Biar Bangku yang Bicara (1)

Pukul setengah delapan pagi, seperti pagi-pagi yang lainnya, harinya selalu diawali dengan membawa serenceng kunci yang dipaket di dalam tas hitam, yang di dalamnya lengkap dengan remote AC, remote proyektor, dan pointer. Fara mengeluh. Sudah berkali-kali dia mengusulkan -yang terakhir malah sudah dengan mengamuk dan mengancam- bahwa ini bukan tugas dosen, tapi tugas pegawai akademik. Sampai dia bicara keras dengan Mas Gigih yang dengan gigih pula mengelak bahwa tugasnya adalah menyiapkan daftar presensi saja. Fara menghembuskan nafas sebal. Kalau saja Mas Gigih itu bukan keponakan dari 'seorang-yang-penting-di-kampus-ini', dia akan lebih frontal lagi memaksanya melakukan kerjanya. Apa daya, dia hanya dosen muda yang baru dua tahun ini mengakrabi kelas dan perkuliahan.

Kelas sudah dibukanya. Mahasiswa yang sudah berkerumun di depan kelas langsung menyusulnya masuk.

"Tolong nyalakan AC dan proyektor," pinta Fara sambil bersiap-siap dengan materi kuliahnya. Tony yang terkenal dengan sebutan 'asrot' alias Asisten Operator -karena dia memang paham cara menghidupkan, mematikan, memperbaiki, maupun merusakkan benda-benda IT dan elektronik- membantunya mempersiapkan keperluannya dengan cepat. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, Fara sudah mengawali kuliah paginya.

"Aduh, tolong ya.. kenapa sih jadwal kuliahku pagi semua?" keluh Fara selalu, setiap menerima jadwal dari bidang akademik. Mbak Rista yang menyusun jadwal hanya mengedipkan sebelah matanya.

"Jelas kan bu, karena bu Fara paling rajin," candanya.

"Kuanggap itu sebagai pujian," gerutu Fara. Sebenarnya dia tahu. Dia selalu dapat kelas pagi karena dia satu-satunya yang masih single dan belum berkeluarga di antara teman-teman dosen lainnya. Yang dianggap teman-temannya: bangun tidur, langsung mandi, makan, dan berangkat. Tidak seperti bu Irma yang harus memandikan anaknya, atau bu Resti yang masak untuk suami, atau pak Fajar yang mengantarkan anak ke sekolah. Baiklah, itu bisa dimaklumi. Walaupun sangkaan mereka tidak sepenuhnya benar. Pagi harinya bukan tanpa kesibukan. Tapi dia menelan semuanya dengan penerimaan-seorang-staf-baru. Temannya yang lain memang sudah bermasa kerja lebih dari 5 tahun. Kalah sudah dia untuk masalah tawar-menawar.

"...untuk sistem imun tubuh kita, bisa juga terdapat abnormalitas, misalnya pada kejadian alergi..," kuliah sudah berlangsung dua puluh menit, ketika seberkas sinar terang menganggu pandangannya. Ada mahasiswa terlambat yang nekat membuka pintu kelas. Padahal, sudah jadi aturan tidak tertulis yang diketahui mahasiswanya bahwa di kuliahnya, barangsiapa datang terlambat, jangan berani-berani masuk kelas atau..

"...maju kamu," tegur Fara dingin. Bocah nekat yang baru saja mengambil posisi paling ujung belakang urung menempelkan bokongnya di kursi. Perlahan dia maju ke depan kelas memenuhi panggilan bu dosennya. Ah sial, bahasa tubuhnya pun tidak menunjukkan rasa bersalah karena terlambat, batin Fara geram.

"Nama kamu siapa?" tanyanya dengan nada kamu-harus-tahu-saya-menahan-marah. Bocah yang ternyata tingginya jauh di atas Fara itu menegakkan bahunya sambil menjawab dengan khidmad. Fara masih belum hafal nama anak-anak semester awal.

"Faro," jawabnya. Fara mengerutkan keningnya. Seisi kelas mulai berbisik-bisik dengan geli. Fara dan Faro.

"Nama lengkap?" Fara mencoba tidak terpancing. Dia menyambar daftar presensi.

"Alfaro Nugraha, NIM 9155" jawabnya lengkap. Fara mengecek, dan benar. Itu namanya, dan NIMnya.

"Alasan terlambat?" kejarnya, masih dengan nada yang sama. Faro terdiam sejenak.

"..saya terlambat, maafkan saya," jawabnya tenang. Kerutan alis Fara semakin dalam.

"Iya, saya tanya, alasanmu terlambat apa?" taringnya sudah mulai keluar. Sebentar lagi giliran cakarnya, jika si bocah Faro ini masih saja bersikap saya-punya-ijin-datang-terlambat. Faro terdiam lagi. Ketika Fara hampir kehilangan kesabaran, dia buka mulut.

"Bu Fara, jika saya mengatakan alasan saya terlambat, apakah mengubah kenyataan bahwa saya terlambat?" keheningan menggantung di ruangan yang berisi 100 mahasiswa itu. Fara pun terkesima, sampai rahang bawahnya turun, di luar kesadarannya. Apa maksud bocah ini?

"Maksud saya.. maafkan saya terlambat bu. Jika tidak boleh tanda tangan presensi saya tidak masalah. Saya hanya ingin mengikuti kuliah ibu, karena saya sangat terbantu untuk memahami topik berat Imunologi," terangnya perlahan, dengan suara tenang. Fara dikuasai kemarahan. Dadanya membuncah karena kesal pada bocah yang menentukan apa yang boleh apa yang tidak boleh di kelasnya. Sesaat seisi ruangan mengira dia akan membanting sesuatu. Tapi setelah menghitung sampai sepuluh dan menenangkan diri, dia berkata dengan nada sedingin es.

"Keluar kamu. Aturan saya, mahasiswa terlambat tidak boleh masuk kelas. Saya tidak akan meneruskan kuliah kalau kamu masih ada di dalam ruangan," Fara menunggu. Menantang. Faro mengangkat wajahnya dan mata mereka bertatapan. Tatapan hangat tanpa rasa takut bertemu dengan tatapan dingin penuh kemarahan yang ditahan. Tanpa konfrontasi, Faro mengangguk.

"Baik bu. Namanya juga usaha," ujarnya kemudian membalikkan badan, menuju pintu. Seisi kelas yang bersiap-siap hendak ribut menyoraki langsung surut demi melihat tatapan dingin bu Fara.

Setelah 'klik' pintu ditutup dari luar terdengar, Fara kembali meneruskan kuliah seakan tidak ada insiden itu. Mahasiswa yang lain juga berusaha kembali fokus dan menahan bibir mereka untuk menggunjingkan keberanian Faro Sang Pejuang. Mereka tahu, walau baru dua tahun, ketegasan bu Fara tidak bisa ditawar, apalagi diacuhkan.

 

Fara menjatuhkan badan di kursi kerjanya dengan kelelahan maksimal. Hari ini dia memegang tiga kelas. Enam jam non stop membicarakan topik berat. Dia melorot di kursi seperti kain pel basah. Hari ini, kelelahan bukan hanya fisik tapi mental juga. Konfrontasi dengan Faro tadi masih menyisakan perasaan dongkol yang membuatnya semakin tajam di kelas-kelas setelahnya. Canda-canda yang mewarnai kuliahnya, menguap tanpa jejak pada sesi kuliah setelahnya. Hal yang kemudian langsung dimaklumi para mahasiswa. Gossip cepat sekali beredar.

Ketika sedang memijat keningnya yang terasa berat, Pak Dion, tetangga kubikelnya mengetuk celah kubikelnya.

"Fara, pinjam kamus kedokterannya," ujarnya yang kemudian langsung ditimpalinya sendiri.

"Lemes amat, nggak biasanya. Had met someone special, eh?" godanya. Kode sesama dosen untuk mengatakan mahasiswa yang menyebalkan. Fara menghembuskan nafas berat, mengulurkan kamus kedokteran saku ke arah koleganya.

"Yes, one," Pak Dion terkekeh.

"Lucky you, then. Just one,"

"Satu sih, tapi gede," keluhnya lagi. Pak Dion kembali terkekeh dan nampak tertarik.

"Siapa, neng?"

"Alfaro, angkatan 2012," Pak Dion berpikir sebentar.

"Tinggi, gagah, ganteng, berkacamata?" Fara memutar bola matanya. Begitukah deskripsi Faro? Tidak salah, mungkin. Tapi berbeda dengan deskripsinya sendiri tentang Faro: besar, arogan, dan menyebalkan.

"Dia atlet basket Jogja, Far. Kemarin masuk FK dengan rangking 5 besar. Pintar anaknya," Fara semakin sebal. Tapi keterangan Pak Dion memberinya penjelasan mengapa Faro mempunyai kepercayaan diri sebesar itu.

"Mau atlet, pintar, apapun, kalau tidak disiplin, hancur sudah. Dia terlambat masuk kuliah saya 20 menit," Pak Dion merespon dengan 'o' lalu memutuskan untuk tidak menumpuk bara di kepala Fara lagi dengan undur diri. Keputusan tepat. Karena Fara ingin segera pulang lalu menceburkan diri -secara harafiah. Dia selalu melampiaskan emosinya dengan melakukan hobinya, berenang.

 

(bersambung)

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Biar Bangku yang Bicara (1) (7 years 30 weeks ago)
80

bagian pertama ini cukup memancing rasa penasaran akan bgm interaksi antara bu dosen dg mahasiswanya, tapi jadi inget nih sama Cintaku di Kampus Biru hihihi. maksudnya kalo arahnya ke cecintaan, agaknya udah ga baru lagi antara dosen-mahasiswa atau guru-murid (sekarang jadi inget dorama yang ada Hideaki Takizawa), tapi siapa tahu juga arahnya ternyata bukan ke situ.
ijin atau izin? coba cek lagi pengertian kata "diacuhkan". penulisan "bu" (dari ibu) sebagai kata sapaan di akhir kalimat langsung bukankah mestinya diawali dg huruf kapital?

Writer Godeliva Silvia
Godeliva Silvia at Biar Bangku yang Bicara (1) (7 years 30 weeks ago)
70

^^