Jadi Ayah

Cita-cita adalah hal yang lazim ditanyakan kepada seorang anak. Ketika pertanyaan itu ganti diajukan oleh seorang anak kepadanya, dadanya dijalari semacam gelora, dan ia merasa mantap akan jawabannya yang masih sama se­perti dahulu, ketika usianya masih sepantaran anak itu: “Jadi ayah.”

Gadis itu menatapnya dengan terkesima, sekaligus heran. Ta­tapan yang telah diakrabinya sedari lama, dari siapapun, termasuk dari keluarganya sendiri. Kadang disertai per­tanyaan terang-terangan akibat dorongan penasaran yang tak tertahankan. Gadis itu mengucapkannya dengan ha­ti-hati, “Kalau boleh tahu… kenapa sih, Om, belum?”

Lelaki itu tersenyum. Dalam dunianya, menikahi seorang pe­rempuan tidaklah semudah meniduri banyak perempuan. Ada di antara mereka yang amat lekat di hatinya. Namun perempuan itu telah memutuskan untuk tidak menikah, dan tidak memiliki anak. Terjebak dalam idealisme ke­kasihnya itu, ia menjadi partner yang setia di ranjang ken­dati hubungan mereka bersifat terbuka. Kerapkali ia me­numpang tidur di apartemen perempuan itu kala sedang kehabisan uang atau amat kesepian. Setelah bertahun-tahun, ia merasakan kehampaan. Ibunya yang telah me­nua di Indonesia menguatkan alasannya untuk menyu­dahi hubungan dengan perempuan itu—yang memaklum­inya, bagaimanapun juga. Kepulangannya makin tera­sa sebagai keputusan yang benar ketika sesampainya di In­donesia ia bertemu dengan mantan kekasihnya yang telah bercerai. Sekarang ia sedang berusaha mengambil hati perempuan itu lagi dengan mengandalkan kepiawaiannya di ranjang.

Tentunya kepada remaja yang sedang duduk di hadapannya itu ia tidak mengungkapkan lika-liku hubungan asma­ra seorang dewasa yang pernah tinggal cukup lama di ne­gara bebas, sehingga yang disodorkannya adalah jawab­an sederhana: “Belum ada jodohnya.”

Ada sih, tapi masih diupayakan, ralatnya dalam hati.

Tatapan itu berganti simpati. Sebagai seorang remaja, gadis itu telah mengalami cukup banyak patah hati. Apalagi de­ngan seorang papa yang sering mewanti-wanti agar tidak berpacaran. Gadis itu telah menceritakan banyak hal ke­padanya. “Susah ya, jadi ayah?” imbuhnya. Pertanyaan yang sepatutnya diajukan pula kepada papanya sendiri.

Lelaki itu mengangkat gelasnya yang masih terisi penuh oleh Grapo, “Yah, kadang… orang enggak mencita-citakan se­suatu, tapi dapet. Sebaliknya, orang yang mencita-citakan yang justru enggak dapet,” lalu meneguk minuman itu lambat-lambat. “Tapi kita harus yakin.”

Seperti dirinya, yang sebenarnya tidak pernah berambisi un­tuk meniti karier sebagai pianis. Ia ingin bermain piano semata untuk bersenang-senang. Ta­pi ibunya, yang me­yakini dirinya tidak mempunyai bakat la­in, malah mengi­rimnya ke sekolah musik di Boston agar me­nekuni bidang tersebut. Maka semenjak itu hingga ki­ni ia telah meng­alami pahit-manisnya transisi dari pemula menjadi pro: kompetisi, kegamangan akan bakat, gegar bu­daya, ka­ngen rumah, mempertahankan hubungan ja­rak jauh de­ngan pacar, dikhianati pacar, ditinggal ayah un­tuk selama-selamanya, diminta ibu untuk tidak terlalu se­ring pulang, mulai mabuk-mabukan, terbangun di sam­ping perem­puan tidak dikenal dalam keadaan sudah tidak perjaka, mencoba mengamen di jalan, menambal kekurangan kre­dit perkuliahan demi gelar yang tidak kunjung tergapai, men­cari pe­kerjaan paruh waktu, membentuk grup mu­sik la­lu bu­bar, mengajar musik pada anak-anak berma­salah di ko­mu­nitas setempat tanpa dibayar, menumpang ting­gal di apartemen teman, membentuk grup musik lalu bu­bar, me­numpang tinggal di apartemen teman kencan, mem­ben­tuk grup musik lalu bubar, mengisi pertun­jukan di ka­fe-kafe kecil sampai kafe-kafe itu bangkrut sa­tu per sa­tu, men­jadi musisi pengiring artis-artis lokal, men­jadi mu­sisi pengiring artis-artis terkenal, memperdalam mu­sik di Prancis selama beberapa tahun, menjadi asisten do­sen et­no­mu­sik­ologi dan dibawa berkeliling dunia un­tuk me­nge­nal ra­gam musik etnik, makin bersemangat me­nga­rang kom­po­si­si sendiri, menjalin kerja sama de­­ngan pro­du­ser, merilis album sendiri, mendapat penghar­­gaan, mu­lai diundang sebagai penampil di berbagai kon­­ser dan fes­tival…. Pada usia menjelang kepala empat, ia merasa su­dah mencapai pun­cak karier, sekaligus kebun­tuan da­lam hubungan asma­ra. Maka dengan hati lapang ia pu­lang ke rumah ibu­nya dengan harapan perempu­an itu pun puas dengan pen­capaiannya. Sekarang ia dan ibunya te­lah dapat berse­pakat bahwa ada hal lainnya yang sedari du­lu menanti un­tuk diprioritaskan.

“Betul, Om,” gadis itu mengangguk. “Semoga di usia yang ba­ru, Om bisa ngedapetin yang dicita-citain.”

“Amin. Terima kasih, Bibe,” lelaki itu memandang gadis di depannya dengan penuh kasih. Alangkah beruntung orang­­tua Bibe—memiliki anak remaja yang sungguh perha­tian!

Bibe mengangkat ransel ke pang­ku­an­nya, lalu mengeluarkan sebuah kotak yang dilapisi kertas ber­motif minimalis. “Maaf cuman bisa kasih ini buat Om. Maklum, Om, kantong pelajar, hehehe.” Bibe mendorong hadiahnya. Lelaki itu meraih persembahan itu mendekat. Ia membuka pembung­kusnya dengan hati-hati—hal yang akan sulit dilakukan­nya apabila tidak ada yang mengamati—lalu mendapat­kan sebuah jurnal dan sebatang bolpoin. “Biasanya papaku seneng dikasih itu.” Apapun yang diberikan gadis itu pada papanya, iapun akan menerimanya dengan senang hati! Permasalahannya hanya: Tulisan gua kelewat je­lek buat notes sebagus ini. Ia paling sering menulis dengan huruf toge—itupun hanya ia yang mengerti.

“Terima kasih.” Dipandangnya Bibe lekat-lekat. Ia berenca­na untuk membeli kotak kaca nanti, memasukkan hadiah ini ke dalamnya, lalu memajangnya di dinding kamar. Ba­gaimanapun ini sama sekali tidak tampak murahan. Ba­rangkali Bibe menghabiskan tabungannya sedari SMP. Te­bersit perasaan bahwa ia telah memberatkan gadis itu. Un­tuk kado ulang tahun Bibe, kurang dari dua minggu lalu, ia memberi gadis itu seuntai gelang emas. Ia tidak meng­harapkan balasan apapun, sungguh, ia memberikan­nya semata karena ingin melihat benda itu melingkar in­dah di pergelangan tangan gadis yang ingin dianggapnya sebagai anak sendiri.

Ia tidak tahu kalau Bibe pun tidak berani mengeluarkan ge­lang itu dari kotaknya lagi. Hadiah itu terlalu indah hing­ga anak itu takut orangtuanya akan mengetahui.

Hari belum gelap ketika lelaki itu enghentikan mobilnya di seberang gang menuju rumah Bibe. “Enggak mau di­antar sampai dalam?” tanyanya. Bibe menggeleng cepat-cepat. Mungkin sang papa sedang berada di rumah. Ga­dis itu menempelkan punggung tangan kanannya ke dahi, seperti seorang anak yang berpamitan pada orangtua­nya sebelum bepergian. “Hati-hati nyeberangnya, ya.” Ia terus mengawasi Bibe melintasi jalan raya yang telah le­ngang, lalu ditelan oleh gang. Ia lupa menitip salam untuk kedua orangtua Bibe, kendati tahu gadis itu tidak akan menyampaikannya. Kapan hari Bibe bilang padanya agar tidak melapor pada sang mama kalau mereka jalan-ja­lan bareng lagi. Pesan yang selalu dilanggarnya.

“Maaf, ya, Bibenya diajak lagi,” ucap lelaki itu lewat telepon sesampainya di rumah. Ia telah membersihkan diri, ber­ganti pakaian, dan tengah menikmati senja di beranda sam­ping rumahnya bertemankan sigaret. Titik-titik cahaya di la­ngit yang kelam tampak samar, tersaput awan. Ibu­nya be­lum pu­lang dari pengajian, dan ia tidak perlu ber­siap men­jem­putnya karena perempuan itu membawa mo­bil sen­di­ri. Ada beberapa pembantu, namun kendati ia su­dah cukup lama mendiami rumah itu, tampaknya mere­ka ma­sih meng­anggapnya sebagai penghuni baru yang asing.

“Yah, saya bisa apa,” sahut perempuan di seberang sana. Le­laki itu tertawa menanggapinya. “Jalannya ke mana aja ta­di?”

“Biasa we, makan-makan.”

“Jangan yang mahal-mahal. Enggak enak.”

“Enak kok. Kalau tahu tempatnya. Perlu rekomendasi?”

“Bukan itu….” Jeda yang cukup lama, lelaki itu menantinya dengan sabar. “Bibe cerita apa aja?”

“Tadi sih ngomongin cita-cita.”

“Dia bilang apa?”

“Belum tahu, katanya.”

“Duh. Tuh anak. Udah mau kuliah juga.”

“Kayaknya cenderung ke sosial, yah.”

“Iya, sih. Tapi udah terlanjur masuk IPA. Temen-temennya banyak di sana, sih.”

“Kayak lu aja entar, murtad dari IPA, hahaha.”

“Hehe.”

“Kata si Akang gimana?”

“Suruh nerusin jadi wartawan.”

Lelaki itu tertawa lagi. Obrolan dengan sang mama bisa ber­jam-jam lamanya. Membicarakan anak selalu menjadi to­pik yang menyenangkan baginya, walaupun bukan tentang anak­­nya sendiri. Apalagi anak remaja kadangkala su­­lit ber­komunikasi dengan orangtuanya. Ia pun mengalami­nya dulu. Kini dengan senang hati ia memberikan ban­tu­an. Namun malam itu mereka tidak berbincang ba­nyak. Pe­rempuan itu sedang berada di rumah, bersama anak­nya, dan, benar saja, suaminya.

Sebelum percakapan diakhiri, ia bertanya pada sang mama, bolehkah membawa anaknya ke Ciwidey. “Kejauhan!” Padahal ia punya rencana one day trip bersama gadis itu ke Singapura. Pergi pagi pulang sore pakai pesawat da­ri Hu­sein Sastranegara. “Ke kebun binatang aja, atau ta­man hu­tan raya, tuh.” Ia mengerutkan kening, mengingat-ingat adakah pakaiannya yang cocok untuk dikenakan di tem­pat-tempat semacam itu.

Satu pertanyaan lagi, yang sebetulnya sudah pernah diaju­kannya berkali-kali, kapan ia bisa ngopi bareng mereka se­keluarga? “Biar akrab sama si Akang aja sih.” Kayaknya sok salah paham aja dari dulu, imbuhnya dalam hati. Dulu, ketika perempuan itu sudah berbulan-bulan meni­kah dan masih perawan, itu masalah, menurutnya. Ia mem­beri banyak saran kepada perempuan itu, dan ketika su­aminya mengetahui, ia dianggap sebagai penggang­gu. Se­karang, ketika perempuan itu sudah belasan ta­hun meni­kah dan belum memiliki anak lagi semenjak yang pertama, itu juga masalah, sebetulnya, tapi ia lebih menyenangi hubungan dengan putri pasangan itu, dan ke­ti­ka tam­paknya papanya mengetahui, ia ingin agar se­ga­la­nya je­las, dan terbuka.

“Iya, iya,” tanggapan perempuan itu sama saja sebagaima­na sebelum-sebelumnya.

Panggilan usai. Lelaki itu lalu mengusap-usap layar tablet­­nya dengan telunjuk, meninjau agenda. Ia seharusnya mempekerjakan manajer karena ia sama sekali bukan ahli da­lam mengatur jadwal. Ia sebetulnya tidak berencana un­tuk meneruskan kariernya secara profesional di Indone­sia. Tujuannya yang utama adalah menemani ibunya, lalu di­tambah dengan mendekati mantan kekasihnya yang te­lah bercerai itu. Tapi ibunya sudah punya keasyikan sen­di­ri dengan memasak dan berkebun, dan sebagai lan­sia man­diri tidak doyan mengandalkan bantuan dari orang la­in. Adapun sang mantan kekasih sibuk dengan pekerjaannya di kementerian dan mengurus anak-anaknya sen­di­ri. Jadi, selain mengobrol dengan ibunya pada pa­gi dan so­re, bercengkerama dengan kekasihnya setidak­nya se­ka­li dalam sebulan sekalian mengunjungi para keponakannya, berjumpa dengan kawan-kawan lama sese­kali dalam sepekan hingga menemukan kawan jalan yang istimewa—Bi­be, melatih jemarinya di atas tuts, mem­baca kamus baha­sa sunda untuk mengingat-ingat dan berusaha memperoleh logatnya kembali, serta merawat tubuhnya yang mu­lai ken­dor akibat makan terlalu banyak nyamikan buat­an ibunya, ia tidak punya kesibukan berarti. Maka ketika keberadaannya mulai diketahui, namanya dikenali, dan ajakan bermunculan, ia menanggapi beberapa di antaranya se­ka­dar untuk memiliki kesibukan. Yang lainnya, se­per­ti menjadi ju­ri ajang pencarian ba­kat di TV dan mem­bin­tangi iklan, ia tolak. Ia berusaha untuk menjadi se­bi­jak mungkin dan tidak terlalu sibuk, walaupun belakang­an jadwalnya relatif padat. Dua bulan lalu ia ikut touring ke Ja­wa Tengah dan Ja­wa Timur. Bulan ini ia baru pulang dari meng­isi bebera­pa pertunjukan di Jogja. Ban­dung Jazz Fes­tival menanti­nya pada Oktober mendatang. Tahun depan ada Java Jazz. Besok malam di Hotel Pa­pandayan. Ta­pi setidaknya ha­ri ini ia sudah berte­mu de­ngan Bibe, dan malam setelah besok malam ia akan me­nuju Jakarta untuk bermalam di rumah adiknya—melampiaskan kangen pada kepo­na­kan-keponakannya yang ceria, dan tentunya, pada ma­lam berikutnya, kekasih­nya.

***

Pada malam Sabtu ia memberi kesempatan pada adiknya dan sang suami untuk berpacaran di luar rumah, sementa­ra ia berbaring di kamar dengan trio kecil yang mengeli­linginya dan bersiap mendengarkannya mendongeng. Trio kecil itu mengingatkannya akan dirinya, saudara kembarnya, dan adiknya semasa kecil. Persis seperti masa itu: mereka bertiga mengitari ayah mereka di tempat ti­dur dan mendengarkan cerita-cerita rakyat yang telah di­modifikasi oleh sang ayah. Kekasihnya se­masa di Boston pernah mengatakan: Ketika kau bilang kalau cita-cita­mu menjadi seorang ayah, kau membayangkan ayahmu, dan anak-anak yang mirip denganmu. Kau sebenar­nya hanya ingin mengulang masa lalu. Terjebak dalam masa lalu. Ia tidak tertarik dengan analisis semacam itu. Demi perempuan itu ia per­nah mencamkan akan men­jadi lajang selamanya dan ma­ti bahagia, tapi kini ia da­pat merasakan menjadi se­o­rang ayah walau belum sepe­nuhnya: “ayah” yang menyerupai ayah­nya. Ia tertidur ber­sama me­reka, terbangun ketika ibu mereka yang telah pu­lang mem­buka pintu kamar dan ber­gu­mam terharu. Ia me­nge­cup pipi kedua putranya, lalu mengangkat yang bung­su un­tuk dibawa tidur bersamanya. “Hei,” tegur si ka­kak. “Yang gede enggak dicium juga?” Adiknya berlagak mendelik. “Makanya, kawin…!” Dicubitnya pipi lelaki itu. Be­ta­papun akrabnya ia dengan keluarga adiknya, ia me­rasa ti­dak nyaman berada lebih da­ri dua malam di rumah mereka.

Pada malam Sabtu ia telah memesan ruangan di sebuah ho­tel luks, dan menanti kedatangan Ri tersayang. Kekasih­nya itu telah menitipkan kedua anaknya pada sang man­tan suami, dan bebas untuk bersenang-senang semalam­an itu. Berjam-jam mereka berpeluh dalam deru. Sekarang da­lam debar yang telah menenteram, berselimutkan te­ma­ram, lelaki itu memeluk kekasihnya dari belakang. “Ka­pan?” bisiknya.

Lama perempuan itu diam saja.

“Baru dua tahun,” akhirnya ia berucap.

“Dua tahun itu udah lama.”

“Gini aja dulu, enggak apa-apa.”

Perempuan itu mengatupkan bibir dan memejamkan mata ketika merasakan tangan lelaki itu mengusap-usap perut­nya. Dalam bisu ia bertanya-tanya apa lelaki itu sudah lu­pa perkataannya kapan hari mengenai tubektomi, dan sung­guh-sungguh memahami alasannya bercerai.

“Kalau aku enggak pernah pergi,” lelaki itu mengetatkan de­kapan, “anak kita udah sebesar apa, ya?”

Dalam benaknya terbayang seorang gadis. Sulit menganggap­nya sebagai anak sendiri. Bibe terlalu mirip kedua orang­tuanya; sepenuhnya milik mereka. Tapi begitu mudah­nya ia dan gadis itu terhubung. Sekali sewaktu menengok sang mama yang sedang hamil, ia meminta izin untuk memegang perut yang membuncit itu. Tentunya pada wak­tu itu sang pa­pa sedang tidak ada. Ketika seluruh tela­pak tangannya te­lah menempel dengan sempurna pada per­mukaan itu, ia langsung merasakan adanya sentuhan da­ri dalam. Se­a­kan anak itu tahu kalau ada yang ingin me­nyapanya. Pada wak­tu itu ayah lelaki itu belum lama me­ninggal dunia, pun ia ba­ru resmi putus dari pacar yang se­lama itu di­i­dam-idamkannya menjadi istri masa depan. Duka yang se­mula berdentum-dentum di dadanya menda­dak le­nyap. Ia menyambut kehidupan yang baru itu, me­nyapanya balik  dengan se­­nyum berseri. Belasan tahun ke­mudian, ke­ti­ka ia berjumpa lagi dengan kehidupan yang telah ber­wu­jud seorang ga­dis itu, serta-merta perasa­an itu me­lan­danya kem­bali. Ka­dang ia termenung-menung dibuatnya.

Mungkin sebesar Bibe, pikirnya, dan membayangkan seorang remaja memanggilnya dengan sebutan “Ayah”.[]

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer rian
rian at Jadi Ayah (7 years 10 weeks ago)

wah, jadi ini si dendeng itu, ya? kenapa kau kejam sekali pada karaktermu, Mbak Dayeuh?

Writer rian
rian at Jadi Ayah (7 years 16 weeks ago)
90

Mbak Day kayaknya menghayati banget karakter laki-laki ini. Kalau dibandingkan cerpen-cerpennya Mbak Day yang lain dengan tema serupa (semisal Nyonya Misti), saya merasa Jadi Ayah ini lebih kompleks dan lebih matang. Saya nggak bisa komentar terlalu banyak, soalnya kehidupan si laki-laki cuma ditampilkan sebatas ini. seandainya ditambah lagi, diperdalam lagi, dieksplor lagi, bakal tambah top!

Writer Shin Elqi
Shin Elqi at Jadi Ayah (7 years 20 weeks ago)
2550

Setelah tahu ada tokoh Bibe, aku langsung masuk ke ceritanya. Jadi ini adalah Paman Itu. Dan seperti dugaanku setelahnya, cerita ini seperti hanya memunculkan beberapa konflik dengan sebagian solusi.
Bercerita tentang kehidupan tokoh utamanya dan masalah yang dihadapinya, baik yang sudah terjadi atau yang sedang terjadi.

Dari hal itu, aku jadi curiga. Jangan-jangan Teteh hanya ingin menggali lebih dalam tokoh Paman Itu dengan sebentuk cerita. Agar nanti, saat menyelesaika Novel Bibe benar-benar terasa real.

Aku jadi bisa membayangkan, pergi ke toko buku dan melihat sampul buku dengan bunga sedikit redup, dengan latar belakang kelam. Judulnya Bibe dan penulisnya Dayeuh. It's so real, heh? It's gone be real. It's must be real!

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Jadi Ayah (7 years 20 weeks ago)

bayangan kovermu itu berasa Mira W banget deh X-D (tapi bukan sekali ini sih tulisan saya dibilang Mira-W-ish o_o)
yep, betul, ini dibuat untuk merangkum si "paman"...
euh, entah kalo soal dibukukan soalnya cerita semacam ini sebetulnya udah banyak.
terima kasih sudah mengapresiasi, Shin Elqi :-)

Writer bayonet
bayonet at Jadi Ayah (7 years 21 weeks ago)
80

"menikahi seorang pe­rempuan tidaklah semudah meniduri banyak perempuan" haha.. ini kalimat apakaaah.. lol

aduh kk dayeuh ngarang cerita bikin pusing deh.. gak pernah ringan. ni kisah nyata kk?
pertama baca.. aq langsung terbayang film "Spread" maenannya Aston Kucher (gitu gak sih ejaannya? :v) haduh bulan puasa bayangin gituan. ternyata ceritanya tentang seorang lajang tua yang tak perjaka. haha..

kk bisa bikin cerita komedi gak?

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Jadi Ayah (7 years 20 weeks ago)

ngarang cerita gak pernah ringan? huhuhu...
nyata terjadi dalam kepala saya :p
terima kasih referensi filmnya :D memang cerita semacam ini sebetulnya udah banyak...
iya, tadinya penayangan cerita ini mau ditunda sampai habis bulan puasa, tapi daripada nambah pikiran, lagian konten dewasanya ga begitu dieksplisitkan, ya udah pajang aja...
bikin komedi ya, ga tahu, menurut bayonet gimana?

Writer bayonet
bayonet at Jadi Ayah (7 years 20 weeks ago)

cobalah kk bikin komedi.. nanti aq bacain. di lapak kekom ini yg nulis komedi cuma si kemalbarca doang. harus ditambah oknumnya, biar variatif. aq jg lagi belajar bikin komedi. tapi gk tau deh hasilnya bagus apa gak. dan ceritaku ada unsur SARA nya juga. haha..

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Jadi Ayah (7 years 20 weeks ago)

saya bikin komedinya mau sembunyi2 aja, pantang ngasih label "komedi". malu kalo ga lucu hehehe.
sip. bagi2 hasil belajarnya di sini ya, bayonet :)
unsur SARA-nya diupayakan supaya ga menyinggung, hehe *gimana ya?

Writer citapraaa
citapraaa at Jadi Ayah (7 years 20 weeks ago)

saya juga bikin (agak) komedi kok teenlit gajelas tapi -___- # promosi di lapak orang.

k dayeuh bikin terjemahan lagi dong yg kayak The Stolen Party :D

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Jadi Ayah (7 years 20 weeks ago)

untuk terjemahan, coba citapraaa main ke ngulikata.blogspot.com.

teenlit-nya udah selesai, citapraaa? yuk, barter :D atau mau liat yang punya saya dulu? hehehe.

Writer bayonet
bayonet at Jadi Ayah (7 years 20 weeks ago)

kk dayeuh bisa dihubungi lewat mana? sini yuk tuker2an cerita

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Jadi Ayah (7 years 20 weeks ago)

lo, kita kan udah pernah kontak lewat e-mail, bayonet. di profil saya ada.

Writer bayonet
bayonet at Jadi Ayah (7 years 19 weeks ago)

oh iya.. hehe.. baiklaaah

Writer bayonet
bayonet at Jadi Ayah (7 years 20 weeks ago)

citra komedinya mana? link dong :)

Writer pecundang jalanan
pecundang jalanan at Jadi Ayah (7 years 21 weeks ago)
100

Si Bibe itu jdnya anak siapa. mbak mungkin kebanyakan kata penganti orang kali yah, seperti gadis itu, lelaki itu dll,

Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Jadi Ayah (7 years 20 weeks ago)

penggunaan kata gantinya membingungkan ya.... oke, terima kasih sudah kasih masukan, pecundang jalanan :-)

Writer modezzty
modezzty at Jadi Ayah (7 years 21 weeks ago)

haha, saya bernasib sama, om PJ,
baru ada pencerahan sedikit..Dayzz, walau udah baca bolak-balik. masihh puyennggg... ntar ah ngasih pointnya, kalo udah siapin menyan. hahha.. aduh gara-gara can saur mereun...