BERPISAH

Angin bertiup kencang di luar sana. Awan juga kelabu. Beberapa detik kemudian tetes hujan jatuh berkelompok membasahi bumi. Bumi terlihat kelam seperti hatiku.

Aku membaca sekali lagi surat panggilan sidang cerai dari pengadilan agama. Berapa kalipun kubaca takdapat memberikan solusi untuk keadaan ini. kutarik napas dalam agar rasa sesak berkurang. Kami memang harus bercerai.

Dua tahun bukan waktu yang lama untuk sebuah rumah tangga. Aku tidak pernah berpikir kalau pernikahan kami akan berakhir secepat ini. tidak ada kecocokan adalah alasan yang membuatku tertawa geli. Seharusnya sejak awal aku tahu bahwa pondasi yang kami bangun tidaklah kuat. Terlalu rapuh dan mudah runtuh terhantam badai karena tongkatnya hanyalah rasa cinta menggebu anak remaja.

Aku masih ingat akhir september 2010, saat tiba-tiba acara pernikahan kami digelar tanpa persiapan yang matang. Terlalu terburu-buru sehingga mengagetkan orang-orang sekitar terutama tiga sahabatku.

Cemara—yang waktu itu sedang mengunjungi Ofa di Surabaya—protes keras karena baru diberitahu satu jam setelah akad nikah dilaksanakan. Dia kesal karena tidak bisa hadir dan merasa dicurangi. Bagaimanapun dia sahabatku paling lama, sejak kami kelas satu Sekolah Dasar. Dan aku tidak pernah menyimpan rahasia darinya sebelum itu.

Ofa hanya bisa bertanya, “Kok bisa?”

Terdengar nada kecewa di sana. Namun dia tidak mengatakan apapun lagi selain mendoakan kebahagiaanku. Cemara yang sempat merajuk akhirnya juga mengucapkan hal yang sama, mendoakan kebahagiaanku.

Aku tahu mereka ingin bertanya banyak. Terutama Cemara yang selalu ingin tahu detil dengan masalah orang lain. Sifat penasarannya yang mendarah daging itu terkadang menyebalkan. Aku bersyukur mereka lebih bertoleransi kali ini. dan aku berjanji pada diri sendiri akan bercerita suatu saat nanti.

Respon Juan tidak berbeda jauh dari Cemara dan Ofa, bahkan terkesan lebih tajam. Gadis—keturunan Cina yang sedang mengenyam pendidikan kebidanan di Semarang—ini langsung bertanya, “Apa kamu hamil?”

Seketika aku menahan napas, tercekat mendengarnya. Pertanyaan yang lebih kepada pernyataan ini benar adanya. Aku hamil, diluar nikah. Waktu itu sudah memasuki bulan ke empat. Namun sekali lagi aku tidak mampu mengatakan itu. Aku membuat alasan lain yang lebih bermoral dengan mengatakan tidak ingin berlama-lama berpacaran.

Juan tentu saja tidak akan percaya. Tapi sekali lagi, dia seperti halnya juga Cemara dan Ofa mencoba mawas diri untuk tidak bertanya banyak.

Katakan saja aku pengecut. Aku tidak mampu untuk berkata jujur pada sahabat-sahabatku sendiri. Rasa takut kehilangan mereka membuatku takberani menceritakan kehamilan ini. Karena aku tahu pasti sudah mengecewakan mereka.

Kami berempat bukanlah gadis yang akan tidur dengan lelaki yang bukan suami. Sejak dulu selalu heran dengan para pemudi yang tidak bisa menjaga diri; menjaga harta diri. Dan kehamilan di luar nikah merupakan mimpi buruk yang menjijikan.

Tapi itu dulu, dulu sekali sebelum aku terbuai akan kegilaan dunia. Dulu, sebelum aku mengenal serunya berpacaran. Sebelum aku tahu asiknya berciuman. Sebelum aku merasakan nikmatan cumbuan yang akhirnya menjerumuskan dalam kubangan dosa besar. Zina.

Sigh! Kuhela napas berat sekali lagi sebelum menutup lembar undangan perceraian tadi. Manis pernikahan takmampu bertahan lama. Aku yakin ini hukuman bagi kesalahanku. Jadi, akan kuterima; kuresapi agar penyesalan itu berkurang.

***

“Mah!” seruan Nabil sedikit mengagetkanku. “Ma ... mah!”

Kedua tangannya menyapit kain celanaku, menjadikannya pegangan untuk keseimbangan. Mendongakkan kepalanya untuk menatapku sambil menggoyang-goyangkan tangannya, mencari perhatian. Aku tersenyum sedih dan menariknya ke dalam gendongan.

Nabil, anak tampanku yang baru berusia 17 bulan. Netranya bulat lucu, berwarna coklat tua sepertiku. hidung, mulut, bentuk wajah, dan rambut mirip sepertiku juga. hanya warna kulit putih yang didapat dari ayahnya.

Masih teringat jelas kehebohan Cemara melalui video call waktu kutunjukkan Nabil yang baru lahir tiga kali dua puluh empat jam sebelumnya di Februari 2011 lalu. Dia bilang, “Dia duplikat kamu banget, Widia!”

“Iya, kamu banget, Wid!” timpal Ofa tiba-tiba muncul di kotak sebelah kotak yang menunjukkan wajah Cemara ketika panggilan tersambung. Sepertinya kehebohan yang Cemara timbulkan lebih dulu ditangkap Ofa meskupin video-nya terlambat muncul.

Aku tertawa menanggapinya. “Kapan pulang? Keponakan ingin bertemu tante-tantenya.”

Cemara memasang wajah sedih. “Belum tahu. Aku sudah beberapa kali izin pulang ke Pontianak, tapi Bos Besar selalu menggelengkan kepala.”

“Aku juga. Jangan-jangan sampai beranak cucu aku tidak boleh pulang lagi,” sahut Ofa cemas.

Aku tertawa melihat ekspresinya sebelum meringis karena bagian bawahku masih sakit. Tubuh Nabil sampai terguncang di gendonganku.

Cemara tertawa lebih heboh lagi. Wajahnya tak menunjukkan simpati sedikitpun. “Calon saja belum punya, bagaimana bisa beranak cucu?”

“Ara asem! Nasib kita sama saja, tahu.” Ofa langsung cemberut.

Wajah cemberut Ofa semakin membuat Cemara semangat mengerjai. “Bedalah! Lebaran ini In Shaa Allah kami sekeluarga pulang ke Pontianak.”

“Serius!” seruku bersemangat setelah tadi hanya bisa tersenyum jadi penonton—dengan tangan sibuk melakukan panggilan pada Juan—bersamaan dengan Ofa yang berteriak, “Bohong!”

“Kamu bilang tadi belum tahu kapan bisa pulang,” protes Ofa.

Cemara menggedikkan bahu. “Masih kurang yakin, sih. Tapi aku akan melakukan segala jurus rayuan supaya kami sekeluarga bisa pulang lebaran nanti. Well, walau tidak bisa sekeluarga minimal aku sendiri.”

“Tidak,” Ofa menggelengkan kepala. “Kamu tidak boleh pulang tanpa aku.”

Idih, yang punya badan siapa? Lagipula kamu di Surabaya, aku di Jogja.” Cemara menjulurkan lidah, mengejek, membuat Ofa langsung memberengut kesal.

“Ck ... ck ... ck ... Selalu saja bikin ribut,” komentar Juan yang baru muncul kurang lebih semenit lalu.

“Kak Juuuu!” Cemara berseru senang. “Kapan join?

Belum sempat Juan menjawab Ofa langsung berteriak, “Juaaaaannn! Pasti kangen aku, ‘kan?!”

Juan memutar bola mata. Mengabaikan Cemara dan Ofa, dia bertanya padaku. “Beratnya berapa, Wid?”

Aku yang sedang menyusui Nabil menjawab sambil sumringah, “Tiga kilo, Ju.”

“Sehat anakmu berarti. Lahir secara normal, ‘kan?” ucap Juan sambil menatap bayi Nabil terharu.

Aku menelan ludah. Jantungku tiba-tiba berpacu kencang. Dengan sadar aku tahu kalau pertanyaan ini akan berujung pada cepatnya anak ini lahir.

“Kak Ju, angpau!” seakan tahu kekalutanku, Cemara berseru menyebalkan sambil menadahkan tangan.

“Angpau apa? Imlek sudah lewat ini,” respon Juan tak acuh.

Berlanjut dengan dukungan Ofa pada Cemara. Lalu, perdebatan pun dimulai.

Aku menarik napas lega. Setidaknya aku aman sampai waktu yang entah kapan. Perdebatan itu berlangsung lama sampai akhirnya kami harus mengucapkan sampai jumpa dan memutuskan sambungan.

“Ma ... mah!” Nabil menyentuh wajahku.

Aku tersadar dari lamunan dan tersenyum padanya. Dia tersenyum lebar menunjukkan gusi dengan dua gigi yang belum lama ini muncul.

“Nabil lapar?”

Dia mengangguk.

“Oke, ayo kita panaskan bubur tim Nabil.”

Dia mengangguk lagi sembari bertepuk tangan. Membuatku tertawa bahagia dan melupakan sesaat kekalutan.

***

Persidangan berlangsung lama. Padahal Hakim beberapa kali mengatakan masalah kami ini sepele. Nyatanya, persidangan berakhir tanpa penyelesesaian. Dan hanya diberitahukan bahwa kami akan mendapat panggilan sidang kembali nanti.

Aku tertawa kecut mengingat perkataan Hakim tadi. Masalah sepele, huh? Tapi mampu membawa kami dalam persidangan cerai. Pemeriksaan dan mediasi yang berusaha dilakukan tak berguna sama sekali.

“Tenang saja, aku tidak akan merebut Nabil darimu,” ucap calon mantan suamiku yang entah kapan sudah berada di dekatku.

Aku mendengus sekaligus menyeringai. Tentu saja dia tidak akan merebut Nabil. Selama ini pun dia tidak terlalu peduli. Mana mungkin dia mau menghabiskan waktu mengurus anak diusia yang masih muda. Dua puluh empat tahun.

“Tapi, kamu juga tidak boleh melarangku untuk bertemu dengannya.”

Aku hanya mengangguk tak terlalu peduli. Kita lihat saja nanti. Seberapa sering dia akan menjenguk.

Tidak ada kata lagi setelah itu yang keluar dari mulut kami masing-masing. Menghindari kecanggungan calon mantan suamiku itu melangkah pergi. Aku juga memutuskan pulang taklama setelahnya.

***

Nabil sedang tidur ketika aku sampai di rumah. Ibu bilang dia kelelahan karena terus-terusan bermain sepagian ini.

“Kamu mau makan, Wid?” tanya Ibu saat meletakkan lauk-pauk ke atas meja makan sebelum menutupnya dengan tudung saji.

“Nanti saja, Bu. Nanti sebelum berangkat kerja sore ini.”

Ibu menghela napas tanpa melakukan pemaksaan. Beliau dalam diam memperhatikanku yang sedang melangkah naik menuju kamarku di atas. Ibu bilang Nabil tidur di sana.

Aku mengusap dahi Nabil yang penuh keringat setelah sampai mendapatinya terlelap nyaman di atas kasur. Anak ini, buah hatiku, akan kujaga dengan baik. Akan kubesarkan sehingga menjadi anak yang hebat walau tanpa seorang ayah.

Kurebahkan diri di sebelahnya. Menatap langit-langit yang bersawang salah satu sudutnya. Menerawang hingga jauh, mengingat masa lalu.

Aku juga dibesarkan tanpa ayah. Namun berbeda dengan kondisiku sekarang, Ibu membesarkanku sendiri karena Ayah meninggal dunia ketika aku kelas tiga Sekolah Dasar.

Hidupku tidak terlalu buruk. Bisa bergaul baik dengan sekitar. Juga tidak pernah membuat catatan hitam selama sekolah. Terlebih aku memiliki sahabat seperti Cemara.

Semua menjadi semakin baik saat Cemara dan aku bertemu Juan, Ofa, dan Dayat di Sekolah Menengah Pertama. Kami berlima menjadi salah satu kelompok siswa yang disegani di sekolah. Terutama karena kami aktif dalam berbagai kegiatan yang positif.

Cemara dan Dayat misalnya. Mereka selalu menjadi wakil sekolah dalam Pekan Olahraga. Dayat berpartisipasi dalam lomba renang, sedang Cemara dalam lompat jauh dan lari jarak pendek. Mereka juga tecatat sebagai anggota klub Voli sekolah dan Jurnalistik.

Berbeda dengan Dayat dan Cemara yang bergabung dengan klub Jurnalistik agar memiliki alasan untuk berlama-lama di sekolah, Ofa menjadi anggota sebab menyukai dunia tulis menulis. Dia begitu bersemangat ketika mencari berita dan menuliskannya ke dalam sebuah artikel. Dia juga bersemangat meramaikan majalah dinding sekolah sehingga sering menjadi ketua ketika mewakili sekolah dalam lomba membuat majalah dinding. Selain itu dia mudah bergaul dan apik berbicara. Kepiawaian berbicara membuatnya diseret klub Siaran agar menjadi salah satu penyiar radio sekolah. Asal tahu saja, dia salah satu dari tiga penyiar favorit di sekolah kami.

Lain mereka bertiga, lain lagi Juan. Gadis putih bermata sipit yang mempunyai dua lesung pipi itu tergila-gila dalam berorganisasi. Selain aktif Pramuka dia juga memegang jabatan sebagai sekretaris OSIS selama dua periode. Dia juga aktif di Palang Merah Remaja. Jiwa sosialnya itu membuatnya selalu menjadi perwakilan sekolah ketika Jambore Hari Anak Nasional berlangsung. Dan itu dilakukan sejak Sekolah Dasar.

Bagaimana denganku? Aku tidak suka olahraga. Kurang suka kegiatan tulis menulis dan dunia siaran meskipun aku sering menemani Ofa siaran. Juga benci berorganisasi. Jiwaku lebih tertuju pada seni, terutama seni tari dan tarik suara. Aku dan kelompok tari sekolah sering menyabet gelar juara setiap Pentas Seni diadakan. Dan aku tak mengerti mengapa akhirnya aku bekerja di sebuah klinik seorang dokter.

Semua sedikit berubah dengan kepindahan Cemara ke Yogyakarta ketika lulus SMP ditahun 2003. Tidak ada lagi kebawelannya menemani hari-hari kami. Namun, kami masih terus mempertahankan prestasi masing-masing dan persahabatan ini. Apalagi Dayat, Juan, Ofa, dan aku memutuskan untuk bersekolah di SMA yang sama.

Lulus SMA membuka jarak lebar diantara kami pada akhirnya. Juan memutuskan kuliah Keperawatan di Semarang. Ofa dikirim kuliah ke Surabaya. Dayat ikut abangnya ke Banjarmasin dan kuliah di sana. Cemara tetap di Yogyakarta. Sedangkan aku masih di sini, di Pontianak.

Biaya kuliah yang mahal membuatku memutuskan untuk bekerja. Waktu itu kebetulan sekali ada lowongan kerja di sebuah apotek. Dengan kemampuan yang ada aku diterima.

Aku dan empat sahabatku masih berkomunikasi dengan baik. Bertukar informasi dan pengalaman. Terkadang terbersit rasa iri mendengar cerita tentang pendidikan mereka atau cerita tentang tempat-tempat keren yang mereka kunjungi. Namun, aku berusaha menerima hal itu secara positif.

Tahun ketiga bekerja di sana, suami pemilik apotek yang merupakan seorang dokter menawariku untuk kerja di kliniknya. Klinik itu bertempat di samping apotek. Karena gaji yang ditawarkan lebih besar, aku menyetujui permintaan beliau.

Setahun bekerja di klinik, aku bertemu Ayah Nabil di resepsi pernikahan seorang relasi. Dikenalkan seorang teman, akhirnya kami menjadi dekat. Kedekatan itu terasa indah sampai peristiwa hina yang membuatku hamil itu terjadi.

Semua membahagiakan pada awalnya. Dia merawatku dengan baik sampai kelahiran itu tiba. Masih disampingku lima bulan kemudian. Tapi semua tak bertahan lama. Setahun setelah menikah—tepatnya di bulan September 2011—aku memintanya untuk melakukan ijab kabul kembali. Dan dia menatapku heran.

Aku menjelaskan bahwa Cemara telah menyentuh hal ini ketika lebaran. Seperti yang Cemara katakan waktu video call, dia benar-benar pulang saat lebaran. Dan saat itu kami sedang bersantai duduk di tepi pantai waktu dia berkata, “Bukan maksudku ikut campur dalam masalahmu, Widia. Tapi aku yakin kamu tidak mungkin berpikir kami begitu bodoh sehingga tidak menyadari semua keganjilan pernikahanmu dan kelahiran Nabil.”

Aku yang sedang mencandai Nabil langsung terdiam. Saat itu aku berpikir waktu pengakuan telah tiba.

“Aku maupun yang lain tidak akan menuntut penjelasan. Kamu berhak untuk tidak berbagi hal pribadi. Hanya saja kalau memang dugaan kami benar, kalian harus melakukan ijab qabul ulang.”

Cemara mengatakan itu dengan tatapan jauh ke lepas pantai. Pandangannya serius, namun kalimatnya halus. Banyak hal yang berubah darinya, dan itu perubahan yang baik. Karena Cemara yang dulu tidak mungkin berkata seperti ini, melainkan memaki dan berteriak marah merasa dicurangi dan tak dianggap sebagai sahabat.

“Kamu tahu kalau pernikahan yang dilakukan ketika sedang hamil itu tidak sah, ‘kan?” dia terdiam sebentar menghirup udara, kemudian menghembuskannya pelan. “Aku rasa seharusnya kamu tahu.”

Tanganku memperbaiki posisi duduk Nabil dipangkuan, sedang otak bekerja keras untuk berpikir. Kalimat Cemara benar, aku tahu itu. Tapi sebagian diriku menampik, berusaha menekankan dalam hati bahwa pernikahan itu benar adanya dan telah sah di mata hukum dan agama.

“Ya, kamu tahu itu.” Cemara sengaja menekankan kalimat ini, mematahkan penyangkalan-penyangkalan yang muncul di otakku.

Aku menghela napas dalam. Menenangkan diri; menetapkan hati sebelum berkata, “Iya, kami akan menikah ulang.”

Cemara menoleh padaku dengan senyum lebar. “Itu tindakan yag benar,” ucapnya sebelum meraih Nabil dari pangkuanku. “Come on, Boy! Come to Bunda.”

Nabil tertawa renyah merespon tindakan Cemara yang mengangkatnya tinggi. Sesekali Cemara akan mengatakan sesuatu dengan bahasa Inggris dan Nabil kembali cekikikan walau tak mengerti apa yang sahabatku itu katakan.

“Semua lelaki akan mundur teratur kalau kamu selalu membahasakan diri untuk dipanggil bunda pada semua bayi yang kamu temui, Ra,” komentarku saat mulai bosan diabaikan oleh mereka berdua. “Mereka akan mengira kamu sudah menikah dan punya anak meski tidak memiliki cincin di jari manis.”

Cemara cuma tertawa mendengar komentarku. Melirik sebentar, kemudian kembali sibuk bermain dengan Nabil. Aku pun hanya bisa menghela napas.

***

“Tapi kita sudah menikah,” tentang Ayah Nabil saat aku selesai bercerita tentang apa yang dikatakan Cemara soal menikah ulang.

Dia menghempaskan tubuhnya ke sisi ranjang. Duduk gusar di sana.

“Pernikahan kita tidak sah di mata agama,” jelasku gamblang berharap dia mengerti.

Aku menyusul duduk di sebelahnya. Berusaha berbicara dari hati ke hati.

“Jangan mengajariku tentang agama! Nyatanya pernikahan kita sah secara hukum dan mendapat surat nikah. Berarti itu secara agama juga sah.”

“Tidak, Irwan. Secara agama pernikahan kita tidak sah. Kita sama saja seperti kumpul kebo kalau tidak menikah ulang.” Kuusahakan selembut mungkin ketika berucap. “Itu sama halnya kita berzina lagi saat melakukan hubungan suami istri.”

Dia mendengus. “Zina, huh? Aku rasa kita pernah melakukan itu.”

Emosiku mendadak meluap. Aku menarik napas dalam untuk menekannya. “Karena itu aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama, Irwan. Kita harus menikah ulang.”

“Tidak ... Tidak ada acara menikah ulang. Kita sudah sah.”

“Pernikahan kita tidak sah, Irwan. Mengapa kamu tidak mengerti?” nada suaraku mulai meninggi.

Irwan beranjak dari duduknya. “Apa kamu tidak membaca surat nikah yang kita punya? Kita ini sudah suami istri. Pernikahan kita itu sah secara hukum dan agama. Kalau tidak sah mana mungkin penghulu menikahkan kita.”

Aku terdiam. Perkataan Irwan ada benarnya. Kalau memang menikah ketika hamil dilarang oleh agama, lalu mengapa kami dinikahkan?

Tapi perkataan Cemara sebelum kami berpisah setelah bersantai di pantai waktu itu menyentakku kembali dari keraguan. “Sekarang ini banyak orang menutupi kehamilan dengan menikahkan anaknya, Widia. Membuat manusia lupa bahwa menikahkan wanita hamil itu sebenarnya tidak boleh. Kecerobohan itu menjadi kebiasaan, sehingga melemahkan aturan dan semakin menggelapkan mata kita untuk melihat maupun berbuat benar.”

Seketika aku ikut berdiri, menatap dalam mata Irwan. “Kita harus menikah lagi, Irwan.”

Irwan langsung memaki. “Ceramah apa saja yang dicecoki sahabat sok sucimu itu ke dalam otakmu!? Seharusnya kamu bisa mengatakan padanya untuk tidak ikut campur dalam urusan orang lain.”

Setelah mengatakan itu, Irwan melangkah keluar dan membanting pintu. Aku Cuma bisa tertegun di tempat.

Sejak itu Irwan berubah. Lebih sering menginap di rumah orang tuanya dan mengabaikanku. Itu sedikit melegakan sebenarnya. Namun, keadaan semakin rumit ketika dia meminta layanan dan aku menolak.

“Istri seperti apa yang menolak melayani suaminya sendiri?” tuntutnya marah.

“Pernikahan kita tidak sah, Irwan. Apa kamu lupa?”

“Sialan!” umpatnya, lalu pergi.

Semakin hari hubungan kami semakin hancur. Dia tidak sungkan lagi untuk main tangan ketika marah. Dia juga tidak malu memakiku di depan Ibu yang notabene adalah ibu mertuanya.

Setahun dalam keadaan seperti ini membuatku muak. Tak ada lagi toleransi. Kami harus segera bercerai secara hukum. Dan itulah yang sedang kami jalani sekarang, menunggu keputusan cerai secara resmi.

Kuraup udara sebanyak mungkin, berusaha menghalau sesak. Kukumpulkan serpihan keyakinan agar semakin kokoh untuk berpisah. Kututup mata rapat sambil mengucapkan sugesti agar mantap menatap masa depan. Aku harus tegar!

Kubuka mata perlahan. Dengkuran halus Nabil membuatku memerengkan tubuh meghadapnya. Dia masih tertidur lelap dan damai.

Melihatnya membuatku berjanji dalam hati agar menjadi wanita yang hebat. Selama ini juga tidak ada campur tangan Irwan dalam membiayai kebutuhan Nabil.

Irwan yang memutuskan lanjut kuliah sudah berhenti dari pekerjaannya sejak sebelum kami menikah. Sebelumnya kupikir ini hanya sementara. Setelah Irwan lulus dan kerja nanti semua akan membaik. Tapi sepertinya tidak ada kesempatan lagi untukku menunggu pembuktian Irwan. Sejak awal ini sudah salah. Selama Irwan tidak berniat memperbaiki semuanya, maka tak ada lagi jalan untukku selain berdiri mantap di kaki sendiri.

Kukecup pipi Nabil, sayang. Menatapnya dalam sebelum berbisik, “Maafkan Mamah, Sayang. Kamu akan dibesarkan tanpa orang tua lengkap. Tapi Mamah janji akan melakukan yang terbaik untukmu.”

***

Hari yang kunantikan datang. Keputusan cerai telah ditetapkan. Sekarang aku bisa bernapas lega.

Juan—yang sudah setahun ini memutuskan untuk kembali ke Pontianak dan bekerja disalah satu rumah sakit swasta di sini—menghampiriku. Dia bekerja sore hari ini, sehingga bisa menemaniku selama sidang terakhir berlangsung. Dia memberikan pelukan menenangkan.

“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya.

“Tidak pernah sebaik ini,” jawabku dengan senyum lepas.

Juan ikut menunjukkan baris giginya yang rapi. “Inilah Widia sahabatku.”

“Inilah aku,” balasku sembari tertawa.

Dia melirik ke sekeliling. “Tunggu sebentar, aku mau ke toilet. Setelah itu kita ke cafe untuk merayakan kemerdekaanmu.”

Aku mengangguk, kemudian memilih duduk di kursi yang ada di luar pintu masuk Pengadilan. Sambil menunggu mataku menyapu sekitar. Pengadilan terlihat sepi.

Telepon genggamku mendadak berbunyi. Segera kusapukan tangan ke dalam tas, mencari benda itu. nama Cemara terlihat di layar waktu benda itu sudah ditanganku.

“Ha ...”

“Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh,” potong Cemara cepat setelah panggilannya kuangkat. “Kamu baik-baik saja, Wid? Kata Kak Ju sidang sudah selesai dan ...”

“Iya, aku sangat baik.” Aku balas memotong kalimatnya.

Terdengar Cemara mendesah. “Seharusnya aku ada di sana menemanimu.”

Aku tersenyum. Beginilah Cemara. Selalu ingin ada saat aku dalam kesusahan. “Hei, kamu meneleponku setiap hari selama proses perceraian berlangsung sudah membuatku sangat senang dan merasa ditemani.”

“Tapi tetap saja aku tidak di sana.”

“Bagaimana kalau kamu pulang liburan ini?” aku memberi saran agar sedikit melegakan hatinya. “Juan sudah ada di sini. Hanya kamu dan Ofa yang tidak ada.”

Cemara menghela napas. “Aku memang ada rencana pulang, tapi Ofa sulit sekali diajak. Sepertinya aku harus merayu dia setiap jam mulai dari sekarang.”

“Kamu gila!” seruku takmampu menahan tawa.

Membayangkan dirayu untuk pulang setiap satu jam selama beberapa bulan saja sudah membuatku pusing. Bagaimana nasib Ofa kalau Cemara benar-benar melakukannya?

“Demi reuni kita,” balasnya penuh tekat.

Aku terdiam sesaat. Reuni? Aku jadi teringat Dayat. Bagaimana kabarnya sekarang? Sudah dua tahun ini kami hilang kontak dengannya.

“Aku rindu Dayat,” ucapku begitu saja.

Cemara terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Tenang saja, aku bilang reuni lengkap, ‘kan? aku sudah dapat nomernya.”

Membayangkan akan berkumpul berlima lagi membuatku jadi bersemangat. Aku sudah ingin megucapkan sesuatu saat Cemara berkata lagi, “Jangan tanya dapat dari mana! Nanti aku ceritakan. Ah! Sepertinya aku punya cara untuk merayu Ofa agar terpaksa ikut pulang lebaran ini. Dia paling benci mendapat kiriman foto kita tanpa dia di dalamnya.”

Aku kembali tertawa memikirkan rencana jahat yang akan Cemara lakukan. “Kuserahkan padamu.”

Dapat kurasakan Cemara menyeringai.

“Bunda!” sebuah seruan samar anak kecil dapat kudengar dari belakangnya. “Papa jadi jemput kita, ‘kan?”

Lalu kudengar Cemara menjawab, “Iya, Sayang. Papamu sedang diperjalanan.”

Kupastikan itu Dahlia, anak dari suami Cemara. Mereka menikah hampir setahun lalu. Cemara sangat bahagia mendapat suami sekaligus bonus gadis cilik lucu. Dia sudah sejak lama ingin memiliki anak sebelum ini. Bahkan dulu sempat berniat mengadopsi bayi setelah setahun bekerja walau belum menikah.

“Baiklah, kuinformasikan nanti,” ucapnya setelah Dahlia diam. “Sepertinya aku harus memutus sambungan sekarang. Pasti Ofa sedang gelisah di Surabaya sekarang menunggu giliran meneleponmu.”

Aku mengangguk dengan senyum lebar meski tahu dia tidak akan melihatnya. Para sahabatku selalu mengirimkan energi positif untuk menjalani hidup.

Aku menjawab salam ketika Cemara mengucap salam dan memutuskan sambungan telepon. Dan benar saja, belum beberapa detik sambungan terputus nama Ofa langsung muncul di layar.

Sama hebohnya dengan Cemara, dia mengatakan lelucon yang membuatku segar. Dapat kukatakan mereka sangat menyayangiku. Dan aku manusia beruntung memiliki sahabat seperti mereka.

Kesalahan masa lalu mungkin tidak bisa kuperbaiki lagi. Tapi bukan berarti aku tak memiliki masa depan, ‘kan? Walau masa depanku mungkin tidak mudah dijalani, tapi aku yakin bisa melalui itu dengan adanya dukungan sekitar. Terutama dari Ibu dan sahabat-sahabatku ini.

Aku harus bersyukur Tuhan masih memberiku nyawa untuk hidup. Tuhan juga telah mempercayakan Nabil padaku. Yang harus kulakukan sekarang hanya melangkah maju, dan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran agar tak mengulangi kesalahan yang sama.

***

END

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer finarara
finarara at BERPISAH (6 years 31 weeks ago)
70

hai mumu, salam kenal.
ceritanya mengusung tema keluarga dan menarik. hanya saja memang agak panjang ya, heheh, jd saya, sebagai pembaca, justru ingin segera tahu akhirnya, ujung ceritanya yang mengejutkan, apakah mereka justru akan kembali dan irwan menyetujui permintaan widia untk ijab qabul ulang, atau justru widia hamil dg orang lain. oke, opsi yg kedua agak ekstrim :p
ini bukan berarti tulisan saya udah ketje banget. bukan. mari kita belajar bersama di kemudian.com ini :))

Writer ampas
ampas at BERPISAH (6 years 33 weeks ago)
60

Bagus, tapi agak panjang ya..hehehe..

Writer MumuRahadi
MumuRahadi at BERPISAH (6 years 33 weeks ago)

xoxoxo ... iya jadinya panjang padahal niatnya pendek aja.

Writer asahan
asahan at BERPISAH (6 years 33 weeks ago)
70

Secara agama, nikah selagi hamil emang gak boleh. Harus nunggu lahiran dulu, bahkan, bila janda dan belum hamil pun, harus nunggu masa iddahnya selesai,untuk mastiin gak ada benih yg tertanam di rahimnya.

Itu sih yg aku tau. Koreksi kalau aku salah.

Well, koq jd bahas agama y?

Segi ceritanya, semua unsur pembangun cerita udah rigit koq, bagus, cuma perlu ditambah sedikit daging disana-sini, juga ditambah tehnya buat lemburan nulis.

Salam, mumu

Writer MumuRahadi
MumuRahadi at BERPISAH (6 years 33 weeks ago)

iya, setau saya juga begitu...
makasih komennya ya dan salam kenal juga asahan :D

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at BERPISAH (6 years 34 weeks ago)
70

tertarik baca cerita ini gegara baca komen neko-man di activity perkara hukum islam itu. ternyata ga ngerti juga saya hahaha...
sambungannya yang "DENGANMU" itu ya, jadi pemain sampingan di sini. kebetulan saya lagi baca salah satu novel revolusinya Pandir Kelana yang konsepnya gitu, satu tokoh yang muncul di satu novel jadi tokoh utama di novel lain. tapi oh tentu saja ini OOT...
sepanjang pembacaan cerita ini saya lebih mencermati penulisannya sih yang agaknya masih belum rapi. huruf kecil di awal kalimat. kata2 yang ga tepat ejaannya (coba cek "detil", "respon" di kamus), juga masalah kata depan, dsb.
kalo ceritanya sendiri selain kentara islaminya dan perasaan kewanitaannya (ah apa pula ini day?), saya ga pandai mengkritisinya.
moga tulisan berikutnya lebih baik, minimal dari segi ejaan deh hehehe...

Writer MumuRahadi
MumuRahadi at BERPISAH (6 years 33 weeks ago)

iya mb xoxoxo .. memang sengaja dihubungkan dengan cerita sebelumnya.
aduhh saya masih tetap payah dalam kerapian tulisan ... padahal ini juga udah d baca berulangkali.
makasih mb gx bosan ngasitau ... maklum masih belajarperlu banyak dikasi keripik hahaha.

Writer neko-man
neko-man at BERPISAH (6 years 34 weeks ago)
100

Tunggu sebentar, sepertinya aku nggak pernah tahu bahwa ada ijab kabul harus diulang karena pengantin sedang hamil. Setahuku ijab kabul tentu tidak sah jika memang dia hamil karena pernikahan sah, agar nasab keturunan bayi jelas. Beda kasusnya kalau itu adalah bayi hasil diluar nikah. Kalau tidak salah, bahkan kalau ayahnya berbeda akan dianggap ayah yang menikahkan. Lagipula, kalau di dalam Islam rasanya lebih baik mengutamakan keutuhan keluarga daripada hal seperti ini, mungkin lebih baik disembunyikan demi menghindari fitnah (misal efek sosial dari status sang anak yang sangat penting dalam kebudayaan arab). CMMIW sih, karena aku bukan ulama dan malas cari referensi.

Writer MumuRahadi
MumuRahadi at BERPISAH (6 years 33 weeks ago)

hmmm, begini mas (bingung mo manggil apa ...hehehe)neko. posisi mereka menikah itu ketika s Widia ini sedang hamil 4 bulan. menikah dengan orang yang menghamilinya. Tentunya setau saya jug apernikahan mereka nggak sah (saya pastikan lagi dengan membaca link ini >>http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/fiqh-ibadah/hukum-menikah-dalam-keadaan-hamil/ lalu saya juga membaca ini http://nikahmudayuk.wordpress.com/2012/01/12/hukum-menikah-ketika-hamil-karena-zina-hukum-memperbaharui-akad-nikah-karena-tidak-sah/ ... tapi juga membaca di sini http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt512b54117aa15/keabsahan-perkawinan-saat-istri-hamil-di-luar-nikah yang menjelaskan bahwa dalam Kompilasi Hukum Islam atau KHI bahwa wanita hamil boleh dinikahkan dengan lelaki yang menghamilinya.

jujur itu memang membingungkan. ketika membuat ini awalnya nggak pernah berpikir kalau jadi hmm seberat ini.

dan tentunya makasih mas neko atas komentarnya. :D

">">