Kehidupan "kecil" di dunia besar ini

        Perhatianku belakangan ini tertuju kepada anak kecil itu, anak perempuan kecil mungil, yang kira-kira baru berusia 3-4 tahun. Aku baru datang dan pindah ke daerah sini, aku selalu dapat melihat anak itu di sekitarku. Anak manis berambut pendek terpotong tak simetris. Anak itu melihatku sekarang, dia menghampiri dan menyapaku, "Kakek, kakek baru pindah ya? aku baru lihat kakek" dia bertanya kepadaku, Aku mengangguk dan tersenyum padanya. "Kenapa kakek pindah kesini?" tanyanya ingin tahu, dengan iseng aku menjawabnya dengan suara kakek-kakekku, "Karena kamu, karena kamu disini, maka kakek disini", Dia menggangguk ingin terlihat mengerti ,"Oh, jadi kakek disini gara-gara aku" anak itu mempercayai begitu saja kata-kata ku, dasar anak-anak. Mereka masih sangat polos.

        "Namaku Tika, Kartika...Nama kakek siapa?" Aku merasa, anak ini anak yang sangat penuh dengan keingintahuan, "Nama kakek Anitya Atma, panggil kakek Atma saja" jawabku, "Kakek namanya aneh sekali" kata anak itu tanpa basa basi, aku hanya tertawa mendengarnya. Sejak saat itu, Tika selalu bercerita kepadaku.

        Tika seperti yang kuperhatikan, termasuk anak kurus yang kurang makan, terlihat tulang-tulang kering yang hampir menempel di kulitnya. Seperti yang diceritakannya padaku, Ibunya selalu bekerja meminta-minta uang di lampu merah dan selalu mengajaknya. Ayahnya adalah ayah tiri yang selalu pulang dalam keadaan mabuk. Kadang-kadang aku melihat lebam-lebam biru keunguan di kaki atau tangannya. Tapi setiap kali dia selalu tertawa riang saat melihatku dan selalu bercerita dengan mulut kecilnya.

 

        Hari ini Tika melihatku lagi, dia menghampiriku. "Kakek...kakek Atma, ini bonekaku" katanya sambil menunjukkan boneka yang terlihat masih baru dan mahal di tangannya, boneka berambut hitam, berkulit putih seperti boneka jepang, "Hari ini ada kakak cewek yang baik hati, dia memberikan aku boneka ini...terus, terus, terus kakak itu baik banget, dia tadi sayang sekali kepadaku, dia mencium jidatku....terus, terus, terus dia juga suka sama aku, tadi dia pegang-pegang kepalaku" katanya lagi sambil menirukan elusan-elusan lembut di rambutnya, persis yang tadi di lakukan kakak itu kepadanya. Aku ikut mengelus rambutnya yang berantakan. Tika memeluk boneka itu dengan erat, "Aku juga ingin Ibu atau Ayah memegang rambutku seperti kakak itu, Aku juga ingin Ibu mencium keningku...aku suka saat kakak itu melakukannya" Tika memegang jidat kecilnya, masih terasa kecupan kakak itu di sana. Anak ini memang butuh kasih sayang, kadang-kadang aku perhatikan orang tuanya, yang tidak memperhatikan Tika sama sekali. Ibunya selalu berteriak dan marah-marah kepadanya, Ayahnya tak pernah terlihat. Sekali terlihat, Tika dan ibunya mendapati ayah tirinya sedang bernyanyi-nyanyi di depan pintu rumah triplek mereka, lalu tak sadarkan diri. Hari ini pun hal yang sama terjadi pada anak itu, ibunya terus memarahinya walau dia tidak berbuat apa-apa, Ayahnya masih tidak terlihat.

 

        Aku harus mengunjungi satu tempat hari ini dan aku melihat Tika sedang duduk dijalanan bersama Ibunya. Tika duduk disana sambil memeluk boneka itu. Ibunya mencoba meraih simpati orang-orang yang melewati mereka. Aku melihat gelas di depan mereka yang terlihat masih bersih dan kosong. Aku diam di sana sementara memandang mereka berdua. Jalanan itu pun semakin sepi dan kosong. Mereka tak bisa melihatku dari sini, tapi aku bisa melihat jelas mereka berdua. Aku melihat raut wajah ibunya yang sudah bosan. Ibu melihat Tika yang asik bermain boneka, rasa kesal terpaut di wajahnya. Tiba-tiba Ibu Tika memiliki ide yang lain saat melihat boneka itu. Ibu Tika kemudian merampas boneka di dalam pelukan Tika, "Hari ini kita tidak mendapat apa-apa, Aku akan menjual boneka ini". Tika meminta bonekanya kembali, "Ibu...itu boneka Tika, Tika dapat boneka itu dari kakak itu, kembalikan bonekaku Ibu" katanya sambil mengulurkan kedua tangannya meminta bonekanya kembali.


        Ibu Tika mengayunkan boneka itu dengan kasar ke arah gadis kecil itu, "Jangan jadi anak badung... Aku tak suka anak nakal, Aku akan menjual barang ini, kau dengar itu !!", sambil terus mengayunkan benda yang keras itu ke tubuh putri kecilnya. Tika melindungi tubuhnya dengan tangan kecilnya dan menangis meminta ampun, "Ampun Ibu...Ampunnn, Tika ga akan badung lagi, Ampunn Ibu...". Suara benda tak berongga itu terus mengenai kulit halus lembut itu tanpa ampun. Aku ingin menghentikannya, ingin menghentikan kekasaran yang diterima tubuh kecil tersebut. Pukulan dari boneka itu terhenti, Ibu Tika berhenti memukulinya. Ibu Tika melihat seseorang yang tidak jauh dari mereka, lalu di susul kehadiran orang kedua. Kedua orang itu terlihat sangat sibuk dengan urusannya masing-masing. Tidak lama kemudian jalanan di depan mereka kembali ramai, Ibu Tika meletakkan boneka itu begitu saja di sampingnya. Tika menangis terisak-isak di sebelahnya karena masih merasa sakit akibat pukulan tadi. "Kasihani kami" katanya Ibu Tika memelas kepada orang-orang, "Kami kelaparan, belum makan". Kata-katanya di hiasi oleh tangisan Tika yang tak berdaya. Aku masih diam di tempatku tadi, masih memperhatikan mereka berdua. Setidaknya Tika sudah tidak apa-apa sekarang. Aku kemudian beranjak pergi dari sana untuk mengurusi urusanku yang lain.

        Tika menghampiriku, aku melihat matanya yang bengkak, aku melihat warna-warna biru keunguan di tubuhnya yang semakin bertambah, kulit-kulitnya terkelupas belum di obati. Aku melihat dia mengendong boneka cantiknya itu. Tapi sekarang terlihat sedikit berbeda, salah satu tangan boneka itu terlepas. Tika memegang salah satu tangan mainan itu di tangan kecilnya, membawa tangan itu bersamanya, "Kakek...kakek Atma, Kakek bisa benerin bonekaku?" Dia memberiku boneka itu, bersama tangan boneka itu, "Bonekaku rusak sedikit" katanya lagi. "Kakek tolong benerin bonekaku" pintanya. Aku mengambil boneka itu dari tangan mungilnya, tangan mungil yang dihiasi oleh bekas pukulan-pukulan keras. Tangannya sedikit bergetar saat dia memberikan aku bonekanya. Aku mulai bertanya kepadanya apa yang terjadi, kenapa bonekanya bisa seperti ini, kenapa banyak bekas pukulan di tubuhnya, "Karena aku nakal...aku badung, Ibu bilang begitu. Karena aku nakal dan badung Ibu harus menghukumku...katanya biar aku tak nakal dan badung lagi. Ibu ingin aku jadi anak yang baik...makanya, makanya ibu pukul...aku dipukul ibu...Aku tak mau jadi anak nakal dan buat ibu marah lagi, Aku sayang ibu...aku ga mau jadi anak badung, Ibu nanti tak sayang aku lagi" katanya menjelaskan padaku. Ah, begitu polosnyakah pikiran anak-anak, aku kemudian menanyakan lagi kenapa boneka Tika bisa rusak seperti ini. Anak itu menjelaskan kepadaku lagi, "Tadi Tika kan sudah bilang ke kakek kalau TIka bandel, jadi Ibu marah...terus Ibu juga marah, karena tadi ibu mau jual boneka Tika, tapi katanya bonekanya ga laku...terus tadi ibu balikin boneka Tika, tapi Tika ga bisa tangkep pas ibu lempar boneka itu ke Tika. Tika takut kena boneka, soalnya sakit...jadi Tika jongkok pas ibu lempar boneka itu ke TIka, bonekanya kena dinding terus dia jatoh, terus, terus, tangannya putus deh". Aku melihat Tika dan memperhatikan bonekanya, di lengan boneka itu terdapat cacat-cacat kecil. Aku bisa membayangkan sekuat apa Ibu itu melempar boneka ini ke anaknya. Untung Tika bisa menghindar. Seandainya aku bisa membawa anak ini pergi dari dunia keras yang dialaminya saat ini, aku pasti akan membawanya, tapi aku sadar aku juga tak bisa melakukan apa-apa sekarang. Aku kemudian berusaha memperbaiki bonekanya dengan tangan tua-ku.

 

        Siang ini aku melihat Tika duduk di tempat yang sama, dengan Ibu yang berada di sampingnya. Tika diam dan memeluk bonekanya, terlihat banyak lakban hitam disana, di bagian bahu boneka itu. Mereka kembali meminta-minta disana. Aku pergi menjauh dari sana, masih banyak urusan yang harus ku urusi hari ini. Hari ini aku harus menemui banyak orang.

        Aku melihat keadaan Tika kecil yang semakin menghawatirkan, bukan hanya tangan dan kakinya yang terluka, kali ini aku melihat lebam di wajah kecilnya, pipinya bengkak dan memerah. Dia menenteng bonekanya berjalan menuju arahku. Dia duduk disampingku dan lalu bertanya, "Apakah Tika anak yang badung kakek?" tanyanya,

        "Tika bukan anak badung" jawabku

"Kenapa Ayah dan Ibu selalu mengatakan Tika anak yang badung? Anak yang tak berguna?" tanyanya yang tak mengerti, "Kenapa Ibu selalu mengatakan...kalau Tika itu anak pembawa sial, Ibu juga bilang kalau lebih baik Tika tidak lahir...Ibu bilang, Ibu bilang gara-gara Tika, gara-gara Tika lahir, hidup Ibu jadi susah" kata Tika lagi, "Aku tak mau ibu jadi susah kek, Aku sayang Ibu...Tika harus ngapain biar Ibu ga susah?"  dia bertanya lagi kepadaku.

Aku diam, tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan anak kecil ini, curahan hati anak berumur 4 tahun ini. Karena memang kesalahan bukan berasal dari anak ini, Tapi dialah yang salah di tempatkan, jiwa kecil inilah yang berada di tempat yang salah.

        "Bagaimana caranya biar Tika jadi anak baik? Biar Ibu dan Ayah sayang lagi ke Tika?" tanyanya lagi. Apalagi yang harus dilakukan anak ini? aku juga tidak tahu. Dia sudah berusaha menjadi anak yang baik, sudah mencoba menuruti omongan orang tuanya. Walau aku tahu, kadang-kadang dia sedikit menuntut perhatian kedua orang tuanya. Saat itulah, saat dia meminta perhatian, saat akan munculnya banyak bekas luka yang menempel di tubuhnya. Tika tak menyadarinya, saat dia meminta perhatian kecil hanya pukulan yang diterimanya. Sebenarnya jiwa kecil ini hanya ingin sedikit perhatikan, kadang-kadang dia merasa pukulan-pukulan itulah perhatian sayang dari orang tuanya yang mengganggap dia anak yang nakal.

 

        Malam ini aku harus mengunjungi seseorang dan aku melewati rumah Tika. Terdengar suara Ibu-Ibu marah yang menggema dari dalam ruangan tersebut,

        "Dasar Anak tidak berguna...tidak bisa menghasilkan apapun....Anak pembawa sial, pembuat susah...Seandainya kau tidak pernah lahir, Kalau tahu begini... Aku tidak akan pernah melahirkan dirimu",

        Aku mendengar suara kecil Tika, "Ibu jangan marah lagi...Tika akan jadi anak baik, Tika, Tika akan nurut...Tika ga akan bandel". Dan terdengar suara tamparan yang keras,

        "Anak kurang ajar, ngomong saat orang tua ngomong...kurang ajar, sudah bandel, kau juga kurang ajar...anak ga tahu diri, anak yang bikin susah, hanya bikin sial...hanya bikin hidupku melarat".

        "Ampun ibu...ampun, jangan pukul Tika lagi...Tika ga akan bandel lagi" cicit Tika terdengar ketakutan.

        "Masih membantah orang tua...dasar anak tidak tahu diri, kau memang pantas di hukum". Aku mendengar suara keheningan sesaat. dan suara Tika tiba-tiba terdengar bergetar, "Ampun Ibu...jangan pukul Tika pakai itu, itu sakit sekali...Tika akan jadi anak baik...Jangan pukul Tika, Ampunn Ibu...".

        Aku mendengar suara Tika menjerit kesakitan, saat suara sabetan keras itu menghantam tubuh mungilnya. Aku sangat mengenali suara tersebut, itu adalah suara tali pinggang yang mengenai kulit.

        Aku melihat pemandangan diluar rumah tersebut, hari sebenarnya tidak terlalu larut. Masih terdapat banyak orang ditempat ini yang belum masuk ke dalam rumah mereka. Ibu-ibu yang sedang duduk berhadapan bermain kartu. Bapak-Bapak yang sedang minum kopi dan merokok, beberapa anak muda yang sedang nongkrong menikmati sesuatu. Mereka semua mendengar suara Ibu Tika dan suara ketakutan Tika, tapi tidak ada seorangpun yang membantu anak itu. Sama seperti aku, yang hanya bisa diam mendengarnya. "Anak kecil memang bandel, memang harus dihukum" kata salah satu ibu yang bermain kartu sambil merokok, "Kalo ga di hukum, nanti dia bisa jadi bandel seperti anakku...yang ga bisa di bilangin". Semua setuju dengan pendapat ibu perokok itu. Semua menganggap apa yang dilakukan Ibu Tika saat ini benar, karena itu dilakukan untuk mendidik Tika. Lagipula Tika adalah anaknya. Aku segera pergi meninggalkan tempat itu.

 

        Aku tidak mengerti, kenapa tubuh kecil itu masih bisa bertahan sampai sekarang. Dengan luka-luka seperti itu seharusnya jiwa kecil itu sudah pergi dari sana, sudah pergi meninggalkan tubuhnya. Tapi tidak, jiwa kecil itu masih bisa bertahan di tubuh mungilnya yang penuh luka. Aku melihat salah satu gigi kecilnya yang patah hari ini. Tapi dia masih bisa tersenyum manis kepadaku, seandainya aku bisa membawanya sekarang. Aku sangat berharap hal itu terjadi. Tika hari ini bercerita dan berceloteh lagi, aku mendengarnya dengan sabar, dia terlihat senang "Hari ini...Ayahku pulang...Aku mendengar Ayahku bilang ke Ibu...Katanya Pak Anton, pernah melihatku dan sangat suka aku...kata Ayah, Pak anton bilang aku bisa berguna untuknya, katanya aku bisa bermain dengan anak-anak seumuranku, dia bilang setelah besar aku akan menjadi anak yang cantik dan bisa menghasilkan banyak uang...Aku tak kenal siapa pak Anton" katanya lagi, "Tapi saat mendengar itu...Ibuku sangat senang, Ayahku juga...Ibuku bilang akhirnya aku bisa menjadi anak yang berguna...kata Ibu, dia senang sekali...akhirnya dia bisa mendapat banyak uang kalau aku ikut pak Anton....Aku senang melihat Ibu dan Ayah senang" katanya senang kepadaku.

        Anak ini tidak mengerti, kalau dia mau di jual ke dalam perdagangan anak. Anak ini tidak tahu, kalau masa depan suramnya telah di tentukan oleh orang tuanya. Dengan penjelasannya dan pemikiran orang tua anak ini, aku mengetahui dengan pasti masa depannya, anak ini akan dibuat menjadi alat pelampiasan nafsu laki-laki bejat, entah saat dia dewasa atau setelah dia mengikuti Pak Anton tersebut, sekarang dunia sudah kotor, banyak anak-anak yang menjadi korban dari kekotoran manusia, kekotoran dari pria-pria tidak berotak dan manusia-manusia serakah. Anak ini hanya mengetahui, kalau dia akhirnya bisa membuat orang tuanya bahagia, dan dia pun merasa bahagia, karena akhirnya tidak di anggap anak nakal, anak badung, anak pembawa sial. Anak ini juga senang karena Ibunya sudah mengganggap dia anak yang berguna. Aku menatap Tika yang bernyanyi bahagia dan mengelus-elus bonekanya.

        Aku melihat TIka beberapa hari ini, senyum selalu menghiasi bibirnya. Aku melihat kebahagiaannya,baju-baju yang dipakainya selalu yang bersih walau tidak baru, mungkin baju bekas yang didapat dari para relawan baksos, yang baru membagi-bagi barang beberapa hari yang lalu. Aku sangat bisa merasakan kegembiraan anak itu, walau aku tahu kegembiraannya tidak akan berlangsung lama. Anak itu terlihat imut dan lucu. Akupun kemudian pergi dan selama tiga hari aku tidak menemuinya lagi.

 

        Hari ini aku kembali dan melihat Tika sendirian di depan rumahnya, duduk sambil memeluk erat bonekanya. Mukanya terlihat pucat dan sepertinya dia sakit. Tika langsung menyadari kehadiranku, Akupun menghampirinya, "Kamu sendirian?", "Iya kakek, Ayah sudah pergi, Ibu juga pergi" katanya dengan sedikit terengah, sedikit susah berbicara.

        "Tika lagi sakit?" Aku duduk menghampiri disebelahnya.

"iya kakek...Tika sakit" katanya mengakuinya,

         "Sakit sekali kek". Aku memegang dahinya-nya, Anak ini panas, "Kau panas Tika, kau harus istirahat dan makan obat...masuk ke dalam rumah, jangan main di depan pintu, anginnya tidak bagus...nanti kau tambah sakit"

"Sakitnya bukan disitu kakek" katanya melihat tanganku di dahinya. Dia lalu melihat Ibu-Ibu yang melihat kami berdua secara aneh. Dan kemudian meninggalkan kami begitu saja.

        "Ayo, masuk ke dalam...istirahat, kau harus istirahat, panasmu akan bertambah kalau kau angin-anginan di luar". Tika menuruti kataku, dia berjalan ke dalam rumah. Langkah kakinya terlihat aneh, lemah dan lunglai saat berjalan menopang tubuh kecilnya.

        Aku menyelimutinya, "Kakek...kakek jangan pergi" pintanya ke aku, "Tika takut" katanya lagi.

Aku yang menyadari sesuatu, segera bertanya kepada Tika, "Tika...sakitnya dimana?"

        "Di sini kek, sakit sekali" katanya sambil menunjuk arah diantara kedua kaki kecilnya.

"Apa yang terjadi ? kenapa bisa sakit?" tanyaku dan merasa pilu dengan nasib anak ini, karena aku tau apa yang akan di ceritakan anak ini..

        "Kemarin, kemarin...Ibu pergi kerja...jadi tinggal TIka dan Ayah, kemudian Ayah ajak TIka main dokter-dokteran...TIka senang sekali", Tika seakan-akan mengingat-ingat kembali, "Terus ayah sayang sekali sama Tika...Tika di peluk, terus di cium, kata Ayah...Ayah sayang Tika, tentu saja Tika senang...karena Ayah sayang Tika"

        Aku masih diam, menunggu kelanjutan cerita dari bibir mungilnya, "Terus, terus, terus....kata Ayah, ayah akan jadi dokter...jadi Ayah buka baju TIka...terus Ayah bilang ayah mau suntik Tika" Terlihat ketakutan dari wajah Tika, "Terus ayah suntik Tika pakai jarum yang besar sekali...Sakit sekali kek, Tika padahal sudah bilang ke ayah...kalau itu sakit...tapi Ayah suruh Tika diam saja...sakit kek, sakit banget, terus Tika lihat darah...Tika ga bisa bilang ke ayah, soalnya ayah suruh Tika jangan ngomong...Tika ga mau di suntik ayah lagi, sakit banget kek...Tika ga mau maen dokter-dokteran lagi...Tika ga suka kek, Tika takut nanti di suntik Ayah lagi"  gadis kecil itu menangis ketakutan dan kemudian meracau tidak jelas karena sakitnya, "Tika akan jadi anak baik ibu", "Ayah, sudah ayah...sakit ayah", "Tika...Tika akan buat Ibu dan Ayah senang, Tika akan jadi anak baik" racuannya semakin tidak jelas, kemudian dia jatuh tertidur. Hatiku begitu ter-iris mendengar cerita dari jiwa kecil itu.

 

        Selama tiga hari ini, panas Tika tidak semakin turun. Aku melihat Ayah dan Ibunya yang tidak terlalu peduli. Aku mendengar suara Ibunya yang berkata, "Nih minum...cepetan sembuh, pak anton ga suka anak penyakitan" suara plastik terdengar terlempar di lantai. Aku pun mendengar suara mesum ayah tirinya, "Tika anakku sayang...cepet sembuh, nanti kita main dokter-dokteran lagi". Apakah seperti ini semua manusia jaman sekarang? Apakah mereka sudah tidak memiliki hati nurani lagi? Anak kecil adalah anak yang harus dilindungi, bukan anak yang bisa di apa-apakan dengan seenaknya.

        Hari ke dua, mereka berdua membawanya ke puskesmas, malam itu terdengar teriakan Ibu yang menyayat hati kepada suaminya, Ibu Tika sudah mengetahui apa yang di lakukan suaminya, Ayah tiri Tika kepada anaknya. Suara piring pecah terdengar, suara makian-makian binatang pun terdengar sangat keras. "SUAMI BRENGSEK, PERGI KAU DARI RUMAH INI" usirnya, yang memang memiliki hak itu karena selama ini dialah yang membiayai suaminya. Ayah tiri Tika langsung lari saat melihat ibu Tika membawa air mendidih, mengejar dan mau menyiramnya, malam itu terdengar tangisan menyayat hati dari ibunya, "Kenapa hidupku begini....apa salahku...kenapa aku memiliki Suami brengsek dan anak yang tak berguna" Ibu Tika terlalu meratapi kehidupannya sendiri, bagi diri-nya, dialah pusat kehidupannya.

        Hari ketiga, Ibu tika masih meratapi kehidupan sialnya, dia tidak mengacuhkan Tika sama sekali, dan pergi mengemis seperti biasanya.

        Ini hari ke empat, aku tidak tahan lagi. Sudah saatnya dan aku akan menjemputnya sekarang. Aku pun pergi menuju rumah Tika. Tidak terlihat ada siapapun saat aku berdiri di luar sana. Aku tahu Ibu Tika sudah berangkat pagi-pagi sekali untuk mengemis. Akupun masuk ke dalam dan langsung menuju ke kamar Tika.

        Gadis kecil itu tidur sambil memeluk boneka

Tidak ada alas apapun di bawahnya, tidak terdapat bantal ataupun kasur maupun tikar, hanya tripek di bawah tubuh kecilnya.

        Aku menghampiri gadis itu, gadis mungil yang seakan-akan tertidur damai. Aku melihat denyut lemahnya, dan saat itu pula aku merasakan hembusan nafas lembut kehidupan terakhirnya.

Aku diam, tidak bergerak di dekat tubuh mungil tersebut. Aku sangat sadar sudah tidak ada satupun nafas kehidupan disana, tidak akan ada lagi rasa takut dan tidak akan ada lagi bahaya yang akan di hadapi gadis manis itu. urat-urat nadinya sudah tidak menari-menari lagi, detak jantungnya tidak berdetak penuh harap lagi. Tubuh kecil itu tak bergerak sedikit pun.

        "Jiwa kecilku, aku menjemputmu sekarang" aku mendekati tubuh tak bergerak itu dengan jubah hitamku, "Kembalilah menjadi bintang"

        Lingkaran kecil suci ini sudah berada di tanganku, "Kau tidak perlu menderita lagi Tika".

Aku kemudian meninggalkan tubuh kecil tak bergerak itu, jiwa kecil ini sudah bersamaku.

 

                                                                                ***

 

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
2550

tika terasa sangat wow untuk anak usia 4 tahun, bisa menceritakan dengan detail, dan kritis, tapi bagaimanapun itu yang bangun "drama" dl cerita ini, dan biarpun panjang, tapi mengena, maksudnya terlepas dari kewajarannya yang entah mestinya bagaimana, pembaca menangkap secara umum kondisi seperti itu mungkin ada, tentang orangtua yang menyesali dan menjual anaknya.
di paragraf2 awal ketika tika pertama kali mengobrol dg "kakek" dan orang2 menatap aneh pada mereka, udah bikin curiga nih, jangan2 "kakek" itu sesuatu. ternyata bener, waha. sudut pandang yang unik sebenernya, biarpun bisa ditebak.
terus, dari segi penulisan, coba lihat pedoman EyD aja deh, hehe. serius, itu dasar banget yang harus dikuasai penulis. cerita sebagus apapun kurang nilainya kalau EyD masih berantakan, diksinya pun enggak baku (kecuali untuk konteks tertentu semisal dialog).

thx kak sarannya...langsung meluncur cari donwlotan pendoman EyD :)

mengena temanya
tapi miris juga ya bacanya

saya nulis cerpen amatiran di sini http://lukiluck11.blogspot.com

saya sudah buka blogmu...mau komen sedikit, tapi bukan tentang cerita-nya...

tentang tampilan blog...untuk warna-nya biru dan merah stabilo itu terlalu membuat mata cepat lelah, alias nyakitin mata (kalau bisa mungkin bisa di ganti dengan warna yang netral)
..
coba pakai warna gelap kalem buat backgroundnya..(maaf komentar begitu--kebiasaann tiap hari liat desain2 orang :v :v :v)

Writer Balter
Balter at Kehidupan "kecil" di dunia besar ini (7 years 9 weeks ago)

sering sekali tema soal anak perempuan kecil ... hmm ...

iya...anak-anak...(dari kemarin hanya ide tentang anak perempuan kecil yang muncul)...

tapi besok-besok mau coba tema lain :D

great!

thx :)

Writer vi_roez
vi_roez at Kehidupan "kecil" di dunia besar ini (7 years 10 weeks ago)

hmmmm...spam lagi