Broni si Unicorn (1)

Nafasku memburu ketika aku berhasil bersembunyi. Aku belum selamat, dia bisa ada di mana saja. Aku tak akan aman selamanya di sini.

Terdengar bunyi langkah kuda yang membuat jantungku berhenti. Broni, unicorn yang pernah kuanggap teman itu akhirnya berhasil melacakku. Pohon ini tak akan menyembunyikan diriku lebih lama. Aku harus lari. Atau...aku harus melawan unicorn itu.

 

 

Aku awalnya tak percaya ketika ibuku bilang akan membelikan unicorn untuk hari ulang tahunku. Makanya ketika kuda bertanduk itu terlihat di depan rumahku keesokan harinya, aku berteriak seperti orang gila.

Kupeluk hadiahku itu dengan riang. Unicorn itu meringkik, sepertinya dia juga senang bertemu denganku.

“Dasar kau ini, biasanya kan cowok gak mau dibeliin unicorn,” sindir ibuku sambil bercanda.

“Ibu, cowok itu suka unicorn juga. Dia akan jadi bro-ku!!” Lalu aku terpikir sesuatu, “Benar juga, bagaimana kalau kuberi nama kau Broni?”

Dia meringkik lagi, entah itu dia senang atau beranggapan aku sangat tidak kreatif dalam memberikan nama.

Aku lalu naik punggung Broni. “Kita akan menjadi teman selamanya!!” kataku padanya. Broni menjawabnya dengan berlari sambil meninggalkan jejak pelangi di belakangnya. Bagiku itu adalah hari yang paling membahagiakan.

Hari-hari berikutnya kuhabiskan dengan selalu bermain dengan Broni. Aku memberinya makan permen-permen favoritnya, lalu ketika siang kami berlari bersama ke hutan dan bermain-main di sana. Tiap Broni menyentuh pohon, kayunya langsung berubah menjadi warna warni yang akan bertahan beberapa lama sehingga hutan terlihat sangat cantik.

Kami juga kadang-kadang bermain pedang-pedangan. Aku memakai pedang kayu yang kubuat dan Broni dengan tanduknya. Aku selalu kalah, tapi Broni akan menjilatku di muka tanda sayangnya.

Rasanya hidupku tak akan pernah sesempurna ini. Aku dan Broni adalah sahabat baik yang tak terpisahkan.

Tapi semua sedikit berubah sejak aku masuk SMP dan sibuk dengan kegiatan sekolah. Aku tidak bisa bermain dengan Broni sesering sebelumnya. Broni melihatku dengan tatapan sedih kapanpun aku pergi.

“Maaf ya Broni,” kataku suatu hari sambil mengelus kepalanya, “minggu ini aku kosong. Nanti kita main-main ke hutan lagi ya?”

Broni meringkik senang. Terlihat sekali dia sangat senang akhirnya bisa bermain lagi denganku.

Tapi ketika di sekolah, temanku Adi dan Fadli justru punya rencana lain untukku.

“Hari ini ada konser Shinichi di balai kota,” kata Aldi sedikit terlalu bersemangat. Shinichi adalah artis terkenal yang berasal dari kota kami dan menjadi kebanggan warga. “Kita harus nonton!!”

“Gimana ya...” Aku sangat ingin menontonnya, tapi aku teringat janji pada Broni.

“Ayolah Kem. Shinichi itu jarang konser di sini. Dia kan artis internasional,” bujuk Adi.

Memang sih. Semakin dipikir, aku justru semakin ingin pergi. Maka kami bertiga sepakat akan ke sana malamnya.

Walaupun bersemangat, aku juga merasa sedikit bersalah pada Broni. Apalagi ketika melihat Broni sangat senang ketika aku kembali untuk makan dulu sebelum pergi.

Aku mendekatinya, “Maaf Broni, hari ini pun aku tak bisa main. Aku ada urusan.”

Broni pasti mengerti karena dia langsung lesu. Aku buru-buru menghiburnya, “Maaf. Kau tahu Adi dan Fadli kan? Aku akan pergi dengan mereka. Tapi lain kali kita pasti bisa main.”

Aku tak tahu kenapa, tapi mata Broni menunjukkan suatu sorot aneh, sorot mata yang membuatku sedikit gemetar. Aku langsung masuk ke rumah karena ketakutan. Ada yang aneh pada Broni.

Malamnya aku langsung pergi tanpa melihat Broni terlebih dahulu. Suasana bersama Broni sebelumnya memang aneh, tapi aku tak mau berpikir terlalu banyak. Lagipula aku akan menonton konser Shinichi. Sekarang aku hanya ingin menikmati konser ini dengan Adi dan Fadli.

Tapi ada sesuatu yang lain ketika aku datang ke rumah Adi. Sirine ambulans meraung-raung dengan keras. Orang-orang berlalu lalang dengan sibuknya. Ada apa ini? Mana Adi?

Lalu aku melihatnya. Adi terbaring lemah sambil diangkat oleh orang-orang ke ambulans. Bajunya basah oleh darah.

“Adi? ADI?”

Ibu Adi menangis dengan keras. Suasana sangat kacau. Aku memaksa untuk melihat lebih dekat. “Adi kenapa?”

Tidak ada yang menjawab. Mereka semua masih sibuk dengan keselamatan temanku itu. Adi lalu dibawa ke rumah sakit dengan diikuti keluarganya.

Untuk beberapa saat aku hanya berdiri terdiam, tak tahu harus berbuat apa. Lalu aku sadar harus memberitahu Fadli tentang kejadian ini.

Aku menelponnya, tapi tak ada jawaban. Kucoba berkali-kali, tapi tetap saja tidak diangkat.

Kuputuskan untuk pergi ke rumahnya dan memberitahu langsung. Tapi sampai di sana, aku sekali lagi melihat sesuatu yang mengerikan.

Rumah Fadli terbakar hebat. Tetangga mencoba membantu keluarga untuk keluar di sana. Mobil pemadam kebakaran dan ambulans membuat suasana sangat ribut. Kulihat Fadli ditandu ke ambulans dengan luka bakar parah.

Aku mendekatinya, “Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi?”

Fadli melihatku. Dia mencoba berbicara, tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah satu kata.

“Unicorn....”

Setelah itu Fadli pingsan. Meninggalkanku dengan sejuta pertanyaan di kepala.

 

 

 

Bersambung....

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Bidadari surga
Bidadari surga at Broni si Unicorn (1) (8 years 12 weeks ago)

No kmen aja deh

Writer azraelsalvatore
azraelsalvatore at Broni si Unicorn (1) (8 years 12 weeks ago)
80

Ceritanya bikin penasaran, ditunggu lanjutannya bro..

Writer citapraaa
citapraaa at Broni si Unicorn (1) (8 years 12 weeks ago)
2550

ini gak triler kayaknya.