SEPOTONG DOA BUAT DANA

Kubaca kembali sms yang kuterima beberapa menit yang lalu ”...tolonglah Mel. Kamu pasti masih punya hati nurani. Tolong kamu lupakan yang pernah terjadi dulu. Sekarang Dana butuh kamu Mel. Dia sekarat...”.

Aku hanya diam, menatap hampa pada layar handphoneku. Sms dari Andre, sahabat Dana. Setelah tak kugubris permintaannya lewat telepon, dia mengirimiku sms itu. Aku mulai bimbang. Perlahan, karang di hatiku mulai terkikis.

Perdana. Laki-laki yang sangat aku cintai, melebihi apapun. Tapi itu dulu. Dulu, waktu aku masih begitu naif. Aku memujanya, aku merebahkan diri untuk mencium kakinya bahkan menyediakan diriku untuk dijadikan alas tempatnya berpijak.

Bila mengingat sebesar itu aku dulu pernah mencintainya, rasanya tak perlu berpikir dua kali untuk langsung datang ke rumah sakit, tempat di mana dia sedang meregang nyawa. Tapi bila teringat bagaimana dia pernah menyakitiku, ingin rasanya kuabaikan semua kata-kata memelas dan sms dari Andre itu. Apa peduliku dia sekarat bahkan mati sekalipun?

Perdana...laki-laki yang sangat mempesona. Tidak terlalu tampan dan atletis, tapi cerdas dan punya selera humor yang memikat. Sepertinya dia terlahir untuk membuat orang lain nyaman dengan keberadaannya. Hanya dengan berada di dekatnya, mendung mendadak sirna dan hangat sinar matahari akan menyirami sekitar. Hanya dengan memandang senyumnya, badai menyingkir dan angin akan berhembus perlahan.

”Aku mencintaimu...aku yakin itu”. Kalimat sederhana yang diucapkannya itu membuatku limbung dimabuk indah. Kucari kebenaran di matanya. Dan mata teduh itu kembali meyakinkanku bahwa memang ada cinta di sana.

”Aku belum siap”. Kalimat yang lebih sederhana itu dilesatkannya saat kukatakan aku hamil. Dana menjadi begitu panik, lebih panik dari aku yang membawa kehidupan lain di rahimku. Dia bingung bagaimana menghadapi keluarganya, kuliah pasca sarjananya dan pekerjaannya yang mulai mapan. Aku mengalah. ”Biar kuurus sendiri”, putusku padanya. Dan setelah melakukan dosa, kugandakan dosaku itu dengan nyawaku sebagai taruhannya.

Beberapa waktu aku menjauhkan diri darinya. Sadar kalau dia tak sesempurna yang kukira. Sadar betapa kerdil nyali dan tanggung jawabnya. Tapi begitulah aku, segera juga kusadari kalau aku tak mampu terasing darinya. Kembali kurebahkan diri di pelukannya. Kembali mabuk dengan kata-kata penyesalan dan janji-janji surgawi.

Setelah itu, tak terhitung sudah berapa kali Dana menyakitiku. Dan sebanyak itu pula aku memaafkannya bahkan merasa semakin mencintainya. Entah ke mana rasionalitas yang selalu kujunjung tinggi itu. Rasionalitas yang selama ini selalu mampu meredam indahnya kata semata. Aku betul-betul tak berdaya dibuatnya. Selalu ada kekuatan yang menarikku untuk berada di dekatnya. Dan Dana memang selalu ada untukku. Selalu merelakan telinganya mendengar keluh kesahku, menyediakan mulutnya untuk mengusir gelisahku.

Dan setelah semua yang terjadi, beberapa bulan yang lalu dia mendiamkanku tanpa sebab. Sampai mengiba-iba aku bersujud di kakinya minta penjelasan, tapi dia tetap membisu. Dan dari e-mail Dana minta aku untuk melupakanku, merelakan yang pernah terjadi diantara kami sebagai kenangan yang tak usah diungkit lagi. Dia telah merencanakan masa depannya, dan jelas tidak ada aku dalam rencana itu.

Aku hancur. Aku meleleh. Aku hangus terbakar. Bentuk asliku terbang meninggalkan sosok asing tanpa nyawa. Dan sekarang, di saat perlahan-lahan kurangkai bentuk asliku, dia datang lagi dalam hidupku. Mengiba, meminta kesempatan yang mungkin terakhir kalinya, untuk bertemu denganku.

Kuredam egoku. Kuputuskan untuk menemui Dana. Sekejam apapun dia pernah memperlakukanku, tapi dia pernah mencintaiku. Dan harus kuakui, mungkin sampai saat inipun, sedikit cinta masih kusembunyikan di sudut hatiku. Kupersiapkan bila suatu saat kelak dia datang kembali padaku. Dan mungkin inilah saatnya.

Bila nanti dia minta maaf padaku, apa aku sanggup memaafkan dia? Keegoisannya apa sudah berganti jadi jiwa besar? Kekerdilannya apa sudah berubah agung?

Tapi bila yang dia inginkan bukan maaf, tapi ingin aku kembali padanya, apa yang harus kukatakan? Memang sedikit cinta masih ada untuknya, tapi tak semudah itu memulai semuanya kembali.

Aku bingung. Dilanda dilema yang teramat sangat. Bahkan setelah mampu kuambil keputusan untuk menemuinya, apa yang akan terjadi selanjutnya masih kebimbangan besar bagiku.

Aku tiba di rumah sakit setelah lewat tengah hari. Kedatanganku disambut Andre dengan binar bahagia. ”Makasih banget kamu mau datang Mel. Dana mau ketemu kamu sekarang”. Kuanggukkan kepalaku perlahan. Andre masuk ke dalam kamar Dana dan tak berapa lama keluarlah ibu Dana. Wanita yang tak pernah dikenalkannya padaku, wanita yang hanya kukenal dari foto dan ceritanya. Tak lama keluarlah Chintya, wanita cantik yang kutahu sebagai pacar terakhir Dana.

Andre mempersilahkan aku masuk lalu menutup pintu itu dari luar. Aku terpaku. Di hadapanku terbaring laki-laki yang begitu kucintai dan pernah mencintaiku. Selang-selang bertebaran di sekeliling tubuh kurusnya. Ya Tuhan, ke mana perginya semangat yang selalu membara itu? Ke mana pula keceriaan yang selalu ditimbulkannya saat berada bersama orang lain? Air mataku menetes. Aku mendekatinya. Perlahan-lahan kugenggam jemarinya. Dingin dan begitu ringkih. Kupaksakan sebentuk senyum dan kusapa dia dengan nada seriang mungkin.

Dana membuka matanya, mencoba membalas senyumku dengan caranya sendiri. Saat ini, tak mampu lagi kutahan tetes air mataku. Jebol sudah pertahananku, air mata membanjiri pipiku. Saat itu juga seluruh benci dan dendamku padanya menghilang. Berganti simpati dan rasa cinta yang pernah menguasai.

Kuusap pipi tirusnya sambil menahan isak. Dana berusaha berbicara padaku,” Mel...”. Kutahan ucapnya dengan telunjukku di bibirnya.

”Jangan banyak bicara dulu. Kamu harus sembuh yah. Aku udah di sini buat kamu”, kataku sambil membelai rambutnya.

”Mel...aku dulu...”

”Udahlah...ga usah ngomong yang dulu lagi. Aku udah ngelupain yang dulu-dulu. Aku juga udah maafin kamu. Sekarang aku mau kamu cepet sembuh dan aku akan dampingi kamu sampai sembuh”, kuucapkan kata-kata itu dengan suara bergetar. Kutatap mata teduhnya, mata yang begitu sayu sekarang. Ternyata benar, aku memang masih mencintainya. Lenyap sudah semua kesalahannya di masa lalu. Semua menguap entah ke mana.

”Mel...tolong dengerin aku dulu...”. Dengan nafas tersengal-sengal, Dana berusaha menyelesaikan kalimatnya. ”Mel...dulu aku pernah bilang kalau aku mencintaimu....aku bohong Mel. Nggak pernah sedikit pun aku mencintaimu”. Diselesaikannya kalimat itu dengan sesungging senyum mengejek di bibir tebalnya.

Aku terdiam. Terkejut dengan kalimat yang tak kusangka-sangka. Bahkan di saat-saat terakhirnya Dana masih mampu menyakitiku. Tapi, takkan kubalas pengakuannya dengan caci maki. Kuraih jemarinya dalam genggamanku. Kutundukkan kepalaku dan kupaksakan sedikit doa mengalir dari bibirku, ”Dana, semoga kamu betah di neraka sana. Amin...”.

Jogjakarta, 28 Juni 2007

Read previous post:  
Read next post:  
Writer irwan bajang
irwan bajang at SEPOTONG DOA BUAT DANA (13 years 28 weeks ago)

undangan kumpul kemudianers Jogja
nih linknya: http://id.kemudian.com/node/228654

Writer suksmo
suksmo at SEPOTONG DOA BUAT DANA (13 years 42 weeks ago)
80

bagus .. :)

Writer m4rc3l
m4rc3l at SEPOTONG DOA BUAT DANA (14 years 34 weeks ago)
80

gila...bagus banget...emg itu doa yg cocok buat dana:) keep write

Writer timbuktu
timbuktu at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 2 days ago)
100

sereeem (>.<)/

dadun at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 6 weeks ago)
90

cerita yang bener2 saya suka sekalih!!!! ending yang bikin geleng2! keberanian Mel perlu diacungin 4 jempol!!! bagus... bagus... bagus... sumpah.

Writer heaven_waiting
heaven_waiting at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 7 weeks ago)
80

dana udah nyampe neraka belon??

Writer Armila_astofa
Armila_astofa at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 8 weeks ago)
80

Aku yang nggak suka baca.Tertarik baca cerita ini.

Aku suka rangkaian katanya dan penjiwaannya dalam menulis.

Mbak boleh belajar sama kamu nggak ?

Writer diraparau
diraparau at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 9 weeks ago)
90

Endingnya bikin tegangku hilang Win, setelah melotot dan sedikit menahan nafas di setiap baid-baidnya...

Begitu sampai di ”Dana, semoga kamu betah di neraka sana. Amin...”, spontan segumpal senyum padat melesat.

Bener-bener ending yang unpredict... :)

Writer loushevaon7
loushevaon7 at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 10 weeks ago)
90

windy, para penggemarmu di sini adalah modal besar buatmu mengawali karir sbg penulis. salut lagi nih!

Writer Chatarou
Chatarou at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 11 weeks ago)
100

hanyut...
kukira...Dana sedang menyembunyikan penyakit kronis..
ternyata benar..
sakit bohong ke kamu..

chatarou

Writer brown
brown at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 12 weeks ago)
90

am surprised, dgn perkataan Dana, dan lbh terkejut lg dgn doa Mel.

tapi aku punya pertanyaan yg sama dgn mbak Ratih. mengapa Dana mengungkapkannya di saat2 kematian seolah sudah sejauh helaan nafas. kayaknya usul mbak Ratih boleh tuh Win, bikin versinya Dana.

ceritanya rapi, seperti postingan2mu yg lainnya. aku suka cerita yg rapi, bahasa sederhana yg mudah dimengerti, dan tentu saja, those double surprises.

Writer Ratih
Ratih at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 12 weeks ago)
80

Windy selalu membawa pembaca mengikuti alur dengan mulus. Cuma aku jadi bertanya2, ngapain si Dana itu bikin pengakuan yang menyakitkan buat orang lain dan ga ada gunanya buat dia di saat dia sedang sekarat. Mbok dibuat yang versi Dananya. Soalnya aku penasaran. Thx.

Writer azura7
azura7 at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 13 weeks ago)
90

Perdana itu karekternya ngambil dari mana? saya? keren.

Writer awibosa
awibosa at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 13 weeks ago)
50

ya gitu deh
bagus terus nulis ya

Writer redshox
redshox at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 13 weeks ago)
100

bagus.. bagus..

Writer Jamil_begundal
Jamil_begundal at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 13 weeks ago)
90

nah! sekarang kamu yang membuatku menagis, win. ^__^
jalan-jalan ke blogku yah. mata-prosa.blogspot.com

Writer niska
niska at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 13 weeks ago)
90

Endingnya ga terduga :)

Writer selene
selene at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 13 weeks ago)
50

semuanya nggak harus hepi ending

Writer dimas_rafky
dimas_rafky at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 13 weeks ago)
90

Runtutan kalimat sederhana yang mengalir indah. Aq suka, dan terhanyut dlm aliran ceritanya saat membaca cerpen ini. Tapi ada yg salah deh!"Dan dari e-mail Dana minta aku tuk melupakanku". Salah ketik ya? Mngkin 'melupakannya'.

Writer fortherose
fortherose at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 13 weeks ago)
80

...ending yang bagus!

^_^

Writer f_as_luki
f_as_luki at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 13 weeks ago)
90

Aku doain juga biar sekaratnya lama.....

Writer mey
mey at SEPOTONG DOA BUAT DANA (15 years 13 weeks ago)
90

Dana, mati aja sana!!!

---

Bahkan di saat-saat terakhirnya Dana masih mampu menyakitiku.

bagian yang sungguh... hmm...