Twin

Pada mulanya semua nama yang telah kutulis dalam ingatanku ini menjadi sebuah ambigu dimana orang lain lebih mengenal aku ketimbang aku mengenal mereka. Awalnya aku memeriksa daya ingatanku sendiri sambil mencari ke mbah google buatan si nyonya internet ini tentang cara bagaimana harus meramu sebuah ingatan dengan pengelihatan yang kucerna sehari-hari. Hal ini sudah kualami sejak aku masih kecil. Sampai sekarang aku merasa terganggu dan terkadang bisa melumpuhkan semua aktivitasku. Misalnya saja hari ini aku mengenal diriku sebagai Romi tapi beberapa menit kemudian aku tak mengenal lagi siapa diriku, tetapi daya lupaku untungnya tak berlangsung lama. Kurang lebih satu jam kemudian aku bisa mengenal lagi siapa diriku dan juga semua daya ingatku kembali normal.  

Google search..

NO..RESULT

NO...RESULT

"Alah Google lama lama gak move on nih!"Aku berteriak sendiri sambil mengemuti kekesalanku dengan sebungkus permen lolypop yang kugigit keras dan kutelan dengan cepat'.

Lalu mau kucari kemana lagi keanehan ini. Pernah aku bertanya pada psikiater atau dokter spesialis otak tentang apa yang terjadi pada diriku ini. Mereka menjawab tak sama alias gak kompak dalam menyelesaikan masalah yang kualami. Psikiater bilang kalau aku pernah terjatuh dan melukai otak bagian dalam. Kemudian Dokter spesialis bilang bahwa aku sering melakukan Onani sehingga menyumbat peredaran darah masuk ke otak lalu mengganggu konsentrasi disaat melakukan sesuatu.

Semuanya kubantah dengan sunggingan senyum kemudian sama sama kubanting kedua pintu ruangan saat aku melangkah pergi dari berobat.

Ibuku bernama Retna. Dengan ide gilanya waktu itu aku disuruh menghapal Al-Quran 1 juz dalam waktu sehari. Memang orang tua selalu mengaitkan semua penyakit dengan agama. Ini yang membuat semua orang tak percaya dengan ilmu medis sehingga banyak orang yang meninggal gara-gara tidak tertolong karena dinilai terlalu lamban membawa ke pengobatan medis. Berbekas pecutan di punggungku dan juga bekas cubitan yang membekas yang dilakukan oleh ibuku karena tak bisa menghapal Al-Quran. Aku menjadi seorang yang bermental lemah malah ingatanku tak kunjung membaik malah sebaliknya.

Sejak dari itu ibuku menyerah. Semua sudah dilakukan. Termasuk rawat medis yang hanya menyesalkanku. Hampir gila aku jadinya.

--

Lelah dengan laptop yang kulihat sejak subuh tadi aku berusaha membuka pintu jendela sehingga sinar matahari masuk dan menyegarkan tulang-tulang kemudian kuhirup sejenak hawa sejuk yang tentu saja bisa kalian dapatkan apabila punya rumah bertingkat 3 sepertiku. Apa lagi yang kulakukan setelah ini aku pun tak tahu. Dalam waktu sepersekian detik saja penyakitku kambuh dan semua berubah. Waktu terasa melambat seperti ada yang mempausekan semua hidupku lalu aku kembali normal. Itu intinya. Mungkin saja kalau film X-Files itu masih ada maka aku jadi bahan cerita yang menggiurkan.

STAG...

Aku hanya berfikir bahwa saat ini aku masih ada. Dunia ini seperti lembaran kertas yang putih dan aku hanya berada di dalamnya. Lalu aku beusaha keras memungut kembali cerita hidupku dan menulis apa yang aku bisa. Ingatanku..

--

“Romi!!”

“Siapa Romi?”Tanyaku.

“Romi...buka pintunya..”

“Apa itu pintu?”kembali mengutuk sendiri ketidakmampuanku berfikir dengan cara menggaruk-garukan rambut. Dan aku hanya bisa menebak bahwa pintu itu adalah laptop yang kupergunakan tadi.”

“Cepat nak buka pintunya..Mama tahu kamu lagi kambuh”. Hampir puluhan kali ibuku mengetuk pintu tapi aku tak bisa berkata ataupun bergerak. Badanku kaku dan aku ketakutan. Aku benar-benar dalam keadaan payah. Baru kali ini aku merasa ketakutan dengan sangat. Seperti ada yang ingin mencekik leherku dan berusaha membunuhku.

1 jam lamanya..

2 jam lamanya..

Ingatanku tak kunjung sembuh. Apa aku benar-benar gila?. Dalam keadaan panik,Akhirnya semua kubayar dengan harga murah. Aku melempar laptopku keluar jendela dan menimbukan bunyi gaduh dan membuat semuanya panik. Semua warga termasuk ibuku berkumpul dengan sangat cepat menuju lokasi laptop yang kulempar. Semuanya berubah menjadi bahan tanya.

Tak lama kemudian pintu kamarku didobrak kencang oleh hampir 10 orang laki-laki bertubuh gempal sampai semua sisi pintuku rusak karena dibuka paksa. Aku kaget bukan main. Dibenakku mereka semua seperti penjahat yang sedang merampok rumahku. Aku tak mengenali mereka. Bahkan ibuku sendiri.

Aku berusaha lari sambil menembus semua orang yang berada dihadapanku. Aku melihat muka ketegangan yang mereka rasakan saat melihat diriku berubah 180 derajat seperti ini. Aku semakin ketakutan. Kepalaku berubah sakit. Walau aku berhasil keluar dengan mudah dari kerumunan orang tapi aku merasakan ada sebuah tanya mengganjal dalam pikiranku. Kenapa aku sebenarnya?.

“Cepp..”

Sebuah jarum suntik mendarat di punggung bagian belakang. Saat itu juga aku tak kuat menahan berat badanku. Aku pingsan. Entah dari mana suntikan ini berasal. Rasanya seperti tertembak peluru.

--

“Kena juga akhirnya” Dokter umum yang datang tiba-tiba dari balik pintu bisa bernafas lega saat memberhentikan laju lariku. Dan menancapkan suntikan penenang yang bersarang di punggungku.

“Terima kasih dokter”Ibuku menyahut. Walau kelihatanya ia tampak sangat ketakutan melihat aku seperti ini.

“Untung saja saya tepat waktu berada disini. Ibu...Ibunya anak ini?”

“Iya dok”.

“Perkenalkan. Nama saya Arif. Saya dokter spesialis di kota ini. Bapak Rahmani yang menelepon saya barusan. Saya cepat-cepat pergi kesini katanya anak ibu menderita gangguan otak.”

Dalam beberapa jam ibuku menjelaskan semua yang kuderita. Untung saja ibu punya para tetangga yang baik hati seperti bapak Rahmani yang setia membantuku dan ibuku. Ibu tahu sejak ayah berada di luar kota praktis hanya para tetangga yang tahu keluh kesah dan derita yang kurasakan. Ini awal yang baik. Dan kuharap aku bisa tersadar secepat aku melupakan hal yang kuderita hari ini.

--

Aku tersadar tepat saat azan maghrib berkumandang. Saat aku mulai bangun aku merasakan badanku kaku dan punggungku sakit sekali. Aku tak sama sekali meyadari bahwa aku pingsan dan tersuntik jarum. Yang kurasa selama ini aku hanya tertidur pulas dan tak ada yang membangunkanku.

“Ini sudah maghrib. Mengapa badanku sakit sekali” Jemariku memegang pundak. Ingin rasanya tubuh ini kurebahi lagi. Aku merasa sangat kelelahan.

 Melihat pintu kamarku yang jebol. Aku malah merasa aneh. Mungkinkah ada perampok yang masuk ke kamarku?.

--

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Twin (4 years 8 weeks ago)
80

bagus

Writer kemalbarca
kemalbarca at Twin (8 years 31 weeks ago)
80

aku suka dengan karakterisasi si aku yang unik, walaupun aku harus sepakat bahwa beberapa kalimatnya seakan-akan saling bertentangan
misalnya kalimat "Aku tak mengenali mereka. Bahkan ibuku sendiri."
itu sama saja mengatakan kalau dia tahu dia tidak mengenali ibunya sendiri
dari balasanmu terhadap komentar dayeuh, dirimu bilang kalau si aku ini punya kepribadian ganda, tapi jujur aja, aku masih belum bisa melihatnya di cerita
endingnya justru udah bagus :)

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Twin (8 years 31 weeks ago)
60

jadi inget lagunya PHB, "Sang Pengkhayal". senada sama Shin Elqi, narasinya kerasa aneh. si "aku" ini seperti yang linglung tapi dia masih punya kesadaran untuk menceritakan ketidakberesannya itu. seperti ada diri yang terbagi. contoh aja, mengherankan ketika di akhir cerita dia bingung kenapa pintunya jebol, padahal sebelumnya dia sendiri yang bilang kalo ada sepuluh lelaki gempal yang mendobrak pintunya itu. berdasar pengalaman, ga perlu sampai sepuluh orang, dan ga perlu berbadan gempal juga, buat membongkar paksa pintu yang terkunci. dua orang berperawakan biasa pun jadi. kemudian soal kamar di lantai tiga lantas udara jadi sejuk itu saya kira malah sebaliknya, lantai bawah yang dekat tanah justru terasa lebih sejuk ketimbang lantai di atasnya (seenggknya itulah yang saya rasakan). kecuali rumahnya di gunung atau semacamnya. dan ada ketidakkonsistenan juga nih soal dokter yang menyuntik punggung si "aku" dl narasinya itu. mula2 dikatakan dokter umum, lalu ngakunya spesialis. jadi umum atau spesialis, dua kata ini pengertiannya bertentangan bukan? dan spesialisnya juga spesialis apa, penyakit jiwa?
cerita tentang orang "gila" ini sebenernya menarik cuma tampaknya masih perlu riset ya. apalagi kalo dibawakan dg sudut pandang orang pertama. adakah orang gila yang menyadari kegilaannya? atau dia terombang-ambing antara kewarasan dan ketidakwarasan? atau sebenernya dia cuma lagi kalut, sampai2 merasa hampir gila? kalut karena apa, seberat apa. saya juga ga ngerti soal keadaan jiwa orang yang beneran ga waras. cuma saya kira dl sudut pandang orang yang beneran gila, kegilaan itu justru terasa masuk akal. begitu aja yang bisa saya katakan, he...

Writer iman
iman at Twin (8 years 31 weeks ago)

wow... PRnya banyak sekali...hehehe okeh deh kakak akan segera diperbaiki huft ini dia letak kesulitanya kalau sudah berhadapan dengan guru hehehe..pada awalnya saya ingin menceritakan si akunya ini jadi 2 kepribadian...(Yah udah ketebak deh ceritanya.)yang satu punya sifat penurut dan yang satu punya sifat pemarah jadinya ada 2 kepribadian yang saling bertentangan satu sama lainnya,meleset sedikit dari novel billy yang kalau gak salah punya 24 kepribadian memang salah saya novel ini keburu di post dan lanjutanya pun belum saya tulis di kekom tapi tak apalah toh ini sebenarnya jadi bahan pancingan seberapa jauh nilai novel yang saya buat. makasih yah senpaiku semuaaa...i love yiu all

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Twin (8 years 31 weeks ago)
70

saat sadar (ingat) dan saat tidak sadar itu terkesan rancau. Ketika dalam keadaan tidak sadar, ada beberapa unsur sadar yang ikut dalam bahan ceritanya. Jadinya membingungkan. Mungkin dengan mengganti sudut pandang menjadi orang ketiga akan mudah menceritakannya. Ini saran saya, mungkin penulis ada pendapat sendiri.

Dan saya sedikit curiga dengan suntikan di punggung, kurang umum gitu...

Writer iman
iman at Twin (8 years 31 weeks ago)

yak benar setuju dengan kak shin itu juga yang membuat saya ragu untuk menggunakan orang pertama pada awalnya. Tapi sebenarnya saya ingin membuat tokoh orang pertama ini menjadi lebih berkarakter dan lebih menguatkan si-AKUnya ini menjadi lebih liar, Saya juga ragu apabila saya ganti ke orang ke 3 pembaca jadi mudah jenuh makasih atas saranya kak shin moga bermanfaat buat saya untuk melanjutkan kisah ini

Writer petung
petung at Twin (8 years 31 weeks ago)
60

Kok aku bacanya sambil senyum senyum....? Banyak kalimat yang kurasa janggal dan nggak lazim seperti "...mengemuti...."
Alasan dokter penyebab penyakit lupa : sering onani..apa benar?

Writer pecundang jalanan
pecundang jalanan at Twin (8 years 31 weeks ago)
100

'

Writer pecundang jalanan
pecundang jalanan at Twin (8 years 31 weeks ago)

mantap.....
menurutku ada dua hal yg paling penting dalam membuat suatu cerita.
1. membuat pembaca penasaran dgn kalimat-kalimat apa yang akan mereka baca selanjutnya 'tidak membosankan'

2. tidak melakukan ujian, maksudnya tidak harus memaksa pembaca buka kamus atau googling istilah2 berat walau kadang itu menambah ke eleganan sebuah tulisan tapi lbh sering mengesalkan.

keduanya sudah berhasil
penasaran lanjutanya!!!!