Quête Pour Le Château de Phantasm - Season 2 - E04

(1)

“SYAHAHAHAHA! AKU AKAN KEMBALI LAGI SAAT BULAN PENUH BERSINAR, JADI SEBAIKNYA KALIAN PARA KACUNG, TIDAK GAGAL DALAM TUGAS KALIAN, TETAP HIDUP, DAN JANGAN KECEWAKAN AKU!”

Dan mereka menghilang, dua orang gadis peri penguasa Le Chateau de Phantasm menghilang dan meninggalkan mereka di tengah semua kesulitan ini. Eik, Edgar, Sion, dan Senri saling memandang bingung. Musuh sudah ada di depan mereka. Dua kekuatan besar dari organisasi kejahatan Empire dan Kerajaan Set sudah bersiaga di tempatnya masing-masing. Pasukan Set di sebelah utara, di seberang sungai Flumina, dan Pasukan Empire yang tengah melaju dari seberang lautan. Belum lagi pilar cahaya yang masih menyala-nyala terang di batas horizon samudera Hyrapter, satu bukti kalau salah satu dari mereka punya ide gila untuk membangkitkan kembali Kerajaan Magorath ke atas dunia dan bertempur untuk mereka.

“Dan belum selesai semua masalah ini..., Sion menghilang!”

Eik tak bisa menghentikan tingkahnya untuk tidak menggigit syal merahnya. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang tak terbendung saat teringat bagaimana nasib sahabatnya sekarang. Di lorong rumah sakit itu dia berjalan mondar-mandir penuh resah.

“Duduklah. Aku tak bisa berfikir melihatmu mondar-mandir seperti kera kelaparan!” ujar Edgar lirih dari balik buku besarnya. Meski mencoba tenang Edgar juga tak bisa menutupi keresahan dirinya.

“Mending seperti kera kelaparan daripada pura-pura mencari solusi padahal hanya mau bersembunyi di balik buku...,” tatapan mata dua pria itu hampir menciptakan sulut api kalau saja Senri tidak bergegas memisahkan mereka.

“Sudahlah kalian berdua!” ujar gadis itu sambil memegang tubuh Eik yang seperti mau melompat ke arah Edgar. Belum selesai berdebat, mereka melihat May berjalan dengan seorang perawat. Tiga orang yang hendak adu jotos itu menghentikan tingkah mereka tatkala menyadari wajah May tampak murung.

“B...Ba...Bagaimana...?” Senri terbata-bata bertanya. Dari mimik wajah gadis didepannya, tiga orang itu mulai berfikir yang tidak-tidak.

“Mereka semua menyerah,” May menunduk murung, “Racun dari tubuh makhluk itu... sudah terlalu lama  menyebar di tubuh Edea..., tak ada lagi yang bisa dilakukan...”

Semua yang ada disana terdiam. Edea kembali melanjutkan, “Bila dibiarkan begini terus..., dalam hitungan jam...”

May tak bisa menahan air mata yang tiba-tiba berderai keluar. Senri bergegas memeluknya, mencoba menenangkan sahabatnya itu walau tampaknya tidak banyak membantu. Gadis itu semakin sesenggukan dalam dekapan Senri.

Edgar hanya bisa mendesah nafas panjang dan berusaha tenang. Berbeda dengan Eik yang semakin kuat menggigit syal, mengacak-acak rambutnya, dan kembali berjalan mondar-mandir.

+++

(2)

Sion dihempaskan begitu saja ke hadapan penguasa Set. Pria muda itu masih terengah-engah dan berdarah karena menahan sakit dari setiap pukulan dan tendangan yang diberikan para penangkapnya. Dia tidak bisa melihat begitu jelas wajah Sang Ratu Circe yang duduk di atas singgasana karena tatapannya sedikit berkunang-kunang akibat siksaan tadi. Meskipun begitu, Sion bisa merasakan bagaimana sosok itu tiba-tiba sudah berdiri dan menghampirinya.

“Jadi, kita bertemu lagi, Sion von Aere.”

Sion merasakan hawa dingin menyelimuti pipinya yang disentuh lembut oleh sosok itu. Dilihatnya Roland, salah satu mantan anak buahnya dulu, membawa tubuhnya duduk di salah satu kursi di dekat Ratu. Tak lama, Sion melihat Roland beserta beberapa bawahannya memberi hormat ke arah wanita didepannya sebelum akhirnya pergi.

“Angin apa yang membawamu kembali kepadaku setelah pelarianmu yang cukup menggemparkan beberapa saat lalu?”

Ratu duduk tenang disalah satu kursi di depan Sion. Sambil menikmati wajah Sion yang penuh lebam dan luka, Circe menghisap rokok mint-nya perlahan.

“Apa karena gadis itu, Sion?”

Sion masih berusaha menyusun kata-kata sebelum akhirnya mengangguk pelan. Karena Wendy alasan dia menemui Circe.

“Ak... Aku minta hentikan keputusanmu untuk menangkap Wendy...,” tukas Sion terbata-bata.

“Kenapa?” Circe menghembuskan asap rokoknya pelan.

“Karena tidak ada gunanya untukmu..., itu hanya akan menambah masalah baru...! Apa tidak cukup satu benua Hyrapter ini...”

“Diam!” Geram, Circe melumat rokok mint yang tinggal separuh itu dengan tangannya. Dia menatap wajah pemuda di depannya dengan sangat tidak senang.

“Kau tahu bagaimana rasanya berjumpa denganmu? Sangat tidak menyenangkan! Bahkan aku sangat ingin melihat Roland menyobek perutmu dari atas ke bawah! Kau kira aku bisa menerima kehadiranmu disini yang tanpa merasa bersalah sedikitpun atas apa yang telah kau lakukan padaku dan kini memohon menghentikan semua misi ini?”

Circe berdiri tegak. Dihempaskan lengannya ke arah wajah Sion. Tamparan telak menghampiri pemuda itu hingga jatuh terjengkal dari kursinya.

“Satu-satunya yang menahanku untuk tidak membunuhmu adalah... tunjukkan kepadaku dimana gadis itu!”

Sedikit terbatuk-batuk, Sion berusaha bangun meskipun kedua tangannya terikat di belakang punggungnya.

“Kau takkan mendapatkan maumu, Circe! Apapun yang kau lakukan padaku..., aku takkan sudi membuka mulut.”

“Bagus!” Circe menepuk kedua tangannya memanggil para pengawal yang tadi disuruhnya keluar. Saat beberapa prajurit itu menghadap mereka berdua, Circe melanjutkan.

“Kalau kedatanganmu kesini hanyalah memohonku menghentikan misi menangkap peri kecil itu, kau tentu sudah tahu apa jawabanku! Dan kini karena kau juga tidak bisa membantuku, yang bisa kulakukan hanyalah melanjutkan apa yang sudah kuvonis untukmu.”

Para pengawal itu mengangkat tubuh Sion dan hendak membawa pria itu keluar dari ruangan Circe. Tapi belum sampai mereka melangkah keluar Sion menatap wajah wanita yang berusaha tidak membalas tatapannya.

“Demi kebaikan kerajaan ini, Ratu. Kumohon hentikan rencana ambisiusmu yang gila! Kalau kau tak mau menghentikannya, aku yang akan menghentikanmu!”

+++

(3)

Tidak ada yang menduga kalau rombongan EMPIRE sudah berada di atas kota pelabuhan Porte Nord ini. Semua penduduk kota yang menyadari kalau musuh sudah ada di depan mata segera panik dan berlarian menyelamatkan diri. Suara sirene meraung-raung di atas kota tiada hentinya diiringi teriakan ketakutan dari mereka yang berusaha bersembunyi atau berniat pergi dari kota.

Eik, Edgar, Senri sendiri juga tidak menduga salah satu dari puluhan kapal angkasa berukuran raksasa milik organisasi itu sudah ada di atas rumah sakit tempat Edea dirawat. Benda itu mendarat perlahan di atas pelataran rumah sakit yang kecil, menyebabkan beberapa bangunan disana hancur terkena hempasannya. Dari dalam benda itu, mereka bertiga melihat sesosok asing yang pernah mereka kenali saat berada di Shanri-la dan saat mencari perkamen kematian Alcyon.

“Bukankah dia... Da- Daisius?” ujar Senri terbata-bata mengingat nama pria yang sudah berada satu meter di hadapan mereka. Senri sedikit terkejut mendapati pria itu sedikit berbeda dengan saat mereka terakhir kali bertemu. Dia terlihat lebih pucat seperti mayat dan di beberapa sisi wajahnya terlihat urat-urat kehitaman.

“Halo Anak-anak! Kalian terlihat sehat.”

“Apa maumu kemari? Katakan!” bentak Eik sambil mengambil kuda-kuda. Di kedua tangannya muncul kobaran api yang siap ditembakkan ke arah lawan bicaranya.

“Haruskah kukatakan kepada orang yang akan kalah tentang tujuanku kemari?”

“Keparat kau!” Eik hampir saja melepaskan satu bola apinya ke arah si pria kalau saja Senri dan Edgar tidak menahannya. Pria cantik itu menatap tajam Eik seakan hendak mengatakan untuk tenang dan tidak gampang emosi.

“Baiklah karena aku sedang dalam perasaan luar biasa gembira..., aku hendak menjemput beberapa kawan sebelum tempat ini dimusnahkan oleh mereka,” tukas Daisius sembari menunjuk ke arah pilar cahaya kemerahan yang menyala-nyala di Samudera Hyrapter, jauh di depan mereka.

“Tentara Iblis akan menjajaki tempat ini. Memusnahkan semua yang tersisa dari Hyrapter. Mereka akan terus bergerak menghancurkan semuanya sampai menemukan apa yang kami cari...”

“Jangan harap kau bisa menemukan Le Chateau de Phantasm!”

“Kenapa? Karena aku tak memiliki peri kecilmu itu?”

“Jangan menghina Ratu!!!” Eik sudah tidak sabar ingin menghajar mulut Daisius. Dihempaskannya Senri dan Edgar ke belakang dan dengan beringasnya Eik melompat ke arah Daisius sembari melepas bola apinya.

Dia melihat panah-panah melayang di depannya dan menghajar bola-bola api yang sedianya meluncur ke wajah Daisius. Eik yang tidak siap terhentak oleh hantaman busur dan membuatnya terjengkang ke belakang.

“M...May?!”

May sudah berdiri diantara Eik dan Daisius. Satu panah di busurnya sudah diarahkannya ke dada Eik. Tak ada kata yang bisa terucap dari mulut mereka saat mendapati tingkah polah sahabatnya yang sungguh tidak bisa mereka duga.

“Mundur, Eik. Aku tak ingin kau terluka,” ancam May tanpa mengalihkan ujung panah dari dada Eik. Senri yang melihat situasi Eik terancam tanpa basa-basi mengambil busurnya dan membidik kepala May.

“Kepalamu yang akan hancur kalau kau berani melepaskan panah itu ke arah Tuan Shamash!” balas gadis itu lebih dingin lagi.

“May..., apa yang kau lakukan,” Eik berusaha berdiri sambil masih tidak percaya melihat sahabatnya itu mengarahkan panah kepadanya.

“Kau..., jangan bilang kau... salah satu dari mereka?!” sambung Edgar dingin.

“APA?! Itu tidak mungkin!!! May...,” Eik mencoba menyangkal. Tapi ketika mendapati ekspresi May tidak berubah, Eik seperti menelan pil pahit.

“Maafkan aku..., tapi Edea sekarat..., aku harus membawanya kembali ke EMPIRE...,” balas May datar.

“Ta-tapi... kita mengembara bersama...,” Eik masih berusaha menyangkal, “Kita hadapi Alcyon bersama-sama..., Semua yang telah kita hadapi, susah dan senang itu, aku tak percaya kalau itu semua hanya pura-pura..., kalau kau bagian dari mereka...”

“Sudahlah, Eik...,” potong Edgar menenangkannya, “Seharusnya kehadiran kalian yang tiba-tiba dulu itu..., seharusnya kami tahu kalau kalian adalah mata-mata musuh...!”

May tidak bergeming. Dia hanya diam saja tidak membalas ucapan Edgar. Suasana mendadak lengang hingga terdengar tawa kecil Daisius. Dia menghampiri dan mendekap bahu May, memintanya untuk menurunkan busurnya.

“Tenanglah kalian semua,” Daisius masih tertawa kecil, “Kami kesini tidak ingin bertarung. Kami hanya ingin menemukan Le Chateau de Phantasm dengan bantuan musuh besar Titania, Irene Magorath. Kalau peri kecil kalian tidak bisa menemukan dimana negeri cantik itu berada, kuharap Irene bisa.”

“Tapi, kau gila!” desis Edgar, “Apa kau bisa menjamin para iblis itu akan menyerahkan Le Chateau de Phantasm seandainya mereka menemukannya.”

“Apa yang kau tahu dari mereka, Tuan Maxwell? Kau tak tahu apapun. Banyak rahasia yang disembunyikan dua gadis cantik pujaanmu itu yang tidak kalian ketahui.”

“Memangnya kau tahu?” balas Eik geram. Daisius membalasnya dengan gelegak tawa.

“Aku sudah pernah tinggal disana dulu. Rombongan kamilah, rombongan manusia yang pertama kali datang dan disambut dengan hangat oleh Ratu Anastasia disana. Jadi, jangan kau kira aku tidak pernah tahu apa yang ada di dalam sana.”

“Aku tidak peduli! Kami akan menghentikan apapun usaha kalian untuk mendapatkan Le Chateau de Phantasm! Kalian jahat! Kalian tidak pantas menemukannya!”

“Silakan halangi kami,” Daisius tersenyum sambil membalikkan badan kembali ke kapal udaranya diikuti May yang membopong Edea.  “Dan semoga kalian berhasil!” tambah Daisius lagi sebelum pintu besi kapal itu tertutup.

Tak lama, benda raksasa itu mulai menderu lagi. Kapal udara itu kembali membumbung tinggi di atas langit rumah sakit yang lalu, bersama iring-iringan kapal udara lain, kembali bergerak melintasi langit kota Porte Nord. Seperti kata Daisius, armada kapal udara itu sama sekali tidak menyerang mereka.

+++

(4)

“Memangnya apa yang bisa kau lakukan untuk menghentikanku, Sion kecilku?”

“Membunuhmu kalau perlu!”

Circe bisa melihat sekelebat  merah menghiasi mata pria kecil didepannya. Belum sempat wanita itu berujar lagi saat Sion tiba-tiba sudah berhasil melepas ikatannya dan mengambil belati kecil yang sembari tadi tersembunyi di balik alas kakinya.

Belum selesai para pengawal Circe bernafas saat ujung tajam belati itu sudah mengiris leher dua pengawal yang hendak membawanya pergi. Kini, dengan kecepatan selayaknya seorang pembunuh bayaran, Sion sudah berdiri di belakang sang ratu, menggamit pundaknya, dan meletakkan ujung belati ke lehernya.

“Buyarkan niatmu, kumohon, Ratu. Atau kalau tidak, aku tidak akan segan membunuhmu!”

“Apa kau tahu..., sekali kau membunuhku disini..., ratusan pengawalku di luar sana akan mengejarmu dan tentunya kau takkan bisa lolos dari mereka.”

“Aku tak peduli...,” desis pria yang kini Circe tahu sekali dia berubah menjadi bloody-eyes Sion, dia takkan rela melepaskan targetnya, “Aku sudah siap mati saat menuju kemari.”

“Kau takkan melakukannya, Sion. Hubungan kita yang erat akan menghalangi niatmu membunuhku. Itu hanya ancaman kecil yang biasa diucapkan oleh orang yang sudah putus asa, yang tidak tahu harus berbuat apa demi teman-teman yang sebenarnya telah dia khianati...”

“DIAM kau perempuan!” teriak Sion geram. Hampir saja ujung belati itu melukai leher halus Circe, “KAU yang membuatku menjadi seperti ini! KAU yang membuatku menjadi pembunuh! Pria bengis yang telah membantai sebuah rumah anak yatim...”

“Apa itu benar-benar mengganggumu? Aku tidak menyangka, persahabatanmu dengan anak-anak jalanan itu telah membuatmu lemah seperti anjing kampung!”

“Diam kau! Sekarang, perintahkan semua pasukan Set kembali ke negeri kalian! Sekarang dan jangan buang waktu!!!”

Circe tersenyum kecil.

“Kau tahu itu takkan terjadi, Sion-ku. Pasukanku tetap akan bergerak menemukan teman-teman dan peri kecilmu itu. Mereka, dengan atau tanpaku, akan menemukan Le Chateau de Phantasm!”

“Maka, itu akan lebih baik tanpamu!” geram Sion. Dia mengambil ancang-ancang mengiris leher sang ratu di depannya dan itu hampir saja terjadi kalau Roland dan pasukan pengawal pribadi Ratu tidak merangsek masuk dan menghentikan langkah Sion.

“Jangan kau lakukan itu, Sion von Aere!”

Tatapan dua pria muda itu bertemu. Seorang mantan komandan pasukan elit Set dan mantan bawahan yang sangat setia itu saling memahami sikap masing-masing. Roland mengarahkan pedangnya ke wajah Sion, tidak gentar meskipun Sion mengancam akan membunuh Ratu mereka.

“Lepaskan belati dan tangan kotormu dari leher Ratu, dasar kau Pengkhianat!”

“Aku tak ingin menyakiti siapapun, aku hanya ingin Circe menghentikan semua kegiatannya menyerang wilayah ini! Jadi lebih baik, daripada kita semua terluka, kau turunkan pedang panglima-mu itu!”

“Sudah terpojok masih mau mengancam balik? Jangan membuatku tertawa, Pengkhianat!” Roland melangkah lagi mendekati Circe dan Sion tanpa sekalipun menurunkan pedangnya.

“Berani melangkah lagi, tubuhmu akan berlumuran darah wanita ini!”

“Huh, jangan mengancamku, Pengkhianat! Apa kau benar-benar punya nyali melakukan itu?!” Roland melangkah lagi, lebih mantap dari sebelumnya, hingga jarak mereka benar-benar sangat dekat. Para pengawal Roland sendiri sedikit takut dengan tindakan atasannya itu dan sesekali meminta Roland untuk tidak nekat.

“MUNDUR! A-Atau...”

“Atau apa? Kau akan membunuh ibumu sendiri? Ibu kita berdua?”

“Ibu...,” Sion tercekat. Dia hampir saja menurunkan belatinya kalau saja dia lupa harus mewaspadai tindakan Roland selanjutnya. “Apa kau sudah putus asa menjauhkanku dari ratumu sampai harus mengarang cerita konyol menyedihkan itu?”

“Tidak, Sion. Malah aku yang kasihan melihatmu. Begitu kerasnya kau ingin melupakan masa lalu berdarahmu hingga kau tidak bisa mengingat kalau Circe adalah ibu kandungmu sendiri!”

+++

(5)

Langit berwarna kelam. Porte Nord yang tadi cukup cerah terpapar hangatnya matahari kini diselimuti mendung-mendung tebal yang datang dari balik samudera, tepat dari arah dimana pilar cahaya kemerahan itu berada. Petir mulai bersahutan seakan-akan sebentar lagi badai dahsyat akan menyerang kota itu. Dari halaman depan rumah sakit, Edgar, Eik, dan Senri bisa melihat kengerian yang sebentar lagi akan datang.

“Itukah... itukah... itukah tandanya...?” Eik berujar terbata-bata tanpa bisa mengalihkan pandangan dari langit hitam itu. “Apakah seperti yang diucapkan Ratu Anastasia kalau kegelapan sudah datang?”

“Ya, dan tolong lepaskan dekapan menjijikkan itu!” tukas Edgar pelan sambil memandang sebal ke arah Eik yang kini mendekap lengannya. “Kita sekarang, hanya bertiga, tentu saja takkan bisa mengatasi mereka..., tidak tanpa Sion, Edea, May, dan Ratu..., jumlah kita terlalu sedikit...”

“Apa kau mau mengatakan kalau lebih baik kita menyerah saja dan mengungsi dari sini?” celetuk Eik sinis.

“Apa kau tidak sayang nyawamu?” balas Edgar lebih sinis.

“Apa kau lupa keinginan Ratu Anastasia agar kita bertahan disini hingga purnama datang dan Ratu menyelamatkan kita?” balas Eik lagi sedikit menantang.

“Apa kau berani menjamin mereka akan tiba tepat waktu atau musuh akan terlambat dari perkiraan kita?” balas Edgar lagi sedikit geram.

“Apa kau sudah tidak percaya lagi dengan janji Wendy? Apa kau meragukan kekuatan Sang Ratu dan cewek misterius yang bersamanya itu, bagaimana dia berhasil memojokkan Deter, bagaimana dia...,” tukas Eik lagi yang langsung dipotong oleh Edgar.

“Cukup! Urusanku disini selesai!” balas Edgar, “Tugasku adalah membawa kembali peri kecil berisik itu kembali ke Le Chateau de Phantasm dan kini dia sudah kembali ke wujud aslinya dan berhasil pulang ke kastilnya. Catatannya di buku sihirku udah hilang dan aku tidak ada urusan dengan Set, Empire, dan tetek bengek ini semua. Aku akan pergi dari kota ini!”

“Tapi..., apa kau akan mengabaikan permintaan Ratu? Mengabaikan nasib Sion? Mengabaikan nasib penduduk kota ini? Apa kau akan pergi begitu saja padahal kita memiliki kekuatan untuk mencegah ini semua?”

“Kita punya kekuatan, tapi itu semua tidak cukup untuk menghentikan mereka! Apa kau buta, makhluk bulukan?! Mereka itu tentara Iblis yang jumlahnya mengalahkan semua manusia di Hyrapter ini? Apa kau tidak melihat betapa kuat Armada EMPIRE dengan kekuatan kapal udaranya yang tak terkalahkan? Apa kau tidak melihat tentara Kerajaan Set yang tidak kenal ampun? Kita takkan bisa menghentikan mereka semua!!!”

“Tapi kita bisa... melakukan strategi adu domba seperti saat menghadapi Alcyon dan Vincent dulu di Hutan Seribu Pinus..., kita bisa...”

“Kita tidak bisa, Eik. Tidak dengan jumlah dan keadaan kita saat ini...,” Edgar memelankan suaranya. Nuansa putus asa terlihat jelas di wajahnya. “Apabila kalian ingin ikut, aku punya tempat perlindungan yang aman di rumahku, di kotaku, jaraknya beberapa hari perjalanan dari sini. Disana kita bisa menyusun rencana...”

“Aku tidak akan pergi,” celetuk Eik. “Aku akan disini, bertahan sambil menunggu Ratu Anastasia datang membantu.”

“Baiklah kalau itu maumu,” balas Edgar, “Dan Senri, bagaimana denganmu?”

Wajah Senri memerah, dia menggeleng pelan. “Ma-maaf, aku ingin bersama Tuan Sham..., Tuan Eik... disini...”

Edgar mengangguk maklum.

“Baiklah kalau begitu..., senang bisa mengenal kalian! Semoga para Dewa melindungi kalian. Aku-...,” Edgar memandang Eik yang membelakanginya dan Senri yang menatapnya tak rela, “Aku..., aku pergi.”

Edgar melangkah menuju pintu gerbang rumah sakit tanpa menoleh lagi ke arah dua sahabatnya. Tidak ada sapaan selamat tinggal atau ucapan sedih yang didengar Edgar ketika dia melangkah keluar dari gerbang. Ingin dia berhenti sebentar dan menatap dua sahabatnya yang tersisa itu untuk terakhir kalinya. Tetapi dia tidak melakukannya. Dia tidak mampu melakukannya. Kini hanya keheningan dan hawa dingin yang semakin merasuk datang bersama dengan kegelapan langit, hanya itu yang mengiringi perpisahan rombongan itu.

+++

(Bersambung ke episode selanjutnya. Semangat buat Sabbath Natalie!)

Read previous post:  
30
points
(1544 kata) dikirim Riesling 6 years 26 weeks yg lalu
75
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fantasi | lcdp
Read next post: