Orang Asing

 

 

 

 

 

Orang Asing

.

 

Shit!

Aku mengumpat begitu tiba di kursi putih salah satu restoran cepat saji. Pakaianku basah kuyup. Semuanya! Mungkin hingga menembus ke lapisan pakaian dalam. Harusnya hari ini tidak hujan dan harusnya mobil yang biasanya kutunggangi juga tidak di bengkel. Tidak hari ini!

            Aku menyelinap masuk setelah berusaha tidak memedulikan tatapan satpam saat membukakan pintu beberapa saat lalu, Aku masih merasakan tatapannya di punggungku. Pasti alisnya saling tertaut, dahinya mengkerut dan salah satu ujung bibirnya mengkerucut. Setidaknya itu bayanganku.

“Iya, ada yang bisa dibantu, mau pesan apa?” Suara renyah wanita pramusaji menyadarkanku bahwa sudah saatnya memesan makanan.

“Big Burger dengan Cola. Porsi jumbo.”

“Makan di sini at—”

“Makan di sini.” Aku menjawab cepat. Kelaparan. Dan kedinginan.

Setelah menyerahkan uang pas dan nampan santapan siang berada dalam genggaman, mataku otomatis menelusuri seluruh ruangan, mencari tempat terpencil yang akan membuatku melahap dengan nyaman. Namun rasa-rasanya hujan belum cukup mengerjaiku, ia membuat restoran yang biasanya sepi pengunjung menjadi restoran kelas bawah. Beberapa Mahasiswa di ujung kiri, beberapa kelompok keluarga menguasai medan tengah, dan baru kusadari tidak ada bangku yang kosong.

Shit!

Aku kembali mengumpat.

            “Mas bisa duduk di sini kalau mau.” sebuah suara membuatku menoleh dan mendapati seorang wanita sedang mendongak, menatap ke arahku.

            “Saya? Boleh, Mbak?”

            “Iya silahkan, saya sendirian.” Beberapa detik kemudian aku sudah menarik kursi, meletakkan nampan di meja dengan pelan—tidak seperti biasanya. Wanita itu lalu tersenyum ramah sebelum kembali menyesap Milk Shake coklatnya.

            Bohong jika aku mengatakan tidak tertarik dengan orang yang duduk di depanku ini. Bagaimana cara menjelaskannya ya? Ia berambut sepundak, lurus tapi tak tergerai jatuh. Ia memadukan kemeja putih yang diberi pita lucu di lehernya dengan rok krem selutut. Kurasa ia juga memakai heels berwarna hitam. Jika boleh kutebak, duatiga atau duadua. Umurnya.

            “Saya rasa bakal banjir lagi.” Aku sedikit terkejut mendengar ia bersuara lagi. Matanya kini menatap langsung ke mata di balik pelindung kaca bertangkai yang kupakai.

            “He-eh. Hujannya gak kira-kira.”

Ia kembali menyesap minumannya sembari menyelipkan sejuntai rambut ke telinga kirinya. Menawan. “Iya, saya lihat.” Ia mengulum senyum tipis dan pandangannya menggelitiki sekujur tubuhku.

            “Oh yeah!” kembali tersadar bahwa bajuku basah kuyup hingga meninggalkan kubangan kecil di bawah kursi yang kududuki paksa. “Panjang ceritanya.”

Ganti aku yang mulai tersenyum, lalu menyelipkan potongan burger dengan pelan. Kuharap kalian percaya jika kubilang aku sudah tidak lapar.

Lalu hening. Ia meneguk minumannya yang tinggal separuh gelas dan mengarahkan tatapannya ke arah samping.  Menerawang menembus kaca di sisi kirinya. Pandangangannya mengawang. Lalu terdengar beberapa desahan berat. Tak perlu menjadi orang peka untuk tahu bahwa wanita cantik ini sedang gelisah.

            “Tapi hujan membuat beberapa orang atau benda bahagia. Setidaknya buat awan-awan di atas. Kasihan bawa beban kemana-mana, memperlambat lajunya kan?” Entah apa yang kupikirkan, kalimat itu meluncur dari lidahku begitu saja.

Hei, aku seorang Mahasiswa kedokteran bukannya Mahasiswa Geografi yang jago merapal siklus cuaca!

Wanita itu terhenyak dari lamunanya dan menatap bingung ke arahku.

“Maksud saya, setidaknya air memang harus tumpah untuk meringankan beban awan kan? Dia perlu melaju lebih cepat.” Aku melanjutkan asal. Bagus sekali, Gio! Kau membuat dirimu sendiri kelihatan dungu.

Kupikir ia akan mengernyit bingung dan melemparkan pandangan seolah-olah kau-orang-aneh, tapi ternyata tidak. Ia tertawa tertahan. Jari telujuknya bergerak memutari permukaan gelas, tatapannya tertuju pada beberapa onggok es batu yang sedikit demi sedikit bersatu dengan zat di sekitarnya, tatapannya melemah, dan ia tersenyum. Pahit.

            “Apakah itu berlaku pada manusia?” andai saja aku sedang tidak menatapnya mungkin aku tidak tahu itu suaranya. Begitu lirih ditambah tatapannya tak teralih dari es batu yang merintih melumer.

            “Berlaku pada manusia?” Aku membeo. “Oh ya, tentu saja. Terkadang kita juga harus menumpahkan hal-hal yang sudah dipikul terlalu lama. Karena kamu—mbak tahu, itu bisa menghalangi laju kita.” Lanjutku setelah mengerti arah pembicaraannya. Aku punya firasat ini akan berlangsung lebih lama.

            “Saya gak tahu apa yang mesti dilakuin. Loncat kelas waktu SD padahal mendahului masuk setahun lebih awal, memilih sekolah akselerasi karena ngerasa bisa menghemat waktu dan biaya dan itu juga keren. Maksudnya, bayangan lulus kuliah umur belasan. Saya gak tahu kenapa dulu begitu bangga.”

            “Beberapa hari lalu ada Koran yang mau ngewawancara buat rubrik Perempuan Belia yang Sukses. Ha sukses apanya! Sukses selalu dimanfaatin semua orang. Sukses jadi piala bergilir. Sukses jadi bahan taruhan. Sukses jadi ampas terus dibuang. Sukses goda pria hidung belang. Sukses apanya?!” Suaranya meninggi namun tetap terdengar pelan, kalah oleh deru deras di luar sana. Ia meneguk habis Milk Shake dan menyisakan beberapa bongkah kecil es batu yang beberapa menit lagi juga akan lumer. Ia membetulkan posisi duduk dan aku masih menyimak.

Lima hingga tujuh detik, dia hening. Aku mengerjap bingung. Kupikir akan ada lanjutan tumpahan emosi yang membuat mulutku sedikit menganga.

“I’m talking too much, sorry.” Aku tersentak mendapati suaranya kembali riang, sempat melihat beberapa waktu lalu ia menghapus air mata dengan punggung tangan dan sekarang ia tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi yang sudah dikikir rata.

“Ah! Engga. Gapapa, saya rasa itu masih bersambung.” Aku mencoba mencairkan suasana, mengikuti perubahan emosi yang begitu mendadak dan tetap berharap akan ada segelintir kalimat lanjutan dari wanita ini.

“Ah iya.” Ia melirik arloji perak yang melingkar di tangan mungilnya, firasatku tidak enak. “Saya mesti ke kantor. Jam makan siang udah selesai.” Jelasnya sambil tersenyum ramah.

Tuh kan!

Tak menunggu balasan dariku, ia sudah melesat menjauh, dan bersiap-siap membuka pintu.

“Boleh saya tahu siapa nama mbak?” serentak, hampir semua penghuni ruangan menoleh bingung ke arahku. Suaraku terlampau keras. Aku memtuskan sedikit berlari menuju wanita itu setelah melempar senyum tanpa arti kepada para pengunjung yang sudah menoleh tak peduli.

Aku mendekati wanita itu, ternyata tingginya hanya  sedaguku, kali ini aku berkata lirih, “Boleh saya tahu siapa nama mbak?”

“Eva.” Ia menjawab singkat, dan beranjak pergi setelah kubukakan pintu kaca.

            “Mas mau keluar?” suara berat mengagetkanku, seseorang berseragam hitam yang tadi membukakan pintu untukku. “Kalau mas gak ada keperluan bisa dilepasin pintunya. Dalem kan ruangan ber-AC” ia melanjutkan sambil tersenyum tanpa makna.

            Aku terkesiap dan bingung. “Eh maaf. Tadi bukain pintu buat temen saya yang barusan lewat.”

Pria berseragam itu mengernyit bingung sambil melihatku dengan tatapan aneh, “Gak ada orang yang lewat semenjak sepuluh menit yang lalu, Mas. ”

 

 

.

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)
70

Hmm... lumayan.
"... Mahasiswa Geografi yang jago merapal siklus cuaca!"
Mungkin maksudnya "meramal" ya? Merapal itu kan identik dengan membaca mantra.

"Ha sukses apanya! Sukses selalu dimanfaatin semua orang. Sukses jadi piala bergilir. Sukses jadi bahan taruhan. Sukses jadi ampas terus dibuang. Sukses goda pria hidung belang. Sukses apanya?!"
Kalau menurutku itu semua diakhiri dengan tanda tanya atau interobang, bukan tanda titik.

Writer Alluna Lynn
Alluna Lynn at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)

Bener merapal kok :3 Kan gak harus mantra yang dirapal :))
.
Dan untuk tanda baca, saya berkeyakinan *alah* kalau tanda baca itu menunjukkan intonasi. Dan tanda seru dan titik di akhir kalimat itu emang disengaja buat nunjukin intonasi pengucapannya.
Begitulah penjelasannya. haha XD

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)

Karena gini, lho... setahu saya "siklus cuaca" itu bukan sesuatu yang bisa dibaca dalam artian kata atau kalimat. Cuaca itu sesuatu yang abstrak, sementara yang saya tahu kalau kata "merapal" itu sama artinya dengan mengeja atau membaca suatu kata atau kalimat yang benar-benar ditulis, sementara cuaca kan bukan suatu tulisan.

Kemudian untuk yang tanda baca... "Ha sukses apanya!" Itu dari segi kalimat sudah ada kata "apanya," jadi menurutku yang sesuai itu pakai interobang menjadi "Ha, sukses apanya?!"
Lanjut untuk kalimat-kalimat selanjutnya, seperti yang Anda bilang barusan ini masalah intonasi, dengan kalimat sebelumnya, saya yakin bukan cuma saya yang merasa intonasi si tokoh ini agak kecewa, sedikit kesal, dan semacamnya, jadi di sini saya rasa nada suara si tokoh meninggi dan berupa jawaban atas kalimat sebelumnya yang berupa pertanyaan retoris (bingung ya? Ya pokoknya gitu lah.), makanya pakai tanda tanya atau interobang juga. Malah kalau pakai tanda titik, kesannya nada suaranya datar, tak ada emosi, tak sebanding dengan kalimat sebelumnya, dan ini mereka sedang bercakap-cakap kan? Dan pada akhirnya dia menggunakan kalimat tanya juga kan? "Sukses apanya?!" Jadi kalau beberapa kalimat di tengah itu pakai titik malah semakin aneh.
Intonasinya dari meninggi, datar, meninggi lagi. Ga sreg untuk saya, dan ga logis aja menurut saya pribadi.

Mungkin yang lain punya pendapat lain.

Writer arsenal mania
arsenal mania at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)

nambahin dikit.
siklus cuaca dan keadaan cuaca itu beda loh. siklus kan perputaran. sudah hampir selalu ada waktunya (misal, desember musim dingin, februari musim semi, dsb) kalau (keadaan) cuaca, terkesan punktual (saat itu, hari itu, detik itu) entah itu mendung, cerah, berangin dsb, itu yg diramal. dan setuju, merapal kedengeran agak aneh (soalnya ini cerpen, bukan puisi. kalo puisi sih terserah).

yak begitulah

Writer xenosapien
xenosapien at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)
80

*mampir lewat*
.
Wah, pasti karena hujan. Ya, karena hujan. -_____-"
.
Anw, aku penasaran sama milk shake-nya.

Writer Alluna Lynn
Alluna Lynn at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)

Hujan.. yeah hujan! Ahaha
Btw, Jangan salah fokus, Om ><

Writer xenosapien
xenosapien at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)

Ahaha... Salah fokus, ya?
.
Gak sih. Aku pikirnya: satu-satunya bukti eksistensi Eva yang tertinggal di tempat tersebut hanyalah segelas milk shake di atas meja. Jika benda itu tak ada, maka.... Ah, pasti itu karena hujan. > .<

Writer Alluna Lynn
Alluna Lynn at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)

Oh Shit! You get that! Saya lupa sama Milk Shakenya! Ya Tuhaaaan >< *JedotinPala
Om teliti banget yak T.T

Writer L. Filan
L. Filan at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)
80

Bahasanya sih enak tapi maksud dari ceritanya kurang jelas

Writer Alluna Lynn
Alluna Lynn at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)

Maksud dari cerita? Really? T.T

Writer Shinichi
Shinichi at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)
70

hwoooo...
.
endingnya yang "maksa" itu, ngebikin masuk akal kenapa tokoh Gio jadi bertingkah aneh di dalam restoran cepat saji tsb. awalnya saya mau bilang kalau jalinan obrolan, bagaimana itu bermula, berlangsung, dan berakhir kurang alami aja. saya kurang tahu apa ada hubungannya dengan karakterisasi. kenapa saya bilang maksa? saya pikir si aku nggak bakal mau repot-repot ngejawab pertanyaan yang nggak jugak musti bakal ditanyakan satpam itu padanya. terlalu diarahkan ke sana, menurut saya.
.
btw, mengkerut apa mengerut? mengkerucut?
.
kip nulis dan kalakupand
ahak hak hak

Writer Alluna Lynn
Alluna Lynn at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)

" si aku nggak bakal mau repot-repot ngejawab
pertanyaan yang nggak jugak musti bakal
ditanyakan satpam itu padanya." <<<< Maksudnya? #gagalPaham Saya sih mikirnya karena si Akunya Buka pintu Dan gak kelihatan pengen keluar jadi ditanya satpam deh. Aneh kah? :3
.
Mengerucut yah?! Gomen Om >< btw yang mengkerut saya bingung :3

Writer Shinichi
Shinichi at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)

imbuhan me- dilekatkan pada kata dasar dengan konsonan 'k', maka 'k' luluh. me- jadi meng-. setahu saya siy begitu. makanya kalau kerucut jadi mengerucut, kenapa kerut tidak jadi mengerut? kalau berdasar pedoman begitu siy, pastinya jadi mengerut kan yak? :D
.
sedangkan yang gagal paham itu, maksud saya begini...
dalam anggapan saya, satpam nggak bakal bertanya begitu pada pelanggan (aku) yang sedang berdiri di depan pintu (dan membuat pintu itu terbuka sementara waktu). maksudnya, lagi-lagi menurut saya yang mungkin terlalu jauh, apa dampak vital atas terbukanya pintu tersebut hingga memutuskan si satpam harus "memberitahu" sebab pintu maunya langsung ditutup karena ruangan itu ber-AC. ini lebih jauh lagi, sebatas mana seorang satpam akan membicarakan "hal itu" pada pelanggan resto? menurut saya, seorang satpam nggak akan bilang "yang itu". mungkin ia akan menanyakan hal lain, semisal, "apa ada yang bisa bantu?" atau "ada yang ketinggalan?" itu lebih umum ditanyakan seorang satpam ketimbang pertimbangan ruangan ber-AC.
.
selanjutnya ya, setelah itu saya rasa janggal, maka ketika pelanggan (aku) itu malah menjawab "Eh maaf. Tadi bukain pintu buat temen saya yang barusan lewat." menjadi tambah janggal. satpam pasti tahulah siapa yang sedang lewat di pintu yang ia jaga kan? lalu makin janggal, sekali lagi ini menurut saya, ketika satpam tersebut sampai meluangkan waktu untuk menyahut pernyataan si aku dengan "Gak ada orang yang lwat semenjak sepuluh menit yang lalu, Mas." dalam hemat saya, pembicaraan dengan seorang petugas (satpam) nggak jauh-jauh seputar kelalaian dan informasi. sedangkan pembicaraan yang kamu bangun kurang natural. bangunan sebab-akibatnya kurang kuat. bisa aja sih dikondisikan sebuah kejadian di pintu yang membuat si satpam lebih ingin "menegur" tinimbang pintu yang dibuka lebih lama dari seharusnya. ataukah... ada batas maksimum berapa lama pintu ruangan AC boleh terbuka, yang musti dipahami seorang satpam dalam pelatihannya? hal semacam fondasi itu yang nggak hadir dan menimbulkan kejanggalan bagi saya :D
.
namun itu bukan satu-satunya cara. ada lagi semisal bagaimana dirimu memainkan dialog pembuka si satpam. tapi, menurut saya pertanyaan soal ruangan ber-AC itu cenderung kurang cocok di sana--yang lalu menjadikan kejanggalan berikutnya ketika si satpam berbicara di kalimat pamungkas.
.
kira-kira begitu penjelasan saya :D mohon maaf bila kurang berkenan.

Writer Rusty Wilson
Rusty Wilson at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)

Detail banget ya...
Saya sampai ga kepikiran ke sana.

Writer citapraaa
citapraaa at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)
2550

orang asing :0
terasa si aku-nya cewek..
ada beberapa kalimat yang..... sengaja dibuat lain. bagus sih. tapi kerasa (buat saya) aneh =>
Ganti aku yang mulai tersenyum, lalu menyelipkan potongan burger dengan pelan. <=
kata "menyelipkan" aja bikin saya ngira dia nyelipin makanannya ke tas buat di bawa pulang....
salam kenal

Writer Alluna Lynn
Alluna Lynn at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)

Benarkah? *MerasaGagal*
Iya yah? Haha. Ditambah kalimat selanjutnya yang bilang si Akunya udah gak lapar. hihi
.
Thanks for the coment! XD
Salam kenal jugaa ^.^/

Writer bayonet
bayonet at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)
70

ahh.. menghayal kau rupanya. haha :D

Writer Alluna Lynn
Alluna Lynn at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)

Haha. You get it. Salam Kenal, Bayonet :D

Writer nusantara
nusantara at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)
80

Terkadang kita juga harus menumpahkan hal-hal yang sudah dipikul terlalu lama.
suka kata-katanya. mantap.

Writer Alluna Lynn
Alluna Lynn at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)

Thank you, Nusantara =D

Writer Alluna Lynn
Alluna Lynn at Orang Asing (7 years 18 weeks ago)

Thanks for coming, Nusantara =D