[Round 7] Edward Kalashnikov - Decision

 

Edward mematerialisasi sebuah tombak di tangan kanannya.

“Hero kau bilang? Huh, berarti kau harus berakhir disini sekarang juga.”

Mahesa memasang kuda-kuda. Sedikit banyak ia sadar bahwa penyihir di hadapannya ini terlalu sombong hingga dengan mudah menilai seseorang dari penampilan.

“Apa yang akan kau lakukan untuk mengakhiriku? Apa kau akan membunuhku dengan tombak itu?”

Edward mengernyitkan alis.

“Apa kau ada mengatakan sesuatu? Aku tidak bisa mendengarmu. Bibirmu terlalu cepat.”

Mahesa melengos menahan tawa. Ia merasa Edward berpura tidak mendengarnya, padahal sebelumnya Mahesa pernah melihat Edward dengan lancarnya berkomunikasi dengan Altem di atas kereta.

“Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, penyihir. Namun itu tidak bisa menipuku.”

“Hah? Siapa yang mau menipumu?”

Mahesa menyunggingkan senyumnya. Benar saja, penyihir itu mencoba mengelabuinya.

“Kau baru saja membuktikannya.”

“Ap—” Edward merasa dirinya dipermainkan oleh bocah kemarin sore yang berada di hadapannya.  Belum sempat ia menghabiskan ucapan yang keluar dari bibirnya, kakinya sudah melesat ke tempat Mahesa berdiri sembari menghunuskan tombak yang ia pegang.

Mahesa yang sempat terkejut dengan sigap melangkahkan kakinya ke belakang. Dengan bantuan Jangkah Agya miliknya, ia berhasil menghindari serangan tombak yang dihunuskan Edward.

“Brengsek,” desis Edward sembari melihat ke sekitar. Matanya sangat baik melihat ke arah kegelapan, namun gerakan Mahesa lebih cepat dari kecepatan matanya memandang objek.

Edward kembali pada kekosongan. Masih tidak ada apapun selain perasaan seseorang mengintainya dari balik gelap. Ruangan hampa ini seperti tidak terbatas, namun secara bersamaan ruangan ini memiliki sekat tak terlihat.

Edward menghela napas, mengukur denyut nadi di tangan kirinya. Tenaganya tidak seratus persen setelah melawan Altem, namun tidak juga dibawah normal karena sempat beregenaerasi.

Satu lompatan dan  Edward berhasil mengubah dirinya menjadi seekor gagak dan terbang—sebelum sebuah anak panah melesat ke arahnya.

“Panah?” Edward bergumam dan memandang ke depan. Di depan sana, ia melihat seorang pemuda Asia yang tadi mengaku dari Heroes. Edward terbang ke arah pemuda itu dan tanpa mengambil jarak dengan sang pemuda, kemudian  merubah dirinya menjadi manusia dan mengepalkan tangannya yang telah berselimut api .

Sang Pemuda—Mahesa—terkejut dengan kehadiran Edward yang terlalu tiba-tiba. Ia belum sempat mengambil ancang-ancang untuk menarik anak panahnya, dan busur Sarotama miliknya belum pernah ia gunakan untuk menghalau api.

Satu gerakan lincah, Mahesa berhasil menghindari gerakan tinju api Edward dengan salto belakang—hanya ujung poninya yang terbakar, namun itu bukan masalah besar. Edward kesal karena tinjunya hanya mengenai angin.

“Gah! Itu sebabnya aku benci anak-anak. Jangan lari kau, bocah!!”

Edward mulai melontarkan api-apinya ke segala penjuru yang ada di hadapannya. Tak terkontrol, tak terarah, ia seperti orang naik darah yang melampiaskan kekesalannya.

“ARGH!”

Edward duduk bersila sejenak dengan mendekapkan tangan di dadanya. Membuang-buang apinya dengan sia-sia tentu saja sangat merugikan dirinya. Hanya saja, kali ini ia membutuhkan penjelasan. Terlalu banyak pertanyaan, dan ia tidak cukup yakin dengan dirinya sendiri.

Apa yang dicarinya jika turnamen ini berakhir?

“Apa kau sudah lelah?”

Edward menegadahkan kepalanya, menatap lurus ke depan. Bukan suara Mahesa yang ia dengar, namun pergerakan Mahesa yang ia lihat.

“Apa kau mau berhenti bermain petak umpet denganku?”

“Hey, dengar, aku bahkan tidak bersembunyi darimu.” Mahesa mengangkat bahunya. Sejujurnya ia heran dengan penyihir di hadapannya ini. Cara bicaranya tinggi, namun matanya sedikit sayu—entah karena lebam akibat pertandingan sebelumnya atau apa.

Edward melengos. “Menyedihkan. Kau mengasihaniku?”

Mahesa menggelengkan kepalanya dengan reflek.

“Kasihanilah dirimu sendiri. Apa kau diajarkan untuk mengasihani orang lai—” Edward tidak menyelesaikan ucapannya. Ia malah menghunuskan pedang dan secara reflek, Mahesa menjadikan busur Sarotamanya sebagai perisai hingga kedua benda logam tersebut bergesekan dan memercikan api.

Edward dan Mahesa sama-sama mundur selangkah.

Pertarungan jarak dekat memang bukan bidang Mahesa. Mahesa sadar akan hal itu, makanya ia terus mengambil jarak  yang tepat untuk melawan Edward. Sedikit menghela napas, Mahesa menarik sebuah anak panah pada busurnya—untuk melepaskan kewaspadaan Edward terhadap dirinya.

Benar dugaannya, Edward menghindari anak panah yang melesat ke arahnya hingga membuka celah ketika Mahesa menghampirinya. Mahesa menendang kepala si penyihir hingga tersungkur. Sejenak, Mahesa berpikir, haruskah ia menghancurkan kemaluan penyihir di hadapannya, seperti saat mereka saling berhadapan di atas gerbong kereta, dua ronde lalu?

“Kh!” Edward memegang kaki Mahesa yang menginjak dadanya dan dengan sigap sang Atlet Panahan mengarahkan busur ke wajah sang penyihir.

“Jangan coba-coba..”

Edward menggenggam erat kaki Mahesa. “Terbakarlah!”

“Sial!”

Mahesa mengangkat kakinya, mundur menghindari rasa panas yang dengan cepat menjalar. Mahesa menghela napas. Ia tidak bisa main hantam kromo menghadapi Edward yang notabene sering melakukan pertarungan jarak dekat.

Edward mulai berdiri dan menepuk-nepuk jubahnya yang bahkan tak berdebu.

“Hei, bocah…”

Mahesa menatap waspada pada sosok Edward.

“Sudah berapa nyawa yang kau korbankan untuk sampai kesini dan melawanku?” tanya Edward congkak.

Mahesa menarik napas dalam-dalam. Ya, memang, ia telah membunuh ‘cukup banyak’ orang untuk bisa sampai posisi saat ini. Bahkan ia membunuh teman yang telah berjuang bersamanya dalam faksi Heroes yang diusung oleh Tsuki.

“Tsk.”

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

VOTE EDWARD

karena dari sisi cerita ini membuat pembaca menjadi penasaran dengan kelanjutan cerita tersebut. sudut pandang Edward yang bagus. suasana nya juga dapat.

Ada hal yang saya bingung sebenarnya sama Eddie,
.
kenapa dia enggak sengamuk biasanya,
.
nah disini, dia kelihatan lebih kalem tanpa adanya kesan meleduk-leduk kayak yang biasanya, dan seharusnya kelelahan si eddie keliatan karena dia baru aja ngeluarin banyak hal di R6.. :3 imo
.
tapi tetep saya VOTE EDDIE, bukan karena favoritism... ini murni karena saya lebih dapet ceritanya dan saya suka banget karakter eddie yang tiba-tiba tsundere disini... >.<.

90

Saya kudu baca berulang-ulang buat paham beberapa paragraf...kecepeten ini >.< iiih!! saya mau baca ulang lagi, tapi IMO, saya setuju. dibanding Mahesa, peran lawan lebih keliatan jelas, tapi...kok...banyak hal mendadak yang gabisa saya tangkep...

Maaf yak, vote saya goes to Mahesa...

80

Jujur saya ga nemu banyak perbedaan dari dua cerita final hxh ini

Keduanya sama" menyajikan dua peserta yang keliatannya 'nerima' begitu aja kalo mereka harus bertarung, sama" ngasih battle yang berasa singkat dan kurang berkesan finale, dan di akhir sama" ngakhirin cerita sebatas pada apa yang mereka dapet usai bertarung

Kalo nengok komen sebelum saya, sedikit banyak apa yang ada di kepala saya selama baca dua final ini udah diwakilin ann. Dan saya nyaris ngerasa bakal abstain karena ga ngeliat beda yang signifikan antara dua cerita ini - lain halnya sama final N2 yang rasanya 180 derajat beda

Tapi justru karena saya mandang dua"nya seimbang, akhirnya saya pun pengen coba nyeimbangin skor saat ini biar kedudukan keduanya sama

Ending edward beneran sangat disayangin berhenti di situ aja. Andai kata kita dikasih konklusi atau semacem epilog tentang what comes after, barulah saya bisa nerima kalau cerita itu 'nutup' turnamen ini. Tapi setidaknya saya sedikit lebih prefer edward dibanding mahesa karena
- masih lebih berasa BoR dan bukan kayak cerita standalone
- punya potensi dikuak lagi dan ngasih ending lebih definitif, meski sayangnya terlanjur ngga
- ga ngasih ending di mana everyone's got happy ending, sesuatu yang baru buat saya

Akhir kata, saya vote edward
To balance things out, since both stories feels equal for me

80

vote Edward. ReasoN: just cause.
.
ok, jujur sih ini termasuk ending yang masih menimbulkan pertanyaan. tapi IMO it feels good mengetahui bahwa Edward memikirkan orang lain dalam membuat Golden Realms.
.
Battlenya. well, berasa terlalu cepet sih. tapi overall fine kok :)
.
yah, walau sih gw ngerasa sebenarnya karena GR itu bisa didefinisiin sama pemenangnya, si Edward kaga perlu lagi minta sma si Blackz lagi. unless gw ada yang salah tangkep dari GR ini.

80

Okai, ternyata di sini juga sama serunya. Tapi agak lebih panjang dan bacanya agak kurang ngalir. Sip, saya rasa saya udah nemu siapa yang harus saya vote... Semangat terus ya author Edward~ ;)

Makasih banyak sudah mampir, kak Glen.
.
Yosh terus semangat, tapi sayang banget mesti drop 4L karena skripsi.... ToT
.
Padahal mau ikutan...

80

Wogh, jd utk Hero adlh org yg berbeda dgn yg ada di canon Eddie yah.. Utk Hero mengikuti canon penulis aslinya O.o
.
Ada satu yg sy geregetan.. Eddie sma Mahesa ud sma2 tau klo mereka salinan, terua knapa masi bertarung??
Seandainya Eddie ingin ngelanjutin pertarungan dgn alasan pgn cepet selesei n minta hadiah #plakk, imo nurutku kurang mengena....
Smpt kupikir Eddie sma Mahesa bkerja sma utk melawan Blackz n Tsuki.. Tpi, yaah.. terjadi pertarungan yg gk jauh beda sma ronde2 yg bukan final ~
.
Endingnya sy sma sekali gak suka. Gak jelas, seakan ini bukan akhir n masih digantung. Apa si yg kak Dee harepin?
.
Minta kak Ivan bkin endingnya sendiri?? Akhirnya 'Golden Realm' itu jatuh ke tangan Blackz dong, yg nurutku siy percuma beliau bikin BoR klo gitu.. Karena 'bidak-bidak'nya (kalo mmg 'bidak' yg cma bisa disuruh, alias bkin final battle) akan selamanya jadi bidak yg digerakkan wkwk
.
Tapi, kalo misalnya kak Dee pengen bikin lanjutannya--yg terpisah--setelah ini, nurut saya buang2 waktu. Final nurut sy ya bener2 ending BOR, dimana kedua finalis memberikan AKHIR yg bener2 terbaik...
.
Tapi kalo endingnya dibiarin kyk gini aja.. Duh.. Sy kecewa bgt...
.
Maaf, kyaknya sy terlalu serius >____<
.
Gak ada kumpul2 bareng oke~ gk ada kejelasan gimana nasib Golden Realm, Tsuki, n Blackz oke ~ maaf, tp gk ada surprise... Oke.
.
Paling yg sy suka itu pas Eddie minta ngehancurin semuanya, tp langsung raib krn battle dgn Mahesa berlanjut dan gk ada sesuatu yg WOW imo ~
.
Duh, sy bener2 minta maaf >___<
.
Kalo Mahesa jg spt ini, kyaknya sy gk akan voting siapa2 ...

Hah! Saya ambil napas dulu pas baca kritikan super pedas ini. oke. Beruntung saya bukan pendendam dan langsung ambil logika kalau semua komentar adalah subjektif. Jadi, akan saya jawab satu-satu. Kay? Ehem..
.
Ada satu yg sy geregetan.. Eddie sma Mahesa ud sma2 tau klo mereka salinan, terua knapa masi bertarung??
Seandainya Eddie ingin ngelanjutin pertarungan dgn alasan pgn cepet selesei n minta hadiah #plakk, imo nurutku kurang mengena....
Smpt kupikir Eddie sma Mahesa bkerja sma utk melawan Blackz n Tsuki.. Tpi, yaah.. terjadi pertarungan yg gk jauh beda sma ronde2 yg bukan final ~ >> Meh, ndak ada kerjasama. Antara memperalat dan diperalat. Tau salinannya juga akhir kan ya? Udah kadung kelai itu berdua.
.
Endingnya sy sma sekali gak suka. Gak jelas, seakan ini bukan akhir n masih digantung. Apa si yg kak Dee harepin? >> Yang saya harapin? Hum, Edward hidup bahagia sama salinan-salinan yang pernah hidup, terus edward jadi raja kesepian karena ngga nikah-nikah. Nope, serius deh. Saya kayaknya influence ke Constantine sama Code:Breaker. Itu aja sih, karena ending aslinya Edward, dia bakal dilenyapin. Dan bor hanya mimpi bagi Edward yang asli. #serius
.
Minta kak Ivan bkin endingnya sendiri?? Akhirnya 'Golden Realm' itu jatuh ke tangan Blackz dong, yg nurutku siy percuma beliau bikin BoR klo gitu.. Karena 'bidak-bidak'nya (kalo mmg 'bidak' yg cma bisa disuruh, alias bkin final battle) akan selamanya jadi bidak yg digerakkan wkwk
Tapi, kalo misalnya kak Dee pengen bikin lanjutannya--yg terpisah--setelah ini, nurut saya buang2 waktu. Final nurut sy ya bener2 ending BOR, dimana kedua finalis memberikan AKHIR yg bener2 terbaik... >> Saya ngga minta kak ivan yang buat. Karena jujur saya ada epilog tersendiri. Kenapa saya ngga nulis sekalian? Sori ann, saya bukan orang Pede yang yakin menang. Jadi bakal bikin epilog setelah dipastikan saya menang, cuma kalau ndak, tetep bikin dan balik ke ending dimana itu hanya mimpi.
Dan buang-buang waktu? Well, dunno sih ya, tapi kalau emang bagi ann buang2 waktu, ya buang2 waktu. Tapi bagi saya ngga sih, karena BoR kali ini, pertama kalinya salinan kan? Terus realitas asli OC bagaimana?
.
Kalo Mahesa jg spt ini, kyaknya sy gk akan voting siapa2 ... >> Ending Mahesa lebih manis. Vote Mahesa saja. Soalnya romance di endingnya bikin senyum-senyum
.
Makasih loh ya Ann, sudah mau mampir :D

Dan, ini bukan offense or defense. just answered your disappointments

80

Halaman 3-4-5, salah satu jurus favoritku, pembalikan alur. Tapi eksekusinya di sini malah jadi ngga keliatan impactnya. Salah satu cara menggunakan jurus ini supaya impactnya berasa adalah membuat plot twist. Gampangnya begini, dirimu membangun fondasi A yang membawa pembaca untuk mengira-ngira bahwa hasilnya adalah B, lalu buatlah missing link, dan akhirilah dengan C. Setelah itu balik alurnya dan ceritakan alasan apa yang terjadi di missing link itu sehingga akhirnya jadi C. Di halaman 3-4-5 ini aku lihat sebenernya gak perlu balik alur, tapi justru efeknya akan lebih berimpact kalo dirimu pake di halaman 7-8, dimana Edward sudah punya tekad buat ngancurin semuanya (A keliatannya mau dibawa ke B), tapi ternyata ngga jadi (hasilnya C), CUMA ... Di sini kurang alasan. Ini tempat yang cocok buat pake jurus balik alur dimana saat alurnya balik, diceritain kenapa bisa si Edward berubah pikiran :)

Untuk ending, terlalu imba buatku, jadi ketegangan ga sempat terbangun.

Voting menyusul setelah baca mahesa ya

Makasih udah datang ke sini, Kak PWW >w<
.
Nice advice. Saya catet. Next, kalau saya ikut lagi, saya mau buat plot twist, mungkin saya bakal pakai.
.
Makasih banyak loh ya...

90

Um gimana ya???
.
Entah kenapa change-heart ala shounen manga gini kok kayak nggak mengena di hati saya.
.
Mungkin karena saya terlalu banyak baca seinen manga #plak.
.
Setuju sama Sun, narasi pas battlenya bikin bingung.
.
Mantranya ... itu diterjemahin pake google translate ya?

heheheheh...
Saya doyan yang sonen2 emang bang manik. Sonen ai juga #plak.
.
Sorry >.<
.
Iya, ketahuan ya? #sembunyi
.
Makasih loh, udah mau mampir :D

100

To Edward:
.
The Canon->
Livelihood of Troupe
menemukan arti kehidupan bukan dengan menjalaninya tetapi dengan mendapatkan teman, walaupun teman yang sama-sama dibenci. actually feel ini saya dapatinnya berasa tiba-tiba loh.
kalau memang dari awal Edward mau diginiin... mungkin lebih cocok kalau dia bunuh Stellia (awal-awal), tapi gak tega bunuh Altem (akhir-akhir) sehingga character Developmentnya berasa.
tapi di RtR 6 aja dia bunuh rexanne tanpa berkedip gitu.
.
The Battle ->
Saya senang dengan battlenya yang fast paced gitu, tetapi kejadian setelah Edward bangkit lagi... berasa ooc buat saya, Soalnya mengetahui kemampuan edward yang baru didapat... seharusnya sih Mahesa bisa Jangkah Agya menjauuuuuuhhh. jadi yah klimaksnya doang yang berasa kurang.
.
The Ending ->
Salut, kalian berdua... baru kali ini saya menemukan ending BoR yang mendahulukan canon panitia tidak menyalip. (CC: Mahesa)
khusus Edward, Ending Edward lebih berasa "kurang dikit" daripada Mahesa. nevertheless pembaca (atau saya saja) sudah bisa membayangkan dunia apa yang diinginkan oleh Edward. Dunia yang dipenuhi para Wacko dari semua Heretic.
.
Vote saya akan saya tunda 2 hari, menunggu Fridge logic yang mungkin terlintas.

Yup kak Ivan. makasih ya.. ditunggu Votenya. Siapapun yang dapat banyak vote, dia emang pantas menang :D

and so... the never ending war has come to an end...
.
kyaaaaa >.<
hal yang paling berharga bagi manusia bukanlah nyawa, melainkan memori...
tapi... tapi... edward cinta sama melody kan? selama melody baik-baik saja, terlebih lagi melody asli bersama edward asli dan bahagia, edward [salinan] ikut bahagia juga kan? >.<
dan... dengan dihilangkannya perasaan akan melody... seharusnya dia tidak punya beban apa-apa kan?
.
it's hapy end~~~~
.
tapi, saya setuju sama kak sam... kayanya masih bisa ditambah epilog... rasanya kaya baca HarPot dari buku 1-7 dan berhenti di chapter terakhir sebelum epilog... penyelesaiannya bagus (>.<)b tapi masih bisa disempurnakan...

Mungkin bakal ada After story sih, kalau.....
Tapi lihat nantilah. makasih udah mau mampir ya kak Lin <3
.
Dia bakal memperlakukan Melody cuma kayak temen/sodara. Terus dia sama siapa? Apa sama Hideya aja? #Eh #IniBukanBL #DijitakKakSam

80

#sungkem dulu aah
sama master Finalis, ,
#cieileee~
`
`
apakah blackz dapat menyembuhkan tangan serta apapun yg sudah dikorbankan oleh diri Ed? O_O
~~
golden Realm hendak menunjukkan Ed sbg penguasa karena dirinya punya maksud lain di kala sudah punya rasa "manusiawi" #kyaa >////<
`
`
hunn apa lagi yaa? >_<
#jdeerr!
`
`
hanya saja, , setelah membantai mae-chan lalu berubah jadi manusiawi, , terasa mendadak~
`~
oke, , hom pim pa dulu aah sebelum vote
#gak~
iyahahaha, ,
satu hal lagi, ,
#Ampooooooni saia, masteeer!
#sungkem!

Makasih banyak sudah mau mampir, Bang Hael... >.<
.
Uuuu----- edward ga seharusnya bergaul dengan manusia. biar ndak berkeprimanusiaan <3

oke.. vote!

80

seperti sebelumnya, pertama-tama saya ucapkan selamat atas keberhasilannya meempuh final. biar bagaimana pun finalis adalah dua orang yang berhak menuliskan calon 'ending' resmi dari turnamen ini.
.
komen~
.
edward nya uda ga kena mad enchantment nih (ato cuma saya aja yang selama ini mikir gitu >_< )
.
jadi, saya komen dengan ngebandingin dari punya mahesa :
- di sini konfliknya edward lebih jelas, beserta penyelesaiannya lebih ngetwist #hahay
- peran mahesa sebagai lawan finale lebih terasa
.
cuman yang saya agak sayangkan ini revelationnya berasa kurang ngena. setelah edward tahu tentang salinan, pemikiran dia kayaknya cepat banget. bukan apa-apa, tapi pembawaan narasinya mungkin. coz mau gimana lagi emang uda ronde terakhir juga si. namun jadi agak gimana gitu, cepat banget hati edward berubah.
.
pas battle, narasinya agak membuat saya bingung ambil sudut pandang mana, hingga kadang saya bingung siapa yang begini, siapa yang begitu, apalagi ketika menggunakan kata ganti 'pemuda itu' untuk kedua karakter. trusss, lompat-lompat adegannya juga kurang berasa penekanannya >.<
.
uda komennya segitu aja, saatnya menelaah vote yang mana~

Terimakasih banyak, kak sun. :D

Mad enchantment ? edward aslinya setengah waras sih. Dan ya emang, cepet edward berubah karena dia tsun. dia itu masih mau idup, tapi sok galak dngn ngomong mau ngehancurin GR. Padahal dia setuju juga sih, kalau GR jadi punya dia. ada yang bisa dia suruh2

Nah, pas battle itu emang rodo gamblang. Maaf.. Tapi makasih sekali lagi, kak sun. <3

VOTE EDWARD!
.
alasannya dari yang sudah dicantumkan di atas, dan galaunya edward lebih greget.
.
heheh...