Tantangan: Tentang Bau Daging Panggang

Tantangan Olfaktori

Aku menyukai bau daging. Terutama yang dibakar. Bau yang menguar saat api membakar kulit daging, merambat perlahan-lahan dari permukaan lalu masuk, memeluk daging itu seluruhnya.

"Sayang, daging barbequenya sudah hampir jadi." Seru Ibuku dari luar. Aku bergegas berlari keluar dengan bahagia. Menatap Ibu sambil menghirup dalam-dalam udara daging bakar. Manisnya bumbu-bumbu,  bau asin dari campuran keringat kedua orang tuaku dan garam yang sedang ditaburkan di atas daging matang.

Menambahkan kekayaan harum wangi kesukaanku, di makanan kesukaanku.

xxxx

Matamu menengadah. Warnanya indah sekali, biru bagaikan langit malam yang terang dihiasi bintang. Sambil mendesah sedikit menyesal karena sebentar lagi, tidak akan ada yang bisa mengingat keindahan mata tersebut.

Lagipula, keindahan matanya tidak ada bandingannya dengan kenikmatan bau yang sedang merasuki hidungku. Bau favoritku sejak kecil.

Bau daging yang dibakar.

Api perlahan merambat di tubuhmu. Memeluk tubuhmu, menciumnya, mengelus dengan penuh kelembutan seakan kau adalah kekasihnya.

Bukan, kau adalah kekasihku. Maka aku menghampirimu dengan marah, kuterobos api yang membakarmu, dan kupeluk tubuhmu erat-erat.

"Aku mencintaimu..." Bisikku lembut. Kuusap jariku perlahan dibibir halusmu, "Kau milikku..." Aku melanjutkan.

Kau hanya terperangah menatapku. Bibirmu bergetar seakan mau mengatakan sesuatu. Yang kudengar hanya rintihan namaku "Re... Reva... Reva...."

xxx

Aku selalu penasaran. Orangtuaku tidak pernah kehabisan stok daging. Bisa dibilang, aku dimanjakan dengan bau kesukaanku tersebut setiap hari.

Aku menikmati hari-hariku bersama Ibu berbelanja di pasar. Menikmati bau-bau berbagai macam rempah-rempah yang memperkaya harum dagingku. Ibuku hanya tertawa pada komentar-komentar asal ku terhadap bau-bauan tersebut, "Weeekkk... ini baunya seperti upil." "Sayur apa ini namanya, bu? Pahit sekali. Padahal aku hanya mengendusnya, tapi rasanya terasa di kerongkongan." "Tadi malam Ibu memasak menggunakan bahan ini? Yang benar saja? Masakan Ibu memang juara sih."

Lalu Ibu biasanya akan mulai menarikku menjauh dari stand penjual karena mulai bersin-bersin saat menghirup merica yang menggelitik hidungku.

Ibu merengkuh pundakku, matanya menatapku dalam-dalam, "Sayangku, cobalah kau hirup udara pasar ini dalam-dalam." Aku menurut, Ibu melanjutkan kata-katanya, "Coba ceritakan ke ibu bau apa saja yang kau hirup?"

Aku mengerutkan hidung, "Err... rasanya ada bau sayuran basi. Busuk sekali. Seperti ayah kalau tidak mandi!" Ibu mengangguk, memberi semangat, "Apalagi?"

Aku menutup mata, memfokuskan diri hanya pada indra penciuman. "Bau daging! Tapi belum matang! Ieeeekkkksss... Kenapa baunya begini sekali? Seperti tikus mati!" Ujarku sambil menutup hidung. Ibu hanya tertawa.

"Lantas, bau apa yang rasanya paling sering kau hirup?" Tanya Ibu lagi. Aku menutup mata lagi. Memfokuskan diri.

Bau ini... familiar sekali. Baru saja lewat di sebelahku. Wangi parfum yang manis, tapi menusuk. Rasanya sedang seperti melihat wanita yang terlalu cantik. Memuaskan, tapi memabukkan. Lalu bau itu, ya! Bau ini bahkan lebih sering lagi kuhirup.

Bau ini ada di depanku. Ada di hari-hari panas saat matahari membakar kulit. Ada di baju seragamku yang telah kugunakan dari pagi. Ini...

"Bau keringat manusia!" Seruku sambil membuka mata. "Banyak manusia!" Ujarku polos. Ibu hanya mengangguk gembira. Aku hanya bisa terpekur bingung saat Ibu memelukku bangga. Tidak mengerti maksud pertanyaan Ibu.

Rasa penasaran akan stok daging yang tidak habis-habis, membawaku menuju gudang penyimpanan. Orangtuaku selalu pergi kesana setiap hari mengambil stok daging baru. Tapi, mereka tidak memperbolehkanku. Aku hanya bisa penasaran dan gemas. Aku sudah biasa menemani Ibu ke pasar dan melihat daging yang baru dipotong. Masih merah dan berdarah-darah. Baunya sungguh tidak nikmat. Bau daging mentah tersebut adalah bau yang paling kubenci, ironisnya, juga bau yang paling kunikmati nantinya.

Tapi Ibu tidak pernah membeli daging tersebut. Tidak juga daging di supermarket.

Aku menghirup dalam-dalam bau daging mentah yang biasanya. Mengikutinya bagai kucing mencium bau ikan yang sedang digoreng. Aku menyentuh kenop pintu, tidak dikunci. Lantas aku membuka pintu dan masuk.

Tidak pernah, seincipun bagian tubuhku, siap akan pemandangan yang menanti di depanku.

xxx

Aku menghirup baunya dalam-dalam. Ah... bau keringat ini adalah bau favoritku lainnya. Terutama bau keringat Jesse.

Jesse yang indah. Dengan mata biru langit malamnya. Rambut keemasan hampir putih yang bagai bersinar dalam kegelapan. Tubuh yang langsing dan tinggi. Semuanya bagai menyeimbangi fisikku yang serba gelap.

Rambut yang gelap. Mata yang gelap.

Hati yang gelap tanpa perasaan.

Sampai aku menemui Jesse.

Aku sangat mencintai Jesse. Aku tidak ingin ada orang lain yang memilikinya. Aku ingin hanya aku yang bisa menikmatinya.

Jesse merintih lagi. Membuatku mengalihkan pandangan ke kulit tubuhnya.

Kulit-kulit mulai terkelupas. Daging yang kemerahan mulai muncul. Di bagian kaki bahkan kulit-kulit sudah hilang seluruhnya digantikan dengan warna keabu-abuan. Daging panggangnya sudah hampir matang.

xxx

Saat itu aku hanya berumur 8 tahun. Tapi aku tidak menjerit. Tidak menangis. Tidak berteriak panik memanggil orangtuaku, malahan mereka sedang berdiri ditengah ruangan. Sibuk menguliti daging demi daging dengan santai.

Mereka tampaknya sedang berbincang-bincang dengan riang, entah soal apa. Mungkin menu makan malam nanti. Ayah yang sedang tergelak menolehkan kepalanya, lalu matanya menangkap bayanganku. Ia terkejut, lebih ke terkejut yang gembira.

"Reva sayang! Kau pasti bosan dirumah! Mau membantu kami?" Ujar Ayah riang. Mataku bahkan tidak mau menatap apa yang sedang ia cincang.

Ibu menghela nafas saat aku hanya terdiam terpaku, "Sepertinya ini sedikit terlalu dini untuknya."

Ayah membalas dengan tatapan bingung, "Apa yang terlalu dini? Aku sudah melakukan semua ini dari umur 2 tahun! Dan Reva memakan daging ini bahkan dari ia bayi kan? Tidak ada yang baru."

Aku hanya bisa terduduk. Lemas. Takut.

xxx

Jika kau sudah mencintai sesuatu, kau tidak akan bisa melepaskannya. Sepuluh tahun berlalu. Aku terlanjur mencintai bau ini. Terlanjur mencintai Jesse. Aku akan merindukan fisik indahnya. Tapi, kenikmatan memakannya lebih tidak akan bisa dikalahkan.

Aku melepas pelukanku, berdiri, lalu berjalan mengambil pisau.

Aku bersimpuh di depannya. Mengelus muka indahnya, menatap tatapannya yang mengiba. Aku hanya bisa tersenyum. Tanpa sadar air mata mengalir. "Aku mencintaimu, Jesse." Aku mendekat. Kuhirup baunya dalam-dalam, lalu mengecup pipinya untuk terakhir kali. Kubiarkan pisau menggores kulitnya. Mengalirkan darah kental yang menguap di bakar api.

"Sungguh mencintaimu..."

xxx

Orangtuaku. Aku. Selama ini. Memakan daging dari ras kami sendiri.

Kami keluarga kanibal.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Aku absen~

Komentarku ada di review, ya. ^^

100

paragraf pembuka oke.
.
ketebak plot pointnya bukan masalah buatku.
.
cuman asa nggak nyambung aja apa hubungannya dengan kanibalisme dan bau-bau yg keringat manusia yg ada dipasar kek gitu?
.
dan langsung makan daging pas bayi????
bullshit.
emang bayi punya gigi gitu hingga bisa ngegigit daging keras kek gitu.
.
yasudahlah.

Terimakasih sudah membaca cerita ini ^^
Nyambungnya karena bau yang dia suka yah, ternyata bau manusia gitu kakak =D
Hehehe itukan hanya dilebih-lebihkan saja yang soal sudah makan daging dari bayi =D
lagian bisa juga diblender kan? hihihi
terimakasih kritik dan sarannya kakak ^^

70

Halo, salam kenal :D. Umm, klo saya sih nangkep ada tema soal indera penciuman itu, tapi ya saya juga ga gitu paham sih, duh maaf ya hahaha. Awalnya saya mau coba baca juga karena genre horor-nya ini. Yang ini berdarah-darah yaah horornya XD. Saya setuju sama Gie, menurut saya yang 'kami keluarga kanibal' memang lbh asik klo dihilangkan hehe. Saya sempat agak bingung dgn alur maju mundurnya tbh hehe.

salam kenal juga :D
yang nulis juga gak terlalu nangkep sih soal penciuman huhu.
ahh begitu yah >< baiklah terimakasih sarannya
terimakasih sudah membaca cerita ini ^^

70

Kayaknya, soal olfaktorinya agak terlalu dihayati. Tapi dengan begini, kurasa ini bisa dibilang lulus tantangan?
.
Soal siapa mereka sebenernya udah lumayan ketebak sejak awal sih. Jadi... ahahaha. Saya enggak tahu mau ngomen apa lagi. ^^
.
Bagian waktu penjabaran warna mata itu bikin aku agak hmmm karena suatu alasan.

Huahahaha begitu yah? Bagus kalau memang lulus tantangan~ (ngukur tinggi badan) (buat referensi panjang kuburan)

hmm dalam artian apa nih? =D jadi penasaran.
Terimakasih loh kak sudah mau membaca karya yang tidak terlalu bagus ini~

100

menurut saya yang awam soal bau ini, cerita ini terlalu "dangkal" menggali tema bau yang disebutkan penantang. bukan bermaksud merendahkan, tapi saya sempat mengira tantangan itu akan menghasilkan karya cerita yang bernarasi "bau". atau lebih menggunakan indera penciuman ketimbang indra lainnya. seperti yang umum terjadi pada narasi atau lainnya, indera penglihatan itu dominan, mengalahkan indera yang lain. dipadukan dengan imajinasi sebagai dasar kreativitas penulis, "mata" mendominasi setiap elemen karya.
.
nah, mulanya saya menganggap penantang sedang mencoba memberikan peta buat para tertantangnya dengan jalur lain. bukan dengan mata, tapi hidung. penciuman. hal itu yang membuat saya merasa tantangan olifaktori ini adalah tantangan yang sangat menarik. namun ya, detilnya apa yang diinginkan penantang, serta apa yang menjadi penilaian tantangannya ditentukan oleh dirinya sendiri. jadi, saya cuma bisa menyampaikan pendapat saya tentang itu.
.
dangkal, maksud saya bisa dibaca sebagai terlalu umum. kasar. semisal seseorang memainkan sebuah kuis "hal yang pertama kali terlintas". A membuat kata kunci: sepakbola. si B menjawab Piala Dunia. ya, bukankah umum? namun ketika B menjawab konspirasi, saya rasa itu hal yang sangat menarik. semacam analogi saja.
.
selain itu, masih terdapat beberapa kesalahan umum dalam tubuh cerita ini. mungkin akan disebutkan pembaca yang lain saja. kip nulis dan terima kasih sudah ikutan #PTK.
mohon maaf bila kurang berkenan.

Bang Shinichi, halooo~

Sebenernya saya pengennya juga gitu. Tapi kalo mau sampe situ, lumayan susah juga. Soalnya, jangankan buat make deskripsi olfaktori buat dijahit di cerita biar jadi naratif, buat make sekedar untuk deskripsi aja, jarang loh yang bisa nulis bagus. Jadinya, saya juga gak bisa meminta sampe sejauh itu. Lagian, ini kan buat latihan aja. Siapa tahu, abis ini, temen-temen malah jadi kepengen belajar gimana cara nulisnya kan, ya? Heheheee....

Wah, Bang Shin keren euy komenna!
Kayakna Bang Shin bener-bener mementingkan ide ya. Di tempat saya juga ngomen soal ide.
.
Btw, saya baru nyadar ketika Bang Shin bilang bahwa kebanyakan penulis menggunakan indera penglihatan dalam karyana.
Bener juga ya....
Saya jadi bertanya-tanya, kalau misalna untuk tantangan ini si penulis langsung masukin tokoh utama tunanetra, apa bakal lebi mudah memasuki area indra penciuman?

waaahhh terimakasih kak atas kritik dan sarannya ><
gak mungkin merasa gak berkenan lah. apalagi ini kan membangun sekali untuk saya yang baru pertama kali ini tulisannya dinilai oleh orang lain yang tidak saya kenal ^^
terimakasih loh kak. apalagi sampai sepanjang itu, pasti kakak amat sangat perhatian sama saya (lalu saya ditendang)

sebagai pembelaan sih, saya sendiri amat sangat kesulitan saat tau dapat tantangan tsb >< tapi justru karena kesulitan jadi merasa tertantang, kan? apalagi saya pribadi punya masalah dengan pembauan HAHAHA dan lebih "menikmati" visual #PLAK

Terimakasih loh, saya jadi merasa lebih semangat!
(padahal disini lagi gali kuburan saking nerpesnya)

2550

wah... siplah. setuju sama gie

terimakasih sudah membaca karya yang tidak terlalu bagus ini ><

Wooooh... ini bagus.
Saya suka alur bolak-balikna.
Ada beberapa salah ketik. Kalau habis tanda petik kalimat langsung, jangan kapital. Contoh: "Reva? Mau membantu kami?" ujar Ayah.
Satu lagi, saya pribadi lebi suka kalimat paling akhir (Kami keluarga kanibal) itu gak ada. Karena merusak imajinasi pembaca. Lagi pula itu merusak keindahan paragraf sebelumna yang kalimatna pendek-pendek.
.
Good luck~ :)

terimakasih atas saran dan perbaikannya! ><
saya (jadi) sangat nerpes
terimakasih sudah membaca karya yang tidak terlalu bagus ini

Writer cat
cat at Tantangan: Tentang Bau Daging Panggang (8 years 14 weeks ago)
90

Hhuhuhu.

Kenapa aku baca cerita ini? Kenapaaaa? Kenapaaa di saat aku selesai masak. Dan di atas meja makan adalah daging steak panggang berbungkus alumunium foil.

Aaargh!!!

Nemu typo keknya dirumah -- di rumah.

Menunggu Ante Octa N. H. Muncul dan mengendus ceritamu.

Practices make perfect.

tapi steaknya tetep dihabisin kan? ^^
terimakasih atas perbaikannya kak... /salim/
/lalu gigit jari ampe putus saking nervousnya/