Manequeen

Prolog

When Love is Began

 

Aha! Listen boy
My first love story
My angel and my boy
My sunshine
Oh! Oh! Let’s go!

Kamu! Ya, kamu! Iya, kamu yang ada di sana! Sebuah mannequin cantik bukan berasal dari India. Tidak ada seorang pun tahu kamu berasal dari mana. Lagipula asalmu—sungguh—tak begitu penting bagi mereka, karena kamu hanyalah sebuah mannequin. Mannequin tepatnya.

Kini kamu sedang asyik mencuri pandang. Mencuri pandang dari seseorang. Seseorang yang menurutmu menyerupai pangeran dari negeri sebrang. Kamu senang? Ya, kamu begitu senang! Lihatlah tampa sadar bibirmu membentuk senyum yang mengembang. Tepat ketika matamu dan mata pemuda itu berhasil bertemu pandang.

Pangeran? Haha rasanya ingin tertawa karena heran. Kamu sama sekali tak memedulikan—atau? sengaja tak memedulikan—bagaimana pemuda itu berpenampilan. Pemuda itu menggunakan baju pelayan. Perlu ditegaskan? Baiklah ... pelayan! Bagaimana mungkin pangeran dari keluarga bangsawan berpenampilan seperti pelayan?

Dan kamu hanya berpikiran bahwa ini semua hanyalah penyamaran.

Ah! Aku bohong. Kamu akui bahwa kamu sedang berbohong.

Sebenarnya pemuda itu memang hanya pelayan toko di sini. Tapi kamu tidak peduli. Walaupun hanya terbalut pakaian pelayan atau bahkan terbalut bikini. Bagimu pemuda itu satu-satunya yang ada di hati. Di hati? Apa kamu memiliki hati?!

Kyaaa! jeritmu berusaha setengah mati. Namun siapa peduli? Bagi mereka yang ada disini, kamu hanyalah benda mati.

Hingga kamu sadari. kamu belumlah memperkenalkan pemuda tersebut pada kami.

.

.

.

.

.

V96 # 60V


Eh? Aku belum bilang siapa nama pangeran tersebut? Sepertinya memang belum! Namanya Galih Putra Mandala. Sementara Aku? Namaku Valent—setidaknya begitulah Galih memanggilku.

Valent—panggilan itu diberikan langsung oleh Galih. Aku sempat berpikir, kenapa tidak Ratna (seperti couple dalam lagu yang sering aku dengar). Dugaanku, mengapa Galih memberi nama tersebut, karena dia mendapatkanku ketika hari penuh nuansa ke-pink-pink-an yang dikenal sebagai hari kasih sayang—Valentine.

Galih bukan hanya orang yang memberikan panggilan—yang secara sepihak kuanggap sebagai nama—padaku tapi Galih jugalah orang pertama—hingga kini sih, satu-satunya—yang kukenal di tempat ini. Aku tahu beberapa orang (dan sejenisku tentu saja). Aku hanya tidak yakin apa aku juga dan mereka secara khususnya kenal denganku.

Biar kuceritakan sedikit pertemuan pertamaku dengan Galih.

Errr....

... Itu...

... A-anu...

... A-aku juga tidak tahu pasti.

Kini aku hanya menggelengkan kepalaku pertanda sama sekali tidak ingat atau justru aku tidak mengetahui apapun tentang pertemuanku dengan Galih. Sedikit mengacak rambut sebahuku dan menggaruknya padahal tidak gatal sama sekali. Tentu saja semua itu dalam arti tidak sebenarnya.

Satu hal yang kuingat ketika itu adalah mata sekelam malam milik Galih. Mata itu menatap tajam menerawang pikiranku. Menghipnotisku dan menghancurkan pertahananku dalam sekejap. Ya! Hanya dalam sekejap pula aku terjerat oleh tatapan Galih. Terjerat dengan begitu eratnya. Kurasa inilah yang dinamakan ‘cinta pada pandang pertama’.

Hingga kini aku masih bisa merasakan sensasinya—wajar kalau sekarang aku kikuk ketika bertemu pandang dengan Galih. Aku gugup sekaligus—ehem malu ehem—entah karena apa aku bisa merasa malu pada Galih. Sampai sekarang pun aku tidak tahu alasannya dan tidak ingin mencari tahu pastinya.

Satu hal lagi yang begitu menjanggal adalah: aku ingin selalu menatapnya. Aneh bukan? Sebuah perasaan yang membuat tidak nyaman tapi ingin selalu merasakannya. Aku tidak yakin, tapi menurutku, ini pasti cinta.

Ketika mata kami saling bertemu pandang, aku senang merakan panas yang menjalar dipipiku. Aku yakin ketika itu, walaupun aku hanyalah sebuah mannequin, tapi pipiku pasti akan memerah.

Pikiranku menyarankan untuk menghindari tatapan tajam yang kelam itu. Namun tubukku justru selalu mencuri pandang hanya demi tatapan tersebut. Persis seperti yang kulakukan sekarang ini.

Oh! Ada lagi yang kuingat! Aroma yang menyeruak dari tubuhnya. Aroma itu ... aku juga tidak tahu apa namanya. Mungkin itu aroma pria sejati. Ooohhh~ aroma itu tak akan tergantikan dengan aroma apapun—bahkan oleh aroma opor ayam ketika sedang menunggu buka puasa.

Oh bodoh! Aku ini bodoh! Apa hubungannya dengan opor ayam coba? Aku tahu itu nggak nyambung. Bisa disensor? Atau kalau sudah terlanjur dibaca, mohon jangan dianggap dan lupakanlah. Valent ... Valent ... benar-benar  dibodohi oleh Virus Galih Putra Mandala.

Hanya Galih dan Galih serta Galih saja yang mengisi seluruh kehidupanku (itupun kalau aku bisa dikatakan hidup) lebih-lebih di hatiku. Mungkin karena selama ini Virus Galih sudah berhasil menguasai seluruh tubuhku.

Ya, sepertinya aku hanya melihatmu. Hanya kamu seorang. Mataku dibutakan oleh sinarmu. You are my sunshine.

Oh tidak! Tidak! Tidak! bahkan sekarang aku dapat melihat kalau Galih sudah semakin mendekat....

Loh? Kok tahu-tahu dia sudah ada di depanku? Tatapan itu terulang lagi. Kurasa aku sudah tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutku. Bukan hanya itu aku juga merasakan pipiku—hampir seluruh wajahku sih—memanas. Kurasa wajahku mulai merah sekarang.

Tatapan mata ini. Aroma ini. Wajahnya begitu dekat. Ini terlalu dekat.

Apa semua lelaki memang diciptakan seindah ini?

Cukup! Aku tidak bisa lebih dekat dari ini. Tubuhku bukan lagi hanya memanas sekarang. Tubuhku bisa terbakar. Galih bawa api kemana-mana kali yah sampai bisa membuatku sepanas ini.

Apa yang harus Aku lakukan?

Lama Galih-kun menatapku  seperti ini....

Jantungku serasa mau copot.

Deg!

Jantung? Benar! Aku bahkan tidak memiliki jantung untuk berdebar bila di dekat Galih.

Aku hanya subuah mannequin. Mannequin pajangan sebagai wadah sample baju. Mannequin sepertiku ditakdirkan diam seperti patung.

Hayalan lagi. Semua yang tadi aku ceritakan—itu semua hanya hayalan. Ya! Pasti hanya sebuah hayalan!

Benda mati dan makhluk hidup bagaikan dua garis lurus yang tidak bisa berpotongan dan berhimpit. Bila bersatu itu hanyalah kemustahilan seperti yang dijelaskan dalam ilmu peluang. Tidak bisa dijelaskan bahkan oleh Hukun Newton sekalipun.

“Hn,” gumannya pelan.

Begitulah Galih selalu hemat bicara. Dari pengamatanku kata yang paling dia suka—hampir memasuki level cinta sesungguhnya—adalah kata “Hn”. Tapi meskipun telah melakukan pengamatan yang cukup lama Aku masih tidak mengerti apa arti ‘Hn’ itu sebenarnya, kata tersebut sangat misterius dan sebenarnya sih, mencurigakan. Bagaimana tidak, orang tidak tahu maksud terselubung apa yang terdapat dalam kata tersebut.

Galih kemudian mengalihkan pandangannya. Turun, turun lagi, semakin turun dan terus turun. Dia memperhatikanku dengan begitu mendetail.

Tangan putih porselinnya menelusuri kaki jenjangku. Membuat rok yang kukenakan sedikit terangkat dan memperlihatkan kulit putih yang begitu terlihat alami milikku.

Galih beralih mencari tempat di belakangku dan melingkarkan tangannya di pinggangku. Tidak hanya itu wajahnya kini berada di pundak kiriku. Aku bisa merasakan dengusan napas hangat milik Galih berada di pipiku karena kebetulan kini dia sedang menatapku.

Masih dengan posisi yang sama, pandangan Galih beralih ke bawah. Kyaaa! Apa dia sedang memperhatikan, ehem, dadaku? Tidak!

Aku yang memahami kodratku sebagai mannequin, mannequin tidak bisa, ah bukan! Tidak seharusnya bisa bergerak selayaknya manusia—aku hanya diam. Seperti kata orang: kalau sudah tak berdaya lebih baik menikmati saja.

“Sudah kuduga! Gaun soft pink ini memang kebasaran untukmu,” lanjutnya berguman sediri.

Kemudian nampak sekarang Galih sedang melambaikan tangan pada sahabat merah maroon-nya. lagi-lagi....

Kenapa bukan Galih sendiri yang menggantikan bajuku? Sungguh! Aku sebenarnya tidak keberatan kok. Toh aku sadar diri aku hanyalah sebuah mannequin.

Galih selalu saja menyuruh wanita mata empat itu. Huh! Sebenarnya aku tidak begitu suka pada Ririn—si penggila merah maroon yang kenyataan pahitnya adalah sahabat Galih sekaligus wanita mata empat yang kuceritakan—dia sedikit ganjen pada Galih.

Umm ... kalau dipikir-pikir Galih memang selalu menyuruh Ririn dan/atau pelayan wanita lainnya. Paling sering sih memang Ririn.

Pernah suatu hari, Tarno—salah satu pelayan di sini—akan menggantikan bajuku atas perintah pemilik tempat ini. Lalu tiba-tiba Galih datang dan melarangnya, Galih juga mau repot-repot berbicara pada bos agar yang menggantikanku itu haruslah pelayan wanita.

Aneh bukan?

Err ... aku merasa keberadaanku ini sangat diperhatikan oleh Galih. Bukan sebagai sebuah mannequin, tapi sebagai seorang manusia.

Deg!

Ya, manusia. Lebih tepatnya manusia yang sejenis kaum hawa. Perempuan.

Galih menganggapku sebagai seorang perempuan. Itu kenyataannya!

Sontak aku membulatkan mataku. Beruntunglah karena Galih kini sedang berbicara dengan Ririn—dan membelakangiku—kalau tidak, bukan tidak mungkin dia bisa melihat ekspresi anehku.

Aku juga tidak yakin kalau asumsiku ini benar. Bisa jadi ini hayalah pebenaranku saja. Tapi apa salahnya? Namanya juga usaha.

Tinggal sekarang, apakah aku akan mempunyai keberanian?

Punya dong.... Kenapa tidak? Ya, tekadku telah bulat.

Galih dan Ririn telah selesai berbincang-bincang. Kini Ririn mengangkatku dan akan membawaku keruangan ganti baju, seperti biasanya.

Kami melewati Galih tapi aku masih bisa melihatnya.

apa keputusanku ini akan menjadi hal yang benar untuk dilakukan?

Read previous post:  
23
points
(786 words) posted by yooniqueen 7 years 17 weeks ago
46
Tags: Cerita | Novel | misteri | angst | family | Hurt/Comfort | Tragedy
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer vadis
vadis at Manequeen (5 years 44 weeks ago)
60

halo saya sedang mengamati saja dulu.

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Manequeen (7 years 16 weeks ago)
70

iya kirain biasanya manekin langsung diganti aja bajunya di tempat... lagian badannya itu kan ga detail kayak badan manusia, atau mungkin ini karena manekinnya menyerupai manusia, dan bisa bicara dl hati dan punya perasaan, manekin yang bermartabat.
bahasanya enak kok dibaca.

Writer citapraaa
citapraaa at Manequeen (7 years 16 weeks ago)
70

*point

Writer citapraaa
citapraaa at Manequeen (7 years 16 weeks ago)

neomu kkamjak kkamjak nuni busyeo no no no no no~
ada yg aneh di paragraf pertama. kalimat terakhir menjelaskan maksud yg udah jelas....
kukira valent ini cowok.. habis nama galih bisa cewek jg kan.
emg kalo manekin ganti baju harus ke ruangan dulu gt ya? baru tau hehe