Review: Tantangan Drama, Thriller

Genre Thriller bukan sesuatu yang menjadi keahlian saya. Cuma hobi atau genre tulisan favorit. Saya lebih senang menulis peristiwa yang kebetulan saya upayakan ada unsur ketegangan di dalamnya.

Thriller sendiri bisa disederhanakan dengan keseruan. Hal yang seru ini potensial menciptakan ketegangan. Genre Thriller sendiri banyak sub-genrenya. Dari situ, pembaca bisa mendapatkan tema-tema apa saja yang sering dibahas sebuah karya bergenre Thriller, baik itu cerita maupun film. Katakanlah seperti kriminal, horor, dan misteri. Dan kesamaan dari semua tema itu adalah genre ini adanya tempo yang cepat pada narasinya yang sederhana. Penggunaan kata-katanya efektif, tidak berbunga-bunga, lugas. Tokoh-tokoh di dalamnya bergerak seiring peristiwa yang terjadi secara terus menerus. Seolah tidak akan pernah berhenti. Dan terakhir adalah hal yang mengejutkan.

Sedangkan Drama sebagai genre tulisan biasanya melibatkan keputusan-keputusan tokoh yang mengalami peristiwa/ konflik. Dalam genre Drama, pembaca akan disajikan dengan umumnya sebuah dilema moral. Cerita Drama biasanya seputar kehidupan dan membuat emosi pembacanya. Jika ini disatukan, saya pikir adalah murni percobaan. Sepintas bisa saja disatukan meskipun dalam Thriller rasanya jarang melibatkan sesuatu yang kita sebut “moral”.

Dengan membuat peraturan mengambil ide dari link berita kejadian apa saja yang terjadi di dunia ini, saya bermaksud kesan “emosi manusia” itu ada dan bahkan terlibat. Tinggal bagaimana mengemas berita itu menjadi karya utuh (cerpen) yang seru dan melibatkan emosi.

Nah, tiga karya dari peserta tantangan Drama Thriller akan saya “komentari” di sini. Pertama sekali, terima kasih karena sudah menyelesaikannya. Tak sulit kan? :)


1. Malam Terakhir untuk Menangis (http://www.kemudian.com/node/276054)

Karya Kemudianers Pecundang Jalanan ini bisa saya katakan halus. Narasinya cenderung menggunakan kalimat yang semacam prosa, semacam puisi. Ide cerita terinspirasi dari berita yang ada di situs ciputranews.com tentang seorang wanita di Cina yang membunuh suaminya dan memasaknya.

Pecundang Jalanan memanfaatkan berita itu dengan membuat sebuah cerita di baliknya yang menurut saya sudah cukup baik. Penulisnya menambahkan tokoh Dixa menjadi poin penting baginya untuk memunculkan Drama. Keberadaan tokoh, yang kini menjadi tiga orang (Dixa, Ibunya, dan Bapaknya) merupakan situasi yang tepat menggali unsur drama. Si Ibu melindungi Dixa tapi tidak mau melukai suaminya. Karena bagaimanapun mereka sekeluarga bergantung tenaga suami (Robin) sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah. Hal tersebut akan melibatkan pengambilan keputusan. Ada dilema. Ada risiko yang harus diambil. Hingga akhirnya Si Ibu (Hana) membunuh Robin dan memasaknya, sayang sekali penulis tidak menyajikan dengan cukup baik bagaimana keputusan itu muncul, datang, mempengaruhi tokoh Hana. Di sanalah menurut saya letak “drama” yang bisa digali.

Sepanjang 2000-an kata, Penulis menyajikan peristiwa yang semacam grafik menanjak lalu turun. Peristiwa pembunuhan itu sendiri keji; seorang suami dibunuh lalu dimasak oleh isterinya sendiri. Seorang ayah yang hendak memperkosa anaknya sendiri. Bagaimana peristiwa itu berlangsung? Itu adalah bagian Thriller-nya. Pecundang Jalanan cukup paham bagaimana “keseruan” atau “ketegangan” bisa dihadirkan melalui narasi. Namun entah karena memang basic-nya menulis prosa yang cenderung menggunakan kalimat berbunga, kejadian itu terjadi dengan tidak “seru”. Tidak cukup “tegang”. Sederhananya tentang ketegangan adalah kalimat pendek. Yang saya kagumi dari cerpen ini adalah konsep grafik ketegangan yang diusung penulisnya. Itu sudah mirip-mirip sama saya menulis. #ditampar.


Jadi, cerpen ini memang memadukan Drama dan Thriller.

2. Kebas (http://www.kemudian.com/node/276161)

Kebas ditulis oleh Gitta-chan, yang kebetulan sempat menanyakan soal tantangan ini pada saya via facebook. Berita yang menjadi sumber inspirasi gadis manis ini adalah tentang 2 remaja putri (usia 12 tahun) yang membunuh temannya karena terpengaruh karakter fiksi. Berita yang dimuat di situs undergroundtauhid.com ini menyatakan bahwa kejadian itu terjadi di Wisconsin, Amerika Serikat. Lebih jauh jaraknya dari asal berita dalam cerpen Pecundang Jalanan.

Namanya berita pasti hanya melaporkan kejadian. Tidak ada unsur emosional sama sekali. Penulisnya semacam robot. Dan dari berita tersebut, penulis hendak “menghidupkan” apa yang terjadi. Gitta memulai cerpennya dengan menggunakan umumnya genre thriller diceritakan, yakni: langsung menegangkan. Tanpa basa-basi, pembaca sudah mengetahui ada deru napas seorang gadis yang memburu. Bahkan tak perlu menunggu lama, ketegangan itu dihadirkan dengan alasan dasar bahwa seseorang ingin hidup.

Melihat narasi, kesan menegangkan itu sudah terpenuhi. Kecuali tentang hati yang kebas, rasanya sudah bisa dibilang sempurna. Kejar-kejaran memang potensial menimbulkan kesan itu. Namun, sedikit kecewa, Gitta sebaiknya perhatikan dialog. Dengan masih menggunakan setting, apa cocok kata “doooong” muncul di percakapan remaja asing itu? Saya sendiri malah tertawa di bagian itu.

Hal yang paling memukau dari cerita ini adalah bahwa Gitta masuk ke fantasi pelaku pembunuhan di berita sesungguhnya. Saya tidak secara spesifik “meminta” itu. Tapi ini di luar dugaan. Thriller yang Gitta buat berdasarkan berita itu sangat memenuhi aspek bahwa “banyak ide yang bertebaran di sekitar kita dan bisa dijadikan tulisan”. Pun begitu, saya masih merasa kekurangan cerpen Kebas ini adalah cerpen ini terlalu panjang. Narasinya seolah lambat di beberapa bagian. Itu hal yang aneh sebenarnya. Karena ketika narasi berjalan dengan tempo cepat, cerita akan cepat usai. Ending di depan mata. Apalagi melihat bahwa peristiwa yang terjadi dalam cerpen ini cuma dua; pengejaran dan penusukan.


3. Batas Dua Dunia (http://www.kemudian.com/node/276154)

Grande_Samael punya pembacaan yang menarik dan sedikit berbeda terhadap tantangan ini. Beliau mengambil inspirasi dari sebuah berita kematian seorang kakek yang tewasnya dalam posisi bersujud. Unik. Berita itu ada di situs kompas.com. Diduga kelaparan, dan itu menjadi bahan yang cukup buat penulis menyelesaikan tantangannya.

Sepintas dari membaca beritanya, rasanya sulit mengemas itu menjadi sebuah cerpen Thriller. Tapi Grande membuatnya juga. Ia mengambil perspektif yang berbeda, yakni pengalaman psikologis tokoh kakek itu menjelang kematiannya, yang disajikan menegangkan. Cerpen ini dibuka dengan pertanyaan besar: Bagaimana rasanya saat kematian datang. Sepanjang cerita, tokoh kakek mencari jawaban itu. Saya pikir tidak ada yang menjadi masalah di sini. Kecuali sejauh mana pengalaman psikologis Sang Kakek bisa memunculkan efek yang diharapkan. Kecoak? Bercinta?

Pengalaman kematian sendiri umumnya tidak jauh-jauh dari ketakutan. Tapi tidak terjadi di sini. Grande membawa kesan yang berbeda, yakni akhir dari kematian tersebut. Melalui peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh Kakek, saya sendiri malah berharap kesan kekhawatiran dalam cerpen ini. Kekhawatiran yang membuat Si Kakek bertanya-tanya apa yang selanjutnya terjadi. Namun itu hanya disampaikan kalimat pamungkas di akhir cerita. Itu ending yang bagus, namun tidak cukup memuaskan.

Pada akhirnya, saya akan memilih satu di antara peserta yang akan dinyatakan lulus tantangan. Saya mengaku kesulitan karena masing-masing punya kekurangan dan kelebihan. Pecundang Jalanan mengemas Drama dan Thriller. Itu bukan pekerjaan gampang. Saya sendiri belum tentu bisa membuatnya. Sedangkan Gitta-chan muncul sebagai penulis yang langsung masuk ke kepala tokohnya yang dari berita yang ia ambil mengalami pengaruh karakter fiksi. Dunia mereka seakan menjadi dunia penulisnya sendiri. Grande_Samael, cerdas mengemas berita yang rasanya sulit dijadikan thriller. Nyatanya ia bahkan menggarap Psychological Thriller. Saya angkat tangan sebenarnya.

Pun begitu, jujur saja, diam-diam saya mengharapkan salah satu dari tiga peserta tantangan Drama Thriller ini membuat sesuatu yang nyeleneh. Semisal pada karya Gitta, tepat setelah kalimat: Ia benar-benar ingin membunuh Lucy, mungkin saja penulisnya cukup memberikan satu kalimat penutup. Contoh: Dan ia pun melakukannya. Selesai. Konsep Thriller adalah menegangkan. Bahkan dengan semangat mengakali isi tantangan, saya berharap ada yang melakukan itu. Ia membuat menegangkan, lalu meninggalkan cerita begitu saja. Ini bukan misteri yang mana endingnya harus terjawab keseluruhan. Ketiga cerita itu utuh. Tidak ada yang patah dan berhenti begitu saja. Intinya, kejutan ini pun sudah sangat menyenangkan.

Saya berharap program tantangan ini dapat menjadi nilai tersendiri bagi semangat menulis semua Kemudianers. Dan review ini juga tidak sempurna. Semoga ke depannya bisa jadi lebih baik. Dan akhirnya, sampai ketemu di program-program Kemudian yang tak kalah seru.





Salam

Read previous post:  
80
points
(2306 words) posted by Shinichi 6 years 8 weeks ago
88.8889
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | PENGUMUMAN | PTK2014 | tantangan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Kyaaaaah~ cerpen saya udah direview~! >_<
#apasih
Makasih review-nya om shin~ XD Saya bahagia~

Writer Shinichi
Shinichi at Review: Tantangan Drama, Thriller (6 years 5 weeks ago)

turun bahagia karena dirimu bahagia
ahak hak hak

wah...so thk u reviewnya,,

Writer Shinichi
Shinichi at Review: Tantangan Drama, Thriller (6 years 5 weeks ago)

masama.
kip nulis dan kalakupand yak
ahak hak hak

Postingan action thrillerku gak direpiw. .__.
*duduk meringkuk di pojokan*

Writer Shinichi
Shinichi at Review: Tantangan Drama, Thriller (6 years 5 weeks ago)

ahak hak hak
yg rusuh nggak usah direview ah :p

Writer cat
cat at Review: Tantangan Drama, Thriller (6 years 4 weeks ago)

HooH.

Yang rusuh tidak diripiu.

(>ˆ▽ˆ)> ωªªκªª=Dωªªκªª <(ˆ▽ˆ<)

100

Waaa makasih kaka reviewnya~

Writer Shinichi
Shinichi at Review: Tantangan Drama, Thriller (6 years 5 weeks ago)

masama
semoga berkenan
ahak hak hak :p