Thrown: (1) Mendarat

Bayangkan sebuah bar kelas menengah yang ramai untuk memulai cerita ini. Bar itu bersuasana remang-remang dengan pencahayaan paling terang di langit-langit ruang sempit memanjang di belakang meja bar. Pelanggan yang kebanyakan adalah pekerja berbagai bidang menempati meja-meja bundar dan meja bar, ditemani gelas bir maupun botol wiski. Sebagian besar dari mereka biasa datang ke bar sempit ini untuk melepas suntuk dengan mengobrol atau minum-minum. Pantas saja bar itu bernama "Drink & Tell". Pelanggannya datang untuk minum dan mengatakan apa pun yang ada di pikirannya, kepada teman maupun orang asing, dalam keadaan sehat maupun teler.

Jika Anda berharap bertemu dengan tokoh penggerak cerita ini di bar itu, Anda salah besar. Saya hanya meminta Anda untuk membayangkan suasana Drink and Tell yang melatarbelakangi pertemuan kita dengan tokoh penggerak, bukan untuk bertemu dengannya. Sebab, dia tidak ada di sana. Dua jam yang lalu dia memang ada di sana; menenggak wiski sampai mabuk. Kepada bartender yang telah dia kenal, dia meracau tak jelas tentang pekerjaannya, gadis yang dia kejar, dan ibunya yang belakangan rajin sekali menelepon. Setelah bartender menyarankannya untuk berhenti minum dan pergi istirahat, dia meninggalkan kursi tinggi dan berjalan terhuyung sambil terus meracau ke arah kamar mandi.

Kita tidak akan bertemu dengannya di kamar mandi, tentu saja. Sekarang kita berada di dalam sebuah kamar dan saya mengasumsikan Anda sedang duduk di satu-satunya kursi kayu di dalam kamar itu.

Kamar itu berdinding kayu yang dicat putih tanpa menutupi garis-garis antarkayunya. Lantainya juga kayu, tapi ditutupi karpet putih gading tebal yang sayangnya kasar dan berdebu. Ada sebuah tempat tidur yang hanya cukup untuk satu orang, menempel di salah satu dinding dalam ruangan berukuran 4 x 4 meter itu. Seprai dan selimutnya sangat rapi seperti belum pernah ditempati. Memang tidak ada barang selain milik penginapan yang mengesankan kamar itu sedang ditempati. Tapi, coba mendongaklah dari buku atau gadget yang sedang Anda pegang untuk membaca cerita ini. Di tengah ruangan, di atas karpet yang berdebu, seseorang tengah terkapar dengan pakaian berantakan dan wajah pucat. Dialah orang yang akan Anda ikuti dalam cerita ini.

Sirius Arjuna mendapati kesadarannya mulai mengambil kendali. Dia menggerakkan kepala sambil mengerang. Perlahan kedua matanya membuka. Langit-langit putih bermandikan cahaya mentari di atasnya tampak asing. Arjuna melihat ke sekeliling. Tempat ini memang asing. Satu pertanyaan yang langsung muncul memaksanya mendudukkan diri.

"Di mana ini?" tanyanya serak kepada diri sendiri. Arjuna menggaruk-garuk rambut pendeknya sambil celingak-celinguk dengan pikiran blank.

Pemuda itu duduk saja di sana selama beberapa menit. Dia sedang berusaha mengingat kejadian sebelumnya untuk mencari tahu apa yang membuatnya berakhir di kamar serbaputih ini. Dari tubuhnya yang berbau alkohol, dia ingat berjalan pulang dari kantor tempatnya kerja magang, menggerutu sepanjang jalan karena kesal diperlakukan tak adil oleh bos, lalu memutuskan untuk mampir ke Drink & Tell. Dia ingat mengobrol dengan Tomy, bartender yang juga adik kelasnya semasa SMA. Dia juga ingat Tomy berkata "Lo mulai mabok, Bang" ketika dia baru saja meneguk botol ketiga. Arjuna yakin dia tidak mau berhenti minum sampai benar-benar teler. Ingatan terakhirnya samar-samar; Arjuna tersandung di kamar mandi. Tahu-tahu, dia berada di kamar ini.

"Mungkin gue pingsan?" gumam Arjuna tak yakin. Ia meraba-raba kepala dan wajah, mencurigai adanya luka. Tapi ia tidak menemukannya. Dia masih sehat. Bahkan hangover pun tak terasa. Aneh.

Arjuna ingat mimpinya tadi lebih aneh lagi. Ia tidak ingat apa yang sebenarnya terjadi, yang jelas tubuhnya terjatuh ke lorong vertikal yang sangat dalam dan gelap sampai dasarnya tak terlihat. Cermin-cermin berbagai bentuk juga terjun bersamanya. Mereka seperti melayang di sekelilingnya. Anehnya, Arjuna dapat melihat wajah orang-orang yang dikenalnya di cermin-cermin itu. Ada wajah bosnya, gadis yang dikejarnya, ayahnya, dan ibunya.

Ketika bangun tadi, Arjuna merasa dirinya baru saja mendarat di dasar lubang itu. Kepalanya senat-senut meski hanya sebentar. Tapi tubuhnya baik-baik saja; tadi itu memang hanya mimpi.

Arjuna menengok jam tangannya dan seketika membelalakkan mata. "Kucing kawin! Udah jam segini?! Telat kuliah, dong, gue?!" Dia buru-buru berdiri dan dengan panik mencari pintu keluar. Pertama-tama dia membuka pintu lemari. Kedua, pintu kamar mandi. Ketiga, pintu lemari lagi. Bagaimana, sih, dia ini?

Hei, pintunya di atas.

Arjuna mendongak. Pintu yang dicarinya memang terletak di langit-langit. Ada tangga lipat yang dapat ditarik turun dan dinaiki. "Oke, thanks," ucapnya singkat. Dia melompat-lompat untuk meraih tangga lipat itu. Begitu tangannya menggenggam besi dingin tangga itu dan menariknya turun, gerak-gerik tubuhnya terhenti.

Dia menoleh ke belakang. Tidak ada orang. Siapa yang tadi ngomong sama gue? batinnya terkejut.

Sudah, naiki saja tangga itu dan cepat keluar, kataku. Ada dunia yang perlu kamu kenali di luar sana.

"Oh my God," gumamnya. Matanya melebar. "Kamar ini berhantu. Sial, sial, sial!" Terburu-buru Arjuna meluruskan tangga. Dia mengangkat satu kaki untuk mulai menapak besi anak tangga pertama, tapi suaraku membuatnya panik dan tergelincir.

Aku bukan hantu, kataku. Aku suara dalam pikiranmu.

"Bodo, bodo, bodo!" Arjuna berusaha menepis suara selain miliknya sendiri di dalam kepalanya. Ia mengangkat kaki lagi dan berhasil naik. Didorongnya pintu kamar yang sangat aneh itu--warnanya juga putih dan penampilannya sama seperti pintu kamar pada umumnya, hanya letaknya saja yang kurang wajar. Pemandangan yang langsung tersaji di depan mata adalah ban mobil yang bergerak cepat ke arahnya.

"Dadu kotak!" umpatnya terkejut sambil refleks menurunkan kepala dan menutup pintu. Ban mobil itu melindas pintu alih-alih kepalanya. "A-Apa itu tadi?!" tanyanya syok.

Dibukanya pintu itu lagi, kali ini dengan hati-hati. Baru sedikit saja, sudah ada mobil lewat lagi. Pintu itu kembali ditutup dan dilindas.

Arjuna melihat sekeliling. "Tempat apa, sih, ini?!" teriaknya panik.

Ruangan ini terletak di bawah jalan raya, jelasku. Kamu harus hati-hati kalau mau keluar.

"Hah?! Setan itu lagi!" Arjuna memalingkan muka ke atas. "Gue nggak punya pilihan lain, nih?! Siaaal! Siapa, sih, yang ngerjain gue kayak gini?! Nggak lucu, tau nggak, woi!"

Tidak ada yang mengerjai kamu. Buka saja pintu itu dengan hati-hati. Dengarkan dulu suara jalannya. Tunggu sampai sepi.

Arjuna tidak mau mendengarkanku. Dia membuka pintu saat itu juga. Detik berikutnya, pintu itu tertabrak sebuah mobil. Suaranya yang sangat keras membuat Arjuna refleks merendahkan tubuh. Potongan-potongan kayu kecil berjatuhan di sekitar kepalanya. Arjuna tidak menunggu lama untuk naik dan keluar ke jalan. Ia berlari ke pinggir jalan, mengabaikan orang-orang di jalan pedestrian maupun di dalam mobil lain yang menatap ke arah kekacauan yang dibuatnya. Arjuna berjalan cepat di jalan pedestrian yang salah satu sisinya dipenuhi pertokoan sambil memikirkan rumah yang dikontraknya bersama teman-teman kuliah. Lupakan kuliah. Ia ingin pulang saja! Namun, tak butuh waktu lama bagi Arjuna untuk menyadari hal lain: ia tidak mengenali jalan ini.

Dan tiba-tiba saja udara terasa sangat dingin.

"Brr... Tiba-tiba dingin banget. Ini di mana, sih?!" Arjuna bertanya jengkel sambil memeluk dirinya sendiri. Meski tidak merasa pertanyaan itu ditujukan kepadaku, aku menjawab saja.

Ini Kota Logue. Kamu sekarang berada di Betelgeuse.

Salah menganggap suaraku sebagai suara pikirannya sendiri, Arjuna menukas ketus. "Nggak ada tempat kayak gitu di Jakarta! Lagian--" Arjuna celingukan sebentar. "Tempat ini nggak kayak Jakarta! Pasti Bandung!"

Ini memang bukan Jakarta, Arjuna, juga bukan Bandung, bantahku. Ini Logue, ibu kota Betel--

"Ini Jepang!" sela Arjuna. Orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar mengingatkannya pada pejalan kaki di Jepang. Tata kotanya sangat rapi, kebersihan jalan dan trotoar juga sangat terjaga. Tapi wajah-wajah Melayu yang mirip dengannya membuat keyakinannya luntur dengan cepat. Tapi kok muka-mukanya kayak orang Indonesia, sih? tanyanya tak mengerti.

Arjuna berhenti di depan sebuah toko sayur kecil dan spontan bertanya kepada seorang pria yang berdiri di belakang kardus penuh kobis. "Permisi, Pak. Boleh tanya sebentar? Ini jalan apa, ya?"

Pria itu menoleh dan mengerjap kaget. "Jalan Logue 1st," jawabnya, dengan bahasa Indonesia yang lancar tapi berlogat asing. L-nya terdengar kental, r-nya hampir tak terdengar sama sekali.

"Log--Apa?"

"Logue 1st."

"Eh, anu... Tolong tuliskan di sini saja." Arjuna buru-buru merogohi saku jaket dan mengeluarkan ponsel hitamnya. Pria itu mengetik di layar selebar lima inchinya dengan canggung. "Makasih, Pak," ucap Arjuna sambil memaksakan senyum setelah selesai. Ia kembali berjalan. Dibacanya nama jalan yang kini ia lalui.

Logue 1st. Baru kali ini ia mendengarnya.

Langkah Arjuna melambat seiring otaknya berputar keras memikirkan sesuatu. Ia mulai melibatkan informasi-informasi yang kuberikan tadi. Kedua matanya melebar tak percaya. Lagi-lagi secara spontan ia berhenti. Kali ini dicegatnya salah seorang pejalan kaki.

"Permisi. Boleh tanya sebentar?" Arjuna menghentikan seorang gadis bermantel tebal yang tingginya hanya sepundaknya. Gadis berambut sebahu itu menatapnya dengan mata besar bersorot waspada. "Ini... Kota apa, ya?" tanya Arjuna, agak tak percaya diri karena takut dianggap aneh. Dia memang aneh, sih, kalau boleh kubilang.

"Logue," jawab gadis itu tanpa mengubah ekspresi waspadanya.

Arjuna mengerutkan kening. Logue lagi yang disebut. Pelafalannya mirip pelafalan suku kata terakhir "dialogue".

"Logue?" ulang Arjuna, merasakan nama itu sangat asing di lidahnya. "Ng... Ini... Kita di kabupaten atau provinsi apa, ya? Masih di Indonesia kan?"

"Indonisia?" Giliran gadis itu yang mengulang dengan pengucapan sangat asing.

"Iya, Indonesia," Arjuna mengulang sekaligus mengoreksi.

Gadis itu mengerutkan kening dan menggeleng-geleng. "Kita ada di Betelgeuse," jawabnya. Lagi-lagi bahasa Indonesia berlogat aneh. Huruf d-nya terdengar sangat dangkal, seperti diucapkan dengan lidah di belakang deretan gigi alih-alih langit-langit mulut. Mungkin karena gadis itu cedal?

Dan... Ada di mana mereka tadi? Betel--apa?

"Bisa tolong tuliskan di sini?" Arjuna menyodorkan ponselnya. Gadis itu mengetikkan Betelgeuse dengan sangat cepat. Arjuna menatap hasilnya dan mengucapkannya pelan dengan pelafalan seperti yang didengarnya dari gadis itu. "Betelgeuse... Ini kabupaten, provinsi, atau negara?" tanyanya kemudian.

"Negara," jawab gadis itu. "Apakah Anda musafir?" tanyanya, tampaknya mulai memahami ketidaktahuan Arjuna.

"Saya dari Jakarta," jawab Arjuna. "Tahu-tahu aja ada di sini. Kayaknya saya sedang dikerjai. Jangan-jangan ini kerjaan Showtrap, ya?" cerocosnya, menyebutkan nama acara sebuah televisi swasta yang isinya hanya tentang mengerjai orang.

Ekspresi gadis itu berubah. Kerutan di keningnya semakin dalam. "Maaf, saya tidak terlalu mengerti apa yang Anda katakan," katanya sopan.

Alis Arjuna terangkat tinggi. "Oh, maaf," ucapnya spontan. Memangnya mananya yang sulit dimengerti dari cerocosannya tadi? Ia juga menggunakan bahasa Indonesia. Hanya saja tidak sebaku seformal si gadis. "Ng... Jadi, sebenarnya kita masih di Indonesia kan?" tanyanya penuh harap.

"Ini Betelgeuse, Pak. Bukan Indonesia," jawab gadis itu. Suaranya menegas seakan-akan menunjukkan kejengkelan. "Logue adalah ibu kota Betelgeuse. Betelgeuse adalah sebuah negara. Jika Anda ingin informasi lebih lengkap, silakan mengunjungi kantor Pusat Informasi. Dari sini, Anda berjalan lurus sampai simpang empat. Lalu berbeloklah ke kanan. Kantor Pusat Informasi hanya lima puluh meter dari simpang empat."

"Oh, makas--"

"Permisi."

Gadis itu beranjak pergi seakan-akan tak ingin diajak bicara lagi.

Arjuna memutuskan untuk mendatangi kantor yang dimaksud. Sepanjang perjalanan yang dilakukannya dengan berjalan biasa sambil menahan dingin, Arjuna bertanya-tanya tanpa henti.

Logue? Bukan di Jakarta? Bukan juga di Indonesia? Betelgeuse? Kedengarannya seperti nama-nama tempat di cerita fantasi. Anehnya, kota ini semodern dan semaju Jepang, dengan tata kota dan pedestrian yang mirip. Wajah orang-orangnya tipikal Asia Tenggara alih-alih Asia Timur, walaupun yang seperti orang Jepang--atau Cina? Atau Korea? Mungkin Taiwan? Arjuna tak yakin--juga ada. Mereka berbicara dalam bahasa Indonesia berlogat aneh. Atau mungkin Arjuna seharusnya menyebutnya bahasa Betelgeuse?

Arjuna menampar pipinya keras-keras.

"Auch!" Ia mengaduh sakit sampai dipandangi beberapa pejalan kaki yang memerhatikan. Arjuna mengusap-usap pipinya yang terasa panas. Gila, ini bukan mimpi, gumamnya.

Ah, nggak, nggak, Arjuna menggeleng-geleng keras. "Gue masih di Bumi. Gue nggak mungkin terlempar ke alam lain kayak di film-film. Ini mungkin Jepang, dua orang yang gue tanyai tadi kebetulan ngerti bahasa Indonesia. Pasti begitu! Dan jawaban mereka tadi cuma omong kosong! Mereka cuma sedang akting! Mungkin mereka terobsesi film dan sedang main role-play kan? Ya! Harus begitu!"

Itu cuma sugesti, Arjuna--

"Dan gue mungkin sedang kesurupan karena ada yang ngomong terus di dalam kepala gue!" teriak Arjuna frustrasi. Ia memutuskan untuk lari. Tujuannya masih Kantor Pusat Informasi. Arjuna yakin orang-orang di sana dapat meluruskan semua ini. Membantunya meyakinkan diri bahwa ia masih waras. Ia juga ingin bertanya di mana dukun atau kyai terdekat untuk menghilangkan jin di dalam kepalanya. Setelah itu ia akan bertanya bagaimana caranya pulang ke Jakarta; di mana bandara internasional terdekat dan berapa harga tiketnya.

Aku ingin memberitahunya bahwa semua itu cuma sugesti. Tapi, mau bagaimana lagi. Dia masih bingung. Perasaannya kalut. Pikirannya belum jernih. Jika aku bicara lagi, dia tidak akan mendengarkanku. Jadi, biar dia begitu dulu. Akan ada saat di mana dia akan mendengarkanku, meski saat itu ia masih sulit percaya dirinya kini berada di peradaban yang berbeda dengan yang selama ini dihuninya.

Kita akan berjumpa lagi di bab selanjutnya.**

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Thrown: (1) Mendarat (7 years 28 weeks ago)
80

narator berinteraksi dengan pembaca dan juga karakter cerita itu ide yang bagus...

Ceritanya juga menarik, menunjukkan seseorang yang terlempar ke dunia fantasi. Namun sifat Arjuna ini kok seperti anak sekolahan ya (belum begitu dewasa). Kalau dia orang dewasa yang sudah bekerja (apalagi laki-laki) jalan pikirannya akan lebih bijaksana dan logis...ah, ini hanya pendapatku saja...abaikan...:)

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Thrown: (1) Mendarat (7 years 28 weeks ago)

karakter arjuna memang sengaja kurang (atau belum) dewasa kk, jadi bisa dipastikan dia ini nyebelin :D *halah*
makasih sudah mampir :D

Writer Ao-Chan
Ao-Chan at Thrown: (1) Mendarat (7 years 28 weeks ago)
80

sepertinya menarik walau sedikit rumit. di tunggu kelanjutannya. .
^^

Writer rifkaazzahra
rifkaazzahra at Thrown: (1) Mendarat (7 years 28 weeks ago)

oke thank you udah baca kk :D