Waktu Hanyalah Seliku Perjalanan Pulang

1-
di jendela kaca kereta sore pukul limaan
mata-mata saling bersilang tak sanggup mendulang kenang
lelah pada ribuan detak yang berputar di pergelangan tangan
dan detik selalu mampu membingkai bayang penantian: pulang

2-
pada koridor-koridor tak bertuan
langkah-langkah searah tanpa sapa, nafas kota yang tergesa
mengadu cepat dengan kantuk mentari di ketiak bukit
sulur lidahnya tak lagi garang, hanya bayang panjang
pelan merayap lalu pudar warna
dalam gelap, semua pulang

3-
kitalah anak jaman yang dikuasai waktu
lumpuh menunggu kereta kembali meraung
menggulir wajah murung penumpang
yang tabah menukar hembus
dengan harap yang sama
:pulang

 
~hers,bandung,6september2013

Read previous post:  
93
points
(127 words) posted by hers 9 years 2 weeks ago
77.5
Tags: Puisi | kehidupan | hers | september
Read next post:  
Be the first person to continue this post
2550

bagus sekali karyanya.. terima kasih atas inspirasi pilihan2 kata yang indah..

70

hidup seperti orang yang hanya numpang untuk minum..

80

Kita semua akan pulang

sedap Om, ini selera saya

90

Kita akan kembali.

90

Bagus...dik Hers :)

Writer reen
reen at Waktu Hanyalah Seliku Perjalanan Pulang (8 years 29 weeks ago)

bait 1,2, dan 3, kata pulang di akhir baitnya itulah menurutku yang membuat kesan telling...

(atau ini hanya masalah selera barangkali)

saya banget nih, pulang kerja, naik commuter, di sinari hangat matahari sore, beradu pandang degan orang lain, lelah, dan keretapun melaju...lihat keluar jendela, mind blowing... ^_^

Aku sih sependapat, barangkali hanya masalah selera.

iya, bisa juga seperti itu... ekeke, perihal kata pulang sendiri, selain penegasan berupa 'tell' bagi saya sendiri, ada makna lain yang lebih luas dari sekadar menuju rumah atau kembali ke rumah.

Nah, kalau begini jadinya bukan sekadar telling dong. hehe

40

membaca tulisan ini saya merasa isinya terlalu telling, sehingga saya lebih suka membacanya sebagai cerita yang diceritakan dengan lembut, dibandingkan dengan sebagai puisi. tapi semisal dikatakan sebagai prosa liris, bentuknya juga ga seperti prosa. #nahloh #mulaibingung =))
yah, intinya mah terlalu telling aja menurut saya. #bingungjelasinnya

wahaha, silehken mau dibaca sebagai apa,,, ekeke :P
eh tapi, lirisme sendiri kan tidak selalu berbentuk prosa, puisi liris sebagai bagian dari aliran romantisme,, eaa kalo ga salah, justru hadir sebelum berkembangnya prosa liris seperti yang juga prosa yang sering dilihat di sini. beberapa cirinya, ya lebih pada penggunaan metafora halus, kata2 indah, menyentuh, ekotisme, kemurungan, sentimentil dsb. tentang show atau tell sendiri, dalam romantisme dan lirisme bagi saya emang cenderung ke arah tell, di samping selera nulis tentunya. intinya sih, karena puisi adalah bentuk ekspresi seperti inilah ekspresi dan selera saya,, perihal mau dilihat seperti apa, tentu saja pembaca lebih berhak... ekeke :)

hmmm... yah, kalo udah masuknya ke selera sih mau dikata apa. hehehe... susah itu. kalo saya pribadi sih merasa bosan dengan metafora yang halus2.
saat pertama kali saya baca tulisan ini saja, pada bagian "kereta meraung" saya malah ingin membacanya sebagai "kereta mengentut". hahaha... terinspirasi dari lagu anak2 "naik kereta api, tut... tut... tut..." tuh kan mengentut. :P

Kalau kembali ke masalah selera jadinya agak susah ketika tak sejalur. #asalnimbrung *biar rame aja sih* :))

#lemparkertaskereborn
mampir tempatmu aah...

Siapsiap kecewa aja. :))

yey,,angger si eta :P
justru karena perbedaan selera ada keragaman n perbedaan pendapat. kalo sama, apalagi yg mau diomongin, hayyohh :P
perihal bosan juga kan hanya masalah selera, termasuk juga kentut, tapi berhubung saya pemalu, ya tak elok lah,, akakaka =))
aya aya wae :P

hwahahaa... kalo mengentut emang jadinya jomplang, soalnya yg lain udah lembut2. wakakakaa... cuma jujur aja, emang jadi kepengen gitu bikin yg ada kereta2an terus keretanya ngentut, tapi otakku tidak seencer dahulu. #dikemplang =))

nah, itu dia masalahna, jomplang kan,, :P
kalo masalah nulis sih sama, jangankan buat nulis yg padat2, satir atau sarkasme, buat bikin liris yang biasa aja susah bgt, termasuk juga baca n komeng... haddeuhh serasa njelimet,, akaka...

100

kk, ga bs bilang apa2, cuma nikmatin puisinya yg bagus bgt. hehe

makasih dah bisa nikmatin plenilunio :)

90

Puisi mas Her, seperti biasa bahasanya 'tinggi'
Kagum :)

hadduhh,, biasa aja yang

80

deskripsinya bagus jd terasa sedang lelah menuju pulang :)

makasih sekar :)

100

Kang, lapaknya udah berdebu, sesekali emang harus pulang buat bersihin. Haha

ahahaha,, iya re..
susah ternyata kalo lama ga nulis

80

keren :D

hatur nuhun kang agus :)

100

seliku perjalanan pulang, seliku penanda ke ruang hijau :D

ahahaha,, sepertinya,
ga tau nih, kangen tapi ga tau mau nulis apaan... akakaka

100

Imaji kereta, koridor, sedikit bukit dan dipadu dengan waktu, kiasan yg dibangun dengan asik sihingga makna tersirat dengan indah. Keren.
Salam
Cahya

makasih cahaya,, salam :)