Dia Kirana, Gadisku (8)

 

.10.

            Mamak kaget saat melihatku tiba-tiba berada di depannya saat ia membuka pintu. Kaget sampai ekspresinya seperti telah melihat hantu, matanya juga melotot, memperlihatkan bola matanya yang besar dan sedikit menyeramkan kurasa. Melihat Mamak dengan ekspresi seperti itu aku nyengir, gigi-gigiku yang sedikit kuning karena kebanyakan hisap nikotin menyembul dengan bebasnya.

            “Heh... Jan? Januarku?” Mamak tanya dengan ekspresi masih tak percaya.

            Kujawab ketidakpercayaan mamak dengan memberinya pelukan, lebih tepatnya aku yang kangen pelukannya. Hehe. Sudah lama sekali aku tak merasakan dekapan mamak, rasanya tidak ingin melepaskan tapi mamak malah meronta dalam dekapanku. Tidak bisa bernafas katanya.

            “Aduh duh duh... lepasin mamak, mamak tidak bisa nafas ini. Jan, kapan kau datang nak?”

            “Dua menit yang lalu mak. Mamak kaget? Mamak senang?”

            Mamak mengangguk lalu kupeluk lagi tubuh mamak yang sudah menua. Tanpa disadari mamak ataupun aku, air mataku jatuh menitik lalu buru-buru aku hapus, takut ketahuan mamak. Nanti bisa dibilangin cengeng sama mamak dan diceritakanlah sama bapak dan juga adikku. Aku akan malu jika begitu. Hehe.

            Oh iya, aku lupa belum mengabari Bu Jamilah kalau aku kabur ke kampung halaman. Habisnya kangennya sudah tak tahan, ingin kulupakan dulu semua persoalan juga kemarahanku pada Ben yang mungkin sedikit kekanak-kanakan. Tapi mengasingkan diri seperti ini, aku yakin akan tetap terperangkap pada bayang wajah Kirana. Ah Kirana, mungkin akan kuceritakan perihalmu kepada mamak. Kau perempuan pertama Kirana, perempuan pertama yang akan kuceritakan pada mamak. Aku malu, tapi mau cerita.

            ***

            Sudah lama kurindukan peristiwa semacam ini, duduk lesehan, makanan dihidangkan dan sangat menggugah selera, ada aku dan adikku yang berebut lauk juga ada bapak yang sibuk melerai dan ada mamak yang tersenyum penuh haru melihat kebahagiaan ini. Sungguh, airmataku kembali menggenang, tapi kubilang pada semua kalau aku kelilipan. Aku bahagia, aku terharu dan aku menyesal kenapa lama sekali baru pulang padahal sudah sangat merindukan masakan mamak. Hehe.

            Malam sedang berbulan terang, singkong rebus disiapkan mamak di beranda rumah. Aku dan bapak berbicara mengenai banyak hal, tapi diantara semuanya bapak tak menyinggung soal mengapa aku pulang mendadak. Bapak hanya bertanya bagaimana kehidupanku di kota, jika sudah tidak ada yang perlu dikerjakan sebaiknya aku pulang dan menjadi abdi di kampung ini.

            Aku bukan tak memikirkan hal itu, hanya saja akupun sama dengan lulusan sarjana lainnya ingin sukses dulu baru bisa pulang ke kampung halaman. Setidaknya ada hal yang bisa diceritakan saat pulang nanti dan aku bisa membuat bangga kedua orang tua, bapak dan mamak.

            Kulihat guratan wajah lelah bapak, sebagai lelaki aku merasa punya beban tanggung jawab terhadap keluarga. Aku tidak tega melihat mereka bekerja sama kerasnya sampai tua. Ah, kenapa aku jadi melankolis seperti ini? Tapi malam ini sungguh indah, adikku setelah belajar sudah tidur. Sedang bapak meminta diri untuk beristirahat karena lelah seharian. Sekarang aku duduk berdua dengan mamak, kutatap lamat-lamat wajah yang teramat kurindukan ini. Duhai mamak, wajahmu seterang bulan di atas sana.

            “Mak, bolehkah aku certia?” Aku mulai.

            “Ceritalah Jan, sudah lama mamak tak mendengar kau bercerita. Berapa tahun kau pergi Jan?” Mamak sedang memperbaiki kain sarungnya yang sedikit longgar di pinggang.

            “Tiga tahun mak. Tidak lama,” aku senyum.

            “Mak aku suka sekali sama satu gadis di kota. Namanya Kirana, ia punya dua lesung pipi, serasi sekali di wajahnya. Apabila ia tersenyum maka senanglah hati Jan, meski senyum itu bukan buat Jan. Kirana itu hebat sekali mak, bukan gadis biasa, ia gadis mahal. Aku mengenalnya sebagai adik angkatan, hanya satu dua kali aku pernah berbicara langsung dengannya. Selainnya aku banyak melihatnya saja dari jauh, jantungku seperti disetrum saat melihatnya mak. Kuat sekali sampai rasanya Jan tak tahan dan hendak melarikan diri lalu minum obat tidur karena tak sanggup menghadapi kepengecutanku.”

            Mamak menyodorkan potongan singkong padaku, kuambil lalu kumakan dan kulanjutkan lagi ceritaku. Mamak hanya menyimak, sangat tenang tak sekalipun ia menyela.

            “Mak, bisakah aku suka pada Kirana? Tapi aku pengecut mak, tak berani menyapa, keberanianku selalu ciut. Padahal aku seringkali dirundung rindu kalau lagi ingat Kirana. Aku hanya bisa menulis untuk Kirana, semua hal yang ingin kukatakan atau kutanyakan padanya, hanya bisa kutuliskan. Bibirku seperti terkunci jika harus berhadap-hadapan dengan Kirana lalu mengajaknya bicara. Lagi pula aku segan mak, Kirana sudah punya pacar.”

            Aku murung. Hatiku juga ikut lemas.

            “Kau harus taklukkan hatinya Jan.”

            Jawab mamak lalu masuk ke dalam rumah. Hanya itu, sekalimat itu. Membuat aku bengong dan merenung lama akan kalimat pertama dan terakhir mamak itu. Hatiku diketok palu godam rasanya. Ah, mamak!

            Kuambil sebatang rokok dari saku celana, kubakar dan kuhisap pelan-pelan. Kubayangkan lagi Kirana yang tersenyum, aku ikut senyum dan kuhisap batang nikotin itu hingga tembakaunya tak tersisa. Malam semakin larut, binatang malam mulai bernyanyi lantang, kesepian kembali menyudutkan hatiku. Lalu aku masuk dan tidur. Selamat malam Kirana, selamat tidur gadis-ku.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer anggitasekarl
anggitasekarl at Dia Kirana, Gadisku (8) (7 years 29 weeks ago)
100

Hai, saya datang lagi :3
.
emm masih sama dengan yang kemarin, sih, menurut saya, masih kurang deskripsi suasana. Tapi yang ini lebih berkembang ^^
.
Ada beberapa hal yang mau saya komentari, nih ^^;, saya nggak tahu tetek bengek ini namanya apa --" EYD mungkin, ya? ._.
.
"Mamak" pada tulisan di atas--setahu saya--semestinya ditulis dengan huruf kapital. Emm, karena merupakan panggilan atau julukan, sepertinya. Panggilan "Mak" dan "Nak" di akhir dialog juga ditulis dengan huruf kapital dan sebelumnya diberi tanda baca koma.
Jadi begini:
"Jan, kapan kau datang, Nak?”
Eh, yang di atas menurut saya pribadi juga agak boros. "Jan" itu panggilan, "Nak" juga panggilan. Bisa ditulis salah satu saja ^^
.
Oh ya, kalimat panjang yang sering kau buat itu sepertinya bisa dipenggal. Supaya lebih enak dibaca dan tidak bikin bingung saja, sih ^^; Mungkin ada hubungannya dengan struktur kalimat juga, tapi saya tidak bisa menjelaskan sedetil itu (karena belum cukup ilmu -_-").
Misalnya: "Sudah lama kurindukan peristiwa semacam ini, duduk lesehan, makanan dihidangkan dan sangat menggugah selera, ada aku dan adikku yang berebut lauk juga ada bapak yang sibuk melerai dan ada mamak yang tersenyum penuh haru melihat kebahagiaan ini."
Jadi: "Sudah lama kurindukan peristiwa semacam ini. Duduk lesehan, makanan dihidangkan dan sangat menggugah selera. Ada aku dan adikku yang berebut lauk, juga ada bapak yang sibuk melerai, dan ada mamak yang tersenyum penuh haru melihat kebahagiaan ini."
.
Emm... sepertinya juga, penggunaan kata "peristiwa" itu kurang tepat. Lebih enak jika menggunakan kata "saat" atau "momen".
Kalimat "ada aku dan adikku yang berebut lauk, juga ada bapak yang sibuk melerai, dan ada mamak yang tersenyum penuh haru melihat kebahagiaan ini." juga boros, karena bisa dipersingkat dengan "ada aku dan adikku yang berebut lauk, bapak yang sibuk melerai, dan mamak yang tersenyum penuh haru melihat kebahagiaan ini."
^^
.
Kalimat "Tapi malam ini sungguh indah, adikku setelah belajar sudah tidur." juga agak janggal. Karena pembaca (aku, sebetulnya --;)jadi berpikir bahwa "malam itu indah karena adik Janu setelah belajar sudah tidur".
Kayaknya kamu kesulitan memahami penggunaan tanda baca dan kata penghubung dalam kalimat, ya? Memang sulit, sih. Selama ini saya juga hanya mengandalkan perasaan (???).
.
Soal uang yang ditanyakan user citapraaa, saya juga penasaran, nih. Bukannya Januar bantu-bantu Bu Jamilah karena dia tinggal gratis di rumah Bu Jamilah, ya?
.
Aduh, komentarnya panjang betul -____- Maaf ya. Saya nggak tahu apakah yang saya sampaikan ini valid(?). Jadi kalau ada kesalahan mohon maaf ^^;
.
Saya mau lihat perkembangannya dulu saja sebelum komentar yang lain-lain (padahal yang ini aja udah banyak -__-) ^^;
Semangat! Bikinnya sudah sampai chapter berapa?

Writer lestari jingga
lestari jingga at Dia Kirana, Gadisku (8) (7 years 29 weeks ago)

Oyah, yang ini udah capter 27 trus close di situ buat nyeritain Januar, sekarang lagi ke Pov Kirana. pftthhh cukup kesulitan, karena sosok Kirana yang diceritain Kirana, aku terjebak di sana. -___-

Writer lestari jingga
lestari jingga at Dia Kirana, Gadisku (8) (7 years 29 weeks ago)

makasih loh ya, ini ada sedikit pencerahan, eh banyak ding. hehe
oyah mengapa ambil kata peristiwa karena Januar ini agak jadul, saya make bahasa yang mungkin bermakna gimana gitu. Tapi ya semua balik lagi ke pembaca sih yak. wkwkw soal pemadatan kalimat dan yang lain-lain aku setuju ama kamu. Aku keteteran soal itu, termasuk penggunaan tanda baca juga sih kadang suka gitu. hehe. kalo soal penggunaan huruf kapital iya itu benar. cuma kadang pada saat menuliskannya rada suka lupa, dan biasanya diperbaiki pas sudah selesai dan masuk proses editing. Namun dibalik itu semua, aku terimakasih karena apa yang kamu komentarin termasuk sangat membantu saya untuk self editingnya. heheh jadi sekali lagi makasih makasih... :)

Writer citapraaa
citapraaa at Dia Kirana, Gadisku (8) (7 years 29 weeks ago)
80

pas nyeritain kirana terlalu cepet.. sama kayak komentar di sebelumnya
berharap ada nuansa kedaerahannya. tapi dari awal juga ga terlalu terasa. ga harus sih. maunya saya aja haha.
oh.. dia dapet uang pulkam darimana?

Writer lestari jingga
lestari jingga at Dia Kirana, Gadisku (8) (7 years 29 weeks ago)

hehee citapraa udah nyamber aja. alhamdulillah nampaknya dirimu pembaca Januar dan Kirana yang paling aktif. Adalah dia dapat kan selama ini bantu2 bu Jamilah. *eh wkwkw mohon komentarny lebih pedes lagi. aku lagi Kurasi naskah ini, mohon bantuannya hehe

Writer MuMupany
MuMupany at Dia Kirana, Gadisku (8) (7 years 29 weeks ago)

Hullo! I am TRACI. My native place is Hickory Valley.
irbesartan-hctz 150-12.5 mg tb Peoria and irbesartan bioequivalence study MuMupany: Juga lihat : efek samping generik irbesartan Duncansville dan irbesartan aprovel 300 mg The discount drugs that sites discount pharmacy offers include both original brand products and generic medicines.
P.S. Maaf untuk memilih topik untuk meninggalkan tawaran untuk Anda tentang irbesartan ph eur monografi luasnya sarang semut sputnik

Writer MuMupany
MuMupany at Dia Kirana, Gadisku (8) (7 years 29 weeks ago)

Hullo! I am TRACI. My native place is Hickory Valley.
irbesartan-hctz 150-12.5 mg tb Peoria and irbesartan bioequivalence study MuMupany: Juga lihat : efek samping generik irbesartan Duncansville dan irbesartan aprovel 300 mg The discount drugs that sites discount pharmacy offers include both original brand products and generic medicines.
P.S. Maaf untuk memilih topik untuk meninggalkan tawaran untuk Anda tentang irbesartan ph eur monografi luasnya sarang semut sputnik