Dia Kirana, Gadisku (7)

 

.8.

            Kurang lebih satu bulan aku tidak bertemu Kirana, aku sibuk di warung Bu Jamilah yang sudah mulai ramai lagi. Semua berkat jasa Beni, beberapa mahasiswa jadi tahu warung Bu Jamilah dan senang ngopi di sana.

            Aku rindu Kirana. Aku nebeng motor salah satu mahasiswa yang mampir ngopi di warung Bu Jamilah, kebetulan katanya mau ke kampus. Harapanku satu, ketemu Kirana dan itu cukup. Cukup mengobati rindu maksudnya. Hehe.

            Kirana, siapa yang duduk dekat sekali di sampingmu. Itukah pacarmu? Melihat Kirana duduk sangat dekat dengan seorang lelaki, hatiku tersenggol rasa nyeri. Ada yang patah sedikit, semoga bukan apa-apa. Jarak duduknya yang sangat dekat membuat aku merumuskan satu hal tentang hubungan Kirana dan lelaki itu. Tapi tak berani mengatakannya meski di dalam hati.

            “Woi bro! Ngapain bengong di situ, tatapannya kayak orang habis patah hati saja,” Beni mengagetkan tapi aku masih dengan posisi sama seperti sebelum Beni meninju bahuku dengan keras.

            Diam.

            Kepalaku kutundukkan lesu, aku yakin lelaki itu ada apa-apanya dengan Kirana. Aku cemburu.

            “Ben, kasih rokok dong,” Pintaku pada Beni.

            “Dasar lelaki penggalau. Kau naksir Kirana?”

            “Siapa bilang.” Tatapanku jauh dan kosong.

            “Ekspresimu yang bilang. Tidak usah membohongiku soal wanita, aku sudah khatam soal wanita Jan. Aku hapal betul bagaimana kelakuan seorang laki-laki ketika patah hati. Dan kelakuanmu sekarang sedang mengarah kesana.”

            “Itu tadi pacar Kirana ya?”

            “Aku tidak lihat. Tapi bisa jadi iya.”

            “Aku cemburu Ben.”

            “Boleh saja, tapi saat ini kau tidak punya hak untuk cemburu Jan. Kecuali kalau kau dan Kirana ada ikatan.”

            “Hatiku ngilu melihat mereka begitu dekat.”

            “Doakan saja cepat putus. Gampang! Haha.”

            “Dasar gila! Tapi iya juga semoga cepat putus.”

            “Haha kau lebih gila lagi. Ngopi yuk!”

***

            Aku kepikiran Kirana terus, juga lelaki yang duduk di sampingnya. Di depan komputer aku menatap gamang ke layarnya. Di playlist sedang mengalun lagu “Ingin Kubunuh Pacarmu” milik Dewa 19. Sangat menggambarkan suasana hatiku yang galau karena tahu Kirana sudah punya pacar. Meski hal itu tak menyurutkan rasaku pada Kirana. Semua masih sama hanya ada yang terasa ngilu saja di dadaku, jantung yang berdetak lemah seakan sekarat. Ah inikah sakit karena cinta, du du du!

            Kirana badanku keram, hatiku ngilu, kau terasa semakin jauh kujangkau. Aku sakit. Demam kata Bu Jamilah. Terpaksa tidak ikut membantu Bu Jamilah di warung. Aku diberi obat Paracetemol katanya biar demamnya cepat turun. Tidak tahu saja Bu Jamilah kalau aku demam bukan demam biasa. Aku demam Kirana, obatnya cuma satu, Kirana. Cengeng.

            Aku meringkuk lemas di kasur, posisi tidur sudah seperti pistol, kedua kaki kutekuk hingga dada. Menggigil. Aku benar-benar sakit sepertinya. Tiba-tiba rinduk Mamak di kampung. Sudah tiga tahun aku tak pulang, seperti Bang Toyib yang tiga kali puasa tiga kali lebaran tak pulang-pulang. Tapi aku bukan si Toyib itu kok. Hehe.

            Aku rindu suasana rumah, meski tinggalnya di kampung dalam dan jauh dari kota, hening yang tercipta di kampung itu terasa sangat damai. Meski aku kadang diomelin Mamak karena selalu terlambat bangun pagi. Aku biasanya bangun pagi jam sebelas, orang bilang itu sudah siang. Hehe. Bukan apa-apa suasana kampung yang sejuk seperti mengelus-elus mata, jadi enak sekali buat tidur dan bermalas-malasan. Ah aku rindu Mamak juga adikku Intan.

            Aku punya adik satu, namanya Intan, jarak umurnya sangat jauh denganku. Sekarang baru kelas satu SMP. Aku sayang padanya. Sangat sayang. Tapi aku jarang bisa membahagiakannya, membahagiakan Mamak dan juga Bapak yang mulai renta.  Apa kabar kalian di sana? Januar sakit Mak, sakit malarindu namanya. Lebih parah dari penyakit kanker atau penyakit ‘mahal’ lainnya.

            Aku mendengar langkah kaki melangkah ke kamar, mungkin saja Bu Jamilah. Kupejamkan mata, pura-pura sedang tidur, padahal melamun. Pintu berderit, pelan dan cahaya masuk dengan sempurna disertai sapaan keras.

            “Woi Jan, ngapain kau meringkuk begitu? Sakit? Halah, paling juga patah hati karena Kirana. Iya kan? Haha...!” Tawa Beni menggema di kamar. Sial. Beni mengganggu saja.

            Mataku silau diterpa cahaya, badanku sebenarnya sudah tidak terlalu panas suhunya. Sudah mendingan setelah minum obat dari Bu Jamilah, karena malas saja aku jadi meringkuk di tempat tidur.

            “Sial kau Ben. Ada apa?”

            “Bangun, kita liburan. Refreshing, biar otak juga segar, badanmu jadi enak. Lupakan dulu soal Kirana. Nanti kukenalin ceweklah di sana.”

Beni menarik sarungku lalu berseru kaget.

“Jan, kau telanjang? Astagfirullah!” Pekiknya.

Aku cengengesan melihat ekspresi Beni, rasain kataku.

 

           

.9.

            Liburan mendadak ala Beni, semua membawa pasangan kecuali aku. Beni membawa Feli tentunya, Zaki dengan Nadia, bahkan lelaki dengan tampang biasa-biasa saja seperti Karyo juga datang dengan pacarnya. Aku datang bawa kepala sendiri. Sial kau Ben, kau menjebakku lagi-lagi. Andai saja Kirana sudah bisa kuajak pergi. Khayalanku melambung lagi.

            Di mobil, semua berwajah bahagia, saling menggenggam tangan dan berusaha terlihat romantis. Rupanya hanya aku yang berwajah muram, kupilih tidur saja.

            Rencana liburannya katanya ke Puncak, aku ikut saja mumpung gratis. Naik mobil gratis, makan gratis, tidur gratis semua-mua gratis, yang kurang cuma satu, gadis. Di jalan kudengar sayup-sayup Karyo bernyanyi, suaranya enak tapi akan lebih baik jika ia diam saja. Dasar baru jadian, bawaannya senang terus.

            Perjalanan kurasakan semakin membosankan, untung saja tidak terlalu macet. Bibirku sudah gatal ingin merokok, tapi tidak enak karena AC mobil dinyalakan. Lagi pula kulihat tak ada yang merokok, mungkin karena bersama pacar-pacar mereka yang tidak senang terhadap bau rokok. Aku mulai menyesal setuju ikut Beni liburan. Ini penyiksaan namanya.

            Udara semakin dingin ketika memasuki areal perkebunan yang di sisi kiri dan kanannya adalah gunung-gunung dengan pepohonan yang masih kelihatan rimbun, AC mobil sudah dimatikan tapi niat merokok sudah hilang. Pemandangan alam di kota ini masih bagus, kulihat beberapa petani sayur sedang menyiangi tanamannya. Begitu damai. Aku ingat lagi kampungku, ingat lagi Mamak juga Bapakku serta adikku yang beranjak remaja. Aku tersenyum lalu menjadi muram lagi saat sadar aku sudah lama tak pulang. Ingatan tentang keluargaku terus memburu, tidak biasanya seperti ini. Kupaksa hapus seluruh memoriku tentang Mamak, Bapak dan Adikku untuk saat ini. Jika tidak aku bisa saja nekad untuk langsung pulang kampung.

            Deru mesin akhirnya perlahan menghilang lalu berhenti di sebuah Villa, katanya sih milik keluarga Zaki. Satu persatu turun dan membantu pacarnya menjejaki tanah lembab. Masing-masing saling berpisah dengan membawa pasangan, sekarang aku berdiri sendiri, mematung lebih tepatnya.

            Kupilih ambil jalan setapak, berjalan-jalan sendirian dan menikmati pemandangan alam yang jarang sekali bisa kulihat di Jakarta. Udara segar ini memang sangat kubutuhkan, mengungsi dari situasi hati yang memburuk saat tahu Kirana sudah ada yang punya. Kudoakan biar mereka segera putus saja. Doa yang salah, tapi biarin saja.

            Kirana, aku sedang di Puncak sekarang, kota Bogor yang sedikit lebih baik dari Jakarta. Aku terpaksa ke sini karena diculik Beni, padahal aku agak demam. Kalau kau tahu aku deman karena memikirkanmu, kau pasti ketawa lalu tak percaya. Padahal memang begitu kenyataannya, hatiku sedang memar melihat kenyataan kau duduk bersama lelaki yang kuketahui adalah pacarmu. Selain pengecut, mungkin aku juga termasuk lelaki cengeng.

            Kau juga akan menertawaiku jika kelak kuceritakan bahwa aku belum pernah sekalipun pacaran, pernah suka seorang gadis di kampung saat SMA tapi ia keburu dipinang kawanku yang anak Kepala Desa. Satu-satunya gadis yang bertahan kusukai adalah kau Kirana. Sejak pertama melihatmu, sinyal itu dikirim begitu kuat ke jantungku. Hingga tersentak dan menyadari matamu, pipimu, bibirmu, senyummu adalah paduan sempurna yang kulihat kala itu.

            Aku jatuh cinta mulai detik itu juga. Kuanggap saja begitu, sebab perasaan itu begitu aneh. Karena sebelumnya aku tak pernah merasakan perasaan yang sama. Hanya padamu Kirana. Bahkan saat aku dipaksa Beni mengasingkan diri ke tempat inipun, kau tetap saja ada di kepalaku. Aku bingung sekali menghadapi perasaan ini Kirana, mungkin karena itulah aku demam. Hehe. Demam cinta, demam rindu.

            Pandanganku menyapu seluruh jagad raya di puncak ini, ingatan semua menuju satu. Padu kepada Kirana. Kulihat ada sebatang pohon besar dan lumayan rindang, lalu aku menuju kesana. Duduk di akar-akarnya yang besar dan menyulut sebatang rokok. Kirana, sukakah kau pada lelaki yang merokok?

***

            Malam itu di Villa sedang ada acara pesta, entah pesta siapa. Beni mengajakku bergabung, tapi kubilang mau keluar saja jalan-jalan sendirian. Saat beranjak keluar, Beni sibuk menelpon, tak lama seorang perempuan muncul di pintu begitu saja. Aku bingung, dari mana datangnya perempuan seksi ini. Roknya di atas lutut, sangat pendek padahal udara Puncak ini sangat dingin. Apa tidak takut masuk angin?

            “Beni di dalam, jika anda mencari Beni,” kataku.

            “Susan.” Ia menyodorkan tangannya lalu menggamit tanganku tanpa persetujuanku.

            Aku bingung, ini perempuan mungkin sedang mabuk atau sedang kesambet. Kulepas pelan-pelan tangan dinginnya saat Beni datang menghampiri.

            “Jan, sudah kenalan dengan Susan?”

            “Ben—

            “Ayolah Jan, jangan munafik seperti ini.”

            “Bukan begini caranya Ben! Maaf, mbak Susan boleh pulang.”

            Perempuan itu nampak tidak suka dengan sikapku, tapi aku rasa aku masih waras untuk tidak mengencani perempuan sewaan. Bukan karena aku munafik atau naif, tapi aku sangat menghargai seorang perempuan. Aku tak suka cara Beni dan marah padanya. Aku nekad, malam itu aku pulang ke Jakarta, ke terminal dan pulang kampung.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer citapraaa
citapraaa at Dia Kirana, Gadisku (7) (8 years 13 weeks ago)
2550

*ikut ngetawain januar*
pas percakapan pertama kurang ada ket. lagi ngapain... kayak 'katanya lesu' dsb.

Writer lestari jingga
lestari jingga at Dia Kirana, Gadisku (7) (8 years 13 weeks ago)

hehe iya :)

Writer asahan
asahan at Dia Kirana, Gadisku (7) (8 years 13 weeks ago)
100

Jempol jempol
Sundul sundul
Makin lancar aja nih cerita

Writer lestari jingga
lestari jingga at Dia Kirana, Gadisku (7) (8 years 13 weeks ago)

hehe alhamdulillah :) makasih ya

Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Dia Kirana, Gadisku (7) (8 years 13 weeks ago)
100

yang ini sudah lebih berkembang, ya :D sudah mulai ke permasalahannya :3 yang sebelumnya kelewat lambat >,<
.
emm dari cerita-cerita sebelumnya, sepertinya deskripsi suasananya kurang. misalnya, waktu Januar marah pada Beni, hanya ditulis "Aku tak suka cara Beni dan marah padanya". kemudian "Aku nekad, malam itu aku pulang ke Jakarta, ke terminal dan pulang kampung."
Sayang sekali kalau POV orang pertama tidak digunakan semaksimal mungkin.
Kalimat "Melihat Kirana duduk sangat dekat dengan seorang lelaki, hatiku tersenggol rasa nyeri." itu bisa lebih dieksplorasi, daripada hanya menuliskan 'hatiku tersenggol rasa nyeri'. Memang sih, itu sulit sekali, saya juga masih harus banyak belajar, nih ^^;
.
Semoga novelnya cepat jadi ya ^^ kalau masih bingung soal deskripsi, bisa baca novel-novel lain yang menggunakan sudut pandang akuan. Penulis dengan sudut pandang akuan yang saya suka adalah Winna Efendi dan Windry Ramadhina. Deskripsi mereka keren sekali, lho :D
.
Ditunggu chapter selanjutnya :3

Writer lestari jingga
lestari jingga at Dia Kirana, Gadisku (7) (8 years 13 weeks ago)

hehehe siapppppp laksanakan!!!! Trimakasih loh ya :D