[Round 7] Edward Kalashnikov - Decision

 

“Wow, langka sekali kau memanggilku dalam waktu dua kali sehari. Kau pikir kau cukup kuat untuk memanggilku?”

Edward melengos. Sejujurnya ia merasa terhina dengan ucapan tanpa sosok yang ia dengar.

“Jadi, apa permintaanmu kali ini?”

Edward menguatkan dirinya untuk bangkit. “Aku ingin menghancurkan bocah itu.”

“Oh, Abimanyu?”

“Aku tidak menanyakan namanya.”

“Kami mengenalnya sebagai Abimanyu.”

“’Kami?’”

Hening sesaat sebelum suara itu melanjutkan, “Perkara mudah membunuh Abimanyu tanpa sisa, namun biarkan aku menanyakan satu hal padamu.”

"Apa?"

“Apa yang akan kau lakukan jika kau memenangkan turnamen ini?”

“Aku akan kembali ke duniaku, bertemu Melody.”

“…Sayang sekali Edward, hal itu mustahil.”

“Mustahil?” Edward tidak mengerti. Kepalanya pening.

“[Salinan] sepertimu tidak akanbisa memasuki realitas asli. Tempatmu hanya disini.”

“Apa maksudmu dengan [Salinan]?”

“Apa kau tidak tahu, Edward?”

Edward terdiam. Matanya menuntut jawaban.

“Kau, teman-temanmu, musuh-musuhmu di realitas ini hanyalah [salinan] yang diciptakan oleh Blackz dan Tsuki. Sementara Edward yang asli hidup bahagia bersama Melody.”

“Jadi, Melody masih hidup?”

“Melody yang asli, ya, begitupun Edward. Namun Melody yang bersamamu, sudah hancur. Begitu juga dengan Hideya, Altem, Rexanne, Luke, dan yang lainnya”

“Termasuk Blackz?”

“Hmph.” Suara itu terdengar seperti orang melengos. “Dia pencipta. Dia yang menciptakanmu.”

“Aku tidak percaya padamu.”

“Silakan. Aku tidak memaksamu percaya. Namun, bukankah kau sudah melihat sendiri buktinya? Kalian yang seharusnya mati, malah hidup dan bertemu, kemudian bertarung seolah kematian kalian palsu. Bukankah kau sudah melihat semuanya, Edward?”

Edward tidak ingin membenarkan ucapan tanpa sosok tersebut, namun ya, memang begitu kenyataannya.

“Dan apakah kau tidak ingat bagaimana kau melihat Hideya dan Rexanne menghilang?”

Edward terbeliak. “Bagaimana kau tahu?”

“Aku tahu semua yang kau lihat, semua yang kau rasa, semua yang kau cium. Kau kira dirimu siapa?”

“Tsk.”

“Blackz yang melakukan semuanya. Memusnahkan [salinan] tersebut atau menghidupkannya.”

“Bukankah kau juga [salinan]? Ji-jika yang kau katakan tentang [salinan] itu benar.” Edward memalingkan wajahnya.

“Keadaannya berbeda denganku, anak muda. Aku terhubung dengan Edward yang ada di realitas nyata. Aku universal. Kekuatan mutlak.”

“Kau sombong sekali, huh?”

“Lihat siapa yang bicara. Jadi bagaimana? Rela berkorban demi menghancurkan Abimanyu?”

“Apakah dia juga merupakan [salinan]?”

“Ya.”

Edward berpikir keras. Kenyataan tentang [salinan] ini terdengar bodoh. Apakah bisa dipercaya? Jika tidak, lalu mengapa semuanya terjadi sesuai dengan yang diucapkan sosok yang tak kasat mata ini? Jika dirinya dan yang lain adalah [salinan], maka bukan tidak mungkin Blackz menggunakannya berkali-kali sesuka hati dan menghancurkannya jika tidak dibutuhkan.

Edward merasa dibodohi. Dirinya yang selalu memperalat orang lain, ternyata diperalat oleh sebuah entitas tidak jelas berwarna hitam.

“Kurang ajar!” Edward menggeritkan giginya. Napasnya memburu.

“Oh! Apa kau sudah membuat keputusan?”

Edward menatap sekelilingnya dengan tajam. “Hancurkan bocah itu!!”

“Kau tidak mendengarkan yang kukata—”

“Hancurkan Blackz, pemimpin Heroes, dan realitas ini!”

“Kau serius?”

“…terakhir, hancurkan diriku.”

Suasana hening sejenak.

“Apa kau bersungguh-sungguh?”

“Apa aku terlihat main-main? Aku menghancurkan Abimanyu-pun aku sudah tidak memiliki siapa-siapa. Cepat atau lambat, Blackz akan menghancurkanku jika sudah tidak membutuhkanku. Aku lebih memilih menghancurkan diriku sendiri.”

“Dunia ini?”

“Sekalian saja dihancurkan. Itu tujuanku memasuki turnamen ini. Menghancurkan dunia yang tidak nyata ini.”

“Aku tidak mengatakan dunia ini tidak nyata, Edward. Dirimupun nyata, setidaknya dalam bentuk [salinan].”

“Hmph. Kau mengejekku?”

Hening sejenak, sebelum akhirnya Edward angkat bicara.

“Oh ya, bolehkah aku minta satu hal lain?”

“Apa?”

“Aku ingin menghancurkan Abimanyu dan dunia ini dengan kekuatanmu…melalui tanganku.”

“Kau tahu, Edward? Menghancurkan dunia  yang disebut ini bukan hal yang susah. Namun, ada harga yang besar yang harus kau bayar.”

“Ambil semuanya dariku. Ambil Abimanyu.”

“Aku hanya tertarik pada lengan kirimu, Edward. Umurmu, kekuatanmu untuk teleportasi, dan salah satu dari dua hal penting bagimu.”

“Huh, apa itu?”

“Kenanganmu dan perasaanmu.”

Edward tersentak. Kehilangan salah satunya, akan membuatnya seperti mayat hidup. Tapi bukankah dirinya juga akan menghilang dari dunia ini?

“Silakan ambil.”

“Apa kau tidak memikirkan sekali lagi, Edward? Setelah perjanjian ini, apapun keputusanmu, tidak akan merubah harga yang kita sepakati.”

Edward menyunggingkan senyumnya. Sesekali terbesit kenangan antara dirinya dan seluruh anggota faksi Heretic. Perkelahiannya dengan Rexanne, adu mulutnya dengan Altem, kedekatannya dengan Hideya, rasa kesalnya saat pertama kali berkumpul di ruang serbaguna. Rasanya disana Edward begitu hidup. Selama ini, ia hanya merasakan kekosongan saat berkelana bersama Melody, namun saat berada di Oase, rasanya hidupnya mulai berubah. Ia lebih mengenal banyak ‘warna’. Sangat disayangkan, ia akan segera kehilangan semuanya jika ia setuju dengan perjanjian yang ditawarkan. Tapi, ia tidak memiliki pilihan lain, bukan?

Menarik napas dalam-dalam, Edward berkata dengan mantap, “Aku setuju dengan kesepakatan ini.”

Tidak ada suara yang membalas ucapan Edward, namun di hadapannya muncul siluet seorang pria, berusia sekitar dua puluh tahunan, terbuat dari api berwarna putih. Ia mengulurkan tangan kirinya dan Edward menyambutnya.

Perlahan sosok tersebut menyelimuti tangan kiri Edward.

“Kau hanya punya waktu kurang dari sepuluh jam sebelum aku membakar habis tangan kirimu hingga ke tulang.”

“Aku tidak akan membutuhkan waktu selama itu untuk menghancurkan Abimanyu.”

 

***

Mahesa masih mengamati keadaan Edward yang berubah aneh. Ia menjadi waspada terutama saat tangan kiri Edward terbakar api berwarna putih.

“Fufufufu.. Kau merasa menang, bocah?”

Edward menatap Mahesa tajam dan perlahan bangkit. Sedangkan Mahesa merasa lututnya gemetar. Baru saja ia akan mematerialisasi Sarotama,  Edward sudah menerjang ke arahnya, memegang gelang kuning tembaga dengan tangan kanannya dan mengarahkan tangan kirinya ke bahu kanan Mahesa.

“Akh!”

Mahesa mengerang saat tangan kanannya terlepas akibat sentuhan—atau tepatnya serangan—Edward dan terlempar tak jauh darinya berdiri. Darahnya mengalir deras, rasa sakit akibat kehilangan tangan kanan tidak bisa ia bendung. Mahesa bersimpuh. Kini ia tidak memiliki Sarotama untuk digunakan.

“Apa kau tahu, apapun yang disentuh tangan kiriku akan meleleh, terbakar? Sama seperti sendi bahu dan lenganmu yang akhirnya putus karena kusentuh?”

“Waaaa!!!” Mahesa mengambil Kamandaka A-4 miliknya dan menembakkannya berkali-kali ke arah Edward yang semakin mendekat.

Edward terduduk tak jauh dari hadapan Mahesa. Peluru high velocity yang terisi dalam Kamandaka mampu membuat beberapa lubang di bagian tubuh kanan Edward. Edward masih keras kepala dengan merayap mendekatkan dirinya pada Mahesa. Ia tidak peduli bahwa bahu kanannya tertembus peluru, ataupun paru-paru kanannya yang robek. Ia yakin regenerasi  bisa membantunya sembuh, namun sebelum itu ia ingin membakar kepala bocah yang dipanggil Abimanyu oleh sosok putih yang ia temui sebelumnya.

Satu tembakan kembali dilepaskan Mahesa ke bahu Edward.

“Kau… sangat keras kepala, bocah!”

“DIAM! Aku akan melindungi dunia ini dari orang-orang macam dirimu!”

“Huh, kau bermimpi, bocah. Makhluk tidak nyata sepertimu, tidak akan bisa melindungi apa-apa.”

“Kau jangan asal bicara! Apa maksudmu tidak nyata?”

Edward tertawa disertai batuk darah. “Kau juga ditipu. Kau tidak tahu, bahwa dirimu yang sekarang tidak lain hanya sebuah [salinan]?”

“[salinan]? apa maksudnya?!”

“Tidakkah pemimpinmu memberitahumu?”

“Aku tidak percaya ucapanmu.” Mahesa mencoba melupakan rasa sakit pada bagian kanannya dengan memikirkan ucapan Edward matang-matang. Apakah Edward hanya berusaha mengelabuinya, ataukah Tsuki menyembunyikan sesuatu darinya? Mahesa ingat, setelah melawan Hilya, dirinya menanyakan tentang keberadaan [Mahesa] lain yang ia temui di Dakara. Mahesa mencoba mengingat sesuatu yang terbesit di kepalanya.

 

*

 

“Apa ini semua nyata?” tanyanya

“Apanya?”

“Realitas ini? Kau, Clive, Deus, IRSS Chekov, Para Heroes dan Heretic?”

“Aku nyata.”

“Kami?”

“Menurutmu?” Tsuki berteka-teki.

“Berarti aku tidak nyata?”

“Siapa yang pernah bilang kau nyata?” Tsuki balas bertanya.

“Aku tak nyata, [Mahesa] yang tadi itulah yang nyata bukan?”

“[Mahesa] yang tadi hanya salinan. Salinan dari [Mahesa Werdaya] yang asli, yang saat ini bekerja untuk sebuah organisasi bernama Dakara.”

“Apa aku kloning?” Dirinya mencoba melawan argumentasi

“Bukan. Kloning itu istilah medis. Salinan dalam realitas yang lain, itu lebih cocok dalam kasus ini. Kasus fisika kuantum tentang multiverse, pernah dengar?”

“Tidak.”

“Terlalu rumit untuk dijelaskan.”

*

“Kenapa kau diam, bocah? Mulai menyetujui bahwa dirimu tidak nyata dan hanya berupa [salinan] yang seenaknya bisa digunakan?”

“Tidak. Aku merasa kasihan padamu.”

“Hahahaha—Ohok. Bukankah kau yang patut dikasihani. Sudah tertipu, dan masih muluk ingin menjaga dunia yang tidak nyata ini?”

“Huh. Kau sendiri, mengapa bersusah payah hingga sampai ke babak ini padahal dirimu pun tidak nyata? Menggelikan.” Mahesa melengos, tidak kalah angkuh dari Edward.

“Bukankah sudah jelas?” Edward menyunggingkan senyumnya. “Aku ingin menghancurkan dunia ini.”

“Hahaha, bicara bodoh apa lagi, kamu? Tidak mudah menghancurkan dunia ini. Lagipula seseorang pernah berkata padaku, bahwa aku bisa menciptakan duniaku sendiri.” Pandangan Mahesa mulai kabur.

“Tanpa siapapun? Aku rasa dunia lebih baik menghilang.”

Mahesa menggenggam Kamandaka dan mengarahkannya ke dahi Edward yang tertelungkup beberapa langkah di hadapannya. “Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, penyihir gila.”

“Heh.” Edward mendengus meremehkan. “Mungkin otakmu yang belum sampai sana,bocah.”

 

*

 

Detik berikutnya, kedua petarung mulai melancarkan serangan terakhirnya. Edward berkali-kali menghindari lontaran peluru dari senjata Mahesa meski ia kehilangan telinga kanannya dengan menembakkan api dari tangan kirinya. Senada dengan Edward, Mahesa juga berulang kali menghindari serangan tangan kiri Edward meski perut kirinya koyak.

Mahesa termuntah darah dan ambruk. Ia melihat perut kirinya yang berlubang karena serangan Edward. Pandangannya semakin kabur. Ia terlalu banyak kehilangan darah. Dengan gemetar, ia mengarahkan Kamandaka ke arah Edward yang perlahan berjalan ke arahnya.

“Menyerahlah, semua sia-sia.” Edward menyentuh tangan kiri Mahesa, memutuskan telapak dari pergelangannya.

Mahesa mengerang.

Edward berjongkok perlahan dan mengelus kepala Mahesa dengan tangan kirinya.

“Selamat tinggal…”

“AAAAA-----“

Mahesa merasakan panas yang menjalar dengan cepat dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Jantung dan otaknya terasa mendidih, matanya terus mengeluarkan air, suaranya perlahan kering dan tidak terdengar, namun Edward tahu ia masih hidup.

Edward memberi tubuh Mahesa waktu untuk beradaptasi dengan panasnya api putih dari tangan kirinya sebelum benar-benar meledak. Ia bisa mendengar Mahesa menggeram pelan. Edward menekan telapak tangannya di atas kepala pemuda Asia itu hingga sang pemuda meledak dan serpihan tubuhnya terlempar kemana-mana.

 

*

Edward menghela napas pelan. Tubuhnya sudah cacat, regenerasi berjalan terlalu lambat. Jika ada lawan lain, ia tidak yakin bisa melawannya. Tangan kirinya masih terbakar api putih,  belum saatnya ia kehilangan tangan kirinya.

“Kau sudah menyerah?”

Edward menoleh ke segala penjuru, namun ia hanya mampu mendengar suara itu. Seperti bisikan di dalam kepalanya.

“Masih kuat untuk melanjutkan?”

Edward tertawa dalam lenguhan napasnya. “Bukankah aku sudah membayarmu untuk menghancurkan dunia ini?”

“Baiklah kalau begitu.”

Edward duduk bersimpuh. Ia mengangkat tangan kirinya tinggi-tinggi, bersiap memukul bumi. Ucapan Mahesa sempat terngiang di benaknya. Ya, ia memang bisa menggunakan realitas ini dan membentuk dunia baru, namun apa artinya dunia tanpa isinya? Wajah-wajah para anggota Heretic yang telah dilenyapkan kembali terbesit di benak Edward. Ia menggertakkan giginya.

“Apa yang kau tunggu?”

“Tidak ada. Maaf aku melamun sedikit.” Edward menghela napasnya dan memutuskan untuk mengayunkan tangannya ke bawah. “Proséf̱chomai gia sas , daimonikí̱ pnév̱ma ... Kápsei óla sto mi̱dén . Egó̱-”

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

VOTE EDWARD

karena dari sisi cerita ini membuat pembaca menjadi penasaran dengan kelanjutan cerita tersebut. sudut pandang Edward yang bagus. suasana nya juga dapat.

Ada hal yang saya bingung sebenarnya sama Eddie,
.
kenapa dia enggak sengamuk biasanya,
.
nah disini, dia kelihatan lebih kalem tanpa adanya kesan meleduk-leduk kayak yang biasanya, dan seharusnya kelelahan si eddie keliatan karena dia baru aja ngeluarin banyak hal di R6.. :3 imo
.
tapi tetep saya VOTE EDDIE, bukan karena favoritism... ini murni karena saya lebih dapet ceritanya dan saya suka banget karakter eddie yang tiba-tiba tsundere disini... >.<.

90

Saya kudu baca berulang-ulang buat paham beberapa paragraf...kecepeten ini >.< iiih!! saya mau baca ulang lagi, tapi IMO, saya setuju. dibanding Mahesa, peran lawan lebih keliatan jelas, tapi...kok...banyak hal mendadak yang gabisa saya tangkep...

Maaf yak, vote saya goes to Mahesa...

80

Jujur saya ga nemu banyak perbedaan dari dua cerita final hxh ini

Keduanya sama" menyajikan dua peserta yang keliatannya 'nerima' begitu aja kalo mereka harus bertarung, sama" ngasih battle yang berasa singkat dan kurang berkesan finale, dan di akhir sama" ngakhirin cerita sebatas pada apa yang mereka dapet usai bertarung

Kalo nengok komen sebelum saya, sedikit banyak apa yang ada di kepala saya selama baca dua final ini udah diwakilin ann. Dan saya nyaris ngerasa bakal abstain karena ga ngeliat beda yang signifikan antara dua cerita ini - lain halnya sama final N2 yang rasanya 180 derajat beda

Tapi justru karena saya mandang dua"nya seimbang, akhirnya saya pun pengen coba nyeimbangin skor saat ini biar kedudukan keduanya sama

Ending edward beneran sangat disayangin berhenti di situ aja. Andai kata kita dikasih konklusi atau semacem epilog tentang what comes after, barulah saya bisa nerima kalau cerita itu 'nutup' turnamen ini. Tapi setidaknya saya sedikit lebih prefer edward dibanding mahesa karena
- masih lebih berasa BoR dan bukan kayak cerita standalone
- punya potensi dikuak lagi dan ngasih ending lebih definitif, meski sayangnya terlanjur ngga
- ga ngasih ending di mana everyone's got happy ending, sesuatu yang baru buat saya

Akhir kata, saya vote edward
To balance things out, since both stories feels equal for me

80

vote Edward. ReasoN: just cause.
.
ok, jujur sih ini termasuk ending yang masih menimbulkan pertanyaan. tapi IMO it feels good mengetahui bahwa Edward memikirkan orang lain dalam membuat Golden Realms.
.
Battlenya. well, berasa terlalu cepet sih. tapi overall fine kok :)
.
yah, walau sih gw ngerasa sebenarnya karena GR itu bisa didefinisiin sama pemenangnya, si Edward kaga perlu lagi minta sma si Blackz lagi. unless gw ada yang salah tangkep dari GR ini.

80

Okai, ternyata di sini juga sama serunya. Tapi agak lebih panjang dan bacanya agak kurang ngalir. Sip, saya rasa saya udah nemu siapa yang harus saya vote... Semangat terus ya author Edward~ ;)

Makasih banyak sudah mampir, kak Glen.
.
Yosh terus semangat, tapi sayang banget mesti drop 4L karena skripsi.... ToT
.
Padahal mau ikutan...

80

Wogh, jd utk Hero adlh org yg berbeda dgn yg ada di canon Eddie yah.. Utk Hero mengikuti canon penulis aslinya O.o
.
Ada satu yg sy geregetan.. Eddie sma Mahesa ud sma2 tau klo mereka salinan, terua knapa masi bertarung??
Seandainya Eddie ingin ngelanjutin pertarungan dgn alasan pgn cepet selesei n minta hadiah #plakk, imo nurutku kurang mengena....
Smpt kupikir Eddie sma Mahesa bkerja sma utk melawan Blackz n Tsuki.. Tpi, yaah.. terjadi pertarungan yg gk jauh beda sma ronde2 yg bukan final ~
.
Endingnya sy sma sekali gak suka. Gak jelas, seakan ini bukan akhir n masih digantung. Apa si yg kak Dee harepin?
.
Minta kak Ivan bkin endingnya sendiri?? Akhirnya 'Golden Realm' itu jatuh ke tangan Blackz dong, yg nurutku siy percuma beliau bikin BoR klo gitu.. Karena 'bidak-bidak'nya (kalo mmg 'bidak' yg cma bisa disuruh, alias bkin final battle) akan selamanya jadi bidak yg digerakkan wkwk
.
Tapi, kalo misalnya kak Dee pengen bikin lanjutannya--yg terpisah--setelah ini, nurut saya buang2 waktu. Final nurut sy ya bener2 ending BOR, dimana kedua finalis memberikan AKHIR yg bener2 terbaik...
.
Tapi kalo endingnya dibiarin kyk gini aja.. Duh.. Sy kecewa bgt...
.
Maaf, kyaknya sy terlalu serius >____<
.
Gak ada kumpul2 bareng oke~ gk ada kejelasan gimana nasib Golden Realm, Tsuki, n Blackz oke ~ maaf, tp gk ada surprise... Oke.
.
Paling yg sy suka itu pas Eddie minta ngehancurin semuanya, tp langsung raib krn battle dgn Mahesa berlanjut dan gk ada sesuatu yg WOW imo ~
.
Duh, sy bener2 minta maaf >___<
.
Kalo Mahesa jg spt ini, kyaknya sy gk akan voting siapa2 ...

Hah! Saya ambil napas dulu pas baca kritikan super pedas ini. oke. Beruntung saya bukan pendendam dan langsung ambil logika kalau semua komentar adalah subjektif. Jadi, akan saya jawab satu-satu. Kay? Ehem..
.
Ada satu yg sy geregetan.. Eddie sma Mahesa ud sma2 tau klo mereka salinan, terua knapa masi bertarung??
Seandainya Eddie ingin ngelanjutin pertarungan dgn alasan pgn cepet selesei n minta hadiah #plakk, imo nurutku kurang mengena....
Smpt kupikir Eddie sma Mahesa bkerja sma utk melawan Blackz n Tsuki.. Tpi, yaah.. terjadi pertarungan yg gk jauh beda sma ronde2 yg bukan final ~ >> Meh, ndak ada kerjasama. Antara memperalat dan diperalat. Tau salinannya juga akhir kan ya? Udah kadung kelai itu berdua.
.
Endingnya sy sma sekali gak suka. Gak jelas, seakan ini bukan akhir n masih digantung. Apa si yg kak Dee harepin? >> Yang saya harapin? Hum, Edward hidup bahagia sama salinan-salinan yang pernah hidup, terus edward jadi raja kesepian karena ngga nikah-nikah. Nope, serius deh. Saya kayaknya influence ke Constantine sama Code:Breaker. Itu aja sih, karena ending aslinya Edward, dia bakal dilenyapin. Dan bor hanya mimpi bagi Edward yang asli. #serius
.
Minta kak Ivan bkin endingnya sendiri?? Akhirnya 'Golden Realm' itu jatuh ke tangan Blackz dong, yg nurutku siy percuma beliau bikin BoR klo gitu.. Karena 'bidak-bidak'nya (kalo mmg 'bidak' yg cma bisa disuruh, alias bkin final battle) akan selamanya jadi bidak yg digerakkan wkwk
Tapi, kalo misalnya kak Dee pengen bikin lanjutannya--yg terpisah--setelah ini, nurut saya buang2 waktu. Final nurut sy ya bener2 ending BOR, dimana kedua finalis memberikan AKHIR yg bener2 terbaik... >> Saya ngga minta kak ivan yang buat. Karena jujur saya ada epilog tersendiri. Kenapa saya ngga nulis sekalian? Sori ann, saya bukan orang Pede yang yakin menang. Jadi bakal bikin epilog setelah dipastikan saya menang, cuma kalau ndak, tetep bikin dan balik ke ending dimana itu hanya mimpi.
Dan buang-buang waktu? Well, dunno sih ya, tapi kalau emang bagi ann buang2 waktu, ya buang2 waktu. Tapi bagi saya ngga sih, karena BoR kali ini, pertama kalinya salinan kan? Terus realitas asli OC bagaimana?
.
Kalo Mahesa jg spt ini, kyaknya sy gk akan voting siapa2 ... >> Ending Mahesa lebih manis. Vote Mahesa saja. Soalnya romance di endingnya bikin senyum-senyum
.
Makasih loh ya Ann, sudah mau mampir :D

Dan, ini bukan offense or defense. just answered your disappointments

80

Halaman 3-4-5, salah satu jurus favoritku, pembalikan alur. Tapi eksekusinya di sini malah jadi ngga keliatan impactnya. Salah satu cara menggunakan jurus ini supaya impactnya berasa adalah membuat plot twist. Gampangnya begini, dirimu membangun fondasi A yang membawa pembaca untuk mengira-ngira bahwa hasilnya adalah B, lalu buatlah missing link, dan akhirilah dengan C. Setelah itu balik alurnya dan ceritakan alasan apa yang terjadi di missing link itu sehingga akhirnya jadi C. Di halaman 3-4-5 ini aku lihat sebenernya gak perlu balik alur, tapi justru efeknya akan lebih berimpact kalo dirimu pake di halaman 7-8, dimana Edward sudah punya tekad buat ngancurin semuanya (A keliatannya mau dibawa ke B), tapi ternyata ngga jadi (hasilnya C), CUMA ... Di sini kurang alasan. Ini tempat yang cocok buat pake jurus balik alur dimana saat alurnya balik, diceritain kenapa bisa si Edward berubah pikiran :)

Untuk ending, terlalu imba buatku, jadi ketegangan ga sempat terbangun.

Voting menyusul setelah baca mahesa ya

Makasih udah datang ke sini, Kak PWW >w<
.
Nice advice. Saya catet. Next, kalau saya ikut lagi, saya mau buat plot twist, mungkin saya bakal pakai.
.
Makasih banyak loh ya...

90

Um gimana ya???
.
Entah kenapa change-heart ala shounen manga gini kok kayak nggak mengena di hati saya.
.
Mungkin karena saya terlalu banyak baca seinen manga #plak.
.
Setuju sama Sun, narasi pas battlenya bikin bingung.
.
Mantranya ... itu diterjemahin pake google translate ya?

heheheheh...
Saya doyan yang sonen2 emang bang manik. Sonen ai juga #plak.
.
Sorry >.<
.
Iya, ketahuan ya? #sembunyi
.
Makasih loh, udah mau mampir :D

100

To Edward:
.
The Canon->
Livelihood of Troupe
menemukan arti kehidupan bukan dengan menjalaninya tetapi dengan mendapatkan teman, walaupun teman yang sama-sama dibenci. actually feel ini saya dapatinnya berasa tiba-tiba loh.
kalau memang dari awal Edward mau diginiin... mungkin lebih cocok kalau dia bunuh Stellia (awal-awal), tapi gak tega bunuh Altem (akhir-akhir) sehingga character Developmentnya berasa.
tapi di RtR 6 aja dia bunuh rexanne tanpa berkedip gitu.
.
The Battle ->
Saya senang dengan battlenya yang fast paced gitu, tetapi kejadian setelah Edward bangkit lagi... berasa ooc buat saya, Soalnya mengetahui kemampuan edward yang baru didapat... seharusnya sih Mahesa bisa Jangkah Agya menjauuuuuuhhh. jadi yah klimaksnya doang yang berasa kurang.
.
The Ending ->
Salut, kalian berdua... baru kali ini saya menemukan ending BoR yang mendahulukan canon panitia tidak menyalip. (CC: Mahesa)
khusus Edward, Ending Edward lebih berasa "kurang dikit" daripada Mahesa. nevertheless pembaca (atau saya saja) sudah bisa membayangkan dunia apa yang diinginkan oleh Edward. Dunia yang dipenuhi para Wacko dari semua Heretic.
.
Vote saya akan saya tunda 2 hari, menunggu Fridge logic yang mungkin terlintas.

Yup kak Ivan. makasih ya.. ditunggu Votenya. Siapapun yang dapat banyak vote, dia emang pantas menang :D

and so... the never ending war has come to an end...
.
kyaaaaa >.<
hal yang paling berharga bagi manusia bukanlah nyawa, melainkan memori...
tapi... tapi... edward cinta sama melody kan? selama melody baik-baik saja, terlebih lagi melody asli bersama edward asli dan bahagia, edward [salinan] ikut bahagia juga kan? >.<
dan... dengan dihilangkannya perasaan akan melody... seharusnya dia tidak punya beban apa-apa kan?
.
it's hapy end~~~~
.
tapi, saya setuju sama kak sam... kayanya masih bisa ditambah epilog... rasanya kaya baca HarPot dari buku 1-7 dan berhenti di chapter terakhir sebelum epilog... penyelesaiannya bagus (>.<)b tapi masih bisa disempurnakan...

Mungkin bakal ada After story sih, kalau.....
Tapi lihat nantilah. makasih udah mau mampir ya kak Lin <3
.
Dia bakal memperlakukan Melody cuma kayak temen/sodara. Terus dia sama siapa? Apa sama Hideya aja? #Eh #IniBukanBL #DijitakKakSam

80

#sungkem dulu aah
sama master Finalis, ,
#cieileee~
`
`
apakah blackz dapat menyembuhkan tangan serta apapun yg sudah dikorbankan oleh diri Ed? O_O
~~
golden Realm hendak menunjukkan Ed sbg penguasa karena dirinya punya maksud lain di kala sudah punya rasa "manusiawi" #kyaa >////<
`
`
hunn apa lagi yaa? >_<
#jdeerr!
`
`
hanya saja, , setelah membantai mae-chan lalu berubah jadi manusiawi, , terasa mendadak~
`~
oke, , hom pim pa dulu aah sebelum vote
#gak~
iyahahaha, ,
satu hal lagi, ,
#Ampooooooni saia, masteeer!
#sungkem!

Makasih banyak sudah mau mampir, Bang Hael... >.<
.
Uuuu----- edward ga seharusnya bergaul dengan manusia. biar ndak berkeprimanusiaan <3

oke.. vote!

80

seperti sebelumnya, pertama-tama saya ucapkan selamat atas keberhasilannya meempuh final. biar bagaimana pun finalis adalah dua orang yang berhak menuliskan calon 'ending' resmi dari turnamen ini.
.
komen~
.
edward nya uda ga kena mad enchantment nih (ato cuma saya aja yang selama ini mikir gitu >_< )
.
jadi, saya komen dengan ngebandingin dari punya mahesa :
- di sini konfliknya edward lebih jelas, beserta penyelesaiannya lebih ngetwist #hahay
- peran mahesa sebagai lawan finale lebih terasa
.
cuman yang saya agak sayangkan ini revelationnya berasa kurang ngena. setelah edward tahu tentang salinan, pemikiran dia kayaknya cepat banget. bukan apa-apa, tapi pembawaan narasinya mungkin. coz mau gimana lagi emang uda ronde terakhir juga si. namun jadi agak gimana gitu, cepat banget hati edward berubah.
.
pas battle, narasinya agak membuat saya bingung ambil sudut pandang mana, hingga kadang saya bingung siapa yang begini, siapa yang begitu, apalagi ketika menggunakan kata ganti 'pemuda itu' untuk kedua karakter. trusss, lompat-lompat adegannya juga kurang berasa penekanannya >.<
.
uda komennya segitu aja, saatnya menelaah vote yang mana~

Terimakasih banyak, kak sun. :D

Mad enchantment ? edward aslinya setengah waras sih. Dan ya emang, cepet edward berubah karena dia tsun. dia itu masih mau idup, tapi sok galak dngn ngomong mau ngehancurin GR. Padahal dia setuju juga sih, kalau GR jadi punya dia. ada yang bisa dia suruh2

Nah, pas battle itu emang rodo gamblang. Maaf.. Tapi makasih sekali lagi, kak sun. <3

VOTE EDWARD!
.
alasannya dari yang sudah dicantumkan di atas, dan galaunya edward lebih greget.
.
heheh...