The Golden Apple: London

Di London, semua terlihat berbeda. Jika dibandingkan, Blakemere seperti gadis pelayan lusuh, sederhana dan membosankan, sementara London adalah putri, anggun dan angkuh, lengkap dengan gaun megah dan perhiasan nan mewah.

Anastasia tiba di rumah Lord Igdrasil sore hari dan ia tidak sabar untuk segera menjelajahi kota. Semangat dan antisipasi menyedot semua rasa lelah yang seharusnya menumpuk akibat perjalanan panjang.

“Selamat datang di Igdrasil House!”

Begitu turun dari kereta, Anastasia langsung disambut oleh seorang wanita muda. Usianya mungkin sekitar dua puluhan, hanya sedikit lebih tua dibanding Anastasia. Sebagian rambutnya yang merah menyala dijepit di belakang dan sisanya terurai sampai ke pinggang, bukan tatanan yang lazim memang, tapi terlihat sangat cocok untuknya.

“Kau pasti Miss Anastasia Appelbaum! Boleh kupanggil Anastasia?” lanjutnya sambil menjabat tangan Anastasia dengan penuh semangat, “Kau bisa memanggilku Verdandi. Seharusnya kakakku yang memperkenalkan kita secara resmi, tapi dia sedang tidak di rumah.”

Sambutan Verdandi membuat Anastasia merasa lega. Wanita itu sama sekali tidak terlihat seperti orang yang kaku dan memperhatikan setiap detil tingkah orang lain. Anastasia langsung merasa ia bisa menunjukkan perasaannya dengan leluasa di depannya.

“Senang berkenalan denganmu, Verdandi! Dan terima kasih banyak atas undangannya!” Anastasia menjawab dengan antusiasme yang sama besarnya.

Selain rambutnya yang mencolok, kemiripan Verdandi dengan Lord Igdrasil sangat kentara. Selain postur yang semampai, secara fisik mereka tidak begitu persis. Namun, keduanya memiliki aura yang sama, keindahan yang asing dan misterius, Apa orang-orang dari negeri asal mereka juga seperti itu?

“Tampaknya aku akan merepotkanmu sepanjang season ini,” ucap Anastasia ketika Verdandi mengantarnya masuk melewati pekarangan Igdrasil House sementara Mabel dan beberapa pelayan lain mengurus barang-barang mereka.

“Omong kosong. Aku justru senang kau ada di sini! Urd banyak bercerita tentangmu, kurasa kita bisa bersenang-senang bersama sepanjang musim!” sahut Verdandi, “Kalau kau tidak datang, aku akan mati bosan, sendirian di rumah seperti ini.”

Meski tidak terlalu besar, rumah Igdrasil tampak megah dan cukup mencolok dibanding tetangga-tetangganya, mungkin karena letaknya di sudut blok dibanding rumah lain di sekitarnya. Desainnya juga tampak lebih rumit, padahal seluruh bangunan lain di London sudah puluhan kali lebih rumit dibanding bangunan kotak polos yang biasa Anastasia lihat di Blakemere.

Semua hal baru ini membuat Anastasia merasa berdebar-debar. Padahal ia baru mendatangi satu rumah. Ia bahkan belum melihat sepersepuluh bagian dari kota London!

“Perkenalkan, Watson, kepala pelayan,” Verdandi memperkenalkan pria bersetelan hitam yang menyambut mereka di pintu masuk rumah.

“Selamat datang, Miss Appelbaum. Semoga Anda merasa betah di sini,” kata Watson.

“Jika Anda butuh sesuatu, silakan panggil saya atau pelayan yang lain kapan saja.”

“Ah, terima kasih banyak, Watson!” Anastasia membalas dengan senyuman.

Interior Igdrasil House tidak seheboh penampakan luarnya. Furniturnya sederhana, dibalut dengan nuansa merah tua. Dindingnya dilapisi motif-motif lembut yang tidak terlalu mencolok. Namun kesederhanaan itu, dipadankan dengan lukisan dan benda-benda seni yang menjadi pajangan serta api yang menyala di perapian, membentuk kesan elegan dan nyaman.

“Ayo, kuantar ke kamarmu. Setelah itu kita bisa minum teh bersama!” ajak Verdandi, “Tapi kau pasti lelah, apa kau ingin istirahat dulu?”

“Eh… Sebenarnya aku ingin berjalan-jalan keluar… Tapi aku tidak keberatan minum teh di sini saja! Nanti merepotkan—”

Di luar dugaan, Verdandi justru tampak tertarik.

“Jalan-jalan? Mengapa tidak? Kurasa itu juga akan sangat menyenangkan. Kau ingin pergi ke mana?”

“Ke mana saja boleh. Ini pertama kalinya aku datang ke London, jadi aku ingin melihat semuanya!”

“Kalau begitu aku akan mengantarmu ke kamarmu, lalu kau bisa bersiap-siap!”

Kamar Anastasia terletak di ujung koridor di lantai dua. Mabel sudah ada di dalam, sibuk memindahkan gaun-gaun majikannya ke lemari. Verdandi juga langsung pergi ke kamarnya sendiri untuk bersiap-siap.

Hal pertama yang dilakukan Anastasia di kamar barunya adalah melemparkan diri ke ranjang. Selain di country house milik keluarga Alyssa, ini adalah pertama kalinya ia tidur di tempat yang bukan kamarnya. Sebelumnya, Anastasia hampir tidak pernah meninggalkan Blakemere. Ia juga tidak punya banyak teman sebaya yang bisa dikunjungi. Mereka semua sudah memulai debut mereka tahun lalu dan lebih banyak menghabiskan waktu di London.

Tapi sekarang Anastasia juga ada di London. Ia bisa ‘mengejar’ mereka semua.

Bahkan setelah seminggu penuh mengkhayalkan segala petualangan yang akan ia alami di London, ia masih belum bosan melakukannya. Dan ia makin tidak sabar menunggu semua itu menjadi nyata.

Oh, ini bukan waktu untuk itu! Anastasia harus segera bersiap-siap. Ia tidak bisa membuat Verdandi menunggu lama.

***

Anastasia dan Verdandi memutuskan untuk tidak naik kereta dan berjalan kaki saja. Keduanya sependapat bahwa dengan begitu, mereka bisa lebih leluasa melihat-lihat London dan bisa mampir di mana pun mereka suka.

Keduanya berjalan sampai ke ujung Oxford Street. Sepanjang perjalanan, Anastasia memandangi setiap sudut kota dengan takzim. Bukan hanya bangunan yang lebih megah dan padat dibanding di kampung halamannya, orang-orang yang lewat juga jauh lebih banyak. Sebagian berjalan kaki, seperti Ana dan Verdandi, tapi banyak juga yang berkuda atau naik kereta. Sembari berjalan, Verdandi menjelaskan satu per satu bangunan dan tempat-tempat yang ia kenali.

“Yang di sebelah sana itu rumah Mrs. Lawson, orang yang menyenangkan. Kita harus berkunjung dan memperkenalkan dirimu nanti,” tutur Verdandi,

“Lalu ke sebelah sana ada Marble Arch, pintu masuk menuju Hyde Park—“

“Hyde Park! Bisakah kita mampir ke sana?”

“Tentu saja! Ayo!”

“Ayo—Aduh!”

“Ana!” jerit Verdandi.

Tiba-tiba seseorang berlari ke arah mereka dan menabrak Anastasia sampai jatuh.

“Maaf. Kau… tidak apa-apa kan?”

Orang itu adalah seorang pemuda berompi lusuh dengan rambut yang lebih panjang dari seharusnya. Dia bertanya seperti itu sambil berjalan menjauhi Anastasia yang masih meraba punggunya yang tadi menghantam jalan, selangkah demi selangkah, seolah ragu antara ingin menunjukkan sopan santun atau kabur secepat kilat.

“Lain kali hati-hati! Pakai matamu dengan benar!” semprot Verdandi pada pemuda itu sambil membantu Anastasia berdiri, “Kau tidak apa-apa kan, sayang?”

“Tidak, aku—tunggu, kalungku?”

Pikiran Anastasia begitu terfokus pada punggung dan bokongnya sampai-sampai ia baru saja sadar bahwa liontin berisi biji emas yang biasa ia kenakan sudah lenyap dari lehernya.

“Pemuda tadi! Dia mengambil kalungku!”

“Apa?!”

Kedua wanita itu menoleh ke arah tempat pemuda tadi berada, tapi orang itu sudah berbalik dan lari sampai mendekati ujung blok.

“PENCURI!”

Semua orang langsung menoleh ke arah Ana dan Verdandi, dibarengi dengan tarikan napas serta bisikan dan jeritan yang menggaungkan kata yang sama. Oxford Street menjadi rusuh. Anastasia sendiri panik dan hendak berlari mengejar pemuda tadi. Tapi bukannya maju, ia malah tidak sengaja menginjak ujung roknya sendiri dan terjatuh dua kali.

“Kalungku… Biji emas…”

Anastasia mencoba bangkit lagi agar bisa mengejar pencuri tadi, tapi pemuda itu sudah tidak terlihat sama sekali, terhalang oleh orang-orang yang mulai mengerumuninya.

“Sudahlah, Anastasia, doakan saja agar pencuri itu tertangkap. Yang penting kau tidak apa-apa, kan?” Verdandi merangkul gadis itu dan membantunya berdiri.

“Tapi kalung itu penting! Kalung itu tidak boleh hilang!” Anastasia mencoba berontak.

“Percuma, pencuri tadi sudah tidak terlihat lagi. Kita bisa pergi membeli kalung baru—“

“Tapi…”

Anastasia tahu Verdandi benar. Tidak mungkin ia bisa mengejar pencuri itu. Dia sudah terlalu jauh, sementara punggung dan lutut gadis itu masih terasa sakit akibat jatuh dua kali. Ditambah lagi gaun yang ia kenakan jelas-jelas menghambat gerakannya.

Anastasia merasa pusing, seolah jatuh ke dalam lubang sangat dalam yang tiba-tiba terbuka di bawah kedua kakinya. Seumur hidupnya, ia selalu diingatkan jangan sampai kehilangan biji emas dalam liontinnya. Ia juga sudah memakai liontin seumur hidupnya, tapi ia tidak pernah benar-benar ‘menjaga’ biji itu. Benda itu seolah merupakan bagian dari dirinya, seolah tak akan ada yang bisa mengambil biji itu darinya.

“Di London nanti kau harus lebih berhati-hati.

Bahkan Lord Igdrasil sudah memperingatinya! Tapi lihat, apa yang ia lakukan? Saking senangnya ia berada di London, ia bahkan sampai lupa ia memiliki sesuatu yang harus dijaga. Bagaimana ia bisa menghadapi Lord Igdrasil ketika beliau pulang nanti? Dan bagaimana kalau ayahnya sampai tahu ia kehilangan biji emas itu?

“Oh!” Anastasia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, berharap ia bisa tenggelam dan menghilang saja saat itu juga.

Langkah-langkah kaki mulai terdengar, makin lama makin menjauh bersamaan dengan orang-orang yang sudah kehilangan minat dan memutuskan untuk melanjutkan apapun yang sedang mereka lakukan. Tapi, di antara itu semua, ada suara yang berderap, menghantam batu jalanan dengan berat dan terburu-buru, semakin jelas, mendekat ke arah Verdandi dan Anastasia.

“Nona... Ini…,” suara langkah itu berhenti, digantikan oleh suara seorang pria yang masih terengah-engah, “…Ini milikmu, bukan?”

“Anastasia! Lihat, kalungmu kembali! Apa penjahatnya juga sudah ditangkap, Tuan?” Verdandi yang duluan menunjukkan reaksi.

“Ah… Bisa dibilang begitu… Yang jelas aku berhasil mendapatkan benda ini kembali. Benda ini sangat penting bagimu bukan? …Nona?”

Anastasia menjauhkan telapak tangannya dengan ragu. Percuma saja jika ada yang datang mengaku sudah membawa kalungnya, tapi ternyata itu adalah kalung yang berbeda. Tapi tepat di depan matanya, sebuah tangan berlapis sarung tangan putih terulur. Di telapak tangannya, Ana menemukan liontin miliknya. Tidak salah lagi, bundar dengan ruang bertutup kaca tempat biji emasnya disimpan. Rantainya sudah putus, tapi bijinya selamat.

“Te-terima kasih…” tangan Anastasia sampai bergetar ketika mengambil liontin itu. Tadi ia begitu panik, takut, tapi sekarang ia benar-benar lega. Ia sudah mendapatkan biji itu kembali.

Liontin itu terasa panas. Seolah bisa terbakar kapan saja. Tapi tetap saja Anastasia merasa tenang setelah benda itu kembali ke tangannya.

“Seharusnya Anda tidak bepergian dengan jalan kaki tanpa ditemani pria seorang pun di tengah-tengah London. Berbahaya, apalagi untuk wanita muda seperti Anda.”

“Tadinya kukira tidak perlu, kami tidak berencana untuk bepergian jauh. Tapi terima kasih atas pertolongan Anda—Hei!”

Seruan Verdandi menyadarkan Anastasia bahwa ia bahkan tidak tahu siapa yang baru saja menolongnya. Gadis itu menggenggam liontinnya dan mengangkat kepalanya, tapi sudah terlambat. Pria itu berbalik dan pergi begitu saja.

Anastasia memanggilnya lagi, tapi pria itu terus berjalan. Gadis itu ingin mengejarnya, tapi Verdandi menahannya.

“Biarkan saja, Ana. Kita bisa menemuinya lagi dan menyampaikan ucapan terima kasih dengan lebih pantas kapan-kapan.”

“…Kau mengenalnya?”

“Tidak juga, tapi sebagian besar orang yang biasa bergaul dengan kalangan atas London tahu tentangnya. Pria itu Lord Tyrell Howard, adik dari Earl Carlisle,” Verdandi menjelaskan.

“Adik seorang earl?

“Ya. Kudengar dia di London untuk menggantikan tugas sang Earl di parlemen sementara kakaknya melakukan kunjungan ke Rusia. Kebetulan dia langganan di kelab milik Urd.”

“Benarkah? Berarti Paman Urd mengenalnya? Berarti kita bisa menghubunginya, bukan?”

“Kalau kau mau, tentu saja bisa,” jawab Verdandi, “Tapi tampaknya dia tipe penyendiri. Lihat saja, dia bilang kita seharusnya ditemani paling tidak seorang pria, tapi dia langsung pergi begitu saja setelahnya. Dia juga hampir tidak pernah terlihat di pesta manapun, padahal dia sempat menjadi salah satu bujangan yang paling diincar…

“Sayang sekali, padahal dia lumayan tampan.”

Anastasia bahkan tidak sempat melihat wajahnya, tapi ia ragu ia bisa melupakan punggung pria itu yang bergerak menjauh. Posturnya tidak jangkung dan kekar seperti pahlawan di novel-novel romantis, hanya berbalut setelan kelabu sederhana, tidak rumit dan mencolok seperti pakaian mewah yang diparadekan sebagian orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka.

Dan mungkin Anastasia tidak akan pernah melupakan sosoknya yang melangkah pergi seolah tidak peduli. Meski begitu, Anastasia yakin, dia pasti orang baik. Ia masih ingat deru nafasnya yang putus-putus ketika mengembalikan liontinnya yang dicuri. Ketika orang-orang hanya bisa panik dan menonton, pria itu mau bersusah-payah mengejar si pencuri dan mengembalikan liontin itu pada Anastasia.

“Mungkin kita bisa mengirim pesan?”

“Itu ide yang bagus! Kita bisa melakukannya begitu kita kembali ke rumah!” Verdandi langsung menyutujui.

“Pesan… Dengan hadiah kecil?” Anastasia menyarankan, “Itu juga tidak sebanding dengan pentingnya kalung ini untukku.”

“Boleh juga. Kau ingin memberinya apa?”

Anastasia tidak langsung menjawab. Ia berpikir keras, sampai akhirnya ia menyadari bahwa ia tidak punya apapun yang pantas dijadikan hadiah.

Melihat gadis itu kebingungan seperti itu, Verdandi tertawa, “Bagaimana kalau kita pergi berbelanja saja sekarang?”

“Eh?”

“Kita pulang sekarang dan mengajak salah satu pelayan untuk menemani kita ke Bond Street, lalu kau bisa mencari hadiah untuk Lord Howard!” Verdandi langsung menjabarkan rencananya.

“Apa tidak apa-apa begitu? Aku tidak ingin merepotkanmu—”

“Omong kosong! Kau tidak akan bisa membuatku merasa repot. Lagipula aku ingin mencari bros untuk gaun baruku.”

Sebelum Anastasia sempat protes lagi, Verdandi menggamit lengan gadis itu dan menyeretnya agar terus berjalan di sepanjang trotoar, kembali ke arah Igdrasil House

Read previous post:  
Read next post:  
Writer S.Rizki
S.Rizki at The Golden Apple: London (7 years 46 weeks ago)
80

tetap keren... ^^

Writer larasatiintan79@yahoo.com
larasatiintan79... at The Golden Apple: London (7 years 49 weeks ago)

tidak tertulis adanya chapter ke-4 hehe ada kata-kata yang kurang efektif pada bagian kata seharusnya setidaknya " Lihat saja, dia bilang kita seharusnya setidaknya ditemani seorang pria"
berarti Verdandi seorang perempuan? kirain aku cowo hehe
# semoga lebih maksimal :)

Writer Riesling
Riesling at The Golden Apple: London (7 years 48 weeks ago)

xDD
seharusnya setidaknya itu kayaknya lagi mabok pas ditulis.
Makasih udah mampir~

Writer ampas
ampas at The Golden Apple: London (7 years 49 weeks ago)
100

Huoooo, cerita tentang London..
Judulnya menarik, tapi agak panjang ya..hehehehe..
Keep writing, ini berlanjut kan ya?

Writer ampas
ampas at The Golden Apple: London (7 years 49 weeks ago)
100

Huoooo, cerita tentang London..
Judulnya menarik, tapi agak panjang ya..hehehehe..
Keep writing, ini berlanjut kan ya?

Writer Riesling
Riesling at The Golden Apple: London (7 years 49 weeks ago)

Iya~ ini udah chapter ke-4.
Makasih udah mampir~