Like We Used To

Waktu kecil, aku tidak pernah suka liburan.

Aneh, kan? Liburan yang disambut gembira oleh hampir setiap siswa di dunia, aku malah membencinya. Karena aku selalu menghabiskan waktu liburan dengan sepi. Setiap saat, setiap jam, setiap menit, setiap detiknya, hanya terisi kesunyian.

Aku tinggal di sekolah swasta berasrama yang memiliki SD, SMP, dan SMA sendiri. Maksudku, aku benar-benar tinggal di sana. Aku diberi sebuah kamar mungil di asrama putra—yang biasanya, pada tahun ajaran—kutempati bersama temanku yang berambut keriting menggantung.

Namun ketika liburan, temanku yang berambut keriting menggantung itu pulang ke rumahnya. Begitu pula dengan seluruh penghuni kamar lain. Kamar itu milikku sepenuhnya, sampai sekolah dimulai lagi.

Mungkin akan menyenangkan kalau saat liburan aku pulang saja ke rumah, bertemu orang tuaku, saudara-saudaraku, melepas kangen karena lama tidak bertemu. Kemudian kami bisa merencanakan kegiatan liburan selama dua minggu itu. Pergi ke kolam renang, misalnya, atau ke taman hiburan.

Sayangnya aku tidak punya rumah. Atau orang tua. Atau saudara. Bahkan aku tidak punya rasa rindu pada hal itu semua.

Aku tinggal di sekolah berasrama ini sejak aku dilahirkan. Tidak juga. Lebih tepatnya, sejak aku ditemukan. Aku ditelantarkan oleh orang tuaku, entah ayahku atau ibuku, di depan pintu rumah penjaga asrama, di tengah hujan dan petir. Umurku belum ada sebulan, terbungkus kain selendang yang menghangatkan, dan aku menangis tak karuan.

Mungkin ibuku hanya anak sekolah yang hamil di luar nikah, kemudian terpaksa membuangku. Mungkin ayahku hanya seorang laki-laki yang tidak bertanggungjawab, sehingga memilih menelantarkanku. Aku tidak mau peduli tentang mereka. Tapi aku yakin, mereka mau aku hidup, karenanya memakaikan selendang itu padaku, supaya aku tidak kedinginan di tengah guyuran hujan. Dan mereka ingin aku mendapat pendidikan yang tidak bisa mereka berikan, sehingga mereka meninggalkanku di depan sekolah.

Okelah, setidaknya mereka cukup bermoral.

Penjaga asrama yang menemukanku adalah seorang pria tua penggemar kopi hangat yang kesepian, dengan pipi tirus dan mata cekung kurang tidur. Pak Pardi, sering kupanggil begitu. Dia yang memberiku nama, Arkananta Tawang, mengingatkannya pada langit malam yang bercahaya ketika dibelah petir.

Pak Pardi yang memohon pada pemilik yayasan untuk mengizinkan aku tinggal. Dia merawatku sampai aku bisa bermain layang-layang, menceritakanku banyak hal, termasuk tentang keluarganya yang sudah tidak ada karena bencana alam. Aku dan Pak Pardi seperti sahabat kesepian yang saling menghibur.

Saat aku baru mau masuk SD, Pak Pardi meninggal dalam tidur. Sedih yang kurasakan adalah kehilangan teman baik. Teman dekat yang menjadi tempat berbagi cerita dan berebut kopi hangat dalam cangkir.

Sekolah harus mencari penjaga baru, kemudian mereka memindahkanku ke asrama putra. Aku bertemu teman-teman sebayaku dan jarang merasa kesepian. Setidaknya sampai liburan tiba.

Jadi setiap libur, aku hanya duduk di pojokan kamar. Tidak ada hiburan lain kecuali tumpukan buku-buku matematika, IPA, IPS, dan bahasa. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk membunuh waktu selain membacanya. Tidak diragukan lagi, aku menjadi siswa yang mendapat beasiswa ganda. Selain karena yatim piatu, rankingku tidak pernah melorot dari angka satu.

Aku biasa hidup seperti itu. Kesepian saat liburan dan terlihat sering membawa buku bacaan di tangan. Sampai gadis itu datang ketika aku berumur sepuluh tahun.

Aku sedang duduk di bawah pohon mangga, membaca buku perpustakaan seperti biasa. Dia turun dari sebuah sedan Mercedes hitam mengkilat, yang bahkan aku tidak pernah membayangkan duduk di dalamnya. Dia keluar dari mobil dengan satu lompatan ceria. Rambutnya panjang coklat seperti warna pintu asrama, matanya biru seperti gambar laut yang sering kulihat di buku cerita, dan pipinya bersemu sewarna permen kapas merah muda yang dijual di pasar malam.

Sesaat aku kira dia akan mengambil nyawaku. Karena kupikir aku sedang melihat malaikat.

“Halo,” sapanya tiba-tiba. Aksennya terdengar aneh. Sengau, seperti orang yang sedang terserang flu. “Kenapa kamu nggak pulang ke rumah?”

Aku mengangkat wajah dan melihat senyumnya yang menyegarkan seperti semangka di tengah hari.

“Nggak punya,” jawabku seadanya.

Anak yang menyerupai malaikat itu sepertinya bersimpati padaku, sehingga dia mengambil tempat di sebelahku. Dia duduk dalam diam dan tidak berkata apapun. Aku melanjutkan kegiatanku selama beberapa saat sampai rasa penasaran mengambil alih pikiranku.

“Kenapa rambutmu coklat?” ujarku. Dari sekian banyak pertanyaan dalam kepalaku, entah mengapa aku memilih yang itu. Bodoh juga.

Dia tertawa. “Karena sama seperti punya Papa,” jawabnya sambil menunjuk seorang pria bule yang memakai setelan jas keren. Rambutnya coklat sama seperti gadis di sebelahku ini, bahkan kumisnya yang naik-turun ketika dia tergelak itu juga coklat.

“Tapi kamu bisa bahasa Indonesia,” itu pernyataan bingung dariku. Ayah gadis ini tidak terlihat seperti pengguna bahasa Indonesia.

“Mama orang Indonesia. Aku juga lahir di sini,” katanya. “Tapi aku juga bisa bahasa Prancis, lho. Sedikit sih. Mau dengar?”

“Nggak,” ujarku setengah mendengus menahan tawa.

Bibir gadis itu mengerucut, sedikit kesal. “Vouz vouz appelez comment?” dia berkata, tidak peduli.

Aku diam menanggapi bahasa sengaunya. Gadis itu terkikik geli, kemudian bertanya dengan bahasa Indonesia, “Kamu pendiam, ya? Tadi aku tanya siapa namamu.”

“Arka,” jawabku otomatis, berusaha menyembunyikan perasaan bangga. “Arkananta Tawang.”

Aku selalu suka namaku. Pak Pardi berkata, Arkananta berarti orang yang selalu diterangi. Tawang berarti langit. Namaku mengacu pada malam berpetir ketika aku ditemukan.

Et moi, Lucy Montagne,” dia berkata, tak kalah bangganya. “L-U-C-Y!”

Lucy menjabat tanganku. Suatu hari nanti, ketika aku sudah menginjak usia belasan tahun, aku akan tahu bahwa Lucy adalah sebuah nama Perancis yang berarti cahaya. Semestinya aku sadar saat itu juga, bahwa dia akan menjadi cahaya yang kelak menyinariku.

*

Hari berikutnya, Lucy datang lagi. Kali itu dia membawa roti berisi selai blueberry yang sangat enak. Roti itu semacam alat suap. Dia memintaku bercerita mengapa kemarin aku berkata tidak memiliki rumah. Di bawah biusan roti enak itu, mengalirlah cerita tentang orang tua yang tidak aku kenal, tentang hujan dan petir, tentang Pak Pardi, bahkan tentang kesepianku saat liburan dimulai.

Aku juga mendapatkan cerita darinya. Ayah Lucy adalah salah satu pemilik yayasan. Biasanya saat liburan, ayah Lucy sering berkunjung ke sekolah untuk memantau. Lucy ternyata dua tahun lebih muda dariku. Gadis itu berkata ibunya sangat cantik, yang seratus persen kupercayai melihat anaknya yang seperti itu. Lucy juga bilang ibunya pandai memasak, dan dia membuat roti blueberry yang sedang kumakan ini khusus untukku.

Pada titik cerita itu, aku mengerutkan kening. “Kenapa? Memang Mama-mu kenal aku?”

“Kemarin aku cerita tentang kamu ke Mama dan Papa,” katanya. Kembali aku melihat senyum yang seperti semangka di wajahnya yang cantik itu. “Terus Mama bikin roti, katanya buat kamu.”

“Oh,” ujarku, kehabisan kata-kata. Seumur hidup belum pernah ada yang membuatkan roti untukku. “Makasih.”

Seharusnya aku tahu begitu aku bertemu dengannya. Lucy mungkin saja malaikat, tapi dia tidak datang untuk mengambil nyawaku. Dia datang untuk mengambil hatiku, karena kemudian gadis itu berkata, “Nah, sudah kuputuskan. Selama liburan, setiap hari aku bakal datang ke sini, Arka. Biar kamu nggak kesepian!”

*

Sejak hari itu, aku bisa melewati liburanku. Seperti janjinya, setiap kali liburan Lucy datang menemaniku. Sering kali dia membawa roti blueberry. Kami mengisi hari dengan lomba lari di sekitar asrama, main layangan di lapangan sekolah, kadang dia mengajariku bahasa Prancis, namun kerap juga kami hanya duduk saja dan mendengarkan bunyi angin. Ketika dia pulang sore hari, aku tidak akan kesepian. Karena aku langsung tertidur sampai pagi saking lelahnya. Kemudian esok hari, dia akan datang lagi sambil membawa sekeranjang roti blueberry. Itu terjadi setiap liburan SD, SMP, bahkan sampai SMA ini.

Aku dan Lucy seperti sahabat rahasia. Dia dua tahun di bawahku, sehingga aku tidak pernah sekelas dengannya. Malah, ketika tahun ajaran, aku jarang sekali bertemu Lucy. Namun ketika aku tak sengaja berpapasan dengannya di koridor sekolah, aku hanya memberikan senyum tipis. Dia akan membalas senyumku dengan tawa renyah, kemudian berlari menuju teman-temannya. Tidak ada yang mengira bahwa pada waktu tertentu, kami sedekat huruf Q dan W pada keyboard.

Dan lagi, Lucy masih seperti malaikat. Dia makin cantik seiring dengan bertambah usianya. Rambutnya masih coklat, matanya masih biru, dan pipinya masih sering bersemu merah muda, seperti ketika pertama kali dia turun dari sedan hitam. Di tengah banyak siswa, dia tetap bersinar. Besinar, tepat seperti namanya. Membuat semua orang mendesah kagum saat dia lewat.

Aku tahu persis banyak cowok yang naksir pada Lucy. Aku sendiri tidak tahu apakah aku menginginkan Lucy sebagai pacarku. Dia selalu ada saat aku sendirian dan menemaniku sehingga aku tidak kesepian. Kupikir itu sudah cukup. Begini saja, biarkan apa yang ada. Aku menyayanginya. Tidak masalah dia menganggapku sebagai apa.

Tapi sepertinya Tuhan punya rencana lain.

Saat aku kelas 12, dan Lucy masih menjadi murid baru di SMA-ku, dia dan orang tuanya mengalami kecelakaan. Kejadiannya di jalan tol. Mereka bertiga sedang duduk di mobil yang melaju dengan kecepatan sedang, begitu kata saksinya. Kemudian ada truk pengangkut kayu yang mendahului tiba-tiba. Mobil Pak Montagne menabrak bemper belakang truk dengan keras, pintu belakang terbuka, Lucy terlempar ke pinggir jalan, sementara kayu gelondongan sibuk jatuh dan meringsekkan mobil orang tuanya.

Dengan begitu, berakhirlah nasib suami istri Montagne. Pak Montagne yang berambut coklat, berkumis lebat, dan suka tertawa keras itu sudah tiada. Begitu pula istrinya yang baik hati yang senang membuatkanku roti blueberry. Mereka meninggalkan Lucy yang cantik, yatim piatu sepertiku, dengan beberapa patah tulang ringan, dan perasaan yang hancur berkeping-keping.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Blue Sky
Blue Sky at Like We Used To (8 years 17 weeks ago)

Kalau di kembangkan lagi pasti akan lebih bagus

Writer Blue Sky
Blue Sky at Like We Used To (8 years 17 weeks ago)

Kalau di kembangkan lagi pasti akan lebih bagus

Writer hadi
hadi at Like We Used To (8 years 17 weeks ago)
80

Deskripsinya mantep oi. Cool

Writer Shinichi
Shinichi at Like We Used To (8 years 17 weeks ago)
30

keberadaan kata-kata ini: aneh, Mercedes, malaikat, rasa rindu, aksen, di bagian pertama cerpen ini mengaburkan usia tokoh saat ia menuliskan ceritanya. awalnya, saya pikir ia masih kecil dan memosisikan dirinya sebagai anak-anak, namun dengan pengetahuan macam-macam soal kata itu, dengan kenyataan ia hanya membaca buku Matematika, IPA, IPS, dan Bahasa, membuat saya tidak merasa ada sebabnya ia paham mengenai kata-kata tersebut. ini logika lemah.

tokoh Arka tampak menguasai latar belakangnya untuk diceritakan, namun sebagai orang dewasa. saya nggak bisa menikmati cara tersebut (yang dipilih penulis), sebab itu juga kurang garapan. selebihnya, cerita ini cenderung "memberitahukan", hal yang seharusnya setiap penulis hindari. namun dengan POV pertama, memang, hal tersebut sering terserempet.

meski awalnya saya mengira ini cukup menyentuh, ternyata tidak sama sekali. kisah ini gamblang dan datar. penulis dalam hal ini tokoh aku, tidak mampu menjadi Arka yang mengalami beberapa hal pahit yang kebanyakan pembaca tidak pernah alami. itu pekerjaan besar, yang sulit.

kip nulis dan kalakupand.

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Like We Used To (8 years 14 weeks ago)

Asik betul, akhirnya dikomentari detil sama Kak Kalakupand XD
.
Ah iya, memang terkesan sekali "memberitahukan". Sejujurnya ini saya buat karena ingin 'mencontek' metode Winna Efendi dalam novel Ai. Tapi kayaknya gagal ya? -__-"
.
Tapi berkat cerpen failure dan nggak selesai ini, saya jadi punya ide membuat cerita mereka jadi novel. Cerita ini sudah setahun yang lalu, sudah bikin outline sampai tamat, tapi nggak sreg, terus terbengkalai -_- Akhirnya saya rombak ulang dan semua adegan di atas sepertinya tidak saya masukkan outline. Sedih ya :'|
.
Maaf kakak, kelepasan curhat -_- Mohon masukannya lagi kalau besok saya bikin post :)

Writer FajarAz
FajarAz at Like We Used To (8 years 17 weeks ago)
80

full support! setuju kalau mau di terbitin...

Writer herjuno
herjuno at Like We Used To (8 years 17 weeks ago)
80

Hm, it's been awhile since I visited your post.
.
Semacam prolog ya? Kalau menurut saya, ada tiga hal yang bisa dikembangkan:
1. Hubungan Lucy-Arka, terutama peran Arka dalam membantu Lucy ke depannya.
2. Bagaimana Lucy beradaptasi pascakejadian tersebut.
3. Konflik buat Arka kalau ada.

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Like We Used To (8 years 14 weeks ago)

Terima kasih, Kak, membantu sekali ^^ Saya sedang proses buat outline sekarang ^^

Writer Facchan
Facchan at Like We Used To (8 years 17 weeks ago)
40

Cliffhanger ya? Masih ada lanjutannya nggak? Sayang kalau nggak dilanjutkan, soalnya aku penasaran sama kelanjutan hubungan Lucy-Arka. :3

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Like We Used To (8 years 17 weeks ago)

makasih banyak sudah baca :) ini background story ^^ karena ini cerita dari Arka SD hingga lulus SMA, jadi bingung bagian mana yang harus dikembangkan .__." ada saran? >,<

Writer 2rfp
2rfp at Like We Used To (8 years 17 weeks ago)
90

kereen, harus ada lanjutannya ini! hahaha

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Like We Used To (8 years 17 weeks ago)

eeeh terima kasih banyak, untuk poinnya juga ^^ sebetulnya ini background story, rencananya mau dikembangkan sampai novel. tapi msh bingung, bagian mana yg sebaiknya dikembangkan ._."

Writer 2rfp
2rfp at Like We Used To (8 years 17 weeks ago)

munkin awal bisa diceritakan hubungan si arka dgn pak pardi, dengan manis pahitnya, lalu saat dia ketemu lucy dan meloncat sampai SMA dan perjuangannya menahan rasa cintanya, lalu lanjutkan saja bagaimana seterusnya, ini cerita kamu, kamu yang harus memutuskan dan mengembangkannya hehehe.