Cerita Ilalang Kepada Angin

 

CERITA ILALANG KEPADA ANGIN

 

          Kemanakah mereka menerbangkan doa – doaku kemarin wahai seluruh elemen semesta raya?.  Aku bahkan mulai takut mereka tak menghantarnya kesurga sana.

          Aku sendiri tetap menyimpan berjuta pasokan pernyataan atas apa yang aku rasa, demi tidak meragukan kuasa yang kusebut sang maha itu, bahkan alasan yang jauh dari kesan logis sekalipun. Aku tak mampu menyalahkan sang waktu atau mengutuki unsur – unsur alam yang kusebut sahabat itu, apalagi mengejek takdir yang sejatinya tetaplah mahakarya sang penciptaku, yang aku tahu aku punya dua pilihan yang patut dipersalahkan, itu kita, kita yang tetap aku dan kamu, Bahkan ketika kita itu tak lagi kau erat aku masih belum sanggup sekedar menyalahkan mu atas apa yang pernah terjadi. Jadi, aku tragisnya hanya punya satu pilihan, bahkan tak lagi punya alternatif, akulah yang bersalah. Hingga pada akhirnya aku belajar mengikhlaskan kenyataan bila harus dipersalahkan.

          Kita.  

          Aku  yang pernah mendefenisikan arti kata kita ke telingamu kala itu. Kita yang hanya aku dan kamu, itu yang pernah aku sebut, jelaskah ingatanmu tentang itu?. Aku yang bahkan tak melihat lagi bentangan batas ruang dan waktu yang mampu menyudahi kisah ini. Kita itulah yang akhirnya seketika mampu menenangkan, menghentikanku dari mengejar entah apa yang tak kunjung kudapat garis akhirnya. Dan, kita yang seterusnya ditinggalkan oleh sosok mu sebelum merengkuh garis finish dihujung sana, bahkan belum lagi dihitungan ketiga, kau berlari keluar dari lingkaran kita. Haruskah aku kembali berlari sendiri untuk sesuatu yang tak mampu kumiliki sendiri bila hitungan ketiga itu kudengar nanti?, atau menepi dari apa yang bertahun kuimpikan ini ?.

 

         Ilalang

         kenyataanya aku tak juga mampu sekedar membencimu. Jadi, kemanakah aku harus terbang wahai semesta sebelum kembali berderai ditanah kering itu?.

          Pada setengah satuan masa aku hampir tersenyum jelas karena apa yang kusebut takdir, aku bahkan mulai menatah apa itu tawa, aku pernah sekilas bahagia demi apa yang kusebut kamu dan yang bahkan kini tak kupahami, cintakah?. Nyatanya, bahagiaku dibatasi kata pernah, faktanya senyumku keburu dirusak efek rasa yang semu setelah kamu, begitulah hebatnya cintamu merusak warna ditiap detik di hidupku, tak ubahnya sang ilalang yang tengah terbang tanpa arah sebelum masuk pada fase berikutnya, tumbuh kembali sebagai ilalang baru. Namun, aku terus berjalan meski hampir lumpuh, aku mulai tersenyum setidaknya meski perih, mencoba menata apa yang kau rusak itu, aku mulai belajar sedikit demi sedikit tak mengingatmu lagi, sementara dulu aku tak pernah melewatkanmu di tiap detik aku memutar bola mataku. Aku belajar membencimu yang pernah berjalan bersama kebohongan yang kala itu tak bisa kutolak haruslah fakta, percayakah kau jika kini aku membencimu, anginku?.

          Sejenak ingin terlepas dari rentetan fakta yang membuat persendianku terasa ngilu.

“Wahai sang alam dan segala unsur yang kusebut sahabat, bantu aku menata hati, aku tak ingin terus perih berdiri dicinta semunya, gapailah tanganku sejenak wahai alam, aku mulai tak kuasa menahan beban yang menyesakkan ini, aku tak ingin kembali membasahi kedua sudut mataku kala sang hujan berderai hebat, aku hanya ingin terbebas dari rasa ini, aku ingin berdamai demi masa lalu, aku tak ingin dikejar bayangnya yang sesungguhnya terlalu semu, aku ingin melupakan apa yang pernah sekian lama memaksaku menangis, bantu aku menjadi biasa sesaat sebelum dia, wahai alam berikan aku sedikit telingamu, kali ini saja!”.

 

          Angin

          Perihkah kau rasakan ketika musim harus berganti ?

          Seketika ada roh yang merasuk ku ketika imajinasi menyentuh inderaku, seketika hasrat ku dipaksa merindu sesosok yang masih terus tak mampu kudengar tuluskah detak jantungnya pernah untukku.

          Aku tak menyimpan banyak alasan mengapa aku terus menyebutmu angin sejak awal aku membuang seluruh egoku demi menyambut cintamu yang sejujurnya masih abu-abu. Sebelum mu aku adalah pengaggum sang angin ketika ia mulai bergerak beraturan terus hingga menghasilkan tarian bunga ilalang itu, aku hanya mencintai angin dan ilalang. Entah mengapa aku merasa tiba-tiba disulap menjadi ilalang itu bersamaan saat kau tak berwujud layaknya angin, aku merasakan indahnya sentuh mu, aku menangisi bahagianya rasa mu, aku benar-benar sang ilalang yang terus menari dengan seluruh bahagia yang kupunya setiap kali angin menyentuh relungku, aku terus menari saking bahagianya, hingga aku terlupa tarian ku menimbulkan kehilangan di diriku sendiri, seperti halnya sang ilalang yang terus menari hingga bunganya berterbangan pergi menjurus ke segala arah tanpa jejak, ilalang yang malang, ia mulai menangisi kehilanganya, cintanya terlalu indah demi sang angin.

         Tapi, tahukah engkau wahai sang angin, bunga – bunga sang ilalang yang terbang jauh itu akhirnya kembali pada kodratnya semula, jatuh ke tanah dan tumbuh menjadi ilalang baru lagi.

         Setelah semua yang telah dilingkar kata usai aku baru mengerti mengapa ilalang harus menari hingga sakit demi sang angin.

Cerita Ilalang Kepada Angin,

Medan, 25 desember 2012.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer nusantara
nusantara at Cerita Ilalang Kepada Angin (3 years 8 weeks ago)
100

seru komentarnya,
angin itu memang memiliki sesuatu yang lain,
orang tak mudah menggunakan frasa-frasa angin,
larinya harus punya besik sastra,
beneran itu harus punya..

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Cerita Ilalang Kepada Angin (8 years 26 weeks ago)
60

rada abstrak kalo buat saya...

perumpamaan ilalang dan angin ini ngingetin sama postingannya ampas belum lama ini, "Pungguk, Bulan, dan Angin". sama2 ada pergantian sudut pandang. cuma kalo menurut saya yang satu lebih efektif, lugas. yang ini terasa berbunga2 dengan kalimat2 indah namun ga kena, dan penulisannya pun belum rapi. tapi tentulah tiap penulis punya gaya masing2, begitupun pembaca seleranya masing2 juga :)

maaf kalau kurang berkenan. selamat datang di kemudian. mari sama2 kita ramaikan :D

Writer retata
retata at Cerita Ilalang Kepada Angin (8 years 26 weeks ago)

Saya memang tipe yg suka fokus ke diksi, diterima masukanya loh :) makasih udah mampir..! :)

Writer ampas
ampas at Cerita Ilalang Kepada Angin (8 years 26 weeks ago)
70

Cerita ilalang kepada angin. Penyambung lidah cintanya, angin menjadi penyambungnya, tetapi ini menjadi yang dicintainya. Menarik :)

Writer retata
retata at Cerita Ilalang Kepada Angin (8 years 26 weeks ago)

Thanks kak ampas,,! :)

Writer asahan
asahan at Cerita Ilalang Kepada Angin (8 years 26 weeks ago)
70

Salam retata...
Aku setuju sama kak sinichi.

Aku cuma mau bilang, ayo kita sama2 belajar. Biar jadi penulis yang baik. Dan jangan lupa, siapin tehnya

Writer retata
retata at Cerita Ilalang Kepada Angin (8 years 26 weeks ago)

Salam jg asahan,,
Makasih udah mampir,,! :)
mau teh ato kopi? hahahahah

Writer Shinichi
Shinichi at Cerita Ilalang Kepada Angin (8 years 26 weeks ago)
60

masih banyak kesalahan dalam penulisan. selain ini liris, saya nggak ngerti mau komentarin bagian apa. mungkin, ito bisa coba menceritakan peristiwa yang mana ada tokoh-tokoh yang berinteraksi di dalamnya. hanya saran. ehehehe. btw, salam kenal. baru bergabung kan? btw, saya juga berasal dari Medan.
horas dan kip nulis
ahak hak hak

Writer retata
retata at Cerita Ilalang Kepada Angin (8 years 26 weeks ago)

Iya nih,,! msh krng detail di penulisan nya,,! aku bljr nulis otodidak,, yah hrp dimaklumin kalo salahnya di sana sini,,! mksh saranya bsk aku coba posting ky yg ito saran in,,! iya aku org medan to, makasih slm kenal juga,,! :)

Writer Shinichi
Shinichi at Cerita Ilalang Kepada Angin (8 years 26 weeks ago)

ito nggak sendirian kok. sama: rata2 semua member di sini (kita sebut sebagai Kemudianers) belajarnya memang otodidak :) belajar sendiri dari tulisan orang lain, googling macem-macem, dan sebagainya :p hehehehe. yah kalok udah bisa internetan siy, dalam sudut pandang saya, Kemudianers bisa dibilang udah punya segalanya sebagai dasar dan pedoman dirinya belajar menulis ;) jadi, saya sangat sulit maklumin kalok ada kesalahan atau semacamnya :D tp itu kadang doang, ito. liat kondisi tulisan/ postingannya jugaklah. ahak hak hak.

btw, iya: saya dari Medan juga :D tp sekarang di Yogya. sejak lama saya sukak dan antusias bila ada orang Medan jugak yang gabung di situs ini. bisa dibilang nepotisme atau lokalisme gitulah. ahak hak hak. kalok dulu, cuma ada dua atau empat Kemudianers domisili Medan. jadi sulit buat diajakin kopdar atau diskusi offline soal menulis gitu. sementara kota-kota lain, dulu, sukak bikin kopdar. kan iri. ahak hak hak. btw, saya moderator situs ini :) kalok ada apa-apa, silahkan kontak ke twitter resmi Kemudian (@kemudian). o iya! ada forum kners.com juga tuh! ito bisa nemu beberapa thread diskusi menarik soal kepenulisan di sana. seperti yg saya tadi bilang, asal udah bisa internetan, seorang Kemudianers udah punya segalanya buat bahan belajar nulis. tinggal digunain dan berlatih aja :)

Writer retata
retata at Cerita Ilalang Kepada Angin (8 years 26 weeks ago)

Seneng juga dpt tmn st daerah yg punya passion yg sama,,! makasih info+saran nya ya to,, jgn segan bosen2 koreksi tulisan aku to,,! :)

Writer retata
retata at Cerita Ilalang Kepada Angin (8 years 26 weeks ago)

Thanks,,!

Writer cherryblossoms
cherryblossoms at Cerita Ilalang Kepada Angin (8 years 26 weeks ago)
70

hm ini sangat puitis :)

Writer retata
retata at Cerita Ilalang Kepada Angin (8 years 26 weeks ago)

makasih udah mampir cherry,,!
salam kenal,,!