Nokturnal (Titipan Sang Bulan untuk Kegelapan)

Apa yang akan terjadi jika kau beraktivitas lewat dari tengah malam? Apakah akan ada perampok yang menghampirimu, wanita jalang, para lelaki hidung belang, para preman pasaran, atau setan dan roh-roh yang gentayangan?

Kehidupan malam yang diterangi bulan dan bintang yang memesona, harus rusak dengan hal-hal negatif dari pemikiran orang-orang egois seperti mereka. Apakah mereka tidak tahu? kalau pembunuh dan pencuri banyak yang berkeliaran di siang hari juga? Begitu juga dengan lelaki hidung belang dan para wanita jalang penggoda yang mata duitan itu.

Tapi, setidaknya hantu atau apapun itu yang berhubungan dengan roh-roh tidak ada di siang hari, bukan? Apa itu benar? Entahlah, aku tidak peduli akan hal itu.

Karena menurutku, malam itu jauh lebih indah dan memesona.

Nokturnal (Titipan Sang Bulan untuk Kegelapan)

By: zhaErza

Rate: Dewasa (Mengandung unsur kriminal dan pembunuhan)

Genre: Gore, Crime, Hurt/Comfort, Suspence, Angsty, Family and Little Romance.

.

.

.

Selamat Membaca ^.^

.

.

.

Hari ini hujan turun dan aku terlalu malas untuk pergi ke kampus tempatku untuk menuntut ilmu.

Terlalu mengantuk.

Mungkin orang-orang seusiaku selalu menghabiskan masa-masa bahagia mereka dengan normal, seperti mengobrol, jalan-jalan atau bermesraan dengan kekasihnya masing-masing.

Tapi bagiku—seorang Karina Morten, itu terlalu menjijikkan.

Lihatlah orang-orang itu! Mereka sama sekali tidak memikirkan yang lainnya selain dunia mereka sendiri, hanya memikirkan diri dan kepuasan pribadi. Orang-orang bermuka dua dan selalu menganggap diri merekalah yang paling benar di dunia ini. Egios bukan.

Yang kuat menghancurkan yang lemah. Sang pemenang meludah kepada sang pecundang. Yang salah dibela dan yang benar ditindas habis-habisan. Dunia ini memuakkan.

Bukankah orang-orang seperti mereka lebih pantas mati? Itu hanya pendapatku.

.

.

.

Jam sudah menunjukan pukul 3 sore, beberapa jam lagi aku harus berangkat ke kampus. Aku masih mengantuk dan hujan juga masih belum reda.

Menggerakkan kakiku dengan malas, kemudian aku menuju ke dapur untuk mencari makanan.

Hanya menemukan Mie instan di dalam lemari dapur, aku memutuskan untuk menyeduhnya dengan air panas, menunggu beberapa menit dan matanglah makanan instan itu.

Jam 5 sore, aku bersiap-siap, kemudian berangkat ke kampus yang tidak jauh dari apartemenku. Ke kampus dengan berjalan kaki melewati jalan sepi yang kujadikan jalan pintas untuk sampai ke kampusku.

Sesampai di kampus, aku langsung masuk ke kelasku yang masih kosong. Oh, sudah ada seseorang di sana. Dia selalu datang lebih awal dariku. Jimmy Russell, sang dosen yang merupakan paling diincar seantero kampus. Dasar bodoh, dosen yang menunggu mahasiswanya.

Masih satu jam lagi sebelum mata kuliah pertama dimulai. Aku hanya menguap bosan.

.

Kuliah sudah usai, aku bergegas keluar dari kampus ini, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Begitu keluar kampus, aku langsung menarik nafas dalam dan mengembuskannya lega. Inilah yang paling kusuka. Kuangkat wajahku menatap langit yang penuh dengan bintang kerlap-kerlip dan bulan yang nyaris purnama, indah.

.

Sepi.

Aku berjalan menuju sebuah taman bunga, lalu memetik beberapa bunga mawar yang tumbuh di sana. Setelah mendapatkannya, aku menggerakkan kakinya menuju suatu tempat.

Menggenggam beberapa bunga ditanganku, kemudian aku masuk ke dalam tempat pemakaman umum di sudut kota ini. Terus berjalan sampai aku menemukan sebuah nisan bertuliskan nama kedua orang tuaku yang telah mati.

"Ayah, Ibu. Aku datang, ini hadiah kecil untuk kalian berdua." Ucapku dengan mata menatap nisan itu dingin.

Setelah aku meletakkan bunga itu di makam mereka, aku menggerakkan kakiku menuju jalan raya.

"Apa yang kaulakukan di sini?" tanyaku kepada pria yang mengikutiku dari tadi.

Dia hanya diam.

"Kau mau ke mana? Ini sudah malam, ayo pulang!" ucapnya kemudian, tanpa menjawab pertanyaanku.

Aku membalikkan tubuhku dan taraaa ... seperti tebakkanku, Jimmy Russell berdiri tepat di depanku.

"Cih, bukan urusanmu." Ucapku kemudian.

Aku melihat Jimmy mengeraskan wajahnya, dia sedang marah sepertinya, tapi aku tidak peduli. Membalikkan tubuhku, aku kemudian melanjutkan perjalananku yang tertunda.

Aku terhenti kembali—tidak, kali ini aku dihentikan paksa oleh lelaki bermata sehitam batu onyx itu. Dia menahan pergelangan tanganku kemudian menarikku dengan kuat, sehingga aku berbalik arah menjadi kembali menghadapnya dan kali ini jarak kami lebih dekat.

Dia juga menahanku dengan memegangi pinggangku dengan tangannya yang kuat. Ck, sialan.

"Lepas!" ucapku datar dengan menatap mata onyx-nya.

"Jangan bertingkah yang aneh-aneh, Karina," Ucapnya dengan tetap menahanku lebih kuat karena aku berontak.

"Aku bilang lepaskan aku, Russell," Ucapku sedikit berteriak di depan wajahnya.

"Kau juga Russell, Karina."

Ucapannya kali ini benar-benar membuatku semakin membencinya, sialan, brengsek. Berani-beraninya dia.

"Jangan bicara sembarangan, aku tidak sudi dengan marga sialanmu itu."

.

Normal POV

Karina semakin berontak dari Jimmy, tapi lelaki itu tidak sedikitpun ada niat untuk melepaskan Karina.

"Karina, bagaimanapun kau itu masih istriku! Dan aku tidak akan membiarkanmu melakukannya lagi." Ucap Jimmy.

"Dengar ya! Aku sudah bilang bahwa aku tidak sudi. Kalian semua para Russell brengsek, apakah sudah puas mengambil semuanya dariku? Ayah dan Ibuku, seluruh kekayaan keluargaku. Keluargamu bahkan merencanakan pernikahan ini hanya untuk mencari celah dari kelemahan perusahaan kami dan kemudian mengambil alih semuanya. Bukankan seharusnya kau senang, Russell?" ucap Karina panjang lebar dengan pekikan kuat mengarah ke wajah Jimmy. Karina kemudian tertawa remeh ketika melihat Jimmy belum juga menjawab pertanyaanya.

"Russell, kalianlah yang menjadikanku begini. Inilah aku sekarang, kehidupanku sangat indah. Aku rela melakukannya setiap malam dan itu sangat menyenangkan ketika aku merobek-robek tubuh orang-orang seperti kalian dan giliranmu akan segera tiba. Russell."

Jimmy menatap Karina dengan prihatin. Ya, Karina menjadi begini karena keluarganya. Keluarganya yang sangat brengsek. Merebut semua kebahagian wanita itu dan membunuh kedua orang tuanya. Ketika Karina tahu bahwa dalang dari segala hal yang terjadi adalah Russell dan merupakan mertuanya sendiri, gadis itu perlahan-lahar berubah menjadi pembunuh berdarah dingin, yang membunuh kedua orang tua Jimmy dengan cara yang tidak pernah di sangka oleh lelaki itu.

Jimmy masih ingat bagaimana saat dia menemukan istrinya yang berada di dalam kamar kedua orang tuanya pada waktu dini hari dan terduduk sambil menikamkan pisau di seluruh tubuh ayah dan ibunya.

Karina malah menampakkan senyum yang mengerikan saat Jimmy menghentikannya, dan saat itu Jimmy sadar ada yang salah dengan wanitanya.

Keluarga Jimmy yang kaya raya, menyembunyikan kasus ini dan Jimmy memutuskan untuk membawa Karina kepada seorang psikiater dan psikoterapi.

Satu tahun berlalu, Karina minta cerai tapi Jimmy menolak mentah-mentah. Hingga suatu hari Karina melarikan diri dari rumah mereka dan Jimmy tidak menemukannya di mana pun.

Dua tahun mencari, Jimmy mendapat informasi kalau Karina ada di sebuah pinggiran kota kecil di Meksiko, tempat kelahirannya. Lelaki itu langsung menyusul istrinya ke kota di mana wanita itu berada.

Suatu fakta yang sangat menyakitkan, saat Jimmy tahu kalau Karina merupakan pembunuh bayaran. Entah dari mana Karina mendapatkan pekerjaan dan keahlian mengerikan itu, yang pasti saat membunuh, Karina sama sekali tidak akan meninggalkan jejak sedikitpun.

Mengikuti ke mana Karina pergi, itulah pekerjaan Jimmy dan menggagalkan aksi pembunuhan Karina.

"Lepaskan, RUSSELL!" Teriak Karina nyalang. Untung saja situasi sedang sepi karena sudah jam 11 malam lewat.

Jimmy tidak menanggapi Karina dan malah mengangkat tubuhnya di bahu lelaki itu. dia membawanya ke dalam mobil lalu menjalankannya.

Jimmy membawa Karina ke dalam rumahnya yang ditinggalinya seorang diri, rumah yang bentuknya persis sama seperti rumah mereka dulu saat masih tinggal bersama.

.

Jimmy membawa tubuh istrinya yang telah dibuatnya pingsan, bukan hal yang sulit karena mau sehebat apapun saat Karina membunuh orang-orang itu, Jimmy masih laki-laki yang jauh lebih kuat darinya.

Meletakkannya di ranjangnya, Jimmy kemudian memandangi Karina dengan perasaan yang tidak menentu. Bagaimana mungkin gadis polos yang selalu tersenyum saat pertunangan mereka—bisa bertamafose menjadi pembunuh mengerikan seperti ini? Jimmy bahkan tahu banyak pemberitaan tentang politisi yang ditemukan mati dengan hampir seluruh tubuh penuh luka robek dan kedua matanya dalam keadaan tertancap pisau.

Bahkan saat sebulan yang lalu, Jimmy memergoki Karina baru pulang ke apartemennya jam tiga pagi dan wanita itu dengan santai bilang habis membunuh jaksa bajingan.

Jimmy bahkan pernah diam-diam menyuruh seseorang kepercayaannya untuk merekam aksi pembunuhan Karina dan itu sangat membuat Jimmy sampai terbengong ketika melihat Karina yang dengan mudahnya menghilangkan nyawa seseorang dengan menyiksanya terlebih dahulu.

.

Karina berjalan ke arah rumah seorang dokter yang sedang tertidur di kamarnya, dengan pelan ia masuk ke dalam kamar lelaki yang berumur 50 tahun itu setelah memastikan rumah itu aman dari CCTV atau keamanan dan semacamnya.

Melangkah dan mendekati lelaki yang sedang tertidur itu, kemudian Karina menusukkan pisau itu ke perut lelaki yang tengar terbaring di ranjangnya.

Jlebbbb ...

Crasss ...

Darah keluar dari perut gendut lelaki itu, dan langsung membuatnya terbelalak.

Berteriak kesakitan.

"Argggg ..."

Karina tersenyum simpul ketika mendengar teriakan itu.

Lelaki itu bangun dan dengan gemetaran memegangi perutnya yang mengeluarkan darah, terengah-engah karena banyaknya darah yang keluar akibat tusukan yang dalam di perutnya.

"Mau apa KAU? PERGIII," teriak lelaki itu ketakutan.

Karina kemudian tertawa mengerikan lalu menembakkan peluru ke dada kanan lelaki itu.

Takk ...

Peluru dari pistol kedap suara itu menembus dadanya dan teriakan semakin menjadi.

Banyak darah yang keluar dari tubuhnya, kemudian Karina mendekatinya dan kembali menembak ke tangan kanan, tangan kiri dan kedua kaki lelaki tua itu.

Lelaki itu sudah lemas tidak bedaya dan hanya pasrah menerima kenyataan.

Karina bergerak maju lalu menyimpan pistolnya, kemudian mengeluarkan pisau lipat yang sangat tajam berwarna perak. Lelaki itu terbelalak saat Karina kembali menundukkan badannya dan menghadap tepat ke lelaki tua yang terbaring lemah itu.

Jlebbb ...

Tusukan itu kembali diterimanya dan Karina menggerakkan dengan kuat pisau itu ke segala arah di perut lelaki itu.

Crasshhh ...

Darah menyembur ke berbagai tempat, Karina membuka robekannnya dan terlihatlah usus pria itu, lalu perlahan Karina menarik ususnya dan kemudian mengambil pisau tadi untuk memotong usus itu.

Srekkk ...

Robekan usus pun terdengar, pula dengan teriakan parau lelaki tua itu.

"Arggghhh ... uhuk ... uhuk ... Arghhh ... hen-ti ... uhuk ..."

Karina kemudian pindah ke wajahnya dan menekankan pisau itu ke pipi lelaki yang tengah kesakitan luar biasa.

Menyayat pipi lelaki itu dan kemudian menguliti kulit pipinya, lalu merobeknya dengan cara menarik kulit pipi yang sudah dikuliti setengahnya dengan kuat dan cepat menggunakan tangan Sakura yang memakai sarung tangan khusus.

Sraakkk ...

Kembali suara robekan dari kulit pipi itu terdengar dan terlihatlah otot dan daging merah yang berdarah di bagian pipi lelaki tua itu.

Karina meraih bibir lelaki itu kemudian memasukkan pisau ke dalam mulutnya dan menggerakkan dengan kuat dan cepat pisau itu di sudut bibir lelaki itu, sehingga robeklah mulut lelaki itu. Dan terakhir untuk menghilangkan nyawa lelaki tua itu, Karina mengambil pistolnya kembali dan kemudian menembakkan pelurunya tepat di dahi lelaki itu.

Takkk ...

Bunyi dari retakan tulang kepalanya terdengar dan dengan darah yang langsung membanjiri wajah lelaki itu maka tamatlah riwayatnya sekarang.

.

Jimmy masih ingat jelas bagaimana isi rekaman dari aksi pembunuhan Karina, yang benar-benar cukup di luar dugaan. Ya, siapa yang akan menduga wanita bertubuh mungil seperti Karina adalah pembunuh berdarah dingin.

Menghembuskan nafas, ia kemudian membelai sayang kepada Karina yang terbaring di ranjang.

.

Karina mengerjabkan matanya, ia kemudian menggerakkan tubuhnya untuk sekedar bangun dan duduk di ranjang itu. Penglihatannya tidak jelas karena dirinya yang baru saja terbangun.

Kakinya yang tadinya bergerak untuk berdiri dari ranjang terhenti tiba-tiba ketika ia menyadari sesuatu hal yang membuatnya kembali memaki Karina.

Tangan kanan Karina terborgol di kepala ranjang tidur Jimmy.

Menggerakkan kasar tangannya untuk melepaskan diri dan malah membuat tangan mulus itu menjadi kemerahan dan lecet. Karina menggerakkannya dan kembali mengumpat benci.

Tidak ada yang bisa ia lakukan, setidaknya jika ia masih memiliki tas atau jepit rambut kecilnya maka mungkin ia bisa melepaskan diri, tapi sekarang ia bahkan hanya mengenakan—coret, Karina bahkan tidak mengenakan apapun di tubuhnya kecuali sebuah selimut tebal yang menutupinya.

Pantas saja tubuhnya serasa lelah dan remuk juga merasakan sakit di daerah pribadinya. Jimmy bajingan, umpat Karina kembali semakin marah dan kesal. Semua bagaikan campur aduk dalam hati dan pikirannya.

.

Jimmy masuk ke kamarnya setelah mandi dan berpakaian, mendekat ke ranjang dan melihat bahwa Karina masih tertidur pulas.

Menggerakkan tangannya, Jimmy cukup terkejut kemudian kembali dapat mengendalikan dirinya ketika tiba-tiba Karina berteriak "Singkirkan tanganmu!" sambil menatapnya tajam. Jimmy hanya mendengus melihat Karina yang masih berontak, melihat tangannya yang memerah dan bahkan sudah mengeluarkan darah, akhirnya pria tampan itu melepaskan borgol yang bersarang di tangan istri tercintanya itu—menurut Jimmy.

Tangan Karina terlepas, dengan cepat ia langsung meninju wajah Jimmy dan menarik kerah lelaki Onyx itu.

"Beraninya kau, Russell ...,"

Jimmy memegang tangan Karina yang menarik kerahnya, kemudian mengenggamnya lembut. Mencium perlahan bekas-bekas memar dan lecet kemerahan yang ada di tangan kanan Karina.

Karina berontak sekuat tenaga, tapi Jimmy terlalu kuat untuknya. Terengah karena tak kunjung lepas dari genggaman Jimmy, Karina kemudian hanya diam sambil menatap Jimmy benci.

Di lain pihak, Jimmy sama sekali tidak memperdulikan Karina yang marah dan berontak kepadanya. Ia sangat merindukan istrinya ini.

Ciuman di pergelangan tangan Karina kemudian berpindah ke jemari wanita berambut kemerahan itu, mencium dengan perlahan dan lembut di setiap buku-buku jari wanitanya. Kecupan demi kecupan ia tuangkan kepada jemari dan punggung tangan Karina. Jimmy melepaskan kecupan itu dari tangan Karina, lalu menatap wanita yang menatapnya tajam dengan lembut.

"Hentikan semuanya, kumohon!" Jimmy berucap sambil menatap Karina tak berkedip.

Karina yang mendengar ucapan Jimmy kemudian tertawa meremehkan. Pria itu bahkan memohon kepadanya, seringai keji Karina semakin terkembang saja.

"Kau bisa dipenjara dan dihukum mati akibat perbuatanmu, Karina."

"Lebih baik mati, aku sudah muak berada di dunia jahanam dan busuk ini. Mungkin aku akan melompat dari gedung atau memotong leherku, kedengarannya itu keren."

Jimmy terdiam mendengar ucapan Karina, yang entah itu ancaman atau apa. Ia benci jika melihat Karina berusaha menyakiti dirinya. Ia sudah kehilangan seluruh keluarganya, tidak lagi. Hanya Karina yang ia punya.

Istrinya tercinta, yang sudah membencinya.

Jimmy menarik Karina ke dalam pelukannya, kemudian berbisik ke telinga wanita itu.

"Tidak, tidak. Aku tidak akan membiarkan itu. Jangan, karena hanya kau alasanku hidup, Karina."

Jimmy membelai rambut Karina kemudian mencium pucuk kepala wanita itu. Karina hanya diam tidak merespon Jimmy yang terus berbisik agar Karina kembali kekeadaan normalnya, tidak melakukan hal kriminal dan berbahaya dalam keselamatan jiwanya.

"Heh, kalau begitu. Bagaimana kalau kauikut mati bersamaku, Jimmy? Kita akan bersama-sama terbebas dari kekejian ini!" ucap Karina sambil tertawa.

"Tidak, aku ingin hidup bersamamu, Karina. Hanya itu, jadi jangan merencanakan hal bodoh. Kita akan mendapatkan kebahagiaan kita. Aku janji."

Jimmy berucap kemudian mencium dahi Karina, lalu ia memeluk kembali wanita itu.

"Kita akan hidup bahagia, bersama. Bersama anak-anak kita kelak. Itu adalah impian kita bukan?"Jimmy menatap Karina yang menatap matanya kosong, wanita itu benar-benar sudah kehilangan cahayanya.

"Apa yang harus kulakukan agar kau mempercayaiku, Karina?" tanya Jimmy.

"Biarkan aku pulang."

"Tidak, kau akan melarikan diri dariku, Karina. Tidak lagi."

"Kau tahu aku tidak akan melakukan itu, lagi pula aku tidak punya arah yang ingin kutuju. Ini nomor ponselku, akan kuhubungi kau, jika kau masih tidak percaya." Karina berucap dingin dan datar kepada Jimmy yang menatap matanya dengan tajam tetapi sangat jelas tersirat tatapan menyakitkan di mata Jimmy.

.

.

.

Dua minggu setelah pertemuan Jimmy dan Karina.

Jimmy yang sedang berada di rumahnya, mendapat pesan singkat yang selama ini ditunggu-tunggunya. Ya, dari Karina. Istrinya.

From: JKarina

To: Jimmy

Jimmy, datanglah ke apartemenku sekarang.

Aku menunggumu, ada yang ingin kulakukan padamu.

Kalau kau tidak datang, mungkin kau akan menyesal seumur hidupmu.

Dari, Karina.

Jimmy meremas dada kirinya di tengah membaca pesan itu. Akhirnya Karina menghubunginya, dan apa yang ingin dibicarakan olehnya. Semoga saja itu hal baik.

Jam sebelas malam. Jimmy tiba di apatement Karina setelah satu jam lebih pesan itu di bacanya.

Memencet bel, Karina membuka pintu dan menyuruhnya masuk ke dalam.

Karina dan Jimmy berjalan ke dalam ruangan, ketika sampai di ruang tamu, Karina pun berbicara.

"Sebaiknya kita ke kamarku saja, Jimmy."

Jimmy menatap Karina sebentar, kemudian mengiyakan permintaan istrinya itu.

Mereka berduapun berjalan ke arah kamar Karina, membuka pintu kemudian mereka masuk ke dalamnya.

Lampu kamar terlihat belum dinyalakan, dan tangan Karina pun menekan saklar untuk menghidupkan penerangan.

Mengajak Jimmy untuk duduk di ranjang.

"Ada apa?" tanya Jimmy kepada Karina yang masih berdiri di depannya yang sedang duduk.

"Kenapa? Bukankah sudah kubilang ada yang ingin kulakukan kepadamu?" tanya Karina dengan suaranya yang berubah lembut.

Jimmy menatap Karina dengan datar, jujur saja hatinya sakit dan sesak untuk beberapa saat.

"Apa kau tidak suka?" tanya Karina lagi, kali ini ia membelai wajah Jimmy dan bergeliat manja di dada lelaki yang masih suaminya itu.

Jimmy menatap nanar Karina. Hatinya dengan pelan mengumamkan nama istrinya itu. 'Karina, kenapa?'

Tangan Karina membelai-belai wajah dan garis rahang Jimmy dengan pelan dan kemudian ia mencium Jimmy.

Setelah beberapa saat Karina melepaskan ciumannya yang sama sekali tidak dibalas oleh Jimmy. Kemudian, Karina bergerak menuju meja rias dan mengambil sesuatu.

Karina berjalan dengan perlahan ke arah meja riasnya dan mengambil sesuatu benda yang mungil dan paling disukai gadis dan wanita manapun di dunia ini.

Setelah menggenggamnya, Karina bergerak ke arah Jimmy.

Karina mengambil sebuah lipstik berwarna merah yang ada di meja riasnya dan ia kemudian mendekati Jimmy yang masih duduk di ranjang.

Berhadapan kembali dengan Jimmy, kemudian dia berkata.

"Apa aku kurang cantik, Jimmy?" tidak ada jawaban dari Jimmy, lelaki itu hanya menatapnya saja.

Karina membuka tutup lipstik itu, kemudian mengarahkannya kepada Jimmy.

Tekkk.

Bunyi itu terdengar disaat Karina menekan tombol untuk menaikkan lipstik itu ke atasnya. Jimmy tersenyum dan terbatuk, dia sudah tahu apa yang ada di dalam pemikiran istri tercintanya itu.

Masih tersenyum perlahan tubuh Jimmy kehilangan keseimbangan dan jatuh ke arah Karina, Jimmy merosot perlahan ke lantai. Dan terduduk di lantai dengan darah yang sudah membanjiri dada kirinya, juga mulutnya.

Pistol berbentuk lipstik itu ditembakkan Karina ke dada Jimmy dan membuat Jimmy seketika memuntahkan darah.

"Uhukk ... Ka-karinahh ...," Jimmy terbatuk dan terengah saat darah terus keluar dari tubuhnya.

"Benci aku jika kauingin, kau tahu kalau kau itu sama seperti mereka. Dan pantas mati." Ucap Karina datar.

"Hn, mungkin." Ucap Jimmy menatap Karina yang kemudian duduk di samping Jimmy.

"Kau tahu kenapa aku melakukan ini?" tanya Karina lagi.

"Kau membenciku?" Tebak Jimmy.

"Ini permintaan dari klienku dan banyak yang menginginkan kau mati. Juga aku." Ucap Karina yang menatap mata Jimmyyang sayu.

"Benarkah? Kau membenciku?" Jimmy tersenyum dan hatinya benar-benar terasa sakit.

"Mungkin, tapi ada beberapa hal yang membuatku ingin menghabisimu,"

"Karena, tidak kuceraikan? Karinaaa ..." Jimmy berucap pelan sambil mencengkram dada kirinya yang mengeluarkan darah.

"Ada apa ini? Kau yang jenius langsung menjadi bodoh karena sekarat?" ucap Karina sambil menatap Jimmy yang memandanginya sedari tadi.

"Mungkin." Ucap Jimmy sambil terbatuk untuk kesekian kalinya.

"Hah, aku melakukan ini karena kau dan keluargamu, kau yang tahu keluargamu bersalah dan membunuh ayah dan ibuku serta merampas semua milik keluargaku, hanya diam dan tidak melakukan apapun, sehingga aku harus membereskan sampah-sampah itu sendirian. Lalu, yang membuatku bertambah membencimu dan memasukkanmu ke dalam daftar orang-orang brengsek itu, karena kau tetap menjalankan perusahaanmu yang busuk itu bersama sekutu-sekutu bajingan ayah dan ibumu bersamamu, tanpa harus berbuat adil kepadaku. Kau sama seperti mereka, orang egois yang hanya memikirkan uang, uang dan uang, hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan mana yang benar. Kalian pantas mati." Jimmy hanya mendengarkan apa yang dikatakan Karina.

"Begitukah?" ucap Jimmy selanjutnya, nafasnya putus-putus dan keringat membanjiri tubuhnya, belum lagi kesadaran yang semakin menipis karena darah yang sudah banyak keluar.

"Ya, kau bersalah, Jimmy."

Menundukkan wajah, Jimmy kemudian berbicara lagi.

"Karina, bolehkah aku tidur di pangkuanmu?" tanya Jimmy kemudian menatap Karina dengan matanya yang sayu.

"Baiklah, aku mengabulkan permintaan terakhirmu sebelum kau mati."

Jimmy bergerak perlahan dan dengan susah payah akhirnya ia tidur di pangkuan Karina, kepalanya membelakangi perut Karina.

Tanpa Karina ketahui, air mata menetes di pipi tirus lelaki itu. Jimmy menangis dalam diam.

"Karinaa ... berjanjilah untuk te-terus hidup ... jagalah d-dia." Jimmy berucap lirih dan pelan.

"Ha?" Karina bingung dengan kalimat terakhir Jimmy.

"Aku ... me-mencintaimu ... selamanya, Karinaaa." Ucap Jimmy selanjutnya dengan kesadaran yang semakin menipis.

Karina tersenyum mendengar ucapan Jimmy, kemudian ia membelai dengan pelan rambut lelaki itu perlahan-lahan. Dapat dirasakannya detak jantung Jimmy semakin melemah, sampai akhirnya ia tahu kalau Jimmy sudah diam dan tidak bernafas lagi. Belaian tangan Karina di kepala Jimmy pun terhenti.

Karina menatap Jimmy yang masih tertidur di pangkuannya dengan membelakanginya, lalu ia menggerakkan Jimmy untuk menghadapnya, Karina dapat melihat wajah Jimmy yang sudah tidak bernafas lagi. Matanya tidak terpejam dan terbuka sayu, dapat dilihatnya air mata yang bercampur dengan darah menghiasi pipinya. Menggerakkan tangannya, Karina menghapus air mata Jimmy kemudian mencium dahi lelaki itu.

"Cih, aku juga ... sampah, Jimmy." Ucapnya pelan, Karinakemudian mengambil pistol yang ada di dalam Sakunya, pistol kecil itu kemudian ia gerakkan ke arah dada kirinya kemudian menembakknya di sana.

.

.

.

.

.

.

.

.

Cahaya bulan yang bersinar terlihat malu-malu memasuki ruangan kamar itu melalui celah-celah jendela.

Seorang wanita berambut kemerahan sedang duduk sambil menggenggam sebuah kertas, juga beberapa buku yang berserakan di meja tempat ia duduk. Di sampingnya, ada seorang lelaki bermasker yang setia menemaninya semenjak beberapa hari tinggal di rumah ini.

Karina menangis tersedu-sedu ketika membaca surat peninggalan dari Jimmy yang sengaja ditulisnya sebelum berangkat ke apartemen Karina dan mati di tangan Karina.

Setelah sadar dari koma akibat peluru yang menembus di dada kirinya, yang merupakan ulahnya sendiri karena ingin mengakhiri hidupnya. Beberapa minggu kemudian, Eric salah satu bawahan setia Jimmy yang juga penyelamat Karina saat itu, memberi tahukan hal ini ketika keadaannya sudah benar-benar pulih.

Karina juga semakin menangis mengetahui bahwa dirinya tengah hamil tiga bulan lebih, dan semua hal yang terjadi membuat penyesalannya benar-benar tak dapat di tuliskan dengan kata-kata.

Bukan hanya surat, buku-buku harian Jimmy pun diberikan Eric kepadanya untuk mengetahui apa isi hati Sasuke sebenarnya selama ini. Dan Karina benar-benara ingin mati, juga ingin memutar balikan waktu karenanya.

.

.

.

Untuk Karina Russell, istriku tercinta.

Dari Jimmy Russell, suamimu yang selalu setia.

Hallo, sayang. Apa kabarmu? Kuharap kau baik sekarang.

Jika kau membaca surat ini, kemungkinan kita tidak akan bisa bertemu lagi,

Padahal aku sungguh sangat merindukanmu. Sangat.

Saat kau melarikan diri, aku hampir gila karena mencarimu dan untungnya kau dapat kutemukan, sayang.

Kumohon, jangan bersedih, maafkan suamimu yang bodoh ini.

Demi Tuhan, sayang. Aku sangat mencintaimu. Sangat tulus dari hatiku.

Aku sama sekali tidak pernah menghianatimu sedikitpun, aku sama sekali tidak menahu tentang rencana kedua orang tuaku itu, maukah kau mempercayaiku, sayang?

Kau adalah istriku, kita sudah satu tahun lebih bersama, sebelum akhirnya kejadian itu menimpa kita dan kau melakukan hal itu, lalu meniggalkanku.

Bahkan aku tidak pernah membencimu sedikitpun, sayang.

Kau salah sangka terhadapku, dan aku sangat paham atas yang kaupikirkan.

Karena kau istriku, sayang. Aku bisa membaca isi hatimu dari wajah polosmu yang menggemaskan itu.

Kau salah sangka terhadapku, aku mengetahui segala hal buruk yang direncanai kedua orang tuaku beberapa hari setelah kau tahu dan aku berniat melaporkan mereka setelah semua bukti yang nyata terkumpulkan, tapi kau terlebih dahulu bertinadak dan melakukannya.

Saat itu kau meminta cerai, dan akhirnya melarikan diri. Aku menutup sebagian perusahaanku dan menyumbangkannya ke berbagai hak kemanusiaan lalu perusahaanmu tetap ada dengan nanyanya juga, dan aku membangun perusahaan baru dengan nama yang sama.

Nama itu sama, karena itu adalah pemberian leluhurku, sayang. Mereka yang merintisnya dan aku harus menghormatinya.

Semua yang ada sangkut pautnya dengan perihal itu, aku habiskan mereka ke jeruji besi dan aku melakukannya karena dirimu, Karina.

Malam itu, saat kau menghubungiku. Aku sudah tahu apa yang kaurecanakan.

Aku menerima semuanya, jika itu adalah keinginanmu dan aku terlalu tahu diri jika kau sangat membenciku. Tapi, aku selalu mencintaimu.

Ya, aku mencintaimu, aku akan melakukan apapun untukmu, bahkan jika nyawaku.

Sekarang, jangan salahkan dirimu, ini adalah salahku, sayang. Aku mencintai dirimu tapi juga mencintai keluargaku, jika aku lebih cepat bertindak, tidak akan seperti ini jadinya, sayang.

Jangan menangis, dan tetaplah hidup. Jagalah amanah yang kuberikan padamu.

Jagalah darah dagingku, yang akan selalu ada untukmu.

Jagalah dia dan lindungilah dia, beri dia cinta dan kasih sayang. Katakan padanya ketika ia lahir kelak, kalau aku sangat mencintainya dan kalian akan selalu bahagia karena aku mengawasi kalian dari surga sana. Berjanjilah, Karina. Demi anak kita kelak.

Aku mencintaimu, juga anak kita.

Saat ia lahir berilah nama ia,

Light Russell.

Yang selalu mencintai kalian,

Jimmy Russel.

.

.

.

.

The End


 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post

nyimak belajar

Silahkan ... silahkan ...
Ayo sama-sama belajar. :D

80

Msh ada typo... dan "instan" itu uda bahasa indo kok, ud ada d KBBI, jadi ga usa dibuat italic lg...
Terus... yang benar itu:
"asdfadfasd," katanya.
"asdffasdf?" katanya.
bukan: "sdafaefasd." Katanya.

Dan pas bagian menembakkan pistol, bunyinya "tak"? jujur ini sesuatu banget.. ini...beda wkwkwkwk

Tapi overall ini lumayan... (y) *keep writing

Ok, tapi kalau dialog yg akhir kalimatnya tanda titik, bukannya penjelasnya huruf besar awalnya?
Misalanya:
"Djdjdjjahhhia." Katanya.

Hehehhe masalah pistol, habisnya akunya gak tau bunyi tembakan kedap suara sih. Jadi, aku buat aja gitu. XDD

Klo ending dialognya titik, biasanya dibuat jadi:
Dia berkata, "asdakfna."
Klo mw taruh 'katanya' di blkg dialog, pake koma ga usa dikasi titik lagi:
"Aadasjdanfalf," katanya.

Hmmm suara pistol kedap suara... gatau jg sih aku kayak apa bunyinya wkwkwkwwk :))) (y)

Oh, ok. Makasih infonya ...

Ternyata kamunya juga gak tau, ya. Tapi, namanya juga pistol kedap suara, kan pastinya gak ada bunyinya?? Wkwkkwkwkk ...

Setau ku sih, meski namanya kedap suara, suaranya masih ada... cuma tipisss banget... Kayak tiupan angin gitu xP tapi entah... ahahahaha

Ohhh ...
Itu sebabnya aku buat suaranya dengan tulisan 'Tak'. Mungkin itu kaya suara waktu pelatuknya ditekan ... Mungkin -w- Hoho

90

Sebenarnya hanya pendapatku tapi cerita dikau dengan judul norkturnal agak gimana yah,yah gitulah.Soal cerita aku binggung ketika ia dipojokan mana mungkin ia membunuh,tapi ia dapat membunuh dengan kejam.Lalu ketika karina kalah dengan jimmy,membuatku bingung bukankah ia bisa saja menahan istrinya dan menceritakan sebenarnya.Lalu suruhannya yg bisa menolong karina tapi tak bisa menolong tuannya.
Ya mungkin pikiranku terlalu pendek.Maaf gak bisa kasih poin habis hp ku lemah teknologi :)

Emmm, sebenernya versi aslinya itu tentang Sakura dan Sasuke. Dan ini fanfic. Tapi, aku ubah ke model Original chara.

Eh, di sni Karina gak ada dipojokkan, kok.

Masalah Erik yang nolong Karina dan kenapa gak nolong Jimmy, kan Jimmy udah mati duluan sebelum Erik datang. :)

Dan terimakasih udah mampir, ya ...