The Golden Apple VII: Invidia

“Jadi apa yang membawamu ke sini malam ini? Setahuku kau benci acara semacam ini,” William Russell—Odin—memecah keheningan di antara mereka.

“Aku bosan,” Tyrell menjawab asal-asalan. Apapun yang ia katakan, Russell tidak akan percaya. Ia juga tidak mungkin terang-terangan mengatakan bahwa ia di situ untuk memastikan dia tidak mengusik Anastasia Appelbaum dan biji emasnya.

Tyrell melirik ke arah pintu balkon. Orang-orang mulai memerhatikan mereka. Lebih tepatnya mata orang-orang it sibuk membuntutinya sejak ia tiba di pintu masuk, tidak percaya bahwa setelah setahun tidak pernah menampakkan diri di acara social di London, ia memutuskan untuk hadir di pesta Baron Hastings. Tyrell benci perhatian semacam itu. Di rumah, tidak ada yang benar-benar memperhatikannya karena ia hanya putra kedua. Sebaliknya di London, setiap orang selalu begitu peduli dengan hal paling remeh yang dilakukan orang lain, dari dengan siapa seseorang bergaul sampai di tangan mana seseorang memegang garpu. Itu benar-benar membuat Tyrell risih. Ia pun memutuskan untuk mundur dan menghindar.

Ternyata begitu ia muncul lagi hari ini, reaksi orang-orang makin heboh. Biasanya mereka hanya memperhatikan gerak-geriknya dari jarak tertentu, sekarang mereka mengerumuninya, memberondongnya dengan pertanyaan dan basa-basi yang memuakkan. Tyrell jadi mempertimbangkan untuk muncul sesekali secara rutin untuk memastikan yang seperti tadi tidak terjadi lagi… Atau tidak pernah datang ke acara sosial di London lagi, kali ini untuk selamanya.

“Kurasa kita harus kembali ke dalam,” orang-orang akan bergunjing, “Tampaknya Miss Appelbaum agak kedinginan.”

“Sungguh? Maafkan aku, Anastasia! Aku pasti membuatmu sangat tidak nyaman. Ayo kita kembali ke ruangan.”

Tyrell masih takjub dengan kemampuan Russell mengubah ekspresinya setiap kali situasi berubah. Pemuda itu bisa dengan cepat tahu seperti gelagat seperti apa yang ingin dilihat orang-orang di setiap saat. Sekilas saja Tyrell langsung tahu pemuda itu adalah penipu dan perayu ulung. Tapi satu hal yang ia yakini, William Russell bukan penipu yang bijak.

Tyrell tahu, apapun rencana Russell untuk mendapat biji emas itu, ia pasti akan mencoba merayu gadis inkarnasi Idun itu untuk memberikan biji itu padanya. Tyrell tidak bisa tinggal diam.

Setelah Tyrell meninggalkan rumahnya tadi pagi, pria itu berkali-kali mencoba mengingatkan dirinya sendiri bahwa ini bukan urusannya. Ia tidak tertarik dengan biji emas itu. Kemarin ia menghentikan Freyr hanya karena yang dilakukannya jelas-jelas tindakan kriminal, tapi ia tidak perlu ikut campur dengan apa yang dilakukan yang lain. Odin dan titisan dewa yang lain rata-rata memiliki pekerjaan dan status yang harus dipertahankan. Apapun yang mereka lakukan, tidak akan sampai membuat kekacauan yang signifikan. Dan kalaupun mereka mendapatkan biji itu, mereka juga tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan benda itu, kemungkinan besar mereka tidak akan mendapatkan apapun. Soal kekuatannya yang tiba-tiba makin besar, ia juga memutuskan untuk menganggap itu hanya kebetulan, atau Locke sedang mengerjainya.

Otaknya terus-terusan mengingatkannya akan hal-hal itu, tapi perasaannya tetap saja tidak tenang. Demi Tuhan, gadis itu baru sehari tiba di London, tapi begitu banyak orang yang mengincarnya.  Dan jika Tyrell tidak salah membaca reaksinya, jangan-jangan sesuatu yang buruk akan terjadi pada gadis itu jika biji itu diambil darinya.

Ia harus melakukan sesuatu. Thor dalam dirinya juga terus berbisik seperti itu.

Ia hanya perlu memberitahu gadis itu tentang semuanya sebelum terlambat—ia tidak bisa menunggu Lord Igdrasil, kalau pria itu memang berniat memberitahu gadis itu, dia pasti sudah melakukannya dari dulu—dan setelahnya, biar gadis itu mengurus urusannya sendiri. Semudah itu.

Tyrell hanya perlu menemukan kesempatan untuk bicara berdua dengan gadis itu. Ia pikir ia bisa melakukannya di sini, tapi ternyata ia tidak bisa lolos dari tatapan hadirin yang lain.

Apa yang harus ia lakukan?

“Aku permisi dulu, ada beberapa orang yang harus kusapa,” kata Russell begitu mereka kembali ke dalam ruangan. Kemudian ia berbisik pada Miss Appelbaum sebelum meninggalkan mereka.

Mereka berdua terdiam setelah Russell pergi.

Tyrell memperhatikan gadis itu tanpa bersuara. Dari sudut manapun, Anastasia Appelbaum tampak seperti gadis biasa. Kepalanya tertunduk, seolah berpikir apa yang harus dikatakan, tapi matanya mengintip ke sana-sini, seolah berharap bisa menjadi bagian dari lingkaran-lingkaran riuh yang ada di sekililing mereka.

“Tentang undanganmu… Aku akan datang.”

Anastasia Appelbaum langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arahnya dengan sepasang mata yang bulat dan berbinar-binar.

“Sungguh?”

Tyrell tidak yakin ia akan punya kesempatan untuk memberitahu gadis itu tentang keadaannya sekarang dengan keberadaan Lord Igdrasil, tapi ia harus mencoba. Siapa tahu ia beruntung. Toh itu lebih baik dibanding harus mencari gadis itu di pesta lain lagi.

“Ya, kebetulan aku sudah lama tidak mengunjungi Lord Igdrasil.”

Gadis itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Formalitas, tapi entah mengapa gadis itu tidak terlalu terlihat berpura-pura.

“Aduh!”

Seseorang tidak sengaja menabrak Miss Appelbaum hingga tas tangannya terjatuh. Dengan sigap Tyrell membungkuk untuk memungutnya. Gadis itu juga melakukan hal yang sama dan tangan mereka bersentuhan sesaat.

Tiba-tiba gadis itu tercekat dan cepat-cepat menarik tangannya.

“Kau tidak apa-apa?”

Gadis itu mengelus jarinya yang tadi menyentuh tangan Tyrell.

“Tidak, tidak apa-apa… Terima kasih.”

Aneh.

Tak lama kemudian Locke datang bersama adik Lord Igdrasil. Mereka berdua memang dekat, cukup untuk mengganggu sang count dan lebih dekat dari apa yang dianggap pantas. Orang-orang membicarakan mereka, tapi belum pernah ada yang berani bertanya langsung atau melakukan sesuatu pada mereka. Keduanya juga tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan orang di belakang mereka.

Setelah bertukar sapa, Verdandi Norn membawa si gadis Idun pergi untuk bergabung dengan tamu-tamu lain.

“Jadi apa pendapatmu?” tanya Locke.

“Apa?”

“Pendapatmu tentang gadis itu.”

“Dia… normal. Benar-benar gadis biasa.”

“Kalian semua juga orang biasa, Tyrell.”

Tyrell seringkali merasa kesal setiap kali Locke mengatakan hal itu. Ia memang lahir sebagai manusia dan akan mati sebagai manusia, bukan seorang dewa yang sudah kehilangan takhta dan tujuan namun tetap hidup selamanya seperti Locke. Tapi ia tidak bisa menjalani kehidupan biasa. Pernah ada masa di mana ia tidak berani keluar kamar, takut petir tiba-tiba menyambar atau ia tak kuasa melawan keinginan entah dari mana untuk menghajar seseorang. Ketakutan itu masih membekas sampai sekarang.

Lalu Tyrell melihat gadis itu. Orang-orang mulai menghampirinya satu per satu. Keberadannya di antara mereka terlihat begitu alami, seolah ia memang terlahir untuk berada di sana. Tyrell berani bertaruh, dewi dalam dirinya tidak pernah mengusik hidupnya sedikit pun. Ia tidak pernah harus mengurung diri seperti Tyrell, tidak perlu mati-matian lari dan bersembunyi dari penguntit seperti Freyja, tidak tumbuh dewasa dengan dipuji di mulut namun terus-menerus dipandangi dengan tatapan aneh dan takut akan kemampuannya seperti Odin.

Jika Tyrell dan titisan dewa yang lain membiarkan gadis itu, jika dia tidak pernah tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, mungkin gadis itu akan selamanya menjadi gadis biasa dalam artian sesungguhnya.

“Kurasa aku agak iri padanya,” kata Tyrell, lebih ditujukan pada dirinya sendiri.

Locke berdecak dan menggeleng sebelum kembali bertanya, “Jadi apa yang akan kau lakukan? Lihat, Smith juga mulai mendekatinya.”

Smith juga adalah anggota Golden Apple, titisan Heimdall sang penjaga jembatan pelangi.

“…Kita lihat saja nanti.”

Read previous post:  
15
points
(2700 words) posted by Riesling 7 years 47 weeks ago
50
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | historical romance | mitologi nordik
Read next post:  
Writer S.Rizki
S.Rizki at The Golden Apple VII: Invidia (7 years 46 weeks ago)
80

duh saya semakin penasaran sama kelanjutannya... :)
keep writing ya...

Writer Riesling
Riesling at The Golden Apple VII: Invidia (7 years 45 weeks ago)

makasih udah mampir :D