Vurnerable [Mini Story]: Kacang Goreng

Kali ini, giliran Virgo yang terkejut.

Arka membuka pintu kamar kos Virgo tanpa permisi, ketika anak itu tengah memainkan Pro Evolution Soccer. Arka mengambil alih kasur Virgo tanpa permisi pula. Sangat bukan Arka. Apalagi, sahabatnya itu memasang tampang seperti mahasiswa kehabisan uang di tengah bulan.

"Hei, Arka."

"Hmmm?" Arka menjawab dengan gumaman malas. Suaranya tidak jelas karena wajahnya tertutup bantal.

"Kau mau balas dendam? Aku tidak punya kacang goreng."

Arka menyingkirkan bantal dari wajahnya. Sambil menatap langit-langit kamar kos Virgo yang mulai menguning akibat bocor yang tak kunjung ditambal, Arka bergumam, "Aku tidak mengerti."

Virgo menghentikan permainannya untuk memperhatikan Arka. "Maksudmu kau tidak mengerti mengapa aku tidak memiliki kacang goreng?"

Arka melirik Virgo, sorot matanya mengisyaratkan ya-ampun-kumohon-deh. "Bukan. Aku tidak mengerti. Mengapa sih, aku bersikap seperti ini?"

Virgo melongo. "Kalau kau saja tanya padaku, lalu aku harus bertanya pada siapa, dong?"

Arka mendengus.

"Kau kenapa, sih? Habis lewat pohon beringin di dekat Fakultas Teknik?" tanya Virgo.

"Lucu sekali. Aku tidak kesurupan," jawab Arka. "Hei, Virgo. Kalau kakak perempuanmu dekat dengan seseorang yang mencurigakan, apakah kau akan khawatir?"

Mendengar itu, Virgo kembali melanjutkan permainannya. "Sial. Kukira telah terjadi sesuatu yang sangat serius. Rupanya cuma begitu."

"Begitu apanya?"

"Begitu yang sedang terjadi pada Lucy. Jadi, siapa orang yang mencurigakan ini?"

Arka menghela napasnya, "Tamu guest house."

"Jadi dia bule? Bahaya betul."

"Dia teman Lucy waktu di Prancis."

"Itu jauh lebih berbahaya. Pantas kelakuanmu seperti ayam yang hendak disembelih."

"Perasaanku selalu tidak enak kalau Lucy sedang bersama orang itu."

"Itu namanya cemburu," Virgo kemudian mengangkat kedua tangannya. "Yes! Gol!"

"Khawatir."

"Cemburu," ulang Virgo.

"Aku khawatir," ulang Arka juga, namun nadanya tidak yakin. "Apa aku seharusnya khawatir?"

"Ya, kalau kau merasa posisimu terancam."

"Maksudmu, karena dia bisa saja menggantikan posisiku sebagai kakak Lucy?" Arka mendadak bangkit dari posisi tidur-tidurannya. Matanya berbinar. "Virgo, itu masuk akal."

"Bukan, bodoh. Posisimu sebagai calon pacar, tentu saja."

Arka mengernyit heran. "Sudah kubilang, aku tidak naksir Lucy."

"Itu kan kau yang bilang," Virgo menatap sahabatnya, serius. "Indeks prestasimu semester ini 3,6 tapi kau kok bego betul, sih, Ar? Aku selalu memberitahumu bahwa kau naksir Lucy selama bertahun-tahun. Masa perlu seorang bule asal Prancis untuk membuatmu percaya? Tidak sekalian saja kaupanggil Mario Teguh kemari?"

"Virgo, Lucy anak waliku," suara Arka terdengar putus asa. "Mereka sangat berjasa dalam hidupku. Mereka menganggapku anak sendiri. Sungguh, aku tidak bisa menyatakan cinta lalu memacari putri mereka."

Virgo tidak menjawab. Dia tidak tahu apa yang bisa dia katakan untuk menghibur Arka.

"Kau tahu tidak, Ar," Virgo berkata setelah beberapa saat. "Orang bijak pernah berka, jika kau ingin melupakan seorang gadis, carilah gadis baru."

"Itu siapa yang bilang? Mario Teguh?"

Lawan bicara Arka tersenyum lebar menampakkan deretan giginya. "Bukan, Virgo Adhyaksa."

Arka melempar wajah cengengesan kawannya itu dengan bantal. Dalam hati, dia mengakui bahwa pendapat anak itu ada benarnya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

*mampir lewat*
*menirukan suara komentator game PES*
.
"Gool!"
.
Hahaha... Dialognya renyah nih. XD
.
Arka ini kayaknya tipe galau-er level menengah-atas, ya? Abisnya dia main masuk kamar teman dan langsung to the point curhatnya. ^^a
.
Edited:
Oh, ketinggalan.
Kepribadian Virgo... Dia kayaknya tipikal lelaki remaja. Dan, sepertinya bukan pendengar yang baik. Tapi perhatian. :D
.
Btw, ini part sebelumnya yang mana, ya?

makasih banyak Kak Xen ^^
.
galau XD sebetulnya nggak berencana dibuat begitu, tapi boleh juga :D
.
ini bagian novel yang lagi saya buat kak, sebetulnya --" yang sebelumnya itu bab pertama, tapi belum saya post. belum selesai juga. cerita yang ini, nggak tahu bab berapa. kepikiran aja adegan ini, makanya langsung ditulis, hehe.
.
terima kasih, sekali lagi ^^