TERAPI TAWA

"Wuahahaha...wuahahahaha.."
Riuh, tawa terdengar dari ruang sempit berukuran 3x3 m itu. Ada meja di sudut ruang, dekat dengan pintu yang menghubungkan ruang itu dengan ruang yang lebih kecil lagi dibelakang, yang mereka sebut dapur. Di atas meja, bertengger sebuah televisi 14" merk china, layarnya cembung. Tak jauh dari meja, ada sebuah lincak, bangku bambu yang dudukannya terlihat mengkilap bukan oleh plitur, tapi hasil gesekan antara bambu dan pantat orang-orang yang bergantian pernah duduk diatasnya. Ya, karena hanya itu saja tempat duduk yang bisa digunakan.

Berjejal anggota keluarga duduk di depan TV. Ada si Bapak, Emak, dan lima orang anak yang kira-kira selisih umurnya 2 tahun satu sama lain dari yg terbesar. Tapi mereka tak duduk di atas lincak, mereka menggelar tikar plastik buatan pabrik, yang tepinya sudah mulai buyar jahitannya, hingga nampak berserabutan anak-anak plastiknya.

Si Emak duduk berselonjor, punggungnya bersandar pada lincak. Di pahanya, dua anak terkecilnya duduk menggelendot, yang satu di sebelah kanan, satu lagi di sebelah kiri. Kadang-kadang si emak menyuruh mereka rebah saja di pahanya, karena pandangannya ke TV terhalang tubuh mereka.

Si bapak duduk menekuk lutut di samping istrinya, punggungnya juga bersandar pada lincak. Di jemarinya terselip sebatang rokok yang kadang-kadang lupa dihisapnya karena dia sibuk oleh tawanya. Anak tengahnya, laki laki duduk bersandar, ndusel ditengah-tengah di antara kedua belah betisnya. Sesekali anaknya protes atas asap rokok yang mengepul di atas wajahnya. Si Bapak hanya tertawa.

Dua anak terbesar duduk bersandar di kusen pintu. Umur mereka sekitar 12 dan 10 tahun. Pandangan mereka terbagi antara TV dan kertas yang berserakan di depan mereka, kertas gambar yang sudah penuh dengan coretan-coretan, ada gambar mobil, ada gambar rumah, ada gambar bunga-bunga di sekelilingnya. Tapi masiht terdengar tawa pecah dari mulut mereka.

Di layar TV, ada banyak artis yang tiba-tiba alih profesi menjadi pelakon komedi, banyak juga yang memang sudah komedian dari semula. Banyak bencong dadakan. Sepertinya, memang kini makin dibutuhkan banyak orang yang ahli mengocok tawa, ahli menggelitik urat-urat syaraf. Dan semakin saja pfofesi itu diminati. Karena mungkin makin banyak orang yang butuh untuk tertawa lepas, tanpa beban. Tertawa untuk melepaskan beban. Tertawa saja hingga lupa pada beban.

Kini lebih asik dan lebih seru menertawakan tingkah-tingkah konyol wanita-wanita cantik yang memenuhi layar kaca, tingkah yang sengaja di buat bodoh oleh banyak orang-orang terkenal, iya, lebih seru melihat mereka. Seperti keluarga Si Bapak, mereka sudah berkumpul di ruang 9m persegi itu, koor tertawa saat melihat ada salah satu orang diguyur bedak, obyek penderita, muncul di TV ya hanya tetap jadi penanggung derita, tak apa, karena dia sudah berjasa untuk membuat orang-orang yang sulit tertawa menjadi tertawa terpingkal-pingkal. Ya, si Bapak terhibur, si emak, anak-anak... Mereka lupa pada penatnya tubuh, lupa sejenak dengan tagihan abang kredit bank berjalan tadi siang, lupa dengan wajah memelas anak tertuanya ketika mengingatkan uang sumbangan pembangunan yang harus segera dilunasi, karena sudah kelas 6, sebentar lagi UNAS, semua urusan administrasi harus beres.

Lebih terhibur melihat mereka, lalu koor tertawa bersama. Dan dari sebelum maghrib sampai nanti jam sebelas malam, layar TV dipenuhi orang-orang yang sama. Hanya program itu-itu saja.

Awalnya, si Bapak senang melihat berita-berita yang disiarkan di TV. Mengikuti perkembangan negeri tercinta. Tapi lalu kepalanya menjadi berat, dadanya sesak. Panas di bakar oleh kecemburuan, emosi memenuhi dada. Si A menerima banyak uang panas untuk memuluskan proyek ini itu, lalu mengalir ke banyak wanita-wanita cantik. Si B juga begitu. Cerita tentang Gayus Tambunan dulu sudah tenggelam. Tren sudah berubah, kini pemakan uang-uang yang berkobar-kobar lebih suka menggaet wanita wanita cantik nan seksi untuk mencuci lembar-lembar rupiahnya. Tukang cuci bukan lagi seperti mbok Supini sebelah rumahnya, yang benar-benar buruh cuci pakaian tetangganya. Tukang cuci sekarang bertubuh seksi, tak dibutuhkan keahlian mencuci baju, tapi lembaran berangka yang mengalir seperti air, menggelembungkan rekening. Lalu si Bapak jengah, memikirkan kondisi negeri ini malah membuat asmanya kambuh. Biar saja, banyak orang yang lebih pandai dan lebih punya banyak waktu untuk berpikir. Dia? Waktunya sudah habis di jalan, habis untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah yang seringkali lembarannya sudah begitu kumal, yang nilainya tak seberapa, tak ada sepersekian ribunya uang-uang yang sibuk dicuci oleh banyak pejabat negeri.

Negeri ini memang sedang sakit. Tubuhnya bopeng-bopeng, bolong disana-sini. Terlalu banyak lubang tikus. Dan ketika ada tikus tertangkap, sebentar saja wajah tikus-tikus perlente itu menyatroni layar TV, mejeng di koran harian, bersliweran di internet. Sebentar kemudian sudah kalah tenar dengan isu hot pegoyang dangdut yang tertipu calon suami, atau kalah ngetop dengan berita tentang gaya sok inteleknya penyanyi cantik yang sebentar saja bahasa amburadulnya sudah merakyat dan jadi penerbit tawa, meregangkan otot-otot wajah yang sebelumnya terlihat tegang mendapati kabar tentang ibu pertiwi yang kini sedang sakit lagi. Sakit digigit tikus sana sini.

Lalu banyak orang jadi ikut sakit. Sakit hati, mungkin. Karena nasibnya tak semujur tikus-tikus itu. Yang bisa dengan mudahnya gerogot sana-sini dan dikelilingi putri-putri. Lalu kecemburuannya membuahkan umpatan, teriakan, serta cemooh. Dia ingin jadi tikus, tapi ternyata jadi tikus itu bukan perkara gampang. Harus sekolah dulu dan banyak kenal dengan kucing-kucing gagah dan cantik. Kalau tak kenal, sudah pasti bakal disergap dan habis oleh taring kucing. Ya, sudah. Akhirnya mereka hanya bisa mengumpati tikus-tikus yang sudah jadi tikus berdasi.

Tapi ada juga yang sakitnya memang benar-benar sakit. Setiap jengkal ibu pertiwi bolong, hatinya juga ikut bolong. Tiap kali angka-angka hilang dan ditemukan sedang tersekap di nomor rekening cantik, maka menangislah mereka. Air matanya bukan airmata buaya. Tapi benar-benar merasakan sakitnya ibu pertiwi namun tak tahu harus berbuat apa.

Mungkin lebih enak jadi rakyat biasa yang tinggal di pelosok, yang masih minim informasi. jarang mendengar berita ini itu. Otak mereka tak perlu susah payah berontak karena dijejali bermacam masalah yang menimpa negeri ini. Cukup bagi mereka memikirkan bahwa anak mereka bisa sekolah dan makan cukup. Bisa sekolah? Ya memang tak semuanya. Atau bahkan mereka berpikir bahwa sekolah itu tak begitu perlu. Yang penting tumbuh besar dan nantinya bisa bekerja membantu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.

Yang sering pusing kepala itu adalah rakyat perkotaan, juga pedesaan yang sudah melek teknologi. Cepat sekali kabar terdengar dan tersebar. Lalu masing-masing menanggapi dengan pemahamannya sendiri-sendiri. Tukang-tukang becak juga jadi sering diskusi ketika sedang istirahat makan siang di warung pinggir jalan. Penjual ayam di pasar juga berdebat dengan penjual sayur-mayur. Topiknya tentu saja tentang negeri tercinta ini. Tentu saja, jangan dibandingkan dengan debat para elit politik ataupun pakar ekonomi. Jelas berbeda. Lalu akhirnya mereka jadi sering terjangkit migren. Memikirkan kondisi negeri tanpa tahu bagaimana mencari solusi. Pejabat-pejabat tinggi juga sulit dipercaya lagi. Benar-benar, semua keadaan ini membuat rakyat naik tensi. Banyak orang stress karena tegangan tinggi.

Tapi, si Bapak beranak bini ini sekarang sudah tak peduli. Sudah tak ambil pusing. Mungkin juga banyak yang lain yang sama dengan mereka akan setuju dengan langkah si Bapak. Sudah, nyalakan TV jangan liat berita-berita tentang korupsi. Sudah cukup sakit kepala karena beban hidup. Mumpung masih bisa tertawa, ayo tertawa saja... Dan semua setasiun TV berlomba-lomba mengatasi stress rakyat negeri kita. Dari sore hingga malam, semua orang akan melaksanakan terapi relaksasi. Berita negeri? Biar dipikir sama orang-orang berdasi...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer geneveva_hani
geneveva_hani at TERAPI TAWA (7 years 34 weeks ago)
80

Bagus cerpennya :-)

Salam,,

Writer nixyan
nixyan at TERAPI TAWA (6 years 13 weeks ago)

Lama saya tidak mengunjungi Kekom. Salam kenal genevava_hani. Trimakasih sudah membaca

Writer testoramo
testoramo at TERAPI TAWA (7 years 35 weeks ago)
60

Haha

Writer nixyan
nixyan at TERAPI TAWA (6 years 13 weeks ago)

Hehe...,
Salam, testoramo...:)

Writer Mahe
Mahe at TERAPI TAWA (7 years 37 weeks ago)
90

Ceritanya keren!! Walau judulnya terkesan humor tapi endingnya.. beh!!

Writer nixyan
nixyan at TERAPI TAWA (6 years 13 weeks ago)

Hai, Mahe :) Trims yaaa

Writer Mahe
Mahe at TERAPI TAWA (7 years 37 weeks ago)
90

Ceritanya keren!! Walau judulnya terkesan humor tapi endingnya.. beh!!

Writer AhmadFajar
AhmadFajar at TERAPI TAWA (7 years 37 weeks ago)

hahahaahhahaahahha....

Writer nixyan
nixyan at TERAPI TAWA (6 years 13 weeks ago)

Heheheheheee
Salam kenal, AhmadFajar... :)