Kepada Hati Itu (Part 1)

"Mungkinkah artinya jatuh cinta bila rindu serasa meletup-letup

kala membayangkan wajahnya meski mata tertutup rapat?".

 

            Seperti kertas kosong berharap digores tinta namun tetap saja jadi kertas kosong putih tak berwarna, meski rontaanya menyentuh lapisan terakhir bumi.

Bagaimanakah seharusnya hati ketika jatuh cinta?. Apa harus benar seputih kertas kosong yang kugambarkan itu?.

Hei, entah siapa diseberang sana salahkah jika kuceritakan pada seluruh elemen penyusun alam semesta ini bahwa aku merindumu?.

Entahlah begitu banyak pergulatan hebat di kepala ini, walau berjuang menjadi serasional mungkin tetap saja logikaku seketika lumpuh, terbukti lewat kesimpulan yang kubuat separuh-separuh ini.

Aku pernah jadi gadis aneh yang jatuh cinta pada anak lelaki paling popular di sekolah menengah pertamaku, persis seperti kisah taylor swift di salah satu video klip favorit ku , you belong with me  kurasa itu judulnya.

Lalu jatuh cinta pada seorang badboy sementara aku jadi gadis polos yang jauh lebih polos dari anak lima tahun dengan rambut ekor kuda dan pita merah jambu. Itu terjadi di semester akhir masa kuliahku, sungguh aku menutup muka ku saking malunya setiap kali kenangan aneh itu melintas.

Dan kali ini aku jatuh cinta pada sosok yang tak kukenali entah seperti apa, bukan jatuh cinta, lebih tepatnya aku hanya terus memikirkan mu setiap waktu, membayangkan banyak hal tentangmu. Definisi seperti itu tentunya belum cukup menggambarkan seperti apa jatuh cintakan? , Itu hanya pertanyaan defensif yang terselubung, karena dari awal hatiku sudah bilang aku jatuh cinta, hanya egoku malu menyebut ini cinta.

Kau yang seketika mengubah segalanya. Bukan maksud ku kau yang membuatku merasa mampu mengubah segalanya.

Aku jatuh cinta pada apa yang tak selalu kulihat, aku jatuh cinta pada apa yang tak kusentuh barang sekalipun, aku berdoa demi nama yang tak tahu bagaimana memanggil sosok manusia yang ku sebut aku ini.

Aliran darahku berdesir kencang, jantungku serasa meledak, aku merasakan sensasi aneh ditiap pori-pori. Seperti ingin menuntaskan rindu, kubisikan pada sang angin, lalu menjalar di aliran yang mengalir-alir itu, dibawa pergi terus hinggap di pepohonanan, lagi merayap diatas dataran hijau, melayang-layang ke hamparan biru diatas kepalaku. Katanya rindu itu hampir tiba padamu, itu pesan sang langit, namun katanya lagi rinduku terlalu besar untuk akhirnya mampu melewati terowongan gelap yang teramat kecil, kupikir itu kerajaan manusia liliput.

Bahkan setelah menembus hal-hal besar di elemen raya ini, hal kecil sajalah yang akhirnya menggagalkan rinduku tiba padamu. Benar saja, berkali-kali aku berjuang menitip rindu tetaplah gagal, malah kembali lagi kepadaku layaknya surat-surat yang dikirim dengan alamat yang salah. Lalu kau pikir aku akan menyerah, aku terus tak berhenti merindumu.

Kusimpan seluruh rindu yang kusebut salah alamat itu. Kau tahu? ada beratus bahkan beribu rindu kususun rapi kesetiap labirin jiwaku, hingga sekali saja kau tak sengaja mengintip rumahku, lalu kau tahu berapa ribu kali aku merindumu dalam hidupku.

Dengarlah ini bukan pernyataan gadis muda yang tengah mabuk kepayang. Ini cerita wanita yang bermimpi menjadi pendamping terbaik suaminya kelak, ini tentang seorang wanita muda yang tengah menyusun dongeng-dongeng demi putra-putrinya kelak, bersama kau sepotong hati yang selalu setengah mati kurindui.

Kurasa kau akan tertawa aneh mendengar celotehanku, terserah meski kau sebut aku ini gila, toh cinta yang kurasakan pun jauh lebih gila.

Aku bukan orang yang jatuh cinta setengah hati saja, aku jatuh cinta hingga seluruh persendianku terasa ngilu bahkan sekedar menyebut namamu.

To the mind that is still, The whole universe surrenders.

Begitulah aku mempercayai seberapa besar peranan restu alam raya ini, jadi kuputuskan untuk terus merayu semesta untuk sekedar berbaik hati berkonspirasi mengirim rindu-rindu yang hingga saat ini belum tersampaikan barang sepotong.

Tak peduli seberapa jahatnya dunia , seperti yang sebagian orang katakan. Atau seberapa jelasnya perbedaan garis tangan kita, aku tetap jatuh cinta, seperti pertama kali aku putuskan untuk tersenyum pada sepasang mata yang kuyakini melirikku meski masih samar.

Hei, sepasang mata yang kepadamulah kutujukan hatiku, apa kau masih belum mempercayaiku setelah semua penuturan tulusku ini?.

Baiklah kucoba membuka mata mu demi sekedar flash back ke masa singkat yang saking sederhanya malah mampu melumpuhkan egoku untuk mengakui arti getaran tak beraturan di hati ini.

Itu pagi di tengah jalan kira-kira awal november. Hujan dimana-mana. Tak ada matahari, sungguh langit terus menggerutu kala itu.

“Boleh minta plastik ga? Buat nutupin kepala” ujarmu pertama kali.

Tanpa berusaha menolehmu, kusuguhkan kantong plastik putih ditanganku. Sebenarnya aku sedikit lebih ramah dari itu, hanya saja saat itu suasana hatiku tengah tidak baik.

“Ngga jadi deh, takut hujannya makin deras kalo kamu ngasihnya ngga iklas gitu!” ucapmu tiba-tiba yang seketika menyadarkanku.

“Oh, ikhlas kok!”jawabku spontan dengan sedikit rasa bersalah.

Kau tersenyum.

Aku tak bereaksi, hingga kau berlari membawa pergi kantong plastik putih dari tanganku setelah mengucapkan dua patah kata yang tak kudengar jelas, yang saat ini baru kusadari kau tak hanya membawa pergi kantong plastik putih dari tanganku, kau turut pula membawa sebagian hatiku pergi.

 Sungguh sesederhana itulah aku jatuh cinta, jatuh cinta pada sepasang mata yang batinku sebut adalah separuh jiwa yang melengkapi jiwaku kelak.

Tak perlu hal yang rumit untuk membuatku benar-benar jatuh, aku hanya perlu mendengarkan sesuatu yang terus berbicara setengah suara bahkan nyaris tak terdengar di dalam diriku serta merasakan alam semesta yang seketika menari-nari sambil bernyanyi dikedua telingaku.

Semuanya berlalu begitu, belum kusadari sepenuhnya jika itu cinta.

Hingga alam kembali berkonspirasi tanpa kuminta.

Sabtu pagi di toko buku kecil itu, entah kenapa harus kembali dipertemukan ditempat yang sungguh baru pertama kali kukunjungi.

“Hei, kantong plastik ketemu lagi!” katamu mengagetkanku.

“Hei, hujan deras, kok bisa ketemu disini ya?” jawabku spontan

Sedetik kita terdiam. Kantong plastik, mungkin itu satu-satunya hal yang kau ingat tentang aku lewat percakapan terbatas itu, dan hujan deras itu hal yang paling ku ingat darimu lewat pagi hari dipinggir jalan kala hujan dimana-mana.

Kita sama-sama tertawa setelah mematung di beberapa detik.

“Apa kabar?” ujarmu canggung.

“baik, kamu?” tanyaku balik.

Good!” jawabmu yang menurutku terlalu singkat hingga aku bingung harus tanya apa lagi, atau beralih demi tak terlihat terlalu kaku didepanmu.

You look better than when I saw you last time!”ujarmu tiba-tiba

Aku tersenyum.

“Oh…!”

I can see your eyes speaks!”lanjutmu hingga seakan membungkam mulutku.

Really?”tanyaku sambil menggaruk kepala menghilangkan sisi wanita anggun di diriku.

Kau tertawa.

Aku terdiam, benar-benar merasa sangat bodoh.

“Aku tinggal dulu ya, aku ada urusan!”ucapku cepat

Ketahuilah itu hanya tindakan bodoh yang selalu kulakukan tiap kali otakku kehilangan kontrol dan tak mampu memerintah saraf motorik ku lagi . Melarikan diri.

Setelah kebodohan itu aku mulai menyadari ada getar rindu yang belum kutahu kemana ia menuju, hanya aku mulai terasa sulit memejamkan mata seketika gelap menyerbu.

Tiba-tiba saja ada ribuan bintang seakan meninabobokan ku setiap malam, atau sang bulan yang mengayun-ayun tubuhku demi terbang kepada sosok yang masih jadi bayangan hitam.

Setelah dua kali pertemuan tak diduga itu, aku mulai mengharapkan pertemuan lain yang kuyakini tengah disusun semesta raya.

Tak ada sesuatu yang terjadi kebetulan.

Ketika manusia jatuh cinta, saat itulah harusnya keajaiban-keajaiban kecil yang dibutakan mata lahiriah  itu terus saja terlihat jelas, karena bukan mata itu yang melihat, hati yang justru dilimpahkan otoritas jauh lebih besar dari sebelumnya.

Aku terus meminta pertemuan-pertemuan berikutnya, sebulan, tiga bulan, hingga tujuh bulan pertemuan itu tak kunjung datang.

Kenapa dipertemukan saat hatiku tak meminta, namun malah tak dipertemukan ketika jiwaku meronta seperti gila hanya demi memintamu sekedar muncul dihadapanku.

Apa ini yang mereka sebut perbedaan garis tangan?. Apa ini yang disebut tidak berestu semesta?. Jadi, apa aku harus berhenti dan menyerah begitu saja?.

Aku mulai mundur selangkah demi selangkah. Aku mulai menjauhi bayanganmu.

Hingga sore hari tepat didepan warung pangsit favoritku, kita dipertemukan lagi.

Tidak kah kau lihat seberapa luarbiasa binarnya mataku, melihat sosok mu tepat didepanku.

“Hei, hujan deras!”panggilku keras, terlalu keras.

“Kantong plastik, ini ketiga kalinya kita ketemu loh, I guess god has something on us!” katamu sambil tertawa.

Jika ada kata lain yang maknanya lebih besar dari kata bahagia, begitulah aku menggambarkan hatiku kala kalimat itu tercerna otakku.

I guess so!”jawabku gugup sambil berusaha tertawa terpaksa demi tak terlihat terlalu gugup didepan.

Tertawa. Itu salah satu cara menghilangkan rasa gugup ketika berhadapan dengan seseorang, kata google, dan aku percaya hingga mencobanya. Tiba-tiba ada yang aneh saat mendengar tawaku sendiri.

“Kamu ngapain kesini?”tanyaku bodoh.

“Beli pangsit dong, kan lucu kalo aku beli buku ke tukang pangsit!”

“oh, iya ya!” jawabku pasrah.

Sesungguhnya aku seperti di bombardir oleh kebodohan-kebodohan yang kuciptakan sendiri lewat kemampuan komunikasi yang sangat buruk.

Aku jauh lebih baik dari ini sebelumnya, kenapa di depanmu aku benar-benar berubah bodoh, sangat bodoh malah.

“Kamu mau beli pangsit juga?”tanyamu.

“Oh, ngga kok aku mau beli telor!”

Itu bukan kalimat yang ingin aku ucapkan sebenarnya, tapi itu sepenggal kalimat yang lolos melewati proses didiriku, sebegitu rendahnya kah kemampuan komunikasiku.

“Loh beli telor kok ke tukang pangsit, kamu pasti bercanda!” katamu sambil tertawa.

Entah kau sekedar berbaik hati agar aku tidak terlalu malu saking bodohnya, atau aku memang benar-benar terlihat seperti sedang bercanda. Kalau alasan mu tergolong yang kedua, kupikir itu keajaiban kecil dari elemen semesta yang mengubah hal bodoh terdengar lucu. Jadi aku berterimakasih pada seluruh semesta raya untuk hal itu, meski aku sedikit meragu.

“Lucu ya? kamu bener, aku bercanda!” ucapku kikuk.

Kau tertawa, lagi, sungguh kau tertawa lagi.

Aku bingung.

“Sumpah muka kamu lucu ya kalo lagi bercanda!”katamu masih sambil mencoba menahan tawa.

Aku terus saja mencoba bertahan melewati percakapan demi percakapan, namun sungguh ini seratus kali lebih sulit dari yang aku pernah bayangkan.

“Aku pergi dulu ya, mama aku telepon!”kataku menutup percakapan demi melarikan diri.

Hanya ini yang mampu kulakukan demi me-minimize kebodohan yang mungkin kuciptakan lagi, meski aku tahu kemungkinan tak lagi bertemu itu ada.

“Oh, oke!” jawabmu kaget.

Bye!”

Bye!” katamu sambil melambaikan sebelah tanganmu.

Aku berbalik pergi, tapi berharap kau melakukan sesuat.

Say something,please!”bisikku dalam hati.

“Kantong plastik!”katamu tiba-tiba.

Wish to see you again!”sambungmu.

Aku ingin menjerit sekuat mungkin jika saja urat malu ku sudah benar-benar terpotong habis. Namun aku tahu aku masih waras, jadi kucoba menahan sekuat mungkin.
I wish!” jawabku girang.

Kita tersenyum.

Saat itulah aku benar-benar paham tentang istilah restu semesta, aku seketika percaya segalanya.

Lalu kita dipisah oleh sang waktu, selang beberapa waktu tak ada pertemuan tiba-tiba lagi.

Aku tetap tak berhenti. Aku berjuang merayu semesta memberi restu atau sekedar menyampaikan ribuan rindu yang hingga kini tak pernah sampai.

Aku memanggilmu ketika angin menyentuhku, berharap suaraku terbawa ke tempat dimana kau berada.

Aku menangisimu sementara air menari-nari dikakiku. Aku memimpikanmu selagi bintang dan bulan masih sudi menemaniku.

Aku tetap mempercayai kekuatan alam membawa ku ketempatmu berada.

Entahlah, berapa waktu yang kulewati tanpa pertemuan yang paling kuimpikan itu. Aku berlatih mengontrol rasa gugupku demi tak terlihat membosankan saat tiba-tiba kita dipertemukan, karena aku tak ingin lagi-lagi kehilangan kesempatan seperti sebelumnya.

“Hei, hujan deras mengapa tak juga datang padahal langit sudah mendung? Kemana perginya hujan deras?”aku berbisik dalam hati.

Kulewati rumput hijau yang tertata rapi disampingku. Ini Senin sore ditaman yang letaknya beberapa meter dari rumahku. Langit mendung, mulai menggerutu namun hujan deras yang kutunggu sejak lama tak kunjung datang.

Apa hujan deras hanya ada dibulan november? Haruskah aku menunggu hingga november demi sekedar merasakan hujan deras lagi? .

Tidak. Jawabanya tidak, hujan deras tengah berjalan dari arah yang berlawanan dengan ku, semakin dekat dan benar saja itu hujan deras. Setelah sekian lama akhirnya semesta kembali merestu. Inilah yang manusia sebut garis tangan.

Aku tersenyum bahagia.

“Kantong plastik!”teriak mu kuat.

“Hai, hujan deras! Kita ketemu lagi!”jawabku girang.

Well, God really has something on us !”jawab kita serentak lalu tertawa bersamaa.

Kau tahu? Aku bahagia, sungguh bahagia.

“Hei, you just come?” sapamu pada sesosok yang seketika berdiri dibelakangmu.

“kopi?”

Gadis itu menyuguhkan kopi di take away cup, satu diarahkan padaku dan satu diarahkan kepadamu.

I need another one, tunggu ya!”ucap gadis itu sambil berlalu pergi setelah sukses membuat ku mengulurkan tangan mengambil cup kopi dari tanganya.

Kau tersenyum.

Your girl?”tanyaku berusaha santai.

Kind of…!”jawabmu yang seketika mematikan seluruh sarafku.

“Oh, I see…!”ucapku.

Selama percakapan panjang yang tak beraturan itu, tahukah kau aku berjuang mati-matian demi tak terlihat hancur didepanmu?

Sungguh aku berjuang melawan rasaku, namun tetap aku tak bisa menahan terlalu lama dan lagi-lagi aku melarikan diri darimu. Kali ini bukan karena kebodohan seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Kali ini aku mencoba melarikan diri dari lingkaran takdir antara aku, kau dan dia. Benar aku lagi-lagi kalah.

Hei,semesta raya tak cukup panjangkah waktu yang kuhabiskan demi menunggu pertemuan yang hanya menempatkan aku di posisi bodoh seperti saat ini?.

 Kau bermaksud menguji kekuatan cintaku atau sungguh ingin memastikan padaku bahwa kantong plastik dan hujan deras tidak ditakdirkan bersama?

Jika alasan mu yang adalah pertanyaan pertamaku, kau kalah, ketahuilah aku bisa menunggu hingga beribu masa. Tapi jika alasanmu itu yang kedua, sungguh aku sedikit meragu. masihkan aku mampu merayu semesta?.

 Di suasana hati yang bercampur aduk, aku tak mampu memutuskan apa yang akan kulakukan selanjutnya.

Terlalu naïf jika harus mengatakan aku bahagia jika orang yang aku cintai bahagia bersama orang lain.

Wajarkah jika tak lagi mampu kupadamkan rindu yang meletup-letup ini?.

Apa harus kusimpulkan jika bahkan cinta yang putih seputih kertas pun tak selalu berhujung indah?

Entahlah, mungkin ini sekedar dilema klasik yang bisa ditemukan di tujuh hingga delapan anak manusia yang jatuh cinta.

Setelah itu bahkan segalanya sangatlah abu-abu.

To the mind that is still, The whole universe surrenders.

Masih sanggup kah kalimat ajaib diatas menguatkan aku menanggung rindu lalu menunggu sesuatu yang tak pasti?

Hei, hujan deras harusnya kita tidak bertemu sebelum november tiba.

 

                                                                                                                                               Medan, 19 November 2013                                                                                                                                                                         Gadis kantong plastik dan Hujan Deras.

                                                                                                               

 

 

 

Read previous post:  
43
points
(888 words) posted by retata 7 years 51 weeks ago
61.4286
Tags: Cerita | Cerita Pendek | cinta
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ahmadsaktia
ahmadsaktia at Kepada Hati Itu (Part 1) (7 years 49 weeks ago)
80

nice. Saya suka ceritanya. :)

Writer melon
melon at Kepada Hati Itu (Part 1) (7 years 49 weeks ago)
60

Nice, tapi menurutku banyak tanda baca yang salah tempat.

Writer astavita
astavita at Kepada Hati Itu (Part 1) (7 years 50 weeks ago)
70

sweet story! selalu suka kisah tentang jatuh cinta, malu-malu dan patah hati seperti ini :) mungkin saran saja, huruf besar sama spasinya diperhatikan lagi. well, aku enggak jago eyd juga sih. sama-sama baru di sini. tapi aku rasa bikin membacanya jadi lebih nyaman saja. salam kenal :)

Writer retata
retata at Kepada Hati Itu (Part 1) (7 years 50 weeks ago)

Hahahaha beneran memang ga ada rapi-rapinya sih,,! anyway, makasih udah mampir kak astavita,,! salam kenal,,! :)

Writer marowati
marowati at Kepada Hati Itu (Part 1) (7 years 50 weeks ago)
80

nice story

Writer retata
retata at Kepada Hati Itu (Part 1) (7 years 50 weeks ago)

Thanks,,! :)