Tantangan: Perumahan Bintang

Tantangan: horor-komedi.

Manusia

‘Artis Ibukota Akui Peroleh 1 Milyar Tiap Harinya.’

Ah, nasib, batin Anto sambil membaca judul artikel itu. Kira-kira kalau operasi plastik supaya mirip dia, harganya berapa ya?

Anto tertawa karena pemikirannya. Dia membuang majalah itu ke lantai, lalu mulai mencampurkan cat dengan thinner dan mulai mengaduk-aduknya hingga siap untuk digunakan. Saat dia memasukkan roller-nya ke dalam cat, ujung matanya menangkap sesuatu yang melambai di sudut pintu. Anto tertegun. Matanya dia fokuskan pada sudut pintu.

Tap! Tap! Tap!

“Siapa!?” seru Anto.

Selama beberapa saat hanya ada suara denging lampu neon di ruangan, hingga terdengar suara berdebum dari langit-langit.

Bam! Bam! BAM!

Suara itu semakin keras dan kini mulai terdengar dari dinding di sekitarnya. Anto sudah siap untuk lari saat ruangan itu mendadak gelap gulita.

Dia terpekik dan mulai meraba-raba. Tangannya menggapai sesuatu dalam hitam pekat itu. Terasa kecil dan... mulus.

Nyala lampu yang begitu mendadak membuat Anto buta sesaat. Dia mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya itu. Dia merasakan sesuatu menarik-narik tangannya.

Saat menoleh ke kanannya, tampak sosok seorang wanita berambut hitam panjang dengan kedua bola mata yang kemerahan dan melotot padanya.

“Mas, tangan saya kok langsung main digenggam aja sih? Kenalan dulu, dong” kata wanita itu yang disusul dengan suara tawa melengking.

“K... Kuntilanak!”

Anto menjerit dan mengibaskan tangannya kuat-kuat. Dia segera berlari keluar. Kakinya sempat saling kait hingga dia jatuh terjerembap. Tanpa memedulikan rasa sakitnya, dia bangkit berdiri dan lari sekencang-kencangnya meninggalkan rumah itu.

 

Hantu

Para hantu penghuni Perumahan Bintang bersorak dan saling melakukan tos satu sama lain. Semua, kecuali para pocong yang beradu kepala dan dua hantu kaki, hantu berwujud lutut ke bawah, yang saling injak sebagai gantinya.

Kunti tersenyum. Semuanya bermula sebulan yang lalu saat Coni, si pocong berponi, masuk ke kamar Gendi Genderuwo dan kebetulan dia ada di sana.

“He, ha, hihahihi,” kata si pocong yang melompat masuk sambil menggigit selembar kertas.

“Apa?” kata Kunti.

Coni melepas gigitannya dan membiarkan kertas itu melayang-layang ke lantai. “Kubilang, ‘hei, guys, lihat ini’. Tuh, ambil kertasnya.”

Kunti mengambil kertas itu dan membaca isinya.

“Mereka akan melanjutkan pembangunan perumahan ini?” kata Kunti.

Perumahan Bintang adalah salah satu proyek perumahan mewah yang terbengkalai selama 3 tahun terakhir. Entah apa alasan terhentinya proyek itu. Padahal beberapa rumah sudah separuh selesai.

Kalau rumah-rumahnya selesai dibangun, para hantu penghuni Perumahan Bintang perlahan-lahan akan terusir. Hantu tidak bisa berada di tempat yang dihuni manusia. Aura yang manusia bawa tidak cocok dengan mereka. Semakin banyak jumlah manusia, semakin banyak pula aura yang mereka timbulkan.

Kunti menggigit bibir bawahnya. Mencari tempat tinggal di daerah perkotaan begini bukan perkara yang mudah. Kebanyakan bangunan kosong telah memiliki “penghuninya” sendiri dan mereka biasanya tidak ramah terhadap orang baru.

Apalagi dia memiliki tiga anak.

“Kita harus melakukan sesuatu,” gumam Kunti.

Mereka mengumpulkan para hantu, menyusun rencana, mengajukan Izin Mencobai Manusia pada Dewan Pengawas, dan setelah melalui birokrasi rumit selama 3 mingguan, akhirnya rencana mereka bisa terlaksana.

“Kita tunggu dan lihat hasilnya,” kata Gendi pada kerumunan itu. “Semoga mereka tidak berani untuk melanjutkan proyek ini.”

 Para hantu bersorak setuju.

 

Manusia

Anjrit. Gak ada proyek lain, batin Anto.

Sebenarnya hampir seluruh pekerja mengalami kejadian serupa. Penampakan pocong, sepasang kaki tanpa tubuh, tuyul yang kepalanya terbakar api, dan masih banyak lagi. Mereka sudah melaporkan ini pada mandor mereka, tapi balasannya hanya perintah untuk meneruskan pekerjaan, atau mereka bisa angkat kaki dari tempat itu.

Bukan pilihan bagi Anto. Anaknya saat ini sedang terbaring karena demam berdarah. Bagaimana nasib anaknya kalau dia berhenti sekarang? Apalagi proyek ini menawarkan bayaran yang besar.

 

Hantu

“Sudah lengkap semua?” tanya Gendi selaku ketua rapat.

“Tunggu, kurang Coni,” kata salah satu pocong. “Tadi dia kirim ektoplasma, katanya bakal sampai sebentar lagi. Masih di angkot, katanya.”

“Sabar bentar deh. Lagian, kalau gak ada dia, Noni entar gak ngerti kita omong apa,” timpal pocong lainnya yang melirik pada Noni, hantu berambut pirang, bermata biru, dan berkulit putih pucat.

Gendi berdecak keras. Kunti mengetuk-ngetukkan jarinya di lantai karena tidak sabar. Sepuluh menit kemudian, akhirnya si pocong berponi itu melompat-lompat masuk ke dalam ruang rapat.

Guys, sorry banget telat,” kata Coni sambil ngos-ngosan. “Tadi pesawat yang mau kutebeng delay sih. Terpaksa naik maskapai lain.”

“Dari mana?” tanya Kunti geram.

“Nonton konser Taylor Swift di Jakarta,” jawab Coni.

Kunti mengerang. Dasar anak muda, batinnya.

“Ya sudah. Ayo kita mulai,” kata Gendi.

Setelah membahas soal kembalinya para pekerja, para hantu mulai membahas strategi mengganggu yang akan mereka gunakan.

“Kali ini, kita bikin mereka kapok.” kata salah satu pocong.

Terdengar gumaman setuju dari berbagai pihak.

“Bagaimana?” tanya salah satu welthok, hantu bertubuh kecil dengan kepala tanpa tempurung dan bara api di dalamnya. “Yang terakhir sudah cukup seram, tapi mereka tetap kembali.”

“Gimana kalau Kunti muncul dari tempat gelap dan menakut-nakuti mereka?” kata salah satu pocong.

“Itu kan sudah yang lalu,” jawab Kunti.

“Mungkin para welthok bisa menakut-nakuti mereka dengan semburan api?” kata pocong kedua.

"Sudah kami lakukan. Hasilnya kurang maksimal,” kata salah satu welthok.

“Bagaimana kalau kita ingatkan mereka bahwa biaya bahan pangan, sekolah, dan kebutuhan sehari-hari semakin melambung tinggi?” kata Coni.

Hening.

“Bagaimana kalau kita menerbangkan benda-benda?” usul Kunti.

Terdengar gumaman setuju dari para pocong dan welthok. Saat menoleh ke arah salah satu welthok yang mengacungkan jarinya, Kunti melihat Coni sedang berdiri menghadap salah satu sudut ruangan. Noni di belakangnya sedang mengelus-elus punggung pocong itu.

“Tapi, yang bisa melakukan itu kan cuma kamu dan Gendi,” kata weltok tadi. “Berarti kita tidak bisa melakukannya di semua rumah secara serentak.”

“Ya, tidak apa-apa,” jawab Kunti. “Di satu tempat saja dulu. Kalau sukses, kita lakukan juga di rumah yang lain.”

Terdengar celotehan bersemangat mengisi ruangan itu. Gendi mengangkat tangannya, meminta mereka diam, lalu mulai membagi tugas mereka masing-masing.

“Oke, Noni Hollanda,” kata Gendi pada Noni yang masih berusaha menghibur Coni, “kamu nanti jadi umpan untuk menarik perhatian mereka. Target kali ini di 2 rumah. Nomor 2, lalu nomor 5.”         

Coni menerjemahkan kata-kata Gendi tadi. Noni mengangguk-angguk, lalu mengacungkan jempolnya.

"Aas?” kata Noni. “Geen probleem.”

“Artinya: umpan? Bukan soal,” kata Coni. Dia dan Noni sudah kembali berada dalam lingkaran rapat.

Kunti kadang heran. Bagaimana hantu yang, konon katanya, sudah ada sejak zaman VOC, masih belum bisa bahasa Indonesia dengan baik hingga hari ini.

 “Oke. Untuk rumah nomor 7, tugas tadi diberikan kepada pasangan hantu kaki,” kata Gendi.

 Kedua hantu kaki menjejak-jejak dengan kuat, tanda mereka paham. Bagi Kunti, kedua hantu ini adalah misteri yang lebih besar daripada Noni. Bagaimana mereka bisa mengerti, padahal hanya sepasang kaki tanpa telinga?

Gendi melanjutkan pembagian tugas mereka. Kunti mendapat posisi di rumah nomor 2. Kali ini dia bertugas dengan Noni dan Coni, “penyerang” kali ini.

“Para hantu Perumahan Bintang!” seru Gendi memberi aba-aba untuk yel mereka.

“Bisya! Bisya! Bisya!” sambut seluruh hantu di ruangan itu. Minus kedua hantu kaki tentu saja.

 

Manusia

Hari ini dia mengecat salah satu ruangan terbesar di rumah itu. Katanya tempat itu nantinya akan menjadi kamar tidur utama. Anto menganga saat pertama kali melihat ruangan itu. Luasnya hampir melebihi keseluruhan tempat tinggalnya.

Setelah menyelesaikan seperempat dinding, Anto menyandarkan pengecatnya pada dinding yang belum tersentuh cat. Dia menyapu peluh di dahinya, lalu berbalik untuk pergi ke kamar mandi.

Saat hampir mencapai pintu, dari belakangnya terdengar suara gemeretak. Anto melihat pengecat dan kaleng catnya kini bergetar-getar, kemudian terangkat dari atas lantai. Benda-benda itu terbang mengelilinginya. Terdengar suara tawa melengking entah dari mana. Hatinya mencelos. Dia berlutut sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangan.

Pengecatnya terbang melintasi ruangan dan menabrak dinding yang belum dia poles. Catnya tertumpah-tumpah dari kaleng yang terbang mengitarinya.

“Tolong!”

Terdengar suara ketukan yang berirama. Anto melirik ke kanan dan dia melihat sesosok tubuh yang terbalut kain putih. Wajah makhluk itu tampak kecokelatan dengan daging-daging yang sudah membusuk menempel di sana. Makhluk itu melompat-lompat menuju tempat Anto berlutut.

“P... po... pocong!”

Anto bangkit berdiri dan segera lari ke arah pintu. Dia mendengar suara lompatan yang semakin cepat dari belakangnya. Anto berlari menuruni tangga. Dia melompati beberapa anak tangga sekaligus.

Berlari melewati ruangan besar yang nantinya menjadi ruang makan, Anto mendengar suara benda berputar. Dia menoleh dan mendapati pocong tadi kini berguling di lantai, dalam kecepatan tinggi, dan masih mengejarnya.

“Astaghfirullah, pocong model apa lagi ini?” kata Anto sambil berusaha menambah kecepatan larinya.

Anto terbirit-birit hingga melewati pintu depan. Dia membanting pintu itu hingga menutup, lalu kabur dari sana.

 

Hantu

“Apa-apaan yang tadi itu?” kata Kunti sambil memukul belakang kepala Coni.

Coni meringis dan berkata, “Sorry. Tadi aku kepeleset lalu jatuh. Jadinya berimprovisasi biar gak kehilangan momentum.”

Kunti hanya bisa geleng-geleng kepala. Untung saja aksi Coni tadi sukses. Bagaimana kalau si pekerja malah merasa geli dan menertawakan mereka? Bisa kacau semuanya.

“Ya sudah. Ayo kita lihat yang lainnya,” kata Kunti. Coni mengangguk dan melompat-lompat mengikuti Kunti dari belakang.

 

Manusia

Anto tidak ingin kembali, tapi dia butuh uang itu. Kalau tidak, anaknya yang sudah sembuh akan terus ditahan di rumah sakit.

Ah, sialan, batinnya.

 

Hantu

Terdengar suara lompatan yang terburu-buru. Coni menerobos masuk ke tempat Kunti dan berkata, “Ada yang kembali. Tukang cat di rumah nomor 2, lalu beberapa orang di rumah yang baru mulai dibangun.”

Kunti, yang sedang menyisir rambut salah satu anaknya, melotot mendengar itu.

Lima menit kemudian para hantu melakukan rapat darurat. Hasilnya? Menggunakan formasi yang sama dengan yang terakhir, mereka memutuskan untuk melakukan aksi mereka sekali lagi.

 

Manusia

Satu dinding. Ini yang terakhir. Dengan napas memburu Anto menyapukan cat pada tembok di hadapannya. Begitu ini selesai, dia berniat untuk segera angkat kaki.

Suara derap kaki membuatnya terlonjak. Tangannya mulai gemetar.

Jangan berbalik. Jangan berbalik.

Terdengar suara dentang kaleng dari sampingnya. Dari sudut matanya, Anto melihat benda itu bergerak naik-turun. Kaleng catnya lalu melayang dan menghantam tembok di depannya. Cipratannya mengenai wajah dan baju Anto. Pria itu terpekik dan terlonjak ke belakang.

Anto merasakan ada yang janggal di bawah kakinya. Dia menoleh ke bawah dan mendapati bahwa dia tidak lagi menjejak di lantai. Tubuhya melayang sekitar setengah meter dan ketinggiannya terus bertambah.

Tanpa dapat dia cegah, pria itu terhempas melintasi ruangan. Tubuhnya menabrak tembok dan dia mengerang saat kepalanya ikut tertumbuk.

 

Hantu

Kunti menggerakkan tangannya. Sekali lagi dia menghantamkan pria itu di dinding. Bekas tubuh pria itu tercetak pada cat yang belum kering.

"Kunti, stop!” Coni melompat, berusaha menghentikan Kunti, tetapi Kunti melambaikan tangannya dan membuat kafan Coni membelit kakinya sendiri. Pocong itu jatuh tersungkur.

“Kalau dia mati, tidak akan ada orang lagi yang berani mendekati tempat ini,” kata Kunti.

Darah mulai mengucur dari hidung pria itu. Kunti tertawa. Dia tahu dia hanya butuh satu hantaman lagi. Kunti membuat gerakan melingkar dengan telunjuknya dan sekarang kepala orang itu tegak lurus sejauh 5 meter dengan keramik di bawahnya. Dalam satu hentakan, tubuh pria itu meluncur ke bawah.

“Aaaaa!!!” jeritnya.

Setengah meter dari lantai, pria itu berhenti seketika. Tubuh pria itu terputar hingga dia tengkurap di udara, lalu perlahan dia mencapai lantai.

Kunti menoleh. Mata Kunti nyalang saat Gendi mendekatinya.

“Kamu tahu sendiri kan, apa yang terjadi kalau kamu membunuh manusia!? Tidak ada yang kembali setelah dibawa pergi Para Pengawas.”

“Aku tahu, tapi anak-anakku...”

Pembelaannya terpotong oleh suara isakan yang keras. Ketiga hantu itu serentak menoleh pada si manusia yang kini berlutut di lantai. Kedua tangannya menutupi matanya.

“Ampun, Mbah. Ampun. Saya ini cuma melakukan tugas, Mbah. Demi anak saya. Anak saya sekarang sedang terbaring sakit. Saya butuh uang dari kerjaan ini, Mbah,” kata manusia itu di antara tangisannya.

Kunti, Gendi, dan Coni saling berpandangan.

“Kalau Para Pengawas membawamu pergi, apa kamu tidak lebih kasihan lagi pada anak-anakmu?” tanya Gendi.

Kunti terdiam. Dia berbalik, lalu perlahan meninggalkan tempat itu. Gendi dan Coni segera menyusulnya.

“Kurasa kami akan pindah dari sini,” kata Kunti memecah kebisuan panjang di antara mereka.

“Mungkin memang sudah nasib kita ya, harus hidup berpindah-pindah,” kata Coni. “Manusia atau hantu, hidupnya sama-sama susah.”

“Kalau pindah, aku mungkin mau coba ke Semeru,” kata Gendi.

“Aku mungkin akan coba pulang ke daerah Sragen,” timpal Kunti.

“Kalau pindah, aku sih maunya ke dekat teater JKT 48,” kata Coni.

Kunti menghela napas. Dia menggoyangkan jarinya dan membuat kafan Coni membebat mulut pocong itu.

“Mau singgah dulu?” kata Kunti saat mereka sampai di depan tempat tinggalnya.

“Kalau boleh,” jawab Gendi.

 “Hmph, hmph.” Coni melompat-lompat mengejar kedua temannya itu.  

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer duniamimpigie
duniamimpigie at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 11 weeks ago)
80

Aaaaaah... lucuuuuuu~~~
Ahirna saya bisa ngakak juga untuk cerpen PTK yang genre-na komedi XDD
.
Coni lucuuuuuu~~~ khekhekhekhe~~~
Jangan-jangan dia sekarang udah di tempat JKT48 ya? XDD

Writer Biondy
Biondy at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 11 weeks ago)

masih proses pindahan tuh kayakna :)).
thanks for reading :)

Writer Foo
Foo at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 12 weeks ago)
100

"Improvisasi! Biar gak hilang momentumnya!" Ngakak gila!!!!!!!

Writer Biondy
Biondy at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 12 weeks ago)

thanks for stopping by ^^

Writer FinFreya
FinFreya at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 12 weeks ago)
100

"Para hantu perumahan bintang! Bisya bisya bisya!" hahaha keren banget! ngakak di awal, terharu di akhir :') masih senyum-senyum sendiri ngebayangin dikejer pocong ngegelinding *padahal kalo beneran dikejer pasti tetep jerit2 wkwk*
anyway, salam kenal ya :D

Writer Biondy
Biondy at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 12 weeks ago)

halo. Salam kenal. Thanks udah baca yah :D

Writer Deschia
Deschia at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 12 weeks ago)

Hai aku datang. Setelah sekian lama bersemedi di lereng Gunung Nona :D

Suka banget bacanya. Ngakak ngesot-ngesot. Hihihi.
Untuk jumlah kata, aku ngikut di Ms. Word ya, jadi aman sajo.

Oke nanti kureview ya. *agak telat nih, tapi tak apa.

Writer Biondy
Biondy at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 12 weeks ago)

akhirnya yang punya kondangan muncul ^^

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 12 weeks ago)
100

“Bagaimana kalau kita ingatkan mereka bahwa biaya bahan pangan, sekolah, dan kebutuhan sehari-hari semakin melambung tinggi?” -> kayaknya ini momok paling menakutkan justru XD
.
salam buat coni si pocong gahul (^^)V
*tapi ik bukannya minta disatronin ye :P

Writer Biondy
Biondy at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 12 weeks ago)

salam balik dari Coni :3 *nah lo
thanks for reading :D

Writer citapraaa
citapraaa at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 13 weeks ago)
90

mengharukan...haha.. hantu dan manusia samasama susah

Writer Biondy
Biondy at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 12 weeks ago)

thanks for reading ^^

Writer kemalbarca
kemalbarca at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 13 weeks ago)
80

bagus ceritanya, aku ngakak2 bacanya XD
apalagi ketika membaca dari dua sudut pandang, ternyata manusia dan hantu sama2 susah
mungkin masalahnya cuma satu, aku tadinya ngarepin endingnya agak twist, tapi ternyata selesai gitu aja, yah tetep bagus sih
keren deh pokoknya

Writer Biondy
Biondy at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 13 weeks ago)

thanks udah baca ya :D

Writer xenosapien
xenosapien at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 13 weeks ago)
80

Ehehehe... Harga sembako di luar batas kewajaran layak masuk kategori horor. XD

Writer Biondy
Biondy at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 13 weeks ago)

apalagi di waktu bulan puasa gini yah -_-

Writer xenosapien
xenosapien at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 13 weeks ago)

Betul betul. ^^

Writer cat
cat at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 13 weeks ago)
80

Ngakak bacanya.

ː̖́ټ..ћέ²..ټ..ћέ²ː̗̀(*)ː̖́..ټ..ћέ²ټː̗̀

Endingnya cukup mengharukan.

Biasanya sih hitung versi Ms. Word

Writer Biondy
Biondy at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 13 weeks ago)

thank you udah baca. Wah, moga2 emang hitungannya ikut di Word ^^

Writer Grande_Samael
Grande_Samael at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 13 weeks ago)
90

Wkwkwkwkwkwk hantu-hantunya kocak banget. Akhirannya mengharukan. Kasian anak-anak Kunti kalau ibunya ditangkap. Si Coni kocak.

Writer Biondy
Biondy at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 13 weeks ago)

hehe, thanks for reading ^^

Writer Biondy
Biondy at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 13 weeks ago)

eh, bentar. Ini kok jadi terhitung 2099 kata, padahal di Word cuma 1996. Jadinya ini terhitung berapa kata yang benar? Any info please.

Writer xenosapien
xenosapien at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 13 weeks ago)

Emang ada perbedaan cara hitung kata di kekom sama word processor, Biondy. Contohnya, kalau gak salah kata ulang dihitung dua kata di sini. ^^a

Writer Biondy
Biondy at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 13 weeks ago)

walah @_@
ini tantangannya kan maksimal 2000 kata. Jadi apa saya perlu mengurangi katanya biar mengikuti word count kemudian atau gimana?

Writer xenosapien
xenosapien at Tantangan: Perumahan Bintang (7 years 13 weeks ago)

Buruan tanya penantangnya aja. :D