Mamak ( Wanita yang Meraung tanpa Air Mata itu...! )

MAMAK

Wanita yang meraung tanpa airmata itu.

 

“Antarkan dulu kopi di dapur sama bapak kau itu, tet!”

“Udah pigi bapak ke lapo, mak!” suara gadis kecil terdengar dari balik kamar

“Pagi-pagi pun udah ke lapo, entah macam mananya bapak kau itu, tet!”wanita separuh baya terdengar menggerutu dari sudut dapur

          Seorang gadis terlihat tengah termenung menerbangkan pikiranya yang sungguh tak berujung.

          Bisa saja ia tengah membayangkan kamar ukuran 2x3 dengan tumpukan kain disana-sini itu berubah menjadi kamar besar dengan wallpaper gadis cantik setengah ikan tengah duduk diatas karang. Iya, itu Ariel Bernadette satu dari beberapa putri-putri cantik di dongeng disney yang jadi kesukaannya.

“Mak, betulnya ada putri didalam laut?”teriaknya tiba-tiba.

“Semalam waktu pigi aku ke rumah bou diajak kak dame aku nonton kaset putri yang tinggal dilaut mak, ada kerajaan dilaut itu mak,hebat kali orang itu bisa bernapas diair!”lanjut gadis kecil itu dengan semangat.

“Banyak kali pun cakap mu, kau panggil dulu bapak kau itu dari lapo!” teriakan kasar dari balik dapur kembali terdengar.

“Takut lah aku mak, di tunjangnya pula nanti aku macam semalam itu!”

          Selang beberapa saat tanpa percakapan, suara tangis tertahan terdengar dari arah luar rumah, gadis kecil yang merasa mengenali suara tersebut bergegas keluar.

          Benar saja, monang adik laki-lakinya tengah menahan tangis sambil menyembunyikan muka dibalik kedua tangannya.

          “Kenapa kau nangis, dek?”tanya butet sambil memeluk erat adik kecilnya.

          “Ditunjang bapak aku kak karna kuminta bonbon yang kaye dimakan si bernad waktu kutengok bapak lagi dilapo!”terang monang sambil terisak.

          “Jangan nangis kau dek, nanti di dengar mamak, ke ladang lah kita main-main biar kita cari bon-bon ya!”

          Sambil merunduk menghindari si wanita dibalik dapur dua kakak beradik itu berjalan menuju belakang rumah, lalu berlari beriringan.

          Sang kakak terlihat menggenggam erat tangan adiknya serasa tak akan terlepas, sambil tangan kiri menghapus tetesan bening yang mengalir dari kedua sudut matanya tanpa bisa ia hentikan.

          Setelah berlari beberapa menit mereka berhenti dan duduk di bawah pohon jambu setinggi satu setengah meter. Tak ada buah yang cukup pantas untuk dipetik, hanya beberapa buah yang ukuranya masih sebesar biji kelereng terlihat menggantung.

          Gadis kecil itu terlihat mengambil empat buah jambu biji sebesar kelereng lalu mengusapkanya dibajunya.

“Monang, kau tengok lah jambu ini, kau bayangkan lah jambu ini macam bon-bon yang dimakan si bernad itu, ini warna merah, ini kuning, ini biru, ini merah jambu, sama mu lah tiga, sama ku satu ya dek yang merah jambu ini!”

“Tetapnya pait rasanya itu kak, bon-bon kan manis!”si adik terlihat keberatan

“Tak percaya kau dek, cobalah lah!”

          Si adik terlihat memasukan buah jambu yang katanya berwarna merah kedalam mulutnya dengan sedikit terpaksa. 

“Wuih, enak kali bah rasa stroberi!”sang kakak terlihat asyik mengunyah habis jambu pahit ditanganya tadi.

“Betulnya kau kak?”Tanya si adik tak percaya.

“Cepatlah makan, nanti berubah lagi dia jadi jambu, cepat!”

Si adik mulai mengunyah jambu berwarna merah, lalu memasukan jambu kuning, hingga jambu biru dilahapnya habis seperti takut pada apa yang di ucapkan kakaknya baru saja.

“Dek, warna biru lidahmu!”

“Betulnya kak, biar kutunjukan sama si bernad aku abis makan bon-bon biru!” sontak si adik bertanya.

“Janganlah dek, nanti dihabisi si bernad itu pohon bon-bon kita ini!”

“Iya ya kak, si bernad kan rakus kali!”

“Makanya kalau mau makan bon-bon kau dek, tak usah minta sama bapak lagi datang aja kau kesini, biar jangan di tunjang lagi kau!”

“Iya kak, sakit kali pula tunjangan bapak itu kak!”ujar sang adik sambil memegang pangkal paha kananya bermaksud menunjukan pada kakaknya.

Sang kakak reflek memeriksa bagian yang ditunjukan adiknya sambil mengusap-usap pelan bebarengan dengan sakit yang entah seperti apa awalnya namun seketika menjalar-jalar ditubuhnya, seperti arteri disumbat tiba-tiba melihat bekas biru dipangkal paha yang hampir seukuran dengan betis saking kurusnya.

          Terlihat raut muka bahagia sang kakak saat si adik membaringkan kepalanya di bahunya. Angin menari-nari disertai nyanyian burung yang sungguh menentramkan hati gadis kecil yang tadinya dihancurkan tangisan tertahan adik kecilnya.

Dari balik pepohonan, sepasang mata tengah memperhatikan mereka. Itu wanita yang sedari pagi terus berteriak dari balik dapur, wanita yang mereka sebut-sebut mamak.

Ia terlihat sangat terluka, jauh lebih terluka dari si gadis kecil itu. Ia terisak menutup mulutnya kuat-kuat, ia menarik narik rambutnya hingga beberapa putus, sungguh ia seorang ibu yang mengutuki dirinya saat tak berdaya ditimpa segala beban hidup yang dibatasi materi itu.

Ia bermimpi juga tentang kamar dengan wallpaper yang paling diimpikan putri satu-satunya, meski tak pernah ia dengar anak gadisnya merengek sambil meraung seperti kebiasaan gadis sebayanya, atau sekedar membelikan beberapa buah permen yang diceritakan anak bungsunya itu. Ia pun memimpikan banyak hal tentang buah hatinya, hanya saja takdir belum lagi bergerak lebih baik untuk nya.

Entah sampai kapan ia hanya bisa mematung menyaksikan kedua anaknya yang terus asyik memimpikan banyak hal tanpa sanggup ia wujudkan barang satu hal pun. Ia menangis, meraung-raung, ia terus menangis dibalik kata-kata kasarnya, benar saja ia terus berteriak hingga tak ada satu pun yang mampu melihat sesosok wanita rapuh itu. Wanita yang terus saja meraung, ia meraung meski tanpa airmata.

 

 

======================================

 

                                                                                                                                    

Medan, 11 October 2010

 

 

 

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

belum dibaca semua,komen saja dulu baca kemudian..
ini sepertinya bagus.. cerita tentang apa ya?
baiklah saya baca sekarang..
hehehe

80

Ceritanya bagus. Bisa dipoles lagi dan lagi biar lebih mantap, tapi emosinya sudah kena.

80

tersentuh di bagian kakak menghibur adik dengan jambu pura-pura itu. dan seorang ibu yang hanya bisa menangis tanpa air mata. sebetulnya saya pingin situasi ini bisa digali lebih luas dan mendalam sih, tapi bisa2 jadinya novel haha... (jangan2 ada pikiran ke sana?)
penulisan kata depan/imbuhan "di" coba diperhatikan lagi.

blm ada kepikiran buat dibikinin ke novel sama sekali sih kakk,,,! krn cerita yg ini bener2 cerita iseng yg aku buat beberapa jam sebelum brngkt kerja beberapa minggu lalu,,! aku sampe ngebaca ulang cerita nya wkt liat comment2 nya,, Justru cerita yg menurut aku sndr agak lebih menarik mlh dikesan biasa2 aja sm yg baca,, hahahahaha. Aku coba gali lagi buat novel aja kali ya kak,,! mudah2an,,! :) maksih saranya lohh kakk,,,,!

nice story

Thanks a lot kk,,!

100

jago nai ho poang mambaen cerita gabe lungun roha. hahaha

Poin yg paling aku sukai dari cerita ini adalah idenya, kau bisa sesensitive itu bercerita hingga kita bisa sdikit lebih mudah membayangkanya.

aku benar2 suka cerita ini.

hei mungkin akan lbh muda membayangkan situasi ceritanya jika kau sebut gadis itu usianya brapa? waktu itu mereka pakai baju bagaimana, rambutnya bagaimana? bapaknya itu tampangnya bagaimana? hemmm jgn tanya aku juga paling sering melupakan hal itu, kadang2 karena image/karakter si tokoh sudah ada dlm bayangan kita, kita jd lupa menuliskanya.
salam kenall

Hahahaha,, MAULIATE BAH...! Masih byk kebiasaan2 di kbnykan org batak entah itu yg kurang baik bahkan yg bagus yg pengen aku kenalin sama org2 lewat tulisan loh kak,,! :) makasih saranya,, kdng saking asyik nya cerita kita lupa kalo cerita itu bukan dibaca sama kita yg udah tau seluk beluk ceritanya, tapi sama pembaca yg bener2 ga tau apa2,, hahahahh alhasil deskribsinya ga mendetail,, mudah2 an bisa aku aplikasiin ke cerita2 berikutnya ya kak,,! salam kenal juga,, Horas...! hihihihi

100

Cerpen ini bagus. Sedikit polesan pada alur cerita, akan menjadi karya yang luar biasa.

Thanks saranya,, maksih udah mau mampir,,! :)