Di Batas

Pria itu setelah berganti kaus lalu berbaring di sebelahku. Aku mengulurkan tangan, tapi dia malah membalikkan badan, memunggungiku.

"Kenapa?" tanyaku, setengah dipaksa. Malas sebenarnya memulai bicara. Tapi harus, karena ini sudah hampir dua minggu.

"Capek, mau tidur," aku mengeluh dalam hati. Lalu kuikuti contohnya, aku memunggunginya. Jadilah punggung kami berhadapan, bermesraan. Dua puluh menit, tidak kunjung kudengar dengkur halusnya. Kuduga, matanya masih nanar menatapi tembok, seperti sekarang mataku jalang menatapi tembok yang berlawanan.

"Sayang," ujarku pelan.

"Hmm..," sahutnya pendek. Cukup sebagai informasi kalau dia masih terhubung dengan dunia nyata. Aku menghembuskan nafas perlahan.

"Sebosan apapun kamu denganku, atau aku denganmu, kita selalu bersama kan?"

Dia terdiam.

"..tahun ini tahun ke lima. Besok ke enam. Tujuh. Delapan, Sepuluh. Dua puluh. Tiga puluh..,"

Dia hanya menjawab dengan hembusan nafas berat.

"Menikah itu mudah bukan, mempertahankannya yang perlu usaha berdua, bukan?" aku mencetus lagi. Sebenarnya, ini percakapan seperti biasa. Aku yang banyak kata, dia menanggapi dengan seperlunya. Kami tidak terganggu dengan itu. Justru malah seperti saling melengkapi, deretan kalimatku ditambah beberapa tanda baca darinya.

"... kenapa memangnya?" akhirnya ada juga suaranya. Aku terdiam sejenak, menata kata.

"Aku wanita, Sayang. Aku butuh dimanja. Tolong aku. Kalau itu tidak kudapat dari suamiku, aku takut aku akan mencari ke tempat lain," ujar punggungku pada punggungnya.

"Dimanja itu sekarang wujudnya bertransformasi. Bukan lagi dengan puisi, bunga, atau hadiah. Jam kerjaku yang penuh dan semua hasil jerih payah itu upayaku memanjakanmu," oh bravo! Dia mulai belajar bicara panjang. Aku terpekur.

"....tidak bisa begitu. Absurd itu. Manja secara harafiah, kau tahu," dia menghembuskan nafas panjang.

"Pembicaraan ini selalu saja berputar di sini, bukan?" keluhnya. Masih di posisi yang sama. Muka beradu tembok.

"Beda cara pandang, maksudmu? Kalau itu, iya. Aku muak kalau kau bilang, kemesraan pacar sekarang digantikan kemesraan penuh tanggung jawab dari suami. Itu hubungan fungsional. Tugas suami memang, menafkahi istrinya. Tapi kita kan pribadi yang personal, yang butuh diperhatikan secara mesra. Berapa kali aku bilang? Kalau aku tidak bisa minta itu dari suamiku, ke mana lagi aku mencari?" ah sial, sekarang mataku sudah panas. Bukan mengantuk, bukan. Tapi ini tanda-tanda banjir air mata. Aku berdehem dan menarik nafas panjang.

"..... apakah kamu baru saja bilang bahwa sedang ada orang lain?" aku tercenung. Tidak tepat benar seperti itu. Tidak ada orang lain. Tapi aku sedang merasa terayun di seutas tipis tali, yang akan putus, dan membayangkan aku jatuh, lalu ada orang di bawah yang menangkapku, bukan pria di sebelahku ini. Kalau begitu, apa namanya? Sudah pantas dikatakan 'pria idaman lain' belum? Wujudnya pun belum ada. Tapi aku saat ini bisa merasakan 'bakal kehadiran'nya. Gawat.

"..sekarang, tidak ada. Takutku, jika ini berkelanjutan, jadinya ada," aku jujur. Manjur, hal itu membuat dia melepaskan diri dari tembok lalu berbaring terlentang memandang langit-langit. Aku kembali mencontoh posisinya. Sekarang, posisi kami serupa orang di ujung sesi Yoga, melakukan posisi Savasana. Baring telentang tanpa beban.

"Lalu maumu bagaimana?" ujarnya. Aku menutup mataku frustasi.

"Sederhana, mari kita cari lagi romantisme itu, hapuskan pembicaraan tak berkesudahan tentang kerjaan," dia terdiam.

"Buatku, sulit. Kepalaku penuh sekali. Kamulah tempatku untuk curah hati," aku mengeluh dalam hati.

"...kalau begitu, lakukan caramu, aku lakukan caraku," putusku dengan letih, lalu kembali memunggunginya.

"Maksudnya apa?" tanyanya.

Aku menjawab dengan diam, menenggelamkan tingkah polah pikiranku dalam-dalam. Membiarkan semua mengabur menjadi mimpi.

Sampai jumpa besok hari, jawabku dalam hati.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer khall
khall at Di Batas (7 years 28 weeks ago)

Nice story

Writer Shinichi
Shinichi at Di Batas (7 years 32 weeks ago)
60

ini, menurut saya, kurang sinematik #halah.
maksudnya, peristiwanya sendiri berupa dialog, yang kurang aksi. adegan. lain halnya sebuah cerita yang dituturkan melalui dialog, ini rasanya kurang greget aja.
saya membayangkan semacam peristiwa yang bukan dialog yg sesungguhnya terjadi. btw, hanya komentar. semua kembali kepada penulis. salam.

Writer oaktrre
oaktrre at Di Batas (7 years 32 weeks ago)
90

Nakal dan pintar. Itu pemikiran saya saat membaca cerpen ini sambil tersenyum sendiri. Kamu harus terus menulis dengan gaya ini. Saya suka sekali.

Dan satu lagi, menurut saya, dua kalimat di akhir cerpen itu seperti sebuah konklusi. Akan lebih menarik jika dua kalimat tersebut tidak ada.

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Di Batas (7 years 33 weeks ago)
70

permasalahannya belum terpecahkan ya. ngambang gitu.
sempet rada bingung sama oper2an dialognya. siapa yang ngomong apa. semisal di dialog awal. ..."Kenapa?" tanyaku,... itu kan jelas aku yang bertanya, namun di paragraf kedua .."Capek, mau tidur," aku mengeluh dalam hati... si "aku" seolah nanya sendiri jawab sendiri, apalagi karena tanda baca di akhir kalimat langsung tsb berupa koma, disambung narasi berawalan huruf kecil sehingga kesannya masih satu kalimat/kesatuan. lalu ada dialog soal manja secara harafiah, penulisannya pun demikian di dialog sebelumnya, "dia" mengatakan "dimanja" menurut pengertiannya, ada keterangan ...Dia mulai belajar bicara panjang... sehingga pembaca menangkap "dia" yang bicara, lalu dialog berikutnya berupa sanggahan atas pengertian tsb yakni manja secara harafiah, namun disambung dg tanda koma dan ...Dia menghembuskan nafas... (o ya coba cek lagi penulisan kata "hembus" dan "nafas" di kbbi), sehingga kesannya "dia" ini seperti bermonolog. bicara pengertian manja, eh selanjutnya dia sendiri yang nyanggah. dan seterusnya.
coba cek lagi juga penulisan "ke lima" dan "ke enam" apa memang dipisah atau disambung.
pembicaraan antar punggung itu tampaknya pernah ditulis oleh penulis wanita juga, tapi saya ga inget siapa, udah lama.

Writer Riaekasari
Riaekasari at Di Batas (7 years 33 weeks ago)
80

aku suka ceritanya :)

Writer Godeliva Silvia
Godeliva Silvia at Di Batas (7 years 33 weeks ago)

thanks Rieka ^^