berusaha menerkamnya. Secara refeleks, Mahesa langsung memposisikan tangan kirinya di depan wajahnya sehingga serigala itu langsung menggigit lengan kirinya.

 

Mahesa langsung memukulkan busur Sarotamanya ke kepala serigala itu namun serigala itu masih saja menggantung dengan keras kepala dengan menancapkan taring-taringnya ke dalam lengan Mahesa lebih dalam lagi. Mahesa meringis menahan nyeri namun ia tidak juga berhenti memukuli serigala itu. Akhirnya setelah berkali-kali dipukuli akhirnya serigala itu melonggarkan gigitannya dan dengan satu sentakan Mahesa melempar serigala itu ke arah lain. Serigala itu mendarat dengan selamat di atas empat kakinya dan segera berubah wujud kembali menjadi sosok Edward.

 

Edward menyapu mulutnya yang berlumuran darah dengan sebelah tangannya, “Darahmu manis. Pasti nikmat sekali kalau aku bisa membunuh dan memasakmu.”

 

Orang ini sudah sinting. Pikir Mahesa.

 

“Kau sudah pernah makan daging manusia, Bung?” tanya Mahesa sembari menarik tali busurnya dengan tangan kirinya yang sudah koyak itu.

 

“Belum, tapi kalau darah manusia ternyata semanis ini, kurasa dagingnya sudah pasti enak.”

 

“Kau hanya akan kena penyakit kalau kau makan aku.”

 

“Oh masa? Mana kita tahu sebelum kita mencoba?” Edward segera mengeluarkan sebilah pedang yang entah ia simpan di mana sedari tadi kemudian maju ke arah Mahesa.  Mahesa mencoba menghambat gerak Edward dengan menembakkan anak-anak panah ke arah Edward namun gagal. Dengan lincah kaki-kaki Edward menghindari terjangan anak-anak panah Mahesa. Ketika jarak Edward semakin dekat, Mahesa langsung membidik kepala Edward tanpa ragu namun yang ia dapati hanyalah kejutan. Anak panahnya tak mampu menembus kepala Edward, hanya menimbulkan suara denting sesaat ketika berbenturan dengan kepala penyihir itu, sebelum akhirnya jatuh dan menghilang.

 

Edward tak lagi bisa dihalangi dan Mahesa tidak siap dengan serangan mendadak Edward. Satu sabetan Edward layangkan ke arah Mahesa, Mahesa mencoba menghindar dengan melompat ke samping namun di luar dugaannya Edward ternyata menyimpan satu bilah pedang lagi yang langsung menghujam ke arahnya. Tusukan pedang kedua ini tak terelakkan bagi Mahesa, pedang itu menembus ulu hatinya dan pemuda itu langsung memekik tertahan.

 

Edward tertawa puas ketika akhirnya ia berhasil melukai lawannya. Dengan segera ia langsung menyabetkan pedang pertamanya sekali lagi, berusaha memenggal kepala Mahesa namun Mahesa dengan sekuat tenaga memiringkan tubuhnya sambil mencoba melindungi kepalanya dengan lengan kirinya. Tindakannya itu menyelamatkan hidup dan kepalanya tapi sabetan kuat pedang Edward telah memisahkan lengan kirinya dari anggota tubuhnya yang lain.

 

Di sisi lain Edward juga kehilangan senjatanya. Entah karena material senjatanya buruk atau Mahesa punya kepadatan tulang yang bagus, sehingga bersamaan dengan terpisahnya tangan Mahesa, pedang di tangan kanan Edward patah menjadi dua. Edward tertegun sesaat dan Mahesa berusaha keras untuk tidak berteriak meski sensasi nyeri menyiksanya dengan hebat di bagian tempat lengan kirinya pernah berada.

 

Selama Edward masih berada dalam ketertegunannya Mahesa memikirkan sesuatu dinding pembatas bagi mereka lagi. Kali ini ia memikirkan bangunan rusun – rumah susun – yang ia tinggali bersama dengan ibunya. Gelombang partikel emas itu pun kembali mewujud menjadi bangunan rumah susun bertingkat 12 yang sudah menjadi tempat tinggalnya beberapa tahun terakhir ini.

 

Edward berada di lantai 12 gedung seberang sementara Mahesa berada di lantai 12 di gedung B – gedung yang menjadi tempat tinggalnya. Satu pedang Edward masih tertancap di ulu hatinya dan Mahesa merasa seluruh tenaganya mulai meninggalkan dia. Dengan hati-hati ia sandarkan tubuhnya ke dinding sembari menarik nafas dalam-dalam, mencoba meredakan rasa nyerinya itu.

 

“Satu anak panah masuk ke tubuh Abimanyu, satu lagi masuk, kemudian satu lagi, kemudian puluhan anak panah menembus tubuhnya. Darah mengucur deras dari luka-luka itu. Tapi Abimanyu tetap maju dengan gagah. Tak gentar dia dengan terjangan anak panah-anak panah itu. Satu demi satu prajurit Korawa harus membayar mahal karena telah mencoba mengurung si Putra Arjuna dalam formasi mereka. Seratus kesatria telah mati di tangannya tapi ketika ia hendak menyabet satu kesatria lagi, tubuhnya tak kuat lagi. Ia tersungkur di tanah sementara para prajurit Korawa hanya bisa tertegun diam. Tak ada yang berani maju untuk menghabisi nyawanya.”

 

“Lalu?” Mahesa kecil bertanya pada ayahnya yang tengah mendongengkan kisah Mahabaratha kepada dirinya.

 

“Laksmana Kumara – putra Duryodhana – maju tanpa ragu. Dihunusnya sebilah keris dan dipersiapkannya keris itu untuk menghabisi nyawa Abimanyu. Namun sebelum itu sempat ia lakukan, Abimanyu sudah melempar kerisnya lebih dulu kepada Laskmana. Pangeran Hastina itupun langsung jatuh tanpa nyawa.”

 

“Terus?”

 

“Sudah malam, Nak. Sudah waktunya kamu tidur.”

 

“Ah Ayah, selalu saja memotong kisah saat sedang seru-serunya! Teruskan dong! Sedikiit lagi saja!” Mahesa merajuk.

 

Ayahnya hanya tertawa, “Jangan, nanti aku tidak diizinkan masuk ke kamar sama ibumu.”

 

“Kok Ayah takut sama Ibu?”

 

“Bukan takut, itu namanya menghormati.”

 

“Konyol.”

 

“Hei Hes,” ayahnya mengusap-usap rambut Mahesa kecil, “Kamu tahu kenapa Arjuna menamai putranya Abimanyu?”

 

“Tidak.”

 

“Abimanyu artinya ‘Ia Yang Tak Mengenal Rasa Takut’.”

 

“Kenapa Arjuna menamai dia begitu?”

 

“Karena Arjuna ingin memiliki putra seorang pejuang yang bisa menyamai atau melampaui dirinya. Nama adalah doa dan harapan orangtua pada anaknya.”

 

“Lalu kenapa aku dinamai Mahesa?”

 

“Mahesa artinya ‘banteng’, Hes. Dan Werdaya artinya ‘perkasa’.  Jadi arti namamu itu ‘Banteng Yang Perkasa’.  Aku namai kamu begitu supaya kamu bisa jadi pelindung bagi orang-orang yang kau cintai, terutama ibumu kalau aku sudah tidak ada di dunia ini –.”

 

“Ayah kok bicara seperti itu?” potong Mahesa.

 

“Hei, siapa yang tahu masa depan Hes? Bisa saja tiba-tiba aku direnggut dari kehidupan kalian dalam oleh Pukulun Bathara Yama.”

 

“Kalau Bathara Yama berani ambil nyawa ayah, aku akan lawan dia sampai dia mau kembalikan nyawa ayah!”

 

Ayahnya hanya tertawa, “Hes, kamu tidak bisa melawan dewa. Pendek-panjangnya umur manusia itu tergantung suratan Hyang Widhi dan Bathara Yama pun takkan bisa mengubah suratan itu. Jadi meski kau melawannya sampai babak-belur sekalipun, ayah pasti tetap akan dibawa pergi.”

 

“Tapi Mahesa tidak mau kehilangan ayah.”

 

“Kalau aku pergi dan tidak kembali,” ayahnya menunjuk dada Mahesa, “simpan ingatan tentang aku di hatimu, biarkan itu di sana, supaya meski kala – waktu – semakin berlalu kau akan tetap punya sosok ayah tanpa harus bertemu dengan ayah.”

 

Ketika bayangan masa kecil itu usai, Mahesa yang sempat tak sadarkan diri pun akhirnya tersadar. Edward tak terlihat lagi di gedung seberang dan ini membuat Mahesa menjadi makin was-was mengingat Edward ternyata bisa merubah wujudnya menjadi sosok aneka satwa. Dengan tertatih, Mahesa bangkit berdiri meski matanya tak lagi fokus. Ia kehilangan banyak darah – dapat dilihat dari genangan darah yang menggenang di lantai yang sempat ia pijak tadi, tubuhnya mulai menggigil meski suhu udara di tempat ini cenderung hangat, dan otot-otot kakinya mulai gemetaran.

 

Dengan satu tangannya yang masih tersisa Mahesa merogoh saku belakang celananya dan mengeluarkan empat butir kapsul berwarna hijau kemudian menarik pistolnya dan mengosongkan magasinnya serta mengganti isi magasinnya dengan empat peluru itu.

 

“Hei Edward!” Mahesa berseru dari lantai atas gedung itu, “Aku di sini! Hadapi aku kalau kau berani!”

 

Kemudian ia sadar bahwa usahanya ini sungguh sia-sia. Edward tuli, ia takkan bisa mendengar kata-katanya. Mahesa mengutuki otaknya yang tak bisa berpikir jernih di situasi seperti ini.

 

“Aku pernah berburu elk – rusa kutub – yang sungguh keras kepala,” Edward tiba-tiba sudah berada di lorong yang ada di samping kanan Mahesa, “Rusa itu berkali-kali menandukku sebelum aku terpaksa menghanguskan sebelah matanya supaya aku bisa terbebas dari tandukannya. Tapi ketika aku lakukan itu ia masuk lebih dalam ke hutan. Aku mengejarnya sampai setengah hari sebelum mendapatkannya kembali, dan di pertemuan kedua kami ia tetap saja melawan. Sepuluh anak panah belum bisa merobohkannya sehingga aku terpaksa menghancurkan kepalanya. Apa kau ingin seperti itu juga Mahesa?”

 

Mahesa hanya terkekeh perlahan, “Kau sedang berburu banteng, Edward, bukan elk.”

 

“Maaf?” Edward tampak memiringkan kepalanya.

 

“Kau sedang melawan seekor banteng Edward, dan jangan harap banteng ini bisa ditaklukkan semudah elk yang pernah kau buru itu.”

 

Mahesa menodongkan pistolnya ke arah Edward dan Edward hanya tersenyum sinis, “Panah mungilmu itu takkan mampu menembus tubuhku,” ujarnya sembari berlari dan menghunus sebilah belati.

 

“Aku tidak hendak menembus tubuhmu dengan ini,” Mahesa menembakkan pistol itu tiga kali dan Edward – yang kebetulan sempat membuka mulutnya – merasakan ada dua benda lembut tertelan oleh tenggorokannya.

 

“Apa ini? Kau menyuapiku?” Edward tertawa sebelum akhirnya memotong pistol Mahesa menjadi dua bagian.

 

Begitu pistolnya terbelah, Mahesa mundur selangkah lalu menendang potongan senjata itu ke arah Edward. Dua potongan senjata itu segera meledak di wajah Edward. Edward tidak terluka tapi serpihan logam dari senjata itu tampaknya sukses menyakiti matanya.

 

Dengan nekat, Mahesa memukul perut Edward kuat-kuat lalu mendorongnya ke dinding pembatas. Edward tak sempat bereaksi karena matanya masih dibutakan oleh serpihan aluminium dari senjata Mahesa tadi. Begitu sampai di pinggir dinding pembatas, dengan seluruh tenaganya yang masih tersisa Mahesa menjungkalkan Edward dari lantai 12. Tubuh Edward pun akhirnya melayang jatuh membentur lapangan beton di bawahnya.

 

Tubuh keras Edward kembali menyelamatkan nyawa penyihir itu. Dengan cepat Edward bangkit kembali dari jatuhnya lalu menuding Mahesa sambil tersenyum sinis, “Kau tidak bisa membunuhku, Mahesa Werdaya! Kau sudah kalah!”

 

“Masa?” jawab Mahesa enteng, seolah menantang.

 

Edward tak lagi berdebat, ia segera mengubah dirinya menjadi seekor gajah, seekor gajah yang ukurannya jelas-jelas di luar ukuran gajah normal karena tinggi kepalanya setara dengan lantai 11. Belalai gajah jelmaan Edward itu segera menyambar Mahesa yang tadi sempat terkejut dan berusaha melarikan diri. Belalai itu sukses menangkap Mahesa dan melemparkan tubuh pemuda itu le lantai bawah.

 

Tubuh Mahesa jatuh di atap sebuah mobil dan membuat kaca mobil itu pecah serta atapnya penyok. Mahesa langsung memuntahkan darah ketika ia mencoba berdiri kembali. Pedang Edward yang masih menancap di dadanya itu kini tampak miring dan tampaknya telah melukai organ dalamnya. Mungkin paru-parunya, karena Mahesa merasa nafasnya menjadi semakin berat dan ada rasa nyeri di dalam dadanya setiap kali ia menarik nafas.

 

Kenapa, dia belum terpengaruh juga? Mahesa bertanya-tanya dalam hatinya kenapa Edward masih saja hidup meski ia sudah menelan racun Botulinum yang ia tembakkan. Apakah benar ia tidak terkalahkan?

 

“Kau mau menyerah Abimanyu?” sosok Kali tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, tersenyum mengejek ke arahnya yang sedang terkapar tanpa daya.

 

“Tidak,” jawab Mahesa dengan terbata-bata.

 

“Aku bisa membantumu, aku bisa membuatmu menjadi seorang Chiranjiwin[4].”

 

“Promosi dagang yang hebat, tapi jawabanku ‘tidak’.”

 

“Kau mau mati terhormat Abimanyu? Sama seperti yang terjadi di Padang Kuruksethra dulu? Meninggalkan ibumu sendirian seperti yang dahulu sudah kau lakukan?”

 

“Aku tidak berniat mati, tapi aku juga tak berniat minta bantuan seorang  Daitya – iblis.”

 

Kali melemparkan senyum tipis sebelum akhirnya menghilang, “Baiklah. Itu pilihanmu.”

 

Mahesa berusaha berdiri kembali dengan menggunakan tangan kanannya yang tersisa lalu kembali memberi Edward – yang masih dalam bentuk gajah – tatapan menantang serta meremehkan.

 

“Mari kita lihat,” Mahesa mengangkat tangannya dan sebuah cakram terbentuk di tangan kanannya, “apa belalaimu bisa beregenerasi lebih cepat daripada kejantananmu?”

 

Mahesa melempar cakram itu dengan sekuat tenaga dan belalai gajah raksasa itupun terpotong dan menimbulkan suara berdebum di tanah. Gajah itu meraung lalu sesaat kemudian berubah kembali menjadi sosok Edward.

 

Edward tampak memegangi bagian hidungnya yang terpotong. Wajah pemuda penyihir itu kini menjadi sangat eksotis karena tak lagi memiliki hidung, bahkan sebagian otot rahang atasnya turut terkoyak, sehingga kita bisa melihat sebagian tulang rahang atasnya berserta rongga hidungnya yang berdarah-darah. Edward mulai mengutuki Mahesa dengan sederet kata-kata kutukan namun ia tak lagi bisa melafalkannya dengan baik karena cedera ini.

 

Edward langsung berkonsentrasi penuh untuk memulihkan diri sementara Mahesa yang sebenarnya sudah memaksa diri tampak sudah jatuh dalam posisi berlutut di tanah. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, terutama di dahinya. Nafasnya putus-putus dan melangkahpun rasanya ia sudah tak sanggup. Edward yang sudah selesai memulihkan diri, langsung menyaksikan lawannya tampak sudah tak bertenaga lalu memutuskan untuk segera membunuh lawannya.

 

Sebuah bola api terbentuk di tangan Edward dan siap ia lemparkan kepada Mahesa kapan saja. Tapi sebuah sensasi aneh tiba-tiba ia rasakan. Ia merasa dirinya hendak muntah dan dua detik kemudian ia memuntahkan seluruh makanan yang sempat ia telan sebelum ronde keenam di aspal beton di hadapannya. Sesaat kemudian ia merasa seluruh tubuhnya ngilu dan otot-ototnya terasa kehilangan tenaga. Ia memaksa untuk bergerak mendekati Mahesa namun justru ia jatuh tersungkur dan tak dapat bangun lagi.

 

“Apa ... yang sudah kau lakukan?” Edward mengerang dan tampak berguling-guling di aspal sembari memegangi perutnya yang kini didera rasa nyeri hebat. Selain itu ia rasakan juga mulutnya terasa kering dan demam yang mendadak tiba-tiba menderanya.

 

“Aku?” Mahesa tertawa pelan, “Aku meracunimu. Ingat hadiah yang aku suapi tadi Edward? Itu racun. Clostridium botulinum. Satu gram saja ekstrak bakteri itu, cukup untuk membunuh 100 orang.”

 

“Berengsek! Akh!” Edward tiba-tiba merasakan seluruh tubuhnya lumpuh dan kini bicara pun ia tak lagi sanggup.

 

Cakram yang tadi Mahesa pakai untuk membelah belalai Edward masih melayang-layang di sekitar Edward. Mahesa mengulurkan tangannya dan memanggil cakram itu, “Chandraputra, penggal kepalanya.”

 

Cakram itu menuruti perintah Mahesa dan langsung melayang menghujam ke leher Edward. Terdengar suara seperti gerinda besi yang tengah memoles benda logam disertai suara degug yang berasal dari tenggorokan Edward ketika cakram itu bergesekan dengan leher Edward.

 

Tak lama kemudian suara itu berhenti. Kepala dan leher Edward tak lagi bersatu. Penyihir muda itu telah mati dan Mahesa menyaksikan perlahan-lahan kompleks rusun itu kembali menjadi wujud gelombang-gelombang partikel emas.

 

*****

 

Sekali lagi ia sendirian. Tsuki tak tampak, tubuh dan kepala Edward tampak turut terurai menjadi partikel-partikel emas tak lama setelah wujud asli realitas emas kembali. Bahkan sosok stick figure yang membawa-bawa jaring bernama Blackz itupun tak nampak. Mahesa yang sudah kelewat letih serta bosan akhirnya berseru, “Hei Tukang Kebun Luar Angkasa sialan! Ke mana kamu?”

 

“Kasar sekali. Tak bisakah kau sabar sedikit?” sosok Tsuki tampak muncul dari sebuah portal gelap yang mewujud di hadapan Mahesa, “Aku kan juga punya urusan.”

 

“Aku juga punya,” balas Mahesa.

 

“Jadi Edward kalah?”

 

“Ya, dan aku menang.”

 

“Kau tadi sama sekali tidak ragu untuk bunuh Edward, kenapa? Bukankah bisa saja ia orang baik?”

 

“Aku tahu tatapan mata orang seperti itu Tsuki. Edward punya tatapan seperti sepuluh patih yang aku kalahkan di Kuruksethra. Itu tatapan orang yang akan melakukan apa saja untuk memuaskan dirinya ketika kemauannya tak terpenuhi. Itu tatapan orang yang takkan segan membunuh banyak orang hanya untuk kepentingannya sendiri. Aku muak dengan orang macam itu karena itu aku merasa tak ada salahnya menghabisinya di tempat ini sebelum ia berbuat kerusakan yang lebih besar.”

 

“Tapi ia kan tidak nyata?”

 

“Tapi ia bisa mewujudkan sesuatu  yang mungkin mempengaruhi alam nyata di semesta ini.”

 

“Jadi kau percaya aku akan mewujudkan sesuatu yang mungkin lebih baik daripada Edward atau Blackz?”

 

“Entahlah, aku hanya ikuti naluri dan nuraniku. Dan nuraniku mengatakan meskipun kau tidak bisa dipercaya – kau masih lebih baik daripada Blackz.”

 

“Apa mereka – naluri dan nuranimu itu – bisa dipercaya?”

 

“Entah. Kau kan penciptaku, kenapa kau tak beritahu aku?”

 

Tsuki menyunggingkan senyum, “Jadi sekarang kau minta apa Mahesa?”

 

“Aku tidak tahu. Jujur aku tidak tahu. Mahesa yang asli mungkin akan jadi kesatria di dunia nyata sana, tapi aku sendiri tidak tahu mau jadi apa. Tapi moksa – lenyap – pun aku tak rela,” Mahesa tampak bimbang.

 

“Aku lihat masa kecilmu selalu penuh dengan dongeng. Apa kau masih ingat tentang legenda penebang kayu dan peri hutan? Yang kehilangan kapaknya di sebuah kolam lalu muncul seorang peri yang membawa kapak emas dan kapak perak.”

 

“Apa ini? Kau ingin uji kejujuranku, Tsuki?”

 

“Aku tidak hendak menguji kejujuranmu. Aku hanya hendak tawarkan kapak emas sebagai ganti kapak besimu yang sudah usang. Aku hendak menawarkan kehidupan yang baru.”

 

“Sebaik apa kehidupan yang kau tawarakan?”

 

“Ayahmu tetap hidup, tidak ada Dakara, tidak ada Laskar Pralaya, tidak ada Bayu Sutawijaya sebagai saudaramu. Kau anak tunggal, mungkin akan punya adik beberapa tahun lagi, tapi yah ... intinya aku bisa buat keluargamu utuh lagi – oh tidak, ralat – memberimu keluarga yang utuh dalam sebuah realitas paralel. Secara teknis kau kan baru berumur beberapa bulan.”

 

“Apa harganya? Setiap manusia yang memberi selalu berharap pamrih, aku yakin kau juga mematok harga untuk itu.”

 

“Harganya? Gratis karena kau sudah memberiku banyak hal, hanya ada satu kondisi : kau harus ulang – maaf mulai hidup barumu di usia sepuluh tahun. Apa kau terima itu?”

 

“Kau bisa beri aku jaminan bahwa kehidupanku ini adalah kehidupan yang baik?”

 

“Tidak. Tidak ada yang bisa aku jamin. Tapi menurut penilaianku, Clive, dan Deus, realitas itu jauh lebih baik daripada realitas Mahesa yang asli. Tawaranku hanya sekali ini Mahesa. Kau terima tawaranku maka kau akan hidup dalam realitas itu, kau tolak tawaranku maka kau akan kembali ke ketiadaan. Silakan pilih.”

 

Mahesa berpikir sejenak sebelum menjawab, “Baik, ya, aku terima!”

 

“Selamat jalan kalau begitu.”

 

Sosok Tsuki menghilang dan kini Mahesa berada dalam sebuah ruang tamu yang tampak asing baginya. Sofa-sofa bercorak totol kulit leopard serta meja logam yang kaki-kakinya ditopang oleh patung-patung pria dan wanita klasik menjadi perabotan paling mencolok di ruangan itu.

 

Ada cermin di salah satu sisi ruangan, Mahesa berkaca pada cermin itu dan melihat bahwa bayangan di cermin itu bukan lagi seorang Mahesa Werdaya yang berusia 18 tahun tapi kembali menjadi Mahesa Werdaya yang berusia 10 tahun. Baru ia sadari pula, pakaiannya sudah berganti, bukan lagi jaket kontingen olimpiade melainkan jaket kain parasit biasa berwarna biru tua. Ada lebam-lebam bekas pertarungannya dengan Edward yang tersisa di tangannya, juga beberapa lebam yang tidak jelas asalnya yang tampak di wajahnya. Tapi selain itu ia cukup baik-baik saja. Lengan kirinya sudah utuh kembali, luka di dadanya pun hilang tak berbekas.

 

“Sepi,” ujar Mahesa mengomentari ruangan itu.

 

“Mahesa, kamu sudah pulang?” ada suara seseorang dari ruang tengah kamar itu.

 

Ah? Suara itu? Tapi ... mustahil!

 

Mahesa dengan penuh rasa penasaran berjalan cepat ke ruang tengah tempat suara itu berasal dan di sana ia melihat ada sosok seorang pria berkacamata dan berkaus hijau tua tengah duduk di meja makan sembari membaca berita di sebuah situs berita.

 

“Ayah?” Mahesa tampak terkejut melihat kehadiran ayahnya di meja makan. Wajah pria itu tampak lebih tua dari yang pernah ia ingat namun masih dapat ia kenali.

 

“Halo Nak, ayah baru saja sampai nih. Kamu dari mana saja kok ayah kembali kamu tidak ada?”

 

“Ah.”

 

“Ah kamu sudah pulang, Mas?” tampak seorang wanita berpakaian blazer coklat memasuki ruangan sembari menenteng tas belanja.

 

“Iya, sudah dua jam yang lalu,” jawab pria itu.

 

“Duh, kamu berantem lagi ya?” wanita itu mendekati Mahesa, mengulurkan tangannya dan mengusap-usap pipi Mahesa yang penuh lebam, “Bukannya sudah ibu bilang jangan pernah berantem?”

 

“Ah aku ... ,” Mahesa tentu saja tidak bisa memberitahu dua orangtuanya soal pertarungannya dengan Edward.

 

“Kamu berantem sama siapa? Arif, Malik, Kadek, Thomas?”

 

“Bukan, bukan dengan mereka,” Mahesa bahkan tidak kenal nama-nama itu.

 

“Lalu sama siapa?”

 

“Dik,” ayahnya menimpali dengan nada setengah bercanda, “jangan dipaksa. Kalau dipaksa nanti dia terpaksa berbohong. Kalau pria punya rahasia sebaiknya jangan dikorek dan dipaksa mengatakannya sampai ia siap.”

 

“Ah, kau ini Mas,” wanita itu mencubit pipi pria itu dengan gemas, dan pria itu pura-pura mengaduh sakit, “Jangan ajari anakmu hal yang aneh-aneh.”

 

“Tapi benar ya, kamu tidak bertengkar dengan anak-anak tetangga?” ayahnya bertanya.

 

“Tidak kok, Yah.”

 

Terdengar suara bel berbunyi, ibu dan ayahnya segera beranjak menuju ke depan pintu dan di sana mereka melihat sosok seorang gadis cilik dengan rambut panjang yang diikat ekor kuda tengah membawa sebuah kue tart. Gadis itu didampingi oleh ibunya – seorang wanita muda berambut keriting sebahu yang mengenakan kacamata berbingkai warna emas. Ibu dan anak itu dipersilakan masuk oleh ibu dan ayah Mahesa dan mereka pun duduk di sofa ruang tamu sementara Mahesa berusah menguping pembicaraan.

 

Apa aku habis buat masalah? Dan ... ya ampun ... itu Ratih!!! Jantung Mahesa berdegup tak karuan melihat sosok gadis cilik itu.

 

“Bu Lastri, ada apa nih kok tumben kemari bawa kue tart?” tanya ayah Mahesa.

 

“Ini, saya dan Ratih kemari mau mengucapkan terima kasih pada Mahesa dan Bapak-Ibu.”

 

“Soal apa ya?” ibu Mahesa tampak bingung.

 

“Soal menolong kakak Ratih yang dipalak anak-anak bengal dari SMP Nasional. Yang membuat Mahesa sampai babak belur seperti itu.”

 

“HES!” ibunya memanggil dan Mahesa dengan canggung menuju ruang tamu mendekati ibunya, “Benar itu?”

 

Mahesa tidak menjawab. Ia sendiri bingung.

 

“Benar kok Tante,” Ratih mengiyakan sambil mengerlingkan sebelah mata ke arah Mahesa, “Mahesa berani dan kuat banget lho! Anak-anak bengal itu sampai sujud minta ampun sama Mahesa.”

 

Ayah dan ibu Mahesa saling pandang dalam kebingungan dan ayahnya langsung berbisik pelan di telinga istrinya, “Laranganmu dilanggar Dik[5]. Tapi anak ini sudah lakukan sesuatu yang benar. Jangan dimarahi ya, Dik?”

 

Istrinya mengangguk dan tiga orang dewasa itu segera melanjutkan percakapan mereka sementara Ratih kemudian minta izin untuk bicara berdua dengan Mahesa. Gadis cilik itu langsung mengajak Mahesa ke balkon dan mulutnya langsung nyerocos tentang aneka hal, mulai dari soal sekolah, soal teman-teman ceweknya, soal guru-guru, soal cuaca, soal bunga, dan lain sebagainya. Mahesa tidak begitu mengerti mengenai beberapa hal yang dibicarakan Ratih, namun hatinya girang. Ia kini punya waktu dan alasan yang cukup untuk berduaan dengan Ratih.

 

Mahesa menatap langit biru di atas kepalanya selama beberapa saat, merenungkan segala hal yang terjadi padanya dalam realitas ini. Apakah ini dunia khayalan? Atau ini sebuah kenyataan paralel yang terpisah dari carut-marut semesta asal Mahesa Werdaya yang asli?

 

“Hes? Kok diam saja sih?” Ratih menepuk bahunya dengan cukup keras.

 

“Um, eh, nggak kok. Cuma kagum pada langit biru,” ujarnya memberi alasan. Alasan yang konyol dan bodoh sekali sebenarnya.

 

Kemudian pemuda ini akhirnya mengambil sebuah keputusan. Ia tak lagi mau ambil pusing soal dunia asal Mahesa yang asli. Ia tidak mau lagi berpikir soal perang, senjata, pembunuhan, turnamen, kekerasan, olimpiade, olahraga, atau apapun untuk sementara ini. Apa yang ia cari selama ini sudah ia temukan. Kehidupan yang ia dambakan selama belasan tahun telah ia dapatkan.

 

“Terima kasih ... Tsuki,” Mahesa menatap langit biru cerah yang membentang di atas kepalanya, mengucapkan terima kasih yang tulus kepada si pemilik baru realitas emas, “Terima kasih banyak.”

 

==00==

 


[1] Panggilan hormat untuk bangsawan.

[2] Ini hanya khayalan pengarang, sebuah sub-mata pelajaran bahasa Indonesia yang mengajarkan filsafat, bukan sekedar tata bahasa semata.

[3] Dewa cinta agama Hindu. Perannya sama dengan Cupid.

[4] Kaum abadi, manusia-manusia yang karena anugerah tertentu mampu mencapai umur ratusan tahun meski bukan kodrat manusia untuk berumur sepanjang itu.

[5] Ibu Mahesa sangat anti kekerasan.

Read previous post:  
49
points
(3635 words) posted by panglimaub 6 years 25 weeks ago
70
Tags: Cerita | Cerita Pendek | metafisika | Battle of Realms | HxH
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Vote Mahesa....
Gah! Ini! Ini!

Sama-sama Mahesa, dunia ideal yang dibikin beneran pas, saya suka sama kematian Edward dan gimana arena terbentuk disekitarnya, tapi keluarnya Nakula dan Sadewa itu (bener kan? si drone aneh itu yang bisa operasi) berasa deus ex machina...literally...

harusnya ga usah disembuhin!!

90

uwaaaaahhh, kereeeeennnn... TT___________________TT
.
saya suka inii, Mahesa harus jadi Mr. Heroic!! (setelah abang Ferrum! #plakk)
...tapi ada beberapa hal dlm Mahesa yg lebih heroic dari abang Ferrum IMO, dengan seabrek latar belakangnya.. dan bolehlah, Mahesa layak maju ke final utk Kubu Hero yeyy~~
(tp ttp aja mr Heroic jatuh pada abang Ferrum krn meskipun gak punya latar belakang yg kece kyk gitu, beliau mempunyai darah ksatria! #plakk #okegakpenting )
.
saya suka banget cerita iniii, sampe saya gugling Abimanyu awkwk dan kalimat ini

Quote:
“Satu anak panah masuk ke tubuh Abimanyu, satu lagi masuk, kemudian satu lagi, kemudian puluhan anak panah menembus tubuhnya. Darah mengucur deras dari luka-luka itu. Tapi Abimanyu tetap maju dengan gagah. Tak gentar dia dengan terjangan anak panah-anak panah itu. Satu demi satu prajurit Korawa harus membayar mahal karena telah mencoba mengurung si Putra Arjuna dalam formasi mereka. Seratus kesatria telah mati di tangannya tapi ketika ia hendak menyabet satu kesatria lagi, tubuhnya tak kuat lagi. Ia tersungkur di tanah sementara para prajurit Korawa hanya bisa tertegun diam. Tak ada yang berani maju untuk menghabisi nyawanya.”

kak Manik sendiri kah yg bikin ?? kereeeennnn ~~~~ <333
.
yah, tapi sayangnya saya menyukai ini sbg cerita lepas... lepas dari BOR wkwkwkwk karena--seperti yg udah saya duga--BOR nya kurang niiihhh...
.
GR nya ok udah dipakek, tapi char yg lain ?? bahkan Char Edward cuma dijadiin boneka utk bertarung aja, minimal dibikin galau lah wkwk #plakk dan gak ada yg saya suka dari battle 1v1 di sini, yaitu penggalian (?) kehidupan lawan sebelumnya ~~~ jadi berasa gak kenal dengan lawan ituh..
.
Penyebab Mahe-Ed berantem gak kece bgt... ditinggal, disuruh bertarung, bertarung deh mereka... apa itu sikap seorang Ksatria sperti Mahesa ??
.
dan yah... saya gak bisa ngarep kemunculan karakter2 lain, minimal nasib panitianya.. wkwwkk
.
sayang bgt final HxH hanya begini hiks..
.
hadiahnya IMO lebih asik kalo Mahesa gak tau kalo itu 'hadiah' n disuruh milih... kalopun milih, imo lagi, bakal lebih asik kalo pilihan yg lain beneran kejadian (saya jadi inget final GALON)
.
saya suka cerita ini, tapi belum bisa memaksa saya untuk vote ~~
.
saya nggak vote siapa2, sy rada kecewa dengan kedua finalis krn kurangnya eksplorasi canon panitia, karakter2 lain, dan BOR itu sendiri...
dan kyaknya tanpa vote dari saya Mahesa sudah dipastikan naik tangga kemenangan #wuih
.
selamat, selamat~~

90

Saya VOTE MAHESA.
.
Ceritanya bagus, pertarungannya oke, dan endingnya enak.
.
Sususan dari awal hingga ke klimaks pun bikin gregetan. :P

90

Mungkin saya ngeskip bacanya, tapi saya bener-bener ga nangkep peran Kali dan Hanoman di sini. Ibarat anjing menggonggong kafilah berlalu, ga ada pertentangan batin apa-apa buat Mahesa dengan adanya makhluk ini.

Penggunaan golden realm agak sedikit egois karena Edward terkesan hanya mengikuti apa yang dibuat oleh Mahesa (cmiiw, di kepala saya harusnya edward juga bisa mengatur golden realm seenak perutnya)

Mahesa kini punya alasan yang cukup untuk berduaan dengan Ratih... yang berumur 10 tahun.... Agak kasian saya jadinya :)

Eniwei, vote harus tetap dijalankan dan saya VOTE MAHESA

Wuhuuu!!!!
.
Makasih PWW.
.
Peran Hanoman dan Kali cuma seperti tulpa - makhluk pikiran - yang memang cuma nampang doang kok >.<
.
Edward ngatur golden realm seenak perutnya kok. Itu dia kembangin kemampuan baca pikiran sama bikin hutan belantara gelap yang bikin Mahesa kerepotan.
>.<
.
Maaf kalau tidak memuaskan sih. #plak.

Lupa menyertakan alasan :D

Saya suka drama nya. Dan walaupun tidak ada yang unexpected (sama di Edward juga), tapi ceritanya om Manik lebih terstruktur dan memang membacanya bisa lebih ngalir. Mudah2an menang om :)

90

Wuih~ ini keren. Pacenya pas, ngga cepet nggak lambat juga. Pas battle juga berasa tegangnya. Cuma penutup battle-nya rasanya agak cepat sih yah, dan jadi nimbulin kesan gitu doang. Hmm, saya sebenernya suka sama pemanfaatan GR ini, tapi kok saya agak bingung nangkepnya yah. Terlalu banyak muncul karakter2 pendukung itu menurut saya jadi kayak semacem "pelarian" biar bisa lebih mudah ngejelasin/nyari jalan keluar dari segala masalah di dalam cerita...
.
Tapi okelah. VOTE-nya nyusul yah, saya baca versi Edward dulu... Good luck, bang Manik~

Hahaha... oke deh. Tadi saya udah baca versi Edward. Ceritanya sebenernya sama-sama seru. Tapi berhubung yang ini saya bisa baca dari awal sampe akhir dalam satu waktu tanpa terputus/tersendat (intinya lebih ngalir)... saya VOTE MAHESA!! :D

Karakter2 pendukung ini 'terpaksa' saya sertakan karena setting utama dunia Mahesa adalah 'perang bayangan' antar dua kubu yang banyak orang tidak tahu, karena itu variabelnya (tokohnya) 'terpaksa' banyak :D

100

To Mahesa:
.
The Canon ->
The Power of Imagination
Sebenarnya gwa salut sama cerita mahesa karena secara Meta, mahesa beneran menggunakan Golden Realm sebagai plot Device. kemampuan dia untuk mematerialkan Kali, Hanuman ternyata berpengaruh ke benda yang membuat dia bertahan sampai detik ini yaitu Sarotama kedua.
(setidaknya itu yang ada dipikiran gwa.)
.
The Final Battle ->
menggunakan kedua peraturan dan setting yang berubah sesuai dengan karakternya dan juga pertarungan all-outnya sangat menarik. dan sesungguhnya SANGAT SERU... sayangnya penutupnya berasa antiklimaks, bukan hanya menelan racun, tetapi bagi saya yang baca 7 cerita sebelumnya... berasa kematian Edward di final ini seakan mercy kill (Baca: kurang sadis)
.
The Ending ->
Salut, kalian berdua... baru kali ini saya menemukan ending BoR yang mendahulukan canon panitia tidak menyalip. (CC: edward)
khusus Mahesa Endingnya benar-benar seperti meraih (the prize) kayak McGuffin dan juga kebenaran dalam bentuk termurninya.
.
Vote saya akan saya tunda 2 hari, menunggu Fridge logic yang mungkin terlintas.

Vote the winner goes to Mahesa

90

and so... the never ending war has come to an end...
.
saya sependapat sama master hael dan bang sun... blackz sama anak-anaknya (?) gimana kabarnya.....
.
untuk endingnya okee... anget... (>.<)b
rasanya kaya lagi duduk di bawah pohon rindang dan kena semilir angin~~~~ tapi... di saat yang sama ngasih kesan kaya ketika saya namatin dua seri castlevania soma cruz..
setelah dipusingkan oleh petualangan besar dengan cerita yang epik, dan dikasih ending yang ga begitu mengejutkan... tapi tetep anget >.<
.
bye bye mahe... semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, dimanapun, kapanpun~~~

90

SAYA SUKA ENDINGNYA.
Kayak novel cinta #eh #kayak pernah baca aja
.
.
Tapi saya senyum-senyum baca ini :
-Sosok itu bertukar pandang dengan Tsuki selama beberapa saat sebelum akhirnya menghilang bersama-sama dengan Tsuki >> duh saling tukar pandang #plak
.
-Mahesa yang sempat tak sadarkan diri pun akhirnya tersadar. Edward tak terlihat lagi di gedung seberang dan ini membuat Mahesa menjadi makin was-was mengingat Edward ternyata bisa merubah wujudnya menjadi sosok aneka satwa >> :D
.
-Tesuki >> maaf, saya ngakak.
.
.
Tapi suka banget sama endingnya.
Kepalanya Ed menggelinding, kenapa ngga diledakin aja? DX
.
Mantap!

.

80

Tamat~ Q_Q
#sungkem sama master finalis, ,
`
`

untuk storynya,, aku coba komentari, ,
battlenya panjang~ namun Edward tidak terasa jd antagonis yg epic~ nasib Blackz pun diskip liwat dialog tsuki-ada-urusan.
>w<
`
`
Ending na~ kalauw dari canon panitia, , Tsuki sii antusias banjeet pengen golden Realm, , tp d sini sepertinya realm itu dikasih begitu saja pd Mae-chan dgn imbala "pelajar berharga" bagi Tsuki, , dan entah apa pelajarannya aku blm dapat menganalisa~ >_< #kuhuk~
`
`
kembali ke realita masa lalu dan hidup damai, , tp bertemu ayah yg seharusnya sudah tiada dan beromanse ria bersama Ratih d wujudnya yg 10 tahun, , tidak berasa galau na~
`
`
#haiyhooo~
sekian, , vote menyusul,
intinya...
#ampooooni saya, masteeeer!
#sungkem sama master
(>ʃƪ<)

80

wogh, pertama-tama saya ucapkan selamat atas keberhasilannya meempuh final. biar bagaimana pun finalis adalah dua orang yang berhak menuliskan calon 'ending' resmi dari turnamen ini.
.
baik, sekarang saya akan menilai. secara keseluruhan, hmm, ini kurang seperti yang saya harapkan. ending turnamennya berasa adem ayem banget ga ada twist apa-apanya... >A< habis selesai berantem udah selese aja nasib blackz nya juga ga tahu...
.
latar belakang mahesa berupa perwujudan kali, hanoman, juga masa lalu-masa lalunya itu uda lumayan, pun rasanya masih ada yang kurang tergali dalam untuk sebuah final. entahlah mungkin saya kurang menyimak battle-battle sebelumnya, tapi saya ga dapat gambaran utama dari kegalauan mahesa yang akhirnya terjawab di akhir.
.
sama, sebagai musuh finale, saya agak ngerasa edwardnya kurang membekas, seperti lagi melawan musuh-musuh reguler.
.
votenya, entar, mau baca edward dulu~