Jejak Sang Ibu

“Bang Agus, tolongin saya bang, ini ada soal logaritma yang susah, jengkel saya ndak bisa ngerjain” ujar seorang wanita berparas cantik, Rini namanya.

“Mana Rin? Ohh, ini soalnya gampang kok. Begini caranya…” balas Agus, lelaki tampan berkacamata.

Di salah satu sudut kelas di sebuah universitas negeri ternama di Jogjakarta, dengan logat jowo nya, Agus menjelaskan dan menjabarkan soal algoritma yang sulit. Dari dulu Rini sangat menyukai Agus, selain berparas tampan dan pintar, Agus juga sesosok pria yang taat beribadah. Namun Agus memiliki kisah yang tidak diketahui hampir semua orang.

~11 Tahun Yang Lalu~

Di salah satu gubuk di kampung wijen, hidup sebuah keluarga kecil. Keluarga itu adalah Agus dan Ibunya yang bernama Fatimah. Dulu Agus dan kedua orangtuanya hidup harmonis di gubuk tua itu. Namun, Sang Ayah meninggal ketika sedang mencari ikan di laut. Waktu itu Agus masih berumur lima tahun. Sejak itu Agus dan Ibunya terus berjuang melawan lapar. Ibunya bekerja sebagai pedagang sayur di pasar wijen, sedangkan Agus mencari sayur liar di hutan wijen. Kegiatan itu terus mereka lakukan selama enam tahun.

Suatu pagi yang cerah, Agus tak diperbolehkan untuk mencari sayuran liar dan disuruh langsung berangkat sekolah oleh sang Ibu. Agus juga mendapat pelukan hangat serta ubi jalar matang untuk bekal di sekolah. Sungguh aneh, pikir Agus. Karena ia tahu bahwa ibunya tidak pernah menyuruhnya langsung berangkat sekolah. Biasanya, ia disuruh mencari tanaman liar dulu untuk dijual di pasar. Tetapi Agus tak terlalu menggusarkan hal itu. "Mungkin Ibu ingin aku datang ke sekolah lebih awal" pikir Agus. "Agus pamit dulu ya bu, Assalamualaikum" ucap Agus bermaksud pamit. "Iya, hati-hati ya nak" balas Bu Fatimah. Agus langsung menyambar sepeda kecilnya yang berwarna biru laut dan bergegas menuju sekolah. 

Sore pun tiba, hujan deras mendera kampung wijen. Agus yang baru saja pulang dari sekolah berjarak satu kilometer dari gubuknya terlihat kebingungan mencari ibunya. “Bu! Ibu! Ibu dimana?!” teriak Agus yang masih berpakaian seragam. Setelah melepas baju dan tasnya yang basah karena hujan, Agus lalu mencari ke seluruh ruangan di gubuk itu. Walaupun ruangan di gubuk itu hanya ada dua, Agus tetap gigih mencari Ibunya. Tapi rasa panik dan tersiksa karena lapar telah teraduk menjadi satu, membuat kepalanya sangat nyeri.

Ibunya pun masih tak kunjung ketemu. Menyerahlah si anak malang itu. Dengan muka lusuh, bercelana merah dan badan yang telanjang basah karena kehujanan, ia pun mengingat-ingat memori tadi pagi. Sembari mengingat kenangan tadi subuh ketika ibunya masih ada, ia dengan tidak sengaja melihat ke sudut meja, ia menemukan sepucuk surat. “Surat siapa ini?” Gumamnya. Dibukalah surat itu.

 

 Untuk Agus anakku.

Maafkan Ibu karena Ibu tak pernah cerita apa-apa. Maafkan Ibu karena Ibu tak pernah mengeluh tentang apapun. Maafkan Ibu karena kamu harus menempuh hidup tanpa Ibu. Nak Agus, jangan kamu bersedih karena kehilangan Ibu. Karena Ibu akan tetap ada di sisimu.

Tolong berikan surat ini kepada pakdhe Tono, dia pasti akan mengurusmu. Ibu sekarang sudah tidak bisa menemanimu lagi. Jaga kesehatanmu ya nak, belajar dan teruslah belajar, dan jangan lupa beribadah. Selamat tinggal anakku.

Dari Ibu.

 

Buliran air mata mengalir bak hujan kala Agus membaca surat kecil yang menyiratkan kesedihan itu. Tak kuasa Agus membendung kesedihan dari dalam hatinya. Seakan-akan surat itu adalah tanda perpisahan dirinya dengan Ibu.

Sembari mengusap peluh di pipinya. Ia lalu bertekad untuk mengantarkan surat itu kepada Pakdhe Tono. Ia bergegas memakai kaos olahraga yang baru dicuci, lalu memacu sepedanya yang ia parkir didepan gubuk. Hujan pun sirna. Agus melaju dengan cepat melewati semak belukar dan persimpangan. Namun ditengah perjalanan ia dikagetkan oleh suara yang memanggil namanya.

“Cah Agus! Cah Agus!” teriak sorang pria paruh baya yang sedang mengenakan sarung dan peci, pak Rukyah namanya. Pak Rukyah adalah salah satu penduduk kampung Wijen yang juga menjabat sebagai guru agama di SD Wijen tempat Agus belajar. Dan kabarnya, pak Rukyah mempunyai mata batin, bisa melihat bangsa jin.

“Wonten nopo pak? (Ada apa pak?)” tanya Agus sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan. “Sampeyan kenopo cah kok grusa grusu numpak sepeda? iki wes maghrib, ayo maghriban sek (kamu kok tergesa gesa gitu naik sepedanya? sudah maghrib lho, ayo sholat maghrib dulu)” nasehat pak Rukyah. “Kulo bade sowan dateng dalemipun Pakdhe kula Pak. Inggih pak, maturnuwun (saya mau mengunjungi rumah pakde saya pak, iya pak terimakasih)” balas Agus bernada sopan sambil mengeluarkan sarung di tas sekolahnya yang setiap hari ia bawa.

Bersama dengan pak Rukyah, Agus menuntun sepedanya menuju masjid tua tidak jauh dari tempat mereka bertegur sapa, masjid Al-Anwar namanya. Masjid itu sangat tua sampai-sampai ada bagian tembok yang retak dimakan usia. Di pinggir masjid terdapat pohon bambu berjejer-jejer. Dan di halaman masjid tumbuh pohon mangga yang sangat besar dan terlihat tua.

Sesampainya mereka di masjid tua namun besar itu, pak Rukyah lalu menuju shaf paling depan dan bersiap sholat sunnah. Sedangkan Agus harus menaruh sepedanya dulu di tempat parkir. Namun ketika Agus merantai ban sepedanya. Betapa terkejutnya ia ketika melirik ke salah satu sudut masjid, di pohon mangga tua itu, terdapat sesosok wanita tua yang menatapnya tajam, rambutnya putih, badannya kecil membungkuk dan berbaju putih kusam, wajahnya tak terlihat karena gelap, tetapi tatapannya terasa menusuk sukma. Bahkan seluruh rambut di tangan Agus pun ikut merinding. Sontak terdengar suara Muadzin ber iqomah. Karena belum berwudhu dan tak kuasa menahan takut, ia langsung berlari menuju tempat wudhu. Setelah mengambil air wudhu, ia mengintip mangga tua itu, sosok itu sudah tak terlihat lagi. 

Setelah menjalankan sholat maghrib berjamaah, Agus berpamitan kepada pak Rukyah untuk melanjutkan perjalanan. “Pak Kula pamit rumiyen nggeh, Bade ngelanjutaken perjalanan dateng griyanipun Pakdhe Tono (Pak saya pamit dulu ya, mau melanjutkan perjalanan ke rumah nya pakde Tono)” kata Agus dengan logat krama inggilnya.

“Iyo cah, ati-ati yo, Pak Tono lek gak salah iku omahe nang kampung sebelah yo cah? Iki enek sego bungkus, panganen yo lek luwe, karo lek sampeyan nang dalan diganggu jin, wocoen Ayat Al Kursi sampek jin e ilang (Iya nak, hati-hati ya, Pak Tono itu kalau tidak salah rumahnya di kampung sebelah ya nak? Ini ada nasi bungkus, makanlah ketika lapar, dan jika kamu diganggu jin, baca saja Ayat Al Kursi biar jinnya hilang)” nasehat pak Rukyah. Senyumannya terlihat begitu tulus.

“Inggih pak, kulo ngertos, maturnuwun nggih pak (Iya pak saya mengerti, terima kasih ya Pak)” Kata Agus sembari melepas rantai di ban sepeda dan menaruhnya di badan sepeda. Setelah Agus menyium tangan pak Rukyah, ia langsung melanjutkan perjalannya menuju kampung sebelah tempat Pakdhenya tinggal, kampung Napak Tilas.

Jarak antara Kampung Wijen dan Kampung Napak Tilas cukup jauh, kurang lebih 60 menit lamanya jika ditempuh dengan bersepeda. Sedangkan Agus masih mencapai daerah tepian kampung Wijen. Kampung Wijen dan Napak Tilas dibatasi oleh dua masjid tua yang telah dibangun beratus tahun yang lalu. Kampung Wijen diwakili oleh Masjid Al-Anwar, sedangkan Kampung Napak Tilas diwakili oleh Masjid Saka Tunggal. Jalan menuju perbatasan kampung Napak Tilas cukup sepi dan sempit, hanya cukup untuk dilalui dua sepeda ontel. Di sekitar jalan dihias dengan berbagai macam pohon, ada pohon beringin, pohon bambu, sawo, hingga pohon pisang. Biasanya warga melakukan perjalanan antar kampung pada pagi dan siang hari, karena takut ditampaki jin jika lewat waktu maghrib.

Malam itu Agus mengayuh sepeda kecilnya dengan cepat, pandangannya lurus ke depan. Tak ingin lagi ia melirik kanan kiri, karena kejadian ketika di masjid tadi masih tertancap di pikirannya. Di campur dengan keberadaan Ibunya yang menghilang secara misterius. Hatinya pun gundah gulana.

“Ya Tuhan, mengapa semua ini terjadi pada diriku?” keluhnya dalam hati. Sambil mengayuh sepeda, ia membayangkan wajah ibunya pagi sebelum menghilang. “Astaga, aku tidak boleh melamun!” gumamnya. Tiba-tiba ada sesuatu yang mengusik Agus.

“Ngiiik, ngiiik, ngiiik”, terdengar suara sepeda tua yang mengikuti Agus dari belakang. Bunyi kayuhan sepeda tua itu menggema di sela-sela jalan yang sepi. ”Siapa gerangan itu?” Gumam Agus penasaran. Ketika Agus mencoba menoleh ke belakang, betapa terkejutnya ia ketika melihat sesosok makhluk yang sudah tak asing lagi baginya. Sesosok makhluk yang sudah menjadi legenda kampung Wijen.

*Bersambung*

Read previous post:  
Read next post:  
Writer vanzoelska
vanzoelska at Jejak Sang Ibu (6 years 34 weeks ago)

sepintas kayak hachi yg di kartun saat aku berumur 5th.
"hei!! dia adalah Agus!! Hachi yang kau lihat adalah lebah!! ayo kita nyanyikan ini bersama!~~Hachi anak yang sebatang kara, pergi mencari ibunya, di malam yang sangat dingin, teringat mamaaaaaa~~."

*enngggggggg.
ahaahaha.
bagus kok kak rirant, hehe keep writting:)

Writer Dem Aileen
Dem Aileen at Jejak Sang Ibu (8 years 19 weeks ago)
60

Wew, udah di borong sama momodnya :D anggap aja itu komen Dem diwakilin momod #plak
.
Salam kenal~

Writer rirant
rirant at Jejak Sang Ibu (6 years 36 weeks ago)

Terimakasih sudah mampir dan rating ^_^ maaf baru sempet bales setahun kemudian hehe..

Writer Shinichi
Shinichi at Jejak Sang Ibu (8 years 20 weeks ago)
50

btw, penulisan "dimana" itu dipisah. trus kalimat ini >> Walaupun ruangan di gubuk itu hanya ada dua, Agus tetap gigih mencari Ibunya. saya bingung gimana logikanya itu. "walaupun" merupakan konjungsi penyungguhan yang menghubungkan hal, peristiwa, atau tindakan terjadi pada klausa utama sebuah kalimat manjemuk. ada dua klausa yang mana bisa dipertukarkan bila terdapat konjungsi penyungguhan (walaupun). bila itu diterapkan pada kalimat tsb maka hasilnya bisa begini:
.
Agus tetap gigih mencari Ibunya walaupun ruangan di gubuk itu hanya dua.
.
bagaimana logikanya seseorang tetap gigih dengan alasan tsb? maksud saya, susunan dan penggunaan konjungsi tsb benar adanya. tapi mengapa gigih tsb dikaitkan dengan jumlah ruangan? rasanya akan lebih masuk akal (logis) bila Agus tetap gigih mencari Ibunya walau sudah sekian jam nggak ketemu-ketemu juga. atau saya yg lebih mudah menerka logika yang sederhana seperti: Dia masih sempat belajar, walaupun selalu bekerja membantu ibunya sepanjang hari. atau, Walaupun gigih mencari, Agus tetap tidak menemukan Ibunya. atau bentuk yang lain: Walaupun hanya ada dua ruangan, Agus tetap tidak menemukan Ibunya di mana-mana. rasanya logika yang begitu yang lebih bisa diterima. atau ada yang lain?
.
Lalu pada kalimat ini musti ada tanda koma lagi. >> Dengan muka lusuh, bercelana merah dan badan yang telanjang basah karena kehujanan, ia pun mengingat-ingat memori tadi pagi. posisinya berada sebelum konjungsi "dan". Konjungsi "dan" di sana berfungsi sebagai kata penghubung aditif atau gabungan. saya sering mengomentari hal seperti ini juga. akan merepotkan bila kalimat tsb berisi pasangan. silahkan googling untuk lebih jelasnya.
.
dan masih di paragraf yang sama, terdapat kata penjelas yang keliru cara menuliskannya, yakni: Gumamnya. kata penjelas seperti ini nggak boleh diawali kapital karena itu masih satu kesatuan dengan kalimat langsung sebelumnya. secara otomatis, aplikasi pengolah dokumen yang kita gunakan (Ms. Office) akan membuatnya kapital karena tanda tanya yang mengakhiri kalimat langsung tersebut, atau tanda titik. itu keliru secara EyD.
.
saya pikir, cukuplah soal tata bahasa. berikutnya adalah soal isi cerita. saya nggak komentar menyeluruh, namun ada satu hal yang mengganjal ketika saya sampai pada bagian Agus membaca surat yang ditinggalkan ibunya. ini lebih soal reaksi. coba deh, bagaimana reaksi seorang anak yang tiba-tiba, tanpa angin apa-apa, menemukan surat ibunya begitu? atau kamu dulu memosisikan diri sebagai Agus. apakah reaksi kamu adalah sedih? tentu kamu sedih. Agus juga sedih sebagai reaksi normalnya sebagai anak. siapa sih yang nggak sedih ditinggal ibunya? namun, berdasarkan kronologi seperti itu, menurut saya reaksi normal yang pertama muncul bukan sedih, melainkan kaget. kaget kan? syok, penuh tanda tanya. mengapa? Agus tidak terindikasi soal kejadian tsb. ia tak punya pikiran apa-apa sebelumnya. mengapa ia malah sedih dan bukan bertanya-tanya alasan ibunya pergi?
.
kira-kira itu saja dulu. semoga berkenan dan kip nulis.

Writer rirant
rirant at Jejak Sang Ibu (8 years 20 weeks ago)

wah teliti banget nih bang Sinichi :D
kritikan dan pelajarannya benar-benar sangat mengena dan membangun. Dan juga menambah wawasan saya mengenai dunia menulis.
Saya pasti akan keep nulis, dapet komentar seperti ini saya makin lebih semangat nulis :D
Maturnuwun nggih bang.

Writer testoramo
testoramo at Jejak Sang Ibu (8 years 20 weeks ago)
80

Good ^^b

Writer rirant
rirant at Jejak Sang Ibu (8 years 20 weeks ago)

Terimakasih, kelanjutannya akan saya post bentar lagi ^_^

Writer Ann Siswodiharjo
Ann Siswodiharjo at Jejak Sang Ibu (8 years 20 weeks ago)

Lah, lagi seru malah bersambung.

Writer rirant
rirant at Jejak Sang Ibu (8 years 20 weeks ago)

hehe kelanjutannya akan saya post sebentar lagi, maaf menunggu lama :D

Writer ahmadsaktia
ahmadsaktia at Jejak Sang Ibu (8 years 20 weeks ago)
80

Semakin maju kok malah horor, hadi penasaran. :D

Writer rirant
rirant at Jejak Sang Ibu (8 years 20 weeks ago)

terimakasih bintangnya, kelanjutannya akan saya post sebentar lagi :D

Writer jepeel
jepeel at Jejak Sang Ibu (8 years 20 weeks ago)

Ditunggu kelanjutannya :D

Writer rirant
rirant at Jejak Sang Ibu (8 years 20 weeks ago)

terima kasih, maaf menunggu lama :D