Rain

Jika setiap pagi saat terbangun dari tidur kau melihat suatu mahluk yang sangat indah berbaring di sampingmu, apa yang akan kau rasakan? Merasa beruntung? Yeah. Aku merasa sangat beruntung karena aku selalu berada di sisi mahluk yang indah ini dan dapat melihatnya setiap pagi saat aku terbangun. Biasanya aku tidak akan langsung beranjak dari tempat tidur ketika aku terbangun lebih dulu, aku hanya akan tetap berbaring di sampingnya, mengagumi kecantikannya hingga dia terbangun dan mengucapkan selamat pagi kepadaku.

Gadis ini sangat cantik. Rambutnya  yang panjang dan lembut tergerai di sekitar wajahnya, bulu matanya lentik, hidungnya mancung namun mungil seperti bibirnya. Ah rasanya aku tidak akan pernah bisa mengungkapkan kecantikannya itu dengan kata-kata. Tidak akan pernah bisa.

Semuanya terlihat begitu sempurna. Pagi yang cerah dengan udara sejuk dan gadis cantik yang berbaring di sampingku.  Ya. Sempurna jika saja wujudku sama seperti dirinya...

Perlahan, kelopak mata itu terbuka. Bibirnya yang mungil membentuk sebuah senyum ketika melihatku lalu berkata, “Selamat pagi Rain.”

Dia mengusap-usap kepalaku saat aku hanya menatapnya. “Kau bangun lebih dulu lagi hari ini? Kenapa kau tidak pernah membangunkanku sih Rain?” tanyanya seraya memasang tampang kesal yang dibuat-buat lalu beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.

Namaku adalah Rain, kukira semua orang tahu kalau “Rain” berarti hujan. Namaku memang diambil dari nama titik-titik air yang jatuh dari langit itu. Majikanku yang tak lain adalah mahluk indah yang kuceritakan tadilah yang memberikan nama itu untukku. Aku ditemukan di tengah hujan. Kucing kecil dalam kardus yang terletak di pinggir jalan. Dia membawaku pulang lalu merawatku sampai sekarang. Bagiku dia adalah seorang malaikat, malaikatku.

Miaw~

 

...

 

Aku meregangkan tubuhku lalu beranjak dari tempat tidur dan melompat ke meja belajar yang langsung menghadap ke jendela. Di luar sana aku melihat beberapa kucing liar berkeliaran. Jika saja saat itu Sayaka—nama majikanku—tidak membawaku pulang, saat ini mungkin aku juga menjadi kucing liar di luar sana atau mungkin aku tidak akan hidup sampai saat ini.

Kondisiku sangat lemah  pada saat itu. Bagaimana tidak? Saat itu aku hanya seekor bayi kucing—jika kau bisa menyebutnya seperti itu—yang ditinggalkan sendirian di sebuah kardus di pinggir jalan, tanpa induknya, tanpa tempat teduh untuk berlindung, dan belum bisa mencari makan sendiri.

Hari itu hujan turun dengan derasnya. Air yang tumpah dari langit membasahi tubuhku yang kecil dan kurus. Aku hanya bisa berkerut di pojokan kardus kecil itu, mengeong-ngeong pada orang yang berlalu-lalang di jalan di depanku, berharap sebuah uluran tangan. Tapi sepertinya suaraku terlalu kecil atau suara hujan yang terlalu besar yang menyebabkan tidak ada seorang pun yang mendengarku, atau mungkin... mereka memang tidak peduli walau untuk sekedar memindahkanku ke tempat yang terlindung dari hujan.

Saat itulah dia datang. “Kasihan sekali!” samar-samar aku mendengar seruannya saat kesadaranku mulai hilang. Kemudian aku merasakan sebuah tangan yang hangat menyentuhku lalu mengangkatku ke dalam pelukannya.

Saat terbangun, aku mendapati diriku berada di sebuah tempat yang hangat dan di atas sesuatu yang lembut. Rasanya nyaman sekali, baru kali ini aku merasakan yang seperti ini hingga aku mengira bahwa aku sudah berada di surga—tunggu dulu! Apakah kucing masuk surga? Bukankah kami punya 9 nyawa? Kalau begitu ini nyawaku yang ke berapa ya?

“Ah kau sudah bangun, Rain!”

Aku terkejut melihat seorang gadis cantik di sampingku—sepertinya saat itu, aku yang tidak mengerti apa-apa mustahil sekali menyebutnya dengan ‘gadis cantik’, tapi izinkan saja aku menceritakan ini dengan bahasaku yang sekarang sudah cukup dewasa ini.

Aku mengeong kecil dengan tetap menatapnya. Seakan dia tahu maksudku, dia berkata “Ya. Mulai hari ini namamu adalah Rain dan kau akan tinggal di sini bersamaku.”

Gadis itu lalu memberikanku semangkuk kecil susu. Air susu hangat yang saat itu masuk ke tubuhku seakan menghangatkan nyawaku kembali. Entah sudah berapa lama aku tidak menyusu, Ah ibu... aku bahkan tidak ingat wajahnya juga tidak tahu dari mana asal usulku. Sejak saat itulah aku bertekad bahwa apapun yang terjadi, aku akan selalu berada di samping gadis ini dan melindunginya.

 

...

 

“Rain, kau ingin bermain keluar?”

“Ayo kita main keluar!” seruku namun mungkin hanya akan terdengar “miaw” di telinganya.

“Kau jaga rumah saja ya. Aku akan pergi,” ujarnya lagi seraya mengelus-elus kepalaku sebelum dia meinggalkan kamar.

“Bisakah aku ikut?” tanyaku seraya mengikutinya keluar kamar.

“Kau jangan ikut Rain, aku bukan hanya pergi di sekitar rumah,” jawabnya—seakan mengerti apa yang kukatakan.

Kau mau pergi kemana Sayaka?” aku hendak mengikutinya lagi ketika sebuah tangan menangkapku. Sasuke, adik dari Sayaka.

“Rain kau di rumah saja, temani aku bermain karena kakak mau kencan! Haha.”

Eh? Benarkah itu?

Kulihat wajah Sayaka memerah. “Hey Sasuke, kau masih kecil. Tidak mengerti apa-apa!” seru Sayaka yang kemudian menjulurkan lidahnya pada Sasuke.

Benar. Cepat atau lambat ini akan terjadi. Sayaka akan jatuh cinta pada seseorang, Sayaka sudah dewasa. Walaupun aku pun sudah dewasa, tapi ukuran dan wujud tubuhku tidak akan pernah bisa menyamai dirinya. Lagipula, sebenarnya begini pun sudah cukup asal aku bisa selalu berada di samping Sayaka. Aku tidak mengharapkan Sayaka untuk menjadi milikku, tapi aku tidak rela jika perhatiaannya dariku teralih ke orang lain...

Bel pintu pun berbunyi dan Sayaka berlari keluar setelah pamit. Aku melompat dari gendongan Sasuke lalu menghampiri jendela dan melihat Sayaka pergi bersama seorang pemuda.

Hari itu, entah mengapa perasaanku sangat tidak enak. Aku merasa bahwa cepat atau lambat, aku akan berpisah dari Sayaka. Apa karena Sayaka bersama dengan pemuda itu? Entahlah, tapi sepertinya perasaan ini bukanlah sekedar rasa cemburu jika perhatiannya nanti akan teralih dariku.

 

...

 

Aku menyelinap keluar melalui jendela. Hanya ingin berjalan-jalan, walaupun sebenarnya aku tidak terlalu percaya diri untuk berjalan-jalan di luar. Bukan apa-apa, ini semua karena pita merah yang Sayaka pasangkan di leherku. Bayangkan saja, seekor kucing jantan yang gagah tapi di lehernya terikat sebuah pita merah yang manis. Orang lain yang belum mengenalku, seperti teman-teman Sayaka atau Sasuke pasti awalnya mengira bahwa aku adalah kucing betina. Buluku yang putih polos dari ujung kepala sampai ujung kaki dan bola mataku yang berwarna hijau memang sangat manis dengan pita merah ini... tapi hey bagaimanapun aku ini tetaplah pejantan tangguh! Aku juga pandai berkelahi,  dengan sesama kucing jantan maksudnya, dan hanya jika mereka mencari masalah lebih dulu. Lagipula pita ini adalah pemberian dari Sayaka, aku tidak ingin membuatnya merasa sedih dengan berusaha melepasnya, tapi... kenapa warnanya harus merah sih? Walau aku tidak tahu warna merah seperti apa, tapi aku mengerti dengan mendengar omongan manusia-manusia itu.

Tiba-tiba langit yang cerah ini menjadi mendung dan seketika gerimis pun turun. Aku berbalik dan berlari untuk pulang tapi langkahku terhenti ketika aku melihat sebuah kardus di seberang jalan sana, kardus yang mengingatkanku akan masa laluku yang memprihatinkan dulu. Samar-samar aku pun mendengar suara anak kucing, apa jangan-jangan suaranya berasal dari dalam kardus itu?

Benar saja, beberapa detik kemudian aku melihatnya berusaha untuk keluar dari kardus. Kasihan sekali! Kenapa beberapa manusia sangat tega membuang anak kucing di pinggir jalan? Jika memang mau membuangnya, bawalah ke tempat penampungan hewan atau setidaknya, taruhlah di tempat yang aman dan sebisa mungkin jangan pisahkan dia dengan induknya sampai dia berhenti menyusu.

Aku terkejut ketika anak kcing itu berhasil keluar dan sudah sampai di tengah jalan, bahaya sekali. Aku pun berlari untuk mengambilnya dan berniat untuk membawanya ke tempat yang teduh ketika tiba-tiba aku merasakan hantaman yang cukup keras padaku. Aku terhempas ke pinggir jalan dan setelahnya, aku tidak merasakan apa-apa lagi. Aneh sekali, bukankah harusnya aku merasa sakit?

Tiba-tiba aku merasakan tubuhku melayang ke atas, ah tidak bukan tubuhku. Aku melihat tubuhku masih tetap tergeletak di bawah dan ber... darah-darah? Oh tidak! Apa aku sudah mati? Aku melihat kucing kecil yang kutolong tadi menghampiri tubuhku dan mengeong-ngeong. Hey karena dialah aku seperti ini! Tidak, tidak, aku tidak ingin berpisah dengan Sayaka, setidaknya sebelum aku sempat mengucapkan apapun padanya. Terlalu banyak hal yang selama ini ingin kukatakan padanya.

“Baiklah, kuberi kau kesempatan.”

“Eh? Suara siapa itu?” Seketika aku pun  berhenti melayang.

“Aku adalah malaikat khususmu yang bertugas untuk mengantarkan jiwamu untuk bereinkarnasi sebelum nyawamu habis. Karena hari ini sebenarnya bukan hari kematianmu—yang ke 4—ditakdirkan, dan nyawamu hilang 1 karena menyelamatkan seekor kucing kecil, aku akan mengabulkan keinginanmu yang terakhir—di nyawamu yang sekarang—itu.”

“Ta... tapi bagaimana?” tanyaku lagi.

“Kau akan kuberi kesempatan untuk menjadi manusia selama satu jam.”

“Satu jam?! Keapa sebentar sekali?”

“Tidak ada negosiasi. Waktu satu jam tersebut dihitung dari detik ini.”

Secara tiba-tiba lagi, wusssh aku sudah kembali menjejak tanah dengan wujudku yang baru. Aku masih agak linglung dan hampir terjatuh ketika mencoba berjalan dengan dua kaki. Pandanganku juga sekarang menjadi lebih berwarna, bukan hanya hitam-putih seperti yang biasanya kulihat. Hebat! Akhirnya aku bisa melihat dunia yang penuh warna ini dan meiliki dua kaki yang sama seperti Sayaka. Ah Sayaka! Aku harus segera menemuinya.

 

...

 

“Rain!” Dari kejauhan aku mendengar suara Sayaka menyerukan namaku. Benar, sudah lama sekali aku meninggalkan rumah, Sayaka pasti mencariku.

Aku pun segera berlari menghampirinya. “Sayaka!” seruku kemudian.

Sayaka menoleh dan wajahnya terlihat heran ketika melihatku. “Siapa kau?” tanyanya.

“A... aku Rain,” jawabku dengan canggung.

Wajahnya terlihat semakin bingung ketika mendengarnya lalu dia berlalu meninggalkanku.

Aku mengejarnya dan menghadangnya di depan. “Aku memang benar-benar Rain, kucingmu!” Mungkin saat itu aku terdengar seperti orang gila.

“Jangan bercanda!” seru Sayaka marah.

“Aku tidak bercanda, aku memang benar-benar Rain, kucing yang selalu bangun lebih dulu darimu, yang selalu bersamamu sejak 2 tahun lalu, yang kau beri nama Rain—yang jika orang bertanya kau bilang alasannya adalah karena aku ditemukan di tengah hujan padahal selain itu alasannya adalah ‘Rain’ merupakan nama salah satu idolamu. Aku telah mendapatkan kesempatan untuk menjadi manusia agar aku bisa berbicara denganmu, tolong dengarkan aku, aku hanya memiliki waktu satu jam!” seruku lagi dengan panjang lebar.

“Ta... tapi... bagaimana bisa?”

“Ceritanya panjang...”

“Hebat, akhirnya aku bisa bicara denganmu!” seru Sayaka takjub dan dengan spontan memelukku. Tapi dia lalu melepaskan pelukannya dan tiba-tiba terlihat salah tingkah. “Ma-maaf Rain. Aku tidak tahu bagaimana harusnya bersikap padamu dengan wujud yang seperti ini...”

“Mungkin sekarang kita lebih baik mencari tempat yang nyaman untuk berbicara dulu,” ujarku.

Kami pun pergi ke taman di dekat kami lalu duduk di salah satu bangku taman.

“Lalu... apa yang ingin kau katakan padaku?” tanya Sayaka seraya menoleh ke arahku.

Dia terkejut. “Rain, wujudmu semakin lama semakin menghilang!”

“Yeah, aku baru akan bilang padamu. Setelah ini, aku akan pergi. Maafkan aku Sayaka, aku tidak bisa kembali ke rumah lagi bersamamu kali ini. Aku... aku ingin mengucapkan selamat tinggal, jadi kau tidak usah mencariku lagi... terimakasih atas segala yang kau lakukan untukku Sayaka, tanpamu aku tidak akan bisa bertahan sampai saat ini. Terimakasih karena telah mempercayaiku untuk menjadi tempat yang menampung kebahagiaan, kesedihan dan segala keluh kesahmu. Aku ingin kau tahu bahwa walaupun setiap kau bercerita aku tidak bisa mengatakan apapun, tapi aku mengerti dan juga turut merasakan apa yang kau rasakan Sayaka.”

Aku tidak peduli jika setelah ini predikat “pejantan sejati”ku akan dicabut karena aku meneteskan air mata. Aku hanya tidak kuat melihat wajah Sayaka yang juga sudah basah oleh air mata.

“Kau benar-benar akan pergi meninggalkanku, Rain? Kau menemuiku hanya untuk mengatakan salam perpisahan?”

“Dan untuk mengatakan bahwa aku merasa sangat beruntung memiliki majikan yang cantik sepertimu.” Aku tersenyum menggoda, berusaha untuk mencairkan suasana.

“Dan ternyata aku juga memiliki kucing yang sangat tampan. Tapi Rain, sejak dulu aku sudah menduga bahwa kau akan sangat tampan jika menjadi manusia, haha.” Sayaka ikut tersenyum. “Setelah ini kau akan kemana?” Senyuman Sayaka  kembali pudar.

“Entahlah, tapi aku akan bereinkarnasi. Aku masih memiliki 5 nyawa...”

“Ahhh, jadi legenda kucing yang mempunyai 9 nyawa itu benar... Rain, kau harus terlahir kembali di dekatku."

Aku tersenyum sedih. “Aku pun berharap begitu.”

Tiba-tiba aku merasa tubuhku benar-benar memudar. “Sayaka, ada satu hal lagi yang ingin kukatakan...” sebelum aku benar-benar menghilang. “Aku menyayangimu.” Dan akupun menghilang serta tidak bisa melihat Sayaka lagi.

 

...

 

“Sudah kau jangan menangis, cengeng sekali.”

“Aku... setelah reinkarnasi apakah aku akan melupakan segala ingatan di kehidupanku yang sebelumnya?”

“Ya, seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya.”

“Aku... akan bereinkarnasi menjadi siapa?”

“Kau akan mengetahuinya nanti.”

“Bisakah aku memilih dimana nanti aku akan tinggal? Bisakah aku dilahirkan kembali di tempat yang dekat dengan Sayaka?”

“Tidak bisa.”

“...”

“Ehm tidak ada yang tahu. Mungkin bisa jika kau memiliki tekad yang besar.”

“Aku ingin kembali berada di sisi Sayaka!”

“Yeah~ kau masih memiliki 5 nyawa, mungkin di salah satunya nanti kau akan kembali bersamanya. Sekarang berhentilah menangis dan bertanya lalu masuklah ke pintu reinkarnasi itu!”

 

...

 

“Kak? Kenapa kau menangis?”

“Rain telah menghilang...”

“Maafkan aku. Harusnya aku mengurungnya...”

“...”

“Miaw~”

“Suara kucing siapa itu?”

“Ah itu, barusan  aku menemukannya di jalan saat sedang mencari Rain. Dia sangat mirip dengan Rain, jadi aku bawa pulang saja...”

“Rain!!!”

"Miaw?"

 

...

 

-cherryblossom:)-

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer kaochanisa
kaochanisa at Rain (6 years 32 weeks ago)
90

Ceritanya bagus, tapi sayang masih ada beberapa bagian yang kurang pas penggunaan kalimatnya.. tapi selebihnya aku suka ceritanya..

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Rain (6 years 28 weeks ago)

yg mana kao-chan ? biar bisa aku perbaiki nantinya ^^
makasih ya :*

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Rain (7 years 8 weeks ago)
80

lucu juga bercerita dengan sudut pandang kucing...
seperti kata d.a.y.e.u.h. Aku juga merasa pada bagian menuju akhir dipercepat, terburu-buru. Tetapi mendengar penulisnya "stuck" di tengah-tengah, aku (cukup) bisa mengerti....

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Rain (7 years 7 weeks ago)

hhehe iya nih -.-"
makasih udah mampir kk :)

Writer bayonet
bayonet at Rain (7 years 9 weeks ago)
80

sip lah, endingnya sih kayaknya sedih, tapi dipikir2 lagi lumayan happy ending. ada perbaikan lah. haha..

aku kira si rain itu bakal ber renikarnasi jadi kutu rambut, biar nempel terus di kepalanya si sayaka. hehe :D

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Rain (7 years 7 weeks ago)

ih kk bayo ini kalo komen -..- hhaha
kok kutu rambut sih ? sayaka kan ga kutuan :p
.
makasih udah mampir ;)

Writer Ii-chan
Ii-chan at Rain (7 years 11 weeks ago)
90

mgkin aku mgkin lebh ngerasa cerita ini tokoh utamanya bukan kucing, tapi lbh ke manusia yg dikutuk jadi kucing. soalnya, pola pikir dan gaya bahasanya bener2 kyk manusia banget. yah, meskipun aku gk tau jg sih gaya bahasa dan iqnya kucing.
.
trus pas bagian flaskback yg ini:
.
... Baru kali ini aku merasakan yang seperti ini hingga aku mengira bahwa aku sudah berada di surga—tunggu dulu! Apakah kucing masuk surga? Bukankah kami punya 9 nyawa? Kalau begitu ini nyawaku yang ke berapa ya?...
.
pas bagian ini kan lagi flaskback ceritanya. nah, pas aku baca bagian 'eh, tunggu dulu dan bla bla bla' itu, jadi kyk aneh. soalnya, jadi kyk kucingnya berpikir dalam berpikir.
.
lain ceritanya, klo dibkin flaskback tapi khusus cerita langsung flaskbacknya. nggak pake acara nginget2 gitu. klo aku mkirnya sih.
.
trus, klo plot yg dirush jg, terkesan iya. dan klise. tiba2 ada betina mncul, ada truk muncul, dan si jantanpun ketabrak.
nggak buruk, cuman jadi kerasa kyk ceritanya pengen ngambil rute yg konvensional gitu aja.
.
selain itu udh bagus. apalagi ide dan pov dari kucing kerasa original. dan itu aja kyknya.

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Rain (7 years 11 weeks ago)

tadinya mau bikin kayak gitu kak tapi bingung xD
siapa tau kan pola pikirnya kucing kayak gini. contoh: doraemon :p
.
jd itu ceritanya dia menceritakan flashback dia gitu lho kak :3
.
ini emang ga sempurna >w< makasih banyak ya kk hamdan :D

Writer retata
retata at Rain (7 years 11 weeks ago)

Surprising bgt wkt tau si Rain itu trnyt kcng,,!

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Rain (7 years 11 weeks ago)

kan udah dikasih spoiler di "tag" nya :p makasih udah mampir dan meninggalkan jejak ya ^^

Writer kiranaharumb
kiranaharumb at Rain (7 years 11 weeks ago)
50

lucu :D

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Rain (7 years 11 weeks ago)

ehe makasih :D

Writer citapraaa
citapraaa at Rain (7 years 11 weeks ago)
70

ka cherryblossom jangan pergi..... btw kakak depok sebelah mana? hehe

setuju sama teh dayeuh:D

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Rain (7 years 11 weeks ago)

di depok baru..hhaha kenapa ? kamu tinggal di depok juga kah ?
hhehe makasih ya udah mampir >w<

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Rain (7 years 11 weeks ago)
70

ngerasa renggang di bagian awal, lalu begitu Rain jadi manusia seperti dipercepat, buru2, sampai bagian terakhirnya malah jadi cuma percakapan aja...
terus ada yang lucu nih kalimat ini:
[Saat itu aku hanya seorang bayi kucing—jika kau bisa menyebutnya seperti itu—...]
bayi kucing disebut "seorang" itu kayaknya... susah deh hahaha...
beneran post terakhir? Kekom bakal makin sepi aja, uhuik... :'((

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Rain (7 years 11 weeks ago)

iya kak..makanya aku jg ngerasa gagal sebenernya :( waktu nulis ini tuh pas di tengah cerita tiba2 rasanya stuck..bingung mau dibawa kemana dan akhirnya jadilah spt ini. buru2 ya kesannya ? :'(
.
oh iya yg bayi kucing itu harusnya seekor kucing ! wkwk aku edit deh >w<
.
soal kekom kan aku bilang 'mungkin' kak..hhehe tenang aja aku akan mampir2 kok kl bisa ;)

Writer Karinaawss
Karinaawss at Rain (7 years 11 weeks ago)
40

aku kira cerita yang agak dewasa suami istri gitu. tapi ternyata kucing. ceritanya bagus! berhasil deh buat pembaca tak terduga - duga:)

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Rain (7 years 11 weeks ago)

hhehe makasiiih :D