Sepatu Merah

Langit perlahan-lahan berubah warnanya. Temaram jingga merangkak menggantikan langit yang tak bercahaya. Bintang pagi tata surya telah bangkit, menggantikan malam yang akan kembali tidur, yang kemudian disusul dengan ayam-ayam yang terbangun dari tidurnya, bersaut-sautan mengawali kehidupan baru di desa yang berada di kaki bukit tempat berdirinya istana kerajaan yang megah ini.

 

Di pagi yang cerah dan hangat ini, pasar sudah memulai aktivitasnya. Para pedagang mulai membuka toko dan kiosnya. Hasil-hasil pertanian dan perkebunan mulai ditata rapi di atas meja kayu, pakaian-pakaian cantik yang tergantung dengan rapi di dalam toko, perhiasan-perhiasan sederhana yang tampak di antara kumpulan aksesori kecantikan lainnya, bahkan alat-alat masak dan perabotan rumah tangga pun ikut meramaikan pasar ini. Para pengunjung berdatangan untuk membeli apa yang mereka cari, atau bahkan hanya sekadar melihat-lihat.

 

Di tengah keriuhan pasar itu, terlihat seorang anak perempuan berlari-lari kecil sambil mengamati setiap toko yang dilewatinya. Di belakangnya, ibunya, mengamati tingkah laku anak perempuannya itu sambil menenteng sekeranjang penuh barang belanjaan.

 

“Aqila, hati-hati! Awas jatuh!”

 

Aqila terus berlari kegirangan. Jarang sekali ibunya mengajaknya berbelanja ke pasar. Biasanya setiap kali Aqila merengek untuk ikut ibunya berbelanja ke pasar, ibunya melarang karena nanti akan merepotkan bila membawa anak kecil ke tempat yang ramai seperti ini. Namun, hari ini ibunya merasa Aqila sudah cukup besar dan mengajak anak perempuannya itu pergi berbelanja ke pasar.

 

Aqila melihat-lihat barang-barang yang dijual di sekelilingnya. Banyak sekali barang yang menarik perhatiannya sejak tadi, terutama aksesori-aksesori yang akan membuat dirinya terlihat lebih cantik dalam bayangannya. Dari sekian banyak kios dan toko di pasar ini, perhatian Aqila terhenti di sebuah kios dengan sebuah bola berwarna ungu di atas sebuah meja kayu. Di kios kecil ini tak terlihat barang lainnya yang dijual kecuali bola berwarna ungu yang tengah diusap-usap dengan sehelai kain oleh seorang nenek tua.

 

“Nenek berjualan apa?” Tanya Aqila dengan sorot mata penasaran.

 

“Oh, nenek tidak berjualan apa-apa. Nenek hanya seorang peramal,” jawab sang nenek dengan senyuman lembut yang merekah di wajahnya.

 

“Peramal? Peramal itu apa, Nek?”

 

“Peramal itu adalah orang yang bisa melihat atau mengetahui masa depan orang lain.” Nenek itu menjelaskan pada Aqila, namun dari raut wajahnya, terlihat bahwa Aqila kebingungan.

 

“Memangnya bisa seperti itu, Nek?”

 

“Tentu saja,” jawab sang nenek. “Bagaimana, kamu mau nenek ramalkan masa depanmu? Khusus untukmu, kamu tidak perlu membayar apa-apa.”

 

“Aku mau!” Aqila melompat kegirangan. Untuk pertama kalinya ia akan mengetahui ramalan tentang dirinya, meski ia belum sepenuhnya mengerti tentang ramalan, apalagi harus memercayainya.

 

Sang nenek peramal mengambil napas panjang dan menutup kedua matanya. Dengan suara yang tak terdengar jelas, nenek itu merapalkan mantra dan seketika itu pula bola ungu di hadapannya bersinar tipis. Sinar itu berputar-putar di dalam bola seiring dengan pergerakan tangan nenek di atas bola. Hal ini tentu membuat Aqila terpesona dan bertanya-tanya. Tak lama, bola itu berhenti bersinar dan sang nenek membuka matanya.

 

“Namamu benar Aqila?” Tanya nenek itu.

 

Aqila mengangguk. “Iya, kok nenek bisa tahu?”

 

Nenek itu tertawa kecil. “Tentu saja. Nenek kan peramal. Menebak nama itu sangat mudah bagi nenek.”

 

“Wah, hebat!” Seru Aqila terheran-heran.

 

“Itu belum seberapa, Nak. Barusan nenek melihat di masa depan nanti sepasang sepatu merah akan mempertemukanmu dengan cinta sejatimu.”

 

Aqila memiringkan kepalanya, kebingungan. “Sepatu merah?”

 

“Ya, sepatu merah akan mempertemukanmu dengan pasangan hidupmu, seperti putri yang bertemu pangeran tampan di negeri dongeng.”

 

“Pangeran tampan? Wah, asyik!!” Aqila melompat gembira. Sudah sering ia mendengar dan membaca cerita dongeng tentang seorang perempuan yang bertemu dengan pangeran tampan. Mungkin saja kali ini ia adalah salah satunya, begitulah yang dipikirkan Aqila. Dengan cepat Aqila membalikkan badan sambil berseru, “Ibu... ibu... kata nenek peramal, aku akan menikah dengan seorang pangeran.” Sayangnya, begitu Aqila membalikkan badan, sosok ibu yang dicarinya tak terlihat di sejauh matanya memandang. Kini ia tersadar bahwa dirinya sudah berjalan terlalu jauh dari ibunya.

 

Aqila berlari tanpa arah sambil menyapu pandang ke sekeliling, mencari ibunya. Ia mulai menangis setelah beberapa menit mencari namun tak kunjung menemukan ibunya. Aqila panik, ia berlari semakin kencang, dan semakin keras pulalah tangisannya.

 

“Ibu!!”

 

Aqila terus berlari hingga tanpa sadar sandal jepitnya putus sebelah. Tak bisa menjaga keseimbangannya, akhirnya ia tersandung dan terjatuh ke tanah. Tangisnya pun semakin deras, merintihkan luka pada lututnya. Di saat ia terduduk di tanah, bayangan seseorang muncul dari depannya. Aqila menengadah dan ia mendapati seorang pria—yang memasuki usia dewasa akhir—datang menghampirinya.

 

“Kamu kenapa, Nak?” Tanya pria itu sambil berjongkok di depan Aqila.

 

“Aku ingin bertemu ibuku,” jawab Aqila di tengah isak tangisnya.

 

Pria itu melihat luka di kaki Aqila dan spontan saja ia memutar badannya, membelakangi anak malang yang ia temui itu.

 

“Ayo, naik ke punggung paman. Paman akan bantu kamu mencari ibumu.”

 

Aqila agak ragu. Ia teringat kala ibunya memperingatkan untuk menolak ajakan orang yang tak dikenal. Namun, untuk saat ini, ia tidak punya pilihan lain selain ikut dengan paman ini. Lagi pula, paman ini terlihat seperti orang yang baik, pikir Aqila.

 

Aqila melompat ke punggung pria asing itu. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu untuk berpegangan. Paman itu kemudian berdiri dan berkata, “Sebelum mencari ibumu, sebaiknya kita obati dulu luka di kakimu itu.”

 

Aqila mengangguk. Sejak tadi lututnya sudah terasa perih. Luka kecil seperti ini bisa terasa sangat sakit bagi seorang anak-anak seperti Aqila, karena itu ia berpegangan sangat erat di gendongan pria yang telah membawanya sampai di sebuah toko sepatu kecil yang masih berada di lingkungan pasar. Pria itu merogoh gelang kunci dari saku celana panjangnya dan kemudian membuka pintu.

 

Suara genta terdengar ketika pintu itu dibuka. Begitu masuk melewati pintu, Aqila langsung disuguhi dengan ruangan yang dipenuhi dengan kumpulan pasang sepatu yang tertumpuk di rak yang menempel di dinding. Tak hanya itu. Di tengah ruangan juga terdapat meja kayu yang di atasnya ada bermacam-macam sepatu. Meski jumlahnya tak begitu banyak, namun sepatu-sepatu—yang kebanyakan adalah sepatu hitam pria—itu terlihat mengilap dan sangat bagus di mata Aqila. Hanya saja tak tertata dengan rapi.

 

Aqila duduk di sebuah kursi kayu pendek selagi paman tadi pergi ke ruang belakang mengambil sesuatu untuk mengobati lukanya. Aqila memandangi seisi ruangan di sekelilingnya lebih detail. Toko sepatu ini tak begitu besar, bahkan terlihat tua. Sebuah genta terpasang di atas pintu masuk yang terbuat dari kayu itu. Di samping kirinya, terdapat jendela besar kusam dengan tulisan “Toko Sepatu RH” yang terpampang menghadap ke luar. Dari situlah orang-orang bisa tahu kalau ini adalah sebuah toko sepatu. Sementara itu, di samping kanan pintu terdapat meja dengan alat hitung di atasnya. Langit-langit toko tampak sedikit kusam, begitu pula dengan dinding toko yang catnya sudah pudar warnanya. Biarpun sepatu yang dijual di toko ini sangat bagus, tapi kalau kondisinya tokonya tak terawat seperti ini tentu orang-orang segan untuk masuk dan melihat-lihat sepatu yang ada. Bisa jadi mereka tak tahu kalau ini adalah toko sepatu.

 

Paman itu kembali. Di tangannya, digenggamnya sebotol obat antiseptik, kain, sebaskom air, serta kain perban. Ia duduk di depan Aqila, membasahi kain bersih dengan air yang sebelumnya sudah ia larutkan garam di dalamnya, kemudian kain itu ditempelkan ke sekitar luka di kaki Aqila. Aqila pun meringis.

 

“Aduh…, Paman, sakit.”

 

“Tahanlah sedikit. Kalau tidak diobati, nanti bisa infeksi.” Paman itu memberikan beberapa tetes obat antiseptik di atas luka Aqila dan ia pun menjerit kencang. Perih. Jeritannya itu pun mereda ketika kain perban dibalutkan di atas luka di kakinya. “Yak, sudah selesai. Ayo kita cari ibumu.”

 

Aqila melompat dari kursinya. Pelan. Dan saat itu paman itu baru menyadari bahwa Aqila hanya memakai satu sandal di kaki kirinya.

 

“Sandalmu yang sebelah kanan ke mana?”

 

“Sandalku putus, Paman,” jawab Aqila. “Mungkin tadi terjatuh sewaktu digendong.”

 

Melihat itu, paman itu bergegas ke ruangan yang seperti gudang dan mengambil beberapa kotak sepatu. “Paman tidak punya banyak sepatu anak-anak, tapi pilihlah, mungkin saja ada yang pas dengan kakimu.”

 

“Benarkah?” Tanya Aqila dan langsung dijawab paman itu dengan anggukan kepala. Ia lalu membuka semua kotak sepatu yang telah tersaji di depannya. Aqila memilih-milih, mencoba semua sepatu cantik itu, namun sayang tidak ada ukuran yang pas dengan kakinya. Ia pun bersedih.

 

“Oh, mungkin yang satu itu ukurannya cocok denganmu.” Paman itu berjalan lagi ke gudang sepatunya dan kembali dengan sebuah kotak sepatu yang sudah usang dan berdebu. Di dalamnya terdapat sepasang sepatu merah yang tak terlihat baru, namun warna dan pita yang terpasang di sepatu itu menarik perhatian Aqila. “Cobalah!”

 

Aqila memasukkan kakinya ke dalam sepatu merah itu. Pas! Meski sedikit kelonggaran, tapi sepatu itu muat dan terasa nyaman di kaki Aqila. Paman itu pun bernapas lega.

 

“Untunglah sepatu anakku cocok di kakimu.”

 

“Memangnya anak Paman ke mana?” Tanya Aqila, penasaran.

 

“Ia sekarang tinggal bersama ibunya di seberang laut sana.” Paman itu terdiam sebentar. “Ah, sudahlah. Ayo kita cari ibumu. Dia pasti sudah khawatir.”

 

~ *** ~

 

Aqila menolehkan kepalanya ke segala arah selagi berada di gendongan pria yang telah mengobati luka di kakinya itu—dan bahkan juga memberikannya sepatu cantik ini.

 

“Masih belum melihat ibumu?”

 

Aqila menggeleng. “Belum. Seingatku terakhir kali ibu berada di sekitar sini,” jawab Aqila sambil menunjuk ke arah toko di mana—seingatnya tadi—ada nenek peramal di sana, namun sekarang tempat itu hanya terlihat seperti kios tua yang kosong.

 

“Kalau begitu, ayo kita ke kantor petugas keamanan. Ibumu pasti ada di sana.” Langsung saja paman itu membawa Aqila ke sebuah pos—yang masih di dalam area pasar—yang tengah ramai karena seruan seorang wanita yang setengah menangis.

 

“Apa itu ibumu?” Tanya paman itu sambil menolehkan kepalanya ke Aqila.

 

“Iya, itu ibuku!” Seru Aqila keras sekali. Ia kemudian berguncang keras meminta turun dari gendongan. Paman itu menurunkan Aqila dari punggungnya dan Aqila pun berlari pelan—agak terpincang—ke arah ibunya.

 

Paman itu memerhatikan Aqila yang berpelukan dengan ibunya dari kejauhan. Tanpa sadar ia mengulas senyum di wajahnya. Sekilas di pikirannya terbayangkan wajah istri dan anak perempuannya yang kini sudah pindah ke negeri seberang semenjak mereka berpisah empat tahun yang lalu.

 

Ah, sudahlah, pikir paman itu. Ia pun segera membalikkan badan, ingin kembali ke toko sepatunya, namun langkahnya terhenti ketika ada suara memanggil.

 

“Tunggu!”

 

Pria berpakaian tunik putih sederhana itu pun berbalik. Di hadapannya, seorang wanita bergaun ungu cerah dengan keranjang di tangan kirinya berjalan ke arahnya.

 

“Saya sudah dengar semua ceritanya dari anakku. Terima kasih atas segalanya. Anda bahkan memberikan anakku sebuah sepatu.”

 

“Ah, tidak apa-apa, Nyonya,” jawab pria itu. “Sudah sewajarnya kita menolong orang yang kesusahan, apalagi dia masih kecil.”

 

Wanita itu merogoh keranjang di tangan kirinya dan mengambil beberapa keping uang logam emas. “Mungkin ini tidak seberapa, tapi terimalah sebagai ungkapan rasa terima kasih kami.”

 

Tanpa pikir panjang, pria itu menggelengkan kepala. “Tidak usah, Nyonya. Saya ikhlas.”

 

“Sudah, tidak apa-apa, terimalah.” Wanita itu berkeras hati, namun sekali lagi pria itu menolaknya dengan senyuman. “Baiklah, paling tidak beri tahu nama Anda.” Ia menjulurkan tangan.

 

Pria itu menyambar uluran tangan itu dan memperkenalkan diri. “Nama saya Reinhart, panggil saja Rein.”

 

“Terima kasih, Rein. Sekali lagi terima kasih untuk segalanya.”

 

Aqila dan ibunya kemudian berjalan pulang. Aqila sempat menolehkan kepalanya ke belakang, melambaikan tangan dan berteriak, “Terima kasih ya, Paman Rein.”

 

Rein membalas lambaian tangan itu sebelum sosok Aqila dan ibunya menghilang di tengah sekumpulan orang yang berlalu lalang.

 

~ *** ~

 

Aqila menjatuhkan dirinya di tempat tidur, lelah setelah membantu ibunya membersihkan rumah sore ini. Di samping tempat tidurnya tergeletak sepatu merah pemberian Rein—pria yang menolongnya saat tersesat di pasar pagi tadi—dan ke sanalah matanya kini tertuju.

 

Aqila meraih sebelah sepatu itu dan mengamatinya sambil berbaring di tempat tidurnya. “Jangan-jangan ini sepatu merah yang dimaksud nenek peramal itu.” Aqila mengingat-ingat lagi perkataan nenek itu. “‘Sepasang sepatu merah akan mempertemukanmu dengan cinta sejatimu.’ Ya, tidak salah lagi, pasti ini sepatu yang dimaksud. Berarti Paman Rein adalah cinta sejatiku? Aku akan menikah dengannya?” Wajah Aqila mendadak memerah saat memikirkan hal itu. Ya, Aqila memantapkan hati kalau ia merasa jatuh cinta pada pria yang telah menolongnya hari ini.

 

“Besok aku akan ke sana lagi.” Kata Aqila yang kemudian terlelap sambil memeluk sepatu merah itu di dekapannya.

 

~ *** ~

 

Aqila berjalan di tengah pasar yang masih belum terlalu ramai dengan aktivitas jual-belinya di pagi yang cerah ini. Dengan mengenakan gaun yang berkombinasi warna putih dan merah, ia berjalan riang di tengah pasar, menuju toko sepatu milik Rein, tak lupa dengan sepatu merah di kedua kaki mungilnya dan sekeranjang penuh roti di tangan kanannya.

 

Pagi ini Aqila pergi ke pasar bersama ayahnya yang ingin memesan bahan baku untuk toko rotinya. Pada awalnya ibunya tak mengizinkan, namun setelah merengek keras, akhirnya ia diperbolehkan ikut pergi ke pasar dengan catatan ia akan dijemput oleh ayahnya di toko sepatu ketika lonceng besar pada menara di tengah alun-alun kota berbunyi di tengah hari.

 

Setelah berpisah dengan ayahnya di pasar, Aqila langsung menuju ke toko sepatu Rein. Dari jendela besar di toko itu, Aqila melihat Rein sedang menyapu lantai tokonya.

 

“Paman Rein! Selamat pagi!” Seru Aqila ketika memasuki pintu toko. Rein menoleh dan membalas sapa.

 

“Hei, selamat pagi!” Rein sedikit terkejut melihat Aqila yang muncul di tokonya pagi ini. “Apa kamu terpisah dengan ibumu lagi?”

 

Aqila menggelengkan kepala. “Tidak. Aku memang ingin bertemu Paman, kok.” Aqila mengulurkan tangan kanannya. “Oh, iya, kita belum berkenalan. Namaku Aqila.” Rein menyambar tangan Aqila dan memperkenalkan diri. “Paman, ini titipan dari ibuku,” Aqila kemudian menyodorkan keranjang berisi roti yang dibawanya dari rumah kepada Rein. “Katanya, Paman harus menerima ini, kalau tidak diterima, aku belum boleh pulang.”

 

Rein tertawa. “Hahaha…. Iya, iya… aku terima. Terima kasih, nanti kita makan bersama ya?” Rein mengulas senyum dengan lesung pipit yang samar terlihat di balik berewok tipisnya. “Oh, iya, apa kamu pergi ke sini seorang diri?”

 

“Tidak. Aku pergi dengan ayahku. Ayahku mau memesan bahan baku untuk dikirimkan ke toko rotinya dan membeli beberapa pesanan ibu,” jawab Aqila. “Pagi ini Paman sedang apa?” Tanya Aqila sambil memandang ke sekelilingnya.

 

“Oh, sedang bersih-bersih.” Rein mengambil kembali sapu yang digunakannya tadi dan mulai menyapu debu-debu di lantai. “Kalau toko ini tidak dibersihkan, nanti tidak ada pembeli yang mau datang.”

 

“Apa aku boleh membantu, Paman?”

 

“Ah, tidak usah, bersih-bersih itu melelahkan, lho.”

 

“Tidak apa-apa. Aku sudah biasa membantu ibu membersihkan rumah, kok. Boleh ya aku membantu?” Aqila memohon dengan sangat. Sorotan matanya yang polos itu pun akhirnya tak dapat ditolak oleh Rein. Rein pun mengangguk. Sejujurnya, ia cukup senang bila ada yang membantu karena selama ini ia mengelola toko kecil ini sendirian. Penghasilannya yang tak banyak menjadikannya tak sanggup untuk mempekerjakan orang lain. Hal itu bisa terlihat dari pengunjung toko hari ini yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

 

“Ayo makan dulu. Apa kamu tidak lelah?”

 

Tanpa disadari, hari sudah semakin siang. Aqila yang sedang asyik mengelap dan menata sepatu-sepatu di pinggir jendela pun menjawab, “Iya, Paman, sebentar lagi selesai.” Aqila menata sepatu yang ia pegang di depan jendela dan kemudian memuji hasil pekerjaannya hari ini. “Sempurna!”

 

“Wah, aku tak pernah berpikir untuk menatanya seperti itu,” kata Rein saat melihat Aqila yang sejak tadi sibuk di depan jendela. Jendela yang tadinya kusam dan sepi, sekarang sudah lebih bersih dan di depan kaca besar itu kini ada sebuah meja dengan sepatu-sepatu yang ditata sedemikian rupa.

 

“Kalau sepatu-sepatu Paman diletakkan di depan jendela seperti ini, orang-orang yang lewat bisa melihat keindahan sepatu yang Paman buat. Selain itu, paduan warna yang disejajarkan juga bisa menarik perhatian siapa pun yang lewat,” kata Aqila sambil menjelaskan hasil kerjanya. Sudah sering ia membantu ayahnya merapikan roti-roti yang baru dikeluarkan dari oven ke dalam etalase kaca ketika ia bermain ke toko roti ayahnya. Merapikan sepatu seperti ini tentu tak jauh berbeda dengan merapikan roti.

 

“Wah, kamu hebat. Yuk, sekarang kita makan siang. Aku tak bisa menghabiskan roti-roti yang kaubawa itu sendirian.”

 

Rein mengambil keranjang roti Aqila dan memakan roti itu bersama Aqila sambil duduk di kursi panjang di depan toko sepatunya.

 

“Wah, roti ini enak sekali. Ibumu membelinya di mana? Pasti harganya mahal.”

 

“Oh, tidak. Roti-roti ini ayahku yang membuatnya. Ia punya toko roti di dekat istana. Kadang-kadang koki kerajaan membeli roti dari toko kami.”

 

“Wow!” Rein takjub mendengarnya. “Kalau sampai orang kerajaan membeli roti dari tempatmu, berarti toko roti ayahmu itu toko roti nomor satu di negeri ini ya?”

 

“Ah, tidak juga, kok, Paman. Toko roti kami tidak begitu besar, paling-paling ya sebesar toko Paman ini.”

 

Teng… teng… teng….

 

Suara lonceng berdentang dua belas kali, menandakan setengah hari telah berlalu di hari yang cerah ini. Beberapa orang menghentikan aktivitasnya, mengeluarkan bekal makan siang, dan ada pula yang pergi ke warung makan untuk sekadar santap siang sebelum mulai bekerja kembali.

 

Tak lama sejak lonceng dari alun-alun kota berbunyi, sebuah suara berat memanggil nama Aqila. Aqila menoleh dan menemukan ayahnya yang berjalan menuju ke arahnya sambil membawa sekantong penuh belanjaan.

 

“Itu pasti ayahmu.”

 

Aqila kemudian melompat dari kursi itu. “Ah, iya, itu ayahku. Aku sudah harus pulang. Kalau aku main ke sini lagi, boleh kan, Paman?”

 

“Tentu saja,” jawab Rein singkat.

 

Aqila menyambar keranjang rotinya yang kini sudah kosong dan berjalan ke arah ayahnya. “Terima kasih, Paman! Kapan-kapan aku main lagi ya?!” Seru Aqila sesaat sebelum ia dan ayahnya berbelok di perempatan jalan.

 

~ *** ~

 

Genta yang tergantung di atas pintu berbunyi. Sudah kesekian kalinya di hari ini genta yang menandakan ada seorang pengunjung yang datang itu berbunyi. Baru akhir-akhir ini saja Rein kewalahan karena begitu banyaknya pengunjung yang datang dan membeli sepatu di tokonya, lebih tepatnya sehari setelah Aqila menyusun ulang sepatu-sepatunya yang berantakan di penggir jendela. Benar apa yang dikatakan Aqila waktu itu. Kini semakin banyak orang-orang yang lewat di depan tokonya yang menyempatkan mampir sebentar untuk sekadar melihat-lihat dan pada akhirnya tertarik untuk membeli sepasang sepatu.

 

Genta itu berbunyi lagi. Rein menoleh ke arah pintu dan mendapati Aqila sedang berdiri di sana, membawa keranjang dan mengenakan sebuah kerudung merah yang serasi dengan sepatu merah yang ia kenakan.

 

“Selamat pagi, Paman!” Seru Aqila.

 

“Hei, selamat pagi!” Rein menjawab itu sambil mengemas sepatu yang baru saja dibeli oleh seorang pengunjung.

 

“Wah, tampaknya hari ini ramai sekali ya, Paman,” kata Aqila setelah mengamati toko kecil ini yang tengah ramai dipenuhi pengunjung yang sedang melihat-lihat.

 

“Ya semua ini berkatmu. Kalau kamu tidak menyusun sepatu di jendela itu, orang-orang tidak akan tahu kalau tempat ini toko sepatu.”

 

Aqila tersenyum gembira ketika ia dapat membantu Rein. Ia lalu mengangkat keranjang rotinya. Dari sana, ia mengambil beberapa tangkai bunga yang dipetiknya di pinggir jalan.

 

“Untuk mempercantik toko ini,” kata Aqila yang kemudian menaruh bunga-bunga tersebut di sebuah vas bunga yang dibiarkan kosong di meja kasir. “Nah, dengan begini setiap orang yang datang akan bahagia ketika melihat bunga yang indah ini. Wanginya pun takkan membuat bosan setiap pengujung yang masuk melalui pintu ini. Kalau saja aku punya lebih banyak bunga untuk menghias toko ini.”

 

Rein membalasnya dengan senyuman tipis. “Tapi sayang, kalau bunga yang indah ini harus dipetik dari pohonnya. Ia akan layu dan takkan bertahan lama.”

 

“Eh?” Rona ceria di wajah Aqila kemudian memudar. “Maaf, Paman. Aku tidak tahu,” dan ia pun mulai terisak-isak. Ia takut kesalahan kecilnya ini membuatnya tak lagi disukai oleh Rein.

 

Kini semua mata pengunjung di toko itu tertuju pada gadis mungil bersepatu merah ini. Rein pun bingung karena sorot mata tersebut seakan-akan menyalahkannya karena telah membuat anak kecil itu menangis. “Sudah, tidak apa-apa, Aqila.” Rein mengambil vas yang sudah berisikan beberapa tangkai bunga itu dan memegangnya di depan wajah Aqila yang sedikit tertunduk. “Hei, kamu bilang bunga ini akan mendatangkan kebahagiaan. Kalau kamu sendiri tidak bahagia membawanya ke sini, bunga ini juga akan sedih. Di sisa hidupnya ini ia malah tidak membuat orang yang memetiknya bahagia.”

 

Isak tangis Aqila mulai mereda. “Tapi apa Paman juga ikut bahagia? Paman tidak suka aku memetik bunga itu.”

 

“Hei, tentu saja aku juga bahagia. Di saat sedang sibuk begini ada seorang malaikat kecil yang datang membawakan bunga yang cantik ini untukku. Bagaimana aku tidak senang?”

 

Rein merekahkan senyumnya lebar, sementara itu wajah Aqila kini malah memerah malu. Dikatakan “malaikat kecil” seperti itu saja sudah membuat Aqila merasa di awang-awang. Ini bukan mimpi kan? Tanya Aqila dalam hati.

 

Selagi Rein sibuk melayani pelanggan tokonya, Aqila menyibukkan dirinya dengan mengelap kaca jendela. Dari sana ia melihat seorang wanita bergaun ungu mewah—dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya—keluar dari toko pakaian di seberang jalan. Wanita itu sempat terhenti sebentar, namun kemudian ia berjalan ke arah toko ini. Genta kecil di atas pintu itu pun kembali berbunyi. Wanita itu masuk, namun tak membeli sepatu. Ia berbicara sedikit dengan Rein, lalu memberikan sejumlah uang kepadanya. Setelah itu ia pergi dan Aqila melihat rona bahagia di wajah Rein.

 

“Paman terlihat senang sekali. Ada apa?”

 

“Wanita tadi menginginkanku untuk membuat sepasang sepatu terbaik untuk hadiah ulang tahun suaminya. Pelayan rumahnya memberi tahu bahwa sepatu di toko ini bagus dan kuat, karena itu ia datang dan berani membayar mahal untuk sepatu yang kubuat jika hasilnya memuaskan.”

 

Wah!” Aqila berseru ketika melihat sejumlah lembaran-lembaran uang pembayaran di muka itu. “Kalau Paman Rein senang, aku juga ikut senang.”

 

“Sore nanti kita makan es krim yuk. Aku yang traktir.” Aqila pun melompat kegirangan.

 

~ *** ~

 

Uap dingin dari es krim rasa stroberi yang dipegang Aqila menyelimuti kepala es krim yang memutar di atas pengangan yang berbentuk kerucut itu. Aqila menjilati es krim yang dingin itu sambil bersandar pada sebatang pohon yang sejak tadi daun-daunnya bergesekan terkena angin. Saat matanya sedang memandang lurus ke arah rusa yang tengah meminum air sungai di kolam, tiba-tiba setangkai bunga sudah menempel di sela-sela rambutnya.

 

“Kau tampak cantik memakai ini,” kata Rein dari balik pohon. Ia duduk di samping Aqila, memakan es krim rasa cokelat di genggamannya sambil menatap ke arah sungai, melihat rusa yang sama dengan yang dilihat oleh Aqila.

 

“Ah, Paman Rein ini bagaimana sih? Katanya jangan memetik bunga, tapi kenapa sekarang ada bunga di rambutku?” Aqila mengambil bunga di rambutnya itu dan memindahkannya ke sela-sela telinga, karena di sana bunga itu takkan mudah jatuh.

 

“Ah, iya, maafkan aku ya.”

 

“Hehehe.... aku bercanda kok, Paman. Terima kasih ya, Rein.” Aqila bergeser dan menyandarkan kepalanya di tubuh Rein, kemudian memakan es krimnya kembali sambil memikirkan sesuatu. “Paman apa tidak merasa sepi hidup sendirian?”

 

Rein terdiam sesaat. Selang lima detik kemudian, ia kembali memakan es krimnya dan menjawab, “Wah, itu pertanyaan yang berat.”

 

“Aku heran saja. Paman sudah lama berpisah dengan keluarga, sejak empat tahun lalu kan? Apa Paman tidak kesepian? Apalagi Paman juga selama ini menjaga toko sendirian. Kenapa tidak menikah lagi saja, Paman?”

 

Rein diserang dengan banyak pertanyaan, namun ia hanya menjawabnya dengan tawa kecil. “Sudahlah, tidak usah dibahas. Selama aku masih bisa bertahan hidup dengan membuat dan menjual sepatu, itu sudah cukup.”

 

Namun Aqila tidak puas dengan jawaban itu. “Bagaimana kalau Paman menikah saja denganku, agar Paman tidak kesepian.”

 

Dan kini Rein tertawa keras. “Kamu itu masih terlalu muda untuk menikah. Bermain-main sajalah dulu. Menikah itu tak sepenuhnya menyenangkan.” Rein melahap habis sisa es krim di tangannya dan kemudian merebahkan badannya di tanah. Matanya memandang lurus ke dedaunan di pohon yang bergoyang tertiup angin. “Oh iya, sekarang sudah petang, apa orang tuamu tidak menjemputmu? Jangan-jangan nanti aku dikira menculikmu.”

 

Aqila menggelengkan kepalanya. “Ah, tidak. Aku berangkat sendiri kok. Nih, lihat, ibuku sampai membuatkanku peta.” Aqila mengeluarkan selembar gulungan kertas yang tak terlalu besar dan membentangkannya di atas kepala Rein, menutupi pandangannya ke arah langit.. “Padahal aku kan sudah hafal jalan pulang.”

 

Tanpa mengubah posisi tubuhnya, Rein membaca peta yang tergambar di atas kertas putih itu. “Hmm... rumahmu cukup jauh juga ya. Pantas saja ibumu khawatir dan membuatkanmu peta.” Rein mengangkat badannya. Ia berdiri. “Kalau kamu pulang sekarang, hari pasti sudah telanjur gelap sebelum kamu sampai di rumah, berbahaya untuk seorang gadis kecil sepertimu berjalan sendirian melewati hutan saat hari sudah gelap. Kuantar saja ya.”

 

Aqila mengangguk. Ia menggandeng sebelah tangan Rein dan mereka pun berjalan berdua ke rumah Aqila sambil mengumbar canda dan tawa di sepanjang perjalanan.

 

~ *** ~

 

Seperti biasa, rutinitas Aqila di akhir pekan adalah pergi bermain ke toko sepatu Rein, dan setiap kali pergi ke sana, Aqila selalu memakai sepatu merah kesayangannya itu dan membawa sekeranjang roti. Untuk hari ini, Aqila menyiapkan banyak sekali roti yang dibuat dengan tangannya sendiri, karena itu ia berjalan dengan riang di sepanjang perjalanan.

 

“Selamat siang!”

 

Seorang remaja pria mengucapkan salam ketika pintu toko terbuka, meskipun yang membuka pintu itu adalah seorang gadis kecil yang jelas-jelas datang bukan untuk membeli sepatu.

 

“Selamat pagi, Kak Theo! Paman Rein ke mana?” Aqila celingukan mencari sosok Rein yang tak berada di toko. Sebagai gantinya, ada Theo, pemuda yang bekerja paruh waktu sebagai asisten Rein untuk mengurus toko.

 

“Oh, Paman Rein ada di belakang, di ruang kerjanya.” Setelah mengucapkan terima kasih dan memberikan beberapa potong roti yang ia bawa, Aqila bergegas ke ruangan yang ditunjukkan Theo. Di sana ia melihat Rein sedang menjahit sepatu dengan peralatannya.

 

“Selamat pagi, Rein!”

 

Rein mengangkat kepalanya, dan benar seperti yang sudah ia duga sebelumnya, suara khas itu jelas datang dari Aqila. “Hei, selamat pagi, Aqila! Kamu membawa roti lagi?”

 

Aqila duduk di kursi di samping meja kerja Rein. “Tentu saja!” Jawab Aqila dengan girang sambil menunjukkan keranjangnya yang berisikan roti dengan bermacam-macam bentuk. “Rein harus coba ini. Ini roti buatanku sendiri lho!”

 

Rein meletakkan sepatu setengah jadi dari genggamannya ke atas meja. Kemudian ia mengambil sepotong roti yang disodorkan oleh Aqila dan memakannya.

 

“Bagaimana rasanya?” Tanya Aqila dengan rasa penasaran yang tergambar jelas di wajahnya.

 

“Bentuknya agak sedikit aneh, tapi rasanya enak, tak jauh berbeda dengan yang biasa kaubawa.”

 

Wajah Aqila sedikit memerah. Ia tak menyangka roti pertama buatannya sudah cukup berhasil. “Tentu saja enak. Aku mengikuti resep dari ayah dan mengikuti langkah-langkah yang diajarkan ayah. Tapi, tanganku belum selihai tangan ayah ketika membentuk adonan, jadinya ya seperti itu, bentuk rotinya aneh,” kata Aqila yang kemudian mulai menunduk malu.

 

“Ah, tidak apa-apa. Kalau sering dilatih nanti juga terbiasa kok. Yang terpenting bagiku itu rasa rotinya. Aku akan senang sekali jika setiap hari bisa memakan roti seenak ini.”

 

“Karena itu, menikahlah saja denganku, Rein. Nanti akan kubuatkan roti yang enak setiap harinya,” kata Aqila dengan penuh semangat, namun Rein hanya terdiam sambil mengulas senyum tipis dan mengunyah potongan roti di tangannya. “Nanti roti buatanku ditaruh di meja kasir, jadi siapa pun yang membeli sepatu bisa sekalian membeli roti juga. Kita bisa membuat toko roti di dalam toko sepatu.” Aqila sudah memikirkan matang-matang akan imajinasinya ini, namun sayang, kali ini pun Rein menanggapinya dengan tawa yang cukup keras, sampai-sampai kedua matanya basah dengan air mata.

 

“Hahaha... sudahlah, belajar dulu membuat bentuk roti yang menarik, baru kita bicarakan ini lagi.” Tanpa disadari oleh Rein, Aqila menganggap serius tantangan ini, dan Aqila pun memantapkan hati untuk terus belajar membuat roti yang lebih baik.

 

“Rein sedang membuat sepatu ya?” Tanya Aqila tiba-tiba. Ia mengambil sepatu setengah jadi di atas meja dan mengamatinya.

 

“Ya,” Rein mengangguk.

 

“Membuat sepatu itu susah tidak sih?” Tanya Aqila penasaran.

 

Rein berpikir. “Hmm... bagaimana ya? Tidak terlalu susah sih, tapi butuh ketelitian yang tinggi. Kalau kau mau, kau bisa melihatku membuat sepatu.”

 

Aqila berseru senang. Sesiang ini ia memerhatikan Rein membuat sepatu dari proses awal hingga akhir. Mulai dari membuat dan memotong pola, menjahit, mengelem, bahkan ada juga proses mengetuk-ketuk sepatu dengan palu, membuat sol untuk bagian bawah sepatu, dan beberapa proses yang tak dimengerti Aqila hingga berakhir pada penyemiran sepatu agar terlihat lebih mengilat.

 

“Kalau saja aku punya cukup uang untuk membeli peralatan yang lebih canggih, hasilnya pasti akan lebih bagus,” keluh Rein di hadapan sepatu yang baru saja ia selesaikan.

 

“Ah, begini saja sepatunya sudah bagus kok. Aku juga senang melihat Rein membuat sepatu seperti ini,” kata Aqila yang tengah mengamati sepatu yang baru dibuat Rein sambil mengayunkan kakinya di kursi.

 

“Hei, Aqila,” Aqila mengalihkan pandangannya dari sepatu ke Rein, tapi sepertinya Rein sedang memerhatikan yang lain. “Sepatu merahmu itu sudah agak menganga begitu, sini kuperbaiki sekalian.”

 

Aqila menengok ke kakinya dan benar saja, bagian depan sol sepatu kanannya sudah terpisah dari badan sepatu. Aneh, karena selama ini Aqila tak menyadari kalau sepatunya rusak. Ia mencopot kedua sepatunya dan menyerahkannya ke Rein. Aqila kembali mengayun-ayunkan kakinya yang kini hanya tertutup kaus kaki.

 

“Sepatu merah ini sudah butut, kenapa kamu tidak meminta dibelikan sepatu baru? Orang tuamu pasti punya cukup uang untuk membelikanmu beberapa sepatu baru.” Kata Rein sambil menjahit ulang sepatu Aqila yang sudah rusak.

 

“Aku tak mau pakai sepatu yang lain. Aku hanya mau memakai sepatu itu.”

 

“Memangnya kenapa? Anak seumuranmu biasanya suka meminta sesuatu yang baru. Lagi pula, cepat atau lambat sepatu merah ini tak akan muat lagi di kakimu.”

 

“Tapi aku suka sekali sepatu merah itu. Mulai sekarang aku akan merawatnya lebih hati-hati lagi.” Aqila jelas tak memberi tahu alasannya kepada Rein, karena ia pikir Rein pasti akan menertawainya lagi. Lagi pula, Rein tak menanyakan alasannya itu lebih dalam. Ia sibuk memperbaiki sepatu Aqila, “Oh, iya, Rein, hari Minggu nanti ada festival di kota. Kita pergi ke sana yuk.”

 

“Kenapa tidak pergi bersama orang tuamu?”

 

“Aku inginnya pergi bersama Rein. Lagi pula, saat festival nanti, ayah dan ibu selalu sibuk mengerjakan pesanan roti dari pihak istana.” Nada suara Aqila menurun, dan ia pun tertunduk.

 

“Tapi ada sepatu yang harus kubuat, nanti bagaimana tokoku?”

 

“Ayolah, Rein...,” kata Aqila, merajuk. “Aku belum pernah pergi ke festival itu.”

 

Rein ragu. Pekerjaannya masih banyak, dan ia khawatir dengan tokonya. Di saat itulah suara dari arah ruang depan terdengar. “Tenang saja, Paman Rein. Biar aku yang jaga tokonya nanti.”

 

“Jadi bagaimana, Rein?” Tanya Aqila, menegaskan.

 

“Baiklah, ayo kita pergi ke sana hari Minggu nanti,” jawab Rein.

 

“Benarkah? Asyik!” Aqila berseru sambil melompat kegirangan. “Janji ya!” Aqila berseru sambil menyodorkan jari kelingkingnya. Rein tak mengerti. “Ini namanya janji kelingking, Rein. Jika dua orang sudah melakukan janji kelingking, yang melanggar janji ini jari kelingkingnya harus dipotong.”

 

Kini Rein mengerti. Sudah beberapa kali ia melihat anak-anak melakukan ini, tapi ia belum mengerti. Rein pun menyambar jari kelingking Aqila dengan jari kelingkingnya. “Iya, aku janji, tapi kalau hujan, kita tunda ya.”

 

~ *** ~

 

Semenjak pagi hari, cuaca di negeri yang terletak di kaki bukit ini cerah sekali. Sinar matahari menembus langsung tanpa terhalang awan gelap yang berkeliaran di langit, menghangatkan belahan bumi yang mulai memasuki musim dingin ini. Sesuai janji sakral yang telah mereka ikat di jari kelingking mereka, sore ini Rein dan Aqila yang—seperti biasa—mengenakan sepatu merah kesayangannya itu dan membawa sekeranjang roti pergi ke tanah lapang di pinggir kota yang sudah mulai dipenuhi berbagai macam stan yang berdiri dan meramaikan festival hingga tengah malam nanti.

 

“Wah, ramai ya!” Seru Aqila sambil menyapu pandang ke segala arah. “Rein... lihat! Ada pertunjukan sulap di sana!” Aqila berlari ke arah seorang pria berpakaian hitam yang tengah memegang topi dan sebuah tongkat.

 

“Hei, tunggu, Aqila! Jangan berjalan jauh dariku.”

 

Di sore ini festival yang diselenggarakan tahunan ini mengusung konsep yang sedikit berbeda. Sebelumnya, festival ini lebih berbentuk sebuah karnaval di mana begitu banyak orang berpawai dengan kostum-kostum yang mereka buat, menari di sepanjang jalan mengitari kota. Di samping itu juga terdapat stan-stan makanan yang memeriahkan perayaan tahunan ini. Namun untuk kali ini, festival dibuat dalam bentuk seperti taman bermain kecil, di mana terdapat beberapa wahana sederhana dan juga stan-stan permainan. Untuk itulah festival kali ini membutuhkan tempat yang lebih luas dan di tepian sungai inilah tempat yang sangat cocok.

 

Aqila memerhatikan pesulap itu dengan penuh saksama, mencoba-coba mencari celah dan trik dari sang pesulap, namun gagal.

 

“Hei, Rein, menurutmu, bagaimana dia bisa melakukan itu?” Bisik Aqila pada Rein yang berdiri di sebelahnya—dan harus sedikit menunduk untuk mendengar suara Aqila di tengah riuhnya suasana—ketika pesulap itu memainkan berlembar-lembar kartu di tangannya, menghilangkannya, melemparnya, dan memunculkannya seakan-akan kartu itu muncul dengan sendirinya di genggaman tangan.

 

“Aku juga tidak tahu. Pasti ada sesuatu di balik baju lengan panjangnya itu.” Diberi tahu seperti itu, Aqila langsung memusatkan perhatiannya pada lengan sang pesulap, namun baru sebentar ia memerhatikan dengan saksama, Rein berucap kembali. “Kau tidak perlu mencari triknya. Kalau kau sudah tahu triknya, tentu pertunjukan ini takkan menarik.”

 

Usai melihat pertunjukan sulap, kini mereka berjalan kembali dan sekali lagi Aqila melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. “Rein, bolehkah aku mencoba permainan itu?”

 

Rein menengok ke arah yang ditunjukkan Aqila, di sana berdiri stan permainan dengan berbagai hadiah tersedia jika berhasil memenangkan sebuah permainan. Saat berjalan ke stan itu, Rein baru menyadari bahwa stan itu adalah stan permainan “memukul tikus tanah.” Ada belasan lubang di sebuah papan yang nantinya dari tiap-tiap lubang itu akan muncul tikus tanah mainan dan pemain harus memukul tikus tanah yang keluar dari lubang tersebut dengan palu untuk mendapatkan nilai.

 

“Kamu yakin mau bermain ini?”

 

“Tentu saja. Aku pernah memainkannya beberapa kali,” jawab Aqila sambil mengamati barang-barang yang disediakan sebagai hadiah permainan dengan sejumlah angka di atas hadiah-hadiah tersebut, menandakan jumlah nilai yang harus didapat untuk memenangkan hadiah tersebut. Meski begitu banyak hadiah yang menarik, Aqila sudah memilih apa yang ia inginkan saat melihat stan ini dari kejauhan.

 

Rein membayar sejumlah uang untuk satu kali permainan dan mesin permainan itu pun bergerak. Begitu sebuah kepala tikus tanah keluar, dengan palu di tangan, Aqila langsung memukul tikus tanah itu dengan cepat. Papan elektronik yang menampilkan nilai yang diperoleh pun bergerak seiring pergerakan tangan Aqila yang cepat dan lihai dalam memukul-mukulkan palunya. Lalu Aqila tiba-tiba berhenti memukul sebelum waktu permainan usai. Dengan bebasnya kepala tikus tanah itu bergerak keluar masuk di lubang-lubang tersebut tanpa terkena pukulan dari palu di tangan Aqila.

 

“Lo, kenapa berhenti?” Tanya Rein yang keheranan.

 

Aqila menjawab, “Kurasa ini sudah cukup.” Dan waktu permainan pun habis.

 

“Selamat, gadis muda! Ini hadiah untukmu.” Kata penjaga stan permainan itu sambil menyerahkan hadiah berupa syal berwarna biru malam kepada Aqila.

 

“Jadi memang sejak awal kau sudah mengincar syal itu ya, Aqila?”

 

“Ya,” jawab Aqila. “Karena aku ingin memberikannya padamu, Rein.”

 

Rein terkejut. “Untukku?”

 

“Rein sudah memberikanku sepatu merah yang cantik ini, jadi aku ingin memberikan sesuatu yang bisa Rein pakai. Karena sebentar lagi musim dingin, jadi saat melihat syal ini, kupikir ini bisa jadi hadiah yang bagus. Lagi pula, warnanya juga bagus.” Aqila tersenyum lebar dan kemudian mengalungkan syal itu ke leher Rein.

 

“Terima kasih ya, Aqila.” Rein membalas senyum itu dan sekarang mereka berdua berjalan kembali, melihat-lihat stan yang ada, mencoba wahana permainan yang menarik, melihat atraksi akrobat yang dilakukan oleh pemain sirkus, menikmati penyanyi yang melantunkan lagu dengan lembut, hingga tanpa mereka sadari senja telah berganti malam.

 

~ *** ~

 

Hoahm....” Aqila menguap lebar karena mengantuk. Ia merebahkan kepalanya di atas meja.

 

“Kau sepertinya sudah lelah, bagaimana kalau kita pulang?” Tanya Rein sambil menyesap teh hangat yang baru saja ia beli. Sementara, teh hangat Aqila sudah habis sejak tadi.

 

“Tidak!” Jawab Aqila, tegas. “Aku belum mau pulang. Kita belum melihat kembang api, padahal aku sudah menyiapkan roti ini untuk kita makan sambil melihat kembang api nanti.”

 

“Tapi malam nanti udaranya dingin, apa kamu tidak apa-apa? Kita pulang saja ya?”

 

Aqila menggelengkan kepala dan menjawab dengan lebih tegas. “Tidak!! Pokoknya kita harus melihat kembang api.”

 

Rein pun menghela napas dan menuruti kemauan Aqila itu. Ia bangkit dari kursinya dan bertanya ke seorang penjaga stan, kemudian kembali. “Mereka bilang pesta kembang apinya baru dimulai sekitar satu jam lagi. Bagaimana kalau kita mencari tempat yang nyaman untuk menonton kembang api itu?”

 

Aqila tersenyum. Ia melompat dari kursinya dan menyambar keranjang roti yang isinya belum terbuka sejak tadi. “Ayo!” Rein kemudian menggandeng tangan Aqila dan mereka pun beranjak dari tempat makan di pinggir sungai itu.

 

Aqila tak tahu di mana Rein akan membawanya untuk melihat kembang api, tapi semakin malam, tempat ini semakin ramai. Ia hanya berharap tempat yang mereka tuju tidak terlalu ramai. Mata Aqila pun menyapu pandang ke segala arah, siapa tahu ia dapat menemukan tempat yang cocok. Namun, alih-alih menemukan sebuah tempat untuk menonton kembang api, ia malah menemukan sebuah stan yang tak asing di matanya. Dan ia yakin stan itu tidak ada di sana sebelumnya.

 

“Rein, kita ke sana dulu yuk!” Seru Aqila setelah melihat stan yang dijaga oleh seorang nenek tua dengan bola berwarna ungu di atas meja.

 

“Memangnya ada apa di sana?”

 

“Sudahlah, ayo ikut saja.” Rein pasrah tangannya ditarik Aqila hingga kini mereka berada di hadapan nenek tua itu. “Selamat malam, Nek!”

 

“Selamat malam juga, gadis muda!” Jawab sang nenek peramal. “Akhirnya kita bertemu lagi ya, Nak.”

 

“Kau kenal dia, Aqila?” Tanya Rein, kebingungan.

 

“Tentu saja. Nenek ini bisa meramal, Rein.” Aqila kemudian mengubah arah pandangnya lagi ke nenek peramal. “Nek, bolehkah kami meminta diramal?”

 

“Boleh,” nenek peramal itu mengangguk. “Tapi aku hanya bisa meramal untuk pria tampan yang bersamamu ini. Kau kan sudah mendapatkan ramalanmu, jadi aku takkan membacakannya lagi.” Ada sedikit nada kecewa di hati Aqila, namun ia tak mengindahkan rasa kecewa itu karena ia sudah puas dengan ramalan miliknya yang sudah benar-benar menjadi kenyataan.

 

“Memangnya apa ramalanmu, Aqila?” Tanya Rein sambil berbisik di telinga Aqila.

 

“Ra-ha-si-a!” Aqila mengeja sambil tersenyum menyembunyikan sesuatu. “Aku takkan pernah memberitahukannya padamu sampai kapan pun.”

 

“Oh, baiklah, kuharap ramalanku juga sebaik ramalanmu.” Rein merogoh ke kantong celananya. “Aku sudah tak membawa banyak uang. Kuharap bayarannya tak mahal.”

 

“Oh, jangan khawatir. Khusus untuk Anda, Anda tak perlu membayar apa-apa.”

 

Aneh sekali, pikir Rein. Sejujurnya, ia sendiri tak percaya pada ramalan, tapi tak ada salahnya juga mendengar ramalan—dan gratis pula.

 

Sang nenek peramal mulai memainkan tangannya di sekitar bola ungu di hadapannya. Penampakan yang sama seperti yang dilihat Aqila berbulan-bulan lalu kembali tersaji di depan matanya. Sang peramal menutup matanya sambil merapal mantra yang tak seorang pun tahu maksudnya. Lalu, tiba-tiba matanya memelotot. Bersamaan dengan itu, bola ungu di hadapannya retak, dan tak lama setelahnya, pecah menjadi kepingan-kepingan kecil yang kemudian hilang bagaikan debu.

 

Rein terlihat tenang sementara dalam raut muka nenek peramal itu tersimpan sesuatu yang hanya ia sendiri yang tahu. Nenek itu menatap mata Rein dalam-dalam. Saat melihat Rein, ia menyadari akan satu hal, seakan-akan ia baru saja membaca pikiran Rein. Ia pun mengatur napas.

 

“Apa kau yakin mau mendengarnya?” Tanya nenek peramal itu dan dijawab dengan anggukan pelan dari Rein. “Hanya satu yang bisa kukatakan untuk saat ini. Kau takkan bertemu musim semi di negeri ini.” Rein menanggapi ramalan itu dengan senyum tipis di wajahnya. Ia pun menggandeng tangan Aqila dan beranjak dari tempat nenek peramal itu.

 

“Apa maksud dari ramalan nenek itu, Rein? Aku tak mengerti,” Tanya Aqila sambil berjalan.

 

“Ah, sudahlah. Aku sendiri tak terlalu memahami maksudnya. Mungkin maksud nenek itu aku akan pindah ke negeri lain.”

 

Aqila terperangah. “Rein mau ke luar negeri?”

 

Rein tertawa terbahak-bahak. “Tentu tidak, Aqila. Aku tak punya alasan untuk ke luar negeri. Lagi pula, aku juga tak percaya pada ramalan, kok. Tapi kalau misalkan ramalan itu tepat, bisa saja aku mendapatkan cukup uang untuk membuka toko sepatu yang lebih besar di luar negeri.”

 

“Tapi aku tak ingin Rein pergi.”

 

“Sudah, sudah... aku takkan pergi ke mana-mana kok. Ramalan seperti itu bukan sesuatu yang perlu dipercayai, Aqila. Aku tak tahu apa ramalanmu, tapi sebaiknya kamu juga jangan terlalu bergantung pada ramalan itu. Jalani saja hidupmu, dan buatlah ramalanmu sendiri.”

 

Jadi, apakah aku juga harus melupakan ramalan itu? Aqila bertanya pada dirinya sendiri. Tapi, baginya, sepatu merah ini adalah nyata, Rein adalah nyata. Mau percaya atau tidak pada ramalan, bagi Aqila, saat ini ramalan tentang dirinya telah terwujud, dan itulah yang membuatnya tenang.

 

~ *** ~

 

“Langitnya indah ya,” ucap Rein selagi berbaring di atas tanah berumput, memandangi langit malam yang berbintang. “Bintangnya juga indah.”

 

“Benar. Aku tak menyangka kalau kamu tahu tempat yang indah ini.” Tidak seperti Rein yang tiduran di tanah, Aqila lebih memilih untuk bersandar pada batang pohon besar ini, menikmati pemandangan lampu-lampu yang menyala di tempat penyelenggaraan festival yang terlihat sangat indah dari atas bukit kecil ini.

 

“Aku sering pergi ke sini untuk melepas penat. Menikmati malam yang dingin, memandangi langit yang dipenuhi bulan dan bintang, terkadang aku sampai ketiduran hingga pagi datang,” ucap Rein dengan mata yang tak lepas dari langit. “Kalau dari sini, kita bisa melihat pesta kembang api sambil tiduran. Itu akan menarik sekali.”

 

“Betul. Sebentar lagi pasti pesta kembang apinya dimulai. Sambil menunggu, kita makan roti saja yuk.” Aqila mengambil keranjang rotinya dan mengeluarkan sepotong roti yang telah ia siapkan dan memasukkannya ke mulut Rein yang sedang malas untuk bangkit dari posisinya.

 

“Roti apa ini? Kenapa bagian tengahnya bolong begini?” Tanya Rein setelah menghabiskan roti yang berukuran sangat kecil di mulutnya itu.

 

“Saat sedang mencoba-coba membuat adonan, ternyata adonan yang kubuat salah dan tanpa sengaja bentuk rotinya jadi bolong di tengah. Kupikir itu bukan ide yang buruk, jadi aku mencoba membuat roti dengan bentuk seperti itu,” Ujar Aqila, menjelaskan. Ia pun menunggu komentar dari Rein.

 

“Menarik. Rasanya juga enak. Pasti akan laku dijual jika ditambahkan selai atau tambahan lain di atasnya.”

 

Aqila tersenyum senang mendengarnya. Ia pun ikut tiduran di sebelah Rein, memandangi langit. “Rein, apa kamu pernah membayangkan bintang-bintang itu seperti sesuatu? Aku selalu membayangkan mereka itu seperti remah-remah roti.”

 

Rein tertawa. “Kenapa bisa jadi remah-remah roti?”

 

“Ya karena mereka bertaburan indah di sana. Kalau mereka bersatu, bisa menjadi roti yang enak untuk dimakan, seperti bulan yang bulat itu, kubayangkan dia sebagai roti bulat yang empuk dengan selai stroberi di tengahnya.”

 

Rein tertawa lagi. “Sepertinya kau sudah terlalu sering bertemu roti, jadi sampai berpikiran seperti itu.”

 

“Memangnya kau sendiri bagaimana, Rein?”

 

“Kalau aku sih tak pernah membayangkan bintang-bintang itu sebagai sesuatu yang pasti, karena mereka selalu berubah-ubah.” Rein kemudian mengangkat tangannya ke udara. Dengan jari telunjuknya, ia menggambar sesuatu di udara. “Kalau kamu tarik garis seperti ini dari bintang-bintang itu, maka kamu akan melihat seekor anak anjing yang sedang duduk.” Aqila sibuk mencari-cari, namun ia tak melihatnya. “Kalau yang di sana itu, bentuknya akan seperti kupu-kupu.” Aqila mengikuti arah tangan Rein, tapi tetap ia tak melihat bentuk yang ditunjukkan Rein. Rein mengerti masalahnya, dan ia pun berkata, “Kalau kamu menggunakan imajinasimu, kau akan menemukan bentuk-bentuk yang kutunjukkan tadi, atau bahkan lebih banyak dari apa yang kulihat di langit itu.”

 

Aqila kemudian menutup matanya sebentar. Setelah siap, ia membuka matanya. “Aku melihatnya, Rein! Anak anjing yang kausebutkan tadi. Dan itu yang di sana, ada segerombolan kupu-kupu yang terbang di atas taman bunga. Lalu di sana, ada dua ekor kuda yang sedang berlari.” Aqila kemudian menyebutkan semua hal yang bisa ia temukan dari langit berbintang itu, sementara Rein hanya dapat menemukan dua hewan yang ia temukan tadi—Ia malah asyik memakan roti yang dibuat Aqila. “Dan di bulan itu, aku melihat....” Aqila bergeming sebentar sebelum melanjutkan kalimatnya. “Aku melihat... dua orang yang sedang tiduran di permukaan bulan itu. Mereka tampak bahagia sekali.”

 

Suasana kemudian hening beberapa saat. Keduanya tak mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan itu kemudian pecah saat sebuah kembang api besar menyala di langit.

 

“Wah, pesta kembang apinya sudah dimulai.” Kembang api besar tadi merupakan pembuka pesta kembang api sebagai puncak acara festival. Kembang api lainnya pun menyusul bertebaran di udara. “Indah sekali ya.”

 

“Iya, indah sekali,” jawab Aqila singkat yang kemudian disusul dengan kalimat, “Rein, aku cinta kamu. Menikahlah denganku.”

 

Rein bergeming. Matanya lurus menghadap langit yang silih berganti dipenuhi kembang api.

 

Aqila menggeser badannya, lebih mendekat ke Rein, setelah itu ia mendekapnya. “Aku tahu ini terdengar aneh, tapi sungguh, aku benar-benar cinta padamu, Rein.”

 

“Kamu masih terlalu kecil untuk mengenal cinta, Aqila,” ucap Rein tanpa menengok ke Aqila sedikit pun. Tatapan matanya kosong.

 

“Ya, aku memang kecil, tapi aku tahu kalau Rein juga mencintaiku. Akuilah!”

 

Sedetik kemudian Rein mencium kening Aqila. Wajah Aqila memerah, ia sudah menantikan ini, namun ia belum puas. Aqila mengangkat kepalanya dan kini bibir mereka bertemu. Mereka begitu dekat, hingga Aqila bisa merasakan detak jantung Rein yang berdegup cepat di balik tunik yang Rein kenakan. Mereka berciuman lama hingga langit tak lagi bertaburkan cahaya kembang api.

 

“Jujur saja, aku juga menyayangimu, Aqila, tapi kita takkan bisa hidup bersama. Ini bukan takdir kita.”

 

Aqila menatap lurus ke bola mata Rein, namun Rein malah berusaha menghindar. “Kenapa? Aku tidak peduli jika umur kita terpaut sangat jauh, bagiku yang terpenting adalah bisa terus bersama denganmu, Rein. Kalau tidak dicoba, bagaimana kita bisa tahu?”

 

Rein berbalik menatap Aqila. Ia menemukan kejujuran di dalam tatapan mata gadis kecil itu. Ia pun tak mau terus berbohong pada perasaannya yang juga telah ia pendam selama ini. Rein akhirnya menjawab dengan anggukan kepala dan senyum lebar di wajah. Jawaban yang tak terucap itu sudah cukup melegakan hati Aqila, dan kini mereka kembali berciuman sebelum akhirnya Rein mengantar Aqila pulang ke rumahnya.

 

~ *** ~

 

Hari sudah larut malam. Aqila tertidur di dalam gendongan Rein, dengan syal biru yang menghangatkan tubuhnya dari dinginnya malam. Rein jadi merasa bersalah karena membawa Aqila pulang sangat malam. Dan benar saja, saat sampai di rumah Aqila, kedua orang tuanya telah menunggu di depan rumah, dengan raut wajah yang sangat khawatir.

 

“Oh, Aqila!”

 

Aqila terbangun. Dengan setengah sadar, ia langsung berpindah ke gendongan ayahnya dan masuk ke dalam rumah.

 

“Maaf, saya membawanya pulang larut malam.” Rein meminta maaf namun sepertinya raut wajah ibu Aqila terlihat sangat serius. Ada yang tidak beres di sini.

 

“Kaupikir kami akan memaafkanmu begitu saja? Kami tidak ingin kau mendekati Aqila lagi.” Rein terkesiap. Lidahnya kelu dan tak sanggup berbuat apa-apa selain mendengarkan. “Belakangan ini Aqila terus saja datang ke tempatmu. Kupikir ia hanya datang untuk bermain, sampai akhirnya dia jadi sering mangkir dari pekerjaan rumahnya, pergi diam-diam, dan dia juga berkali-kali mengigaukan namamu saat tidur. ‘Aku ingin menikah dengan Rein,’ katanya,” ujar ibu Aqila dengan menirukan suara Aqila. “Bahkan,” ibu Aqila melanjutkan, “Sore ini juga dia tidak bilang mau pergi ke mana. Dan seperti dugaanku sebelumnya, kau menculiknya!” Dituduh seperti itu, Rein hanya bisa diam mendengarkan. “Aku tak mengerti guna-guna apa yang kaugunakan sampai Aqila jatuh cinta padamu. Yang jelas, aku takkan membiarkan dia bertemu denganmu lagi.”

 

Ibu Aqila memalingkan wajahnya dan masuk ke dalam rumahnya sambil membanting pintu keras-keras. Sementara itu, Rein hanya terdiam. Ia memikirkan sesuatu dan kemudian ia berjalan pulang dengan senyum tipis di wajahnya.

 

Bagaimanapun juga, ini memang bukan takdir kita, Aqila.

 

~ *** ~

 

Sekitar satu bulan sudah Rein dan Aqila tak bertemu. Orang tua Aqila melarang anaknya untuk pergi ke tempat Rein lagi, bahkan kini pengawasan kedua orang tuanya semakin ketat. Aqila hanya bisa termenung di dalam rumahnya, menangis. Sementara itu, Rein menyibukkan dirinya dengan membuat sepatu, bahkan ia berani menerima pesanan yang lebih banyak hanya untuk menyibukkan dirinya. Ia juga tak berencana untuk datang lagi ke rumah Aqila. Ia sadar bahwa kedatangannya nanti hanya akan membawa masalah.

 

Tapi di hari ini, keheningan itu pecah ketika di suatu malam yang dingin berhujan salju, seorang gadis kecil bersepatu merah dan berbalutkan syal berwarna biru malam mengetuk pintu toko sepatu Rein. Rein beranjak dari ruang kerjanya dan membuka pintu yang telah ia kunci sebelumnya. Ia mendapati Aqila berdiri di sana, kedinginan.

 

“Aqila? Kenapa kamu bisa berada di sini, di tengah malam begini?” Rein menyuruh Aqila masuk dan memberikannya handuk hangat. Setelah itu, ia membuat secangkir susu cokelat untuk Aqila yang kedinginan. “Maaf aku tak punya perapian. Tapi, semoga ini bisa menghangatkanmu.” Rein menyerahkan cangkir yang beruap panas itu kepada Aqila. Aqila menerimanya dengan tangan yang bergetar. “Minumlah, setelah itu kau akan kuantar pulang.”

 

“Tidak,” jawab Aqila sambil menggelengkan kepala. “Aku tidak mau pulang. Aku ini sedang kabur dari rumah, tahu! Mana bisa aku pulang?”

 

Rein mengambil sebuah kursi kayu dan kemudian menggunakannya untuk duduk di hadapan Aqila. “Kalau begitu, kenapa kamu berani kabur dari rumah? Apalagi di luar sedang turun hujan salju kan?”

 

“Karena aku ingin bertemu denganmu, Rein.” Aqila menyeruput cokelat panas di tangannya, lalu melanjutkan, “Ayo kita pergi ke luar negeri, Rein.”

 

“Kau gila!” Seru Rein yang terperanjat dan hampir jatuh dari kursinya.

 

“Kupikir ramalan nenek itu ada benarnya. Kita bisa pergi ke luar negeri, jadi tak ada siapa pun—bahkan orang tuaku sekalipun—yang bisa melarangku untuk bersama denganmu setiap saat, Rein.”

 

Rein ingin berteriak sekali lagi, tapi ia mengurungkan niatnya saat melihat butiran-butiran air mata itu mengalir dari mata Aqila. Gadis ini serius.

 

“Ayah dan ibu melarangku untuk pergi ke tempatmu. Aku terus menunggu Rein datang ke rumah untuk menjemputku bermain, tapi kau tak pernah datang. Jadi kuputuskan pergi saja dari rumah, menyelinap ketika ayah dan ibu sudah tidur. Dan berharap kita bisa pergi bersama.”

 

“Tapi kau tidak bisa pergi begitu saja meninggalkan orang tuamu di sini? Apa kau tak memikirkan perasaan mereka, Aqila?”

 

“Biar saja!” Aqila berteriak tegas. “Ayah dan ibuku tak mengerti seberapa besar aku mencintaimu, Rein.”

 

Tanpa berkata apa-apa lagi, Rein langsung memeluk Aqila, mendekapnya erat. “Kamu tidak boleh egois seperti itu, Aqila. Bagaimanapun juga mereka itu orang tuamu.”

 

“Tapi....” Aqila terisak.

 

“Tenanglah,” Rein mengusap-usap rambut Aqila yang basah karena dinginnya salju. “Kalau memang Tuhan menakdirkan kita untuk bersama, Dia pasti memberikan kita jalan yang terbaik untuk melalui semua ini. Percayalah padaku.”

 

Aqila menengadahkan kepalanya. Ditatapnya wajah Rein yang tenang. Begitu dewasa, ia jadi merasa sangat kekanak-kanakan, meski memang kenyataannya Aqila masih seorang gadis belia yang belum seharusnya mengenal cinta.

 

Aqila melepaskan diri dari pelukan Rein. Ia menyeka wajahnya yang merah karena air mata. “Baiklah. Aku akan pulang, tapi biarkan aku menemanimu malam ini.”

 

Rein mengulas senyum.

 

“Oh iya, aku juga ingin mengembalikan syal biru milikmu ini.” Aqila melepaskan syal yang ia balutkan di leher dan kemudian membalutkannya di leher Rein. “Aku senang melihatmu memakai syal itu. Warnanya sangat cocok denganmu, kau jadi terlihat lebih tampan, Rein.”

 

“Kalau kau memang menyukainya, aku akan terus memakainya sampai besok pagi.”

 

Mereka berdua pun tertawa hangat di tengah malam yang dingin ini. Aqila bahkan melupakan tangisannya tadi. “Oh iya, ngomong-ngomong, Rein sedang apa? Kenapa belum tidur?”

 

“Ah, biasa, membuat pesanan sepatu. Besok pagi harus sudah selesai, karena itu aku melembur malam ini.”

 

“Boleh aku menemanimu membuat sepatu?”

 

“Tentu saja, tapi kau harus janji untuk pulang ke rumah besok pagi-pagi sekali dan takkan pernah mencoba kabur dari rumah lagi.”

 

“Baiklah, aku berjanji. Karena aku percaya padamu Rein. Pasti akan ada jalan keluar untuk kita.”

 

Malam itu, di tengah sinar cahaya lampu yang redup dan ditemani dinginnya suasana malam yang diselimuti padatnya hujan salju, Aqila memerhatikan Rein membuat sepatu sambil berbincang akan banyak hal. Awalnya perbincangan mereka terdengar ramai hingga pada akhirnya tak terdengar lagi suara dari mulut Aqila. Ia tertidur bertepatan dengan selesainya sepatu pesanan yang tengah dikerjakan Rein.

 

Rein mengamati wajah polos Aqila yang tertidur di sampingnya. Rein beranjak dari tempat duduknya dan memindahkan Aqila untuk tidur di atas sofa di ruang kerjanya, kemudian ia mengambil sebuah kotak dari gudang. Dari dalam kotak itu terdapat bahan sepatu yang selanjutnya akan ia buat. Kali ini, kain pola itu berwarna merah cerah yang indah, dan malam itu ia mengerjakan satu pasang sepatu lagi. Sepasang sepatu yang sudah lama ingin ia buat.

 

~ *** ~

 

Aqila terbangun karena sinar matahari yang merangkak masuk melalui jendela. Ia terbangun dan melihat Rein yang tertidur di meja kerjanya. Di meja itu terdapat sepasang sepatu merah cantik dengan telapak sepatu yang di bagian tumitnya sedikit lebih tinggi. Sepatu yang cocok digunakan di pesta dansa.

 

Beruntung sekali wanita yang memesan sepatu ini. Ia memerhatikan sepatu yang cantik itu dan membayangkan jika saja ia yang mengenakan sepatu itu dan berdansa dengan Rein di sebuah acara pesta dansa di istana kerajaan. Aqila kemudian tersadar dari lamunannya. Ia sudah telanjur berjanji pada Rein untuk segera pulang pagi ini.

 

“Rein, aku pulang ya,” Aqila berpamitan, namun Rein bergeming dalam posisinya.

 

“Rein....” Aqila membangunkan Rein sekali lagi, namun Rein tak merespons apa-apa. Aqila mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Rein, namun Rein tetap saja diam. Tubuhnya malah terjatuh dari kursi.

 

Aqila panik. Ia ingin berlari ke luar meminta bantuan, namun suara genta tiba-tiba terdengar. Theo, pemuda yang bekerja paruh waktu di toko Rein, kebetulan datang lebih pagi sebelum waktunya toko dibuka. Aqila menceritakan tentang Rein yang tak bangun dari tidurnya dan Theo pun memeriksanya.

 

“Aqila, Rein sudah meninggal.”

 

~ *** ~

 

Siang itu, prosesi pemakaman Reinhart sang pemilik toko sepatu dilangsungkan. Tak banyak orang yang mengantar jenazah Rein masuk ke liang kubur, mengingat Rein terbiasa hidup seorang diri. Dari semua orang yang datang ke pemakaman, terlihat Aqila-lah yang menangis tersedu-sedu. Saat orang-orang mulai pergi dari makam, Aqila masih berdiri di sana, tanpa alas kaki. Ya, ia membiarkan sepatu merah kesayangannya itu terkubur bersama Rein, sang kekasih yang ia percayai sebagai pasangan hidupnya.

 

Semuanya hanyalah omong kosong belaka. Ramalan, janji yang mereka ucapkan, semuanya hilang begitu saja. Aqila merasa ingin marah kepada sang nenek peramal itu. Seharusnya ia mendengarkan nasihat Rein untuk tidak terlalu percaya pada ramalan. Kini, Aqila tak tahu harus berbuat apa. Ia hanya teringat perkataan Rein malam itu.

 

Jalani saja hidupmu, dan buatlah ramalanmu sendiri.

 

Mengingat hal itu membuat Aqila merasa sedikit lebih tenang, meski ia tak tahu harus bagaimana sekarang.

 

“Aqila, bisa kita bicara sebentar?”

 

Suara seorang pria terdengar dari belakang. Aqila menengok dan di sana Theo berdiri. Theo mengajak Aqila ke toko sepatu dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

 

“Rein sakit jantung?” Aqila tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan karena selama ini ia tak pernah melihat Rein yang kesakitan atau melihat Rein saat meminum obat. Dan kenapa Rein tak menceritakan ini kepadanya?

 

“Paman Rein menceritakan semuanya padaku. Tentang dia yang mulai mabuk-mabukan sejak ditinggal pergi keluarganya, usahanya dalam mencoba untuk bunuh diri, sampai akhirnya dokter mengatakan kalau jantungnya tak kuat lagi. Sejak saat itu ia sadar kalau tanpa berusaha untuk bunuh diri, dalam waktu dekat ia akan meninggal.

 

“Dalam sisa waktunya itu, ia mencoba menekuni hobinya yang sempat tertinggalkan di masa-masa depresinya, yaitu membuat sepatu. Karena itulah ia membuat toko sepatu kecil di sini. Semuanya berjalan baik-baik saja sampai ia bertemu dengan seorang gadis kecil yang terluka di pasar.”

 

“Itu aku.” Momen saat pertama kali Aqila bertemu dengan Rein mengalir deras dalam kepalanya saat ini, dan mengingat hal itu membuat air matanya mengalir.

 

“Ya, sejak saat itu, ia berubah. Ia menjaga kesehatannya. Mengurangi konsumsi alkoholnya, pola makannya pun teratur. Bahkan aku pun tak percaya saat Paman Rein menceritakan semuanya padaku. Dia tampak sehat-sehat saja.”

 

Theo berhenti. Ia membiarkan Aqila menangis. Setidaknya itulah yang bisa ia lakukan.

 

“Aku tak menyangka kalau ia akan meninggal setelah menyelesaikan sepatu itu.”

 

Aqila mengurangi tangisnya untuk bertanya, “Sepatu pesanan itu?”

 

Theo menggelengkan kepalanya. “Bukan, tapi sepatu merah yang khusus ia buat untukmu, Aqila.” Theo pergi mengambil sepatu merah yang sejak tadi berada di atas meja kerja Rein. Ia meletakkannya di dalam sebuah kotak sepatu yang kosong dan memberikannya kepada Aqila.

 

“Sepatu ini untukku?”

 

“Ya,” jawab Theo. “Sudah lama ia ingin membuat sepatu merah itu untukmu. Sepatu yang memang dibuat dengan penuh rasa cinta kepada orang yang layak memakainya, yaitu kamu.”

 

“Tapi, sepatu ini ukurannya terlalu besar untuk kupakai.”

 

“Karena memang Paman Rein bermaksud membuat sepatu yang bisa kaugunakan tujuh hingga sembilan tahun lagi, saat kau sudah sepenuhnya dewasa. Ia pernah berkata padaku bahwa ia membayangkan kamu mengenakan sepatu itu, mengenakan gaun yang warnanya sepadan, dan berdansa dengan orang yang benar-benar kaucintai nantinya.” Theo berhenti sebentar. Sebagai pria yang perasaannya mudah tersentuh, ia pun menangis—apalagi di hadapannya ada gadis kecil yang menangis keras sejak tadi. Ia mengatur napas sebelum melanjutkan kalimatnya. “Paman Rein tahu kalau ia mungkin tak sempat melihatmu beranjak dewasa dan menikah, karena itu ia ingin membuatkanmu hadiah. Sebuah hadiah yang menjadi perwakilan dirinya di masa-masa indahmu nanti.”

 

Aqila memeluk erat sepatu merah barunya itu dan air matanya mengalir lebih deras hingga malam menjelang.

 

~ *** ~

 

“Aqila, kau yakin tidak mau ikut ke pesta perayaan kelahiran anak raja di istana malam ini?”

 

Delapan tahun telah berlalu. Aqila kini tinggal di sebuah negeri di seberang laut sana, Negeri Melodia. Negeri di mana masyarakatnya sangat berbakat di bidang seni, terutama seni musik. Bersama temannya, Aqila membuka sebuah toko roti bermodalkan sejumlah uang pemberian orang tuanya dan resep rahasia yang ia ciptakan sendiri.

 

“Tidak, Liana. Sudah berapa kali kubilang bahwa aku tidak bisa berdansa. Lagi pula, tak ada yang mengajakku datang ke pesta nanti malam.”

 

“Bagaimana mau ada yang mengajakmu ke pesta kalau setiap hari kau di dapur saja membuat roti seperti ini?” Sindir Liana yang sedang sibuk memilih-milih gaun untuk dikenakan nanti malam sementara Aqila sibuk membuat roti di dapur.

 

“Ah, sudahlah, kau pergi saja bersama kekasih barumu yang pintar bermain gitar itu.”

 

“Nah, itu dia masalahnya. Aku belum punya sepatu untuk pesta nanti,” keluh Liana.

 

“Sepatu ya?” Aqila mengingat-ingat sesuatu. “Sepertinya aku punya sepasang sepatu di kamarku. Kaupakai saja kalau mau, Liana.”

 

Liana bergegas ke kamar Aqila. Tak lama, ia kembali sambil berteriak, “Aqila! Kau tidak bilang kalau kau mempunyai dua pasang sepatu?!”

 

Aqila menoleh, Liana sedang berdiri menatapnya dengan dua pasang sepatu di tangan kanan dan kirinya. Salah satunya adalah sepasang sepatu berwarna merah.

 

“Oh, sepatu merah itu sudah rusak. Aku merusaknya saat kupaksa dipakai untuk bermain sewaktu kecil dulu.”

 

“Tapi sepatu ini masih bisa diperbaiki. Dan aku heran saja kau memiliki sepatu berwarna merah ini. Selama aku mengenalmu, aku tak pernah melihat kau menyukai barang-barang berwarna merah.”

 

Aqila memasukkan loyang terakhir ke dalam oven. “Bilang saja kalau kamu ingin memaksaku untuk membetulkan sepatu itu dan ikut ke pesta nanti malam kan?

 

Liana mengangguk dan memberikan sorot mata yang tak bisa ditolak oleh Aqila. Ia pun menuruti kemauan Liana untuk memperbaiki sepatu itu.

 

Sesungguhnya Aqila belum pernah benar-benar memakai sepatu itu. Selain karena ukurannya yang kebesaran di kaki Aqila sewaktu kecil dulu, ia juga ingin mengubur masa lalunya dengan Rein. Ia menyimpan sepatu itu dan menghindari semua hal yang berwarna merah, karena hal tersebut bisa mengingatkannya pada Rein. Tapi pada akhirnya Liana menemukan sepatu ini dan mau tak mau ia menurut pada sahabatnya itu.

 

Dalam perjalanan mencari toko sepatu di kota, Aqila disapa oleh sosok yang tak asing baginya, meski sudah bertahun-tahun tak bertemu.

 

“Selamat siang, Nona!”

 

Aqila terperangah saat melihat sosok yang menyapanya. “Ah! Nenek peramal?” Aqila terkejut saat melihat nenek peramal itu bisa berada di negeri yang jauh dari rumahnya dulu. Namun, yang paling mengherankan adalah nenek itu tak terlihat semakin tua walau delapan tahun telah berlalu. “Nek, kalau soal ramalan, aku takkan pernah percaya lagi pada ramalan. Ramalan nenek tentangku waktu itu saja meleset.

 

Nenek itu tertawa pelan dan berkata, “Ramalanku tak pernah meleset, Nona.”

 

“Ah, mana buktinya? Rein meninggal sebelum kami sempat menikah dan hidup bersama.”

 

Nenek itu pun menjawab dengan jawaban yang tak terduga. “Karena di hari inilah ramalan itu akan terjadi.”

 

Aqila mengerutkan keningnya, tak mengerti. “Maksud nenek?”

 

Sekelebat, angin kencang bertiup di sekitar Aqila. Pasir dan debu yang terbawa angin memaksa Aqila untuk melindungi matanya. Saat angin berhenti bertiup, Aqila membuka kembali matanya dan nenek peramal itu sudah tidak ada di sana, menghilang bersama angin yang aneh itu.

 

Aqila tak mengindahkan perkataan nenek tadi. Sudah cukup ia dipermainkan dengan ramalan. Kini Aqila kembali berjalan mencari toko sepatu. Ia terus berjalan sampai akhirnya ia tiba di sebuah toko sepatu yang rasanya tak asing baginya.

 

Saat memasuki pintu depan toko itu, sebuah suara genta berbunyi. Perasaan déjà vu pun muncul. Toko sepatu dengan desain interior yang sama dengan toko sepatu yang selalu ia datangi saat masih kecil dulu terpampang di depan matanya. Meja kasir persis di sebelah kanan pintu, di sebelah kiri terdapat jendela besar yang dihiasi dengan sepatu yang ditata rapi sehingga pengunjung yang lewat bisa melihat sepatu terbaik di toko ini, detail-detail lainnya pun sama persis dengan yang ada di ingatan Aqila, hanya saja ada satu hal yang sedikit berbeda. Di sudut ruangan, terdapat satu buah rak khusus yang di dalamnya tersusun beberapa pasang sepatu berwarna merah dengan bermacam-macam modelnya.

 

Dari arah belakang—yang kalau benar toko ini mirip dengan toko sepatu Rein, seharusnya dari ruang kerja—terdengar bunyi gaduh. Tak lama, seorang pemuda berambut pendek rapi dengan kacamata yang melengkapi wajahnya keluar menemuinya. Pemuda itu tampak seumuran dengan Aqila.

 

“Ah, maaf, aku sedang membuat sepatu di belakang.” Pemuda tampan itu memandangi Aqila yang jelas tampak kebingungan. “Hei, sepatu itu....” Ia menunjuk ke sepatu yang dipegang Aqila. “Itu... sepatu yang selalu muncul di dalam mimpiku. Bagaimana kau bisa memilikinya?”

 

Aqila kebingungan, tapi ia pun menjawab, “Ah, ini pemberian dari teman lamaku. Bisakah kau memperbaikinya?”

 

“Tentu saja. Tak ada sepatu yang tak bisa kuperbaiki.”

 

Aqila dan pemuda itu bercerita banyak hal. Aqila memerhatikan pemuda itu memperbaiki sepatu kenangannya di ruang kerja. Ia jadi teringat dengan Rein.

 

“Akhir-akhir ini aku memimpikan tentang sepatu ini,” kata pemuda itu. “Aku hafal tak pernah ingat bentuk pastinya, tapi aku ingat betul warna merahnya. Mungkin sewaktu datang tadi kau sempat melihat sepatu-sepatu merah yang coba kubuat untuk menyamai sepatu yang ada di mimpiku. Dari semua sepatu itu, tak ada yang membuatku puas. “

 

“Kenapa kau bersikeras ingin membuatnya?” Tanya Aqila, penasaran.

 

“Karena di dalam mimpiku, seorang nenek pernah berkata bahwa sepasang sepatu merah—“

 

“—akan mempertemukanmu dengan cinta sejatimu,” potong Aqila yang diikuti dengan rasa heran di wajah pemuda itu.

 

“Bagaimana kau bisa tahu?”

 

“Karena....” Aqila terdiam, namun sedetik kemudian raut wajahnya berubah. Ia menyadari sesuatu dan kemudian tersenyum lebar. “Ah, lupakan saja. Bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke pesta di istana? Kau belum mengajak orang lain kan?”

 

“Wah, baru kali ini ada perempuan yang mengajakku ke pesta.” Muka pemuda itu memerah, tersipu malu. Ia pun segera menyerahkan sepatu merah Aqila begitu selesai diperbaiki. “Oh, iya, namaku Therrian, panggil saja ‘Ian.’” Ian menjulurkan tangannya.

 

Aqila pun menyambar tangan itu dan memperkenalkan diri. “Namaku Aqila. Senang berkenalan denganmu.”

 

~ *** ~

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Sepatu Merah (7 years 26 weeks ago)
80

seperti kata paman Shinichi, cerita ini kurang efisien dan temponya lambat...aku rasa ini bisa jadi cerpen kalau kamu rela memotong-motong beberapa bagiannya...

Dan aku baru tahu ternyata ada penulis yang menghidap spectrophobia dan fotografizophobia di sini, sama sepertiku...(nggak penting ya, -_-)

kesimpulannya, cerita ini sudah cukup bagus.... :)

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Sepatu Merah (7 years 26 weeks ago)

Aaaa~~ ternyata ada juga orang yang sepertiku. akut dengan cermin dan difoto. *terharu* :')

Writer astavita
astavita at Sepatu Merah (7 years 26 weeks ago)
80

bagus kok ,enggak bosen bacanya, mungkin skip-skip dikit pas di deskripsinya tapi cukup penasaran buat tahu akhirnya :) tapi tetep setuju kalau ini kepanjangan buat jadi cerpen hehehe

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Sepatu Merah (7 years 26 weeks ago)

niat awalnya mau bikin cerpen, eh malah jadi novelet. :D Keasyikan nulis kayaknya jadi kepanjangan begini.

Writer Shinichi
Shinichi at Sepatu Merah (7 years 26 weeks ago)
80

saya akan tetap bilang "cerpen" ini terlalu panjang dan bercerita layaknya sebuah novel. 10 ribu kata lebih. mengamati bagian awalnya, saya bahkan yakin kamu bisa memangkas lima paragraf awal itu menjadi satu saja. konsep cerpen yakni yang bisa dibaca sekali duduk saja baiknya diperhatikan. cara umum yang biasa digunakan cerpenis adalah memulai konflik sedini mungkin. di sini, dirimu merasa perlu narasi setting yang sebenarnya bisa dikonsep satu-satu kalimat ketika adegan di pasar berlangsung. efisiensi.

saya pikir itu adalah hal penting yang bisa saya komentarin. mungkin penulis memang harus membangun suasana demi memunculkan kesan tertentu di benak pembaca pada ceritanya. tapi detil begini rasanya terlalu berisiko membuat pembaca cepat bosan. apalagi "tempo" cerpen ini cenderung lambat karena rasanya memang dirimu ingin bertutur selengkap-lengkap dan serunut-runutnya. menurut saya, terlalu berisiko dan kurang efisien aja gitu.

ada beberapa bagian, konteks, yang membikin saya bertanya. pertama, kamu terlalu lama mengulur waktu sampai adegan di mana Rein mengatakan Aqila belum mengenal cinta itu apa. gelagat Aqila seharusnya bisa dideteksi lebih dini oleh Rein. apalagi ketika Aqila tidak lagi menggunakan embel-embel "paman" saat menyebut Rein. akibatnya ya cerita ini menggemuk lebih besar lagi.

hal lain yang mungkin nggak bisa saya buktikan secara pasti adalah konsistensi total pada cerita. cerpen kamu bersetting suatu negeri dengan empat musim. ini bukan di Indonesia. jelasnya lagi karena penggunaan nama Reinhart (ini nama Jerman bukan?) dia pernah jadi pemabuk (?). Jerman memang kuat tradisi ngebirnya, bukan? terus, negeri ini ada festival dengan kembang api. sudah jelas ini bukan lokal. namun mengapa tokoh Aqila ini memanggil nama untuk menggantikan kata ganti orang kedua tunggal. menurut saya itu hanya terjadi di negeri kita ini. tak mengapa ia menyebut "kau" seperti ia menyebut "aku". gaya bicara seperti itu membuat ketimpangan menurut saya.

saya pikir itu aja yang bisa saya bilang. beberapa adegan di cerita ini nggak vital, seperti festival tsb. Ibu Aqila lebih oke bila sudah memperingatkan Rein soal gelagat putrinya (apalagi sudah melihatnya mengigau) secara empat mata, mengingat Aqila masih terlalu belia dalam hal roman waktu itu. membicarakannya di depan Aqila dan Rein kurang pas rasanya. lalu dengan demikian adegan festival tak perlu ada. cerpen ini lebih ringkas tapi nggak kehilangan kesan dan inti cerita.

kira-kira seperti itu deh. cerita ini bernarasi oke. runut yang nggak rumit. semua serasa nyata saja ketika membaca kalimat pertama. hal itu, mungkin seperti dua sisi koin: bisa membuat pembaca menikmati sekaligus bosan karena tidak ada indikasi sesuatu yang menarik. semoga berkenan :)
kip nulis dan kalakupand.
ahak hak hak

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Sepatu Merah (7 years 26 weeks ago)

Bukan malah jadi novelet ya kalo di antara 7.500 - 17.500 kata? (hasil googling)

Tadinya juga ga mau panjang-panjang, Bang... entah mengapa malah jadi panjang gini. Hahaha... Mungkin juga karena di cerita sebelumnya Bang Shinichi bilang kalau ceritanya terlalu cepat dan penulis ingin buru-buru sampai ke ending. Dengan mempertimbangkan hal itu, saya mencoba untuk tak mengulangi kesalahan yang sama, makanya dicoba agak tidak terburu-buru. Eh, malah ga efisien ya? Baiklah.... kalau ga gini ya ga belajar namanya.

Maksudnya "cerita ini menggemuk lebih besar lagi" itu seperti apa? Apa jadi gendut dan harus diet? Hihihi....

Nah, soal setting.... saya mencoba membuat sebuah dunia sendiri, bukan Indonesia, bukan pula Jerman. Di bagian akhir cerita, saya sisipkan kata "Negeri Melodia" yang mengacu pada cerita saya sebelumnya. Rencananya saya mau buat beberapa cerita dengan settingan dunia yang sama, kemudian ada satu cerita akhir yang di mana kesemua setting atau cerita itu bertemu. (kalau di pikiran sih kelihatan keren, ga tahu deh kalau dibuat nanti bagaimana)

Dan satu lagi... "kalakupand" itu apa? Hehehehe.... Makasih ya, Bang Shinichi yang keren. :3 Komentar darimu selalu memaksaku untuk terus belajar.

Writer Shinichi
Shinichi at Sepatu Merah (7 years 26 weeks ago)

soal kalakupand, bisa dicek di mari >> http://chrisatherside.blogspot.com/2014/03/pengertian-dan-penggunaan-kat...

ahak hak hak

Writer Napitoe
Napitoe at Sepatu Merah (7 years 27 weeks ago)

keren - keren nih artikel yang ada di komunitas ini. mantap..

Writer melanilily
melanilily at Sepatu Merah (7 years 27 weeks ago)
90

bagus bangettttt, sedih ceritanya tp happy ending..
semangattt yaahh.. suka banget sm ceritabta.. (^_^)

Writer madingpost
madingpost at Sepatu Merah (7 years 27 weeks ago)
80

Waw luar biasa sekali... Semangat terus yah dalam berkarya. Saya suka gaya tulisannya.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Sepatu Merah (7 years 27 weeks ago)

Akhirnya ada yang berani baca samai akhir. Pasti bosen ya karena kepanjangan?
Makasih ya~~