Sebelum Ujian

Sebagai mahasiswa, aku merasa tiap semester dibagi ke dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah saat baru mulai semester, ketika aku masih bersemangat menyongsong masa depan. Di tahap ini, aku akan rajin-rajinnya masuk kelas, ngerjain tugas, catat yang dijelasin dosen, dan hal-hal lain untuk membuat nilai bagus. Aku berusaha keras mendapat nilai A di akhir semester.

Tahap kedua adalah sekitar tiga minggu sebelum Ujian Tengah Semester (UTS). Pelajaran makin sulit, kelas juga sering kelewat karena sering ketiduran. Itu berefek pada tugas yang mulai dikerjakan semena-mena. Walaupun masih pede, aku biasanya menghadapi UTS dengan persiapan kurang.

Nah, tahap ketiga adalah masa setelah UTS hingga Ujian Akhir Semester (UAS). Setelah melihat nilai UTS dan sadar kalau ternyata aku tak sepintar yang kukira, aku biasanya udah malas-malasan. Apalagi pelajarannya makin sulit aja setelah UTS, padahal yang sebelum UTS belum ngerti-ngerti amat. Di tahap ini, aku lebih banyak pasrah pada nasib dan percaya Tuhan akan membantu karena dia sayang pada hamba-Nya. 

Harus kuakui, aku bukanlah mahasiswa yang baik.

Ini membuatku selalu kesulitan mengahadapi UAS. Biasanya seperti inilah kegiatanku ketika ujian :

1. Berdoa dengan sangat khidmat sebelum ujian dimulai

2. Membuka soal ujian, membaca soal no. 1 dengan teliti

3. Merasa gak ngerti, lalu mencari soal yang bisa kukerjakan lebih dulu

4. Sadar gak ada soal yang bisa kukerjakan

5. Tertawa pasrah, melihat teman-teman lain mengerjakan dengan lancar

6. Menguatkan hati dan membaca soal lebih teliti lagi, mencoba mengingat apa yang sudah dipelajari

7. Gak ada yang ingat dan mulai menangis

Kalau udah begitu, dapat nilai C aja aku bisa gembira bukan kepalang.

Sekarang, sebagai mahasiswa senior, tentu saja aku tak mau begitu terus. UAS kali ini aku berniat untuk mendapat hasil yang lebih baik. Aku gak mau lagi merasa tak berdaya di kelas saat ujian. Tapi tentu saja, banyak halangan menghadang niat mulia itu. Kebanyakan dari diriku sendiri sih.

Aku punya kebiasaan untuk menunda-nunda sesuatu. Ini adalah sifat yang sangat buruk, tapi kebanyakan dari kita biasanya melakukannya. Kau tahu kan perasaan ketika kita ingin belajar tiba-tiba saja semua hal lain selain belajar akan terlihat menarik? Misalnya biasanya kau malas mencuci baju kotor yang menumpuk, tapi ketika mau belajar, mencuci jadi terlihat menyenangkan. Jadi kau memutuskan untuk mencuci dulu. 

Inilah yang sering terjadi padaku pada suatu ujian. Aku tahu ujian ini susah dan jika aku tidak belajar, bisa dipastikan aku hanya akan mengkhayal bagaimana masa depanku di kelas nanti tanpa bisa mengerjakan satu soal pun. Jadi aku mengecek jadwal ujiannya, niatnya sih untuk mengatur jadwal belajar yang benar. Ketika melihat ujiannya masih tiga hari lagi, otakku mulai berpikir yang aneh-aneh.

"Ah, hari ini santai ajalah dulu. Besok seharian aku belajar, jadi sekarang istirahatin otak dulu," pikirku. Ingatlah nasihat yang kupelajari lewat pengalaman sulit ini. Dirimu sebelum ujian adalah dirimu yang paling tidak bisa dipercaya. Jika kau berpikir bisa tidak belajar, maka sebenarnya kau harus belajar.

Tapi aku yang dulu masihlah polos dan tidak tahu pelajaran hidup itu. Jadi maafkanlah aku. Maka seharian itu kuhabiskan dengan main terus. Aku bahkan gak mikir ujian sama sekali.

Besok paginya, aku sempat berpikir untuk belajar. Yup, SEMPAT. Saat itu rencanaku adalah main bentar terus belajar. Tentu saja itu tidak terjadi. Yang ada aku malah main terus dan jadi malas belajar. Aku kini berpikir, "Masih ada dua hari lagi. Kalau besok belajar, terus besoknya belajar lagi, pasti sempat."

Besoknya lagi, Malaikat Kemal pun turun tangan. Ketika aku bangun, dia sudah berdiri di kamarku.

"AAAHH SETAN!!" teriakku ketika melihatnya. Aku lalu melempar bantal.

Malaikat Kemal menghindar dengan panik, "Eh buset, aku tuh Malaikatmu, malah disangkat setan."

"Oh, ada apa Malaikat? Ini kan masih pagi."

"Aku datang untuk memperingatimu," katanya. "Ujian tinggal dua sebentar lagi. Belajarlah. Jangan menunda-nunda lagi."

Aku baru saja akan menurut sampai tiba-tiba Setan Kemal muncul.

"Kau....musuh abadiku," geram Malaikat Kemal melihat rivalnya itu.

"Hai Malaikat," sapa si Setan Kemal dengan singkat. Dia lalu melihatku, "Yo Kemal, game kemarin belum selesai kan?"

Jiwa game-ku terusik, "Benar juga ya...."

"Tidak!!" Malaikat Kemal berteriak, membuatku kaget, "Kau tidak bisa begini terus Kemal. Ujian sebentar lagi. Kau bisa gawat kalau tidak belajar!!"

Tapi Setan Kemal terus memprovokasiku, "Ya ampun, kau masih bisa belajar besok. Bagaimana kalau begini? Hari ini main seharian, besok kau belajar seharian. Tak ada gangguan lagi."

Aku berpikir, "Ya, kurasa aku bisa saja belajar sehari penuh besok."

Malaikat Kemal jelas tidak senang dengan keputusanku, "Kemal, jangan dengarkan di....ugh!!"

Setan Kemal meninju Malaikat Kemal sampai dia tak sadarkan diri. Mungkin karena aku lebih sering buat jahat dibanding baik, Setan Kemal lebih kuat.

"Maaf Malaikat Kemal," kataku, "aku berjanji akan belajar besok."

Maka seperti hari sebelumnya, aku menghabiskan seharian itu dengan main game. Malamnya Malaikat Kemal membalas dendam padaku dengan memperlihatkan masa depanku yang kelam karena main terus. Itu membuatku cukup depresi. Maka saat itu aku menegaskan dalam hati kalau aku akan belajar keesokan harinya. Tidak ada menunda-nunda lagi.

Hanya saja, Setan Kemal selangkah lebih maju. Ketika tidur, aku diberinya mimpi indah dimana aku bertemu pacarku yang selama ini LDR. Saking bahagianya aku di mimpi itu, aku jadi malas bangun. Rencana untuk belajar pagi musnah sudah.

Ketika aku akhirnya bangun, jam mungkin sudah menunjukkan jam 11 siang. Sekali lagi Setan Kemal membisikkan sesuatu. 

"Makan dululah. Kan gak enak belajar dengan perut kosong." Dasar imanku yang lemah, aku pergi membeli makan.

Aku baru benar-benar belajar pada jam 1 siang. Aku sudah mengunci Setan Kemal agar dia tak bisa mengganggu lagi. Kali ini aku hanya fokus pada belajar.

Saat itulah aku tersadar banyak materinya yang harus kupelajari. Awalnya aku mencoba membaca pelan-pelan, tapi aku sulit memahaminya. Aku lalu membaca ulang, dan kini melihat contoh-contoh soalnya. Ya ampun, satu materi aja aku belum terlalu mengerti. Ini sih gak bisa dipelajari dalam sehari.

Lalu sadarlah aku kalau Malaikat Kemal selama ini memperingatkanku akan hal ini. Dia sadar mata kuliah ini adalah sesuatu yang tak bisa dipelajari dalam sehari. Aku merana, sesal memenuhi hatiku. Oh Malaikat Kemal, aku bersalah padamu. Aku minta maaf. Kelamaan menyesal, aku tersadar kalau itu udah malam dan aku belum belajar satupun.

Karena ujian besok paginya, aku memutuskan untuk belajar semalam suntuk. Aku menghindari semua yang bisa membuat konsentrasiku buyar. TV? Tidak!! Komik?? Tidak!! Game?? Oh bolehlah di.....tidak!! Aku benar-benar fokus hanya belajar dan belajar.

Aku sadar kalau otakku tak akan mampu untuk mempelajari semua materi, jadi aku ganti strategi. Aku akan belajar sebagian materi saja tapi benar-benar mengerti. Jadi jika materi itu keluar, aku bisa mengerjakannya. Paling tidak itu bisa memastikan aku bisa mengerjakan sebagian.

Matahari akhirnya terbit di luar. Mataku udah sangat berat, tapi aku takut bakal ketiduran kalau tidur sekarang. Aku mencoba belajar hingga menit-menit terakhir. Aku tak suka membawa bahan ke kampus dan belajar di sana seperti banyak orang lain. Itu mengganggu konsentrasi dan kadang membuatku gugup.

Rasanya capek sekali, tapi aku ingin memastikan yang kupelajari bisa masuk otak. Kubaca berkali-kali. Kukerjakan soal-soal yang mungkin keluar nanti. Badanku lelah, otakku lelah, tapi aku tak mau menyerah begitu saja.

Pada akhirnya, setelah siap mental, aku pergi ke kampus. Masih ada sekitar lima menit sampai kami baru boleh masuk kelas. Benar saja, banyak banget teman-temanku di sana yang masih saja berdiskusi soal kira-kira soal apa yang akan keluar. Aku tak boleh gugup, aku harus yakin dengan yang kupelajari.

Dosen akhirnya memanggil mahasiswa untuk masuk kelas. Aku sekali lagi mengingat-ingat apa yang kupelajari. Semoga kerja kerasku tak sia-sia begitu saja.

Eh tunggu, kenapa yang lain belum masukin bukunya?

Aku melihat ke sekitar dengan bingung untuk beberapa saat. Lalu aku duduk dan membuka soal.

Di keterangan soal, tertulis peraturan sebagai berikut :

-Tulis jawaban dengan singkat dan jelas

- Soal tidak perlu dikerjakan secara terurut

-Waktu 120 menit, open book.

Aku melihat keterangan itu sekali lagi. Open book. Open book.

Haha.

Rasanya aku ingin membanting meja.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer azraelsalvatore
azraelsalvatore at Sebelum Ujian (7 years 33 weeks ago)
80

Jd inget spongebob yg episode di kasih tugas esai sama mrs puff.
itu loh yg gak selesai2 karena keganggu trs hahaha

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Sebelum Ujian (7 years 34 weeks ago)
70

eh open book itu kadang justru jawabannya malah ga ada di buku lo....
ya ini lebih kayak esai personal. kiranya lebih pas kalo dipajang di blog ya, terus dibukukan kalo udah banyak :D

Writer citapraaa
citapraaa at Sebelum Ujian (7 years 34 weeks ago)
80

HAHA. Sama kita *tos *kok bangga.
Euh.. coba setan kemal ketawa serem "Hihihihi." (kemal apa mak lampir?)
emg dia gak liat jarkoman gitu? ckkkckc

Writer AhmadFajar
AhmadFajar at Sebelum Ujian (7 years 34 weeks ago)

gokil..........gondrong makan kerikil!!!