Sebuah Ruang dan Waktu

Oleh: Louv Nazar

 

1

Bulan diam-diam memandang ke dalam kereta melalui kaca yang gordennya sengaja disibakkan, ketika kau mencoba merayuku agar aku mau membelikanmu segelas kopi dari pedagang asongan di kereta, sewaktu kita dan lima teman lain berlibur bersama ke Kota Bogor.

You’re like a candle in the dark” katamu waktu itu, membuat teman-teman lain tertawa. Aku yang sedang pura-pura tertidur mau tak mau tersenyum geli mendengarnya. Bahasa Inggris-mu yang pas-pasan itu, entah mengapa membuat hatiku berdebar.

“Aku nggak mau jadi lilin.” Kataku mengelak, agar aku tak perlu membelikanmu kopi.

“Lalu maumu jadi apa?” Tanyamu memancing.

Aku hanya tersenyum. Senyum nakalmu berhasil membuatku salah tingkah. Teman-teman mulai menggodaku, mungkin waktu itu mukaku memerah.

Ada sebuah rasa di dalam hatiku yang tak kumengerti. Ada sebuah kenyamanan yang begitu memikat bila bertemu denganmu.

Kereta ekonomi ini membawa kita ke sebuah dimensi yang akhirnya menjadi kenangan. Menuju sebuah ruang dan waktu yang menjadikan rasa ini tumbuh dengan leluasa.

 

2

Bulan masih melihat kita saat kau berdiri di sampingku, di balkon gedung ini, gedung yang menjadi saksi perasaanku padamu. Kita bersenda gurau di tempat ini saat akan menyaksikan sebuah pertunjukan seni.

Bulan melihat saat kau dan aku tertawa, bersenda gurau, dan saling ejek.

I like you

Terus terang, aku tak pernah menyangka kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa persiapan, tanpa rencana.

“Hah?” Kau kaget. Kau memintaku untuk mengulangi kata-kataku barusan. Aku juga kaget. Aku masih tak percaya pada apa yang aku katakan tadi.

Kau mendekatkan wajahmu padaku, membuat dadaku berdesir. Sekali lagi aku menjadi salah tingkah.

Just forget it.” Kataku, lalu aku pergi meninggalkanmu.

Aku tak tahu apa yang ada di pikiran bulan tentangku, yang tak berani menghadapi perasaannya sendiri. Aku sendiri tak mengerti dengan sikapku. Jika waktu itu aku menatap wajah bulan, mungkin aku akan segera tahu, bahwa aku telah berbuat bodoh menyia-nyiakan satu-satunya kesempatan mendapatkan dirimu.

 

Aku adalah dia yang pecundang, yang tak berani menghadapi perasaanya sendiri.

Aku adalah dia yang pembohong, yang tak mengakui perasaan yang tumbuh dalam hatinya.

Aku adalah dia yang sombong, merasa tinggi dan harus selektif.

Aku adalah dia yang pada akhirnya harus menangis dalam penyesalan karena cintanya dirampas orang lain.

 

3

Aku merindukan bulan yang dulu, kereta yang dulu, ruang dan waktu yang dulu.

 

4

Kau orang pertama yang dapat menyelimurkan rasa sakit dan sepiku. Kau bercerita, mengajakku bercanda, mencoba membuatku lupa akan dunia keabadian yang selalu membayangi hidupku.

Pintu terbuka, aku sedang mematut diri di depan cermin, di sebuah ruangan yang tak asing bagiku, kamar kos-ku. Aku berdiri di depan pintu, mengamati. Rok, wedges, lipgloss pink, dan seutas senyum di wajahku. Aku yang sedang memakai wedges berjalan ke arahku yang berdiri di depan pintu, melewatiku begitu saja. Aku tahu, aku yang memakai wedges akan berjumpa denganmu. Aku melangkah ke dalam, menatap cermin. Kosong, hampa. Belum sempat aku berjalan keluar dari kamar ini, tiba-tiba semua yang ada di sekitarku tertarik ke atas, lenyap, meninggalkanku. Gelap.

Perlahan, aku mulai membuka mata. Aku bahagia mendapat kesempatan kedua untuk bertemu denganmu lagi, meskipun mungkin ini kesempatan terakhir. Meskipun tempat yang penuh dengan orang memakai jas putih ini tak bisa dikatakan sebagai tempat indah. Aku tak akan melepas kesempatan untuk memandang dirimu. Aku tak ingin berbuat bodoh lagi dengan menyiakan kesempatan ini. Aku tak ingin membiarkan waktu lewat tanpa merasakan kenyamanan denganmu. Aku tak ingin menyesal untuk yang kedua kali.

“Aku benar-benar menyukaimu...,” kataku di hari terakhir aku menggengam tanganmu. Tak ingin kulepas genggamanku dari tanganmu di atas kasur ini.

Aku sempat melihat matamu berkaca-kaca.

 

-aku tak pernah bilang cerita ini TAMAT-

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer nusantara
nusantara at Sebuah Ruang dan Waktu (8 years 9 weeks ago)
70

-aku tak pernah bilang cerita ini TAMAT-
sip.

Writer LouvNazar
LouvNazar at Sebuah Ruang dan Waktu (8 years 8 weeks ago)

:)

Writer Shinichi
Shinichi at Sebuah Ruang dan Waktu (8 years 9 weeks ago)
30

saya nggak ngerti jalinan kisahnya. maksudnya, untuk beberapa hal, pembaca juga ingin mendapat "pertunjukan" sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di benak mereka, seperti 5W+1H. di sini, penulisnya asyik sendiri, apalagi dengan adanya semacam puisi di dalam cerita, saya jadi dapat kesan, penulisnya hanya ingin "mengisahkan" sesuatu yang cuma dia sendiri yang tahu. ini setengah-setengah, atau dalam bahasa saya siy, kurang berhasil--untuk tidak menyebutnya gagal.
kip nulis.

Writer LouvNazar
LouvNazar at Sebuah Ruang dan Waktu (8 years 8 weeks ago)

Pernah nonton teater? Pernah lihat lukisan?
Interpretasi adegan/ gambar itu mengartikan apa,menunjukkan apa, itu terserah penikmat.
Saya rasa kata-kata juga bisa seperti itu..

Writer LouvNazar
LouvNazar at Sebuah Ruang dan Waktu (8 years 8 weeks ago)

Umm,, ini kan tulisan bebas, bukan berita, bukan untuk memenuhi syarat majalah.
Pernah Baca Salju Gurun tulisannya Dee? Atau Spasi, atau yg sejenis itu? Setau saya 5W 1H itu berita.
Pernah tau cerpen terpendek "Sell. Baby Shoes. Never worn."?

Mungkin perlu ditambah 1 kategori lagi, bukan cerpen bukan puisi, katanya Dee itu prosa..

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Sebuah Ruang dan Waktu (8 years 10 weeks ago)
60

lebih banyak dialog batinnya. si tokoh seperti dalam tempurung kepalanya sendiri begitu, hanya sepintas2 persinggungannya dg orang lain.
ada masalah dg penulisan dialog, maksudnya, kalimat dg tanda petik. kalau kita perhatikan di buku2 fiksi yang baik penyuntingannya, penulisan dialog dg klausa yang menyambungnya itu biasanya begini: //"Aku nggak mau jadi lilin," kataku mengelak// perhatikan adanya koma dan penggunaan huruf kecil sehabis kalimat langsung. lalu ada pula kalimat dialog yang tidak diakhiri dg tanda baca entahkah titik atau koma, bisa ditelusuri sendiri :)
mudah2an terus semangat membaca, menulis, dan mengapresiasi :D

Writer LouvNazar
LouvNazar at Sebuah Ruang dan Waktu (8 years 8 weeks ago)

iya, maap mbak, typo.. hehe